[INDONESIA-L] TEMPO - Getir Ambon d

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Jan 27 1999 - 16:24:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jan 27 20:22:39 1999
Date: Wed, 27 Jan 1999 18:23:42 -0700 (MST)
Message-Id: <199901280123.SAA23133@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] TEMPO - Getir Ambon di Idul Fitri
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi.asp?rubrik=nas&nomor=4
   
   Ambon
   Getir Ambon di Idul Fitri
   
   Puluhan jiwa melayang setelah pertikaian berdarah di Ambon. Konflik
   menukik pada perkara sensitif: agama, juga suku. Ada jam malam dan
   instruksi tembak di tempat. Buntut setelah peristiwa Ketapang?
     _________________________________________________________________
   
   DI Ambon, Lebaran memancarkan berkah, sekaligus amarah. Sekitar 20
   ribu warga tampak ketakutan, lalu mengamankan diri di barak-barak
   militer. Sebagian penduduk terpaksa bersembunyi di masjid-masjid
   besar, juga gereja-yang sempat diamankan petugas. Selepas "kawasan
   aman" ini, bahaya menerkam: orang jadi beringas dan siap membantai
   sesamanya. Darah terlihat muncrat di mana-mana. Entah berapa kepala
   telah melayang sia-sia, usus terburai, organ tubuh tercabik pelor,
   parang, juga panah.
   
   Perang saudara? Seperti itulah, barangkali, untuk menyebut situasi
   gawat yang tengah melanda ibu kota Provinsi Maluku itu. Yang bertikai
   memang sesama warga setempat. Tapi belakangan konflik menjurus pada
   soal agama: warga Ambon beragama Islam melawan Kristen. Sampai-sampai,
   Panglima Daerah Militer VII Trikora Mayjen Amir Sembiring, di hadapan
   jemaah Gereja Rehobot, Sabtu petang pekan lalu, menginstruksikan
   tembak di tempat bagi para perusuh. "Itu sebenarnya bukan perintah,
   tapi peringatan agar mereka tak main-main," ujar Komandan Komando
   Resor Militer 074 Pattimura, Kolonel Hikayat, kepada Andari K. Anom
   dari TEMPO.
   
   Cukup banyak versi yang menyebutkan awal terjadinya tragedi ini. Pihak
   yang bertikai masing-masing mengklaim bahwa sang lawanlah yang
   menyulut gara-gara. Namun, titik tolak beragam versi ini menunjuk satu
   kisah. Adalah Jopie Saiya, sopir angkutan umum warga Desa Batumerah
   Atas, 19 Januari lalu, dicegat sekelompok pemuda dari Desa Batumerah
   Bawah untuk dimintai sejumlah uang. Jopie, yang merasa sudah menyetor
   uang palak, menolak tagihan ekstra dari para pemuda yang diduga preman
   ini. Akibatnya, Jopie diunjuki senjata tajam. Saat itu, ia memilih
   lari ke kampungnya.
   
   Jopie lantas mengadu kepada kerabatnya. Mereka panas hati mendengar
   cerita Jopie, lalu bersepakat mendatangi kampung tetangganya. Maksud
   mereka semula sekadar menanyakan mengapa Jopie diperlakukan buruk.
   Namun, karena para tamu ini datang dengan parang di tangan, alasan itu
   tentu sukar diterima oleh warga Batumerah Bawah, yang saat itu tengah
   merayakan Lebaran. Apalagi, para pemuda yang semula memalak Jopie
   berteriak gaduh memanaskan suasana. Maka, alih-alih menyelesaikan
   masalah, Jopie dan kawan-kawan justru dikejar-kejar warga Batumerah
   Bawah.
   
   Pengejaran berlanjut sampai Desa Batumerah Atas, yang mayoritas
   penduduknya beragama Kristen. Karena buruan tak ditemukan, sasaran
   kegusaran warga Batumerah Bawah beralih ke rumah-rumah di tempat
   tersebut. Tentu saja warga setempat tidak bisa menerima. Bentrokan pun
   pecah.
   
