[INDONESIA-L] Romo Mangun: Cermin b

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Mar 11 1999 - 08:46:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Mar 11 12:44:27 1999
Date: Thu, 11 Mar 1999 10:42:13 -0700 (MST)
Message-Id: <199903111742.KAA12144@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Romo Mangun: Cermin bagi yang Elit dan Mahal
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Thu, 11 Mar 1999 20:51:44 +0700
From: Raden Mas Soerjadi Soemodiwirio <sampeyan@hotmail.com>
To: John M D <apakabar@radix.net>
Subject: ROMO MANGUN: Cermin bagi yang Elit dan Mahal

HIDUP No. 11 Tahun LIII 14 Maret 1999

ROMO MANGUN: Cermin bagi yang Elit dan Mahal

PENDIDIKAN bermutu selalu mahal. Dalil pendidikan yang berlaku di banyak
sekolah Katolik ini disadari atau tidak, jelas menutup kesempatan bagi
anak-anak miskin untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Sudah lama Romo Mangunwijaya Pr mengecam praktik 'hukum rimba: siapa
kuat siapa dapat' ini. Bukan saja lewat omongan dan tulisan, Romo
Mangun mewujudkan sendiri tempat yang enak bagi kalangan miskin supaya
bisa bersekolah dengan baik. Namanya, SD Mangunan, di Kalasan, Sleman,
DIY. Di sekolah ini, anak-anak dari kalangan bawah yang tersingkir dari
sekolah mahal dan bermutu itu, memperoleh altematif pendidikan secara
baik.

Daripada anak-anak miskin stres karena malu dan minder bergaul dengan
teman-teman yang kaya di sekolah mahal (berkat fasilitas beasiswa), maka
kesempatan bersekolah di SD Mangunan, terasa lebih sehat. Kesempatan
seperti ini, temyata bisa dinikmati di tempat lain. Misalnya, di Taman
Pembinaan Anak Pasar (TPAP) Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sekolah informal yang berdiri sejak November 1990 ini mendidik anak-anak
pasar yang setiap hari mengais rejeki di Pasar Induk Kramat Jati.
Namanya saja anak pasar. Penampilan mereka rata-rata seragam: kumal,
bau, rambut acak-acakan, bersandal jepit dan semau gue.

Pada awalnya, pengelola TPAP kesulitan menarik anak-anak ini. Meski
gratis, anak anak pasar lebih suka mencari duit. Ada yang memungut
cabai, menyemir, ngamen, dan pekerjaan jalanan lainnya. .

Setelah lama diadakan pendekatan, terutama sejak krisis ekonomi, jumlah
siswa meningkat menjadi sekitar 150-an. Mereka berusia antara 7-16
tahun. Tapi, bila ada remaja berusia lebih dari 16 tahun yang ingin
bergabung, pengelola tetap menerimanya. Para siswa ini belajar dengan
menumpang di dua ruang Gedung Karang Taruna Kclurahan Kampung Tengah
yang sederhana. Dua ruang itu terbagi untuk kelas Dasar A dan Dasar B.

Pelajaran rata-rata diberikan selama dua jam per-hari (kecuali Jumat dan
Minggu). Selain muatan umum seperti agama, berhitung, bahasa Indonesia,
bahasa Inggris, siswa mendapat pengetahuan kesehatan, hukum, dan
pembinaan akhlak. Termasuk pengetahuan tentang PMS (penyakit menular
seksual), semacam HIV/AIDS.

Pengelola pun memperhatikan kesehatan para siswa. Setiap siswa mendapat
kartu pelayanan gratis untuk berobat di Puskesmas setempat. Secara
kontinyu, pada minggu I, mereka mendapat tambahan makanan sehat, minggu
II makanan bergizi dan minggu III tambahan vitamin.

Di TPAP ini, siswa tidak mengenal evaluasi hasil belajar, atau ulangan
catur wulan. Tapi setiap Kamis, mereka wajib mengikuti ulangan untuk
mengevaluasi hasil belajar. Periode belajar tiga bulanan pun berlaku
sangat fleksibel. Artinya, jika ada siswa yang aktif, prestasinya
meningkat dan layak naik tingkat, langsung ia dinaikkan ke kelas yang
lebih tinggi.

