[INDONESIA-L] KLIPING - Dwi Fungsi

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Mar 16 1999 - 12:53:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Mar 16 16:51:50 1999
Date: Tue, 16 Mar 1999 14:48:48 -0700 (MST)
Message-Id: <199903162148.OAA05734@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] KLIPING - Dwi Fungsi Merupakan Jati Diri ABRI
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Tue, 16 Mar 1999 12:01:36 +0700
From: Raden Mas Soerjadi Soemodiwirio <sampeyan@hotmail.com>
To: John M D <apakabar@radix.net>
Subject: KLIPING - Dwi Fungsi Merupakan Jati Diri ABRI

Kliping - Dwi Fungsi Merupakan Jati Diri ABRI dan Tak Bisa Dihilangkan.
TEMPO Interaktif - 14/Feb/1998

Wawancara Mayjen TNI Arifin Tarigan:
“Dwi Fungsi Merupakan Jati Diri ABRI dan Tak Bisa Dihilangkan.”

Komentar: Numpang tanya : apa Jendral ini misih dipake oleh Mas Wiranto
ya ???
--------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana posisi ABRI di masa yang akan datang di tengah tantangan
persaingan ekonomi dan pasar bebas? Ini pertanyaan yang mudah
dilontarkan, tapi sudah memberikan jawabnya. “ABRI akan menyesuaikan
dengan kondisi dan lingkungan di masa depan,” kata anggota Fraksi ABRI,
Arifin Tarigan. Sebab, menurut mantan Komandan Seskoad ini, tantangan
masa depan bukan lagi masalah pertahanan kemananan, melainkan masalah
ekonomi, kendati pada akhirnya akan berdampak pada masalah pertahanan
keamanan.

Jenderal berbintang dua ini tidak sependapat jika dwifungsi ABRI
dihilangkan. “Dwifungsi merupakan jatidiri ABRI dan itu tidak bisa
dihilangkan,” ujarnya. Namun masalah dwifungsi tetap akan mengikuti
perkembangan dan perubahan zaman. Pengurangan anggota ABRI yang duduk di
DPR dari 100 orang menjadi 75 anggota, di mata Tarigan, adalah salah
satu bukti ABRI mengikuti perubahan itu. Tidakkah semestinya ABRI
kembali ke barak? “Militer Indonesia berbeda dengan militer negara
lain,” Kata Arifin tentang pendapat yang mengatakan ABRI mengikuti
langkah militer di Korea dan Thailand untuk kembali ke barak setelah
turun dari panggung politik.

Kepada TEMPO Interaktif, alumni Akademi Militer Nasional (AMN) 1965 yang
kini berusia 55 tahun itu memberikan jawaban atas pertanyaan yang
diajukan pada Rabu, 11 Februari 1998, di ruang kerjanya Gedung DPR
Lantai XIX, Senayan, Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat posisi ABRI masa depan di tengah tekanan pasar
bebas?
Saya melihat tantangan ABRI di masa depan lebih sulit. Mereka harus
melihat apa dampaknya bagi tantangan masa depan. Seperti masalah
ekonomi, misalnya, tidak bisa lagi diatasi dengan senjata. Tapi
dampaknya akan berpengaruh pada pertahanan keamanan. Kalau dulu
tantangan atau masalah yang dihadapi oleh ABRI adalah masalah ideologi.
Tapi kini telah beralih kepada masalah ekonomi.

Bagaimana kesiapan generasi ABRI saat ini menghadapi tantangan masa
depan yang bukan lagi masalah pertahanan keamanan ?
Mereka siap. Jangan bandingkan generasi ABRI sekarang dengan generasi
ABRI terdahulu. Tantangan yang akan dihadapi oleh generasi ABRI sekarang
dengan yang terdahulu sangat berbeda. Kalau generasi terdahulu telah
berhasil menjalani tantangannya, generasi ini harus diberi kepercayaan
dan kesempatan untuk menghadapi tantangannya di generasinya sendiri. Dan
ini tidak hanya di ABRI, tapi juga di sipil. Saya menaruh harapan dan
kepercayaan kepada generasi ABRI untuk menghadapi tantangannya.

Apakah mereka siap menerima perubahan-perubahan yang bukan lagi
berhubungan dengan senjata?
Generasi ABRI sama dengan generasi sipil sekarang. Kalau generasi sipil
lebih terdidik, begitu pula dengan generasi ABRI. Masalahnya, tantangan
generasi sekarang dengan yang lalu berbeda. Walau pun mereka terdidik,
tetapi tantangannya lebih besar. Bisa saja mereka gagal. Jadi mereka
harus menyadari hal ini. Mereka jangan terbuai oleh kebesaran masa lalu
tanpa bisa mengaplikasikan pada zamannya. Kalau ABRI berhasil menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa, bagaimana generasi ABRI melihat tantangan
hal itu pada masa datang? Sebab tantangan ke depan lebih kompleks. Dan
mereka dituntut untuk bisa memahaminya.

