[INDONESIA-L] Daftar Isi dan Teks T

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Dec 11 1998 - 11:39:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Dec 11 15:29:48 1998
Date: Fri, 11 Dec 1998 13:30:10 -0700 (MST)
Message-Id: <199812112030.NAA10945@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Daftar Isi dan Teks TAP MPR 98
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

To: apakabar@Radix.Net
Subject: dafisi.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/dafisi.html

             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
    1. KETETAPAN MPR RI NOMOR VII/MPR/1998 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN
       ATAS KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
       NOMOR l/MPR/1983 TENTANG PERATURAN TATA TERTIB MAJELIS
       PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA SEBAGAIMANA TELAH
       BEBERAPA KALI DIUBAH DAN DITAMBAH TERAKHIR DENGAN KETETAPAN
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR I/MPR/1998
    2. KETETAPAN MPR RI NOMOR VIII/MPR/1998 TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       IV/MPR/1983 TENTANG REFERENDUM
    3. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       IX/MPR/1998 TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN
       RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR II/MPR/1998 TENTANG GARIS-GARIS
       BESAR HALUAN NEGARA
    4. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       X/MPR/1998 TENTANG POKOK-POKOK REFORMASI PEMBANGUNAN DALAM RANGKA
       PENYELAMATAN DAN NORMALISASI KEHIDUPN NASIONAL SEBAGAI HALUAN
       NEGARA
    5. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XI/MPR/1998 TENTANG PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS
       KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME
    6. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XII/MPR/1998 TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN
       RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR V/MPR/1998 TENTANG PEMBERIAN TUGAS
       DAN WEWENANG KHUSUS KEPADA PRESIDEN/MANDATARIS MAJELIS
       PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DALAM RANGKA PENYUKSESAN
       DAN PENGAMANAN PEMBANGUNAN NASIONAL SEBAGAI PENGAMALAN PANCASILA
    7. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XIII MPR/1998 TENTANG PEMBATASAN MASA JABATAN PRESIDEN DAN WAKIL
       PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
    8. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XIV/MPR/1998 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATAS KETETAPAN MAJELIS
       PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR III/MPR/1998
       TENTANG PEMILIHAN UMUM
    9. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XV/MPR/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH; PENGATURAN,
       PEMBAGIAN, DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA NASIONAL YANG BERKEADILAN;
       SERTA PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA
       KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
   10. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XVI/MPR/1998 TENTANG POLITIK EKONOMI DALAM RANGKA DEMOKRASI
       EKONOMI
   11. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XVII/MPR/1998 TENTANG HAK ASASI MANUSIA
   12. KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR
       XVIII/MPR/1998 TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS
       PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR Il/MPR/1978
       TENTANG PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA (EKAPRASETIA
       PANCAKARSA) DAN PENETAPAN TENTANG PENEGASAN PANCASILA SEBAGAI
       DASAR NEGARA
       
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:22:36 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28364
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:22:35 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05323
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:23:48 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28351;
        Fri, 11 Dec 1998 15:22:31 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:22:31 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112022.PAA28351@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-vii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-vii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
                                 KETETAPAN
    MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR VII/MPR/1998
   
                                  TENTANG
   
    PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATAS KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
                    REPUBLIK INDONESIA NOMOR l/MPR/1983
   
                                  TENTANG
   
       PERATURAN TATA TERTIB MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH DAN DITAMBAH TERAKHIR
     DENGAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                              NOMOR I/MPR/1998
   
      DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
                             REPUBLIK INDONESIA
   Menimbang :
    a. bahwa demi kemantapan tata susunan dan tata laksana Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia telah ditetapkan Tata
       Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dengan
       Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 sebagaimana telah beberapa kali diubah dan ditambah
       terakhir dengan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor I/MPR/1998
    b. bahwa dengan memperhatikan perkembangan keadaan guna lebih
       meningkatkan peranan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia,
       dipandang perlu untuk mengadakan perubahan dan tambahan atas
       beberapa ketentuan pada Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia Nomor l/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana
       telah beberapa kali diubah dan ditambah terakbir dengan Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor UMPR/
       1998;
    c. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Perubahan dan
       Tambahan Atas Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib MaJelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah
       beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1998.
       
   Mengingat :
    1. 1. Pasal I ayat (2), Pasal 2, dan Pasal 3 Undang-lUndang Dasar
       1945;
    2. Pasal 119 dan Pasal 120 Ketetapan Majelis Pennusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia Nomor l/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana
       telah beberapa kali diubahdan ditambah terakhir dengan Ketetapan
       MajelisPermusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor l/MPR/1998.
       
   Memperhatikan :
    1. .Keputusan Pimpinan MaJelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Surat Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor MJ.110/05/1998 tanggal 12 Oktober 1998 perihal
       Pertimbangan Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia atas usul perubahan dan tambahan terhadap Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1983
       tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah dan
       ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
    3. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas usul perubahan dan tambahan atas beberapa
       ketentuan pada Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia yang telah dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
    4. Putusan Rapat Paripurna ke-4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       MEMUTUSKAN
       Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
       INDONESIA TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATAS KETETAPAN MAJELIS
       PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR I/MPR/1983 TENTANG
       PERATURAN TATA TERTIB MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
       INDONESIA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH DAN DITAMBAH
       TERAKHIR DENGAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
       INDONESIA NOMOR l/MPR/1998.
       Pasal I
       Ketentuan-ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia Nomor l/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sebagaimana
       telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998
       diubah dan ditambah sebagai berikut:
       1. Dalam Pasal 8 ayat (3), ketentuan huruf "b" dan "c" dihapus,
       dan ketentuan huruf "d" diganti dengan huruf "b. Utusan
       Golongan-golongan yang ditetapkan sesuai ketentuan peraturan
       perundang-undangan" sehingga selengkapnya berbunyi:
       " (3) Anggota tambahan yang berhenti antarwaktu sebagaimana
       dimaksud dalam ayat ( I ) tempatnya diisi oleh:
         a. Utusan Daerah yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat
            Daerah Tingkat I yang bersangkutan;
         b. Utusan Golongan-golongan yang ditetapkan sesuai ketentuan
            peraturan perundang-undangan.
       2. Dalam Pasal 13, angka "(1)" dihapus, dan ketentuan ayat (2)
       dihapus sehingga selengkapnya berbunyi:
       "Fraksi Majelis adalah pengelompokan anggota yang mencerminkan
       konfigurasi politik dan pengelompokan fungsional dalam
       masyarakat."
       3. Dalam Pasal 21, kalimat sesudah "dan" diganti dengan
       "sebanyak-banyaknya lima orang wakil ketua yang mencerminkan
       fraksi-fraksi berdasarkan urutan besarnya anggota fraksi" sehingga
       selengkapnya berbunyi:
       "Pimpinan Majelis terdiri dari seorang ketua dan
       sebanyak-banyaknya lima orang wakil ketua yang mencerminkan
       fraksi-fraksi berdasarkan urutan besarnya jumlah anggota fraksi."
       4. Dalam Pasal 24, ditambah kalimat "Fraksi yang bersangkutan
       sesuai dengan ketentuan Pasal 21 " sehingga selengkapriya
       berbunyi:
       "Pimpinan Majelis dipilih dari dan oleh anggota fraksi yang
       bersangkutan sesuai dengan ketentuan Pasal 2] ."
       5. Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 32
       dihapus.
       6. Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) dihapus dan diganti sehingga
       selengkapnya berbunyi:
       "(1) Dalam hal anggota Pimpinan Majelis berhalangan tetap, anggota
       tersebut diganti oleh anggota fraksi yang bersangkutan."
       "(2) Penggantian sebagaimana dimal;sud pada ayat (1) ditetapkan
       dengan Keputusan Pimpinan Majelis dan diberitahukan kepada anggota
       melalui fraksi-fraksi."
       "(3) Apabila ada Sidang Umum/Sidang Istimewa, penggantian tersebut
       dilaporkan. '
       7. Pasal 35 diubah sehingga selengkapnya berbunyi: "Jabatan yang
       tidak boleh dirangkap oleh Pimpinan Majelis ialah
         a. Presiden.
         b. Wakil Presiden.
         c. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
         d. Ketua. Wakil Ketua. Ketua Muda Mahkamah Agung dan Hakim
            Agung.
         e. Ketua. Wakil Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung.
         f. Ketua. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan.
         g. Menteri.
         h. Jaksa Agung.
         i. Jabatan lain yang tidak dapat dirangkap sebagaimana yang
            diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan."
       8. Dalam Pasal 36 ayat (1) huruf "c" dan "d" dihapus.
       9. Dalam Pasal 40 huruf "d" setelah kata "tugas-tugas Pimpinan
       Majelis" ditambah anak kalimat "sesuai dengan ketentuan peraturan
       perundang-undanga' sehingga selengkapnya berbunyi:
       "d. Membantu Pimpinan Majelis dalam rangka melaksanakan
       tugas-tugas Pimpinan Majelis sesuai dengan ketentuan peraturan
       perundangundangan."
       10. Sebelum Pasal 42 ditambah subjudul yang berbunyi "PIMPINAN
       BADAN PEKERJA MAJELIS".
       11. Pasal 42 ayat (1) diubah sehingga selengkapnya berbunyi:
       "(1)Badan Pekerja Majelis dipimpin oleh unsur Pimpinan Fraksi
       Utusan Daerah sebagai ketua dan dibantu oleh sebanyak-banyaknya 5
       (lima) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh Anggota Tetap
       Badan Pekerja Majelis yang mencerminkan fraksi-fraksi sebagaimana
       dimaksud dalam Pasal 21."
       12. Dalam Pasal 46 ayat (1) kata "sojauh mungkin" dihapus sehingga
       selengkapnya berbunyi: "(1) Keanggotaan Panitia Ad Hoc
       mencerminkan fraksi-fraksi Majelis.
       13. Pasal 104 diganti sehingga selengkapnya berbunyi: "Perubahan
       undang-undang dasar dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 37
       Undang-Undang Dasar 1945."
       14. Pasal 105. Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, dan Pasal 109
       dihapus.
       15. Dalam Pasal 111 setelah ayat (3) ditambah ayat (4) sehingga
       selengkapoya berbunyi:
       "(4) Presiden/Mandataris wajib hadir dalam Rapat Paripurna Majelis
       pada acara Penyampaian Pemandangan Umum dan Pendapat Akhir
       Fraksifraksi-MaJelis terhadap Laporan Pertanggungjawaban Presiden/
       Mandataris.
       
                                  Pasal II
       Ketetapan ini mulai berlaku sejak Sidang Umum Majelis hasil
       Pemilihan Umum tahun 1999, kecuali Pasal I butir 13 dan 14 berlaku
       pada tanggal ditetapkan.
       Ditetapkan di Jakarta
       Pada tanggal 13 November 1998
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
       REPUBLIK INDONESIA
       
                                   KETUA,
                                      
   H. Harmoko
       WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
       Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
       WAKIL KETUA, WAKIL
       KETUA,
       H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
       S.H.
       
