[INDONESIA-L] CARAKA GENDENK (23) A

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 13 1999 - 10:43:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 13 13:40:56 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id NAA03601
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 13:40:55 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id NAA24573
        for <apakabar@radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 13:40:56 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id LAA17407; Tue, 13 Apr 1999 11:51:11 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 13 Apr 1999 11:51:09 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id LAA17371; Tue, 13 Apr 1999 11:50:59 -0600 (MDT)
Date: Tue, 13 Apr 1999 11:50:59 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904131750.LAA17371@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] CARAKA GENDENK (23) Alengka Menuju Masyarakat Sipil
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Tue, 13 Apr 1999
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: CARAKA GENDENK (23) "LEPASKAN TEMPURUNG": ALENGKA MENUJU MASYARAKAT SIPIL

KOLOM CARAKA GENDENK (23) "LEPASKAN TEMPURUNG": ALENGKA MENUJU
MASYARAKAT SIPIL

Welcome-home Kangmas Perwira.

Senang juga mendapat rival yang setimpal. Setelah mendapat rekan seiring
di lorong pengharapan ini (sampaikan salam hormat Caraka buat Karo
Kepegawaian Deplu, Kamerad Rudi). Juga buat temans sejawat lain di jalur
Pejambon-Sisingamangaraja.

Dengan rendah hati Caraka Gendenk sarankan utk Kangmas Perwira. Cobalah
selain menyimak Caraka punya riwayat, juga mengklik list bertitel "KBRI
Oh KBRI". Sekuen yang disari-wartakan oleh seorang anak muda brilian
Deplu. Yang ide-idenya amat harmonis dan selaras dengan rasio
pengembaraan neuron Caraka yang terbebas dari distorsi hegemoni
cengkram-represif pemikiran Orba. Nilai Orba dan Orbaba yang amat sangat
terpengaruh oleh doktrin Oldie-TDA itoe.

Ini sekedar menunjukkan Caraka is not a lonely cowboy di Deplu. Bahkan
juga tak sendiri di semua jajaran birokrasi nasional.

Seperti sudah Caraka sampaikan di Kolom 8 dan 9 kalau tidak salah.
By nature and by character, institusi sipil dan militer sangat berbeda.
Seperti sudah dengan teramat satisfikasi digoreskan dan diakui sendiri
dengan implisit oleh Kangmas Perwira. Military is a military.

Apakah ia berfatamorgana menjadi patriot Internaut bergelar "Perwira
Alengka" (sekarang tambah adjektif "ARWAH"). Atau apapun sandingan nama
nyeleneh lain yang diselendangkannya. Tetapi, jiwanya, dalamnya,
corenya, tetaplah kesatriaan, keserdaduan, derap langkah sepatu lars,
kokangan senjata, mars perjuangan upaya memenangkan pertempuran (bukan
peperangan/karena peperangan urusan elite nasional yang sipil).

Kesetiaan, pengabdian, nasionalisme (sempit), pengorbanan. Yang maaf
saja sebagian besar dari nilai-nilai itu pada galibnya adalah gambaran
et sosok yang nisbi dan mengawang-awang. Yang sengaja diriwayatkan
turun-temurun untuk membentuk nilai, tradisi, karakter, jiwa korsa yang
akan langgeng hingga akhir zaman. Begitulah tradisi militer dimanapun di
kolong langit ini. Langgeng hingga akhir zaman. (dan ini dibanggakan)

Dus karenanya teori Umar Kayam mengenai sistem nilai yang beranti-thesis
tak berlaku disini.

"Kesempitan" prespektif ini nampak gamblang dan frontal kala Kangmas
Perwira berupa memetakan pergolakan yang terjadi dalam upaya
penyempurnaan birokrasi dalam setting pemikiran korsanya sendiri.

Merelaxkan sistem senioritas tidak ada hubungannya dengan sikap tidak
hormat kepada orang tua (orang yang kebetulan usianya lebih tua).

