[INDONESIA-L] PANJI - Bertemu dan S

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 13 1999 - 15:16:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 13 17:53:25 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA23841
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 17:53:24 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA05077
        for <apakabar@radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 17:53:24 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA10357; Tue, 13 Apr 1999 16:04:04 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 13 Apr 1999 16:04:04 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA10325; Tue, 13 Apr 1999 16:03:57 -0600 (MDT)
Date: Tue, 13 Apr 1999 16:03:57 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904132203.QAA10325@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] PANJI - Bertemu dan Sama-sama Menangis
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.panji.co.id/edisi101/nas1.html

   Bertemu dan Sama-Sama Menangis
   
   Aksi G-30-S PKI
   : Pembebasan napol pelaku kudeta berdarah itu tak juga mampu menepis
   kontroversi, apalagi menepis luka di hati putra-putri para pahlawan
   revolusi. Sejarah harus diluruskan.
   
   Suaranya bergetar. Matanya sedikit berkaca-kaca. Sesaat
   ditelungkupkannya kedua telapak tangannya ke muka, menampakkan
   kepedihan hati yang mendalam. Atau mungkin juga penyesalan. "Masih
   teringat jerit tangis anak-anak kecil itu di benak saya. Tapi mau
   bagaimana? Saya hanyalah prajurit yang sekadar menjalankan tugas,"
   kata Boengkoes, anggota pasukan Cakrabirawa yang ditugasi menangkap
   Jenderal (TNI) M.T. Haryono hidup atau mati.
   
   Para pengunjung Jakarta Forum Live bertopik `Peristiwa G-30-S/PKI:
   Upaya Mencari Kebenaran' di Cafe Kencana, Senin pekan lalu, pun
   terkesima. Abdoel Latief, mantan napol PKI, yang direncanakan turut
   berbicara tidak bisa hadir karena sakit.
   
   Dengan lugu, Boengkoes seolah-olah ingin menumpahkan beban fitnah yang
   selama 30 tahun disimpannya. Tak ada sama sekali perintah penculikan,
   katanya. Kalaupun Haryono mati tertembak, itu karena tak sengaja.
   "Saat itu keadaan rumah gelap gulita. Setelah ketuk pintu tiga kali
   dan pintu dibuka, tiba-tiba ada bayangan putih berkelebat. Spontan
   anak buah saya menembakkan senapan," kenang lelaki kelahiran 1 Agustus
   1927 ini. Tersungkurlah Haryono berlumuran darah, diiringi jerit
   tangis anak-anak sang jenderal yang masih terekam dalam ingatannya.
   
   Pasukan Cakrabirawa yang ditugasi menjemput para jenderal itu pun,
   menurut Boengkoes, tak sekejam seperti yang diduga selama ini. Aksi
   mereka tak lebih dari sekadar upaya menggagalkan usaha kudeta dewan
   jenderal sekaligus menyelamatkan Bung Karno. "Kami ini anggota
   Cakrabirawa. Masak memberontak presiden?" kata bekas napol di LP
   Cipinang ini berkilah.
   
   Boengkoes juga menolak gambaran kekejaman PKI yang ada dalam film
   Pengkhianatan G-30-S/PKI karya Arifin C. Noer. "Tak ada penyiletan
   wajah, pemotongan kelamin, ataupun Gerwani yang melayani nafsu seks
   para tentara sehabis menculik dan menganiaya. Itu bohong semua!" kata
   lelaki gaek yang pernah divonis mati pada 1969 itu. Fakta yang
   diakuinya cuma satu, para jenderal diletakkan dekat bibir lubang,
   ditembak, dan jatuh masuk lubang. "Kekejaman pasukan Cakrabirawa dalam
   film itu sama sekali tak betul."
   