   WAKIL KETUA,
   
   Poedjono Pranyoto
       
   [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:22:51 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28403
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:22:49 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05352
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:02 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28394;
        Fri, 11 Dec 1998 15:22:47 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:22:47 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112022.PAA28394@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-viii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-viii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR VIII/MPR/1998
   
   TENTANG
   
   PENCABUTAN KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR IV/MPR/1983
   TENTANG
   REFERENDUM
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   Menimbang :
    a. bahwa Ketetapan Majelis Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia
       Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum tidak sesuai dengan
       jiwa,semangat dan prinsip perwalian sebagaimana diamanatkan
       Undang-Undang Dasar 1945.
    b. bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengandung cita-cita
       luhur Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan memuat Pancasila sebagai
       dasar negara, merupakan satu kesatuan dengan proklamasi
       Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan karena itu mengubah isi Pembukaan
       Undang-Undang Dasar 1945 berarti membubarkan Negara Kesatuan
       Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat.
    c. bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh
       Majelis Permusyawaratan ;
    d. bahwa untuk mengubah Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana dimaksud
       pada Pasal 37 sepenuhnya menjadi wewenag Majelis Permusyawaratan
       Rakyat;
    e. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk mencabut Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat republik Indonesia Nomor
       IV/MPr/1983 tentang referendum.
       
   Mengingat :
    1. Pasal 1,Pasal 2,Pasal 3,dan Pasal 37 Undang-Undang Dasar 1945
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pemimpin Majelis Permusyawaratan rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Pernusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Indonesia tanggal 10 sampai dengan November 1998 yang
       membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik
       Indonesia tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum
       yang dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna Ke-4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA NOMOR IV/MPR/1983 TENTANG REFERENDUM.
   Pasal 1
   Mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi Ketetapan Majelis
   Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1983 tentang
   Referendum.
   Pasal 2
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:23:01 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28427
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:22:59 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05369
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:12 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28415;
        Fri, 11 Dec 1998 15:22:56 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:22:56 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112022.PAA28415@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-ix.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-ix.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR IX/MPR/1998
   TENTANG
   PENCABUTAN KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR II/MPR/1998
   TENTANG
   GARIS-GARIS BESAR HALUAN NEGARA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESSIA
   Menimbang :
    a. bahwa garis-garis besar daripada haluan negara harus dapat
       memberikan kejelasan arah bagi perjuangan dan pembangunan bangsa
       dan negara Indonesia , agar dapat menciptakan keadaan yang
       diinginkan dalam jangka waktu tertentu untuk mewujudkan cita-cita
       bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaaan
       Undang-Undang Dasar 1945;
    b. bahwa garis-garis Besar haluan Negara yang ditetapkan dengan
       Ketetapan Majelis Permusyawaratan rakyat republik Indonesia Nomor
       II/MPR/1998, naskah dan materi muatannya tidak lagi sesuai dengan
       situasi dan kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
       bernegara dewasa ini sehingga tidak dapat berfungsi sebagai
       pemberi arah bagi perjuangan dan pembangunan bangsa dalam kondisi
       mewujudkan cita- citanya;
    c. bahwa berhubung dengan itu perlu Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia untuk mencabut Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1998
       tentang Garis-garis Besar haluan Negara.
       
   Mengingat :
    1. Pasal 1 ayat (2) dan pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan rakyat Republik
       indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 november
       1998 yang membahas Rancangan Ketetapan majelis Permusyawaratan
       Republik Indonesia Nomor II/MPR/1998 tentang Garis-garis Besar
       Haluan Negara yang dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis
       Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke-4 tanggal 13 november 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA NOMOR II/MPR/1998 TENTANG GARIS-GARIS BESAR HALUAN
   NEGARA.
   Pasal 1
   Mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi Ketetapan Majelis
   Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1998 tentang
   Garis
   Pasal 2
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal yang ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:23:15 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28473
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:23:13 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05398
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:26 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28464;
        Fri, 11 Dec 1998 15:23:11 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:23:11 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112023.PAA28464@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-x.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-x.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR X/MPR/1998
   TENTANG
   POKOK-POKOK REFORMASI PEMBANGUNAN
   DALAM RANGKA PENYELAMATAN DAN NORMALISASI
   KEHIDUPN NASIONAL SEBAGAI HALUAN NEGARA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   Menimbag :
    a. bahwa menjadi tugas konstitusional Majelis Permusyawaratan rakyat
       Republik Indonesia menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang
       merupakan rangkaian program-progam pembangunan di segala bidang
       yang berlangsung secara terus-menerus, untuk dapat mewujudkan
       tujuan nasional sebagimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang
       dasar 1945;
    b. bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia telah
       mencabut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia
       Nomor II/MPR/1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara dengan
       Ketetap[an Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       IX/MPR/1998;
    c. bahwa berhubung dengan itu perlu Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republi Indonesia tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan
       Dalam Rangka Penyelamatan dan normalisasi Kehidupan Nasional
       sebagai Haluan Negara.
       
   Mengingat :
    1. Pasal 1 ayat (2), pasal 3 dan pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/ 1998.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIM.P/1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tentang Pokok-pokok Reformasi
       Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan
       Nasional sebagai Haluan Negara yang dipersiapkan oleh Badan
       Pekerja majelis Permusyawaratan rakyat Republik Indonesia ;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke-4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998
       MEMUTUSKAN
       Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
       INDONESIA TENTANG POKOK-POKOK REFORMASI PEMBANGUNAN DALAM RASNGKA
       PENYELAMATAN DAN NORMALISASI KEHIDUPAN NASIONAL SEBAGAI HALUAN
       NEGARA
       Pasal 1
       Untuk dapat memperoleh kebulatan hubungan yang menyeluruh maka
       sistematika Pokok-pokok Reformasi Pembangunana dalam Rangka
       Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan
       Negara, disusun seebagai berikut:
       BAB I PENDAHULUAN
       BABII KONDISI UMUM
       BABIII TUJUAN REFORMASI PEMBANGUNAN
       BABIV KEBIJAKAN REFORMASI PEMBANGUNAN
       BABV PELAKSANAAN
       BABVI PENUTUP
       Pasal 2
       Isi beserta uraian perincian sebagaimana tersebut dalam Pasal 1,
       terdapat dalam naskah Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Dalam
       rangka penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan nasional sebagai
       Haluan Negara yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Ketetapan
       ini
       Pasal 3
       Dengan adanya ketetapan ini, materi yang belum tertampung dalam
       dan tidak bertentangn dengan Pokok-pokok Reformasi Pembangunan
       Dalam rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan nasional
       sebagai Haluan Negara ini, dapat diatur dalam peraturan
       perundang-undangan.
       Pasal 4
       Menugaskan kepada Presiden Republik Indonesia Saudara Prof.
       Dr.-Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie untuk tetap melanjutkan dan
       memantapkan pembangunan yang sedang berlangsung dan melaksanakan
       Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara dan
       mempertanggungjawabkan pada akhir masa jabatannya dalam Sidang
       Umum Majelis Permusyawartan Rakyat Republik Indonesia 1999,
       sebagimana dalam Pasal 2 Ketetapan ini.
       Pasal 5
       Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
       Ditetapkan di Jakarta
       Pada tanggal 13 November 1998
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
       REPUBLIK INDONESIA
       
                                   KETUA,
                                      
   H. Harmoko
       WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
       Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
       WAKIL KETUA, WAKIL
       KETUA,
       H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
       S.H.
       
   WAKIL KETUA,
   
   Poedjono Pranyoto
       BAB I
       PENDAHULUAN
       A. PENGANTAR
       Tujuan nasional negara Republik Indonesia, seperti dinyatakan
       dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, ialah melindungi segenap
       bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
       umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. dan ikut melaksanakan
       ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
       dan keadilan sosial.
       Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut bangsa Indonesia
       melaksanakan pembangunan secara terencana dan bertahap.
       Pembangunan jangka panjang tahap pertama sampai dengan pertengahan
       tahun 1997 telah menunjukkan hasil yang dapat dirasakan oleh
       sebagian besar rakyat. Namun dewasa ini bangsa Indonesia tengah
       mengalami krisis berat, yang gejalanya dimulai dari krisis moneter
       dan ekonomi. Krisis ini kemudian berkembang, meliputi selurnh
       aspek kehidupan politik, ekon`~'mi, dan sosial, yang ditandai
       dengan rusaknya tatanan ekonomi dan keuangan, pengangguran yang
       meluas, dan kemiskinan yang menjurus pada ketidakberdayaan
       masyarakat dan mengakibatkan timbulnya krisis kepercayaan
       masyarakat terhadap pemerintah.
       Situasi tersebut mengharuskan bangsa Indonesia untuk mengkaji
       ulang ketetapan dan langkah-langkah pembangunan nasional selama
       ini. Untuk itu~ diperlukan koreksi terhadap wacana pembangunan
       Orde Baru sebagai dasar pijakan dan sasaran reformasi.
       Langkah-langkah ini bersifat mengikat bagi seluruh rakyat
       Indonesia untuk secara bersama-sama mengatasi krisis atas dasar
       rujukan yang disepakati bersama.
       Dalam kerangka itu dibuatlah Pokok-pokok Reformasi Pembangunan
       Dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional yang
       bertungsi sebagai Haluan Negara, yang dilaksanakan oleh
       Presiden/Mandataris MPR. Selain itu, pokok-pokok reformasi
       tersebut menjadi pedoman penyelenggaraan negara dalam melaksanakan
       pembaharuan yang menyelurnh dan memulihLan kehidupan nasional.
       Demikan pula, pokok-pokok reformasi itu memberikan dasar bagi para
       penyelenggara negara dalam merumuskan undang-undang dan
       program=program yang terintegrasi dan terukur.
       B. PENGERTIAN
       
