[INDONESIA-L] KMP - Jam Malam di Am

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Jan 21 1999 - 15:43:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Jan 21 19:01:19 1999
Date: Thu, 21 Jan 1999 17:01:54 -0700 (MST)
Message-Id: <199901220001.RAA07648@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Jam Malam di Ambon
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/9901/22/UTAMA/jam01.htm

   Jumat, 22 Januari 1999
   Jam Malam di Ambon
   
   Ambon, Kompas
   
   Atas dasar kesepakatan bersama dengan para tokoh agama di Ambon,
   Gubernur Maluku M Saleh Latuconsina hari Kamis (21/1) memutuskan akan
   memberlakukan jam malam mulai hari Jumat ini untuk kawasan Pulau Ambon
   dan Maluku.
   
   Keputusan itu diambil Latuconsina setelah mengadakan perundingan
   dengan Ketua MUI Maluku RR Hasanussi, Ketua Harian Sinode Gereja
   Protestan Maluku Pdt Semmy Titaley, Uskup Ambon Mgr Mandagi MSC, dan
   sejumlah tokoh agama dan masyarakat.
   
   Keputusan itu didukung Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku
   Kolonel (Pol) Karyono Sm dan Pangdam Trikora Mayjen TNI Amir
   Sembiring. Meskipun demikian, Kapolda Maluku belum memberikan perintah
   tembak di tempat terhadap perusuh maupun provokator kerusuhan.
   
   Dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin, Kepala Kepolisian RI (Kapolri)
   Letjen Pol Roesmanhadi merinci, kerusuhan di Ambon telah meluas ke
   pulau terdekat, yakni Seram dan Pulau Sulabesi, tepatnya di Kecamatan
   Sanana. Namun, sejauh ini polisi belum menangkap seorang tersangka pun
   dalam kerusuhan tersebut.
   
   Secara terinci Kapolri menguraikan, jumlah korban yang tercatat sampai
   hari Kamis, di Ambon, 22 orang tewas, 102 orang luka berat, 35 orang
   luka ringan, dan tiga polisi lika berat. Selain itu, massa telah
   membakar 88 rumah (dan merusak 19 lainnya), 3 gereja, 3 masjid, 33
   toko, 12 kios, 2 pasar, 22 mobil, 25 sepeda motor, dan 216 becak.
   
   Sedangkan di Pulau Sanana, menurut Kapolri, tercatat dua warga tewas
   dan dua gereja dirusak. Semua yang tewas itu adalah akibat perkelahian
   antarwarga, bukan akibat tembakan aparat keamanan. "Belum ada laporan
   tentang korban penembakan," katanya.
   
   Karena ketakutan, sebanyak 3.950 warga terpaksa mengungsi ke Markas
   Polda Maluku, Polres, Polsek, dan Asrama Polisi, maupun di pangkalan
   angkatan laut Ambon. Untuk membantu para pengungsi, ABRI telah
   berkoordinasi dengan pihak Departemen Sosial dan Departemen Kesehatan
   setempat guna pengadaan bahan makanan dan obat-obatan.
   
   "Pela-gandong"
   
   Gubernur Latuconsina mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan
   penyelesaian secara adat pela-gandong, memperkukuh hubungan
   kekerabatan antar-umat beragama. Bersama tokoh agama Kristen dan Islam
   ia akan berdialog dengan warga, dan meminta warga menahan diri.
   
   Kapolda Maluku Kolonel (Pol) Karyono Sm yang juga dihubungi, Kamis
   sore, menjelaskan, anggota Muspida, termasuk gubernur, para tokoh
   agama, dan pemuka masyarakat ini turun ke jalan membentangkan spanduk
   mengajak umat Kristen dan Islam untuk saling menjaga keamanan,
   kerukunan, dan menahan diri agar kerusuhan tidak merebak lebih parah.
   
   Kolonel Karyono mengungkapkan, untuk meredam pergerakan massa dari
   kubu-kubu yang terlibat konflik di daerahnya, saat ini telah
   diterjunkan sedikitnya 16 satuan setingkat kompi (SSK) aparat
   keamanan. Ke-16 SSK itu, terdiri dari enam kompi dari Polda Maluku,
   dua kompi Brimob, dan delapan kompi TNI AD (termasuk dari Kostrad).
   
