ISTIQLAL (4/9/98)# BUNG KARNO: "BAP

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Sep 04 1998 - 06:53:00 EDT


----- Forwarded message from SiaR News Service -----

From siarlist-owner-apakabar=clark.net@minihub.org Fri Sep 4 08:56:04 1998
>From siarlist-owner-apakabar=clark.net@minihub.org Fri Sep 4 08:56:04 1998
Received: from postal.clark.net (postal.clark.net [168.143.0.17])
        by pony-1.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id IAA12858
        for <apakabar@access.digex.net>; Fri, 4 Sep 1998 08:56:03 -0400 (EDT)
Received: from loas.clark.net (loas.clark.net [168.143.0.13])
        by postal.clark.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id IAA24658
        for <apakabar@access.digex.net>; Fri, 4 Sep 1998 08:55:59 -0400 (EDT)
Received: from minihub.org (minihub.ozemail.com.au [203.108.36.40])
        by loas.clark.net (8.8.8/8.8.8) with SMTP id IAA29956
        for <apakabar@clark.net>; Fri, 4 Sep 1998 08:56:55 -0400 (EDT)
Received: (qmail 7919 invoked by alias); 4 Sep 1998 11:40:03 -0000
Delivered-To: siarlist@minihub.org
Message-ID: <19980904114003.7918.qmail@minihub.org>
Date: Fri, 04 Sep 1998 18:24:02 -0700
To: siarlist@minihub.org
From: SiaR News Service <siar@minihub.org>
Subject: ISTIQLAL (4/9/98)# BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENJADI
  SUMBANGAN BESAR TERHADAP REVOLUSI INDONESIA" (1/4)
Sender: owner-siarlist@minihub.org
Precedence: bulk

BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENJADI SUMBANGAN BESAR TERHADAP REVOLUSI
INDONESIA" (1/4)

Pengantar Redaksi:

        Rasialisme negara selama 32 tahun dipraktekkan secara mencolok oleh negara
Orde Baru di bawah Soeharto. Sejumlah perundang-undangan sengaja diproduksi
untuk mengeleminir kelompok masyarakat keturunan Tionghoa dari pergaulan
bangsa. Termasuk mengganti sebutan Tionghoa dengan "Cina" dan memberi tanda
serta perlakuan khusus pada kelompok ini. Negara mencitrakan orang Tionghoa
yang sebetulnya sangat heterogen menjadi kelompok homogen. Sekaligus
mengidentikkannya dengan komunis (PKI) dan kelompok a-nasionalis.

        Keturunan Tionghoa diawasi habis-habisan, ditangkar. Mereka dilarang
menyalankan adat-istiadatnya, agamanya dieliminir dari agama formal negara.
Bukan hanya itu, bahasa Mandarin sebagai bahasa yang paling banyak digunakan
oleh menusia penghuni planet bumi dan jadi salah satu bahasa resmi PBB
dilarang. Dimunculkan sebutan pri dan nonpri. Keturunan Tionghoa giring
untuk hanya yadi pedagang, Mereka tak bisa jadi pegawai negeri, ABRI apalagi
jadi pimpinan anggota Ormas. Dengan demikian mereka dikucilkan, dan ketika
sukses secara ekonomi, dengan mudah dijadikan kambing hitam dan sasaran
pemerasan.

        Sejumlah pengamat melihat bahwa jaman Orla sebetulnya juga terjadi
diskriminasi ras. Mulai dari penghancurkan imperium bisnis Oei Tiong Ham,
munculnya PP 10 hingga berbagai kerusuhan rasialis di sejumlah kota.
Termasuk Perusuhan Mei 1963 di Bandung. Betul kah Ir Soekarno seorang rasis?

        Banyak pengamat mengatakan bahwa Soekarno sebagai founding father sangat
paham persoalan ini. Ia ingin membangun Indonesia sebagai sebuah
nation-state yang baru di mana warga keturunan Tionghoa adalah bagian dari
etnisitas Indonesia. Berbagai kebijakan dan kerusuhan ras dengan sengaja
dibuat oleh sejumlah pembantu Bung Karno yang memiliki ambisi politik
tertentu. Termasuk kelompok militer yang tak suka dengan kebijakan Bung Karno.

        Agar kita bisa melihat lebih jelas sikap Bung Karno terhadap warga
keturunan Tionghoa, bersama ini Redaksi sengaya menurunkan kembali pidato
Bung Karno pada pembukaan Kongres Nasional ke-8 BAPERKI di Istana Olahraga
Gelora "Bung Karno" (Sekarang Istora Senayan -red.) pada 14 Maret 1963. Bung
Karno memberi judul amanatnya ini sebagai "Baperki Supaya Menjadi Sumbangan
Besar Terhadap Revolusi Indonesia".

        Redaksi menuliskannya kembali dalam ejaan EYD dengan sejumlah
penyesuaian, antara lain dengan menghapus fenomena kata "daripada".

-----------------------------

Saudara-Saudara dan Anak-Anakku sekalian,
   
      Lebih dahulu saya menyatakan terima-kasih saya serta rasa haru
hati saya berhubung dengan dibuatnya dan dinyanyikanaya lagu "Hidup lah Bung
Karno" yang beberapa detik yang lalu kita bersama telah mendengar. Terima
kasih. Di samping mengucapkan terima kasih itu saya menyatakan kekaguman
saya atas kemahiran komponis lagu itu, yang dari Saudara Siauw Giok Tjhan
saya mendengar bahwa komponisnya ialah seorang puteri, komponiste, yaitu
Saudari Evie
Coa. Terima kasih.

