[INDONESIA-L] FORUM - DOM Dicabut,

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Jan 20 1999 - 15:36:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jan 20 19:33:20 1999
Date: Wed, 20 Jan 1999 17:32:56 -0700 (MST)
Message-Id: <199901210032.RAA03702@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] FORUM - DOM Dicabut, tapi Rakyat Masih Mengamuk
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.forum.co.id/EDISI/21071999/forum_7.html

      Mon, 11 Jan 1999 03:03:17 GMT
      
   DOM DICABUT, TAPI RAKYAT MASIH MENGAMUK
   
   MUNAWAR CHALIL, ARIF RUSLI, DAN RIZALDI ANWAR (LHOKSEUMAWE)
     _________________________________________________________________
   
   ENAM ANGGOTA ABRI TEWAS DI TANGAN MASSA YANG DIDUGA SIMPATISAN GERAKAN
   ACEH MERDEKA (GAM). AKSI BALASAN ABRI MENEWASKAN BELASAN WARGA. TAPI,
   BANYAK YANG TAK SEPAKAT JIKA AKSI MASSA ITU SEMATA-MATA DIDALANGI GAM.
   APA SEBENARNYA YANG TERJADI DI TANAH RENCONG?
   
   Tanah Rencong kembali jadi palagan. Usai sahur, Ahad, 3 Januari 1999,
   pasukan gabungan Brimob dan Angkatan Darat menyerbu Desa Kandang, dua
   kilometer dari pusat kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Tergabung dalam
   "Operasi Wibawa '99", mereka datang mencari aktivis Gerakan Aceh
   Merdeka (GAM) bernama Muhammad bin Rasyid alias Ahmad Kandang. Ia
   diduga mendalangi penculikan dan pembunuhan beberapa anggota ABRI di
   Lhoknibong, Aceh Timur, 29 Desember 1998.
   
   Namun, Ahmad tak ada. Aparat pun menciduk Imam Masjid Meunasah Blang,
   Teungku Ibrahim. Warga yang tak rela--sebagian besar anak-anak dan
   wanita--berkumpul di halaman meunasah (langgar). Tapi, mereka tak bisa
   mencegah ketika aparat menangkap tiga pemuda yang diduga mengetahui
   keberadaan Ahmad Kandang.
   
   Pagi itu juga, kabar penyerbuan Kandang menyebar ke Pusong di
   Lhokseumawe. Ratusan warga desa nelayan itu lantas berbaris menuju
   Kandang yang terpaut sekitar lima kilometer. Di antara mereka, tampak
   beberapa pemuda menyandang senapan AK-47. Mereka dikelilingi wanita
   dan orang tua yang menggendong anak-anak. Tapi, baru berjalan 500
   meter, barisan itu terhadang aparat yang melepas tembakan ke udara.
   Massa lalu berbelok menuju Pendapa Bupati. Tapi, lagi-lagi mereka
   terhenti blokade pasukan ABRI.
   
   Massa pun kembali ke Pusong. Namun, seperti diceritakan beberapa saksi
   mata, mereka malah ditembaki aparat. Lima orang, termasuk seorang
   wanita, tewas. Sedangkan 25 lainnya--termasuk bayi berusia
   setahun--luka tertembak. Sebagian korban tertembak di punggungnya.
   Tapi, kepada FORUM, Komandan Korem Lilawangsa, Kolonel Johny Wahab,
   membantah jika pihaknya disebut sengaja menembaki warga. Menurut dia,
   mereka justru ditembak anggota GPL (Gerakan Pengacau Liar) yang berada
   di tengah massa.
   
   Sejak itu, seluruh jalan kota diblokade aparat. Pasar-pasar dan
   pertokoan tutup. Raungan helikopter yang terbang hilir-mudik memecah
   keheningan kota. Hari itu, Lhokseumawe yang biasanya ramai bak kota
   hantu.
   
   Selain ke Pusong, kabar penyerbuan Kandang juga menjalar ke Simpang
   Kramat, 10 kilometer selatan Lhokseumawe. Ratusan warga desa itu
   berkumpul di depan meunasah, seakan menanti pasukan ABRI. Seorang ibu
   yang ditemui FORUM bersaksi: lima tentara langsung menembak kerumunan
   massa. Ia sempat melihat peluru menembus mata seorang remaja. Padahal,
   "Jangankan senjata, batu pun tidak ada di tangan kami saat itu,"
   katanya, terisak.
   
   Pagi itu, lima penduduk terkapar tak bernyawa.
   
   ' Malamnya, bentrokan merambat ke Simpang Mulieng, 28 kilometer di
   timur Lhokseumawe. Di sini, 12 orang tertembak aparat dan enam di
   antaranya dikabarkan tewas.
   