   Namun, alibi itu ditolak Untung Ahmad Yani. Usianya yang masih 11
   tahun tatkala aksi makar itu terjadi, tak mampu menepis ingatannya
   mengenai sosok ayah tercintanya. "Ayah saya dekat dengan Presiden
   Soekarno," kata Untung. Bahkan pada 1 Oktober 1965 pukul 7.00,
   Jenderal Ahmad Yani direncanakan menghadap Presiden Soekarno di
   Istana. "Dia akan datang sendiri dan tak perlu dijemput Cakrabirawa,"
   ungkapnya dengan suara bergetar. Saat itu memang tengah panas-panasnya
   konflik Indonesia dan Malaysia. Kedatangan Ahmad Yani ke Istana pun
   konon dalam rangka membahas persoalan itu. "Tapi situasi negara yang
   tengah genting inilah rupanya yang dimanfaatkan oknum-oknum PKI."
   
   Kabar kedekatan Ahmad Yani dengan Bung Karno pun dibenarkan Harjo
   Sudirdjo, mantan rektor Universitas Trisakti. Beberapa hari sebelum
   terbunuh, A. Yani menceritakan soal perbincangannya dengan Bung
   Karno."Yani, kalau ada apa-apa, kaulah yang menjadi presiden
   Indonesia," kata Bung Karno seperti ditirukan Sudirdjo. "Wah, aku yo
   kaget to, Dik," kata Yani pada Sudirdjo waktu itu.
   
   Percakapan tersebut paling tidak menyiratkan harmonisnya hubungan
   antara Soekarno dan Ahmad Yani. Tanpa memberontak pun, jenderal AD ini
   sudah mendapat restu untuk naik ke tampuk pimpinan. Bukan Subandrio,
   Leimena, Nasution, apalagi Soeharto. Peluang inilah menurut Sudirdjo
   yang menjadi penyebab dibunuhnya Ahmad Yani oleh PKI. Apalagi ia
   dikenal paling keras dan tegas dalam menghadapi manuver PKI.
   
   Terlepas dari benar tidaknya penilaian tiap-tiap pihak yang hadir
   dalam acara itu, tampak mereka ingin adanya pelurusan sejarah.
   Tersirat lewat ucapan Boengkoes, keinginannya mendudukkan peristiwa
   G-30-S/PKI sebagai akibat konflik intern di tubuh AD. Keterlibatan PKI
   secara insidental ini memang pernah dilontarkan Benedict R.O.G.
   Anderson dan Ruth McVey dalam penelitian mereka yang berjudul A
   Preliminary Analysis of The October 1, 1965, Coup in Indonesia (1966),
   alias Cornell Paper. Sementara anak para pahlawan revolusi atau
   mungkin mereka yang hadir dalam acara itu, tentu masih berkeinginan
   mendudukkan PKI sebagai dalang bencana. Sebab, banyak pula fakta yang
   mengarah ke situ.
   
   Prof. Taufik Abdullah, ahli sejarah dari LIPI, menilai sejarah memang
   masih harus diluruskan. Ia tak memungkiri ada beberapa potong
   peristiwa Gestapu yang diselewengkan rezim Orde Baru. Pemotongan
   kelamin, penyiletan wajah, dan pesta seks Gerwani, misalnya. Apalagi
   visum dokter menunjukkan tidak ada tanda-tanda ke arah tindakan brutal
   itu. Namun, Taufik Abdullah tetap mengajak semua pihak agar tetap
   berpikir kritis. "Mungkin Pak Boengkoes tidak tahu semua fakta. Atau
   ia tahu beberapa fakta, namun tidak bersedia mengungkapkannya. Itu
   lumrah dalam sejarah."
   
   Dan kini yang paling penting digali tentu sebab-sebab terjadinya
   peristiwa itu. "Jangan membelenggu kami dengan peristiwa yang
   mengguncang emosi. Tentu saya sedih dan trauma melihat ayah tewas
   terbunuh. Tapi masa itu sudah terlewatkan. Lebih penting bila kita
   terus menggali apa sebab terjadinya peristiwa itu," kata Tuthy
   Panjaitan, putri D.I. Panjaitan. Kontroversi ternyata belum berhenti.
   
   Elly Burhaini Faizal

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----