Setelah 8 tahun (sampai 1998), TPAP berhasil menghantarkan seorang anak
lulus dari STM, 14 anak sedang mengenyam pendidikan SLTP dan sejumlah
lainnya di SLTA. Mereka melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dari
Yayasan Nanda Dian Nusantara, promotor berdirinya TPAP ini.

Ponpes gratis

Kesempatan bersekolah tanpa mengeluarkan duit, juga bisa didapatkan di
Pondok Pesantren (Ponpes) Modern AI-Baroqah, Jati Makmur, Pondok Gede,
Bekasi, Jawa Barat.

Ponpes ini didirikan pada 1982 oleh KH Abubakar, seorang mubaliq
nasional. Mulanya, kiai yang suka berceramah di berbagai daerah di
Indonesia ini cuma mendidik dua santri, yang kebetulan pembantu rumah
tangganya sendiri. Ketika pernbantunya pulang ke daerah, mereka
mengajak 12 teman sedaerahnya untuk bergabung di Bekasi. Lama-lama,
santri semakin banyak. KH Abubakar pun mulai merintis sekolah formal,
dari tingkat Madrasah lbtidaiyah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SLTP) sampai
Aliyah (SLTA).

Sampai tahun ajaran 1998/1999 ini menurut keterangan Ketua Ya asan
AI-Barokah, Drs. H. Jamaludin (37), Ponpes AI-Barokah memiliki 420
santri. "270 tinggal di asrama dan 150, pulang pergi," tutur putra
pertama KH Abubakar ini. Para santri itu berasal dari berbagai daerah,
seperti NTT, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan,,dan Irian. Seluruh santri
tidak dipungut biaya pendidikan sepeser pun. Mereka boleh makan dan
tidur di asrama berupa bangsal dengan gratis. Bahkan, mereka mendapat
jatah seragam dua kali setahun. Biaya operasional ponpes diperoleh dari
sumbangan para alumni, tanpa sedikit pun bantuan dari pemerintah.
Bangunan pesantren di pinggir jalan raya itu pun termasuk megah.
Gedungnya berlantai tiga, dilengkapi dengan asrama untuk para santri
putra dan putri. Haji Abubakar sendiri, malah tinggal di sebuah kamar.
la tak memiliki ru_ mah. "Rumah saya adalah rumah anak anak, ujar Haji
Abubakar seperti dituturkan Haji Jamaludin, yang juga ustad itu.

Menurut H. Jamaludin, ayahnya memang tak lagi memikirkan harta duniawi.
Ayahnya punya harta, dan juga ilmu. Saatnya untuk memikirkan anak-anak
miskin yang tak tersentuh pendidikan olch pemerintah. "Di sini anakanak
belajar agama dan memperoleh pendidikan formal," ujar sarjana psikologi
pendidikan lulusan UNS, Solo itu lagi.

Mandiri

Namanya pondok pesantren tentu pendidikan terpokoknya adalah pendidikan
agama. Meski begitu, ponpes Al-Barokah lebih menekankan pelajaran agama
pada segi keimanan. Karena para santri berasal dari daerah, mereka
harus bisa mandiri. Para santri belum boleh pulang kalau belum bisa
berdakwah. Pada tingkat II Aliyah, para santri dilatih menjadi
pemimpin. "Mereka kami anjurkan unt.uk memberikan les privat di
rumah-rumah dan menjadi khotib di masjid masjid," jelas pegawai
Depdikbud Bekasi ini. Nah, dari kegiatan itu, para santri mendapat
penghasilan.

Penghasilan santri tidak boleh dipakai semaunya. Ada ketentuannya.
Menurut H. Jamaludin, 70 persen penghasilan santri harus ditabung, dan
30 persennya untuk transport. Selanjutnya, hasil tabungan itu akan
dipakai para santri sendiri setelah lulus dari Aliyah. "Apakah mau
dipakai untuk nikah, kursus, atau kuliah. Umumnya, mereka mengambil
kursus atau kuliah?" ujar H. Jamaludin, yang tinggal di sdbuah perumahan
di Cibitung, Jawa Barat itu.

