[INDONESIA-L] WSPD - Yorris belum M

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Feb 03 1999 - 17:55:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Feb 3 21:42:51 1999
Date: Wed, 3 Feb 1999 19:42:28 -0700 (MST)
Message-Id: <199902040242.TAA26072@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] WSPD - Yorris belum Mengakui Dirinya Provokator Ambon
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.waspada.com/020499/headline/headlin4.htm

                            BERITA UTAMA WASPADA
   
                           KAMIS, 4 FEBRUARI 1999
     _________________________________________________________________
   
   Yorries Belum Mengakui
       Dirinya Provokator Ambon
       JAKARTA (Waspada): Ketua DPP Pemuda Pancasila Yorries Raweyai yang
       diperiksa di Mabes Polri sebagai saksi kerusuhan Ambon belum
       mengaku terlibat seperti disinyalir sebagai provokator.
       "Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap Yorries yang disinyalir
       sebagai provokator kerusuhan Ambon, namun pada keterangan yang
       diberikannya pada tim pemeriksa Yorries tidak memberikan pengakuan
       atas keterlibatan dirinya," ungkap kapolri Jenderal Pol Drs
       Roesmanhadi di Mabes Polri Rabu (3/2).
       Pemeriksaan Yorries ini, lanjut kapolri karena banyaknya desakan
       masyarakat yang menanggapi pernyataan Gus Dur beberapa waktu lalu
       tentang keberadaan provokator Ambon berada di Jakarta yang juga
       menjadi tetangga Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.
       "Banyaknya desakan masyarakat yang menginginkan Polri melakukan
       pengusutan terhadap Yorries kita lakukan, dimulai dengan meminta
       informasi dari Gus Dur sendiri," tambah Kapolri.
       Dikatakannya, pemeriksaan Yorries sebagai saksi masih perlu
       bukti-bukti yang akurat untuk menyatakan Yorries sebagai
       provokator, sebab tim penyidik hingga kini belum menemukan adanya
       bukti-bukti keterlibatan Yorries. Tetapi setiap informasi yang
       diterima tetap kita lakukan penyelidikan guna mengungkap
       provokator yang banyak menewaskan orang tersebut.
       Provokator kerusuhan Ambon tertangkap
       Sementara itu dua pemuda yang diduga sebagai provokator pada
       kerusuhan berdarah di Ambon, 19 Januari lalu ditangkap aparat
       keamanan setelah beberapa hari secara intensif mengikuti sepak
       terjang mereka.
       Pangdam VIII/ Trikora, Mayjen TNI. Amir Sembiring, di Ambon, Rabu
       (3/2) mengatakan, dua pemuda ini sering menyebarkan isu-isu yang
       tidak bertanggggungjawab.
       "Mereka sering keluar-masuk gang dengan mengendarai sepeda,
       memakai pakaian tentara (loreng-red) dan memberikan informasi yang
       meresahkan masyarakat," katanya.
       Karena melihat gelagat mereka yang mencurigakan, masyarakat
       melaporkan sepakterjang dua pemuda tersebut ke pihak keamanan dan
       dalam waktu singkat keduanya dibekuk petugas.
       Pangdam menolak menyebutkan identitas dua pemuda tersebut, tapi
       diduga keras mereka merupakan provokator yang sering membuat
       keonaran pada tragedi berdarah di Ambon.
       Dia membantah informasi yang menyebutkan aparat keamanan di Ambon
       tidak mengatasi kerusuhahn yang sewaktu-waktu akan terjadi.
       "Saya tegaskan, jumlah pasukan yang ada masih mampu mengatasi dan
       melindungi masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi kerrusuhan,"
       katanya.
       Dia menghimbau masyarakat jangan coba-coba membuat ulah dengan
       menyebarkan informasi-informasi tidak bertanggung jawab. Sebab
       perintah tembak di tempat yang dikeluarkan, pekan lalu, masih
       tetap berlaku.
       Lebih lanjut, Pangdam mengatakan, pihak aparat telah mempelajari
       situasi kerusuhan Ambon sehingga jumlah pasukan yang ada saat ini
       masih mampu mengatasi kemungkinan situasi bakal terjadi.
       Pertikaian Mardika
       Pangdam Sembiring yang didampingi Danrem 174/Pattimura Kol. Inf.
       Hikayat menguraikan kronologi pertikaian pasar Mardika,
       Selasa(2/2), yang berawal dari perang mulut antara salah satu
       penumpang angkutan kota jurusan Airsalobar dengan kondektur.
       Penumpang ini kemungkinan tidak memiliki uang sehingga keberatan
       untuk membayar, kendati terus didesak kondektur yang akhirnya
       melapor ke supirnya.
       Ketika supir minta membayar ongkos seharga Rp 400.- itu, penumpang
       tersebut melarikan diri. Dia lalu diteriaki sebagai maling yang
       harus ditangkap dan dibunuh. Masyarakat di kompleks pasar Mardika
       itu panik.
       Untuk menentramkannya suasana, petugas mengeluarkan tembakan
       peringatan.(chas/ant)