       
       Pokok-pokok Retormasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara, merupakan
       pernyataan kehendak rakyat untuk mewujudkan pembaharuan di segala
       bidang pembangunan nasional, terutama bidang-bidang ekonomi.
       politik, hukum. serta agama dan sosial budaya.
       C. MAKSUD DAN TUJUAN
       Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara ini
       ditetapkan dengan maksud memberikan arah bagi Kabinet Reformasi
       Pembanyunan dalam menanggulangi krisis dan melaksanakan reformasi
       menyeluruh dengan tujuan terbangunnya sistem kenegaruan yang
       demokratis serta dihormati dan ditegakkannya hukum untuk
       mewujudkan tertib sosial masyarakat.
       D. LANDASAN
       Pokok-pokok Reformasi Pembangurian Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan NeYara disusun atas
       dasar landasan idiil Pancasila. Iandasan konstitusional
       Undang-Undang Dasar 1945.
       E. RUANG LINGKUP
       Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara disusun dalam
       tata urut kondisi umum, tujuan. kebijakan, dan pelaksanaan
       reformasi yang berlaku untuk kurun waktu sampai terselenggaranya
       Sidang Umum MPR hasil pemilihan umum 1 999.
       BAB II
       KONDISI UMUM
       A. EKONOMI
       Keberhasilan pembangunan yang telah dicapai selama tica puluh dua
       tahun Orde Baru telah mengalami kemerosotan yang memprihatinkan,
       karena terjadinya krisis moneter pertengahan tah-un 1997. dan
       berlanjut menjadi krisis ekonomi yang lebih luas. Landasan ekonomi
       yang dianggap kuat, ternyata tidak berdaya menghadapi gejolak
       keuangan eksternal serta kesulitan-kesulitan makro dan mikro
       ekonomi.
       Hal ini disebabkan oleh karena penyelenggaraan perekonomian
       nasional kurano mengacu kepada amanat Pasal 33 Undang Undang Dasar
       1945 dan cenderunc menunjukkan corak yang sangat monopolistik.
       Para pengusaha yang dekat dengan elit kokuasaan mendapatkan
       prioritas khusus yanc berdampak timbulnya kesenjangan sosial.
       Kelemahan fundamental itu juga disebabkan pengabaian perekonomian
       kerakyatan yan,Y sesungguhnya bersandar pada basis sumber daya
       alam dan sumber daya manusia sebagai unggulan komparatif dan
       kompetitif.
       Munculnya konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat yang
       tidak didukung oleh semangat kewirausahaan sejati, mengakibatkan
       ketahanan ekonomi menjadi sangat rapuh dan tidak kompetitif.
       Sebagai akibatnya krisis moneter yang melanda Indonesia, tidak
       dapat diatasi secara baik sehingga memerlukan kerja keras untuk
       bangkit kembali.
       Rentannya ekonomi Indonesia dipicu oleh jatuhnya nilai tukar
       rupiah sampai ke tingkat terendah. Pemerintah tidak mengambil
       langkah yang kongkrit dan jelas untuk mengatasi krisis kurs
       tersebut. Pembangunan industri tidak berbasis kepada masyarakat
       atau potensi unggulan daerah, tidak ada keterkaitan antara
       industri besar, menengah, dan kecil yang serasi, serta juga
       struktur industri yang lemah dalam hubungan industri hulu dan
       hilir. Di samping itu sebagian besar lahan pertanian yang subur
       telah berubah tungsi menjadi lahan industri sehingga dari kondisi
       semula swasembada beras telah berubah menjadi pengimpor beras.
       Sistem perbankan yang tidak mandiri karena intervensi pemerintah
       terhadap Bank Sentral yang terlalu kuat melemahkan ekonomi
       nasional. Hubungan erat antara pengoasa dengan pemilik bank-bank
       swasta telah menyebabkan pemberian fasilitas yang tidak terbuka
       yang merugikan masyarakat dan negara. Di samping itu,
       ketidakhati-hatian dan kocurangan dunia perbankan dalam mengelola
       dana, memperparah kondisi ekonomi.
       B. POLITIK
       Tatanan kehidupan politik yang dibangun selama tiga puluh dua
       tahun telah menghasilkan stabilitas politik dan keamanan. Namun
       demikian, pengaruh budaya masyarakat yang sangat kental corak
       paternalistik dan kultur neofeodalistiknya mengakibatkan proses
       partisipasi dan budaya politik dalam sistem politik nasional tidak
       berjalan sebagaimana mestinya.
       Kekuasaan eksekutif yang terpusat dan tertutup di bawah kontrol
       lembaga kepresidenan mengakibatkan krisis struktural dan sistemik
       sehingga tidak mendukung berkembangnya fungsi berbagai lembaga
       kenegaraan, politik, dan sosial secara proporsional dan optimal.
       Terjadinya praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme di masa
       lalu adalah salah satu akibat dari keterpusatan dan ketertutupan
       kekuasaan.
       Mekanisme hubungan pusat dan daerah cenderung menganut
       sentralisasi kekuasaan dan pengambilan keputusan yang kurang
       sesuai dengan kondisi geografis dan demografis. Keadaan ini
       menghambat penciptaan keadilan dan pemerataan hasil pembangunan
       dan pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata. dan bertanggung
       jawab.
       Pengembangan knalitas sumber daya manusia dan sikap mental serta
       kaderisasi pemimpin bangsa tidak berjalan sebagaimana mestinya.
       Pola sentralistik dan neofeodalistik mendorong mengalirnya sumber
       daya manusia yang berkualitas ke
       pusat sehingga kurang memberi kesempatan pengembangan sumber daya
       manusia di daerah. Akibatnya terjadi kaderisasi dan corak
       kepemimpinan yang kurang memperhatikan aspek akseptabilitas dan
       legitimasi.
       C. HUKUM
       Selama tiga puluh dua tahun pemerintahan Orde Baru, pembangunan
       hukum khususnya yang menyangkut peraturan perundang-undangan
       organik tentang pembatasan kekuasaan Presiden belum memadai.
       Kondisi ini memberi peluang terjadinya praktek-praktek korupsi,
       kolusi dan nepotisme serta memuncak pada penyimpangan berupa
       penafsiran yang hanya sesuai dengan selera penguasa. Telah terjadi
       penyalahgunaan wewenang, pelecehan hukum, pengabaian rasa keadilan
       kurangnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
       Pembinaan lembaga peradilan oleh eksekutif merupakan peluang bagi
       penguasa melakukan intervensi ke dalam proses peradilan serta
       berkembangnya kolusi dan praktek-praktek negatif pada proses
       peradilan. Penegakan hukum belum memberi rasa keadilan dan
       kepastian hukum pada kasus-kasus yang menghadapkan pemermtah atau
       pihak yang kuat dengan rakyat, sehingga menempatkan rakyat pada
       posisi yang lemah.
       D. AGAMA DAN SOSLAL BUDAYA
       Pembangunan agama dan sosial budaya masih perlu ditingkatkan,
       sehingga kualitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha
       Esa, akhlak mulia serta moral dan etika luhur masyarakat yang
       akhir-akhir ini cenderung menurun dapat diwujudkan sebagaimana
       diharapkan.
       Pada masa Orde Baru, pembangunan ekonomi telah berhasil mengurangi
       penduduk miskin dan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.
       Krisis ekonomi yang melanda bangsa kita telah membalikkan situasi
       tersebut, dan mengakibatkan bertambahnya penduduk miskin dan
       jumlah penganggur akibat pemutusan hubungan kerja.
       Kondisi kehidupan sosial ekonomi rakyat makin memprihatinkan,
       harga sembilan bahan pokok dan obat-obatan tidak terjangkau oleh
       daya beli masyarakat. Taraf hidup rakyat menurun dengan tajam,
       kualitas hasil didik tidak memberikan harapan, dan jumlah peserta
       didik yang putus sekolah makin meningkat.
       Jati diri bangsa yang disiplin, jujur, beretos kerja tinggi serta
       berakhlak mulia belum dapat diwujudkan bahkan cenderung menurun.
       Aksi-aksi brutal oleh sebagian warga masyarakat berupa penjarahan
       dan perampokan serta perilaku dan tindakan yang tidak terpuji
       lainnyayang melanggar hukum serta agama yang terjadi akhirakh~r
       ~ni. sungguh-sungguh bertentangan dengan akhlak mulia dan budi
       pekerti luhur yang bersumber dari norma-norma dan ajaran agama.
       serta nilai-nilai budaya bangsa. Di samping itu, juga merupakan
       perilaku yang tidak menghormati dan
       menjunjung tinggi hukum. Ketimpangan, kocemburuan, ketegangan, dan
       penyakit sosial lainnya makin menggejala di samping berkurang pula
       rasa kepedulian dan kesetiakawanan masyarakat. Krisis ekonomi
       dewasa ini bahkan mak~n menghilangkan semangat dan optimisme bahwa
       bangsa Indonesia bisa memecahkan masalah dengan kekuatan sendiri.
       BAB III
       TUJUAN REFORMASI PEMBANGUNAN
       1. Mengatasi krisis ekonomi dalam waktu sesingkat-singkatnya,
       terutama untuk menghasilkan stabilitas moneter yang tanggap
       terhadap pengaruh global dan pemulihan aktivitas usaha nasional.
       2. Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam seluruh sendi kehidupan
       bermasyarakat berbangsa dan bernegara melalui perluasan dan
       peningkatan partisipasi politik rakyat secara tertib untuk
       menciptakan stabilitas nasional.
       3. Menegakkan hukum berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan
       keadilan, Hak Asasi Manusia menuju terciptanya ketertiban umum dan
       perbaikan sikap mental.
       4. Meletakkan dasar-dasar kerangka dan agenda reformasi
       pembangunan agama dan sosial budaya dalam usaha mewujudkan
       masyarakat madani.
       BAB IV
       KEBIJAKAN REFORMASI PEMBANGUNAN
       A. EKONOMI
       1. Penanggulangan krisis di bidang ekonomi bertujuan untuk
       mengatasi krisis ekonomi dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan
       sasaran terkendalmya nilai kurs rupiah pada tingkat yang wajar,
       tersedianya kebutuhan sembilan bahan pQkok dan obat-obatan dengan
       harga yang terjangkau serta berputarnya roda perekonomian
       nasional.
       Agenda yang harus dijalankan adalah sebagai berikut;
       a. Mewujudkan nilai tukar rupiah yang stabil dan wajar melalui
       pemilihan dan penetapan sistem nilai tukar untuk mengendalikan
       fluktuasi kurs. Karena itu, perlu diambil tindakan alternatif dari
       kebijakan yang telah dilaksanakan. Otoritas moneter harus
       membangun sistem kelembagaan yang kuat dan independen yang
       dikukuhkan oleh Undang-undang tentang Bank Sentral yang memuat
       substansi mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan devisa, yang
       paling sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang.
       b. Mengendalikan tingkat suku bunga dan menekan laju inflasi untu
       menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan produksi serta memulihka~
       daya beli masyarakat.
       c. Melakukan restrukturisasi dan penychatan perhankan sesuai
       dcngar Undang-undang tentang Perbankan yang baru beserta peraturar
       pelaksanaannya.
       d. Menciptakan mekanisme penyelesaian utang-utang swasta untuk
       mengembalikan citra dan kepercayaan luar negeri terhadap
       kredibilita; usaha nasional. Perlu pula diciptakan sistem
       pemantauan dar pengawasan utang luar negeri, baik yang dilakukan
       oleh pemerintah maupun swasta.
       e. Menyediakan sembilan bahan pokok dan obat-obatan yang cukup dan
       terJangkau oleh rakyat, baik melalui peningkatan produksi dalam
       negeri maupun impor. Golongan miskin, khususnya yang tidak
       memiliki daya beh, menjadi prioritas utama melalui kebijakan
       subsidi yang terarah. Kebijakan dan program diversifikasi pangan
       diperluas sehingga dapat mengurangi ketergantungan pangan rakyat
       hanya kepada beras.
       f. Menghidupkan kembali kegiatan produksi, terutama
       kegiatan-kegiatan yang berbasis pada ekonomi rakyat dan
       berorientasi ekspor, sebagai dasar untuk menciptakan landasan
       ekonomi yang kuat.
       g. Mendayagunakan potensi ekonomi dari sumber daya alam khususnya
       sumber daya kelautan termasuk pengamanannya untuk meningkatkan
       ekspor.
       h. Mendayagunakan potensi kepariwisataan sebagai sumber devisa
       negara.
       2. Pelaksanaan reformasi di bidang ekonomi adalah untuk mendukung
       upaya penanggulangan krisis.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Mewujudkan kebijakan ekonomi makro dan mikro yang transparan.
       b. Membenahi lembaga-lembaga keuangan terutama sektor perbankan.
       c.Membuat perekonomian lebih efisien dan kompetitif dengarS
       menghilangkan berbagai praktek monopoli serta mengembangkan sistem
       rnsent~f yang mendorong efisiensi dan inovasi.
       d. Meningkatkan keterbukaan pemerintahan dalam pengelolaan usaha
       untuk menghilangkan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta
       praktek-praktek ekonomi lainnya yang merugikan negara dan rakyat.
       e. Melaksanakan deregulasi ketetapan-ketetapan yang menghambat
       ~nvestasi, produksi, distribusi, dan perdagangan.
       f. Menyelenggarakan otonomi daerah, pengaturan, pembagian, dan
       pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta
       perimbangan keuangan pusat dan daerah, segera dilakukan melalui
       pembentukan dan perubahan undang-undang.
       g. Membentuk sistem pengawasan dan pemantauan utang luar negeri
       baik yang dilakukan pleh pemerintah maupun dunia usaha.
       B. POLITIK
       1. Penanggulangan krisis di bidang politik bertujuan untuk
       membangun kehidupan politik yang demokratis dan stabil dengan
       sasaran menegakkan kembali secepatnya wibawa dan legitimasi
       pemerintah, didukung oleh partisipasi dan kepercayaan rakyat,
       serta menciptakan suasana yang kondus~f guna terjaminnya
       ketenangan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat luas baik di
       perkotaan maupun di perdesaan.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Pembuatan undang-undang politik yang sesuai dengan dan
       mendukung proses demokratisasi.
       b. Melaksanakan pemilihan umum yang jujur, adil, langsung, umum,
       bebas dan rahasia pada bulan Mei atau selambat-lambatnya bulan
       Juni 1999. Untuk menjamin terlaksananya demokrasi di dalam proses
       pemiLhan umum tersebut, maka ditetapkan ketentuan sebagai berikut:
       1)Panitia penyelenggara pemilihan umum adalah badan penyelenggara
       pemilihan umum yang bebas dan mandiri, yang terdiri atas unsur
       partai-partai politik peserta Pemilihan Umum dan Pemerintah. yang
       bertanggung jawab kepada Presiden.
       2)Penyelenggaraan pemilihan umum pada hari libur atau hari yang
       dinyatakan libur.
       3) Pengawasan pemilihan umum dilaksanakan oleh sebuah badan
       pengawas yang mandiri. Lembaga-lembaga independen yang tumbuh atas
       inisiatif masyarakat dapat melakukan pemantauan.
       c. Menumbuhkan pemerintah yang bersih sebagai pelayan masyarakat
       dan bertindak berdasarkan undang-undang dalam rangka lebih
       meningkatkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat.
       d. Mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat untuk
       penyelenggaraan reformasi.
       2. Pelaksanaan Reformasi di bidang politik ditujukan pada usaha
       penegakan kedaulatan rakyat sebagai jalan pemecahan krisis
       nasional di segala bidang dengan skala prioritas.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Menegakkan kedaulatan rakyat dengan memberdayakan peranan
       pengawasan oleh lembaga negara. Iembaga politik dan
       kemasyarakatan.
       b. Menghormati keberagaman asas atau ciri, aspirasi, dan program
       organisasi sosial politik dan organisasi kemasyarakatan yang tidak
       bertentangan dengan Pancasila.
       c. Pembagian secara tegas wewenang kekuasaan antara eksekutif,
       legislatif, dan yudikatif.
       d. Menyesuaikan implementasi Dwi Fungsi ABRI dengan paradigma baru
       peran ABRI dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
       bernegara.
       C. HUKUM
       1. Penanggulangan krisis di bidang hukum bertujuan untuk tegak dan
       terlaksananya hukum dengan sasaran terwujudnya ketertiban,
       ketenangan dan ketenteraman masyarakat.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Pemisahan secara tegas fungsi dan wewenang aparatur penegak
       hukum agar dapat dicapai proporsionalitas, profesionalitas, dan
       integritas yang utuh.
       b. Meningkatkan dukungan perangkat, sarana, dan prasarana hukum
       yang lebih menjamin kelancaran dan kelangsungan berperannya hukum
       sebagai pengatur kehidupan nasional.
       c. Memantapkan penghormatan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi
       manusia melalui penegakan hukum dan peningkatan kesadaran hukum
       bagi seluruh masyarakat.
       d. Membentuk Undang-undang Keselamatan dan Keamanan Negara sebagai
       pengganti Undang-undang Nomor I l/PNPS/1963 tentang Pemberantasan
       Tindak Pidana Subversi yang akan dicabut.
       2. Pelaksanaan reformasi di bidang hukum dilaksanakan adalah untuk
       mendukung penanggulangan krisis di bidang hukum.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Pemisahan yang tegas antar fungsi-fungsi yudikatif dari
       eksekutif.
       b.Mewujudkan sistem hukum nasional melalui program legislasi
       nasional secara terpadu.
       c. Menegakkan supremasi hukum dalam kehidupan bermasyarakat,
       berbangsa, dan bernegara.
       d. Terbentuknya sikap dan perilaku anggota masyarakat termasuk
       para penyelenggara negara yang menghormati dan menjunjung tinggi
       hukum yang berlaku.
       D. AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA
       Penanggulangan krisis di bidang sosial budaya ditujukan untuk
       meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
       membangkitkan semangat optimisme dan keyakinan masyarakat
       Indonesia bahwa krisis nasional bisa diatasi dengan kekuatan
       sendiri dalam rangka meletakkan dasardasar perwujudan masyarakat
       madani.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang
       Maha Esa yang dilaksanakan melalui peningkatan kualitas
       kelembagaan pengajaran, dan pendidikan agama sesuai dengan agama
       yang dianut peserta didik, dengan tenaga pengajar pendidikan agama
       harus beragama sesuai dengan agama yang diajarkan kepada peserta
       didik yang bersangkutan di semua jalur, jenis, dan jenjang
       pendidikan serta prasekolah sesuai dengan undang-undang yang
       berlaku secara berjenjang, berlanjut, dan terus-menerus di
       lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat.
       b. Pengadaan dan peningkatan sarana dan prasarana ibadah termasuk
       peningkatan penyelenggaraan haji yang diatur dengan undang-undang.
       c. Melaksanakan program jaring pengaman sosial dengan sasaran.
       khususnya di bidang pangan dan kesehatan.
       d. Melaksanakan kebijakan penyelamatan pelajar dan mahasiswa dari
       ancaman putus sekolah dan program-program pendidikan dan pelatihan
       pada umumnya.
       Melakukan penyelamatan sosial melalui program-program khusus bagi
       mereka yang putus kerja, yang mengalami hambatan usaha dan
       mencegah laju pengangguran terbuka serta laju kemiskinan.
       f. Peningkatan akhlak mulia dan budi luhur dilaksanakan melalui
       pendidikan budi pekerti di sekolah.
       2. Pelaksanaan reformasi di bidang sosial budaya adalah untuk
       mendukung penanggulangan krisis di bidang sosial budaya.
       Agenda yang harus dijalankan adalah:
       a. Menyiapkan sarana dan prasarana, program aksi dan
       perundangundangan bagi tumbuh dan tegaknya etika usaha, etika
       profesi. dan etika pemerintahan.
       b. Menyiapkan sarana dan prasarana serta program aksi bagi
       tumbuhnya suasana yang sehat bebas dari korupsi. kolusi. dan
       nepotisme.
       c. Menyiapkan sarana dan prasarana serta melakukan kampanye untuk
       membentuk visi bersama tentang Indonesia Masa Depan.
       d. Menciptalian jarh~g tim kerja nasional antar golongan
       masyarakat dan lint;is sektoral yang tersebar pada pusat-pusat
       pertumbuhan daerah untuk menghindari kerancuan tentang pelaksanaan
       agenda-agenda pemban_unan.
       e. Melaksanakan reformasi sikap mental bangsa dengan membangun
       jaring institusi budaya yang berwawasan kebangsaan, mencerminkan
       persatuan dan kesatuan bangsa, menghormati serta menegakkan hukum.
       f. Membangun institusi penduduk lanjut usia untuk menjaga harkat
       dan martabatnya serta memanfaatkan pengalamannya.
       g. Pembinaan kerukunan antar umat beragama serta pembentukan dan
       pemberdayaan jaringan kerja antar umat beragama.
       h. Meningkatkan pembangunan akhlak mulia dan moral lohur
       masyarakat melalui pendidikan agama bagi masyarakat dan usaha
       sungguh-sungguh untuk mencegah dan menangkal setiap usaha dan
       kegiatan yang dapat mendorong dan menumbuhkan akhlak yang tidak
       terpuji di kalangan masyarakat maupun yang dipublikasikan melalui
       media massa.
       BAB V
       PELAKSANAAN
       Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara ini
       ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk dilaksanakan
       oleh Presiden/Mandataris MPR sejak menjadi Ketetapan MPR sampai
       dengan diselenggarakannya Sidang Umum Majelis Permusyawaratan
       Rakyat hasil Pemilihan Umum 1999. Pelaksanaan Ketetapan ini
       diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
       Sebagai Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat. Presiden
       memberikan pertanggung-jawaban atas pelaksanaan Pokok-Pokok
       Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi
       Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara kepada Majelis
       Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilihan Umum 1999.
       BAB Vl
       PENUTUP
       Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan
       Normalisasi Kehidupan Na.sional sebagai Haluan Negara meletakkan
       dasar-dasar kebijakan strategis untuk melakukan reformasi di
       segala bidang dan dilaksanakan dalam waktu singkat. sejak
       ditetapkan hingga Sidang Umum MPR hasil Pemilihan Umum 1999.
       dengan melibatkan partisipasi aktif rakyat.
       Hal tersebut akan memulihLan keyakinan bangsa untuk melanjutkan
       pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan tujuan nasional.
       dalam kontlisi yang kondusif dan akomodatif terhadap
       gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan konstruktif seluruh anggota
       masyarakat. Kondisi ini diperlukan untuk mengembangkan tatanan
       kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang
       demokratis, dinamis, dan terbuka sesuai dengan cita-cita
       Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
       merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana
       diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1 945.
       Kesemuanya adalah untuk penanggulangan krisis dan melaksanakan
       reformasi secara menyeluruh. terutama di bidang ekonomi, politik,
       hukum, agama dan sosial budaya. Keamanan dan ketertiban masyarakat
       sangat dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan penanggulangan
       krisis dan pelaksanaan reformasi.
       
