[INDONESIA-L] SiaR---LATAR BELAKANG

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 25 1998 - 07:21:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Mon May 25 10:22:04 1998
Date: Mon, 25 May 1998 08:20:17 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805251420.IAA17394@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SiaR---LATAR BELAKANG PENCOPOTAN LETJEN PRABOWO SUBIANTO
Replies: siar@mole.gn.apc.org
 

LATAR BELAKANG PENCOPOTAN LETJEN PRABOWO SUBIANTO
        JAKARTA (SiaR, 23/5/98), Pencopotan Letjen TNI Prabowo Subianto dari
jabatan Panglima Kostrad Jumat (22/5) kemarin mengejutkan banyak pihak, dan
menggambarkan konfigurasi kekuasaan di belakang layar politik Indonesia
sekarang. Menurut sebuah sumber SiaR di Mabes ABRI, Menhankam/Panglima ABRI
Jendral TNI Wiranto melakukan tindakan ini karena Letjen Prabowo dianggap
semakin berbahaya bagi "keutuhan ABRI".
        Yang menarik, kata sumber itu, Jendral Wiranto mengambil langkah ini
setelah mendapat persetujuan dari mantan Presiden Soeharto. Ada yang
mengatakan bahwa ini menunjukkan Soeharto masih mempunyai kendali di kalangan
ABRI, khususnya melalui Wiranto. Ada yang mengatakan bahwa persetujuan dari
Soeharto diperlukan hanya karena Wiranto tidak mau menyakiti hati bekas
bossnya, yang juga mertua Prabowo.
        Tidak jelas mengapa Soeharto dengan mudah menyetujui tindakan Wiranto.
Rupanya ia menganggap Prabowo tidak dapat diandalkan untuk mempertahankan
keselamatan diri dan keluarga Cendana, setelah Soeharto tidak lagi menjadi
Kepala Negara. Hal ini bisa jadi karena ia melihat bahwa Prabowo mempunyai
banyak sekali musuh di lapisan pati ABRI di Markas Besar dan di Kodam-Kodam.
         Ada juga teori bahwa Soeharto melihat pada diri Prabowo ada sikap yang
terlalu mau "main sendiri" untuk ambisi politik, atau juga sikap "sok tahu".
Juga disebutkan bahwa Soeharto melihat pada diri Prabowo sesuatu yang tidak
dipercaya, karena ayahnya, Prof Sumitro Djojohadikusumo, telah menjadi
pengritik pemerintah yang paling berwibawa, apalagi ketika ikut menyetujui
seruan Majelis Amanat Rakyat 14 Mei yang lalu agar Soeharto turun. Tidak
kurang seru adalah gosip yang beredar di kalangan atas di Jakarta bahwa
pernikahan Prabowo dengan Titiek, purtri mantan Presiden, tidak harmonis.
        Tindakan Wiranto membuktikan, bahwa memang ada konflik di kalangan atas
ABRI, antara Pangab dan Pangkostrad. Konflik yang sudah agak lama didesas-
desuskan itu beberapa kali dibantah, tetapi akhirnya muncul juga ke luar.
Menurut sebuah sumber SiaR yang dekat dengan Tutut, putri sulung Soeharto,
pada suatu ketika Prabowo mengajak Tutut untuk bersama-sama dia menggeser
Wiranto dari jabatan Pangab. Tutut, yang mengenal Wiranto ketika jenderal ini
masih jadi ajudan sebagai "orang yang baik", menolak ajakan Prabowo.
        Ada beberapa cerita tentang alasan yang dipakai Wiranto untuk menggeser
Prabowo. Yang sering disebutkan adalah karena Prabowo dituduh sebagai orang
yang di belakang layar penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, juga dalam
pembakaran pelbagai gedung di Jakarta 15 Mei yang lalu. Motif Prabowo dalam
melakukan kegiatan siluman ("undercover") itu, kata seorang analis, adalah
untuk mendiskreditkan Wiranto, sehingga Panglima ABRI itu bisa dianggap tidak
becus mengamankan kota-kota dari penjarahan dan pembakaran. "Prabowo memang
sering mengklaim bahwa ia punya pasukan sandi yudha yang bisa mengacau kota
dengan cepat", kata seorang analis, "tetapi apakah ia memang benar di belakang
pembakaran kota Jakarta belum bisa dibuktikan."
        Juga, Prabowo didesas-desuskan sebagai dalang penembakan di Trisakti
dan penculikan aktivis Desmond Mahesa dan Pius Lustrilanang serta Haryanto
Taslam dan lain-lain. Ini juga belum dicheck kebenarannya. Meskipun dari
kesaksian Andi Arief dan lain-lain, dapat diduga bahwa para penculik itu
anggota Kopassus yang waktu itu di bawah komando Prabowo.
