[INDONESIA-L] GJA - Menko-Menko Hab

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 25 1998 - 17:34:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Mon May 25 20:27:01 1998
Date: Mon, 25 May 1998 18:23:40 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805260023.SAA25825@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] GJA - Menko-Menko Habibie
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

Date: Tue, 26 May 1998 09:49:32 +1100
From: aditjond@psychology.newcastle.edu.au (George J. Aditjondro)
Subject: Re: Menko-Menko Habibie = Suharto
To: apakabar@clark.net
 
Menko-Menko Habibie, lungsuran dari Suharto, sami mawon:
juga penganut faham KKN (korupsi, kolusi, nepotisme):
  
Ginanjar Kartasasmita, tiba-tiba muncul sebagai tokoh reformasi di akhir
masa kekuasaan Suharto & Habibie. Namun bebaskah dia dari penyakit "KKN"
yang selama 30 tahun lebih melanda rezim Orde Baru? Tentu saja tidak, kalau
tidak mana mungkin dia mendapat kepercayaan yang begitu besar dari Suharto
untuk memimpin Bappenas dan Ekuin.
  
Berikut ini, saya turunkan lagi profil ketiga MenKo yang baru diangkat
kembali oleh Habibie, yakni Faisal Tanjung (Menko Polkam), Ginanjar
Kartasasmita (Menko Ekuin/ Ketua Bappenas), dan Hartarto (Menko Pengawasan
Pembangunan dan Penertiban Aparatur Negara). Seberapa "bersih" mereka dari
kepentingan bisnis raksasa, khususnya bisnis keluarga mereka sendiri?
  
Feisal Tanjung:
---------------------
Sejauh yang dapat saya selidiki, nama Feisal Tanjung atau keluarganya tidak
tercantum sebagai komisaris atau direktur dari berbagai perusahaan yang
terdaftar di bursa saham Jakarta. Namun jangan difikir orang ini bersih
dari berbagai bentuk korupsi. Kantor berita alternatif Siar , 10 Februari
lalu, memberitakan bahwa awal Januari lalu, Feisal Tanjung mentransfer uang
sebesar US$ 50 juta melalui Bank Niaga ke Asian Currency Unit, lembaga yang
didirikan Pemerintah Singapura untuk menyimpan mata uang dollar dari
bank-bank di kawasan Asia.
  
Menurut sumber Siar , uang itu diperoleh dari mengompas (memeras, extort)
para pimpinan konglomerat keturunan Cina, dengan taruhan sebesar Rp 1
milyar sekali main. Selain itu, di awal krisis moneter di Indonesia akhir
tahun lalu, Feizal Tanjung telah menelpon 13 pengusaha keturunan Cina untuk
mengembalikan modal mereka yang disimpan di luar negeri, dan menukarkan
uang dollarnya ke rupiah. Di antara ke-13 pengusaha yang diancamnya, tidak
satupun berasal dari lingkungan keluarga Istana.
  
Krisis moneter itu menghantarkan beberapa orang pengusaha kecil-kecilan di
Jakarta ke seorang notaris untuk membubarkan perusahaan mereka. Tahu-tahu,
di dinding kantor notaris itu terpampang foto sang notaris bersalaman
dengan Feisal Tanjung. Dengan bangganya sang notaris, yang namanya tak
dapat disebutkan di sini demi keamanannya, mengatakan bahwa dialah yang
membuat akte notaris semua perusahaan milik sang jenderal. Jumlahnya?
Puluhan. Begitu keterangan yang saya peroleh lewat e-mail dari Jakarta.
  
Isteri bekas Pangab yang kini Menko Polkam itu juga pintar mencari duit.
Melalui Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi yang diketuainya, dokter
Nyonya Ida Feisal Tanjung mencari dana melalui penyelenggaraan turnamen
golf. Contohnya adalah turnamen di Rawamangun, Jakarta Timur, tanggal 15-16
Oktober 1994, yang diikuti oleh 474 pegolf pria dan perempuan. Seperti yang
sudah diketahui umum, lapangan golf swasta 18-lubang seluas 35 hektar ini
merupakan lapangan golf kesayangan Suharto dan Bob Hasan. Keduanya
merupakan anggota top, bersama Sudwikatmono, Aburizal Bakrie, dan sejumlah
menteri, dengan membayar biaya keanggotaan sekaligus saham sebesar Rp 5
juta. Itu tarif tahun 1992, lho! (Prospek , 22 Febr. 1992: 76; Progolf ,
Nov. 1994: 90-91).
  