   [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:23:27 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28511
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:23:26 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05418
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:39 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28498;
        Fri, 11 Dec 1998 15:23:23 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:23:23 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112023.PAA28498@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xi.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xi.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XI/MPR/1998
   TENTANG
   PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS KORUPSI, KOLUSI, DAN
   NEPOTISME
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA,
   Menimbang :
    a. bahwa berdasarkan Undang Undang Dasar 1945, pelaksanaan
       penyelenggaraan negara dilakukan oleh lembaga-lembaga eksekutif,
       legislatif, dan yudikatif;
    b. bahwa dalam penyelenggaraan negara telah terjadi pemusatan
       kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab pada Presiden/ Mandataris
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang berakibat
       tidak berfungsinya dengan baik Lembaga Tertinggi Negara dan
       Lembaga-lembaga Tinggi Negara lainnya, serta tidak berkembangnya
       partisipasi masyarakat dalam memberikan kontrol sosial dalam
       kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
    c. bahwa tuntutan hati nurani rakyat menghendaki adanya penyelenggara
       negara yang mampu menjalankan fungsi dan tugasnya secara
       sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab agar reformasi
       pembangunan dapat berdayaguna dan berhasi Iguna;
    d. bahwa dalam penyelenggaraan negara telah terjadi praktekpraktek
       usaha yang lebih menguntungkan sekelompok 1.tertentu yang
       menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang melibatkan para
       pejabat negara dengan para pengusaha sehingga merusak sendi-sendi
       penyelenggaruar negara dalam berbagai aspek kehidupan nasional;
    e. bahwa dalam rangka rehabilitasi seluruh aspek kehidupan nasional
       yang berkeadilan, dibutuhkan penyelenggarc negara yang dapat
       dipercaya melalui usaha pemeriksaar harta kekayaan para pejabat
       negara dan mantan pejabal negara serta keluarganya yang diduga
       berasal dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan mampu
       membebaskan diri dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme;
    f. bahwa berhubung dengan itu perlu Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia yang mengatur tentang Penyelenggara
       Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi; dan Nepotisme.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 2 ayat (2), Pasal 4, Pasal 16, Pasal 17,
       Pasal 19, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 33 Undang Undang Dasar
       1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998;
    3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       IX/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1998 tentang Garis-garis
       Besar Haluan Negara.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat RepublikIndonesia tentangPenyelenggaraNegara yang Bersih
       dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang dipersiapkan oleh
       Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS KORUPSI,
   KOLUSI, DAN NEPOTISME.
   Pasal I
   Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia berketetapan untuk
   memfungsikan secara proporsional dan benar Lembaga Tertinggi Negara,
   Lembaga Kepresidenan, dan Lembaga-lembaga Tinggi Negara lainnya,
   sehingga penyelenggaraan negara berlangsung sesuai dengan Undang
   Undang Dasar 1945.
   Pasal 2
   (1) Penyelenggara negara paja lembaga-lembaga eksekutif, legislatif,
   dan yudikatif harus melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik dan
   bertanggung ~awab kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
   
   (2) Untuk menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut, penyelenggara
   negara harus jujur, adil, terbuka, dan terpercaya serta mampu
   membebaskan diri dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme.
   Pasal 3
   Untuk menghindarkan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme,
   seseorang yang dipercaya menjabat suatu jabatan dalam penyelenggaraan
   negara harus bersumpah sesuai dengan agamanya, harus mengumumkan dan
   bersedia diperiksa kekayaannya sebelum dan setelah menjabat.
   