   Namun, kelompok Ahmad Kandang--yang oleh aparat disebut Gerakan
   Pengacau Liar Hasan Tiro (GPLHT)--tak tinggal diam. Sepanjang hari
   itu, mereka mengamuk dengan membakari kantor Camat, Polsek, Imigrasi,
   Dinas Pajak, Kantor Statistik, dan Pengadilan Negeri di dekat Kandang.
   Mereka juga merobohkan tiang-tiang listrik untuk menghambat pergerakan
   pasukan ABRI.
   
   Esoknya, aparat menggerebek Masjid Attaqwa di Pusong Lama. Sebab,
   menurut Kapolres Aceh Utara, Letkol Iskandar Hasan, yang memimpin
   "Operasi Wibawa '99", para aktivis GAM menjadikan rumah ibadah itu
   sebagai markas. "Mereka mencemari masjid dengan menggunakannya sebagai
   tempat menghasut rakyat," katanya.
   
   Di masjid itu, selain menangkap 15 pemuda, polisi juga menyita mesin
   ketik, selebaran berbahasa Aceh, dan bendera Aceh Merdeka.
   
   Hasil dari dua hari ketegangan itu adalah 11 warga tewas dan 40-an
   lainnya luka-luka. Itu baru angka resmi yang tercatat di RSU
   Lhokseumawe. Tak termasuk korban yang langsung dikuburkan keluarganya
   atau dirawat di rumah. Sementara, 170 orang ditahan dan sebagian besar
   baru dilepas empat hari kemudian. Tapi, baik ABRI maupun kawanan massa
   GAM, masih melakukan berbagai razia hingga Jumat lalu.
   
   Semua prahara itu tampaknya bermula dari isu ninja yang bertiup di
   masyarakat Aceh Utara sejak dua bulan silam. Menurut isu tadi,
   kelompok bertopeng itu bergentayangan untuk membunuh ulama di
   desa-desa. Meski isu itu dibantah aparat, masyarakat tetap tak
   percaya. Mereka menggelar sweeping mencari ninja.
   
   Yang kerap terkena razia tampaknya adalah anggota ABRI. Itu terlihat
   ketika segerombolan massa mencegat sedan Mayor S.P. Harahap dan
   istrinya di kawasan Buket Rata, sekitar 20 kilometer dari Lhokseumawe,
   dinihari 21 Desember silam. Perwira Korem Lilawangsa itu babak belur,
   sementara istrinya dibacok karena menolak menyerahkan tas berisi
   pistol suaminya.
   
   Beberapa jam sebelumnya, massa mengamuk di Bayu, tak jauh dari Buket
   Rata. Selain mengobrak-abrik markas Koramil dan Kantor Camat, mereka
   memukuli beberapa anggota Koramil. Isunya, massa marah akibat ulah
   Babinsa Sersan Razali yang menyita mukena seorang wanita yang hendak
   tarawih.
   
   Puncaknya adalah sweeping di Lhoknibong pada 29 Desember 1998. Pagi
   itu, ribuan massa menyetop setiap mobil dan bus yang lewat dan
   memeriksa KTP penumpangnya. Kabarnya, mereka mencari ninja yang akan
   membunuh para ulama di sekitar Lhoknibong. Kebetulan, di dalam bus
   "Kurnia" yang sedang menuju Medan itu ada 18 anggota Batalyon Infantri
   113 Jaya Sakti yang bermarkas di Bireuen, Aceh Utara, dan hendak cuti
   Natal ke Medan, Sumatra Utara. Sialnya, enam di antara mereka tak
   ber-KTP. Sehingga, massa pun menggiring mereka ke belakang deretan
   toko. Ternyata, mereka disiksa hingga tewas. Beberapa hari kemudian,
   mayat mereka ditemukan secara terpisah di sekitar aliran Sungai
   Arakundoe. Kecuali Praka Respon Sialagan, semua prajurit yang tewas
   itu berpangkat pratu dan prada.
   
   Pada hari yang sama, ratusan warga Desa Paloh juga menggelar razia.
   Kabarnya, mereka menangkap seorang anggota Marinir yang kebetulan
   lewat. Kabar itulah yang hendak dicek Mayor (Marinir) Edianto bersama
   empat Babinsa Koramil Muara Dua. Tapi, rombongannya malah disergap.
   Tiga Babinsa berhasil lolos, sementara Edianto dan Serda Syaifuddin
   disekap massa.
   
   Sampai berita ini ditulis Sabtu pagi pekan silam, Ahmad Kandang belum
   juga tertangkap dan kedua sandera itu belum ditemukan. Padahal,
   Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen Ismed Yuzairi, telah mengirim bantuan
   4 SSK pasukan dari Medan. Sebetulnya, kata Johny, pihaknya tidak
   pernah berpikir untuk menggunakan kekerasan. "Kami sudah memohon
   dengan bahasa yang merendah agar mereka dibebaskan," kata Johny Wahab.
   Dua hari setelah penyanderaan, ia mengirim helikopter untuk menebar
   selebaran di atas beberapa desa yang diduga tempat penyekapan.
   