Ginanjar Kartasasmita:
-------------------------------
Nama Ginanjar Kartasasmita tercantum sebagai salah satu "orang kunci" (key
person) kelompok Medco. Konglomerat yang beranggotakan 62 perusahaan, yang
antara lain bergerak dalam pertambangan minyak di Burma, Turkmenistan dan
Khazakstan dengan taksiran omset (estimated turnover) sebesar Rp 650 milyar
tahun 1996, dipimpin oleh Ir. Arifin Panigoro. Pengusaha berumur 53 tahun
ini belakangan diinterogasi oleh tentara karena kedekatannya dengan tokoh
Muhammadiyah, Dr Amien Rais, dan karena ikut menandatangani petisi alumni
ITB yang menolak pencalonan kembali Suharto sebagai Presiden.
  
Orang-orang kunci lain di belakang Arifin Panigoro adalah Ir. Siswono
Yudohusodo (bekas Menteri Perumahan Rakyat dan Transmigrasi dalam dua
kabinet sebelumnya), Indra Rukmana (suami Tutut ini menggantikan sang ayah,
Edi Kowara Adiwinata yang memang punya saham dalam perusahaan Medco), John
Karamoy, Hitler Singawinata, dan Setiawan Djody (partner Tommy Suharto
dalam pabrik mobil mewah Lamborghini).
  
Keterangan ini tercantum dalam profil konglomerat itu yang saya peroleh
lewat e-mail dari Jakarta. Untuk verifikasinya, silakan tanyakan ke kantor
pusat Medco Group di hedung Graha Niaga Lantai 16, Jalan Jenderal Sudirman
Kav. 58, Jakarta 10270, telepon no (021) 250 5459 dan 571 0630 (hunting),
dan fax no (021) 250 5536 dan 571 0620.
  
Namun karena Ginanjar lebih sibuk di pemerintahan, motor bisnis keluarga
Kartasasmita yang utama adalah adik kandungnya, Ir. Agus Gurlaya
Kartasasmita (60), Ketua Umum BPP Capensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi
Nasional Indonesia) dan pimpinan kelompok Catur Yasa. Tahun 1991,
konglomerat ini terdiri dari 26 perusahaan yang bergerak dalam bidang
rekayasa (engineering), distribusi kerangka baja dan alat-alat pengeboran
minyak, perdagangan bahan kayu, rotan, dan karet, pertukangan kayu, dan
pertambakan udang.
  
Selain di Jawa, Sumatra, dan Kal-Tim, kelompok ini punya perwakilan di
Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Omset kasarnya tahun 1990 lebih dari
Rp 100 milyar, dan nilai aset totalnya Rp 60 milyar. Langganan utamanya
adalah Pertamina.
  
Konglomerat ini berkembang, mula-mula berkat patronase Ibnu Sutowo di
Pertamina, pada saat saudara sepupu Ginanjar, Indra Kartasasmita, menjadi
Direktur Perkapalan Pertamina. Penggemukan perusahaan keluarga Kartasasmita
kemudian dilanjutkan oleh Ginanjar, ketika ia menjadi anggota Tim Keppres
10. Tim yang diketuai Sekretaris Negara Sudharmono, yang diangkat Suharto
tanggal 23 Januari 1980, berhak menentukan siapa yang kebagian
proyek-proyek Non-Departemen bernilai di atas Rp 500 juta yang harus
disalurkan melalui Sekneg.
  
Dengan dalih menumbuhkan pengusaha pribumi, Ginanjar yang resminya waktu
itu berstatus sebagai Asisten Menteri SekNeg Urusan Lembaga-Lembaga
Pemerintahan Non-Departemen, ikut berjasa membesarkan pengusaha-pengusaha
non-Cina seperti Aburizal Bakrie (keturunan Arab, jadi juga bukan pribumi),
Iman Taufik, Jusuf Kalla, Fadel Muhammad (keturunan Arab juga), Arifin
Panigoro, dan tentu saja, adiknya sendiri. Di kalangan pers asing, mereka
dikenal sebagai "the Ginanjar boys".
  
