[INDONESIA-L] Lebih Lanjut dgn Revo (r)

From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Jan 11 1999 - 08:52:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jan 11 12:51:01 1999
Date: Mon, 11 Jan 1999 10:51:13 -0700 (MST)
Message-Id: <199901111751.KAA05177@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Lebih Lanjut dgn Revolusi Kultur menuju Kulture Kesetaraan (6)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Lebih Lanjut Dengan Revolusi Kultur Menuju Kultur Kesetaraan (6)
Date: Mon, 11 Jan 1999 06:52:56 +0800

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (6)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Revolusi Kultur suatu ide percepatan menuju Kultur
Kesetaraan.

Dalam tulisan-tulisan terdahulu dalam seri tulisan ini
ada beberapa butir-butir kesimpulan yang mendasari
pemikiran bahwa ide Revolusi Kultur bisa merupakan
suatu alternatif cara percepatan menuju Kultur
Kesetaraan yang sebagai suatu pra-sarana menuju
masyarakat yang adil dan makmur, butir-butir itu
adalah :

1. Secara prinsip peradaban manusia telah
mengalami perubahan, yang berarti pada hakekatnya
manusia (disadari atau tidak) tidak anti perubahan
yang bisa diartikan bahwa prospek kerarah perubahan
dari kultur yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia
saat ini menuju kultur yang lebih kondusif (dalam hal
ini kultur kesetaraan) untuk mencapai cita-cita bangsa
adalah 'dimungkinkan'. Faktornya dalam hal ini,
seberapa sulit untuk dirubah, seberapa besar daya
yang diperlukan untuk merubahnya, dan seberapa
jauh perubahan mendapat dukungan dari anggota
masyarakat secara luas. .
2. Perubahan peradaban manusia mengalami
percepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya
sejak terjadinya revolusi industri di Eropa pada abad
ke 14/15. Lebih-lebih lagi pada abad ke 20 yang
disebutkan oleh Alvin Toffler sebagai awal dari
Gelombang Ke Tiga - Abad Informasi - dimana
kemajuan tehnologi informasi dan telekomunikasi
menjadi pendukung utama perubahan yang sangat
cepat dan perubahan yang terjadi disuatu negara bisa
mengakibatkan pengaruh berantai secara Global
terhadap negara2 yang lain. Jadi konsep evolusi tidak
berlaku lagi pada saat ini, yang ada adalah perubahan
dengan cepat yang berarti 'revolusi'.
3. Walaupun secara prinsip perubahan itu
dimungkinkan tetap ada faktor 'resistance to change'
atau 'hambatan untuk berubah' dari kelemahan kultur
saat ini (kultur feodal, kultur budak, dan kultur hidup
santai) yang dalam hal bangsa Indonesia adalah :
- Yang sifatnya 'kedalam' yaitu berupa akar budaya
yang terlalu kuat mengakar yang untuk merubahnya
diperliukan suatu daya dobrak yang luar biasa.
- Yang sifatnya 'fisik keluar' yaitu struktur 'vested
interest' yang sengaja menghambat perubahan karena
merasa diuntungkan dengan kondisi bangsa dengan
kultur yang ada sekarang yang dengan sengaja dan
segala daya upaya mempertahankan 'status quo'.
- Faktor pendidikan yang kurang merata sehingga
terjadi intelektual gap yang terlalu jauh antara
pemimpin dan yang dipimpin.

Melihat parameter diatas jelas bukan hal yang mudah
untuk melaksanakan suatu REVOLUSI KULTUR
menuju KULTUR KESETARAAN walaupun dari segi
tuntutan zaman - arus percepatan persaingan Global
yang tak mungkin dibendung - mengharuskan bangsa
Indonesia untuk melaksanakannya kalau ingin
mencapai masyarakat adil dan makmur dengan waktu
yang relatif lebih cepat.

Hubungan antara Revolusi Sosial dan Revolusi Kultur.

