[INDONESIA-L] Tentara Pribadi Prabo

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jun 02 1998 - 19:23:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Tue Jun 2 22:20:37 1998
Date: Tue, 2 Jun 1998 20:18:45 -0600 (MDT)
Message-Id: <199806030218.UAA12856@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Tentara Pribadi Prabowo, Cakrabirawa Orde Baru
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

Date: Tue, 2 Jun 1998 04:55:21 -0700 (PDT)
From: Jenderal Besar <soeharto@yahoo.com>
Subject: TENTARA PRIBADI PRABOWO, CAKRABIRAWA ORDE BARU
To: demi-demokrasi@listserv.antenna.nl, apakabar@clark.net
 
Kawan-kawan,Ini cerita yang saya dengar dari sumber-sumber saya di
Indonesia. Benar-tidaknya, masih harus dicek dengan sumber-sumber
lain, termasuk oleh segenap pembaca berita-berita e-mail di Indonesia.
Namun agar
menambah kewaspadaan kawan-kawan mahasiswa di Indonesia, saya rasa
saya punya kewajiban moral untuk menyampaikan ke kalian, yang langsung
berada di garis terdepan. Juga saya harapkan bahwa Komnas HAM, YLBHI,
dan PBHI bersedia untuk menceknya ke sumber-sumber di ABRI.
Semoga saja tidak benar.
TENTARA PRIBADI PRABOWO, CAKRABIRAWA ORDE BARU
Letjen Prabowo Subianto (mungkin atas inisiatif sendiri, mungkin pula
atas perintah mertuanya) membina "tentara pribadi" yang terdiri dari
tiga kelompok:
1.Kelompok inti yang terdiri dari drop out tingkat dua dan tiga Akabri
Darat di Magelang. Mereka ini disebut sebagai anak-anak Tidar.
2. Kelompok pendukung yang terdiri dari anak-anak pensiunan ABRI yang
gagal di sekolah dan bisnis. Resminya mereka ditampung sebagai
karyawan Bimantara
atau perusahaan anak-anak dan cucu Suharto lainnya.
3. Kelompok yang bergerak di tingkat bawah adalah murid-murid berbagai
perguruan silat di Jawa, khususnya Jawa Barat.
Sebagaimana anda ketahui, Prabowo secara resmi adalah Ketua IPSI
(Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan penunjukan dia di sana adalah
berkat jasa Wismoyo Arismunandar yang Ketua KONI dan ipar Suharto.
Prabowo meminta kepada beberapa perguruan silat di Jawa untuk
mengirim lima siswa terbaiknya untuk dilatih oleh Kopassus (ketika ia
menjadi Komandan Kopassus),
antara lain di Serang. Mereka itulah yang antara lain digunakan untuk
menggerakkan kerusuhan di Tasikmalaya, Rengasdengklok, dsb. Kerusuhan
ini terutama ditujukan untuk menekan Gus Dur agar mau meninggalkan
Fordem. Begitu Gus Dur dekat dengan Tutut, kerusuhan itu mendadak
padam dan hilang dari mana-mana? Gus Dur ketika itu mengatakan pada
informan saya bahwa ia mendekat Tutut bukan mau mendekatkan NU dengan
Golkar, tetapiuntuk menolong Kiai-Kiainya agar tidak selalu ditekan
oleh ABRI sebagaipenggerak kerusuhan. Ia bilang, kalau mau mendekatkan
NU dengan Golkar tentu ia lebih memilih Harmoko. Selain alasan di
atas, ada kepentingan pribadi Gus Dur yaitu untuk menghancurkan
perlawanan Abu Hassan yang memang didukung oleh Cendana. Sejak
kerusuhan mereda, serangan dan dakwaan Abu Hasan juga tidak pernah
mencuat lagi dan Suharto pun mau berjabat tangan dengan Gus Dur.
Kembali ke cerita tentang Anak Tidar. Anak-anak Tidar ikut membina
siswa pesilat dan mengawasi gerakan tersebut tetapi tidak boleh ikut
terlibat di dalamnya. Seorang pimpinan perguruan silat yang menolak
untuk mengirim siswanya untuk keperluan tersebut telah diancam, dan