PT Gigaraya Internasional (GI), salah satu anggota kelompok Catur Yasa,
tiga tahun lalu berencana membangun mega-proyek pengilangan minyak dengan
investasi US$ 3 milyar di Situbondo, berdampingan dengan mega-proyek
kelompok Bimantara (PT Asia Pasifik) dan Probosutedjo (PT Ganda Buana
Perkasa). PT GI menggarap proyek di lahan seluas 500 hektar itu dengan
menggandeng maskapai Jepang dan Arab Saudi. Nantinya perusahaan kongsi itu,
PT Paras Refining Company (PMA), akan membagi keuntungan 20% buat PT GI dan
sisanya dibagi dua di antara kedua partner asingnya. Sumber pembiayaan dari
pinjaman sindikasi sejumlah bank asing sekitar US$ 800 juta, ditambah
dengan modal sendiri.
  
Agus Gurlaya juga berpatungan dengan salah seorang "Ginanjar boy," Fadel
Muhammad, dan kelompok Admiral Lines milik Yayasan Bhumiyamca (TNI/AL) di
PT Giga Intrax. Perusahaan ini bergerak di bidang perminyakan juga.
Berbagai usaha ini membuat Agus Gurlaya menjadi pembayar pajak No. 53 dari
daftar 200 pembayar pajak tertinggi di Indonesia, tahun 1992.
  
Tadi sudah saya sebut nama Indra Kartasasmita. Sejak 1965, saudara sepupu
Ginanjar ini bekerja di Pertamina di bagian pemasaran luar negeri. Dalam
pembersihan di Pertamina setelah setelah skandal kredit 10 milyar dollar
AS, Indra Kartasasmita terancam akan ditahan karena kecurangan-kecurangan
yang ia lakukan. Namun berkat perlindungan Sudharmono dan Ginanjar
Kartasasmita, ia lolos dari pemeriksaan tim Sumarlin yang ditugaskan
Suharto untuk membongkar seluruh korupsi Ibnu Sutowo dan kliknya, dan
ditarik ke Sekretariat Negara, di mana sejak 1975 ia ditempatkan di
Overseas Technical Cooperation Office.
  
Tidak jelas apakah ia sudah ke luar dari Pertamina. Yang jelas,
latar-belakang itu membantu ia diangkat menjadi preskom PT Humpuss
Intermoda (d/h PT Humpuss Sea Transports), yang didirikan Tommy Suharto
tahun 1992. Lima tahun kemudian, perusahaan pengelola armada tanker dan
pelabuhan peti kemas kelompok Humpuss ini punya aset total bernilai Rp 895
milyar.
  
Selain itu, Indra Kartasasmita juga menjabat sebagai direktur PT Panca
Wiratama Sakti, perusahaan properti beraset total Rp 286 milyar, yang ikut
membangun kota satelit Tigaraksa seluas 3000 Ha di Tangerang, lengkap
dengan golf resort dan perumahan mewah seluas 38 hektar.
  
Ir Gunarijah Kartasasmita Mochdie (lahir di Yogya, 27 Januari 1947), adik
kandung Ginanjar, yang sejak 1992 menjadi anggota DPR mewakili Kaltim.
Anggota pengurus pusat HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) yang juga
anggota DPP Golkar (1993-1998) ini, baru saja meraih gelar Doktor lewat
kursus tertulis Pacific Western University, L.A.
  
Seperti halnya Agus Gurlaya, Gunarijah juga terjun di bidang konstruksi. Ia
menjadi komisaris PT Bukaka Teknik Utama yang dipimpin Ir. Fadel Muhammad.
Perusahaan ini pada gilirannya berpatungan dengan PT Duta Graha Indah milik
Bambang Trihatmodjo dan perusahaan kontraktor Australia, TIC International
Inc. Nama kongsi mereka, PT TIC Indonesia. Sementara itu, suami Gunarijyah,
HMS Mochdie, yang kelahiran Bukittinggi, adalah seorang pengusaha di bidang
batubara.
  
