----- Forwarded message from SiaR News Service -----
From siarlist-owner-apakabar=clark.net@minihub.org Wed Sep 9 11:51:54 1998
>From siarlist-owner-apakabar=clark.net@minihub.org Wed Sep 9 11:51:53 1998
Received: from postal.clark.net (postal.clark.net [168.143.0.17])
by pony-1.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id LAA06020
for <apakabar@access.digex.net>; Wed, 9 Sep 1998 11:51:53 -0400 (EDT)
Received: from loas.clark.net (loas.clark.net [168.143.0.13])
by postal.clark.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id LAA03416
for <apakabar@access.digex.net>; Wed, 9 Sep 1998 11:51:46 -0400 (EDT)
Received: from minihub.org (minihub.ozemail.com.au [203.108.36.40])
by loas.clark.net (8.8.8/8.8.8) with SMTP id LAA21698
for <apakabar@clark.net>; Wed, 9 Sep 1998 11:52:49 -0400 (EDT)
Received: (qmail 24354 invoked by alias); 9 Sep 1998 12:41:08 -0000
Delivered-To: siarlist@minihub.org
Message-ID: <19980909124108.24353.qmail@minihub.org>
Date: Wed, 09 Sep 1998 19:16:48 -0700
To: siarlist@minihub.org
From: SiaR News Service <siar@minihub.org>
Subject: ISTIQLAL (9/9/98)# BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENYADI SUMBANGAN BESAR
TERHADAP REVOLUSI INDONESIA" (3/4)
Sender: owner-siarlist@minihub.org
Precedence: bulk
ISTIQLAL (9/9/98)# BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENYADI SUMBANGAN BESAR
TERHADAP REVOLUSI INDONESIA" (3/4)
Nah, aku bertanya kepada anggota-anggota Baperki, sudah kah
Saudara-Saudara sekalian demikian? Sebab kita ini semuanya sudah
seia-sekata mengabdi Revolusi, mengabdi kepada Amanat Penderita-
ao Rakyat yang harus dilaksanakan berdasarkan atas Manilpol, berda-
sarkan atas Usdek dan lain-lain sebagainya.
Persatuan Bangsa yang saya sebutkan berulang-ulang itu sebenar-
nya sekadar alat, Saudara-Saudara. Saya berkata di JAREK.. JAREK itu
singkatan dari "Jalannya Revolusi Kita", yang saya katakan seperti
malaikat-, di dalam JAREK saya sudah berkata, persatuan adalah mutlak,
absolut untuk mencapai tujuan kita. Jikalau kita benar-benar hendak
menyelesaikan Revolusi kita, kita harus bersatu. Jikalau kita hendak
benar-benar ingin menjadi mercusuar didalam hidup manusia di dunia ini,
kita-harus. bersatu. Dan di dalam hal persatuan ini saya berkata, saya
menghendaki supaja di dalam persatuan segala unsur bangsa Indonesia itu
disatukan. Suku apa pun, ya suku Sumatera, ya suku Jawa, ya suku
Kalimantan, ya suku Bali, ya suku apa pun, bersatu lah. Agama apa pun
yang dipeluk oleh rakjat Indonesia ini, bersatu lah, dan jangan lah
berpecah-belah di atas perlainan-perlainan agama itu. Asli atau tidak
asli, bersatulah. Persatuan adalah mutlak, Saudara-Saudara.
Nah, maka oleh karena itu di dalam kita sekarang hendak melanjutkan
Revolusi kita ini berlandaskan Manipol dan Usdek, dalam hal ini saya
berkata, persatuan tetap mutlak, maka saya menghendaki agar supaja seluruh
waragnegara, tanpa perbedaan asli atau tidak asli, tanpa perbedaan agama,
tanpa perbedaan suku, semuanya di-Manipol-kan; semuanya kita mengerjakan
Manipol dan Usdek itu!
Sampai kepada sekolah-sekolah, yangan pun universitas-universitas, kepada
sekolah-sekolah yang sedang melatih kita punya cindil-cindil abang (anak
tikus --red.). Saudara-saudara, harus sudah di-Manipol-kan. Cindil-cindil
kita yang duduk di bangku sekolah, Manipol-kan. Apalagi yang sudah
gerang-gerang (besar), tua bangka seperti kita ini, Manipolkan semuanya!
