Demo di Padang

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jun 02 1998 - 10:15:00 EDT


Forwarded message:
From lra59@hotmail.com Thu May 21 01:02:58 1998
Message-ID: <19980521050113.18321.qmail@hotmail.com>
X-Originating-IP: [202.159.65.226]
From: "zulkifli jailani" <lra59@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Cc: Pijar@ACTIVIS.COM
Subject: Demo di Padang
Content-Type: text/plain
Date: Wed, 20 May 1998 22:01:09 PDT
 

PULUHAN RIBU MAHASISWA SUMBAR MENYAMBUT HARI REFORMASI
Tuntut Soeharto Mundur dan Tolak Komite Reformasi
 
 
Padang, (20/5/98).
Semakin deras saja tuntutan agar MPR melaksanakan Sidang Istimewa dan
presiden Soeharto mundur. Sekitar 80 ribu mahasiswa berbagai perguruan
tinggi di Sumatera Barat, Rabu (20/5/98) mendatangi kantor Gubernur
Sumbar di jalan Sudirman, Padang. Kedatangan mereka yang diikuti staf
pengajar adalah untuk menuntut mundurnya presiden Soeharto dan
pelaksanaan Sidang Istimewa MPR secepatnya sekaligus memproklamirkan dan
memperingati Hari Kebangkitan Reformasi Total.
Dari jalur Utara, ribuan mahasiswa IKIP dan Fakultas Teknik Unand mulai
bergerak dari Air Tawar sekitar pukul 8.30 WIB. Di bundaran depan kantor
DPRD I Sumbar lautan mahasiswa itu bergabung dengan utusan mahasiswa
Universitas Bung Hatta (UBH). Persis di depan gedung dewan tersebut
mereka berhenti sejenak untuk 'mengajak' anggota DPRD ikut bersama
mereka long march ke kantor gubernur.
Mulanya lima orang utusan mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa IKIP dan
UBH (masing-masing dua orang) dan satu orang lagi dari Universitas
Baiturrahmah ingin berjumpa dan mengajak langsung Ketua DPRD, Noer Bahri
Pamuncak turun ke jalan. Namun, sesampai di sana delegasi mahasiswa itu
tidak menemukan orang yang mereka cari, kecuali Syahrial, Soeib Karseno
dan Solihin Sadeli (ketiganya dari Fraksi ABRI).
Kelima utusan itu, langsung melakukan negosiasi dengan anggota dewan
tersebut. Tidak kurang dari sepuluh menit, akhirnya dengan berbagai
'bujukan', akhirnya ketiga anggota dewan itu berhasil mereka 'giring'
menyusuri jalan Khatib Suleman, Rasuna Said dan jalan Sudirman.
Didampingi Drs. Muzni Ramanto, Pembantu Rektor III IKIP Padang beserta
sejumlah dosen lainnya ketiga wakil rakyat itu terus diarak dengan
bunyi-bunyian, seperti gendrang, talempong dan bansi serta
teriakan-teriakan mahasiswa yang menuntut Soeharto mundur dan menolak
pembentukan Komite Reformasi.
Sepanjang jalan yang dilewati, massa mahasiswa terus bertambah dengan
bergabungnya mahasiswa STKIP PGRI, STTIND, STTP, Universitas
Muhammadiyah Sumbar, ATIP, STIE-KBP dan utusan perguruan tinggi lainnya
di Sumbar yang sudah datang sehari sebelumnya. Sedangkan, sesampai di
halaman kantor Gubernur, puluhan ribu mahasiswa yang ber-long march itu
telah ditunggu oleh mahasiswa Universitas Ekasakti (Unes), Unand, AMIK,
STMIK-YPTK, STIQ, APB bersama perguruan tinggi lainnya. Bahkan, di teras
kantor gubernur tersebut sudah terpajang sebuah spanduk hitam yang
meminta agar Soeharto mundur secepatnya.
Aksi keprihatinan mahasiswa kali ini betul-betul luar biasa. Tidak saja
karena jumlahnya yang menjadikan halaman kantor gubernur tak mampu
menampung massa, juga mereka mampu menghadirkan Gubernur Mukhlis
Ibrahim, ketua DPRD Sumbar Noer Bahri Pamuncak, Sekwilda Sumbar Zainal
Bakar, ketua Bappeda Sumbar Ir.Nurmawan, Walikotamadya Padang Drs.Zuiyen
Rais, MS beserta Muspida dan kepala dinas serta jawatan di daerah ini.
Dan pada kesempatan tersebut, pimpinan umum harian Singgalang Padang,
H.Basril Djabar juga hadir dihadapan puluhan ribu mahasiswa.
Dalam penampilan pertamanya ditengah demonstrasi mahasiswa, Muchlis