Karena jika full-merit-system kekarieran yang digunakan. Di
multicorporation Uncle Sam punya misal, manusia yang kebetulan usianya 2
kali lipat lebih tua harus merendah dan menabik "Yes Sir" kepada fresh
graduate Harvard University yang jadi CEO. Seseorang yang bawahan dan
lebih muda saat ini pada suatu saat, satu ketika kelak, bisa jadi dan
sah-sah saja menjadi atasan dari ex-bossnya doeloe. Ini pada galibnya
karakter dari institusi sipil. Pada dasarnya adalah nilai-nilai hakiki
dari dinamika "civil society".

Military system di seantero mayapada tidak akan bisa menerima logika
ini. Dan keterkaitannya dengan kisruh-balau di Deplu apa? Lhoo. justru
ini kuncinya.

Justru sekarang yang salah adalah Deplu dan sebagian instutusi sipil
Alengka menggunakan sistem kaderisasi dan jenjang karier ala TDA. Karena
dulu sistem TDA ini khan rujukan emas. Apalagi Deplu jadi sasaran
eksperimen TDA akibat dosa politik pak Bandrio. Seiring dengan itu,
selama Orba, TDA dimitoskan sebagai kekuatan super yang akan mampu
menangani segala masalah bangsa(t). Apapun masalahnya ABRI pasti lebih
jago!! Apalagi cuma diplomasi doank. Seupil itu gampang. Apa susahnya
sih. Sudah sini Timtim diambil saja daripada ngomong ndak tuntas-tuntas.

TDA menganggap dirinya (dan memaksa fihak lain untuk mengakui) bahwa TDA
adalah manusia yang paling unggul, paling brilian, spicies terbaik,
paling mumpuni se-Alengka. Ndak ada yang bisa, berani dan bole' melawan.

Karenanya, TDA merasa berhak intervensi atas segala macam urusan dan
seluk beluk penghidupan Alengka hingga ke ihwal rakyat perlu menggunting
kukunya atau tidak, oempamanya jika perloe.

Adakah ekspresi yang lebih tepat untuk uraikan ini daripada: arogansi?

Then under this circumstance, sistem karier ala kaderisasi West Point
ini yang digunakan di Deplu (dan juga di institusi sipil lain). Di
Kejaksaan malah beserta seragam dan atribut-atribut pernik (pangkat
tanda jasa dll) keserdaduannya diterapkan. Tentu saja Kangmas Perwira
akan membela sistem kesenioran sipil hasil kloning sistem militer ini.
Meski ia terbukti memblenggu dan mengorbankan keelokan, kinerja dan
prestasi sistem sipil. Menghancur-leburkan sistem karier sipil.

Kinerja sistem keseluruhan dikorbankan oleh defect sistem (pinjam
istilah Kamerad Rudi) non-merit sepatu-lars ini akibat penerapan jenjang
kepangkatan dan karier ala military yang tidak pas dengan sistem sipil.

Kalau Kangmas Perwira membela itu, senioritas buta itu, ya emang bisa
Adikmu yang nakal ini memaklumi sepenuhnya. No worry. Jangan gusar.

Tapi sumpah mati itu tak ada hubungannya dengan rasa hormat Caraka
Gendenk terhadap manusia yang lebih tua. Bagaimanapun salah dan dosa
serta berlumuran darahnya dia.

Perlu buka rahasia bahwa bulan lalu Caraka Gendenk untuk keperluan studi
diterima oleh Eyang Soeharto***** (iya mantan Presiden sang terhujat) di
Istana Cendana selama 4 jam. Sebuah pertemuan yang sangat bersejarah
bagi Caraka Gendenk.

Caraka ini dulu waktu beliau masih Presiden saja selalu menghindar kalau
ada kesempatan bersalaman dengan beliau. Takut kena sirep dan teluh.
Ndak ada model foto-fotoan dg. beliau untuk dipajang di ruang kantor
atau ruang tamu rumah (meski kesempatan ada). Norak banget sih.