      Saudara-Saudara sekalian, sekarang saya diminta untuk memberi sambutan
amanat sekadarnya kepada resepsi pembukaan Kongres Baperki yang ke-VIII ini.

      Tadi Bapak Roeslan Abdulgani telah berkata, bahwa beliau bicara
sebagai voorrijder dari saya. Saudara tahu, kalau saya resmi sebagai
presiden berkendaraan mobil ke sesuatu tempat, lantas ada voorrijdernya.
Orang-orang yang mendahului perjalanan mobil saya itu untuk membuka yalan,
voorrijder. Malah ada yang lebih lagi mendahului perjalanan saya, itu bukan
voorrijder, tetapi sweeper, penyapu bersih.

      Presiden harus diadakan voorrijder, harus diadakan sweeper.
Sering saya berkata, mbok ya zonder voorrijder, zonder sweeper, tidak
perlu pakai sirene mengaung-ngaung. Tetapi anggota-anggota pemerintah dan
semua staf Istana berkata: "Menurut aturan harus demikian, Pak." Jadi, ya,
saya nurut saja. Maunya itu kadang-kadang saya mau ngluyur sendiri,
Saudara-Saudara, tapi tidak boleh! Selalu harus dengan voorrijder, harus
dengan sweeper.

      Nah, ini tadi Pak Roeslan bicara, kata beliau, sebagai voorrijder
saya. Pada waktu saya mendengar pidato Pak Roeslan, saya kok ingat kepada
kerbau dan gudel. Tahu gudel itu apa? Anak kerbau. Anak kerbau itu dalam
bahasa Jawa dinamakan gudel. Anak ayam dinamakan kuthuk.

          Anak ikan bandeng dinamakan nener. Anak kuda dinamakan belo. Dalam bahasa
Jawa anak kerbau dinamakan gudel. Ada peribahasa Jawa "kebo nyusu gudel",
kerbau menyusu kepada anaknya sendiri. Kerbau menyusu kepada gudel, kepada
anaknya sendiri.

      Pak Roeslan itu dulu murid bapak, murid saya. Terutama sekali di dalam
ilmu politik. Waktu belakangan ini, beberapa tahun belakangan ini tiap kali
saya mendengar Cak Roeslan Abdulgani berpidato, saya mendapat perasaan, wah
ini, gudelnya ini bukan main! Gudel ini ngalahkan kebo! Tapi saya senang dan
bergembira atas hal yang demikian itu, moga-moga malahan Cak Roeslan dari gudel
Menjadi lah banteng iang sehebat-hebatnya! Dan juga pemuda-pemuda,
pemudi-pemudi yang duduk di situ supaya semuanya menjadi banteng-banteng
Indonesia!

      Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan pembukaan kongresnya yang
ke-VIII, masuk tahun yang ke-X, kata Cak Siauw. Dengan lentong Jawa Timur
Cak Siauw tadi berkata, Baperki sekarang masuk usia yang ke-X. Jawa
Timur-nya Cak Siauw, "Demokrasi Terpempin". Malah mengeluarkan perkataan
tiap- tiap kali yang dimaksudkan itu alasan, beliau berkata "Alesan." .....
Oo, itu dapat dari mana itu, perkataan "alesan"?!

      Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan kongres yang ke-VIII,
saya diundang datang di sini. Jauh-jauh sebelum ada kongres ini, dan pada
waktu pertama kali ditanya kepada saya: "Sudi apa kah kiranya PYM Presiden
datang di kongres Baperki?" -saya menjawab, mau. Insya Allah, mau. Apa
sebab? Sebabnya ya, Baperki itu satu yperkumpulan yang baik. Baperki tegas
berdiri di atas Pancasila. Baperki tegas membantu terlaksananya Amanat
Penderitaan Rakyat. Baperki tegas berdiri di atas Manipol-Usdek dan
lain-lain sebagainya. Baperki adalah salah satu dari Revolusi Indonesia.
Oleh karena itu saya datang.

      Ya, kita sekalian ini sebenarnya, Saudara-Saudara, untuk menyelesaikan
Revolusi. Kalau, baik Nyonya Lie maupun Cak Siauw berkata: "Bung Karso yang
tercinta", saya mengerti itu sebenarnya bukan tercinta kepada persoon saya,
meski pun hal ini ada ceritanya ini. Tetapi tercinta, cinta kepada Revolusi
Indonesia, yang saya ini oleh MPRS dijadikan Pemimpin Besar Revolusi. Dan
saya pernah berkata, saya tidak menganggap diri saya menjadi pemimpin. Saya
tidak lah mengangkat diri saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Tidak!

      Di dalam salah satu pidato saya berkata, bahwa pemimpin itu, pemimpin
yang pemimpin, bukan karena angkatan sendiri, tidak. Tetapi dia itu adalah
perasan --wartawan, perasan! Dulu ada wartawan yang menulis perasaan, bukan,
perasan, diperas..nah keluar. Satu rakyat berjoang, dalam perjoangan itu
seperti memeras. Nah, keluar lah pemimpinnya. Pemimpin yang benar pemimpin
adalah perasan dari perjoangan. (BERSAMBUNG)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

----- End of forwarded message from SiaR News Service -----