[INDONESIA-L] SM - Upaya Latief dkk

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 06 1999 - 11:30:00 EDT


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 6 14:22:18 1999
Date: Tue, 6 Apr 1999 12:20:33 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904061820.MAA01534@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SM - Upaya Latief dkk Meluruskan Sejarah (1)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

                             logo SUARA MERDEKA
                                      
     Selasa, 6 April 1999 Berita Utama
   
Upaya Latief dkk Meluruskan Sejarah G30S/PKI (1)

''Jenderal Itu Memang Ditembak Dekat Lubang...''

   PENGANTAR: Dua tokoh pelaku G30S/PKI, Abdul Latief dan Boengkoes,
   berniat meluruskan sejarah tragedi kelam itu. Ada fakta-fakta baru
   dari pengakuan mereka setelah bebas dari penjara. Berikut laporan
   seputar upaya mereka itu dalam dua seri tulisan.
   [INLINE]
   A Latief dan Boengkoes (Rep. Gatra)
   
   TIDAK lama setelah menghirup udara bebas lewat grasi Presiden BJ
   Habibie, empat eks tapol/napol masing-masing Kolonel Abdul Latief
   (73), Boengkoes (72), Asep Suryaman (74), dan Nataniel Marsudi (75)
   mengeluarkan pernyataan sikap ingin meluruskan sejarah G30S/PKI.
   
   Menurut mereka, peristiwa tahun 1965 yang menewaskan enam jenderal dan
   seorang perwira pertama Angkatan Darat itu bukan bermaksud kudeta
   terhadap Presiden Soekarno melainkan aksi mencegah kup oleh kelompok
   jenderal di AD yang menamakan diri Dewan Jenderal. Benarkah?
   
   Pernyataan sikap para eks tapol/napol itu mungkin layak dicermati.
   Pasalnya, dua di antara mereka adalah pelaku utama peristiwa tersebut.
   Latief ketika itu menjabat sebagai Komandan Brigade Infantri I Jaya
   Sakti Kodam Jaya dan bertindak sebagai Komandan Pasukan Pasopati
   (pasukan yang bertugas menculik para jenderal). Sedangkan Boengkoes
   ketika itu berpangkat sersan mayor dan secara langsung terlibat dalam
   penculikan Mayjen TNI MT Haryono.
   
   Dalam peristiwa itu, Latief mempertanyakan sikap Soeharto yang hanya
   diam saja ketika menerima laporan adanya rencana kup oleh Dewan
   Jenderal. ''Mestinya sebagai Pangkostrad, ia segera melaporkan hal itu
   kepada atasan, yaitu Menpangad (Jenderal Ahmad Yani) atau ke Presiden.
   Tapi ini kok malah mengambil alih, bukan melaporkan,'' katanya heran.
   
   Dalam kesempatan terpisah, Boeng-koes menyatakan ketidaktahuannya
   me-ngenai latar belakang peristiwa tersebut. ''Sebagai bawahan, saya
   hanya menjalankan tugas. Tapi, bahwa sejarah itu kemudian
   dijungkirbalikkan dan semua kesalahan serta dendam ditujukan pada
   kami, itulah yang menjadikan hati kami masygul,'' katanya.
   
   Boengkoes kemudian mengkritik habis film Pengkhianatan G30S/PKI.
   Menurutnya, penggambaran peristiwa itu oleh rezim Orde Baru tidak
   sesuai dengan kenyataan. Dari semua kejadian di Lubang Buaya, hanya
   peristiwa penembakan dan dimasukkannya para jenderal itu ke dalam
   lubang (sumur) yang benar.
   
   Sementara gambaran tentang penyiksaan, pencungkilan mata, sayatan,
   seretan, dan latihan Gerwani sama sekali tidak benar. ''Saya akui
   jenderal itu ditembak di dekat lubang, jatuh, dan masuk lubang. Itu
   saja. Sama sekali tidak ada penyiksaan sebelumnya,'' katanya.
   
   Menulis Buku
   
   Latief mengaku akan segera menerbitkan kisahnya tentang pemberontakan
   G30S/PKI yang dia saksikan. Dalam wawancaranya dengan beberapa media
   massa, ada isyarat Latief bukan tokoh pelaku yang sebenarnya dari
   peristiwa berdarah tahun 1965 itu.
   
   Ia pun, seperti yang dikutip sebuah tabloid, berpendapat dia bukan
   anggota PKI. ''Di dalam pengadilan tidak ada fakta hukum yang
   menyatakan saya anggota PKI. Bahkan, Syam Kamaruzaman yang menjadi
   saksi atas pengadilan mengatakan, saya bukan anggota PKI dan tidak
   mungkin orang PKI karena sifat dan sikap saya yang borjuis,'' katanya.
   
   Dia mengaku tidak pernah melakukan makar. Tidak pernah punya niat,
   baik sendiri maupun terorganisir untuk melakukan perebutan kekuasaan
   secara tidak sah. Yang dilakukan saat itu hanya membela negara dan
   membela kewibawaan Presiden Soekarno. Dia menanyakan, apa yang dia
   lakukan itu salah? Apakah membela negara itu makar? Dia juga menolak
   disebut sebagai orang PKI, karena itu dia minta namanya
   direhabilitasi.
   
   Dia akan menulis buku untuk meluruskan sejarah sekitar peristiwa
   berdarah G30S/PKI yang terjadi 34 tahun lalu. Dia pun akan
   menyampaikan yang sebenar-benarnya tentang apa yang dia ketahui
   termasuk klarifikasi peristiwa kelam itu. Latief akan melakukan hal
   itu, tapi belum bisa memastikan kapan akan memberi penjelasan.
   