Namun pertemuan Soeharto-Caraka Gendenk bulan lalu adalah sebuah
perjalanan spiritual yang amat mendebarkan bagi Caraka Gendenk.

Kepada bliow Caraka sampaikan secara pribadi "Caraka hormat setengah
mati dengan Bapak".

Namun secara substansi, Caraka ada beberapa keberatan denga
public-policy Pak Harto. Dan ini Caraka ungkapkan terang-benderang
dengan memperlihatkan kliping artikel Caraka di KOMPAS dan MEDIA
INDONESIA kepada beliau.

Caraka bilang: "saya mengkritik Bapak secara substansi, malah
habis-habisan". Namun saya kesini justru ingin mengimbangi saya punya
presepsi terhadap Bapak secara substance. Dan yang penting, saya tidak
pernah menghujat Bapak secara pribadi.

Pak Harto appreciate. Beliau tersenyum dengan senyumnya yang khas itu.
Aduuuuh.

Dia ungkapkan pandangannya. Caraka ungkapkan pandangan Caraka. Tidak
ketemu di banyak masalah. Tak apa. Pertemuan dua manusia. Dua generasi
yang merepresentasikan perbedaan dua paradigma. Satu orang pemilik masa
lampau. Satu orang lagi pemilik masa depan.

Caraka merasa prihatin sekali melihat dalam jarak tatap 30 centi, sebuah
ekspresi ketuaan, kacapek'an, ketakrelaan tersorot dari mata tuanya. Ini
kesan pribadi yang tak ada hubungannya dengan keyakinan Caraka atas dosa
substansi Soeharto.

Apakah pertemuan ini merubah prespektif Caraka terhadap pemerintahan dan
kediktatorian Soeharto? Samasekali TIDAK. Sekali lagi TIDAK. TIDAK
samasekali. (*Habis sudah ke Banten dulu jadi sirep Cendana ndak mempan)

He made a lot of mistake. Too much. Terlalu banyak untuk dimaafkan
begitu saja dengan sebuah pertemuan selama 4 jam itu.

Namun Caraka konsisten kalau Soeharto diadili, maka adili dengan beliau
ratusan ribu kroninya termasuk Caraka (dan mungkin juga Kangmas
Perwira). Di kolom 18 kalau tak salah Caraka telah sampaikan kesediaan
Caraka untuk diadili bersama Soeharto. Meski Caraka hanya kroco. Tapi
bagian dari sistem kepemrintahan Soeharto. Dus harus ikut tanggungjawab.

Pada kesempatan yang baik ini, ingin Caraka Gendenk sarankan dg
kerendahan hati pada Kangmas Perwira: "hentikan kebiasaan zaman Dwi
Fungsi dulu yakni terlalu cepat dan simplify menjudge orang".

Hal lainnya yang perlu diungkapkan ialah bahwa menurut "doktrin" yang
Caraka pelajari di alam demokratis baik secara formal maupun informal
ialah bahwa yang lebih baik ialah _BERANI HIDUP_ daripada BERANI MATI.
Buat apa mati jika perjuangan belum selesai truz ko'it. Sia-sialah.
Kasihan pengikut kita (kalau punya pengikut).

Berani HIDUP untuk memperjuangkan perjuangan melalui wahana PERJUANGAN
(kampanye pemilu). Itulah semboyan kehidupan Caraka Gendenk!!

Sekali lagi fragmentasi ideal ini juga mencerminkan perbedaan nilai
institusional antara korps sipil dan militer juga. (sengaja 2 "juga"
biar lebih mantab)

Justru Caraka yang sipil ini ingin memaksimalkan opportunity dengan
mencoba memperbaiki sistem yang salah ini dari dalam. Bukan sampai
bonyok dan ko'it, mampus-modar di dalam. Ndak mau Caraka. Wizz yang
kayak gini model pengorbanan habis-habisan ini memang jatahnya Kangmas
Perwira saja deh. pek' pek' en.

