[INDONESIA-L] WARTA EKONOMI - Perus

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Jun 13 1998 - 09:14:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Sat Jun 13 12:15:23 1998
Date: Sat, 13 Jun 1998 10:13:37 -0600 (MDT)
Message-Id: <199806131613.KAA13914@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] WARTA EKONOMI - Perusahaan Keluarga Soeharto, Habibie dll
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

X-URL: http://www.indobiz.com/company/warta/we980608.htm#W1
  
   Excerpts from Warta Ekonomi
     _________________________________________________________________
     
8 Juni, 1998
     
Perusahaan keluarga Soeharto: Cendana namanya, Cendawan nasibnya
  
         Seorang peneliti mengemukakan ada 1.247 perusahaan milik
   keluarga Cendana. Namun, hati-hati, banyak perusahaan yang sudah
   bangkrut. Di sejumlah perusahaan, keluarga Cendana bahkan ditendang.
         Orang-orang dekatnya mengatakan Pak Harto adalah orang yang
   cerdas. Di depan peserta kelompencapir ketika masih jadi presiden
   dulu. ia masih menghafal harga cabai kapitalisasi saham di bursa
   jumlah produksi susu sapi-sapinya di Tapos. hingga utang luar negeri
   negara yang dipimpinnya. Semuanya terlontar begitu saja. tanpa
   repot-repot membuka catatan.
         Kini orang bertanya apakah ia cukup cerdas juga menghafal nama
   perusahan - perusahaannya? Bayangkan saja. jumlah perusahaun
   keluarganya bukan lagi dalam bilangan ratusan. seperti yang dilansir
   Warta Ekonomi pekan lalu. Jumlahnya kini lebih dari 1.247 perusahaan.
   menurut pengakuan Michael Backman. seorang peneliti tentang bisnis dan
   perusahaan di Asia.
         Pada The Asean Wall Street Journal, Selasa, 26 Mei, ia menulis
   begini: "Sekarang ini, saya telah mengidentifikasi setidaknya ada
   1.247 perusahaan terpisah yang masih aktif dimana keluarga Soeharto
   mempunyai saham yang signifikan." Menurut dia, perusahaan - perusahaan
   itu tersebar pada setidaknya pada 20 konglomerat. Backman juga
   mengistaratkan bahwa jumlah itu masih akan lebih, mengingat perusahaan
   keluarga Cendana di luar negeri belum terdeteksi.
         Backman memang menyodorkan argumentasi yang menarik. Selama ini
   keluarga Cendana didefinisikan sebagai putra-putri Pak Harto. Itu
   berarti enam orang putra-putri. Padahal, lingkup keluarga tersebut,
   menurut Backman, lebih luas. Keluarga Cendana di lingkungan bisnis
   bisa mencakup keponakan, saudara sepupu, cucu, dan seterusnya. Bila
   menurut logika ini, kelompok Subentra, yang dimiliki oleh
   Sudwikatmono, adik Soeharto, masuk dalam bisnis keluarga Cendana.
   Begitu pula, misalnya, bisnis yang dijalankan oleh Ibnu Hardjono, adik
   Ibu Tien.
     
GURITA BISNIS
  
         Dan, berapakah nilai kekayaan keluarga Cendana dari dunia bisnis
   ini? Tak ada yang tahu pasti. Berbagai pihak yang mencoba melakukan
   estimasi, selalu keluar dengan hasil yana berbeda. Pusat Data Business
   Indonesia (PDBI). misalnya, menaksir kekayaan keluarga Soeharto
   mencapai Rp200 triliun. Namun, lembaga yang dipimpin Christianto
   Wibisono ini tampaknya masih membatasi diri pada bisnis putra-putri
   Pak Harto saja. Belum sampai kepada hubungan kekerabatan yang lain.
         Sementara itu, majalah Forbes, tahun lalu, pernah mengungkapkan
   bahwa kekayaan Pak Harto lebih dari US$16 milliar, dan bila dihitung
   dengan kurs Rp10.000, berarti mencapai Rp160 triliun. Ini adalah angka
   yang tentu saja sudah berkembang hingga sekarang. Bila
   dibanding-bandingkan, angka ini mungkin akan menyamai angka yang
   disodorkan oleh PDBI tadi.
   Jeffrey Winters, profesor pada Universitas Northwestern, Chicago,
   mengutip data CIA, delapan tahun lau, datang dengan angka yang lebih
   kecil. Menurut dia, kekayaan Soeharto adalah US$15 juta. dan harus
   dikalikan dua bila kekayaan kerabatnya diikutsertakan. Sementara itu,
   New sweek, Januari 1998, justru menyodorkan angka yang lebih
   fantastis. Menurut majalah terbitan Amerika Serikat ini. kekayaan
   Soeharto mencapai USS40 miliar. sebuah angka yang hanya terpaut US$3
   miliar dengan bantuan IMF yang direncanakan disuntikkan ke Indonesia
   untuk mengatasi krisis moneter.
         Gurita bisnis yang dimiliki keluarga ini memang segera saja
   melahirkan kecurigaun macam-macam. Itulah, misalnya, yang sekarang
   populer dengan sebutan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sekarang
   ini, perusahaan-perusahaan yang dimiliki keluarga itu dikesankan
   seolah berasal dari praktek bisnis berbau KKN tadi. Tentu bukan kesan
   yang benar sepenuhnya, tetapi apa daya, di tengah angin reformasi
   seperti sekarang?
         Tak mengherankan pula bila dekat dengan keluarga Pak Harto
   tampaknya bukan lagi kebanggaan pada hari-hari belakangan ini. Juga
   bagi kalangan pengusaha, yang pada tahun-tahun silam masih begitu
   bersemangat bila bisa bermitra dengan salah satu anggota keluarga
   mantan presiden itu.
         Reaksi sebagian orang ketika Warta Ekonomi, pada edisi pekan
   lalu. melansir daftar yayasan dan perusahaan yang berkait dengan
   keluarga Pak Harto juga begitu. Pada intinya semuanya menginginkan
   agar kekayaan Pak Harto diusut tuntas. "Saya kira itu hal wajar. dan
   tidak ada yang terlalu dini dalam hal ini," kata Luhut M.P.
   Pangaribuan, pengacara yang dimintai komentarnya tentang usulan
   pengusutan harta Pak Harto. "Sudah saatnya sekarang , sekaligus
   sebagai motivasi kepada pejabat baru," kata Luhut.
         Amerika Serikat sendiri memberi angin pada usulan itu. Seperti
   dilaporkan kantor berita Reuter, juru bicara Deplu negara Paman Sam,
   james Rubin, bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk memeriksa aset Pak
   Harto di negara itu. "Kami akan mempelajarinya," kata Rubin. Senator
   John Kerry dan anggota DPR AS, Howard Berman, telah pula mengirimkan
   surat kepada Presiden Clinton soal ini.
     