   Berita perkelahian ini dengan cepat menjalar ke telinga warga Desa
   Mardika, yang berjarak 3 kilometer dari lokasi. Warga Mardika yang
   kebanyakan pendatang dari Bugis dan Buton itu dengan cepat bergerak
   karena terbetik kabar ada masjid yang dibakar. Sebaliknya, warga
   kampung-kampung yang mayoritas Kristen tak mau kalah karena mendengar
   ada gereja yang dibakar. Entah dari mana, tiba-tiba saja Ambon saat
   itu digelontor isu jahat yang sangat deras.
   
   Setelah itu, nyaris di setiap penjuru Ambon terbentuk dua kelompok
   massa yang berhadapan. Menurut Kace Mayaut, juru foto harian Suara
   Maluku yang meliput di Kampung Batugantung, perkelahian di sana mirip
   adegan film perang. Anak panah, tombak, dan batu besar beterbangan
   mencari mangsa. Bahkan, beberapa orang, yang bernyali lebih, berduel
   adu parang dengan serunya. Bedanya, para pelaku bentrokan di sini
   betul-betul menemui ajal. Usus terburai, tangan dan kaki putus, bahkan
   beberapa kepala menggelinding. Dan, astaga, sisa darah korban yang
   menempel di parang dijilat sebagai simbol kemenangan.
   
   Pihak aparat sendiri saat itu dianggap lamban bertindak. Bahkan,
   sebagian warga Kampung Batugantung, yang mayoritas Kristen, menuduh
   para polisi yang bertugas di tempat tersebut, yang kebetulan
   kebanyakan bersuku Bugis, memihak warga Pohon Beringin dan Swabali
   yang berasal dari suku yang sama. Tuduhan yang belum bisa dipastikan
   kebenarannya ini tak pelak hampir menyulut insiden sesama aparat.
   "Makanya, mereka menuntut agar warga Bugis itu diusir dari Ambon,"
   ujar Kace Mayaut, melaporkan dari balik telepon-yang sempat diblokir
   atau jaringannya dirusak massa.
   
   Kerusuhan berlanjut sampai hari-hari berikutnya. Nyala api marak di
   beberapa tempat karena banyaknya aksi pembakaran. Jam malam yang
   diberlakukan membuat Ambon bagai kota mati. Listrik padam dan lalu
   lintas lumpuh. Pasar-pasar tutup sehingga penduduk Ambon yang
   berjumlah sekitar 310 ribu jiwa ini terpaksa mengonsumsi makanan
   seadanya karena tipisnya persediaan. Beras luar biasa mahal. Ikan laut
   susah didapat.
   
   Pada Jumat, 22 Januari, ada sedikit sinar terang yang melegakan ketika
   warga muslim bersembahyang di masjid dijaga warga Kristen. Namun, di
   sudut lain, saling merazia justru dilakukan. Akibatnya, korban baru
   pun jatuh. Sabtu, 23 Januari, pukul 11.00 WIT, truk polisi yang
   mengevakuasi lima warga muslim dicegat warga Kristen. Para penghadang
   ini tidak percaya perkataan petugas bahwa truk tersebut mengangkut
   beras. Konyolnya, para petugas justru ngacir melihat keberingasan
   penghadang. Tak ayal, lima warga muslim yang ada di truk itu akhirnya
   tewas terbunuh. Menurut sumber TEMPO, kebrutalan ini meluap karena
   baru saja terdengar kabar terbunuhnya seorang pendeta.
   
   Ambon pun kian membara. Sampai Sabtu malam, 23 Januari lalu, tercatat
   48 orang tewas. Sebagian besar adalah korban bentrokan. Namun, menurut
   sumber TEMPO, ada beberapa korban yang tewas karena peluru petugas.
   Angka ini belum termasuk sebagian desa yang memilih langsung mengubur
   warganya yang menjadi korban tanpa melapor. Jumlah korban
   luka-termasuk aparat-lebih dari seratus orang. Sementara itu, 476
   rumah penduduk, 19 kendaraan roda empat, 15 sepeda motor, 200 becak,
   tiga gereja, dan tiga masjid terbakar.
   
