[INDONESIA-L] Rusuh Ambon: Dicky Wa

From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Jan 25 1999 - 15:08:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jan 25 19:06:22 1999
Date: Mon, 25 Jan 1999 17:06:47 -0700 (MST)
Message-Id: <199901260006.RAA06045@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Rusuh Ambon: Dicky Watimena, Provokator dan Otak ...
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "Beta Alifuru" <alifuru2000@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Rusuh Ambon : Dikcy Watimena, Provokator dan Otak di balik Kerusuhan di kota Amb
Date: Mon, 25 Jan 1999 10:49:20 PST

Dicky Watimena, mantan walikota Ambon periode akhir tahun delapanpuluhan
merupakan orang yang sangat dicurigai sebagai
slah satu provokator, otak sekaligus pemberi fasilitas terhadap
kerusuhan di Ambon ini.

Dicky Watimena (DW) ini adalah salah satu mesin pembunuh mantan PAnglima
ABRI, Benny Murdhany (BM) yang berperan
besar pada peristiwa pembantaian umat Muslim di TJ Priok. SElaku salah
satu komandan lapangan, Dikcy Watimena di
anggap sukses memprovokasi kaum Muslim Tj Priok, terutama yang berasal
dari MAluku untuk mempercepat proses
pembantaian yang dilakukan dan dipimpin oleh DW sendiri. SEbagai hadiah
atas keberhasilannya itu, oleh BM ybs direstui dan
diangkat sebagai walikota di Kota Ambon. Benih-benih kebencian dan anti
terhadap kaum Islam sebelumnya telah ditanam
oleh BM jauh hari sejak ybs masih menjadi perwira muda. Beberapa
kelompok perwira menengah Kristen pada zaman BM
menjadi panglima ABRI dan berhasil di indoktrinasi untuk sangat membenci
terhadap Islam diangkat menjadi komandan
KODIM. Hampir pada saat itu seluruh komandan KODIM di pegang oleh
perwira KRisten sebagai persiapan untuk kudeta
oleh BM terhadap pemerintahan Soeharto. Tetapi rencana ini tercium oleh
Soeharto, sehingga Soeharto menggantikan BM
secara mendadak menjelang Sidang UMUM 19.. Akibat pemberhentian BM ini
dari jabatan Panglima ABRI dan masih
mbalelonya beberapa perwira ABRI lainnya (seperti Wismoyo, Faisal
Tanjung, Edi Sudrajat) membuat BM tidak terlalu berani
mengambil resiko untuk melakukan tindakan kudeta terhadap Soeharto.
Salah satu didikan BM yang sekarang munculnya
belang aslinya dari ABRI Theo Syafei. SEbentar lagi beberapa nama lain
yang berasal dari lingkungan perwira ABRI akan
memperlihatkan belangnya akan kebencian terhadap umat Islam Indonesia.
Umumnya mereka adalah bekas perwira komandan
KODIM pada era panglima BM yang tidak tahan dan merasa terancam dengan
kuatnya tekanan arus reformasi yang meminta
pertanggungjawaban mereka terhadap tindakan mereka selama menjabat. Jika
tidak menunjukkan sikap aslinya,
setidak-tidaknya mereka akan bertindak selaku operator lapangan untuk
menggerakan kerusuhan sebagai kelanjutan perintah
dari Provokator Agung.

Kembali kepada DM yang menjabat sebagai walikota AMbon hanya satu
periode (?), akibat dicopotnya becking kuatnya BM
sebagia panglima ABRI.

Namun selama menjadi walikota AMBON, DW ini berhasil melakukan proses
teror yang dahsyat terhadap kehidupan kaum
Muslim di kota AMbon. Tetapi peranan yang paling besar dari DW ini
membangkitkan semangat anti ISlam di kalangan umat
Kristen di kota AMbon. Gerakan ini dilakukan melalui kegiatan
kebaktian-kebaktian dan mendapat dukungan dari
pendeta-pendeta muda yang menyelesaikan pendidikannya di tanah JAwa.
Jika sebelumnya kehidupan dan hubungan antar
umat beragama berjalin dengan sangat baik, maka sejak DW menjadi
walikota terjadi diskriminasi-diskriminasi terhadap kaum
Muslim yang berurusan dengan kantor walikota Ambon. Mulai dari urusan
izin usaha, sampai IMB dipersulit dan
dipermasalahkan jika itu menyangkut orang-orang muslim, terutama
muslim-muslim pendatang dari luar Maluku.

