[INDONESIA-L] DETIK - 51 Mahasiswa

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Feb 10 1999 - 16:51:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Feb 10 20:50:52 1999
Date: Wed, 10 Feb 1999 18:50:19 -0700 (MST)
Message-Id: <199902110150.SAA24978@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] DETIK - 51 Mahasiswa Didenda Rp 2750
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.detik.com/berita/199902/990210-1335.html

   Rabu, 10 Februari 1999 [Peta Situs..]
   
     51 Mahasiswa Didenda Rp 2750
     
     [INLINE] detikcom. Jakarta. Sejumlah 55 mahasiswa yang didakwa
     melakukan demo tanpa izin, langsung divonis. Diantara mereka, 51
     mahasiswa divonis denda oleh PN Jakpus, sebesar Rp2750 per orang,
     dan masing-masing membayar ongkos perkara Rp 500.
     
     Sedangkan empat orang lainnya, oleh PN Jakpus dalam sidang hari
     Rabu (10/2/1999), dibebaskan. Pembebasan terhadap empat orang itu,
     karena tidak terbukti ikut melakukan demo. Setelah vonis itu, para
     mahasiswa langsung dibebaskan dan boleh pulang.
     
     Sidang terhadap mahasiswa Famred (Front Aksi Mahasiswa untuk
     Reformasi dan Demokrasi) dimulai pukul 11.45 WIB. Mereka disidang
     di dua ruang. Ruang V menyidangkan 29 mahasiswa, sedangkan ruang VI
     secara bergantian 11 dan 5 mahasiswa.
     
     Mereka didakwa melakukan unjuk rasa tanpa izin seperti tertuang UU
     No. 9/1998 juncto pasal 510 KUHP. Sebelumnya tersiar kabar bahwa
     mereka diancam dengan pasal 510, yakni mengadakan pawai tanpa ijin
     dengan ancamam hukuman sebulan dan denda maksimal Rp 10 ribu.
     
     Tampak beberapa orang yang mengaku orang tua mahasiswa yang ditahan
     melelehkan air mata. Sebagian mereka terharus, sebagian prihatin.
     Juga ada yang menyesalkan sikap aparat. Tapi juga ada yang mengaku
     anaknya nggak ngerti apa-apa.
     
     Ke-55 mahasiswa itu ditangkap saat melakukan aksi demo di depan
     kampus Atmajaya Jakarta, Selasa (09/02/1999). Dalam sidang di PN
     Jakpus itu, para mahasiswa didampingi penasihat hukumYuana
     Berliyanthy SH dan Fatmawati dari LBH Jakarta.
     
     Untuk diketahui saja, penangkapan terhadap 55 mahasiswa terjadi
     Selasa (09/02/1999) saat para mahasiswa yang tergabung dalam Famred
     mengadakan aksi demo di depan Kampus Atma Jaya di Jl.Sudirman,
     Jakarta Pusat. Dari depan Atma Jaya, para mahasiswa itu lantas
     bergerak menuju ke arah Jembatan Semanggi. Dari Semanggi kemudian
     mahasiswa mencoba bergerak menuju ke gedung DPR MPR RI.
     
     Beberapa mahasiswa yang disidang mengatakan bahwa mereka tidak
     sengaja melakukan demonstrasi. Misalnya ada seorang pelajar STM
     yang kebetulan mau pulang dan lewat di Jembatan Semanggi, tapi
     menyempatkan diri nonton demo Famred. Ternyata dia malah ditangkap.
     
     Ada juga yang mengaku sebenarnya hanya bermaksud akan menolong
     pacarnya yang sedang demo. Ada juga yang mengaku kebetulan ketemu
     dengan temannya semasa SMA yang kebetulan di depan kampus Atmajaya.
     Lalu ditangkap.
     
     Yang lain mengaku kebetulan naik Bus di depan kampus. Karena
     mobilnya macet, dia pun turun. Dia lalu mempertanyakan ke aparat
     kok jalannya ditutup semua. Ternyata dia malah diteriakan
     provokator, lalu diangkut empat petugas ke truk.
     
     Para aktivis Famred datang di PN Jakpus Jl. Gajahmada tepat pukul
     11.00 WIB. Mereka tiba dengan diangkut dua buah truk Pasukan Anti
     Huru-Hara (PHH). Begitu tiba, ratusan mahasiswa dari Fron Aksi
     Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) sudah menyambutnya
     dengan berbagai tepukan tangan dan nyanyi-nyanyi.
     
     Yang paling nyaring adalah lagi revolusi.
     'Revolusiiii..revolusiii..revolusi sampai mati." Begitu
     berulang-ulang. Begitu tiba di PN, mereka tak langsung diturunkan
     untuk segera disidangkan. Para penyambutnya tak ketinggalan membawa
     serta beberapa spanduk. Namun aparat tampaknya tak ingin banyak
     spanduk bertebaran, sehingga dua buah spanduk yang akan
     dibentangkan disita.
     
     Sekitar pukul 11.30 WIB para tertahan belum juga diturunkan oleh
     aparat dari truk yang mengangkutnya. Padahal rencananya sidang
     digelar pukul 9.00 WIB. Mereka aalah yang tertangkap saat demo di
     Semanggi Selasa malam.
     
     Ketika para tertahan itu mengepalkan tangan kiri di atas, tiba-tiba
     ada seorang aktivis demonstran yang mendekat. Dia adalah mahasiswi
     putri yang lalu berteriak: "Hei kalau ditangkap bilang-bilang dong.
     Saya kan juga pingin." Tak pelak bila ucapan itu disambut tertawa
     banyak mahasiswa.
     
     Dalam aksi demo itu para mahasiswa dalam pernyataannya mengatakan,
     ketidakmampuan rezim Habibie mengadili Soeharto dan keluarga
     Cendana merupakan pertanda bahwa Habibie merupakan bagian dari
     Soehartoisme. Dan dipertahankannya kursi ABRI di DPR menyebabkan
     reformasi kehilangan roh.