Anna Kartasasmita, yang belum jelas hubungan perkerabatannya dengan
Ginanjar, tadinya komisaris PT Mayatexdian Industry, perusahaan induk dari
enam pabrik garment kongsi kelompok Lippo (keluarga Riady) dan Kanindo
(Robby Tjahjadi). Setelah perusahaan itu -- bersama pabrik Kanindotex yang
tadinya juga milik Robby Tjahjadi -- diambilalih oleh Bambang Trihatmodjo
bersama tiga partner barunya (Bambang R. Sugomo, Yohannes B. Kotjo, dan
Wisnu Suhardono), Mayatexdian dan Kanindotex dilebur menjadi PT Apac
Centertex Corporation (ACC). Saat itu, nama Anna Kartasasmita menghilang
dari daftar komisaris perusahaan itu.
  
Generasi Kartasasmita yang berikutnya juga sudah masuk ke dunia bisnis
tingkat tinggi. Gurhadi "Aguy" Kartasasmita, 28 tahun, keponakan Ginanjar
yang punya MBA dari sebuah universitas di Oklahoma, AS, mendirikan Zanzibar
Cafe (ZC) di Jakarta, 27 Maret 1995. Di kafe di bawah bendera PT Griya
Tirta Tritunggal Aguy berusaha menggabungkan konsep bar, restoran, dan
diskotek.
  
Modal awal perusahaannya, Diaco Alamita Buana (DAB), yang bergerak dalam
pengeboran minyak, petrokimia, dan rekayasa lainnya, konon hasil tabungan
saat ia menjadi promotor pertunjukan Rhoma Irama tahun 1988. Di luar
perusahaannya sendiri, ia juga eksekutif pemasaran PT Sentrafood Indonusa,
yang termasuk kelompok Medco (kongsi antara Arifin Panigoro, Eddy Kowara
Adiwinata, dan Siswono Judohusodo).
  
Akhirnya, Agum Gumiwang Kartasasmita, putera Ginanjar sendiri, juga berniat
terjun ke dunia bisnis, dengan mengambil alih kelompok Golden Key warisan
Eddy Tanzil yang telah lari (atau dibiarkan lari?) ke luar negeri. Dia itu
boss PT Agusmas Gumiwang. Parnernya dalam rencana pengambilalihan ini, yang
diumumkan awal Maret 1997, adalah Fadel Muhammad dari kelompok Bukaka, yang
bakal menguasai 65% saham Golden Key baru, Ramles Manampang, 25%, dan Agus
Gumiwang "cuma" 10%. Tiga sekawan itu berjanji pada Bapindo akan melunasi
hutang Golden Key sebesar Rp 1,4 trilyun, lalu menanam Rp 25 milyar untuk
mengoptimalkan operasi tiga anak perusahaan Golden Key, PT Glassfibindo
Indah, PT Materindo SMW, dan PT Sukma Beta Sampurna.
  
Gatra edisi 1 Maret 1997 memberitakan bahwa Tommy Suharto juga akan
bergabung dalam konsorsium yang bakal mengambil alih pabrik-pabrik
petrokimia Golden Key. Menurut majalah milik Bob Hasan (a/n Suharto) yang
dekat dengan Cilangkap ini, rencana pembagian sahamnya adalah Tommy Suharto
bakal mendapat 60%, Fadel Muhammad 30%, sedangkan 10% sisanya dibagi antara
Agus Gumiwang Kartasasmita dan seorang bernama Herman Affif. Rencana
keterlibatan Tommy Suharto dalam konsorsium Golden Key baru juga
diberitakan oleh harian Pelita , 1 Maret 1997,Neraca , 6 Maret 1997, serta
Kontan , awal April 1997.
  
Rencana keterlibatan Tommy Suharto dalam konsorsium bersama Fadel dan Agus
Gumiwang ini hanya mengulangi sejarah lama: hanya 5 hari setelah anak
perusahaan Golden Key, PT Hamparan Rejeki, didirikan tanggal 2 Nov. 1988,
Tommy telah memperoleh 14% saham dan diangkat menjadi ketua dewan komisaris
perusahaan itu. Namun menjelang saat pengungkapan skandal kredit Bapindo
oleh Arnold Baramuli di DPR-RI, pertengahan 1993, Tommy cepat-cepat menjual
seluruh sahamnya kepada Eddy Tanzil.
  