   Tapi, ajakan musyawarah lewat selebaran itu ditampik melalui telepon
   ke Markas Korem. Karena itulah, setelah berpikir tiga hari, Johny
   memutuskan menyerbu Kandang, kampung halaman Ahmad.
   
   Sejauh ini, Ahmad Kandang dianggap aparat sebagai tokoh di balik
   berbagai aksi tadi. Tokoh misterius yang konon memiliki banyak
   simpatisan, sejak beberapa bulan silam, tampak rajin keluar masuk
   kampung untuk mengajak rakyat ikut GAM. Sementara, "Aparat desa tak
   bisa mencegah karena diancam akan dibunuh," kata Bupati Aceh Utara,
   Tarmizi Karim.
   
   Dan memang, berkat para simpatisan itulah Ahmad selalu lolos dari
   sergapan polisi. Contohnya pada 15 November 1998. Saat itu, ia
   menggunakan tameng massa untuk melarikan diri seraya menembak barisan
   polisi. Akibatnya, seorang anggota Brimob dan empat warga Kandang
   tewas. Setelah itu, massa yang marah membakar gedung RRI, tak jauh
   dari Kandang.
   
   Tapi, ada juga yang menuduh Ahmad justru provokator yang digunakan
   untuk "meratakan jalan" bagi ABRI untuk kembali ke Aceh. Dengan kata
   lain, jika kerusuhan terus terjadi, Aceh bisa kembali di-DOM-kan. "Dia
   termasuk yang dibawa pulang ABRI dari Malaysia bersama Ishak Daud dan
   dibina sebagai provokator," kata seorang tokoh penting di Lhokseumawe.
   
   Tentu saja tuduhan itu ditampik aparat. "Untuk apa kami merekayasa?
   Kami justru mau persoalan di sini diselesaikan secara damai. Tanpa
   darah lagi," kata Johny.
   
   Begitu pula dengan isu pengembalian status DOM di Aceh. "Kami tidak
   emosional, meski anggota kami diperlakukan di luar batas kemanusiaan,
   tidak akan ada DOM baru," kata Pangab Jenderal Wiranto.
   
   Di samping itu, kalangan aktivis HAM meragukan jika aksi-aksi tadi
   cuma akibat agitasi GAM. Sebab, "Itu masih terkait dengan rentetan
   peristiwa sebelumnya," kata anggota Komnas HAM, Albert Hasibuan, yang
   bersama tiga rekannya turun ke Aceh pada Rabu pekan silam.
   
   Yang dimaksudnya adalah berbagai kasus pelanggaran HAM ekses penerapan
   DOM pada 1989-1998. Hingga kini, belum satu kasus pun yang dibawa ke
   pengadilan. Padahal, urusan itulah yang meresahkan dan mengecewakan
   rakyat Aceh. "Kawasan yang rusuh kemarin itu adalah daerah yang paling
   banyak menanggung ekses DOM," kata Koordinator Forum Peduli HAM Aceh,
   A. Gani Nurdin. Sebelum ini, kata Gani, kekecawaan rakyat itu sudah
   terlihat lewat aksi-aksi pembantaian cuak (informan) semasa DOM
   berlaku.
   
   Jalan keluar lain adalah menggelar rekonsiliasi antarmasyarakat Aceh
   dalam waktu dekat. Namun, seorang pentolan GAM di Swedia, Zaki
   Mubarak, menolak ide itu. "Kami tak akan berdamai jika Aceh tak
   merdeka," katanya kepada FORUM.
   
   GAM boleh menolak. Tapi, sebagian besar rakyat Aceh ingin hidup damai.
   Jumat pekan silam, Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud dan puluhan tokoh
   lainnya menemui Presiden Habibie untuk memintanya menyelesaikan
   berbagai persoalan. Termasuk mengadili para pelanggar HAM semasa DOM
   dan meminta porsi keuangan yang lebih besar bagi Aceh di masa datang.
   
   Reaksi Habibie positif. Ia memberikan komitmen untuk menyelesaikan
   kasus-kasus pelanggaran HAM tadi melalui Dewan Penegakan Keamanan dan
   Sistem Hukum (DPKSH) yang ia pimpin.
   
   Meski begitu, tuntutan perimbangan keuangan pusat-daerah yang lebih
   adil belum bisa segera terwujud. Pasalnya, pemerintah baru akan
   menggodok RUU tentang pembagian rezeki pusat dan daerah itu. Padahal,
   isu ketakadilan "kue pembangunan" itulah yang terus digunakan aktivis
   GAM untuk mengajak Rakyat Aceh keluar dari Republik ini.
     _________________________________________________________________
   
   Kembali Ke Index