Nah itu lah, Saudara-Saudara, sebabnya, maka saya di sini pun minta
kepada Baperki supaja bekerja keras di lapangan ini.
Sekarang ini, sebagai tadi sudah saya katakan, Triprogram pemerintah
itu satu belum terlaksana. Sandang-pangan. Dan memang ini adalah satu soal
yang sulit, tetapi harus kita atasi. Dan sebagai dikatakan oleh Cak Roeslan
tadi, pemerintah, dan terutama sekali presidennya, perdana menterinya, Bung
Karno-nya telah berketetapan hati untuk terutama sekali berdiri di atas
pengerahan tenaga
rakyat.
Oleh karena itu maka Panca Program Front Nasional yang sudah saya
katakan harus dilaksanakan oleh Front Nasional itu diintegrasikan di dalam
usaha kita melaksanakan Triprogram Pemerintah ini. Baperki saya harap
benar-benar membantu terlaksananya Pancaprogram Front Nasional itu, oleh
karena dengan terlaksananya Panca Program Front Nasional, kita membantu juga
terlaksananya
seluruh Triprogram Pemerintah.
Saudara-Saudara, Revolusi berjalan terus, dan revolusi kita ini
sebagai yang sudah saya katakan bukan revolusi kecil-kecilan, revolusi
Pancamuka kataku, bahkan jikalau dipikir lebih luas, sebetulnya kataku, pada
waktu aku berpidato kemarin-kemarin dulu---apa waktu itu ya, di Istana
Negara, seminar Hukum Nasional--sebetulnya revolusi kita ini bukan lagi
Pancamuka, panca itu lima, bukan cuma lima, jaitu Revolusi Politik Revolusi
Nasional, Revolusi
Ekonomi, Revolusi Sosial, Revolusi membentuk Manusia Baru, lima, tidak,
sebenarnya revolusi kita itu ada lebih dari lima muka. Maka boleh
dikikatakan Revolusi Saptamuka, sapta itu artinya tujuh. Bisa dinamakan
hastamuka, hasta itu delapan. Boleh dinamakan dasamuka, dasa yaitu sepuluh.
Pendek kata revolusi kita ini adalah benar dikatakan satu revolusi
multikompleks. "A summing up of many revolutioes in one generation".
Revolusi Indonesia itu adalah satu "nation building" Indonesia yang
sehebat-hebatnja. Itu, nation building Indonesia yang sehebat-hebatnya. Dan
didalam hal usaha nation building itu, segala unsur-unsur darispada nation
buiIding harus diilaksanakan. Apa unsur nation building? Bukan sekadar soal
ekonomi bukan sekadar soal politik, bukan sekadar soal kultur, bukan soal
nama, tidak nation
building adalah satu pekerjaan yang multikompleks pula.
Tujuan dari Revolusi Indonesia adalah nation building In
donesia. Nation building bukan didalam arti yang sempit, sekadar
membentuk satu "nation" Indonesia. Tidak lebih dari itu pula.
Nation Indonesia yang bahagia, nation Indonesia yang berkepribadian
tinggi, nation Indonesia yang hidup di dalam satu masyarakat adil
dan makmur tanpa exploitation de l'homme par l'homme. Nation
building dalam arti yang seluas-luasnya. Nah, ini yang kita kerjakan
sekarang ini, Saudara-Saudara. Oleh karena itu saya berkata, jangan lah
kita-jikalau kita hendak mendirikan nation Indonesia dalam
arti yang luas itu- jangan kita masih berdiri di atas dasar-dasar yang
usang, yang tadi disebutkan oleh Pak Roeslan Abdulgani.
Sudah pernah saya terangkan, kekuasaan imperialisme dulu di Indonesia apa?
Negeri Belanda yang pada waktu itu rakyatnya hanya 6 juta, telah mengalahkan
satu bangsa yang 40 juta. 6 Menjadi 7, 40 menjadi 50. 7 Menjadi 8, 50
menjadi 70. 8 juta menjadi 9 juta, sini menjadi 80 juta. Sekarang di sana 10
juta, sini 100 juta.