Keluarga Baramuli sendiri tak bebas dari kaitan bisnis dengan keluarga
Suharto. Emir Baramuli, putera Arnold, adalah partner bisnis Ari Haryo
Wibowo, cucu Suharto, dalam monopoli label minuman keras yang masih
bertahan di Timor Leste serta monopoli impor obat-obatan tradisional Cina
(CISI, 1991: 173-175, 452, 502-503; CISI, 1997: 216-218, 339-342, 424-423;
IEFR, 1994: 90-91; IEFR, 1997: 4, 112-113, 502-503; Schwarz, 1994: 119,
128; Pangaribuan, 1995: 38-39, 53-56; Swa, Mei 1991: 24; Info-Bisnis, Maret
1994: 43, Maret 1994: 43;Prospek, 19 Febr. 1994: 18; Tempo, 19 Febr. 1994:
22; Indonesian Business Weekly , 11 Maret 1994; Forum Keadilan , 17 Maret
1994: 77-78;Warta Ekonomi, 12 Sept 1994: 82, 3 Jan 1995: 12-14; Merdeka , 1
Feb 1995; Surabaya Post , 16 Nov 1995; Matra , Jan 1996: 134; Republika
Online , 2 Febr. 1996; Swasembada,, 28 Nov-11 Des 1996: 99; Pelita, 1 Maret
1997; Economic & Business Review Weekly , 25 Maret 1995: 38, 23 April 1997:
6-11;Eksekutif, Des 1997: 10; sumber-sumber lain).
  
Hartarto:
----------
Hubungan Hartarto dengan dunia konglomerat tampaknya terbatas pada kedua
puteranya, Ir. (Teknik Kimia ITB) Gunadharma Hartarto (lahir di Jakarta, 23
Agustus 1961) dan Ir. Airlangga Hartarto, yang terjun ke dunia usaha sejak
akhir 1980-an.
  
Nama Gunadharma tercatat sebagai komisaris PT Sorini Corporation (Sorbitol
Inti Murni Corporation), produsen tapioka yang aset totalnya Rp 385,9
milyar di tahun 1997. Saham Gunadharma di PT Sorini tahun 1994 hanya 7.67%.
Kendati demikian, berkat koneksi politisnya, perusahaan ini dapat dianggap
merupakan patungan antara kelompok Aneka Kimia Raya milik keluarga
Adikoesoemo dan kelompok Garama milik Gunadharma Hartarto.
  
Gunadharma juga direktur PT Branta Mulia, pabrik kain ban milik Robby
Sumampouw, bekas cukong Benny Murdani yang menjadi kaya raya karena
memonopoli bisnis di Timor Leste selama masa kekuasaan sang raja intel.
Robby memiliki 22,25% saham PT Branta Mulia, yang punya cabang di
Muangthai, Malaysia, dan Filipina. Henry Pribadi, rekan Bambang Trihatmodjo
di PT Chandra Asri, PT Tri Polyta Indonesia dan di Bank Alfa bin Andromeda,
menguasai 14,42 %, sementara Ibrahim Risyad, anggota "empat serangkai"
pendiri kelompok Salim, menjadi presdir perusahaan itu dengan memiliki
saham Branta Mulia sebesar 7,21%. Total aset Branta Mulia tahun 1996 lebih
dari Rp 0,7 trilyun.
  
Gunadharma juga tercatat sebagai komisaris dan direktur PT Polypet
Karyapersada, produsen bahan plastik poly-ethylene terephthalates (PET).
Perusahaan itu merupakan patungan antara kelompok Napan, Subentra, Aqua,
dan kelompok Langgeng.
  
Kelompok Langgeng adalah konglomerat yang didirikan Gunadharma bersama-sama
Alex Budiman dan Bambang Samijono. Di kelompok itu, Gunadharma, yang
melanjutkan studi manajemen di Universitas Boston dan Chicago itu menjadi
pemegang saham dan direksi.
  
Selain itu, Gunadharma juga bekerjasama dengan kelompok Kedaung milik Agus
Nursalim dan Probosutedjo, dalam penjualan truk impor merek Iveco.
  
Semua posisi bisnis itu membuat Gunadharma tergolong dalam 30 taipan muda
Indonesia pilihan majalah Tiara .
  