   Pemeriksaan atas kekayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas
   dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh Kepala Negara yang
   keanggotaannya terdiri dari pemerintah dan masyarakat.
   
   Upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dilakukan secara tegas
   dengan melaksanakan secara konsisten undang-undang tindak pidana
   korupsi.
   Pasal 4
   Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan
   secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan
   pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat
   termasuk mantan Presiden
   
   Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan
   hak-hak asasi manusia.
   Pasal 5
   Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan ini diatur lebih la
   dengan Undang-undang.
   Pasal 6
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:23:52 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28591
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:23:50 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05473
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:03 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28576;
        Fri, 11 Dec 1998 15:23:47 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:23:47 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112023.PAA28576@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XII/MPR/1998
   TENTANG
   PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR V/MPR/1998
   TENTANG
   PEMBERIAN TUGAS DAN WEWENANG KHUSUS KEPADA PRESIDEN/MANDATARIS
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DALAM RANGKA
   PENYUKSESAN DAN PENGAMANAN PEMBANGUNAN NASIONAL SEBAGAI PENGAMALAN
   PANCASILA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA,
   Menimbang :
    a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat
       adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan
       Pancasila dan Undang-UndangDasar 1945;
    b. bahwa Presiden ialah penyelenggara pemerintah negara yang
       tertinggi di bawah Majelis sebagaimana diatur dalam Uridang-Undang
       Dasar 1945 sehingga Presiden telah memiliki kekuasaan yang cukup
       besar di dalam menyelenggarakan pemerintahan negara dan
       pembangunan;
    c. bahwa Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
       Nomor V/MPR/1998 mengenai pemberian tugas dan wewenang khusus
       kepada Presiden/Mandataris, penggunannnya dapat melampaui
       batas-batas hukum dan perundang-undangan sehingga tidak sesuai
       dengan perkembangan kehidupan ketatanegaruan yang semakin
       demokratis;
    d. bahwa dengan berhentinya Saudara Soeharto sebagai Presiden
       Republik Indonesia, maka masa berlakunya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor V/MPR/ 1998
       tanggal 9 Maret 1998 telah berakhir sebagaimana dimaksud dalam
       Pasal 3 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor V/MPR/1998;
    e. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Pencabutan
       Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       V/MPR/ 1998 tentang Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus kepada
       Presiden/ Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia dalam rangka Penyuksesan dan Pengamanan Pembangunan
       Nasional sebagai Pengamalan Pancasila.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6 ayat (2),
       Pasal 7, Pasal 8, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal
       14, Pasal 15, Pasal 17, dan Pasal 22 Undang- UndangDasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indo- nesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan-Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang mernbahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tentang Pencabutan Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor V/ MPR/1998
       tentang Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus kepada
       Presiden/Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia dalam rangka Penyuksesan dan Pengamanan Pembangunan
       Nasional sebagai Pengamalan Pancasila;
    3. Putusan Rapat Paripurna Ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   M E M U T U S K A N
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA NOMOR V/MPR/ 1998 TENTANG PEMBERIAN TUGAS DAN
   WEWENANG KHUSUS KEPADA PRESIDEN/MANDATARIS MAJELIS PERMUSYAWARATAN
   RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DALAM RANGKA PENYUKSESAN DAN PENGAMANAN
   PEMBANGUNAN NASIONAL SEBAGAI PENGAMALAN PANCASILA.
   Pasal I
   Mencabut dan menyatakan tidak berlaku Ketetapan Majelis
   Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor V/MPR/1998 tentang
   Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus kepada Presiden/Mandataris Majelis
   Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam rangka Penyuksesan dan
   Pengamanan Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila.
   Pasal 2
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:24:06 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28652
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:03 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05500
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:15 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28635;
        Fri, 11 Dec 1998 15:24:00 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:24:00 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112024.PAA28635@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xiii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xiii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XIII MPR/1998
   TENTANG
   PEMBATASAN MASA JABATAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
   REPUBLIK INDONESIA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA,
   Menimbang :
    a. bahwa Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan Undang-Undang Dasar
       Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17
       Agustus 1945 adalah sesuai dengan kepribadian Indonesia yang
       memuat aturan- aturan yang paling mendasar bagi kehidupan bangsa
       dan negara Indonesia.
    b. bahwa berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Dasar 1945, Presiden dan
       Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan
       sesudahnya dapat dipilih kembali;
    c. bahwa dalam perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, tidak
       adanya pembatasan berapa kali Presiden dan Wakil Presiden dapat
       dipilih kembali untuk memegang jabatannya telah menimbulkan
       berbagai penafsiran yang merugikan kedaulatan rakyat/kehidupan
       demokrasi;
    d. bahwa untuk menghindari berbagai penafsiran berapa kali seorang
       Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih kembali menurut
       Undang-Undang Dasar 1945 perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Pembatasan Masa
       Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, Pasal 6 ayat (2),
       Pasal 7, dan Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       II/MPR/1973 tentang Tata Cara Pemilihan Presiden dan Wakil
       Presiden;
    3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat tanggal 10 sampai dengan 13 November 1998 yang membahas
       Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil
       Presiden Republik Indonesia yang telah dipersiapkan oleh Badan
       Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PEMBATASAN MASA JABATAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
   REPUBLIK INDONESIA.
   Pasal I
   Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia memegang jabatan selama
   masa lima tahun. dan sesudahnya dapat dipilih kembali.dalam jabatan
   yang hanya untuk satu kali masa jabatan.
   Pasal 2
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:24:14 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28689
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:24:13 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05520
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:26 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28680;
        Fri, 11 Dec 1998 15:24:10 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:24:10 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112024.PAA28680@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xiv.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xiv.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XIV/MPR/1998
   TENTANG
   PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATAS KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR III/MPR/1998
   TENTANG
   PEMILIHAN UMUM
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,
   
   Menimbang :
    a. bahwa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
       Pancasila, kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan
       sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    b. bahwa dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat secara nyata dalam
       kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diselenggarakan Pemilihan
       Umum secara demokratis, jujur dan adil, dengan mengadakan
       pemberian dan pemungutan suara secara langsung, umum, bebas, dan
       rahasia;
    c. bahwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sebagai kekuatan
       sosial politik bertindak selaku dinamisator dan stabilisator,
       dalam rangka pelaksanaan demokrasi Pancasila tidak menggunakan hak
       pilih dalam Pemilihan Umum sehingga keanggotaannya dalam Lembaga
       Permusya- waratan/Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ditetapkan
       melalui pengangkatan;
    d. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Perubahan dan
       Tambahan atas Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 2 ayat (1), Pasal 19 ayat (1), dan Pasal
       27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indo- nesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas usul perubahan dan tambahan atas beberapa
       ketentuan pada Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum yang telah
       dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATAS KETETAPAN MAJELIS
   PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR III/MPR/ 1988 TENTANG
   PEMILIHAN UMUM.
   Pasal I
   Ketentuan-ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
   Republik Indonesia Nomor III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum diubah
   sebagai berikut:
    1. Pasal 1 ayat ( 1 ) diubah sehingga berbunyi: "( 1 ) Pemilihan Umum
       adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat da Negara Kesatuan
       Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila Undang Undang Dasar
       1945."
    2. Pasal I ayat (2) diganti sehinggaberbunyi:
       "(2) Pemilihan Umum diselenggarakan secara demokrati.s, jujur dan
       dengan mengadakan pemberian dan pemungutan suara secara langs~
       umum, bebas, dan rahasia."
    3. Pasal I ayat (3) setelah kata "Negara" ditambahkan kata
       "Kesatuan", sehingga selengkapnya berbunyi:
       "Pemungutan suara yang dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini
       dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
       Indonesia."
    4. Pasal 2 diganti, sehingga selengkapnya berbunyi:
       'Pemilihan Umum yang dimaksud dalam Ketetapan ini dilaksanakan
       pada bulan Mei atau selambat-lambatnya bulan Juni 1999 dan
       Pemilihan Umum selanjutnya dilaksanakan setiap lima tahun sekali.
       Pemilihan Umum tersebut diselenggarakan pada hari libur atau hari
       yang diliburkan."
    5. Pasal 3 ayat ( I ) dan (2) diubah dan ditambah ayat (3), sehingga
       selengkapnya berbunyi:
       "1 ) Pemilihan Umum yang dimaksud dalam Ketetapan ini diikuti oleh
       pa~ partai politik yang telah memenuhi persyaratan sesuai dengan
       peratu perundang-undangan yang berlaku serta mempunyai kedudukan,
       dan kewajiban yang sama.
    6. Pemil:ihan Umum diselenggarakan oleh badan penyelenggara Pemili
       Umum yang bebas dan mandiri, yang terdiri atas unsur partai-pa
       politik peserta Pemilihan Umum dan pemerintah, yang
       bertanggungjawab kepada Presiden.
       (3) Pengawasan Pemilihan Umum dilaksanakan oleh sebuah badan
       penga, yang mandiri.
       Lembaga-lembaga independen yang tumbuh atas inisiatif masyara
       dapat melakukan pemantauan."
    7. Pasal 5 diubah, sehingga selengkapnya berbunyi:
       "(1) Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
       ter~ atas Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
       ditaml anggota Utusan Daerah dan anggota Utusan Golongan-golon~
       sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar 1945.
       (2) Keanggotaan Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah
       Utusan Golongan-golongan lebih lanjut diatur oleh undang-undang.
    8. Pasal 6 diganti sehingga selengkapnya berbunyi:
       "(1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan De
       Perwakilan Rakyat Daerah terdiri atas anggota partai-partai
       politik I Pemilihan Umum dan anggota Angkatan Bersenjata Republik
       Indon yang diangkat.
       (2) Pengangkatan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia d~
       Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwak Rakyat
       Daerah dilakukan pengurangan jumlahnya secara bertahap selanjutnya
       diatur oleh undang-undang."
       Pasal II
       Ketetapan ini berlaku pada tanggal ditetapkan
       Ditetapkan di Jakarta
       Pada tanggal 13 November 1998
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
       REPUBLIK INDONESIA
       
                                   KETUA,
                                      
   H. Harmoko
       WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
       Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
       WAKIL KETUA, WAKIL
       KETUA,
       H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
       S.H.
       