Ibrahim menyatakan dukungan terhadap aksi damai mahasiswa yang menuntut
reformasi. "Kita di Sumbar juga akan terus berupaya memberantas praktik
Kolusi, Korubsi dan Nepotisme yang menjadi tuntutan mahasiswa. Dengan
dukungan semua pihak termasuk mahasiswa, saya yakin kolusi, korubsi dan
nepotisme akan dapat kita berantas," tandasnya.
Akibat membludaknya massa, dua unit mobil pemadam kebakaran dan satu
unit mobil PDAM kewalahan mendrop air untuk menyiram mahasiswa yang
tengah melakukan aksi damai di bawah terik matahari itu. Akibatnya lagi,
ketiga mobil tersebut terpaksa bolak-balik mendatangkan air dari
sumbernya.
Lantik 'gubernur'
Peringatan Hari Reformasi di halaman kantor gubernur juga ditandai
mahasiswa Universitas Bung Hatta Padang dengan pelantikan 'gubernur'
Ahmad Chairuddin oleh Ketua 'DPRD pasca reformasi' Donny Yester serta
pelantikan Budi selaku 'Kakansospol' oleh 'gubernur' terpilih. "Dalam
waktu sesingkat-singkatnya kita juga akan 'melantik' Walikota Padang dan
Walikota Bukitinggi serta sejumlah Kepala Daerah lainnya yang terpilih
tanpa suap-menyuap," sindir Donny Yester.
Sedangkan Mukhtar Effendi, Koordinator mahasiswa sektor Utara
mengemukakan, bahwa mahasiswa Sumatera Barat siap berjuang untuk
reformasi. Jangankan dengan darah, kata Mukhtar, nyawapun mahasiswa
siap mempertaruhkannya. Oleh karena itu, dia minta aparat tidak
menghalangi perjuangan mahasiswa.
Ketua Senat Mahasiswa Unand Syahril Mubaraq dalam orasinya juga menolak
pembentukan Komite Reformasi dan rencana pemilu yang entah kapan itu.
"Mahasiswa tetap dengan tuntutan semula, pelaksanaan Sidang Istimewa
MPR, mundurnya presiden Soeharto secara tehormat dan reformasi total.
Bukan komite-komitean lagi," tegasnya.
Orasi yang menyentak-nyentak pelaksanaan SI MPR juga disampikan dosen
fakultas hukum Unand Saldi Isra,SH dan dosen IAIN Drs.Didin Wahyuddin.
Sedangkan aktivis utusan mahasiswa Medan lebih menyerukan agar mahasiswa
jangan lagi ditembaki dengan senjata yang berasal dari uang rakyat
sebagaimana yang terjadi di Medan dan sejumlah kota lainnya kecuali di
Sumbar. Puncak peringatan Hari Kebangkitan Reformasi di halaman kantor
gubernur kemarin ditandai dengan penyampaian Pernyataan Sikap Mahasiswa
Sumatera Barat yang ditandatangani Koordinator Umum Mahasiswa Sumbar
Syahrul R.Tanjung dan dibacakan Gun Sugianto.
Tuntutan tersebut dilatarbelakangi dengan fenomena yang terjadi melanda
bangsa ini yakni timbulnya berbagai macam krisis. Hal itu menunjukkan
bahwa infrastruktur politik bangsa tidak lagi mampu mengakomodasikan
aspirasi rakyat.
Tiga tuntutan mahasiswa Sumbar yang dibacakan Gun Sugianto tersebut
yakni; Adakan Sidang Umum Istimewa MPRI RI. Turunkan Soeharto dari
jabatan Presiden RI. Meminta pertanggung jawaban Soeharto di hadapan
Sidang Istimewa MPR RI.
Kemudian, jelas Gun Sugianto, sikap arogansi pemerintah semakin terlihat
dengan adanya kecenderungan apologi dan kecenderungan kambing hitam
terhadap setiap perilaku reformasi sebagai penyebab anarkisme di
tengah-tengah masyarakat.
 
TVRI juga didatangi
Setelah menduduki Gedung DPRD Tk.I Sumbar usai apel besar peringatan
Hari Reformasi itu ratusan mahasiswa kemudian 'menduduki' Stasiun RRI
Regional I Padang oleh sejumlah mahasiswa Universitas Bung Hatta, secara
bersamaan mahasiswa IAIN Imam Bonjol beraksi serupa. Sekitar 130-an
mahasiwa ini sekira pukul 17.00 WIB Selasa (19/5/98), mereka memasuki
Gedung Stasiun TVRI di Jl. By Pass.
Sampai Rabu siang (20/5/98), mahasiswa IAIN ini masih bertahan di
Stasiun TVRI itu. "Meraka cuma bermalam, tidak menguasai jalannya
program acara," jelas seorang reporter TVRI di halaman Kantor DPRD
Sumbar.o dd/lra.pdg
 
 
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com