Airlangga Hartarto adalah preskom PT Fajar Surya Wisesa, pabrik bahan
pengemas (kertas, karton) yang didirikan tahun 1987 di Cibitung, Bekasi. Ia
masuk ke perusahaan itu, menggantikan seorang pemegang saham awal, Ratna
Notopradono, seorang pengusaha keturunan Cina. Aset total perusahaan itu
tahun 1996, Rp 1,12 trilyun.
  
Airlangga juga berkongsi dengan The Nin King, pemilik pabrik tekstil PT
Argo Pantes, yang bergerak dalam bidang industri, eksportir pupuk Kaltim &
Sriwijaya, yang di tahun 1996 punya aset total Rp 0,9 trilyun (CISI, 1997:
380-381, 1022-1024, 1215-1216; IEFR, 1997: 94, 152-153, 171, 256-257,
328-329; Prospek , 6 Maret 1993: 21; Warta Ekonomi , 3 Mei 1993: 55; Bisnis
Indonesia, 21 Sept 1993, Tiara , 5 Des. 1993: 44).
  
Seorang puteri Menko Hartarto, Indira Hartarto, bergerak dalam bidang yang
sama sekali lain dari saudara-saudaranya yang laki-laki. Bersama-sama
penyanyi Elfa Secioria serta kelompoknya, Elfa's Singers, penyanyi Bornok
Hutauruk, dan pianis Yani Danuwijaya, Indira mendirikan sanggar olah vokal,
BISS (Bina Seni Suara), di kawasan Kebayoran Baru (Femina , 12-18 Juni
1997: 144-145).
  
Di luar bisnis anak-anaknya, sebagai ketua Tim Koordinasi Pembangunan
Propinsi Riau (minus Pulau Batam), Hartarto berjasa mendahulukan
konglomerat keluarga Suharto -- Salim, Bimantara, dan Humpuss -- di Pulau
Bintan dan Karimun, dengan menggusur 3,000 keluarga tani yang hanya diberi
gantirugi seharga sebatang rokok bagi setiap m2 tanah mereka (Smith, 1996:
290;Prospek, 22 Des 1990, 7 Sept 1991: 30; Editor, 23 Des 1994: 3;
Kriminalitas & Pencegahan, 26 April-25 Mei 1994: 4-5; Warta Ekonomi , 13
Juni 1994: 21-22, 1 Agustus 1994: 15-16, 5 Juni 1995: 13, 1 July 1996: 60;
Swasembada , Des 1994: 76-79).
  
Jadinya, "jasa" Hartarto bagi Suharto sejajar dengan"jasa" Habibie sebagai
penguasa Pulau Batam. Cuma bedanya, Hartarto tidak melupakan sesama
Menteri, dengan membuka peluang bagi kelompok Bangun Cipta Sarana milik
keluarga Siswono Judohusodo untuk ikut berkiprah di Pulau Karimun.
  
Hubungan Hartarto dengan Ibrahim Risyad memang dekat, di mana Ibrahim
sering bertamu ke rumah sang Menteri. Gunadharma juga punya ruang sendiri
di kantor kelompok Gajah Tunggal pimpinan Syamsul Nursalim. Selain itu,
Hartarto dan Tungky Ariwibowo menerima banyak "kick-back" (upeti) dari
pabrik-pabrik pupuk serta pabrik-pabrik lain di bawah koordinasi keduanya,
seperti PT Krakatau Steel.
  
Puri Baru, 26 Mei 1998
  
Referensi:
------------
CISI (1991). A study on top 300 national private business groups in
Indonesia, 1991-1992. Jakarta: PT CISI Raya Utama.
------ (1997). Profiles of 800 major non-financial companies in Indonesia,
1997/1998. Jakarta: PT CISI Raya Utama.
IEFR (1994). Indonesian capital market directory 1994. Jakarta: Institute
for Economic and Financial Research (IEFR), hal. 90-91;
IEFR (1997). Indonesian capital market directory 1997. Jakarta: IEFR.
Pangaribuan, Robinson (1995). The Indonesian State Secretariat 1945-1993.
Perth: Asia Research Centre, Murdoch University.
Schwarz, Adam (1994). A nation in waiting: Indonesia in the 1990s. Sydney:
Allen & Unwin.
Smith, Shannon D.L. (1996). Developing Batam: Indonesian political eonomy
under the New Order. Draft tesis Ph.D. di Australian National University
(ANU), Canberra.