Selain itu selama menjadi walikota Ambon, DW berhasil melakukan proses
kristenisasi seluruh pegawai di lingkungan
kotamadya Ambon. SEmua pegawai kota madya yang beragama Islam
dimutasikan ke luar kota Ambon dan ditempatkan
pada pos-pos yang tidak memungkinkan yang bersangkutan kembali kepada
posisinya semula di kantor walikota

Selama menjabat, DW merupakan satu-satunya walikota di Indonesia yang
sangat sering melakukan kunjungan kerja ke negeri
Belanda dengan dalih kerjasama antar kota kembar. Kota Ambon merupakan
kota kembar dengan sebuah kota di negeri
Belanda. Tetapi ternyata di Belanda, DW lebih banyak berkutat dengan
urusan gereja Protestan Maluku dalam rangka
menggarap kota Ambon menjadi sebuah kota Kristiani yang bersih dari
unsur non kristin. Para pemuka agama kristen
PRotestan di Belanda sangat terganggu dengan adanya sebuah Mesjid besar
dekat pelabuhan Ambon yang tampak dengan
sangat jelas jika kapal hendak merapat ke dermaga pelabuhan. DW ini
kerap kali dihardik oleh pemuka Agama PRotestan
Belanda, kenapa membiarkan menara dan kubah mesjid menjadi begitu
menonjol jika turis-turis asing memasuki kota Ambon,
baik melalui udara maupun pelabuhan laut. Mengapa bukan menara Gereja
atau bangunan gereja yang tampak duluan jika
kapal laut mulai memasuki teluk Ambon dan mulai merapat di pelabuhannya.
Berapapun biaya akan disiapkan oleh Gereja
Protestan Belanda, yang penting kota Ambon harus menunjukkan ciri
sebagai sebuah salah satu kota pusat kristen Protestan di
wilayah Indonesia Timur. Kota lainnya yang kelak akan digarap adalah
kota Menado yang akan dijadikan mercu suar untuk
siar agama kristen Protestan di wilayah Indonesia Timur. Tetapi skenario
ini berantakan sejak Indonesia memutuskan untuk
membubarkan IGGI yang dipimpin oleh Belanda itu.
 

Hardikan ini membuat DW menjadi sangat gusar. Untuk itu disusunlah
sebuah rencana untuk menggusur kompleks Pasar
Gotong Royong dengan alasan akan dibangun kantor-kantor Pemerintahan.
Pasar gotong royong ini sendiri akan dipindahkan
ke pasar Mardika yang dlam kerusuhan kemarin habis dibakar oleh kaum
penjagal. Rencana penggusuran ini dilakukan dengan
tangan besi dan tanpa kompromi. Protes keras dari para pedagang di pasar
Gotong Royong di tanggapi dengan pongah dan
menantang. Rencananya setelah Kompleks Pasar gotong ROyong ini diratakan
dengan tanah, akan dibangun sebuah gereja
besar yang menghadap ke laut untuk menandingi Mesjid Al Fatah tersebut.
Kompleks Gereja yang direncanakan akan menjadi
yang terbesar di Indonesia akan menjadi pusat penyiaran agama Kristen
Protestan dan dibiayai oleh Negeri Belanda. Maket
dan rancangan gambar arsitekturnya telah dipersiapkan dengan matang dari
negeri Belanda.

Sayang rencana ini keduluan diketahui oleh orang banyak, termasuk
sebagian orang Kristen yang tidak suka dengan cara-cara
kasar yang dipraktekan oleh DW mengikuti seniornya BM dan berhasil di
lakukan di tanah jawa. Sebab kondisi kehidupan
umat beragama di Ambon itu sangat jauh berbeda dengan kehidupan umat
beragama di tanah Jawa, yang sering timbul konflik.

SEhingga meskpun DW terkenal sebagai tukang jagal pada kasus Tj Priok,
tetapi ternyata nyali DW ini tidaklah sebesar yang
diperkirakan orang. Di kampung sendiri DW memiliki kengerian juga,
karena tidak semua aparat di kantor walikota setuju dan
mendukung kebijakannya. Beberapa aparat walikota malahan berberapa kali
diketahui menantang DW berkelahi secara jantan
didepan kantor walikota. Tetapi karena tidak memiliki nyali, DW tidak
melayani bahkan sering kali kabur ke Bogor mengurusi
peternakan ayamnya di kota hujan ini.

