[INDONESIA-L] LataR---KISAH SEORANG

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 20 1999 - 14:06:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 20 17:02:53 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA20922
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 20 Apr 1999 17:02:52 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA27738
        for <apakabar@radix.net>; Tue, 20 Apr 1999 17:02:52 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA14839; Tue, 20 Apr 1999 15:01:58 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 20 Apr 1999 15:01:57 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA14823; Tue, 20 Apr 1999 15:01:52 -0600 (MDT)
Date: Tue, 20 Apr 1999 15:01:52 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904202101.PAA14823@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] LataR---KISAH SEORANG MANTAN NAPOL
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

KISAH SEORANG MANTAN NAPOL
(mereka juga bagian gelap dari sejarah bangsa indonesia)

        MEDAN (LataR, 18/4/99), Di Kota Medan dan sekitarnya, saat ini
terdapat sekitar 80-an napol yang dituduh terlibat peristiwa G 30 S/PKI.
Mereka dulunya berprofesi sebagai tentara, pegawai negeri sipil dan ibu
rumah tangga. Rata-rata mereka kini telah berusia 60-an tahun ke atas.
Mereka rata-rata ditahan selama 7 tahun tanpa pernah disidang dan
ditunjukkan kesalahannya. Para napol ini dibebaskan dengan status bebas
penuh. Mereka, terutama yang berstatus tentara dan pegawai negeri, kini
tengah memperjuangkan hak-hak mereka untuk memperoleh gaji selama mereka
ditahan, dan hak pensiunan mereka sebagai tentara dan pegawai negeri.
Selain pernah mendatangi DPRD Sumut pada bulan Desember 1998 lalu, mereka
juga sudah pernah mendatangi Komnas HAM dan meminta bantuan hukum LBH
Medan. Namun hingga kini, hak-hak yang mereka tuntut belum juga terpenuhi.
Padahal hidup mereka banyak yang tergolong papa. Ada yang menarik beca,
menjadi penjual ikan, dan menjadi tukang potret keliling.

        Berikut nukilan kisah OK Arsjad, seorang PNK Tebing Tinggi, yang
pernah menjalani hukuman penjara di TPU Tanjung Kasau dan TPS Tebing
Tinggi.

        "Pada hari Selasa malam (tgl 17 Nopember 1965) jam 23.15, massa
bersama-sama dengan PUTERPRA (sekarang KORAMIL) dari Kota Madya Tebing
Tinggi, datang ke rumah saya di Perumahan Dinas Kereta Api Stasiun Paya
Pinang serta mengetok pintu. Setelah saya buka, mereka masuk dan memeriksa
segala macam isi rumah saya seraya menuduh bahwa saya sebagai pelindung
gembong PKI.

        Setelah usai diperiksa, saya pun kemudian digiring oleh Puterpra
bersama massa, ke kantor Puterpra Tebing Tinggi. Selama beberapa hari saya
ditahan di sana. Saya diperiksa juga dengan tuduhan bahwa telah melindungi
gembong PKI. Karena saya tidak melakukan perbuatan tersebut, maka saya
menolak tuduhan itu. Akibatnya saya disiksa, yang seyogyanya tidak pantas
dilakukan terhadap sesama manusia.

        Selanjutnya saya dipindahkan (dititipkan) ke LP Tebing Tinggi.
Selama di sini, tim pemeriksa tidak hanya menuduh bahwa saya telah
melindungi gembong PKI, tapi juga dituduh telah menyimpan senjata. Karena
saya tidak mau mengakui tuduhan mereka, maka saya disiksa lagi di sana.
Namun saya tetap tidak mau menandatangani proses verbal saya.

        Pada awal tahun 1966, semua tahanan yang dititipkan di Penjara
Tebing Tinggi dikumpulkan pada satu tempat di TPU Tanjung Kasau. Di tempat
tersebut, semua tahanan diperintahkan untuk bekerja di daerah perkebunan
yang ada di sekitar Kodya Tebing Tinggi. Kami bekerja seharian tanpa
diberi upah. Makanan yang kami makan pun ala kadarnya saja. Pokoknya kami
diperlakukan seperti hewan.

        Menjelang pembebasan saya di awal tahun 1970-an, saya dipindahkan
ke TPS Tebing Tinggi. Di sana saya dipekerjakan di Perkebunan Gunung Para
dan setelah beberapa bulan kemudian dikirim ke Proyek Batalyon 124 Rawang
Meranti (sekolah proyek Kodam). Disini kamidisuruh untuk membuka hutan
untuk dijadikan lahan persawahan. Seharian kami bekerja di rawa-rawa,
menumbang, menebas, memerun dan segala jenis pekerjaan berat tanpa
mendapat upah.

        Pada akhir tahun 1971, saya diambil dari proyek Kodam di Rawang
Meranti, dikumpulkan kembali ke Kamp Tnjung Kasau. Pada tanggal 14 Januari
1972 saya dibebaskan dari tahanan dengan Surat: Prin-1344/TEPERDA/1/1972
beserta dengan lampirannya. Pada saat acara pelepasan, inspektur upacara
menyerahkan 3 amplop, masing-masing : 1 amplop untuk diserahkan serta
melaporkan diri ke Kepala Bagian/majikan dimana saya bekerja, 2 amplop
untuk diserahkan kepada Lurah/Kepala Desa, dimana saya tinggal, dan 3
amplop untuk disimpan bagi diri saya sebagi bukti.

        Demikianlah pada hari Selasa 18 Januari 1972, saya pergi ke Medan
menemui Bagian Personalia Perusahaan Kereta Api. Di sana saya mendapatkan
keterangan sebagai berikut: "Perusahaan belum dapat menerima untuk
memperkerjakan kembali (rehabilisasi), dan juga belum memberhentikan
saudara."

        Selanjutnya petugas menyarankan saya agar bersabar menunggu. Namun
kini saya belum mendapat penyelesaiannya, sehingga segala upah beserta
dengan hak pensiunan saya tidak saya terima. Demikianlah sebagian kisah
hidup saya selama ditahanan apa yang disebutkan G 30 S PKI". ***

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----