Pemilu = Reformasi

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jun 02 1998 - 10:45:00 EDT


Forwarded message:
From rudytyo@idola.net.id Fri May 22 01:21:13 1998
From: "Rudy Setyobudi" <rudytyo@idola.net.id>
To: <elits_ml@efn.org>
Cc: <apakabar@clark.net>
Subject: Pemilu = Reformasi
Date: Fri, 22 May 1998 12:14:30 +0700
Message-ID: <01bd8540$800bcca0$3c1414c1@rudytyo>
MIME-Version: 1.0
Content-Type: text/plain;
        charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: 7bit
X-Priority: 3
X-MSMail-Priority: Normal
X-Mailer: Microsoft Outlook Express 4.71.1712.3
X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V4.71.1712.3
 

Salam,
 
Usai sudah soeharto menjadi presiden namun apakah sebenarnya tuntutan
reformasi hanya sebatas itu ? menyingkirkan praktek KKN ? memberantas
antek-antek soeharto ? memperbaiki kondisi ekonomi,sospol & hukum ? pokoknya
yang bernapaskan perubahanlah, lalu apa lagi ?
 
(Bagian 1)
Menangkap aspirasi rekan-rekan maupun tokoh dan pakar lainnya terlihat
keinginan kuat lebih dari itu, lalu apa itu ? bukankah keinginan kuat itu
harus dirumuskan dengan baik dan terukur? Artinya keinginan reformasi
haruslah dikonsepkan melalui 'penyampaian secara kebenaran akademikus'
(seperti halnya kita telah membuatnya saat meraih gelar akademik) tidak
serta merta membabi-buta. Dan hal itu tentu saja kewajiban bagi tokoh-tokoh
akademik atau yang pernah mengenyamnya sebagai pelopor reformasi.
(Untuk itu saya angkat topi buat rektor UI, purek & dosen-dosennya yg dgn
gagah berani datang ke Cendana sambil membawa materi konsep dan dibukukan
lagi...)
 
Nah..yang saya khawatirkan, rekan-rekan (mahasiswa, dosen & tokoh
masyarakat) yang sampai saat ini masih memenuhi halaman gedung MPR/DPR masih
berpegang sebatas pada 'pernyataan sikap' saja belum membuat konsep/rumusan
yang lebih realistis (meskipun saya percaya banyak ide yang sebenarnya
memenuhi kepala mereka). Usul saya, konsep & rumuskan perubahan yang
diinginkan, buat tulisannya (semacam think discript meliputi aspek
manfaatnya), serahkan ke dewan terhormat MPR/DPR, Mr. Presiden & tokoh
masyarakat lainnya lalu baru bergerak ke mimbar orasi.
 
(Bagian 2 - Habis)
Reformasi yang kita inginkan tentu saja mencakup semua aspek, termasuk
sistem pemerintahan dan ketata-negaraan yg bersih dan berdaya guna. Artinya,
yang turun tidak saja presiden (eksekutif) tetapi juga harus ada perombakan
pada sisi MPR/DPR (legislatif) serta lembaga tinggi lainnya (dan tentu saja
sistemnya).
 
Dengan cara bagaimana ? Melalui PEMILU ! Dengan pemilu anggota dewan akan
terbaharui.
Lho..bukankan Pemilu 5 thn sekali, sama saja itu inkonstitusional ?
Ya..bentuk saja UU Pemilu baru yg didalamnya terdapat pasal mencakup
kondisi darurat bangsa. Wah..makan waktu lama dong ? Yang bener aja ! para
pemimpin kita di jaman penjajahan dulu yg notabene hanya bisa makan
pas-pasan serta sibuk berperang saja bisa menciptakan 'masterpice' Pancasila
& UUD '45 kenapa saat ini tidak. Lagian sangat banyak profesor dalam
berbagai profesi pada jaman merdeka ini.
 
Namun dengan telah lengsernya soeharto dgn kehendak pribadi dan otomatis
beralih ke Habibie (dimana hal tsb juga konstitusional) maka sekarang
tinggal makin sempitlah peluang dilakukannya perombakan anggota MPR/DPR !
Kenapa ? Ya, karena kita harus mulai dari nol lagi perjuangan yang
melelahkan ini. Tinggal apakah masih ada sisa kekuatan buat menyuarakan agar
diadakan Pemilu serta ketidak setujuan kita thd pemerintahan yang sekarang
(secara pribadi saya belum sreg dgn susunan kabinet yg baru diumumkan tadi
pagi).
 
Saya akui, kita telah membuat 'blunder' 1 langkah kebelakang (sebagai akibat
manuver pengunduran diri yg dilakukan soeharto). Bukankah tgl 20 mei yg lalu
soeharto telah memberikan sedikit jalan yang bisa kita manfaatkan dgn
sebesar-besarnya ?
 
Waktu itu soeharto jelas mengatakan bisa saja mundur hari itu detik itu juga
akan tetapi tujuan 'delaying' adalah juga jelas yaitu pembentukan UU Pemilu
(karena aspirasi-aspirasi reformasi yg dia tangkap selama ini adalah
bertujuan mengganti presiden & anggota DPR/MPR dan itu harus melalui
Pemilu, bukankah hal ini juga yg kita inginkan ? ) dengan memberikan
kompromi pembentukan Komite Reformasi yg anggotanya sama sekali independen
(bisa dipilih siapa saja) dengan tujuan utama membentuk UU/Perpu Pemilu
bahkan ditekankan dengan batas waktu secepat-secepatnya (max. 6 bulan),
kalau bisa 2 minggu ya syukur...! Kita mestinya sedikit bersabar &
mengendalikan emosi sambil mendukung secara moril pembentukan UU pemilu tsb
sehingga bisa cepat terbentuk !.
 
Tetapi yang terjadi adalah .... ledakan emosional dari segelintir
tokoh-tokoh masyarakat ...dengan membuat orasi didepan mahasiswa secara
membabi-buta agar soeharto turun hari itu juga. 'Violence mood' demikian
tidak saja telah menutup mata hati tetapi juga telah membuntukan nalar
logika jangka panjang sehingga tidak dapat mencerna dengan jernih langkah
selanjutnya. Dalam hal ini perkenankan saya menyatakan 'unrespectable'
terhadap Amien Rais, Anggota petisi 50, Solichin GP, Adnan Buyung ...
 
 Nasi telah menjadi bubur, namun semangat reformasi harus tetap jalan.
Sungguh tepat perumpamaan yg digambarkan Kompas ttg anggota DPR/MPR sebagai
mobil Panther sekaligus mobil Kijang, karena 'nyaris tak terdengar' dan
'bisa rame-rame buat bapak, ibu, oom, tante...'
 
Sekarang.. sekali lagi pertanyaannya adalah masih adakah keinginan kuat buat
menyelenggarakan Pemilu yang bersih dan anggota-anggota terpilih benar-benar
orang yg concern thd suara rakyat, tidak menunggu thn 2003 tapi tahun ini
juga ?
Saya akan jawab: Ya..ya..yaaaa...
 
Hidup Reformasi !