Tetapi karena desakan yang keras dari negeri Belanda dan tekanan yang
diterima juga dari BM karena targetnya harus
menjadikan kota Ambon sebagai salah satu pusat penyiaran Kristen
Protestan di wilayah Indonesia Timur, DW mencoba
menggunakan tangan besi dan melakukan upaya buldozerisasi terhadap
kompleks pasar Gotong Royong. Tetapi berkat
kegigihan para pedagang di lingkungan Pasar Gotong Royong yang bersatu
padu (baik Cina, Muslim maupun Nasrani), mereka
berhasil memperoleh SK dari Mendagri (saat itu adlaah Rudini) yang
melarang Pemerintah Daerah Kota Ambon untuk
melakukan prose pembongkaran pasar sebelum proses perhitungan ganti rugi
dan penyiapan tempat penggantinya telah
disepakati. Akibatnya pasar gotong Royong gagal di bongkar dan itu
menimbulkan dendam yang berkepanjangan dari DW dan
pengikut-pengikutnya yang berhasil dibinanya.

Kebijakan-kebijakan lain yang dilakukan adalah melakukan penelitian
ulang lagi terhadap kontrak-kontrak sewa bangunan
antar pedagang (terutama pedagang muslim yang berasal dari luar Ambon)
untuk diputuskan dan mempersulit perpanjangan
sewa menyewa. Meskipun tindakannya tidak sekeras kepada kaum pedagang
muslim, tetapi terhadap golongan Cina tindakan
serupa juga dilakukan. Penggusuran terhadap pedagan-pedagang kecil di
lingkungan pasar dilakukan dengan keras dan tanpa
segan-segan mengusir mereka dari tempat berdagang untuk kembali ke tanah
asalnya. Teror-teror yang dilakukan oleh DW ini
bukan saja menyesakkan dada kebanyakan pengusaha di kota Ambon, tetapi
sikap diskriminasinya yang sangat juga
menyusahkan hampir sebagian besar pengusaha yang ada. Sasaran yang ingin
dicapai oleh DW adalah perginya para
pengusaha yang berasal dari luar Ambon dari kota Ambon, sementara
pengusaha muslim yang berasal dari Ambon dibuat sulit
untuk mengembangkan usahanya melalui kebijakan-kebijakan yang membatasi
ruang gerak mereka.

Setelah tersingkir dari jabatan walikota kota Ambon, DW mengurusi
peternakan ayamnya di Bogor dan terus menebarkan
kebencian-kebencian terhadap umat Islam melalui kebaktian-kebaktian
antar rumah yang semakin giat di pertengahan tahun
sembilan puluhan. Upaya ini didukung oleh sebagian pendeta-pendeta muda
yang lulus dari sekolah Teologia di tanah Jawa
melalui khotbah-khotbahnya di gereja maupun acara kebaktian di
rumah-rumah.

SEjak saat maraknya kebaktian-kebaktian di rumah-rumah yang didomplengi
oleh kegiatan agitasi politis yang sebenarnya
sangat bertentangan budaya dasar masyarakat maluku ini, buahnya mulai
tampak sejak awal tahun sembilan puluhan. Beberapa
friksi kecil antar umat agama yang sebelumnya tidak pernah terjadi,
bahkan jika pun terjadi maka yang marah justru adalah
masyarakat yang seagama dengan si pembuat keonaran, berakhir dengan
nyaris perkelahian masal yang untungnya berhasil
diredam oleh ABRI dengan cepat. Bibit perpecahan dan permusuhan yang
didasarkan oleh perbedaan agama mulai timbul dan
menjalar dengan cepat di masyarakat yang sebenarnya sangat menjunjung
semangat sportifitas dan menghargai nilai-nilai
keyakinan orang lain, meskipun itu berbeda dengannya. Semangat Pela dan
Gandong dengan cepat menjadi luntur tanpa
disadari sepenuhnya oleh Aparat Pemerintah maupun tetua-tetua Adat.
SEbagian besar dari mereka telah terpengaruh dengan
situasi dan kondisi yang ada. Kondisi ini diperburuk dengan adanya
konflik umat beragama di wilayah lain yang
penyelesaiannya tidak pernah tuntas dan transparan. SEhingga meskipun
masyarakat maluku tampaknya tidak perduli tetapi
sifat sportifitasnya seringkali menolak pola penyelesaian "yang kuat
menekan yang lemah" model Pemerintah Orde Baru
tersebut.