   WAKIL KETUA,
   
   Poedjono Pranyoto
       
   [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:25:01 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28849
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:00 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05601
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:26:13 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28833;
        Fri, 11 Dec 1998 15:24:58 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:24:58 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112024.PAA28833@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xv.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xv.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XV/MPR/1998
   TENTANG
   PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH; PENGATURAN, PEMBAGIAN, DAN PEMANFAATAN
   SUMBER DAYA NASIONAL YANG BERKEADILAN; SERTA PERIMBANGAN KEUANGAN
   PUSAT DAN DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA,
   
   Menimbang :
    a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki sumber daya
       nasional yang harus dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
       rakyat;
    b. bahwa pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan
       nasional dilaksanakan melalui otonomi daerah; pengaturan sumber
       daya nasional yang berkeadilan; serta perimbangan keuangan pusat
       dan daerah;
    c. bahwa penyelenggaraan otonomi daerah, pengaturan, pembagian dan
       pemanfaatan sumber daya nasional serta perimbangan keuangan antara
       pusat dan daerah belum dilaksanakan.secara proporsional sesuai
       dengan prinsip- prinsip demokrasi, keadilari dan pemerataan;
    d. bahwa berhubung dengan itu perlu Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah;
       Pengaturan. Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang
       Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam
       Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 3, Pasal 18. Pasal 23, dan Pasal 33 Undang
       Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       Memperhatikan :
         1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
            Indonesia Nomor 10/PIMP./199X tentanc Penyelenggaraan Sidang
            Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
         2. Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November 1998
            yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
            Rakyat Republik Indonesia tentang Penyelenggaraan Otonomi
            Daerah; Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya
            Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat
            dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
            yang dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan
            Rakyat Republik Indonesia;
         3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1 99X
            Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
            Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November 1998.
       MEMUTUSKAN
       Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
       INDONESIA TENTANG PENYELENGGARA- AN OTONOMI DAERAH; PENGATURAN.
       PEMBAGIAN. DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA NASIONAL YANG BERKEADILAN;
       SERTA PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA
       KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.
       Pasal I
       Penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang
       luas. nyata. dan bertanggung jawab di daerah secara proporsional
       diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber
       daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat
       dan daerah.
       Pasal 2
       Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengar.
       prinsip-prinsip demokrasi dan memperhatikan keanekaragaman daerah.
       Pasal 3
       (1) Pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional
       antara pusat dan daerah dilaksanakan secara adil untuk kemakmuran
       masyarakat daerah dan bangsa secara keseluruhan.
       (2) Pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara efektif dan
       efisien. bertanggungjawab. transparan, terbuka, dan dilaksanakan
       dengan memberikan kesempatan yang luas kepada usaha kecil,
       menengah dan koperasi.
       Pasal 4
       Perimbangan keuangan pusat dan daerah dilaksanakan dengan
       memperhatikan potensi daerah, luas daerah, keadaan geografi.
       jumlah penduduk, dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah.
       Pasal 5
       Pemerintah daerah berwenang mengelola sumber daya nasional dan
       bertanggungjawab memelihara kelestarian lingkungan.
       Pasal 6
       Penyelenggaraan otonomi daerah; pengaturan, pembagian, dan
       pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan; dan perimbangan
       keuangan pusat dan daerah daJam kerangka mempertahankan dan
       memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia dilaksanakan
       berdasarkan asas kerakyatan dan berkesinambungan yang diperkuat
       dengan pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan masyarakat.
       Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan ini diatur lebih
       lanjut dengan Undang-undang.
       Pasal 8
       Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
       Ditetapkan di Jakarta
       Pada tanggal 13 November 1998
       MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
       REPUBLIK INDONESIA
       
                                   KETUA,
                                      
   H. Harmoko
       WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
       Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
       WAKIL KETUA, WAKIL
       KETUA,
       H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
       S.H.
       
   WAKIL KETUA,
   
   Poedjono Pranyoto
       
   [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:25:14 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28874
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:12 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05614
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:26:25 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28869;
        Fri, 11 Dec 1998 15:25:10 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:25:10 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112025.PAA28869@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xvi.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xvi.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XVI/MPR/1998
   TENTANG
   POLITIK EKONOMI
   DALAM RANGKA DEMOKRASI EKONOMI
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,
   
   Menimbang :
    a. bahwa pelaksanaan amanat Demokrasi Ekonomi sebagaimana dimaksud
       dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 belum terwujud;
    b. bahwa sejalan dengan perkembangan, kebutuhan. dan tantangan
       Pembangunan Nasional, diperlukan keberpihakan politik ekonomi yang
       lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi
       rakyat yang mencakup koperasi, usaha kecil dan menengah sebagai
       pilar utama pembangunan ekonomi nasional; c. bahwa berhubung
       dengan itu perlu Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi.
       
   Mengingat :
    1. Pasal I ayat (2), Pasal 3, Pasal 11, Pasal 23, Pasal 27, Pasal 28,
       dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusya- waratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       Memperhatikan :
         1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
            Indonesia Nomor l()/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
            Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
         2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
            Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13
            November 1998 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis
            Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Politik
            Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekohomi yang dipersiapkan oleh
            Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
            Indonesia
         3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
            Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
            tanggal 10 sampai dengan 13 November 1998.
            MEMUTUSKAN
            Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
            REPUBLIK INDONESIA TENTANG POLITIK EKONOMI DALAM RANGKA
            DEMOKRASI EKONOMI.
            Pasal I
            Politik Ekonomi dalam Ketetapan ini mencakup kebijaksanaan,
            strategi dan pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional sebagai
            perwujudan dari prinsip-prinsip dasar Demokrasi Ekonomi yang
            mengutamakan kepentingan rakyat banyak untuk sebesar-besar
            kemak,nuran rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang
            Undang Dasar 1945.
            Pasal 2
            Politik ekonomi nasional diarahkan untuk menciptakan struktur
            ekonomi nasional agar terwujud pengusaha menengah yang kuat
            dan besar jumiahnya, serta terbentuknya keterkaitan dan
            kemitraan yang saling menguntungkan antar pelaku ekonomi yang
            meliputi usaha kecil, menengah dan koperasi, usaha besar
            swasta, dan Badan Usaha Milik Negara yang saling memperkuat
            untuk mewujudkan Demokrasi Ekonomi dan efisiensi nasional
            yang berdaya saing tinggi.
            Pasal 3
            Dalam pelaksanaan Demokrasi Ekonomi, tidak boleh dan harus
            ditiadakan terjadinya penumpukan aset dan pemusatan kekuatan
            ekonomi pada seorang, sekelompok orang atau perusahaan yang
            tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan pemerataan.
            Pasal 4
            Pengusaha ekonomi lemah harus diberi prioritas, -dan dibantu
            dalam mengembangkan usaha serta segala kepentingan
            ekonominya, agar dapat mandiri terutama dalam pemanfaatan
            sumber daya alam dan akses kepada sumber dana.
            Pasal 5
            Usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai pilar utama
            ekonomi nasional harus memperoleh kesempatan utama, dukungan,
            perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud
            keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat,
            tanpa mengabaikan peranan usaha besar dan Badan Usaha Milik
            Negara.
            Pasal 6
            Usaha besar dan Badan Usaha Milik Negara mempunyai hak untuk
            berusaha dan mengelola sumber daya alam dengan cara yang
            sehat dan bermitra dengan pengusaha kecil, menengah dan
            koperasi.
            Pasal 7
            (1) Pengelolaan dan pemanfaatan tanah dan sumber daya alam
            lainnya harus dilaksanakan secara adil dengan menghilangkan
            segala bentuk pemusatan penguasaan dan pemilikan dalam rangka
            pengembangan kemampuan ekonomi usaha kecil, menengah dan
            koperasi serta masyarakat luas.
            (2) Tanah sebagai basis usaha pertanian harus diutamakan
            penggunaannya bagi pertumbuhan pertanian rakyat yang mampu
            melibatkan serta memberi sebesarbesar kemakmuran bagi usaha
            tani kecil. menengah dan koperasi.
            Pasal 8
            Perbankan dan Lembaga Keuangan wajib dalam batas-batas
            prinsip dan pengelolaan usaha yang sehat membuka peluang
            sebesar-besarnya. seadil-adilnya dan transparan bagi
            pengusaha kecil, menengah dan koperasi.
            Pasal 9
            Dalam rangka pengelolaan ekonomi keuangan nasional yang
            sehat, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral harus mandiri,
            bebas dari campur tangan pemerintah dan pihak luar lainnya
            dan kinerjanya dapat diawasi dan dipertanggungjawaUkan.
            Pasal 10
            Seluruh pinjaman luar negeri Pemerintah harus memperkuat
            perekonomian nasional. dilaksanakan oleh Pemerintah dengan
            persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan dimasukan kedalam
            rencana anggaran tahunan.
            Pasal 11
            Pinjaman luar negeri oleh swasta sepenuhnya menjadi tanggung
            jawab yang bersangkutan selaku debitur dengan monitoring
            secara fungsional dan transparan oleh pemerintah dalam rangka
            keselamatan ekonomi nasional.
            Pasal 12
            Dalam upaya mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
            nasional, diperlukan penanaman modal asing yang sekaligus
            diharapkan dapat menjalin keterkaitan usaha dengan pelaku
            ekonomi rakyat.
            Pasal 13
            Demokratisasi ekonomi bagi pekerja harus diwujudkan dalam
            bentuk kebebasan berserikat dan berpartisipasi dalam berbagai
            kegiatan yang mendorong produktivitas, kesejahteraan pekerja
            serta memperoleh peluang untuk memiliki saham perusahaan.
            Pasal 14
            Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mendorong dan
            mengawasi pelaksanaan politik ekonomi sebagaimana dimaksud
            dalam Ketetapan ini dalam rangka terwu judnya keadilan
            ekonomi yang dirasakan kemanfaatannya dan dinikmati oleh
            rakyat banyak.
            Pasal 15
            Menugaskan kepada Presiden/Mandataris Majelis
            Pertnusyawaratan Rakyat Republik Indonesia bersama Dewan
            Perwakilan Rakyat untuk mengatur lebih lanjut dalam berbagai
            undang-undang sebagai pelaksanaan dari Politik Ekonomi Dalam
            Rangka Demokrasi Ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan
            ini dengan memperhatikan sasaran dan waktu yang terukur.
            Pasal 16
            Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan
            Ditetapkan di Jakarta
            Pada tanggal 13 November 1998
            MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
            REPUBLIK INDONESIA
            
                                   KETUA,
                                      
   H. Harmoko
            WAKIL KETUA, WAKIL
            KETUA,
            Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul
            Gafur
            WAKIL KETUA, WAKIL
            KETUA,
            H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah
            Achmad, S.H.
            
   WAKIL KETUA,
   
   Poedjono Pranyoto
            
   [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:25:39 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA28956
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:25:36 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05653
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:26:49 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA28942;
        Fri, 11 Dec 1998 15:25:33 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:25:33 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112025.PAA28942@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xvii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xvii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XVII/MPR/1998
   TENTANG
   HAK ASASI MANUSIA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,
   
   Menimbang :
    a. bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dianugerahi hak
       dasar yaitu hak asasi, untuk dapat mengembangkan diri pribadi,
       peranan dan sumbangan bagi kesejahteraan hidup manusia;
    b. bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan
       pengakuan, penghormatan, dan kehendak bagi pelaksanaan hak asasi
       manusia dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa
       dan bernegara;
    c. bahwa bangsa Indonesia sebagai bagian masyarakat dunia patut
       menghormati hak asasi manusia yang termaktub dalam Deklarasi
       Universal Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta
       berbagai instrumen internasional lainnya mengenai hak asasi
       manusla;
    d. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang Hak Asasi
       Manusia.
       