Seperti yang pernah penulis jelaskan dalam tulisan
terdahulu bahwa Bung Karno pernah mengatakan
bahwa komunisme adalah anak kandung kapitalisme,
hal ini yang secara mudah bisa menjelaskan kenapa
revolusi sosial bisa terjadi didalam suatu masyarakat
yaitu apabila kapitalisme berkembang sedemikian
rupa tanpa kendali (dan ini terjadi di Indonesia selama
32 tahun pemerintahan 'orde baru') sehingga terjadi
suatu gap yang terlalu jauh antara klas pekerja/buruh
dengan kaum pemodal dan klas pekerja / buruh
mendapat tekanan yang terus menerus untuk
menerima kondisi kerja yang buruk dan kaum
pemodal yang medapat dukungan penuh dari
penguasa yang menggunakan alat keamanan / ABRI
sebagai alat penekan secara represif apabila ada
tuntutan buruh untuk perbaikan nasib mereka.
Kehidupan yang diperlihatkan oleh kaum konglomerat
- yang mewakili kaum kapitalis - beserta para
pendukungnya dari kalangan pejabat / penguasa baik
sipil ataupun militer - yang juga bersikap sebagai
kapitalis birokrat - yang menguasai kantong-kantong
daerah mewah di perkotaan yang dengan secara
kontras sangat menyolok dengan kehidupan rakyat
jelata di daerah kumuh yang berjarak hanya bilangan
meter satu sama lain, tanpa orang belajar teori
komunisme-pun dengan mudah meramalkan adanya
kerawanan Revolusi Sosial. Karena kesabaran rakyat
ada batasnya, dimana rasa ke-tidak adilan perlakuan,
ketidak adilan memperoleh kesejahteraan sosial yang
memadai, dan arogansi kekuasan dengan mudah
akan menjadi pencetus gelombang anarki Revolusi
Sosial. Jadi Revolusi Sosial adalah akibat langsung
dari kemarahan rakyat terhadap kaum pemodal dan
penindas yang menyebabkan kondisi ketimpangan
sosial yang pada suatu saat tidak tertahankan lagi
oleh rakyat jelata. Bagi rakyat jelata dengan ikut serta
sebagai 'perusuh' adalah sikap 'nothing to loose'
karena kalau mereka hidup dengan kondisi yang
sangat miskin, harapan maupun kesulitan hidup
bahkan hanya untuk sekedar 'survive' juga sangat
berat, dengan mengikuti gerakan 'kerusuhan' adalah
sejumput harapan adanya suatu perubahan.
 
Bahwa Revolusi Sosial juga telah terjadi sebagai
pencetus Revolusi Kultur di negara-negara Eropa yaitu
dengan diawali dengan Revolusi Perancis pada abad
17 sampai dengan Revolusi Rusia pada abad ke 19
yang membawa Eropa kepada peralihan Kultur Feodal
menjadi Kultur Kesetaraan Manusia.

Dalam hal Cina juga terjadi Revolusi Sosial yang
menumbangkan 'monarchi' dan menghapuskan sistim
feodal tetapi hal ini dianggap kurang memadai
sehingga Partai Komunis Cina menganggap perlu
diadakan lebih lanjut dengan Revolusi Kultur pada
tahun 1967 untuk lebih lanjut merombak kultur yang
negatif dari masyarakat Cina - dan Revolusi Kultur ini
juga memberi bekas korban secara fisik yang cukup
besar.

Jadi dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa
Revolusi Sosial bisa menjadi titik tolak terjadinya
Revolusi Kultur, tapi bukan menjadi jaminan karena
Revolusi Sosial yang terjadi bisa saja hanyalah sikap
anarki dari pelampiasan kemarahan semata tanpa ada
suatu tujuan kearah perubahan Kultur. Bahkan dalam
pengalaman pada zaman Belanda, tekanan sosial
telah menimbulkan secara sporadis revolusi sosial
yang selalu bisa diatasi dengan kekerasan oleh
penjajah Belanda.

Gerakan Revolusi Sosial baru bisa merupakan
gerakan perubahan Kultur kalau dilakukan secara
sadar oleh para 'elite intelektual' untuk dijadikan
momentum perubahan kultur. Perubahan secara nyata
tidak mungkin diserahkan kepada massa yang tidak
teroganisir. Peranan 'elite intelektuil' sebagai pencetus
/pemikir harus mampu mentransformasikan kedalam
suatu gerakan organisasi sosial / politik yang pada
akhirnya merubah sistim struktural yang mengacu
kepada penghargaan terhadap kesetaraan manusia
yang meluaskan kesadaran kesetaraan manusia
kepada masyarakat yang lebih luas.

Jadi sebetulnya yang lebih terutama bukanlah gerakan
Revolusi Sosial itu sendiri yang mampu melakukan
transformasi Kultur - walaupun Revolusi Sosial bisa
dijadikan suatu 'driving force'-yang lebih penting adalah
'elite intelektual' yang mampu menjadi'agent of change'
atau 'agen perubahan' yang mampu mempengaruhi
organisasi sosial politik yang ada untuk secara
ber-sama2 memperjuangkan transformasi kultur saat
ini (kultur feodal, kultur budak, kultur hidup santai)
menjadi Kultur Kesetaraan manusia.

Apakah mungkin terjadi suatu Revolusi Kultur tanpa
'driving force' Revolusi Sosial. Apa yang telah terjadi
dalam sejarah momentum Revolusi Sosial melawan
monarchi di Eropa dan Cina telah dijadikan 'driving
force' - mengingat budaya yang mengakar sangat kuat,
dobrakan yang sangat kuat diperlukan untuk suatu
perombakan kultur - momentum untuk menghapuskan
kultur feodal.