Lancarnya transportasi antara kota Ambon dengan tanah jawa dan wilayah
lain, memungkinkan sebagian penduduk Ambon
melakukan perjalanan ke luar Ambon dan berinteraksi dengan
wilayah-wilayah yang sangat dominan Islam tetapi kurang
bersahabat dengan kaum non muslim. Kondisi ini sedikit banyak membangun
pandangan terhadap kaum Muslim di kota
Ambon.

Tumbangnya rezim orde baru, dan meledaknya kasus ketapang, karena
kebodohan beberapa preman asal Ambon yang hanya
karena dibayar Rp 40.000 sehari oleh Bandar judi terkenal yang memiliki
jaringan judi di pulau Christmas dan memiliki
hubungan yang erat dengan BM, menyerang kampung ketapang dan mencoba
merusak mesjid di situ, sehingga mengakibatkan
tewasnya beberapa preman tersebut, menyulut dendam yang dalam di dada
preman Ambon yang memang cukup terkenal
tempramen ini. Satu hal yang sangat mengherankan adalah, sebenarnya
sangat jarang sekali baik itu preman maupun orang
awam yang lahir dan dibesarkan di Ambon berani melakukan perusakan
terhadap rumah ibadah, baik rumah ibadah Islam
maupun Kristen. Rasa hormat yang tinggi terhadap keyakinan orang lain
termasuk simbol-simbol dan ritual yang dilakukan
merupakan ciri dasar dari sikap tingginya harga diri orang Maluku.
Pantang dihina dan direndahkan, begitu juga pantang
menghina dan merendahkan orang lain. Jujur dan sportif dalam memandang
sebuah pertikaian dan permasalahan adalah
merupakan hal yang sangat mendasar. Sehingga model keroyokan yang lazim
di tanah Jawa adalah sebuah tindakan rendah
yang hanya pantas dilakukan oleh kaum banci dan hewan. Rasa hormat dan
menjaga rumah suci keyakinan orang lain merata di
seluruh Maluku dan sangat terutama di wilayah Maluku Tengah, baik di
uamt Kristen maupun umat Islam.

Boleh jadi bahwa preman-preman ini sebelumnya memang telah mengalami
proses cuci otak yang panjang, melalui
kebaktian-kebaktian panjang, sehingga tanpa sadar mereka melanggar
sumpah darah nenek moyang untuk tidak melanggar
rumah suci keyakinan orang lain. Sehingga mereka dengan mudahnya di
provokasi untuk melakukan serangan ke Ketapang dan
melakukan perusakan terhadap mesjid yang ada disana.
Dan seperti yang telah diperhitungkan oleh Provokator Agung, beberapa
dari preman ini menjadi korban pembantaian yang
boleh jadi dilakukan oleh orang-orang PRovokator Agung itu sendiri dari
kelompok preman lain. Dendam inilah ditambah
dengan hasil cuci otak yang panjang dimanfaatkan oleh Provokator Agung
untuk melakukan kerusuhan di kampung halaman
sendiri. Suatu tindakan yang sangat bodoh dan diluar ciri pemuda Maluku,
yaitu membuat kerusuhan dan pamer kejagoan di
kampung sendiri. Terus terang ini jarang sekali terjadi. Tetapi sudah
terjadi.

SEbagai operator dan fasilitator lapangan, Provokator Agung menunjuk DW
yang akan mengatur semua proses ini di lapangan.
Melalui pendeta-pendeta muda yang radikal, DW melakukan koordinasi dan
persiapan lapangan,sekaligus membacar peta titik
sasaran yang direncanakan akan diledakkan. Termasuk disini kode-kode
tertentu sebagai tanda proses kerusuhan dimulai.

Diputuskan bahwa hari H nya adalah hari raya pertama Idul Fitri, karean
sebagian besar umat Islam dalam keadaan sedang
bersuka cita sehingga tidak siap sama sekali, sementara sebagian besar
kaum muslim kota Ambon sedang pulang ke kampung
halamannya. Untuk itu DW menyiapkan fasilitas-fasilitas termasuk
fasilitas telekomunikasi seperti Handy Talkie, senjata tajam
hingga senjata api. Beberapa anggota ABRI yang berhasil dicuci otaknya
diikut sertakan dengan alasan cuti. Sehingga
beberapa kali terdengar tembakan di udara di antara kaum pembantai.