   Dan seperti satu keniscayaan, sebuah berita buruk saja tidak cukup
   bagi masyarakat luas. Selalu saja ada dugaan bahwa peristiwa tersebut
   tidak berdiri sendiri. Terkadang cerita sampingan ini bisa lebih seru
   dari yang dibayangkan. Untuk kasus Ambon ini, ada yang menuding
   ketegangan antara dua pemeluk agama ini diawali oleh adanya
   penggusuran 38 pejabat teras yang beragama Kristen oleh Gubernur M.
   Saleh Latuconsina.
   
   Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid termasuk yang
   menyesalkan langkah ini. Menurut Gus Dur, sikap ini menimbulkan
   kemarahan warga Kristen. "Makanya, mbok mereka ingat di Indonesia ini
   serba berimbang. Jangan mau menang sendiri. Akibatnya jadi seperti
   ini," ujar Gus Dur. Dan seperti biasa, Gus Dur pun menyodorkan
   pernyataan yang menyengat. Ia mengatakan bahwa orang-orang Kristen
   yang bergerak adalah anak buah seorang tokoh di Jakarta yang kebetulan
   tinggal di Ciganjur, tak jauh dari rumah Gus Dur.
   
   Walaupun Gus Dur tidak menyebut nama, tak urung tafsiran orang
   mengarah kepada Ketua Pemuda Pancasila, Yorris Raweyai, yang kebetulan
   berumah di Ciganjur. Yorris yang terkena "sambitan" ini tentu menolak
   mentah-mentah. "Gus Dur kan tidak menyebut nama. Untuk apa saya
   membuat polemik baru?" ujar Yorris. Ia juga menolak bila organisasinya
   dikaitkan dengan kerusuhan Ambon. "Di seluruh Indonesia, DPP Ambon
   yang paling vakum," kata Yorris.
   
   Cerita lain yang tak kalah seram, perusuh di Ambon sebenarnya adalah
   para preman yang terusir dari Ketapang, Jakarta. Menurut sumber TEMPO,
   mereka mendendam kepada saudara sesukunya yang beragama Islam lantaran
   tidak membela ketika mereka terpojok saat kerusuhan tempo hari. Maka,
   untuk membalaskan sakit hati ini, mereka berbondong pulang kampung dan
   mengacau. Isapan jempol?
   
   Boleh saja disebut begitu karena belum adanya bukti yang kuat. Namun,
   nanti dulu. Masalahnya, setelah peristiwa Ketapang pecah, di Ambon
   sendiri sudah beredar isu serbuan ini. Bahkan, menurut sumber TEMPO,
   aparat militer juga sudah mendengar. Anehnya, Komandan Korem Pattimura
   Kolonel Hikayat, dalam diskusi dengan wartawan setempat, justru yakin
   tidak akan ada kerusuhan di wilayahnya.
   
   Tidak terlalu salah bila orang lantas menganggap fungsi intelijen
   aparat di Maluku lemah sekali. Pasalnya, pada 12 Desember 1998 lalu,
   di Desa Hative, Ambon, telah terjadi bentrokan yang melibatkan warga
   Kristen dan Islam yang menyebabkan beberapa rumah terbakar. Lalu, pada
   15 Januari 1999, di Dobo, Maluku Tenggara, ada bentrokan serupa yang
   menyebabkan delapan orang tewas.
   
   Ekor cerita lain yang lebih hebat bukan tidak mungkin segera muncul.
   Namun, barangkali baik kita cermati pendapat Franz Magnis Suseno.
   Menurut rohaniwan ini, lebih baik kita berendah hati mengakui bahwa
   memang ada prasangka dalam hubungan Islam-Kristen di Indonesia. Tapi
   sangat disayangkan bila kita harus dilumpuhkan masa lampau. Sebab,
   potensi hubungan baik antarpemeluk agama ini sangat besar. Sebenarnya,
   di Ambon pun budaya pela gandong adalah cerminan keharmonisan ini.
   Namun, bingkai itu kini berantakan. Dan julukan Ambon Manise saat ini
   justru terasa sangat getir.
   
   Yusi A. Pareanom, Agus S. Riyanto, Ali Nur Yasin, Ardi Bramantyo