        Yang jelas, Prabowo membangun hubungan dengan kelompok Islam yang
anti-Cina dan anti-Kristen, khususnya yang dipimpin Hussein Umar dari Dewan
Da'wah dan Iqbal dari PMII. Beberapa cendekiawan Muslim yang bergabung dalam
CPDS, sebuah lembaga "think-tank" yang berkantor di Jalan Suwiryo, Jakarta,
juga menjadi operatornya, misalnya Fadli Zon dan Din Syamsuddin. Lewat lembaga
ini Prabowo juga mempunyai kakitangan di media massa, terutama di Majalah Gatra
(Amran Nasution) dan Majalah Forum Keadilan (Karni Ilyas). Hal ini tampak
ketika sejumlah pemuda Islam berdemonstrasi ke kantor CSIS, setelah Majalah
Gatra menyiarkan "terlibatnya" Sofyan Wanandi dalam "kasus bom PRD".
        Prabowo mencoba hal itu lagi di hari terakhirnya di Kostrad, dalam aksi
"pro-Habibie" oleh beberapa ribu orang yang mengaku dari ormas Islam di halaman
DPR Senayan. Serbuan pasukan Kostrad pada dinihari 23 Mei juga kabarnya
merupakan aksi Prabowo terakhir, yang merasa sangat terpukul oleh keputusan
Wiranto.
        Hubungan-hubungan politik itu dilakukannya dengan terbuka. Meskipun
ibunya sendiri orang Menado beragama Kristen dan kakak dan perempuan serta
iparnya Katolik, ada pula yang Protestan dan Christian Science, Prabowo
berkobar-kobar bila menampilkan diri sebagai pembela umat Islam.
        Ia memang pernah mengatakan kepada seorang sahabatnya bahwa untuk dapat
berkuasa di Indonesia seseorang harus naik melalui dua kekuatan politik terbe-
sar, yaitu ABRI dan umat Islam. Cita-cita Prabowo adalah menjadi Presiden
Indonesia, tetapi ia akan melakukannya setelah ia menjadi Pangab. Jabatan
Pangab ini hendak diraihnya di bawah kepresidenan Habibie. Sebab itu, sejak
sekitar empat tahun yang lalu ia menginginkan Habibie jadi Presiden. Menurut
perhitungannya, sebagai presiden sipil yang tidak cukup punya akar, Habibie
yang ambisius tetapi lemah itu akan membutuhkan dekingnya. Aliansi dengan
Habibie itu makin mendekati kenyataan, setelah Soeharto turun dan digantikan
Wapresnya.
        Tapi Wiranto bertindak cepat. Jenderal itu melihat bahwa karirnya
terancam oleh aliansi Habibie dan Prabowo (dan juga Ginanjar Kartasasmita).
 Beberapa belas jam setelah dilantik jadi Presiden, Habibie mengatakan kepada
tokoh oposisi Amien Rais yang ditemuinya, bahwa Wiranto hanya akan menjadi
Menhankam. Ada kabar pula sebelumnya bahwa Pangab akan dipegang oleh Letjen
Hendropriyono (yang dekat dengan grup menteri di bawah Ginanjar) dan juga
Letjen Yunus (mantan Kasospol yang dekat dengan Jend. Feisal Tanjung). Bahwa
kemudian ternyata Wiranto tetap memegang jabatan Menhankam dan Pangab sekaligus
dalam susunan kabinet pertama Habibie, sementara Hendropriyono hanya jadi
Menteri Transmigrasi dan Yunus hanya Menteri Penerangan, menunjukkan adanya
tawar menawar di mana Mabes ABRI menang.
        Dari dicopotnya Prabowo tampak pula bahwa Mabes ABRI, yang penuh
dengan para perwira tinggi yang sakit hati kepada tingkah laku Prabowo,
menunjukkan giginya ke arah Habibie.
        Dapat disimpulkan bahwa meskipun pimpinan ABRI tidak akan melancarkan
kudeta terbuka, posisi Habibie tidak terlalu kuat. Dan Habibie juga masih
harus menghadapi "musuh dalam selimut" yaitu Ginanjar, yang pernah hampir
copot dari jabatannya gara-gara laporan Habibie kepada Soeharto tentang terli-
batnya pengusaha Arifin Panigoro (diduga kawan dekat Ginanjar) dalam komplotan
anti-Soeharto. Ginanjar yang Ketua F-KP di MPR akan bisa menggunakan posisinya
bila ada Sidang Umum Istimewa kelak.
        Indonesia akan segera menghadapi gejolak politik elit yang sangat
menentukan bagi masa depan, sementara para tokoh oposisi pro-demokrasi masih
tampak belum siap.***
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Precedence: bulk