Pada waktu, imperialisme Belanda mengekang, mengereh, mengalahkan
Indonesia, rakjat kecil mengalahkan Indonesia dengan apa? Saya sudah
berkata, baca lah kitab dari Sir John Seeley. He, mahasiswa-mahasiswi, Sir
John Seeley, menulis satu kitab yang ia beri judul 'The Expansion of
England". Dan di situ persis ia terangkan juga, bangsa Inggris di India itu
berapa orang? Hanya 40
ribu orang Inggris di India bisa mengalahkan satu rakyat yang 230 juta
orang. 40 ribu mengalahkan 230 juta orang, dengan apa? Dengan alat-alat
terutama sekali memecah-belah bangsa India itu, divide and rule, divide et
impera.
Persis di sini pun gterjadi demikian. Di sini pun berjalan pemecah-
Belahan. Di sini pun berjalan divide and rule. Oleh karena itu pernah
saya beberkan segala usaha dari imperialisme ini dengan berkata,
kekuasaan imperialisme itu ada dua macam. Dalam bahasa asingnya
machtsfactor. Macht yaitu kekuasaan. Factor kekuasaan imperialisme itu dua
macam. Ada yang riil, ada yang abstrak. Ada yang bisa dilihat, bisa diraba,
ada yang tak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Yang riil yaitu machtsfactor,
power factor yang riil. Apa itu? Angkatan perangnya, polisinya,
penjara-penjaranya, bedil-bedilnya, meriam-meriamnya, itu ada lah power
factor, machtsfactor yang riil.
Tapi ini tidak besar, Saudara-Saudara; lebih besar daripada
machtsfactor yang riil ini adalah machtsfactor yang abstrak, yang tidak bisa
dilihat, yang tidak bisa diraba. Dan machtsfactor yang abstrak ini apa kah,
Saudara-Saudara? Terutama sekali ialah divide and rule policy,
pemecah-belahan suku dihasut benyci kepada suku yang lain. Tidak ada
persatuan, tidak boleh ada persatuan antara suku-suku Indonesia. Dan tidak
boleh ada persatuan antara mayoritas dan minoritas. Dipisah-pisahkan
majoritas dari minoritas. Malahan
dibentuk minoritas yang benci kepada mayoritas dan dibuat majoritas ini
benci kepada minoritas.
Kalau Saudara ingin mengetahui terjadinya minoritas, yang dinamakan
minoritas Peranakan Tionghoa, minoritas Tionghoa di Indonesia ini,
pemuda-pemuda, baca lah kitabnya Prof de Haan. Prof de Haan menulis kitab
tebal, tiga jilid, titelnya yaitu "Priangan", ditulis oleh Prof de Haan. Dan
di situ Prof de Haan menerangkan, bahwa pihak Belanda dari jaman Jan
Pieterszoon Coen membentuk satu minoritas untuk kepentingan mereka itu. Satu
minoritas yang terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Peranakan Tionghoa.
Dengan sengaja dipisahkan dari mayoritas. Dengan sengaja dipergunakan
untuk kepentingan pibak Belanda sendiri. Dan ini merembes terus-menerus
sampai jaman yang akhir-akhir ini, rasa tidak senang antara minoritas dan
majoritas, majoritas terhadap minoritas. Sampai-sampai yang Thiam Nio itu
tadi tak bisa kawin dengan Bung Karno! Ya, dari pihaknya tidak mau, tidak
boleh kawin sama orang Jawa, dari pihak saya pun tidak boleh kawin dengan
Peranakan Tionghoa.
Saudara-Saudara, bagaimana pun juga ini adalah akibat dari kolonialisme,
akibait dari imperialisme. Maka oleh karena itu, Saudara-Saudara, kita
didalaml Republik Indonesia, di dalam alam baru ini kita harus sama sekali
tinggalkan dasar yang salah ini. Kita membentuk nation Indonesia yang baru,
yaitu sebetulnya pun kelima dari Pancamuka Revolusi Indonesia ini. Dan di
dalam hal ini Beperki bisa bekerja keras, bisa memberi sumbangan yang
sebesar-besarnya.
Terus terang saya, Saudara-saudara, saya pernah bicara dengan, bukan saja
bicara, saya pernah berada di beberapa negara sosialis. Ya di Soviet Uni, ya
di Rumania, ya di Bulgaria, ya di Vietnam Utara, ya di Cekoslowakia, ya di
Polandia Malah saya di negara-negara itu berkata, hhh, Republik Indonesia
lebih jauh dari kamu di sini.