   Saat ini bantuan pasukan keamanan terus berdatangan dari luar Maluku,
   antara lain pasukan Gegana dan URC Mabes Polri dari Jakarta, Bali, dan
   Nusa Tenggara masing-masing satu kompi yang direncanakan tiba Kamis
   sore. Selain itu direncanakan pula bahwa Pangdam VII/Wirabuana Mayjen
   TNI Suaidi Marasabessy yang berkedudukan di Ujungpandang dan Pangdam
   Trikora Mayjen TNI Amir Sembiring yang berkedudukan di Jayapura akan
   turun menenangkan massa.
   
   Ambon kota mati
   
   Kota Ambon hari Kamis menjadi kota mati, tersekat-sekat, dan
   terisolasi. Kabut dan asap tebal sisa pembakaran masih menyelimuti
   seluruh pulau Ambon. Aliran listrik di beberapa tempat mati, akibat
   kerusakan jaringan setelah terjadi kebakaran di beberapa tempat.
   Masyarakat masih berjaga-jaga di lingkungan masing-masing tanpa berani
   melakukan kegiatan ke luar. Bahkan di beberapa tempat, penduduk
   mengadakan pemeriksaan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Orang tidak berani
   keluar dari lingkungan atau desa tempat tinggalnya. PLN dan Perumtel
   setempat tidak bisa berbuat banyak, karena sebagian besar karyawannya
   sedang liburan Lebaran. Selain itu, meluasnya kerusuhan juga membuat
   petugas perbaikan tidak berani sembarangan keluar karena keselamatan
   diri mereka tidak terjamin.
   
   Penerbangan reguler dihentikan, kecuali penerbangan militer untuk
   mengangkut personel pasukan. Setelah menunggu sekitar lima jam, pada
   tengah hari KM Rinjani akhirnya merapat di dermaga selama setengah jam
   saja dan hanya menurunkan sekitar 200 penumpang. Tidak ada embarkasi
   karena tidak ada calon penumpang yang berani muncul ke pelabuhan.
   Gangguan jaringan telepon sebetulnya bukan karena ada kerusakan,
   melainkan karena kelebihan beban karena banyaknya orang dari wilayah
   lain menelepon ke Ambon untuk mendapatkan gambaran situasi dan mencari
   tahu keadaan keluarganya.
   
   Meskipun kerusuhan di Ambon telah berhasil dikendalikan oleh Pasukan
   ABRI dibantu para tokoh agama dan tokoh masyarakat, namun warga kota
   hingga Kamis petang masih sangat cemas. Menurut laporan yang dihimpun
   Kompas, sejak pecahnya pertikaian antarkampung, orang memilih tetap
   tinggal di rumah. Seluruh warga kampung tetap tinggal di rumah,
   berjaga-jaga dari kemungkinan serbuan warga lain dari luar. Toko dan
   pusat perbelanjaan tutup, sehingga warga kesulitan mendapatkan bahan
   makanan. Selain itu, warga kota Ambon buta informasi dari televisi dan
   radio karena padamnya aliran listrik.
   
   Anggota DPRD Tingkat I Maluku Soplantila menuturkan, ia tidak tahu apa
   yang sedang terjadi di Ambon. Sebab, sejak pertama kali peristiwa itu
   pecah Selasa lalu, seluruh penduduk seperti terkurung di kampungnya
   sendiri, takut keluar rumah. "Kondisi ini diperburuk oleh padamnya
   aliran listrik," tutur Soplantila.
   
   Akibat tutupnya pertokoan dan pusat pembelanjaan, ditambah terbakarnya
   sejumlah pasar, ujar Soplantila, para ibu kesulitan memperoleh bahan
   makanan. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan terpaksa
   sebagian besar warga membeli super mi yang dijual di warung yang
   berada dalam kampung masing-masing.
   