Di Indonesia,selalu ada ide untuk melakukan lompatan
katak (frog jumping)yang dari pengalaman selalu gagal
- seperti ide lompatan katak penguasaan tehnologi
tinggi ala Habibie sewaktu menjadi Menteri Ristek
dengan program tehnologi dirgantara yang saat ini
mendekati kebangkrutan..

Pada hakekatnya Revolusi Sosial sudah dimulai di
Indonesia saat ini, dengan kejatuhan rezim Soeharto
pada tanggal 22 Mei 1998.Rakyat tidak lagi takut pada
polisi, bahkan tidak takut lagi pada tentara / ABRI.
Beberapa kejadian fasiltas negara baik sipil dan militer
diserang dan dibakar musnah, apalagi kalau ini bukan
suatu gejala Revolusi Sosial yang sudah mulai yang
kalau tidak dicegah atau dicermati akan bisa
mengakibatkan skala kerusakan yang lebih besar dan
hasilnya menuju suatu arah kemana, kita sama-sekali
tidak tahu, jadi gerakan masyarakat bisa murni anarki
sebagai akibat ketidak percayaan rakyat kepada
aparat penguasa baik sipil ataupun militer. Apakah
kita sedang digerakkan menuju suatu masyarakat
komunis - penulis sangat meragukan ini yang sedang
terjadi.

Kalau kita menghendaki kondisi saat ini tidak menjadi
suatu Revolusi Sosial dengan skala eskalasi yang
lebih besar, tidak lain dan tidak bukan haruslah ada
gerakan 'rational' dari kaum 'elite intelektual' dalam
mempengaruhi organisasi sosial politik yang ada untuk
menggunakan momentum saat ini untuk :
- mencegah terjadinya lebih lanjut eskalasi Revolusi
Sosial.
- tetap menggunakan momentum yang ada untuk
melakukan aksi Revolusi Kultur secara damai dalam
rangka transformasi sosial dari kelemahan kultur
feodal, kultur budak, dan kultur hidup santai menuju
kultur kesetaraan manusia dengan suatu kampanye
pendidikan melalui jalur mass - media maupun jalur
pendidikan formal, dan bahkan juga jalur pendidikan
agama bahwa pada hakekatnya manusia adalah setara
dan jangan memperbudak dan jangan mau diperbudak
oleh siapapun - kegagalan untuk meyakinkan rakyat
bahwa mereka diperlakukan secara adil / setara atau
paling tidak rakyat percaya bahwa ada organisasi
sosial politik yang sedang memperjuangakn nasib
mereka, kemungkinan akan terjadi eskalasi Revolusi
Sosial yang anarkis adalah sangat besar.
- berjuang secara terus menerus untuk melakukan
tekanan agar struktur 'vested interest' yang ingin
mempertahankan 'status quo' (agar kultur saat ini terus
dipertahankan), dan bisa digantikan dengan struktur
yang lebih akomodatif terhadap kesetaraan hak-hak
& kewajiban rakyat. Yang secara aktual pemerintahan
saat ini yang secara struktural mendasarkan diri dari
konsep paternalistik yang feodal dan fasis harus
digantikan dengan struktur pemerintahan yang murni
demokratis yang secara konsekwen menetrapkan 'trias
politika' dengan mendistribusikan kekuasaan secara
setara diantara kekuasan eksekutif, legislatif, dan
judikatif. Disamping itu adalah keharusan bahwa ABRI
tidak lagi ikut campur lagi terhadap masalah politik
dengan menghapuskan DWIFUNGSI ABRI dan ABRI
kembali kebarak - karena keikut sertaan militer dalam
bidang politik penghambat utama pelaksanaan
demokrasi yang lebih murni.

Transformasi sosial tidak selalu bisa direkayasa,
melihat beberapa 'driving force' dari faktor 'agent of
change', 'resistance to change', dan 'structural status
quo' apa yang akan terjadi adalah reaksi timbal balik.

Kalau 'driving force' dari 'agent of change' sama kuat
dengan 'resistance to change' dari 'structural status
quo' kemungkinan eskalasi kekerasan akan makin
meningkat sampai diketahui secara final - seperti
halnya Revolusi Amerika ketika terjadi perang saudara
yang satu pihak ingin mempertahankan perbudakan
dan satu pihak ingin menghapuskannya - siapa
menang siapa kalah.

Kalau 'agent of change' mendapat dukungan yang
sangat luas baik dari rakyat jelata maupun organisasi
sosial dan politik, saya kira 'structural status quo' tidak
akan mampu bertahan.

Kalau kalangan 'resistance to change' dari kalangan
'structural status quo' lebih kuat, kita harus siap-siap
untuk dijajah kembali oleh bangsa kita sendiri.

Revolusi Kultur sebagai gerakan moral.

(Bersambung)

January 1999.