[GSJ] CABUT DAN BATALKAN BINTANG JA

From: apakabar@access.digex.net
Date: Wed Aug 19 1998 - 12:39:00 EDT


----- Forwarded message from Admin GSJ -----

From gsj@thepentagon.com Wed Aug 19 14:24:26 1998
>From gsj@thepentagon.com Wed Aug 19 14:24:26 1998
Received: from postal.clark.net (postal.clark.net [168.143.0.17])
        by pony-2.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id OAA19148
        for <apakabar@access.digex.net>; Wed, 19 Aug 1998 14:24:25 -0400 (EDT)
Received: from loas.clark.net (loas.clark.net [168.143.0.13])
        by postal.clark.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id OAA21958
        for <apakabar@access.digex.net>; Wed, 19 Aug 1998 14:25:25 -0400 (EDT)
Received: from MAIL1 (mail1.indosat.net [202.155.15.21])
        by loas.clark.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id OAA09236
        for <apakabar@clark.net>; Wed, 19 Aug 1998 14:24:34 -0400 (EDT)
Received: from LOCALNAME - 202.155.9.110 by indosat.net.id with Microsoft SMTPSVC;
  Thu, 20 Aug 1998 01:03:57 +0700
X-Sender: gsj@thepentagon.com (Unverified)
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.2
To: "GSJ-Mailist" <reformasitotal@makelist.com>
From: Admin GSJ <gsj@thepentagon.com>
Subject: [GSJ] CABUT DAN BATALKAN BINTANG JASA
Message-ID: <03d125703181388MAIL1@indosat.net.id>
Date: 20 Aug 1998 01:04:02 +0700

http://www.FindMail.com/list/reformasitotal/
To join, mailto:reformasitotal-subscribe@makelist.com
-----------------------------------------------------

Date: Tue, 18 Aug 1998 00:24:08 -0700 (PDT)
From: Veteran Empat Lima <tepe17@yahoo.com>
Subject: CABUT DAN BATALKAN BINTANG JASA
To: gsj@thepentagon.com, kdpnet@ACTIVIST.COM

Bintang tanda-jasa yang ditabur Habibibe dalam rangka HUT Proklamasi
ke 53 harus dibatalkan dan dicabut kembali. Alasannya adalah;

Yang pertama, adalah kapasitas Habibie saat ini adalah sebagai Pejabat
Sementara (Pjs) Presiden yang tentunya tidak lantas memiliki seluruh
hak prerogatif sebagaimana presiden terpilih, dalam hal ini menabur
penghargaan bintang jasa.

Soeharto kala masa transisi dari Orla ke Orba tahun 1967 juga melalui
tahapan Pjs. Presiden bukan karena Bung Karno tidak mempunyai Wakil
Presiden melainkan Bung Karno-lah kala itu yang menjadi presiden
terpilih mandataris MPR(S) dan ditetapkan melalui suatu TAP menjadi
presiden seumur hidup. Kemudian Bung Karno dianggap disable-person
oleh Soeharto sampai diselenggarakannya SI-MPR(S) guna mencabut
kembali TAP tentang penetapan presiden melalui permintaan
pertanggung-jawaban yang pidatonya dikenal berjudul Nawakswara.
Habibie, diserahi kepemimpinan nasional setelah Soeharto secara
inkonstitusional me-lengserkan diri. Karena bukan dari lembaga
tertinggi negara (MPR) yaitu melalui suatu TAP, maka jabatan Habibie
harus dianggap sebagai care-taker atau Pejabat Sementara (Pjs)
Presiden. Itu sebabnya dalam SI-MPR yang dituntut rakyat, perlu
pengesahan pengunduran diri Soeharto melalui pencabutan TAP MPR
tentang pengangkatannya sebagai presiden RI untuk masa jabatan tahun
1998-2003 setelah yang bersangkutan mempertanggung-jawabkan tindakan
colong playu-nya tersebut minimal untuk masa jabatannya dari tgl. 11
Maret 1998 sampai dengan tanggal 21 Mei 1998.