Jaringan bisnis Habibie
  
         Salah satu keluarga B.J. Habibie yang paling ngetop di bidang
   bisnis adalah Suryatim "Timmy" Abdulrachman Habibie. Sejak Habibie
   menjadi wakil presiden pada 11 Maret lalu, Timmy mengaku tak merasa
   senyaman sebelumnya. Maklum, gosip-gosip yang menghubung-hubungkan
   dirinya dengan sukses sang abang mulai bertebaran di mana-mana,
   terutama di internet yang memang tak ber-SIUPP itu. "Tulisan itu
   banyak salahuya dan tanpa konfirmasi sama sekali. Saya nggak ambil
   pusing," ujar Timmy seperti dikutip tabloid Kontan awal April.
         Mungkin karena susah dikonfirmasi, kemudian memang sebagai
   pemegang saham PT Herwindo Rintis, sebuah konsorsium yang bekerja sama
   dengan Salim dan Grup Bimantara. Perusahaan itu merupakan mitra
   domestik pada PT Batamindo Investment Corporation (kawasan industri)
   dan PT Batamindo Executive Village (kondominium dan lapangan golf).
         Catatan ini juga menyebutkan bahwa kedua putra B.J. Habibie ini
   juga memiliki usaha di luar Grup Timsco, yakni PT Batharad Germanusa,
   PT Ilthabi Rekatama, PT Trimitra Upayatama dan PT Nongsapura
   Wahanabahari. "Tiga yang pertama bergerak di bidang perdagangan,
   sedangkan yang terakhir bergerak di sektor pariwisata bekerja sama
   dengan Kris Wiluan dari Grup Citra Agramasinti," tulis Thomas.
         Sebenarnya, di samping ulasan-ulasan bernada miring, cukup
   banyak juga ulasan yang memuji kelihaian Timmy dalam berbisnis.
   Bayangkan, dengan modal Rp50 juta atau Rp60 juta tadi, Timmy akhirnya
   bisa mengembangkan Timsco menurut sebuah media menjadi induk dari 64
   perusahaan. Adapun sektor-sektor yang digarapnya antara lain
   perdagangan, agrobisnis, kimia, konstruksi, Telekomunikasi,
   real/industrial estate, pariwisata, transportasi, jasa dan
   bidang-bidang lainnya.
     
