[INDONESIA-L] SiaR-->XPOS: DI HUTAN

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Feb 26 1999 - 11:05:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Feb 26 15:03:01 1999
Date: Fri, 26 Feb 1999 12:59:05 -0700 (MST)
Message-Id: <199902261959.MAA19414@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SiaR-->XPOS: DI HUTAN JUGA ADA KOLUSI
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 07/II/25 Februari-3 Maret 99
------------------------------

DI HUTAN JUGA ADA KOLUSI

(INVESTIGASI): Sedikitnya 4000 hektar hutan penyangga di Jember telah
habis dijarah. Diperkirakan total putaran uang hasil penjarahan mencapai
600 juta/hari. Aparat keamanan terlibat?

Iring-iringan sepeda dengan muatan balok jati dengan santainya melintas di
jalan. Mereka berhenti tepat di depan balai Desa Curangnongko. Sebentar
kemudian mereka terlihat menaikkan balok-balok terseut ke dalam truk yang
di parkir. Dari arah mereka datang, dapat dipastikan mereka keluar dari
kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Lho kok dari sana?

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri saat ini merupakan salah satu taman
nasional yang berfungsi sebagai lahan konservasi sumber daya alam terutama
sebagai benteng terakhir bagi pelestarian harimau Jawa (Pantera Tigris
Sondaica). Areal yang dimilikinya seluas 58.000 ha di wilayah perbatasan
Jember dan Banyuwangi. Kawasan konservasi ini memiliki kekayaan 70 jenis
fauna dan 290 jenis flora. Satu kekayaan alam yang sangat berarti. Namun
saat ini kawasan yang seharusnya dilindung ini justru menjadi kawasan yang
sangat potensial bagi penjarahan kayu jati.

Sampai saat ini luas areal yang telah habis dijarah adalah kawasan
penyangga (buffer zone) menyampai ribuan hektar di tiga desa di Kab.
Jember. Bahkan untuk wilayah penyangga di desa Andongrejo Kec. Tempurejo,
4.000 hektar hutan penyangga telah habis dijarah, demikian pula dengan
kawasan penyangga di tiga desa yang lain. Meski beberapa waktu yang lalu
kawasan penyangga ini mengalami tanah longsor akibat habisnya tanaman di
kawasan ini. Tetapi penjarahan jaln terus. Bahkan saat inipun penjarahan
telah memasuki wilayah rimba.

Penjarahan yang telah berlangsung sejak bulan Juli tahun 1998 ini
melibatkan tidak kurang dari 400 tenaga kerja/hari. Dengan upah berkisar
antara Rp40.000-Rp50.000 perhari/orang menjadikan profesi pengempleng
(penebang kayu jati) sebagai pilihan kerja yang cukup menggiurkan bagi
penduduk di sekitar lokasi taman nasional ini. Dari upah yang diberikan
kepada para pengempleng, putaran uang untuk penjarahan ini berkisar pada
Rp160 juta sampai Rp200 juta perhari. Apalagi kalau ditambah dengan biaya
transportasi dan uang tempel kepada petugas jagawana. Seorang aktivis
lingkungan Jember memperkirakan total putaran uang mencapai Rp600
juta/hari. Dengan harga jual Rp750.000 perkubik di pasar gelap, dapat
dihitung berapa kubik kayu yang dilang dalam sehari. Dan tinggal berapa
pohon lagi yang akan ditebang sampai kawasan ini benar-benar habis.
 
PELAKU TERORGANISIR Rata-rata pengempleng berasal dari desa sekitar
kawasan penyangga. Mereka sebenarnya masih punya pilihan kerja di bidang
lain, namun tawaran upah yang menggiurkan membuat para pengempleng ini
beralih profesi. Sedang dalam tata kerjanya, para pengempleng ini memiliki
majikan yang disebut blandong. Satu blandong biasanya membawahi 10-15
pengempleng. Diatasnya lagi ada pengepul yang bertugas mengkoordinasi para
blandong dan membawa keluar kayu jarahan ini.

Jangan heran kalau kayu jarahan ini sampai ke Surabaya, bahkan ke Bali.
Seorang sumber bahkan mengatakan kayu jarahan ini sebagian diekspor. Siapa
eksportirnya? " Itu, kiai yang selama dikenal sangat dengan MbakTutut itu.
Semua orang tahu kalau dia mendapat kayu jarahan yang dia ekspor " kata
sumber dari Curahnongko ini.

Ir. Indra Arinal, Kepala Taman Nasional Meru Betiri mengakui bahwa
keterlibatan penduduk di sekitar kawasan penyangga merupakan masalah yang
sangat kompleks diatasi. Apalagi dalam suasana euphoria seperti sekarang
ini. "Upaya pencegahan sebenarnya telah kami lakukan, tetapi saat ini kami
harus dihadapkan pada kondisi masyarakat yang sudah tidak percaya lagi
pada wibaba aparat keamanan. Bagi mereka saat ini ngempleng itu sudah
menjadi masalah hidup mereka" kata alumni IPB ini.