Jika dari dalam tidak cukup kuat. Ya pakai otak donk. Ambil rute
memutar: yaitu dari luar. Cita-cita tetap Dubes bahkan Menlu. Tapi khan
bukan hanya ada satu jalan menuju Roma? Apalagi di zaman globalisasi
begini.

Enroute memutar ini yang juga kudu disiapkan. If worse comes worse. Jika
masih bisa dari dalam ya syukur, itu yang terbaik. Jangan salah faham.
Jadi kita bisa dengan bangga mematok prinsip "ndak patek'en". Karena ini
semua ialah rasio sipil-demokrat, alih-alih doktrin militer.
 
Namun "enroute memutar" ini tidak akan terbuka jika manusia-birokrat
tidak memiliki kapabilitas, kemampuan, profesionalisme untuk diterapkan
di bidang kehidupan lain.

Kondisi inilah yang membusuk di individu birokrat. Kerjaan atau profesi
lain ndak gableq karena dungunya minta ampun. Akibat dari kondisi selama
berkarier tidak dikembangkan peningkatan kemampuan diri (baik degree
maupun non-degree, formal maupun informal). Cuma mikiri memenangkan
Golkar saja.

Sudah begini jadinya. Hidup mati membusuk disitu. Di lingkaran setan
sistem birokrasi. Karena kebusukan yang tertinggal maka mereka
mencemari, menjadi polutan bagi sistem. Bagi kader yang masih fresh.

Dus ini bukan hanya masalah Deplu saja tapi juga urusan salah kaprah
pembinaan karier 4 juta pegawai negeri lain. Selama Orba akibat sistem
BAKN yang militeristik dan Golkaristik tersebut.

Mengenai identitas.
Sorry ya Kangmas. 5000 orang Deplu ini sudah tahu jelas-jelasan;
terang-benderang: siapa Caraka Gendenk sebenarnya. Berapa nomor NIP-nya,
bagaimana track kariernya, apa prestasinya, apa kekurangannya. Apa
catatannya di Irjen (yang masih gunakan sistem TDA-purba itu).

Tiada manusia lain di Deplu sedistinguished "Caraka Gendenk".

Banyak dari mereka (juga yang senior) secara diam-diam bersimpati pada
Caraka punya ide. Namun banyak juga yang reserved karena demi
mempertahankan kepentingan kelompok dan pribadinya semata. Jadi buka
refleksi idealismenya.

Karena sasaran "gerakan" Caraka Gendenk ialah menyempurnakan. Untuk
memperbaiki sistem dari dalam (saat ini). PERBAIKAN DAN KEHORMATAN
KORPS. Karena sistem sekarang ini sudah benar-benar rusak Kangmas.
Hancur-lebur. Porak-poranda. Ini diakui oleh Mahahulubalang Alex Alatas
sendiri. Juga oleh seluruh pembesar Pejambon-Sisingamangaraja.

Banyak sekali orang komplain, caci maki, sumpah serapah pada KBRI dan
Deplu. Tanpa seorangpun selama ini meluruskannya. Acuh. cuek beybeh.
Yang penting Dollar'e Mas. Mengorbankan kehormatan profesi demi satu dua
genjring Dollar. Yihuiiii...

Mohon dibaca beberapa posting Caraka Gendenk (14 s/d 17) yang "membela"
posisi Deplu dan korps diplomat tanpa harus menutupi fakta atau
berpropaganda. Caraka ini cinta banget sama korps. Tapi cinta bukan
berarti yang jelek-jelek harus ditutupi, dikoveri. Taik dibilang madu.
Karena nantinya orang jadi makan taik karena menganggap itu madu.

Juga bagaimana mau memperbaiki diri; jika kita tak paham apa masalahnya?
Resikonya ya sebatas itu. Kita kepaksa membeberkan seprai kotor
keluarga di balkon rumah kita. Siapa yang mebeberkan seprai kotor?
Caraka Gendenk.

