[INDONESIA-L] CARAKA GENDENK (22) S

From: apakabar@Radix.Net
Date: Sat Apr 10 1999 - 08:07:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Apr 10 11:01:57 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id LAA11433
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Sat, 10 Apr 1999 11:01:57 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id LAA06237
        for <apakabar@radix.net>; Sat, 10 Apr 1999 11:01:57 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id JAA22424; Sat, 10 Apr 1999 09:00:18 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Sat, 10 Apr 1999 09:00:18 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id IAA22375; Sat, 10 Apr 1999 08:59:56 -0600 (MDT)
Date: Sat, 10 Apr 1999 08:59:56 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904101459.IAA22375@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] CARAKA GENDENK (22) Sebuah Komplain terhadap Senioritas Kehidupan
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Sat, 10 Apr 1999
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: CARAKA GENDENK (22) Sebuah Komplain Terhadap Senioritas Kehidupan

KOLOM CARAKA GENDENK (22) Sebuah Komplain Terhadap Senioritas Kehidupan

Bagus. Sudah meningkat. Begitu donk, belajar nulis yang baek.
Awal-awalnya memang kejeblos-jeblos, nanti lama-lama terbiasa.

Kalau sudah (agak) sama level pemahaman dan refleksi berpikirnya khan
enak dialognya. Apa gunanya sih memaki-maki orang. Hebat gitu ya
kedengarannya? Tapi khan semua orang juga bisa. Asal ada kebarnian
mbacot taik aja. Dan itu ndak susah karena bangsa(t) Indonesia ini
memang bakat yang beginian. Caci-maki doank, tanpa substansi.

Manusia modern dan moderat macam Caraka Gendenk ini gampang koq.

You ngomong apa, kekliruan, kesalahan, kekisruhan, kejelekan. Coba kita
kaji bersama. Benar tidak. Sampai sejauh mana you punya refleksi atas
kebenaran itu terpampang secara proporsional atas situasi empirik yang
obyektif. Apakah cuma sekedar bayangan yang kabur akibat cermin yang
buram. Atau memang that's core the problem. Kasih bukti donk, narasi,
paparan, pandangan. Lebih baik lagi gagasan, proposal gimana baiknya.

Kalau itu benar problem. Khan Caraka akui. Caraka tambahi malah (Kolom
21)

Namun memang kalau semua (bahkan mayoritas) bangsa(t) Indonesia seperti
ini ndak kejadiannya kita dibohong'i rezim diktator selama 1 generasi.
Apalagi kalau didragged lebih jauh kebelakang, sampai zaman VOC doeloe,
oempamanya.

Ini ngajari terus terang. Kesemuanya adalah kesalahan sistem pendidikan
dan sistem budaya kita. Totalitas kebusukan. Seperti sudah sering Caraka
bahas, totalitas kebusukan dari dalam adalah one of the crucial problems
in our nation. Kendala besar bagi the character building of Indonesia di
awal milenium baru.

Dan Saudara-saudara sekalian, dengarkan gaung Caraka Gendenk ini.

Bukan tidak ada orang-orang gila di pemerintahan yang tidak terganggu
melihat dan merasakan ini. Bukan tidak ada pemikiran perbaikan,
proposal, ide, visi. (urutannya harus benar seperti itu dari mikro ke
makro).

Hari ini Caraka ingin berbicara dari satu tinjau-pandang yang belom
banyak dibahas di forum ini yakni fragmentasi, dikotomi, perbedaan dari
"generasi muda" dan "generasi tua".

Sebelum nyebur, perlu ditegaskan bahwa term "tua" dan "muda" tidak
selalu berkait dengan indikator "usia". Meski di mayoritas kasusu memang
demikian jadi variabel pengganggu (intervening variable) yang dominan.

Sebentar, jangan tersinggung ya.. Kesenjangan dari disparitas generasi
ini, menariknya, selain terjadi di alam nyata Alengka di bawah sono.
Juga terjadi di forum Apakabar kita tercinta ini. smile!!!

Caraka dalam hati kecil suka keqi. Apa sih yang sudah disumbangkan
generasi angkatan 45 dan pasca-45 yang suka gembar-gembor mbanggain
dirinya setinggi langit itu kepada generasi Caraka Gendenk (lahir pasca
Supersemar ini). Kepada kami the twenty-something and early
thirty-something ini.

Apa? Selain kebobrokan sistem dan totalitas kebusukan kehidupan bangsa!

Apa nian teladan yang Bapak-bapak Ibu-ibu telah berikan kepada Caraka
Gendenk selain preservasi dan kelanggengan sistem feodalisme yang tiada
taranya ini!!

Selain kemandegan berpikir, penindasan atas kemerdekaan berkreasi
menggagaskan ide, pembrangusan atas penumpahan pikiran-pikiran bebas.