   Mengingat :
    1. Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 18, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28,
       Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32 dan Pasal 34 Undang-Undang
       Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Pernusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/I 998.
       
   Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Perrnusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tentang Hak Asasi Manusia yang
       dipersiapkan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat
       Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Pemmusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG HAK ASASI MANUSIA.
   
                                  Pasal I
   
   Menugaskan kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara dan seluruh Aparatur
   Pemerintah, untuk menghormati, menegakkan dan menyebarluaskan
   pemahaman mengenai hak asasi manusia kepada seluruh masyarakat.
   
                                  Pasal 2
   
   Menugaskan kepada Presiden Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan
   Rakyat Republik Indonesia untuk meratifikasi berbagai instrumen
   Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Manusia, sepanjang tidak
   bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
   
                                  Pasal 3
   
   Penghormatan, penegakan, dan penyebarluasan hak asasi manusia oleh
   masyarakat dilaksanakan melalui gerakan kemasyarakatan atas dasar
   kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara dalam kehidupan
   bermasyarakat, berbangsa dan bemegara.
   
                                  Pasal 4.
   
   Pelaksanaan penyuluhan, pengkajian, pemantauan, penelitian dan mediasi
   tentang hak asasi manusia, dilakukan oleh suatu komisi nasional hak
   asasi manusia yang ditetapkan dengan Undang-undang.
   
                                  Pasal 5
   
   Untuk dapat memperoleh kebulatan hubungan yang menyeluruh m
   sistematika naskah Hak Asasi Manusia disusun sebagai berikut:
   I.PANDANGAN DAN SIKAP BANGSA INDONESIA TERHADAP HAK ASASI MANUSIA
   
   II. PIAGAM HAK ASASI MANUSIA
   
                                  Pasal 6
   
   Isi beserta uraian sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 5, terdapat dalam
   naskah Hak Asasi Manusia yang menjadi bagian tak terpisahkan dari
   Ketetapan ini.
   
                                  Pasal 7
   
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
   
              1. PANDANGAN DAN SIKAP BANGSA INDONESIA TERHADAP
   
                             HAK ASASI MANUSIA
   
                               A. PENDAHULUAN
   
   Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi
   hak dasar yang disebut hak asasi. tanpa perbedaan antara satu dengan
   lainnya. Dengan hak asasi tersebut, manusia dapat mengembangkan diri
   pribadi, peranan. dan sumbangannya bagi kesejahteraan hidup manusia.
   
   Manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara. dalam
   mengembangkan diri, berperan dan memberikan sumbangan bagi
   kesejahteraan hidup manusia, ditentukan oleh pandangan hidup dan
   kepribadian bangsa.
   
   Pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia sebagai kristalisasi
   nilainilai luhur bangsa Indonesia, menempatkan manusia pada keluhuran
   harkat dan martabat makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan kesadaran
   mengemban kodratnya sebagai makhluk pribadi dan juga makhluk sosial.
   sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
   
   Bangsa Indonesia menghormati setiap upaya suatu bangsa untuk
   menjabarkan dan mengatur hak asasi manusia sesuai dengan sistem nilai
   dan pandangan hidup masing-masing. Bangsa Indonesia menjunjung tinggi
   dan menerapkan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila sebagai
   pandangan hidup bangsa.
   
   Sejarah dunia mencatat berbagai penderitaan. kesengsaraun dan kesen
   jangan sosial yang disebabkan oleh perilaku tidak adil dan
   diskriminatif atas dasar etnik. ras, warna kulit, budaya, bahasa,
   agama, golongan, jenis kelamin. dan status sosial lainnya. Menyadari
   bahwa perdamaian dunia serta kesejahteraan merupakan dambaan umat
   manusia, maka hal-hal yang menimbulkan pendentuan. kesengsaraan dan
   kesenjangan serta yang dapat menurunkan harkat dan martabat manusia
   harus ditanggulangi oleh setiap bangsa.
   
   Bangsa Indonesia, dalam perjalanan sejarahnya mengalami kesengsaraan
   dan penderitaan yang disebabkan oleh penjajahan. Oleh sebab itu
   Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kemerdekaan
   adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan
   karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Bangsa
   Indonesia bertekad ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
   kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial yang pada hakikatnya
   merupakan kewajiban setiap bangsa. sehingga bangsa Indonesia
   berpandangan bahwa hak asasi manusia tidak terpisahkan dengan
   kewajibannya.
   
                                B. LANDASAN
   
   1. Bangsa Indonesia mempunyai pandangan dan sikap mer~genai hak asasi
   manusia yang bersumber dari ajaran agama, nilai moral universal, dan
   nilai luhur budaya bangsa, serta berdasarkan pada Pancasila dan
   Undang-Undang Dasar 1945.
   
   2. Bangsa Indonesia sebagai anggota Peserikatan Bangsa-Bangsa
   mempunyai tanggung jawab untuk menghormati Deklarasi Universal Hak
   Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) dan berbagai
   instrumen internasional lainnya mengenai hak asasi manusia.
   
                   C. SEJARAH, PENDEKATAN; DAN SUBSTANSI
   
   1. Sejarah
   
   Dalam perjalanan sejarah, bangsa Indonesia sejak awal perjuangan
   pergerakan kemerdekaan Indonesia sudah menuntut dihormatinya hak asasi
   manusia. Hal tersebut terlihat jelas dalam tonggak-tonggak sejarah
   perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan sebagai
   berikut:
   
    a. Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, yang diawali dengan lahirnya
       berbagai pergerakan kemerdekaan pada awal abad 20, menunjukkan
       kebangkitan bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari
       penjajahan bangsa lain.
    b. Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, membuktikan bahwa
       bangsa Indonesia menyadari haknya sebagai satu bangsa yang
       bertanah air satu dan menjunjung satu bahasa persatuan Indonesia.
    c. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945
       merupakan puncak perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia
       diikuti dengan penetapan Undang-Undang Dasar 1945 pada tanggal 18
       Agustus 1945 yang dalam Pembukaannya mengamanatkan: "Bahwa
       sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh karena
       itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
       dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Undang-Undang Dasar 1945
       menetapkan aturan dasar yang sangat pokok, termasuk hak asasi
       manusia.
    d. Rumusan hak asasi manusia dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia
       secara eksplisit juga telah dicantumkan dalam Undang-Undang Dasar
       Republik Indonesia Serikat dan Undang-Undang Dasar Sementara 1950.
       Kedua konstitusi tersebut mencantumkan secara rinci
       ketentuan-ketentuan mengenai hak asasi manusia. Dalam sidang
       Konstituante upaya untuk merumuskan naskah tentang hak asasi
       manusia juga telah dilakukan.
    e. Dengan tekad melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni
       dan konsekuen, maka pada Sidang Umum MPRS tahun 1966 telah
       ditetapkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Sementara Nomor XIV/MPRS/1966 tentang Pembentukan
       Panitia Ad Hoc untuk menyiapkan Dokumen Rancangan Piagam Hak Asasi
       Manusia dan Hakhak serta Kewajiban Warga Negara. Berdasarkan
       Keputusan Pimpinan MPRS tanggal 6 Maret 1967 Nomor 24/B/1967,
       hasil kerja Panitia Ad Hoc diterima untuk dibahas pada persidangan
       berikutnya. Namun pada Sidang Umum MPRS tahun 1968 Rancangan
       Piagam tersebut tidak dibahas karena Sidang lebih mengutamakan
       membahas masalah mendesak yang berkaitan dengan rehabilitasi dan
       konsolidasi nasional setelah terjadi tragedi nasional berupa
       pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965, dan menata kembali
       kehidupan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
       1945.
    f. Terbentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia berdasarkan
       Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun }993, yang mendapat tanggapan
       positif masyarakat menunjukkan besarnya perhatian bangsa Indonesia
       terhadap masalah penegakan hak asasi manusia, sehingga lebih
       mendorong bangsa Indonesia untuk segera merumuskan hak asasi
       manusia menurut sudut pandang bangsa Indonesia.
    g. Kemajuan mengenai perumusan tentang hak asasi manusia tercapai
       ketika Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia tahun 1998 telah tercantum dalam Garis-garis Besar
       Haluan Negara secara lebih rinci.
       