Jadilah Caraka Gendenk ini lilin yang menyala. Mengilhami namun terbakar
habis. Ndak mau tapinya sampe modar!!! Kalau lilin ndak efektif ya
berubah jadi petromaks. Dus dari luar dan lebih benderang.
 
Mengenai identitas. Tadinya Caraka --swear-- memang mau pake identitas
asli berlaga di forum ini. Karena Caraka alergi sebenernya undercover
begini (boleh cek dg Oom John). Bahkan Caraka ini masalah Hotmail dan
adress e-mail gratis lain itu ndak bisa makenya Kangmas. Ndak biasa.

Namun di forum kita tercinta ini. Kadang-kadang orang mbacot taik dan
umbar kontol (sory) seenaknya. Maki-maki sak' jebrot lobang pantatnya
sendiri. Tidak sadar bahwa identitas asli itu juga punya kehormatan,
punya integritas, punya reputasi.

Ada teman-teman, keluarga, murid, kolega, dan jaringan yang harus
dipertahankan reputasinya. Karena membangun reputasi itu mahal dan
susah. Hingga jangan sampe maksud baik tapi kemudian menjatuhkan,
mengorbankan bangunan reputasi Caraka Gendenk yang dengan susah payah
ditegakkan di alam nyata Alengka bawah sana.

Dan satu lagi. Caraka ini jogrokannya di kampus dan apartemen murah
subsidi pemerintah di LN, bukan di Direktorat Penerangan Luar Negeri
Deplu. Itu Caraka kira differentiate yang juga penting untuk dipaparkan
disini.

Indonesia sedang memasuki milenium baru dengan era demokrasi sipil.
Keberadaan TDA selama Dwi Fungsi bukan hanya secara fisik tapi juga
sistem nilai berbangsa(t).

Ini tercermin misalnya dari sistem di Deplu. Screening mental ideologi
sebelum berangkat penempatan yang amat lucu (namanya juga Depertemen
Lucu). Lucunya yaitu bahwa lulusan S1, MBA, MA, PhD Deplu berhadapan
dengan seorang Sersan Mayor yang di-BKO-kan di Deplu. Yang maaf saja
sang Mayor ini (eh salah Sersan) kadar intelektualitasnya sangat-teramat
jauh levelnya (cuma selututnya) daripada Kangmas Perwira punya.

Bertanya-tanyilah, nananininono, menyelidik sang Sersan ini mengenai
keraguan dan kecurigaan atas mental ideologi para calon diplomat.
Pendeknya brainwashing dan indoktrinasi full-body-contact. Tiap kali
setiap kita mau berangkat. Bukan sekali saja pas masuk Deplu.

Kemudian dengan atmosfir ini, diplomat Indonesia diharapkan, dituntut
publik berkiprah aktif secara profesional. Menggebrag sesuai dengan
standar diplomat negara lain yang sipil-madani. No Way!!

Kemudian datang Kangmas Arwah Perwira kritak-kritik mengenai upaya
penyempurnaan sistem birokrasi sipil dengan perjuangan Caraka Gendenk
untuk menghapus, melindas habis, sistem komando kemiliteran. Go to hell
Perwira!! karenanya.
(untuk yang ini saja, hal yang lain respek koq sama Kangmas Perwira,
wong namanya kangmas sendiri gimana sih)

Bukalah, lepaskan, lemparkan jauh-jauh Tempurung itu katak-katak-ku.

Indonesia menuju masyarakat sipil. Dan TNI suka-tak-suka mau-tak-mau
(apapun wacana euphenismenya) KEMBALI KE PROFESINYA. Sekarang juga!!!

Jangan lagi racuni dunia sipil dengan sistem-nilaimu yang tak cocok
diterapkan disini. Hancur sudah Indonesia karenanya.

Ada waktu lembut dan persuasif.
Ada waktu keras.
Ada waktu menghardik.

Salam Masyarakat Madani, dari

--
CARAKA GENDENK
--

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----