Sebenarnya dengan upah yang tinggi itu para pengempleng harus berhadapan
dengan berbagi resiko, termasuk ancaman terhadap jiwanya. Tidak jarang
pula penjarah kelas teri ini yang sering menjadi sasaran tembak, seperti
yang tertera dalam laporan rutin kepolisian. "Sampai saat ini sudah ada 23
orang yang diproses ke pengadilan," kata Lettu Winarto, Kasat Serse Polres
Jember. Dari 23 orang itu tidak ada satu blandong ataupun pengepul yang
terjerat. "Semuanya pengempleng yang tertangkap tangan," kata Lettu
Winarto menambahkan. Tak heran vonis yang dijatuhkan pun berkisar hanya
3-5 bulan penjara. Anggota militer? "Ada, tetapi mereka bukan bagian dari
kawanan penjarah, kayu yang dia ambil untuk keperluan mereka sendiri,"
kata perwira pertama ini buru-buru memberikan alasan. Mengapa blandong dan
pengepul selalu lolos dari sergapan? Apakah sudah demikian canggih kawanan
penjarah ini?

APARAT KEAMANAN TERLIBAT Keterlibatan aparat Jagawana maupun militer
membuat semakin maraknya penjarahan kayu. Sulit diterima akal, ribuan
kubik kayu jati selalu lolos dari portal penjagaan di pintu masuk kawasan
koservasi ini. Kolusi antara kawanan penjarah dan jagawana demikian
kentara. Indikasi ini tidak ditampik oleh Indra Arinal, tetapi buru-buru
dia menambahkan bahwa anak buahnya tidak berdaya berhadapan dengan orang
di balik para pengepul. "Berapa sih kemampuan anak buah saya? Kalau hanya
mereka saja yang terlibat saya sanggup menggencetnya. Seperti Widianto
yang Anda sebut. Saat inipun tengah diproses secara administratif
kepegawaian. Anggota militer itu yang membuat kawanan penjarah semakin
meraja lela," katanya. Widianto yang dimaksud adalah Kepala Seksi Regional
Ambulu yang selama ini dikenal sebagai blandong sekaligus perantara antara
pengepul dengan aparat keamanan.

Tentang leluasanya truk keluar masuk di pintu portal Indra menanggapi
dengan dingin, bagi dia pintu portal itu bukan wilayah kewenangannya, jadi
bukan tugas dia untuk menertibkan. "Tanya saja pada Perhutani, mengapa
pintu portal selalu kosong? Kemana petugas jaga itu pergi?" katanya dengan
sinis.

Dari beberapa sumber diperoleh informasi bahwa anggota militer yang
terlibat berasal dari beberapa kesatuan di Jember. Anggota polisi yang
bertugas mengamankan transportasi di luar wilayah Jember ke tempat tujuan.
Sedang untuk pengamanan dikawasan taman nasional melibatkan anggota
militer dari Koramil Tempurejo maupun Ambulu. Apalagi beberapa anggota
militer dari satuan Raipur Armed 8 Ambulu juga aktif menjadi beking.
Bahkan markas instalasi militer ini diyakini banyak pihak sebagai salah
satu tempat penggergajian kayu jarahan sebelum dipasarkan.

Namun hal ini disanggah oleh Komandan Sub Denpom V/3-2 Jember, Lettu (CPM)
Sumino. Bahkan perwira ini menyatakan keheranannya atas beberapa
keberhasilan kawanan penjarah kayu jati lolos dari sergapan aparat
militer. Lettu (CPM)Sumino menambahkan sepertinya kawanan ini selalu
mengetahui rencana operasi yang akan dilakukan oleh militer. Lho kok
begitu? "Tetapi saya jamin anggota saya tidak terlibat," katanya dengan
semangat.

Tetapi Lettu Sumino tidak membantah informasi adanya keterlibatan anggota
militer dari beberapa kesatuan yang selama ini ikut secara aktif dalam
penjarahan kayu jati. Termasuk dari satuan Armed 8 Ambulu. "Ya... saya
mendengar informasi itu. Tunggu saja, pasti akan kami tindak," katanya
dengan pasti. Menunggu sampai kapan. Sampai habis kayu jati di kawasan
konservasi ini?

Agaknya melihat ganasnya kawanan penjarah ini serta lambatnya tindakan
dari aparat, kita tinggal menunggu waktu saja melihat gundulnya kawasan
rimba, bahkan kawasan inti Taman Nasional Meru Betiri Tidak usah dalam
hitungan bulan, cukup dalam hitungan minggu saja, hutan konservasi ini
akan berubah menjadi padang tandus. Akibatnya? Siap-siap saja menghadapi
bencana longsor setiap tahun. (*)