   Hari Kamis ini saja, listrik padam sejak pukul 15.00 WIT dan baru
   hidup kembali sekitar pukul 19.00 WIT malam. Menurut laporan, listrik
   juga padam pada saat berlangsung kerusuhan hari Selasa dan Rabu lalu
   sehingga warga tidak bisa mengikuti pemberitaan televisi. "Jadi, kami
   di sini buta informasi dan oleh karena itu kami tidak tahu apa saja
   yang terjadi selama kerusuhan berlangsung," tutur Soplantila yang
   dihubungi melalui telepon interlokal dari Jakarta.
   
   Soplantila menambahkan, pecahnya kerusuhan yang berakibat tewasnya
   sejumlah orang menandakan budaya masohi (gotong royong) serta
   pela-gandong (janji dan sumpah ikatan persaudaraan sesama manusia)
   berantakan, porak-poranda dan terjungkir balik.
   
   Dipicu ulah preman
   
   Menurut Kapolri, kerusuhan dipicu oleh ulah preman kota Ambon dari
   Desa Batumerah Bawah yang mencoba memeras seorang sopir angkutan kota,
   Yopi Saiya (30), warga Desa Batumerah Atas. Karena Yopi tidak memberi
   uang yang diminta, para pemuda preman itu menodongkan pisau. Yopi pun
   lari ke kampungnya, lalu dengan membawa parang, ia bersama beberapa
   pemuda sedesanya masuk ke desa Batumerah Bawah untuk mencari
   pemerasnya.
   
   Melihat kedatangan Yopi bersama teman-temannya, para pemuda preman itu
   berteriak-teriak sehingga mengundang perhatian warga Batumerah Bawah
   yang mayoritas beragama Islam. Massa pun mengejar Yopi sampai ke
   desanya yang mayoritas Kristen. Karena tidak berhasil menemukan Yopi
   dkk, massa Batumerah Bawah ini akhirnya merusak dan membakar beberapa
   rumah penduduk di Batumerah Atas.
   
   Selanjutnya berkembang desas-desus bahwa telah terjadi pembakaran
   masjid-masjid, sehingga isu bentrokan beralih ke isu suku, agama, ras,
   dan antargolongan (SARA). Oleh karena itulah bentrokan antarwarga dua
   desa itu meledak menjadi kerusuhan yang meluas di seluruh kota.
   
   Ketua Sinode GPM Pdt Semmy Titaley mengatakan, masyarakat Maluku yang
   terkenal tinggi rasa persatuan antar umat beragama, kini mulai goyah
   akibat diterpa badai isu. Kerusuhan yang terjadi saat ini, hanya
   diawali isu tentang adanya pembakaran gereja dan masjid terbesar di
   Maluku, Gereja Maranata dan Masjid Al Fatah.
   
   Semmy menegaskan, isu tersebut disebarkan oleh provokator pada kedua
   umat beragama. Masyarakat mudah terpancing isu, karena adanya faktor
   kesenjangan sosial di tengah masyarakat atau kesenjangan antar
   penduduk asli dengan para pendatang.
   
   Kapolri menegaskan, tidak ada kaitan antara kerusuhan di Ambon dengan
   kerusuhan Ketapang akhir November lalu. Ia juga membantah kabar burung
   tentang adanya pengiriman sejumlah pemuda dari Jakarta ke Ambon
   sebelum kerusuhan. Kapolri juga menyatakan tidak ada pihak ketiga yang
   berada di belakang kerusuhan tersebut.
   
   Akan tetapi, ia tidak menolak kemungkinan adanya provokator yang
   menggerakkan massa. Bahkan polisi sudah mengetahui identitas mereka
   yang dicurigai. "Kita belum bisa menangkap pelaku provokator meski
   kita sudah mendapat nama orang yang dicurigai. Dan sejauh ini belum
   ada orang yang dimintai keterangan," kata Kapolda Kol (Pol) Karyono
   Sm.
   
   Kapolri juga membantah aparat keamanan terlambat dalam menangani
   berbagai kerusuhan massa yang sekarang mulai mengarah ke pulau-pulau
   terpencil. Ia mengakui jumlah personel di tingkat Polsek sangat
   terbatas, sedang gerakan massa umumnya sangat cepat.
   (edu/msh/fr/nar/boy/Ant)