     2. Pendekatan dan Substansi
     
     Perumusan substansi hak asasi manusia menggunakan pendekatan
     normatif, empirik, deskriptif, dan analitik sebagai berikut:
    a. Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada diri manusia
       yang sitatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan Yang
       Maha Esa dan berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup,
       kemerdekaan, perkembangan manusia dan masyarakat, yang tidak boleh
       diabaikan, dirampas, atau diganggu-gugat oleh siapapun.
    b. Masyarakat Indonesia yang berkembang sejak masih sangat sederhana
       sampai modern, pada dasarnya merupakan masyarakat kekeluargaan.
       Masyarakat kekeluargaan telah mengenal pranata sosial yang
       menyangkut hak dan kewajiban warga masyarakat yang terdiri atas
       pranata religius yang mengakui bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan
       Yang Maha Esa dengan segala hak dan kewajibannya; pranata keluarga
       sebagai wadah manusia hidup bersama untuk mengembangkan keturunan
       dalam menjaga kelangsungan keberadaannya; pranata ekonomi yang
       merupakan upaya manusia untuk meningkatkan kesejahteraan; pranata
       pendidikan dan pengajaran untuk mengembangkan kecerdasan dan
       kepribadian manusia; pranata informasi dan komunikasi untuk
       memperluas wawasan dan keterbukaan; pranata hukum dan keadilan
       untuk menjamin ketertiban dan kerukunan hidup; pranata keamanan
       untuk menjamin keselamatan setiap manusia. Dengan demikian
       substansi hak asasi manusia meliputi: hak untuk hidup; hak
       berkeluarga dan melanjutkan keturunan; hak mengembangkan diri; hak
       keadilan; hak kemerdekaan; hak berkomunikasi; hak keamanan; dan
       hak kesojahteraan.
    c. Bangsa Indonesia menyadari dan mengakui bahwa setiap individu
       adalah bagian dari masyarakat dan sebaliknya masyarakat terdiri
       dari individuindividu yang mempunyai hak asasi serta hidup di
       dalam lingkungan yang merupakan sumber daya bagi kehidupannya.
       Oleh karena itu tiap individu di samping mempunyai hak asasi, juga
       mengemban kewajiban dan tanggupg jawab untuk menghormati hak asasi
       individu lain, tata tertib masyarakat serta kelestarian fungsi,
       perbaikan tatanan dan peningkatan mutu lingkungan hidup.
       D. PEMAHAMAN HAK ASASI MANUSIA BAGI BANGSA INDONESIA
       1. Hak asasi merupakan hak dasar selurnh umat manusia tanpa ada
       perbedaan. Mengingat hak dasar merupakan anugerah dari Tuhan Yang
       Maha Esa, maka pengertian hak asasi manusia adalah hak sebagai
       anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang melekat pada diri manusia,
       bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat dan
       martabat manusia.
       2. Setiap manusia diakni dan dihormati mempunyai hak asasi yang
       sama tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit, kebangsaan,
       agama, usia, pandangan politik, status sosial, dan bahasa serta
       status lain. Pengabaian atau perampasannya, mengakibatkan
       hilangnya harkat dan martabat sebagai manusia, sehingga kurang
       dapat mengembangkan diri dan peranannya secara utuh.
       3. Bangsa Indonesia menyadari baLwa hak asasi manusia bersifat
       historis dan dinamis yang pelaksanaannya berkembang dalam
       kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
       II. PIAGAM HAK ASASI MANUSIA
       PEMBUKAAN
       Bahwa manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang berperan
       sebagai pengelola dan pemelihara alam secara seimbang dan serasi
       dalam ketaatan kepadaNya. Manusia dianugerahi hak asasi dan
       memiliki tanggung jawab serta kewajiban untuk menjamin keberadaan,
       harkat, dan martabat kemuliaan kemanusiaan, serta menjaga
       keharmonisan kehidupan.
       Bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada
       diri manusia secara kodrati, universal, dan abadi sebagai anugerah
       Tuhan Yang Maha Esa. meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga,
       hak mengembangkan diri, hak keadilan. hak
       kemerdekaan. hak berkomunikasi. hak keamanan. dan hak
       kesejahteruan. yang oleh karena itu tidak boleh diabaikan atau
       dirampas oleh siapapun. Selan jutnya manusia juga mempunyai hak
       dan tanggung jawab yang timbul sebagai akibat perkembangan
       kehidupannya dalam masyarakat.
       Bahwa didorong oleh jiwa dan semangat Proklamasi Kemerdekaan
       Republik Indonesia, bangsa Indonesia mempunyai pandangan mengenai
       hak asasi dan kewajiban manusia. yang bersumber dari ajaran agama.
       nilai moral universal. dan nilai luhur budaya bangsa, serta
       berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
       Bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948 telah
       mengeluarkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal
       Declaration of Human Rights). Oleh karena itu bangsa Indonesia
       sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mempunyai tanggung
       jawab untuk menghormati ketentuan yang tercantum dalam deklarasi
       tersebut.
       Bahwa perumusan hak asasi manusia pada dasarnya dilandasi oleh
       pemahaman suatu bangsa terhadap citra. harkat. dan martabat diri
       manusia itu sendiri. Bangsa Indonesia memandang bahwa manusia
       hidup tidak terlepas dari Tuhannya. sesama manusia, dan lingkungan
       Bahwa bangsa Indonesia pada hakikatnya menyadari, mengakui, dan
       menjamin serta menghormati hak asasi.manusia orang lain juga
       sebagai suatu kewajiban. Oleh karena itu hak asasi dan kewajiban
       manusia terpadu dan melekat pada diri manusia sebagai pribadi,
       anggota keluarga, anggota masyarakat, anggota suatu bangsa dan
       warga negara serta anggota masyarakat bangsa-bangsa.
       Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, demi terwujudnya
       masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi hak asasi manusia,
       maka bangsa Indonesia menyatakan Piagam Hak Asasi Manusia.
       BAB I
       HAK UNTUK H1DUP
       Pasal I
       Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan
       kehidupannya.
       BAB II
       HAK BERKELUARGA DAN MELANJUTKAN KETURUNAN
       Pasal 2
       Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan
       melalui perkawinan yang sah.
       BAB III
       HAK MENGEMBANGKAN DIRI
       Pasal 3
       Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan da'sarnya uotuk
       tumbut berkembang secara layak.
       Pasal 4
       Setiap orang berhak atas perlindungan dan kasih sayang untuk
       pengembangan pribadinya, memperoleh, dan mengembangkan pendidikan
       untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
       Pasal 5
       Setiap orang berhak untuk mengembangkan dan memperoleh manfaat
       dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, demi
       kesejahteraan umat manusia.
       Pasal 6
       Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dengan memperjuangkan
       hal haknya secara kolektif serta membangun masyarakat, bangsa, dan
       negaranya.
       BAB IV
       HAK KEADILAN
       Pasal 7
       Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan
       perlal hukum yang adil.
       Pasal 8
       Setiap orang berhak mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang
       san hadapan hukum.
       Pasal 9
       Setiap orang dalam hubungan kerja berhak mendapat imbalan dan
       perlakuan yang adil dan layak.
       Pasal 10
       Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
       Pasal 11
       Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk bekerja.
       Pasal 12
       Setiap orang berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
       pemerintahan.
       BAB V
       HAK KEMERDEKAAN
       Pasal 13
       Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk
       beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
       Pasal 14
       Setiap orang berhak atas kebebasan menyatakan pikiran dan sikap
       sesuai hati
       Pasal 15
       Setiap orang bebas memilih pendidikan dan pengajaran.
       Pasal 16
       Setiap orang bebas memilih pekerjaan.
       Pasal 17
       Setiap orang bebas memilih kewarganegaraan.
       Pasal 18
       Setiap orang bebas untuk bertempat tinggal di wilayah negara,
       meninggalkannya, dan berhak untuk kembali.
       Pasal 19
       Setiap orang berhak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan
       mengeluarkan pendapat.
       BAB Vl
       HAK ATAS KEBEBASAN INFORMASI
       Pasal 20
       Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi
       untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.
       Pasal 21
       Setiap orang herhak untuk mencari, rnemperoleh, mcmiliki,
       menyimpan, mengolah, dan menyampaikan intormasi dengan menggunakan
       segala jenis saluran yang tersedia.
       BAB V11
       HAK KEAMANAN
       Pasal 22
       Setiap orang berhak atas rasa aman dan perlindungan terhadap
       ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbnat sesuatu yang
       merupakan hak asasi.
       Pasal 23
       Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga,
       kehormatan, martabat, dan hak miliknya.
       Pasal 24
       Setiap orang berhak mencari suaka untuk memperoleh perlindungan
       politik dari negara lain.
       Pasal 25
       Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan
       yang merendahkan derajat martabat manusia.
       Pasal 26
       Setiap orang berhak ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
       BAB VIII
       HAK KESEJAHTERAAN
       Pasal 27
       Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin.
       Pasal 28
       Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
       Pasal 29
       Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan
       yang layak.
       Pasal 30
       Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan kbusus di
       masa kanak-kanak, di hari tua, dan apabila menyandang cacat.
       Pasal 31
       Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
       pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
       Pasal 32
       Setiap orang berhak rnempunyai hak milik pribadi dan hak milik
       tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh
       siapapun.
       Pasal 33
       Setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layal;
       bagi kemanusiaan.
       BAB IX
       KEWAJIBAN
       Pasal 34
       Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang kehidupan
       bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
       Pasal 35
       Setiap orang wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
       Pasal 36
       Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib
       tunduk kepada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh
       Undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan
       serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk
       memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
       keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
       BAB X
       PERLINDUNGAN DAN PEMAJUAN
       Pasal 37
       Hak untuk hidup. hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran
       dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak. hak
       untuk diakui sebagai pribadi
       di hadapan hukum. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum
       yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
       dikurangi dalam keadaan apapun (non - derogable).
       Pasal 38
       Setiap orang berhak bebas dari dan mendapatkan perlindungan terh
       perlakuan yang bersifat diskriminatif.
       Pasal 39
       Dalam pemenuhan hak asasi manusia, laki-laki dan perempuan be
       mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama.
       Pasal 40
       Kelompok masyarakat yang rentan, seperti anak-anak dan fakir
       miskin, be mendapatkan perlindungan lebih terhadap hak asasinya.
       Pasal 41
       Identitas budaya masyarakat tradisional, termasuk hak atas tanah u
       dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.
       Pasal 42
       Hak warga negara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi
       dijamin dan dilindungi.
       Pasal 43
       Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi man
       terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah.
       Pasal 44
       Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan
       prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi
       manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
       perundang-undangan.
       
                                  [INLINE]

>From apakabar@saltmine.radix.net Fri Dec 11 15:26:05 1998
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id PAA29040
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:26:04 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [209.48.224.40])
        by mail1.radix.net (8.9.1/8.9.1) with ESMTP id PAA05692
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 11 Dec 1998 15:27:17 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id PAA29027;
        Fri, 11 Dec 1998 15:26:02 -0500 (EST)
Date: Fri, 11 Dec 1998 15:26:02 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199812112026.PAA29027@saltmine.radix.net>
To: apakabar@Radix.Net
Subject: tap-xviii.html
X-URL: http://www.detik.com/berita/tapmpr98/tap-xviii.html
Status: O

   [INLINE] [LINK]
   [Peta Situs..]
   
                                  [LINK]
                                      
             MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
                                      
   KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
   NOMOR XVIII/MPR/1998
   TENTANG
   PENCABUTAN KETETAPAN
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR Il/MPR/1978
   TENTANG PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA (EKAPRASETIA
   PANCAKARSA) DAN PENETAPAN TENTANG PENEGASAN PANCASILA SEBAGAI DASAR
   NEGARA
   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA.
   
   Menimbang :
    a. bahwa Pancasila sebagaimana yang dimaksud dalam Pembukaan
       Undang-Undang Dasar 1945, perlu ditegaskan posisi dan peranannya
       dalam kehidupan bernegara;
    b. bahwa ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
       Nomor II/MPR/ 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
       Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) yang materi muatan dan
       pelaksanaannya tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan
       bernegara, perlu dicabut;
    c. bahwa berhubung dengan itu perlu adanya Ketetapan Majelis
       Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk mencabut Ketetapan
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/l
       978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
       (Ekaprasetia Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila
       sebagai dasar negara.
       
   Mengingat :
    1. Pasal 1, Pasal 2, dan Pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945;
    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah
       dan ditambah terakhir dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/1998.
       
>Memperhatikan :
    1. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
       Indonesia Nomor 10/PIMP./1998 tentang Penyelenggaraan Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    2. Permusyawaratan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tanggal 10 sampai dengan 13 November
       1998 yang membahas Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
       Rakyat Republik Indonesia tentang Pencabutan dan Penggantian
       Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
       I1/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
       (Ekaprasetia Pancakarsa) yang dipersiapkan oleh Badan Pekerja
       Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;
    3. Putusan Rapat Paripurna Ke- 4 tanggal 13 November 1998 Sidang
       Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tanggal
       10 sampai dengan 13 November 1998.
       
   MEMUTUSKAN
   Menetapkan : KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK
   INDONESIA TENTANG PENCABUTAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA NOMOR II,'MPR/1978 TENTANG PEDOMAN PENGHAYATAN DAN
   PENGAMALAN PANCASILA (EKAPRASETIA PANCAKARSA) DAN PENETAPAN TENTANG
   PENEGASAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA.
   Pasal I
   Pancasila seba,gaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
   1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus
   dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.
   Pasal 2
   Dengan ditetapkannya Ketetapan ini, maka Ketetapan Majelis
   Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor Il/MPR/1978 tentang
   Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa)
   dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
   Pasal 3
   Ketetapan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
   Ditetapkan di Jakarta
   Pada tanggal 13 November 1998
   
   MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
   REPUBLIK INDONESIA
   
                                   KETUA,
                                      
                                 H. Harmoko
                                      
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   Hari Sabarno, S.IP., M.B.A., M.M. dr. Abdul Gafur
   
   WAKIL KETUA, WAKIL KETUA,
   H. Ismail Hasan Metareum, S.H Hj. Fatimah Achmad,
   S.H.
   
                                WAKIL KETUA,
                                      
                             Poedjono Pranyoto
                                      
                                  [INLINE]