[INDONESIA-L] Awas Siaran Televisi

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Jan 19 1999 - 12:12:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Jan 19 16:10:32 1999
Date: Tue, 19 Jan 1999 14:11:02 -0700 (MST)
Message-Id: <199901192111.OAA00852@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Awas Siaran Televisi Membahayakan Kecerdasan Bangsa
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "Warsidjati Setiyono" <wpedan@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Awas Siaran Televisi Membahayakan Kecerdasan Bangsa
Date: Tue, 19 Jan 1999 05:48:06 PST

      Awas Siaran Televisi Membahayakan Kecerdasan Bangsa

Melihat acara televisi sungguh membosankan dan menyebalkan.
Akhir2 ini televisi kembali menjadi alat pembodoh bangsa.
Walau koran sangat bebas, namun bila televisi masih digunakan
sebagai media propaganda "Regim Status Quo" (RSQ), ya sama
saja dengan jaman ORBA.

Bayangkan saja, slot waktu untuk Sri Mulat, Yoshua, dsb.
jauh lebih banyak daripada tampilnya kaum pakar/intelektual.
Politisasi agama sangat kental: wajah2 militer dengan memakai
identitas2 keagamaan hampir ada disetiap berita. Kaum ulama
dikerahkan habis2an untuk memberikan cap bagi Habibie dan
Kabinetnya sebagai "Satu2nya Pembela Islam". Apalagi disaat
bulan puasa; pelecehan/politisasi agama makin menggila!
Mereka juga diperalat untuk melemahkan atau bahkan menodai
dinamika mahasiswa.
Seolah-olah dipropagandakan siapa melawan RSQ berarti
melawan agama Islam dan melawan ABRI.

Yang banyak diwawancara adalah orang2/pakar2 yang pro RSQ.
Misalnya Yapto (ketua Preman Pancasila), bukannya Arbi Sanit;
dai sejuta dolar (Zaenudin MZ), bukannya Emha, dst.
Acara yang menambah kecerdasan otak banyak yang hilang,
misalnya dialog yang diasuh Dr. Syahrir dan dialog2 bermutu
lainnya.

Televisi, karena jangkauannya yang nasional, mampu membuat
seseorang menjadi tokoh nasional. misalnya saja Yoshua si jago
obok2. Sebaliknya tokoh seperti HB X, Amien Rais, Megawati,
apalagi para tokoh mahasiswa hampir tidak pernah mendapat
kesempatan tampil, sehingga nama mereka menjadi pudar.
Apalagi tokoh2 luar Jawa, tak ada tempat!
Kampanye GOLKAR dengan Akbar Tanjung terus dicover secara
khusus. Tv kembali dipenuhi HARMOKO2 (HARI2 OMONG KOSONG)
yang baru!

Sungguh, televisi (baik pemerintah maupun swasta) saat ini
dapat dikatakan membahayakan reformasi! Membahayakn kesehatan
kecerdasan bangsa! Bangsa Indonesia membutuhkan pemancar
televisi yang baru (hasil reformasi) berikut sistem siaran
yang bebas merdeka. Apakah ini yang menyebabkan dicopotnya
sdr. Ishadi?
Para mahasiswa, tolong masukan dalam agenda reformasimu, yakni
tentang sistem penyiaran televisi...sebab hal ini akan
sangat mempengaruhi jalan dan kecepatan reformasi.
Kami, kaum intelektual, mulai bosan mengikuti siaran televisi,
untunglah ada apakabar net, Suara Nederland dan BBC seksi Indonesia!

Haryo Mataram
Pengamat Sospol pro Reformasi