Picu pertama diputuskan di daerah padat kaum Muslim yaitu Batu Merah dan
Mardika. Sebagai tanda bagi yang lain adalah
bunyi lonceng Gereja yang akan dibunyikan serentak sebagai tanda
penyerbuan terhadap titik sasaran saatnya dimulai. Sebagai
provokator awal adalah preman-preman Ambon yang terlibat kasus Ketapang
yang menjadi pembuka jalan dan pemancing
keberanian. Sasaran yang dilakukan adalah teror dan pembakaran terhadap
semua harta milik orang Muslim, agar mereka
pergi dari kota Ambon. Teror dilakukan melalui proses penjagalan dan
pencincangan manusia tak berdosa, mulai dari
anak-anak hingga orang tua renta. Untuk itu issue sentimen terus menerus
di hembuskan selama kerusuhan itu berlangusng. DW
sendiri berkeliling kota dengan menggunakan mobilnya sambil membawa HT
memonitor keadaan di lapangan dan memberi
semangat kepada kelompoknya. Sementara ketika berjumpa dengan kelompok
yang lain berpura-pura sebagai pihak yang
menginginkan perdamaian dan melakukan himbauan agar menghentikan
serangan. Mula-mula taktik ini berhasil, bahkan
beberapa media massa Nasional yang terkecoh dengan lakon ini
memberitakan kegiatan DW ini dengan nuansa yang luar biasa.
Tetpai pada akhirnya ketahuan juga belangnya, sehingga mobilnya sempat
dilempari hingga pecah kacanya, karena diketahui
digunakan untuk mengangkut korban-korban pembantaian untuk disembunyikan
di tempat lain. Tidak heran bahwa bagian
dasar mobilnya penuh dengan darah, sementara luka-luka yang dialami oleh
DW tidak parah untuk menghasilkan percikan
darah tersebut.

Satu hal yang tidak diperhitungkan dengan benar bahwa, Muslim Ambon itu
memberi perlawanan yang sangat keras untuk
dalam mempertahankan Mesjid Raya mereka. Bahkan beberapa dengan nekat
menerjang kelompok-kelompok pembantai
meskipun nyawa adalah taruhannya. Yang juga diluar perhitungan adalah
beberapa kampung Msulim di luar kota Ambon
ternyata menyeruak keluar dari kampungnya menyerbu secara spontan
kampung-kampung kristen lainnya dan membalas
perlakuan-perlakuan yang diterima oleh saudara-saudaranya di kota Ambon.

Beberapa anggota ABRI yang berasal dari wilayah setempat ditenggarai
sangat menunjukkan keberpihakannya terhadap
kelompok non Muslim. Jika serangan dilakukan oleh kelompok non Muslim,
mereka berpura-pura bodoh dan sengaja
memberi kesempatan, sementara jika serangan dilakukan oleh kaum Muslim,
mereka melepaskan tembakan ke udara. Kondisi
ini menjadi berimbang setelah datang pasukan Kostrad dari Ujung Pandang
yang tanpa pandang bulu melakukan pembersihan
terhadap kelompok-kelompok yang masih berkeras melakukan pembantaian.
Akibat hal ini seorang anggota Kostrad dicincang
habis di Gudang Arang akibat sikapnya yang tidak memberi kesempatan
kepada kaum pembantai untuk melakukan aksinya
dan tertipu oleh sikap pembantai yang seolah-olah akan menyerahkan
senjatanya. Sejak saat itulah diputuskan perintah tembak
di tempat bagi siapa saja yang berkeras tidak menyerahkan senjatanya.

DW sendiri selain berkeliling kota Ambon melihat hasil perbuatannya juga
melakukan koordinasi dengan pimpinan-pimpinan
kelompok untuk membantu penyerbuan kepada kelompok-kelompok muslim yang
masih mencoba bertahan pada
kampung-kampung Islamnya. Sasaran akhir sebenarnya adalah Mesjid Raya Al
Fatah yang dicoba diserang dari tiga sudut,
yaitu dari Waihaong, Jl A.M Sangaji dan Jl AY PAtti. Tapi sampai saat
ini Mesjid ini berhasil dipertahankan dengan keras oleh
pemuda-pemuda setempat yang kemudian mendapat bantuan dari penuda
kampung-kampung Islam di sekitar kota Ambon.