   Isu Dewan Jenderal
   
   Semua memang bermula dari adanya isu Dewan Jenderal di tubuh Angkatan
   Darat. Isu bertiup ketika pada ulang tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965
   tiba-tiba muncul pasukan Raiders Linud 530 Kodam Brawijaya dari Jawa
   Timur, Batalyon Linud 424 Kodam Diponegoro Jawa Tengah, dan Yon Kujang
   Kodam Siliwangi 330/328. Mereka datang ke Jakarta atas perintah
   Soeharto dengan radio telegram.
   
   Seluruh pasukan elite itu datang membawa perlengkapan perang, bahkan
   membawa peluru cadangan sampai tingkat tiga. ''Ini seolah-olah darurat
   perang. Saya heran, mau defile saja kok membawa peralatan berat
   seperti darurat perang begitu,'' kata Abdul Latief pada kesempatan
   yang lain.
   
   ''Kedatangan pasukan itu membuat kami, orang-orang yang loyal kepada
   Soekarno, menjadi curiga dan bermaksud melindungi Presiden,''
   lanjutnya.
   
   Jenderal Soepardjo pun kemudian meminta agar Dewan Jenderal dihadapkan
   kepada Presiden agar masalahnya menjadi jelas. Tetapi, yang jelas
   ketika itu perintah menghadapkan para anggota Dewan Jenderal dalam
   keadaan hidup.
   
   Tapi pada 30 September malam, Syam, intel Untung, tiba-tiba nyelonong
   dan terus mengikuti Dul Arief yang malam itu memimpin pasukan
   Cakrabirawa yang bertugas membawa Dewan Jenderal. Dul Arief, anak buah
   Untung, kemudian bertanya kepada Syam, bagaimana bila para jenderal
   itu membangkang serta menolak diajak menghadap Presiden.
   
   ''Syam bilang supaya para jenderal ditangkap hidup atau mati.
   Instruksi Syam itu yang tidak kami ketahui,'' kenang Latief.
   
   Ketika Dul Arief melaporkan semua sudah selesai tanggal 1 Oktober
   1965, Latief dan Jenderal Soepardjo semula memberi mereka ucapan
   selamat. ''Tetapi ketika Dul Arief bilang bahwa para jenderal itu mati
   semua, saya betul-betul kaget. Sebab tidak begitu rencananya,''
   tuturnya.
   
   Lalu apa peran Sersan Mayor I Boengkoes ketika itu? ''Pada saat itu
   saya mendapat perintah dari atasan, ada kelompok Dewan Jenderal yang
   akan melakukan kup. Tugas saya adalah menggagalkan usaha Dewan
   Jenderal itu dan menyelamatkan Panglima Tertinggi, Paduka Yang Mulia
   Presiden Soekarno. Itu yang pokok. Saya anggota Cakrabirawa, masak
   memberontak kepada Presiden,'' katanya.
   
   Menangkap MT Haryono
   
   Boengkoes mendapat perintah untuk menangkap Jenderal MT Haryono, hidup
   atau mati.
   
   ''Tugas tentara di bagian penyerangan ya menyerang dulu. Tugas saya
   menangkap, setelah itu diserahkan kepada komando. Di komando ada orang
   lain lagi. Dalam menangkap Haryono ini, anak buah saya secara tak
   sengaja menembak. Sebab, di rumah itu lampu dimatikan. Setelah diketuk
   tiga kali, dibuka dan ada gerakan, langsung ditembak,'' ungkapnya.
   Penembakan itu sendiri diperintahkan oleh Dul Arief, atasan Boengkoes.
   
   Kendati begitu, sampai saat itu Boengkoes sama sekali tidak tahu
   apakah tindakannya ditunggangi Partai Komunis Indonesia (PKI). ''Tidak
   ada orang PKI. Saya diperintah menurut garis komando. Tidak ada
   komando dari orang lain. Kalau ada, saya tolak. Apalagi PKI orang
   sipil, tidak mungkin. Tentara itu mengabdi kepada perintah. Kalau
   perintah itu merah, ya harus dilaksanakan merah,'' ujarnya.
   
   ''Sampai sekarang, saya tidak tahu kalau gerakan itu ada hubungannya
   dengan gerakan PKI. Kalau PKI yang waktu itu melakukan, Jakarta dan
   kota-kota lain pasti hancur,'' tegasnya.
   
   Menurut Latief, setelah di penjara ia baru tahu Syam pimpinan Biro
   Khusus PKI. Suatu kali Syam mengatakan, dia tahu siapa A Latief
   sewaktu dulu bergerilya di Yogya. ''Saya tanya, kamu di mana? Dia
   jawab kalau dia anak buahnya Harto. Dia dulu bergabung dengan pasukan
   Wehrkreis-nya Soeharto tahun 1949. Dia banyak tahu tentang gerilya
   saya,'' tuturnya.
   
   Saat itu pula Syam mengatakan dia dari Biro Khusus PKI. ''Saya
   kemudian bertanya, apa itu Biro Khusus?'' lanjutnya. Ia kemudian juga
   memastikan, Syam tidak bertindak sendiri ketika nyelonong dan memberi
   perintah menangkap jenderal hidup atau mati.
   
   ''Saya yakin itu pasti rekayasa,'' katanya kemudian. Bahkan sejauh
   itu, Latief tidak pernah mendengar adanya penyusupan PKI di tubuh
   Angkatan Darat. Ia pun tidak tahu banyak siapa Syam, yang dia tahu
   Syam adalah intel Untung dan dekat dengan Soeharto. (Tresnawati, Eko
   Suksmantri-24d)