Itu saja khan yang Bapak-bapak Ibu-ibu generasi 50something 60something
70something banggakan telah kalian wariskan kepada generasi kami.
Kami, kami inilah yang nanti harus menanggung beban kengawuran bertindak
kalian!! Kesalahan, kedegulan, kepicikan, kesempitan berpikir kalian!!

Apa legalitas yang telah kalian lakukan, sikap nilai teladan, sehingga
kalian punya hak menjudge sikap Caraka Gendenk ini "kurang ajar", tidak
menghormati senior, tidak respek pada orang tua dan sebagauainya.

Caraka Gendenk belajar dari semua sumber kearifan. Dari segala sources
kecendikiawanan. Kawan-lawan, malaekat-setan, mahluk hidup-mahluk mati.
Tak jadi soal. Asal Caraka bisa belajar dan ngelmu tentang arti dan
makna hidup dan kehidupan ini secara wisdom'i.

Tapi maaf. Kalau cuma karena jij lahir duluan. Lalu jij poenya kelakuan
minus dan "aspal". Boentoet-boentoetnya jij minta penghormatan Caraka
Gendenk (maksa lagi). Itu ndak masuk di akal pikir Caraka yang
mengembara pada kemerdekaan dan perasioan berpikir ini. Karena ini ndak
match dengan jagad-raya poenya hukum (rules) atas logika sebab-akibat.

Ini memang tidak berlakoe oemoem-merata di Alengka, namun ini fenomena
menonjol. Juga di forum ini. Meski ada perkecualian besar dari
seorang warga senior (tak usahlah Caraka sebut nama lagi nanti dia jadi
panjang hidungnya) yang masih berpikiran "muda", bahkan kelewat muda.
Ini yang membuat Caraka --meski bidang karier berseberangan-- respek
dengan dia punya personalitas.

Senioritas di Jepang dihormati dan dilanggengkan karena sistem berjalan
dari akar filosofi itu. Senior memberi teladan yang mumpuni pada junior.
Junior belajar dari keteladanan itu. Demikian sampai ia cukup senior
untuk meneladani dan mengganti posisi seniornya. Demikian terus sistem
berputar. The system works well. Karena itu dilanggengkan (dipreserved)

Di Oldie-Alengka, Indonesia-Purba era Orba dan Orbaba, apakah hal
seperti Japanese-system ini dijalankan? Khan tidak. Terus kenapa Caraka
Gendenk diwajibkan, diharuskan, dipatutkan, dikuyo-kuyo untuk
mempreservasi sistem yang salah. Hanya demi sebuah penegakan sistem
nilai salah-kaprah secara membabi-buta. Sampai kiamat dunia.

Sekali the value of departemen (dan korps) seperti itu akan berlaku
demikian selamanya. Tidak boleh diubah, tidak dapat diperbaiki, tidak
mungkin disempurnakan. Ini khan mandeg namanya.

Sesuatu yang dianggap given. Sebuah berhala yang terus diberhalakan.
Sebuah nilai yang diTuhankan. Dibanggakan. Dipuja-puji untuk sebuah
kehormatan semu.

Padahal, patut sekali lagi mengutip Umar Kayam --perlu sebut nama supaya
Caraka jangan dituduh mbajak opini orang lain tanpa permisi-- yang
usianya "oldie" namun pikirannya "fresh young teenager" (seperti juga
Alm. Romo Mangunwijaya yang teramat sangat luar biasa Caraka hormati,
ekspresi respek tertinggi dari Caraka) bahwa :

"kebudayaan dan sistem nilai adalah sebuah gerakan yang dinamis"

"sebuah derap langkah konstan yang membentuk antithesis (koreksi) atas
thesis lama yang dianggap tak sesuai zaman yang kemudian menimbulkan
sinthesa baru yang klop dengan perkembangan sosietas baru."

Tidak ada nilai yang abadi. Tidak ada "kebudayaan" yang langgeng. Karena
ia (mereka) mengabdi untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia dan
kemanusiaan.

Komunisme saja yang dahulu diagungkan pengikutnya runtuh, just like
that. Bagai bangunan kertas. Apalagi sistem senioritas yang picik dan
sempit di birokrasi Indonesia. Lebih spesifik lagi dalam bidang
diplomasi.

Tulisan ini didedikasikan kepada kaum muda Pejambon-Sisingamangaraja
yang teguh berjalan atas nama kebenaran prinsip mengupayakan runtuhnya
nilai lama yang tak ado guna lagi itu. (termasuk utk Caraka Gendenk
sendiri). Percayalah, mereka yang bangor, yang nakal, yang bandel, dan
kurang ajar seperti Caraka (et kamerad Rudi) ini yang justru teguh
membela kehormatan korps.

Bukan yang diam-diam, baik, santun, namun ketakutan bersembunyi di balik
bantal atas nama one or few grants Dollar. Yang kelihatan baik tapi
selalu terkencing-kencing itu. (sorry saja)

VIVA YOUNG (GOOD) DIPLOMATS

--
CARAKA GENDENK
--

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----