Pernah di kota Hanoi, ibukota negara Vietnam Utara, saya dengan Pak HO,
Paman Ho, Ho Chi Minh. Datang lah suatu delegasi, Saudara-Saudara, satu
delegasi dari satu golongan minoritas. Dan kelihatan, memang ini tidak sama
dengan rakyat Vietnam yang lain. Ini kelihatannya agak kemelaju-melajuan,
potongan badannya,
roman mukanya, pakaiannya dan lain-lainnya kelihatan benar, ini adalah beda
dari rakjat Vietnam Utara yang lain-lain.
Pak Ho, Ho Chi Minh, Paman Ho dengan bangga berkata kepada saya: "Bung
Karno, ini adalah delegasi dari minoritas, ingin bertemu muka dengan Bung
Karno". Saya berkata kepada delegasi itu, dan kepada Pak Ho saya berkata,
sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minoritas. Dan saya tidak mau
mengenal minoritas di lndonesia. Di Indonesia kita hanya mengenal suku-suku.
Saya tidak akan barkata, suku itu adalah minoritas, suku itu adalah minoritas,
suku itu adalah minoritas, suku Dajak adalah minoritas, suku Irian Barat
adalah minoritas, suku yang di Sumatera Selatan itu -suku Kubu- adalah
minoritas, suku Tionghoa adalah minoritas, tidak! Tidak ada minoritas, hanya
ada suku-suku, sebab mnanakala ada minorltas, ada mayoritas. Dan biasanya
kalau ada majoritas, dia lantas exploitation de la minorite par la majorite,
exploitatie dari minoriteit majoriteit.
Saya, tidak mau apa yang dinamakan golongan Tionghoa, Peranakan Tionghoa
itu di-exploitation oleh golongan yang terbesar dari rakyat Indonesia ini,
tidak! Tidak! Engkau adalah bangsa Indonesia, engkau adalah bangsa
Indonesia, engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa
lndonesia.
Itu, yang duduk di sana, jenggot ganteng ubel-ubel itu .... Bung dari
mana, Bung? Dari Medan? Dari mana? Coba sini! Siapa namanya? Jawabnya, Amar
Singh, katanya. Anggota Baperki. Warga Indonesia. Haa, Indonesia! For me you
are not a minority, you are just an Indonesian. Haa, ini orang Indonesia,
Saudara-saudara, bukan minoriteit!
Saya kata Sama Paman Ho, di Indonesia itu paling-paling ada
suku-suku. Suku itu apa artinya? Suku itu artinya sikil, kaki. Ja, suku
artinya kaki. Jadi bangsa Indoaesia itu banyak kakinya, seperti luwing,
Saudara-Saudara. Ada kaki Jawa, kaki Sumatera, kaki Dayak, kaki Bali, kaki
Sumba, kaki Peranakan Tionghoa, kaki Peranakan. Kaki dari satu tubuh, tubuh
bangsa Indonesia.
Nah, Pak Ho, kataku, demikian lah Indonesia. "Ja, that is better",
kata Pak Ho.
Ya memang, itu lebih baik, Saudara-Saudara, karena itu aku tadi
berkata, ya kami baagga, Indonesia lebih, lebih dari di negara-negara
sosialis atau negara-negara yang kita kenal sebagai sosialis. Tetapi,
Saudara-Saudara, segala hal itu sebagai saya katakan di dalam pidato Front
Nasional, adalah satu perjoangan. Jangan mengharap segala sesuatu itu beres,
datang dari langit seperti embun di waktu malam, tidak! Perjoangan! Jikalau
umpamanja Saudara-Saudara atau rakyat Indonesia semuanya ingin supaya di
dalam UUD 45, UUD kita sekarang ini jangan lah ditulis "Presiden Republik
Indonesia haruis orang Indonesia asli", berjoang lah agar supaya hilang
perkataan ini! Rakyat Indonesia berjoang bersama-sama supaya perkataan
"asli" dari UUD 45 ini dicoret sama sekali.
Begitu pula kalau saudara-saudara menghendaki sdekarang ini hilangnya
perasaan tidak enak dari mayoritas atau minoritas, kalau Saudara merasakan
dirinya minoritas, itup un memerlukan perjoangan. Perjoangan agar supaya
hilang rasa tidak senang kepada minoritas. Sebaliknya pun minoritas saya
minta berjoang, berjoang, sekali lagi berjoang, agar supaya tidak ada rasa
kebencian dari minoritas kepada majoritas. (BERSAMBUNG)
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
----- End of forwarded message from SiaR News Service -----