Apa yang harus dilakukan oleh ABRI di masa datang?
Ada kecenderungan dari masyarakat agar ABRI mengurusi pertahanan
keamanan saja. Tidak lagi melakukan dwifungsi. Padahal jati diri ABRi
adalah dwifungsi. Sebagai seorang ABRI, dia mengakui sebagai tentara
nasional, tentara rakyat, dan tentara pejuang. Sebagai tentara nasional
dia tidak memihak.Sebagai tentara rakyat, ABRI menyatu dengan rakyat.
Dan sebagai tentara pejuang, seorang ABRI menjadi tentara bukan
mengharapkan gaji melainkan panggilan tugas negara. Jadi dalam
dwifungsi, seorang tentara tidak hanya menjalankan profesi militer, tapi
juga ikut dalam kekuatan politik lain dalam membangun bangsa ini. Nah,
kalau dwifungsi dihilangkan, ini berarti menghilangkan jati diri ABRI.
Yang harus dilakukan oleh generasi ABRI sekarang, bahwa keadaan sudah
berubah. Namun nilai dasar ABRI sebagai seorang prajurit tidak boleh
berubah. Jadi nggak cukup ABRI hanya di barak saja. Ini sama saja dengan
menghilangkan jati diri ABRI. Apakah dengan menghilangkan jati diri ABRI
keadaan akan baik. Kan tidak ada jaminan. Militer Indonesia berbeda
dengan negara lain.

Apakah konsep dwifungsi ini masih relevan dengan kondisi sekarang?
Buktinya pengiriman pasukan perdamaian ABRI di Kamboja, mereka terkenal.
Letnan Jenderal Sheinderson dari Australia mengakui keberhasilan ABRI
bukan di bidang profesional militer, tapi di bidang kejuangannya sebagai
tentara rakyat. Ini terlihat tentara kita sangat dicintai oleh rakyat
sana. Ini kan ironi, di sini tentara kita tidak dicintai sementara di
Kamboja tentara kita dicintai. Fungsi sosial politik ABRI adalah bentuk
pengabdiannya kepada negara.
Memang ABRI disorot karena kekuasaan. Seperti jadi gubernur dan bupati.
Tetapi ABRI yang membantu korban kelaparan tidak diperhatikan orang. Ini
kan salah satu fungsi dwifungsi. Tapi yang disorot selalu yang enak-enak
saja. ABRI menjadi gubernur atau bupati, itu karena anggota ABRI juga
sebagai warga negara. Mereka bukan warga negara kelas satu. Setiap
anggota ABRI tidak terlepas identitasnya sebagai warga negara. Dan punya
hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain.

Bagaimana ABRI harus memainkan peran dwifungsi di masa datang?
ABRI tetap memainkan peran dwifungsinya di masa datang. Hanya pola dan
metodenya disesuaikan dengan lingkungan dan tuntutan masa depan.
Misalnya, rakyat sekarang sudah berubah. Kalau dulu di Jawa Barat rakyat
senang ada tentara yang tinggal di rumahnya, tapi sekarang nilai-nilai
dalam masyarakat sudah berubah. Nah, mau tidak mau ABRI harus
menyesuaikan diri.

Ada pendapat sebaiknya peran dwifungsi ABRI hanya di MPR saja, bukan di
DPR, menurut Anda?
ABRI harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. ABRI yang akan datang
tidak harus seperti sekarang. Nah, bagaimana pintarnya ABRI menyesuikan
diri dengan perubahan lingkungan ini, agar ABRI bisa diterima di
lingkungannya. Ini terserah generasi ABRI nanti. Tapi kalau ABRi masih
menggunakan pola dan metode yang lama untuk yang akan datang, itu sudah
tidak sesuai. Sebab zaman sudah berubah.

Apakah yang dimaksud dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan, ABRI
masih tetap memainkan peran di DPR dan pemerintahan?
Lingkungan berubah dan ABRI harus menyesuikan dengan perubahan. Seperti
pengurangan anggota ABRI dari 100 anggota menjadi 75 orang di DPR. Ini
kan menyesuaikan diri namannya.