bahkan diteror oleh anak-anak Tidar tersebut. Antara lain diancam akan
dibunuh dan isterinya akan diperkosa di depan matanya sebelum ia
dibunuh. Guru silat tersebut kemudian menuruti kemauan Prabowo tetapi
sampai saat ini mengalami shock psikis.
Siswa-siswa silat yang dibina anak Tidar dan Kopassus ini pula yang
kemudian digunakan untuk melakukan kerusuhan anti Cina dan merusak
gereja di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu, untuk mengalihkan
amarah rakyat dari keluarga Cendana kepada Cina dan Keristen. Begitu
Clinton mengajukan protes kepada Suharto mengenai kerusuhan itu,
tiba-tiba kerusuhan itu berhenti begitu saja. Padahal, kalau memang
aksi itu merupakan aksi spontan rakyat, sangat sulit untuk dihentikan
secara mendadak seperti itu. Dalam pertemuan antara KISDI dengan
Prabowo di sarang Kopassus, yang hadir terutama adalah siswa-siswa
pesilat tersebut. Sore itu mereka disuruh kumpul di beberapa
Gelanggang Remaja kemudian dijemput truk Kopassus (yang juga berisi
beberapa Kopassus) untuk dibawa ke Cijantung.
Setiap siswa yang datang dalam pertemuan itu mendapat uang lelah
sebesar lima ribu rupiah per orang. (Mungkin juga mereka mendapat uang
"operasi" semacam itu ketika menggerakkan kerusuhan). Prabowo sendiri
tidak berpidato bernada anti Cina atau anti CSIS, tetapi ia
menggunakan Husain Umar, Anwar Tjokroaminoto serta Lukman Umar untuk
membakar hadirin dengan retorik yang anti Cina, anti CSIS dan
anti-Kristen. Biaya untuk berbagai operasi tersebut didukung oleh
Bimantara, dan beberapa perusahaan anak dan cucu Suharto serta dari
adik Prabowo Subianto (Hasyim Djojohadikusumo).
Anak Tidar ini memiliki ketrampilan militer dan masing-masing
dilengkapi handphone dan HT (handy talkie), yang konon sumbangan
Tutut. Kendaraan dinas mereka adalah Kijang atau Panther. Bukan tidak
mungkin bahwa yang melakukan penculikan berbagai aktivis baru-baru ini
adalah mereka itu. Mereka pula yang digunakan untuk ikut bergabung
dengan "massa" sewaktu menyerbu Kantor PDI tanggal 27 Juli 1996 yang
lalu. Mungkin mereka pula yang melakukan penusukan kepada orang-orang
yang bertahan dalam gedung PDI dan menculik yang
hilang. Pimpinan ABRI yang mendukung operasi tentara
pribadi Cendana/Prabowo ini adalah Kapolri yang juga mantan ajudan
Suharto. Menurut seorang Kapten Polri, rencana penyerangan 27 Juli itu
dilakukan di Polda Metro Jaya. Ia mengeluh kelelahan karena selama
beberapa hari ia nyaris tidak tidur dan tidak boleh pulang. Dugaan
bahwa cerita itu benar diperkuat oleh seorang sumber saya, yang
kebetulan pernah mendengar percakapan dalam HT yangdibawa oleh
seorang anak pensiunan perwira tinggi AD sewaktu sumber saya ikut
dalam Kijangnya. Anak Abri tersebut bekerja di Bimantara. Dari HT
terdengar antara lain kata-kata "saya sudah sampai di hotel". "Sasaran
masuk ke hotel, dan saya menunggu di lobi". Tidak jelas siapa yang
dimaksud dengan Anak purnawirawan ABRI itu juga tidak mau mengatakan
mengapa HT-nya berbicara seperti itu. Ia hanya mengatakan bahwa
kebetulan ia dapat menangkap gelombang HT-nya petugas-petugas Kodam
Jaya. Apakah benar mereka petugas Kodam masih dapat diragukan karena
semua instansi ABRI menggunakan call sign sandi. Gelombang HT yang
kedengaran itu tidak mungkin ditangkap begitu saja tanpa HT distel
untuk frekwensi tersebut.