   Daftar perusahaan Timsco
     
   No. Nama Perusahaan Didirikan
   Unit Bisnis
   1. PT Timsco Indonesia 1977
   2. PT Timsco Development Corporation 1987
   3. PT Timsco Multi Buildscon 1992
   4. PT Timsco Balerang -
   Perdagangan
   5 PT Citratamas Dianmas* 1989
   6. PT Dwimas Intiwisesa 1991
   7. PT Herwindo Rintis 1988
   8. PT Pacific Indosino 1991
   9. PT Putramas Prima Perkasa -
   10. PT Timsco Pacific Manunggal -
   11. PT Wahanasarana Buana 1991
   12 PT Wahanasarana Buana Raya 1992
   Perkebunan
   13. PT Citra Harum Manis** 1990
   Pemotongan Hewan
   14. PT Sinar Culindo Perkasa 1983
   Industri Kimia
   15. PT Cahaya Aneka Kimia Perkasa 1994
   16. PT Hercules Mas Indonesia 1986
   17. PT Indochior Perkasa Industries 1987
   18. PT Sulfindo Adiusaha -
   Mineral Non Metal
   19. PT Indoglass Era Citra -
   Konstruksi
   20. PT Buana Bangunsemesta 1991
   21. PT Cendana Buanajaya 1990
   22. PT Waringin Dutagraha 1990
   23. PT Citra Telekomunikasi Indonesia 1991
   Pariwisata
   24. PT Batamindo Executive Village 1993
   25. PT Bintan Perkasa Development -
   Real/Industrial Estate
   26. PT Batamindo Investment Corporation 1990
   27. PT Griya Rekatama Asri 1991
   Transportasi
   28. PT Bimatama Dharma Perkasa Natuna 1986
   29. PT Sempurna Catur Guna 1987
   30. PT Indoterminal Citra 1989
   Jasa
   31. PT Aerogeohydro Infosystem -
   32. PT Buana Teledatama Systemindo 1991
   33. PT Intra Maha Mitra 1991
   34. PT Nusadata Komunikatama 1991
   Lain-lain
   35. PT Firmanjaya Abadi 1988
   36. PT Jayagemilang Lestari 1988
   37. PT Menarakarsa Gemilang 1992
   38. PT Milas Citrainti 1991
   39. PT Nuansa Dhuha Salman 1992
   40. PT Citra Lingkungan Lestari -
   41. PT Repindo Raya 1994
     
   Ket:
   *sudah mati
   **merugi
   Sumber: PDBI (Januari 1995), wawancara Warta Ekonomi
   dengan Sudarsono Darmosuwito, Agus Karyadi (Mei 1998),
   wawancara Timmy pada majalah SWA edisi April 1998.
     
   Daftar Perusahaan
   Milik Putra-Putri Habibie
     
   No. Nama Perusahaan Didirikan
   Perdagangan
   1. PT Batharad Germanusa 1993
   2. PT Herwindo Rintis 1988
   3. PT IIthabi Rekatama 1991
   4. PT Trimitra Upayatama 1989
   Pariwisata
   5. PT Batamindo Executive Village 1993
   6. PT Nongsapura Wahanabahari 1991
   Real-Industrial Estate
   7. PT Batamindo Investment Corporation 1990
   8. PT Griya Rekatama 1991
     
                           Sumber:PDBI (Jan 1995)
                                        
Bisnis sejumlah keluarga Menteri Kabinet Reformasi Pembangunan
  
   No. Nama Perusahaan Menteri/Keluarga Status Bidang
   1. Grup Kodel Fahmi Idris Owner/eksekutif Minyak dan lain-lain
   2. PT Nagari Development Corporation Fahmi Idris
   (bersama A. Latief, Aminuzal Amin,
   Pembina: Azwar Anas, Bustanil Arifin,
   Harun Zain, Awaluddin Djamin) Pemegang saham Sejenis Modal Ventura
   3. PT Nabila Fahira Fahmi Idris (Anak Fahmi Idris) Pemilik Perdagangan
   4. PT Agumar Nusa Agus Gumiwang (AG)Kartasasmita
   (Putra Ginandjar Kartasasmita) Pemilik Tin Plate
   5. PT Indonesia Rimba Karya A.G. Kartasasmita
   (Tercatat pula Gunariah Mochdi,
   adik Ginanjar Kartasasmita) Komisaris Perkayuan
   6. PT Agumar Gita Kirana A.G. Kartasasmita Pemilik Perdagangan
   7. PT Agumar Dayanusantara A.G. Kartasasmita Pemilik Perdagangan
   8. PT Agumar Eka A.G. Kartasasmita Pemilik Perdagangan
   9. PT. Agumarjaya Transindo A.G. Kartasasmita Pemilik Transportasi
   10. Hotel Bandara Sheraton Indra Kartasasmita
   (Adik Ginanjar Kartasasmita) Pemilik Perhotelan
   11. PT Arun NGL Co. Lhokseumawe Indra Kartasasmita Eksekutif -
   12. Perkapalan Kebandaraan dan Komunikasi Pertamina BBM (tanker BBM)
   Indra Kartasasmita Eksekutif transportasi
   13. PT Mentawai Wisata Bahari Hasan Basri Durin Pemilik Wisata
   14. Beberapa SPBU anak Hasan Basri Durin Pemilik Pelayanan BBM
   15. PT Sorini Gunadharma (Putra Hartato) Pemilik minoritas produsen
   sorbitol
   16. PT Branta Mulia Gunadharma Pemilik minoritas produsen kain ban
   17. PT Polypet Karya Persada Gunadharma Pemilik minoritas perusahaan
   ekspor
   18. Kelompok Langgeng Gunadharma Pemilik -
   19. PT Iveco (sudah tutup) Gunadharma Pemilik importir truk
   20. PT Fajar Surya Wisesa Gunadharma Pemilik minoritas
   Data: PDBI Januari 1998 Prospek, 11 Mei 1998
   Kompas, 28 Maret 1991 (hal 2)
   Pos Kota, 31 Mei 1998
   George J. Aditjondro
     _________________________________________________________________