Kedua, bintang jasa selain bahan emas-nya, pemberiannya diikuti suatu
lumpsump uang yang tentu tidak sejalan dengan program efisiensi yang
dicanangkan untuk mengatasi masa krisis yang dihadapi bangsa sekarang
ini. Dari semula sosok Habibie ini disinyalir pemborosan dan
menghambur-hamburkan uang. Proyek-proyek hi-tech nya seperti IPTN,
PAL, Pindad, INKA, dll yang padat modal sampai sekarang belum
memberikan kontribusi bagi pendapatan negara. Maka pemberian bintang
jasa merupakan bukti lain tidak adanya sense of crisis dari soerang
Habibie, Pjs. Presiden RI yang berwarganegara Jerman.

Beddu Amang, kabulog yang lintang pukang menyelenggarakan pengadaan
sembako bagi rakyat di masa krisis ini dipandang tidak patut menerima
penghargaan bintang jasa karena dari pelaksanaan tugasnya itu dia
sudah bisa mendapat perolehan materi untuk membeli rumah baru seharga
Rp 5 milyar di belakang rumah dinas Walikota Jakarta Selatan, meski
dia masih sungkan untuk menempatinya.

Ketiga, tentang kriteria penerima bintang jasa tahun ini. Penerima
bintang jasa kali ini tampaknya mereka yang berjasa bukan pada bangsa
dan negara tapi kepada pribadi Habibie.

Sejujurnya, hanya dua tokoh yang dianggap berjasa di mata rakyat
Indonesia, yaitu Abdurrachman Wahid dan Amien Rais. Mereka adalah dua
orang dari sekian banyak tokoh reformasi yang menggulingkan diktator
Soeharto beserta regime Orde Baru-nya menjajah dan menjarah rakyat
selama 32 tahun. Bahwa Megawati, Pius Lustrilanang. Sri Bintang
Pamungkas, Emil Salim, Goenawan Mohammad, Arbi Sanit, Permadi SH, Ki
Gendeng Pamungkas, Boediman Soedjatmiko, dll tidak terpilih memperoleh
bintang jasa justru menyebabkan timbulnya pertanyaan terhadap kedua
tokoh terpilih itu. Sebab, Gus Dur pada akhir-akhir menjelang Pemilu
1997 runtang-runtung dengan Tutut untuk mempropagandakannya sebagai
kader pemimpin nasional masa depan. Sedangkan Amien Rais adalah bekas
kolega Habibie di ICMI yang tentu saja tidak akan fight, persis
seperti rekayasa J. Naro pada tubuh PPP atau Soerjadi pada tubuh PDI.

Ginanjar Kartasasmita meski dengan cemerlang mampu bernegosiasi dengan
IMF dan badan/lembaga finansial internasional menjadi tokoh yang
pantas menerima bintang jasa justru karena kondisi negara yang sedang
bancrupt, bila tidak dalam kondisi itu maka pekerjaan bagus adalah
sudah menjadi tanggung-jawabnya sebagai Menko Ekuin.

Harmoko bahkan menjadi cukup pantas menerima bintang jasa karena
keberaniannya menuntut mundur Soeharto, meski pernyataannya itu
terpaksa keluar akibat desakan rakyat serta teror psychologis melalui
pembakaran rumahnya di Solo.

Banyaknya tokoh ABRI menerima penghargaan bintang jasa menjadi tanda
tanya besar oleh karena meledaknya kerusuhan nasional medio Mei 1998
lalu merupakan suatu bukti kegagalan profesi militer atas keamanan
negara. Tegasnya, tak ada tokoh militer kali ini yang layak menerima
penghargaan itu termasuk Wiranto sendiri yang pada awalnya menolak
Orde Reformasi dengan aneka pernyataannya seperti penolakan atas
statement pimpinan DPR/MPR melalui Harmoko tentang permintaan mundur
Soeharto yang dikatakannya sebagai ucapan pribadi/sepihak serta
pernyataan kesetiaan ABRI mendukung Soeharto.

Agaknya masih diperlukan bantuan mahasiswa sekali lagi untuk
menggiatkan gerakan ganyang Habibie serta cronies Soeharto sampai
tuntas.

Jakarta, 18 Agustus 1998

_____________________________________________________
To join, mailto:reformasitotal-subscribe@makelist.com
http://www.FindMail.com/list/reformasitotal/

----- End of forwarded message from Admin GSJ -----