Tantangan di masa depan adalah masalah-masalah ekonomi, bukan lagi
masalah pertahanan keamanan. Apakah ABRI cukup menguasai tantangan masa
depan itu?
ABRI melihat masalah ekonomi di masa datang dari kaca matanya sebagai
prajurit. Karena bagaimanapun masalah ekonomi akan berdampak kepada
masalah pertahanan keamanan. Seperti kerusuhan akibat langkanya barang
kebutuhan pokok. Nah, ABRI harus mengerti akar permasalahannya apa.
Kalau ABRI tidak mengerti, akan bertindak secara buta atau main tembak.
Ini bukan ciri ABRI. ABRI harus bisa memadamkan api agar tidak menjadi
besar. Jadi ABRI bukan ahli di bidang ekonomi, tapi ABRI mengerti
penanganannya.

Apakah sebaiknya ABRI di barak saja dan turun ke lapangan bila terjadi
kerusuhan sajak?
Filosofinya, ABRI bersama kekuatan sosial politik lainnya tampil untuk
mengatasi masalah. Sebab pola yang dilakukan ABRI dahulu berbeda dengan
pola yang harus diterapkan ABRI yang akan datang.

Bagaimana Anda melihat peran militer di Korea dan Thailand yang secara
perlahan menyerahkan kekuasaannya kepada sipil dan kembali di barak?
Kedua negara itu berbeda dengan kita. Saya tidak setuju kalau kita
meniru mereka. Lebih baik kita mengembangkan apa yang kita miliki.
Tetapi kalau kita tidak mau mengembangkan diri dengan tuntutan zaman,
kita akan terpuruk. Selama ini kita bisa bergandengan dengan rakyat.
Yang kita harus lakukan adalah mengevaluasi kelemahan-kelemahan itu. Itu
lebih bagus ketimbang kita mengambil model lain, lalu kita terapkan.

Apakah ini menunjukkan ABRI yang tidak mau diperintah oleh sipil?
Oh, nggak ada itu di ABRI begitu. Buktinya Presiden Soekarno adalah
sipil, kok mau ABRI-nya diperintah. Ini salah satu bukti sejarah. Lalu
beberapa menteri pertahanan pada waktu itu berasal dari sipil. Seperti
Pak Djuanda.

Setelah azas tunggal disepakati oleh semua partai dan ormas, apa yang
dikhwatirkan ABRI di DPR? Apakah masih ada kemungkinan perubahan
ideologi?
Mungkin itu salah satu mengapa anggota ABRI di DPR dikurangi menjadi 75
orang. Dan ada kemungkinan untuk dikurangi menjadi 50 orang misalnya.
Tapi jati diri ABRI adalah dwifungsi dan itu tetap ada.

Bagaimana dengan figur pemimpin masa depan, apakah masih perlu seorang
presiden dari militer?
Kalau secara pribadi, di negara lain pun militer juga bisa jadi
presiden.
Seperti Eisenhower, Kennedy, dan lainnya. Militer adalah warga negara.
Apakah karena mereka militer, lalu tidak boleh menjadi presiden. Kan
tidak ada ketentuan itu.

Ada tuntutan agar reformasi ekonomi yang tengah dijalankan harus
dibarengi dengan reformasi politik?
Politik bukan hal yang berdiri sendiri. Tapi semua menyangkut perubahan
di semua lini. ABRI menginginkan perubahan tetapi menyesuaikan dengan
lingkungan. Dan tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Bagaimana dengan tuntuntan reformasi politik mengenai pergantian
presiden?
Wah, kalau itu tanya Mabes ABRI.

Bukankah Anda wakil rakyat?
Untuk hal ini saya no comment.

Apakah akan ada suksesi untuk menggantikan Soeharto?
Saya yakin akan ada orang yang akan menjadi presiden setelah Pak Harto.
Nggak mungkin tidak ada.

Apakah perlu ada pembatasan masa jabatan presiden?
No comment. Saya tidak mau menimbulkan polemik.

Apa pendapat Anda mengenai maraknya pencalonan presiden selain Pak
Harto?
Itu wajar-wajar saja dalam alam demokrasi. Di Filipina saja ada 70
calon. Tapi kita sudah memiliki mekanismenya. Kalau sistemnya dirasakan
kurang bagus, ya, kita perbaiki sistem itu dan jangan bikin sistem
sendiri-sendiri.

Apakah ini menunjukkan respon masyarakat akan perlunya suksesi?
Suksesi itu pasti terjadi. Tapi kita tidak tahu kapan akan terjadi.

Apakah dalam sidang umum nanti akan terjadi suksesi?
Nggak tahu saya. Suksesi pasti terjadi, tapi entah kapan.