H. Jamaludin pun bisa berbangga pada tamatan ponpes-nya. Soalnya, para
santri yang berasal dari keluarga miskin ini, 70 persennya sudah mampu
hidup mandiri. Biasanya, dua kali setahun, pada hari raya Idul Adha dan
1 Muharam, para lulusan itu bertemu. Di situ, mereka saling berbagi
informasi tentang lapangan kerja. Dan, tentu saja ikut menyumbang alma
matemya. Dengan sukarela, mereka menyerahkan 2,5 persen dari
penghasilannya untuk ponpes. "Mereka sadar karena telah dididik olch
pak kiai tanpa bayar sepeser pun. Tanggung jawab pun muncul dengan
sendirinya," kata H. Jamaludin..

Supaya para santri bisa mandiri, pengasuh ponpes ini memberikan bekal
ketrampilan yang
praktis-praktis. Selain kepandaian berdakwah, mereka diajari
ketrampilan yang langsung
bermanfaat, seperti memotong hewan dan akuntansi. Pemah diberikan
ketrampilan menjahit
dan bengkel. Kegiatan terhenti karena kekurangan dana. "Kini sedang
dikembangkan lagi
kerja sama dengan Depsos," tambah H. Jamaludin.

Pendidikan agama di ponpes berbeda dari pendidikan agama di sekolah
umum. Di sini
pendidikan agama itu langsung dihayati dan dipraktikkan. Jadi bukan
teoritis dan sekadar
dihafal. Misalnya, bagaimana shalat, berpuasa, berzakat. Juga
bagaimana mengurus orang
meninggal. "Mereka langsung praktik kalau ada orang meninggal di
sekitar sini," tutur H.
Jamaludin.

Pendidikan akan nilai-nilai kemanusiaan, berupa pendidikan akhlak,
seperti sopan santun dan
moral pun sangat diutamakan. "Sebab, Rasulullah hadir di dunia ini
untuk menyempumakan
akhlak dan budi pekerti manusia, sehingga membuat simpati bagi orang
lain," ujar H. Jamaludin
lagi. Untuk mempraktikkan ajaran ini, para pengasuh ponpes mengajak
para santri untuk
memberikan zakat fitrah kepada fakir miskin yang datang ke pondok.
Tanpa memandang
agamanya. Soalnya, Allah juga memberi rahmad kepada siapa saja. "Kami
bersama para
santri pun ikut memberikan kesejukan bagi masyarakat di sekitamya,"
lanjut murid Gus Dur di
Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, tahun 1980 ini.

Nah, untuk ke depan, ponpes ini sudah berencana membangun laboratorium
bahasa, meliputi bahasa Arab dan Inggris. Sedang laboratorium komputer
sudah beroperasi. Karena sejak kelas 6 SD, para santri sudah dibiasakan
mengoperasikan komputer.

Para pengasuh sadar, bagaimanapun ponpes akan tetap berperan sangat
penting dan sangat menentukan bagi kebihupan masa depan bangsa ini.
Soalnya, di ponpes para santri sudah ditempa dengan pendidikan moral
agama. Di sini para santri disadarkan, mereka lahir bukan untuk diri
sendiri, tapi terutama buat sesama, buat bangsa dan bukan untuk
mengganggu orang lain. "Kalau itu dilaksanakan, tak akan terjadi
permusuhan," tegas konsultan pendidikan di heberapa akademi di Bekasi
ini.

Ternyata, di tengah arus deras komersialisasi - termasuk di bidang
pendidikan masih ada arus lain yang mau memberikan tempatnya bagi yang
kekurangan. Inilah cermin bagi sekolah-sekolah 'elit' (khusus bagi
murid pintar) dan 'mahal' (khusus untuk yang kaya) untuk - merujuk pada
Petunjuk Pelaksanaan Sinode KAJ 1990, pasal 111 C2 - "menurunkan
tuntutan akademis dan finansial yang berlebihan".

Anton Sumarjana

Laporan Fl. Wardiyanto, dan dari sumber lain.

-----------------------------------------------------------------------

sent by: Raden Mas Soerjadi Soemodiwirio