DW tampaknya mungkin lupa memperhitungkan bahwa kampung-kampung Muslim
di sekitar kota Ambon ini juga akan
bergerak. Perhitungannya adalah dengan melakukan serangan mendadak, maka
kota Ambon akan lumpuh dan Mesjid Raya
akan dikuasai dan dibakar habis sebagai tanda kemenangan. Untuk itu agar
memperkuat keyakinan orang Kristen
dihembuskanlah issue bahwa ada penampakan Yesus di kampung sekitar Air
Putri sebagai indikasi adanya restu terhadap misi
suci ini. Issue-issue tentang pembakaran gereja dan penggorokan ibu-ibu
hamil dan anak-anak bayi sengaja dihembuskan
dengan tujuan memancing kemarahan kaum muda kristen agar melakukan
serangan habis ke kampung-kampung Islam. DW
dan kaki tangannya mencoba melakukan cara ini karena cukup mengetahui
situasi sosial dan juga sarana militer yang ada.
Sebab ternyata akhirnya diketahui bahwa jumlah peluru yang di miliki
oleh pasukan militer yang ada di Ambon saat kerusuhan
sangat tidak memadai, begitu juga jumlah pasukan yang tersedia sedikit
sekali.

Perlu diketahui bahwa DW ini meskipun berasal dari Ambon, tetapi
hidupnya sebagian besar diluar Ambon. SEbagian besar
waktunya habis di tanah Jawa, sehingga sikap dan perasaannya hormatnya
terhadap keyakinan orang lain tidak terlampau
melekat. Adat Pela dan Gandong tidak terlalu membekas di hatinya.
Sehingga dengan mudah dikorbankan hanya untuk suatu
tujuan yang sempit dan dangkal tanpa memperhitungkan akibatnya terhadap
kehidupan anak cucu di kemudian hari.

Lantas bagaimana caranya agar sisa-sisa kerusuhan ini dapat
diselesaikan. Menurut saya yang pertama adalah orang seperti
DW ini dan kaki tangannya harus ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.
Kemudian mereka-mereka yang terlibat dalam
pembantaian (baik Islam maupun Kristen) harus ditangkap dan
mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan pengadilan
dengan hukuman yang setimpal. Pemuka-pemuka agama yang memiliki
kecenderungan radikal dan terlibat dalam proses
pencucian otak para jemaatnya (baik Islam maupun Kristen) agar
dikucilkan atau diberi hukuman masyarakat dan diumumkan
secara terbuka. Pemuka-pemuka adat, tokoh-tokoh masyarakat yang sangat
dihormati dari kedua belah pihak (baik Islam
maupun Kristen) harus duduk kembali satu meja melakukan sumpah ulang
dengan darah sebagai adat Pela Gandong. SEmua
masyarakat harus diperlakukan sama di depan hukum, tidak dibeda-bedakan.
Siapa saja yang memiliki kewenangan
melakukan diskriminasi berdasarkan agama harus dihukum secara tegas.
Posisi jabatan tidak ditentukan oleh unsur agama,
melainkan unsur kemampuan. Dan itu dilakukan secara transparan dan adil.

Meskipun begitu saya tidak yakin bahwa perdamaian akan terjadi dengan
segera. SElama manusia-manusia seperti DW dan
kroni-kroninya masih berkeliaran. Kroni-kroninya termasuk semua mantan
komandan Kodim yang disinyalir masih memiliki
kesetiaan kepada PRovokator Agung dan sedang bersiap-siap untuk
melakukan kerusuhan-kerusuhan baru di wilayah lain di
Indonesia. Mudah-mudahan keyakinan saya di atas salah, sehingga
perdamaian itu dapat terjadi dan lebih kuat dari
sebelumnya.

Namun bagi ABRI perlu menjadi perhatian adalah keberadaan masing-masing
person yang diperkirakan masih memiliki
kesetiaan kepada PRovokator Agung, sebab boleh jadi mereka saat ini
merupakan operator di lapangan dengan menggunakan
peta permasalahan yang telah dimiliki sebelumnya. Prajurit yang
digunakan adalah preman-preman dan psikologi ketakutan
ABRI yang habis-habisan di gedor oleh orang-orang model Bambang
Wijayanto, Munir, Gus Dur, Arbi Sanit, Romo
Sandyawan, Marjuki Darusman, MArbun, Clementio dan lain-lain.

Alifuru 2000