[INDONESIA-L] Denasionalisasi: Sebu

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 20 1999 - 17:20:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 20 20:09:22 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id UAA11701
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 20 Apr 1999 20:09:22 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id UAA22064
        for <apakabar@radix.net>; Tue, 20 Apr 1999 20:09:20 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id SAA28892; Tue, 20 Apr 1999 18:08:37 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 20 Apr 1999 18:08:37 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id SAA28867; Tue, 20 Apr 1999 18:08:28 -0600 (MDT)
Date: Tue, 20 Apr 1999 18:08:28 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904210008.SAA28867@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Denasionalisasi: Sebuah Dialog
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Wed, 21 Apr 1999 05:36:43 +0700
From: "DD" <dd174@SoftHome.net>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: DENASIONALISASI: SEBUAH DIALOG

ACEH DUKUNG-MELAYU DELI(MEDAN) & MELAYU SIAK(RIAU) & MELAYU KALBAR MERDEKA
======================================================DJAFFAR DJAMARI====

DENASIONALISASI: SEBUAH DIALOG

Salam Sejahtera, Kepada Rekan-rekan penegak kebenaran, dan Sdr.Petra
Tarigan Khususnya.

Katanya Saudara Petra Pejuang Demokratis oleh karena itu saya ajaklah
untuk bertukar pikiran...

Petra: Senang membaca milis anda di forum Apakabar ini. Diikuti kesedihan
yang dalam melihat sikap kawan yang begitu apriori atas keinginan
mendeklarasikan "Riau Merdeka". Saya mengerti dan juga prihatin melihat
nasib bangsa ini, sudah jauh merdeka dari t angan penjajah, ditimpa tangga
Rezim Orba. Jiwa Raga berkecamuk. Bergelora menahan panasnya hati ini.
Kalau diizinkan, aku (untuk sesama org melayu sebrang) ingin memberikan
tanggapan atas milih kawan Anak Riau.

Jaffar: Inilah orang yang selalu cepat panas, seperti kebanyakan
preman-preman ciptaan pemerintah di negara IndoneSial. Daerah bukan hanya
ditimpa tangga oleh rezim Orba tetapi sudah tertimpa batu sejak Rezim
Proklamator(ORLA) yang mengadu domba rakyat da erah sehingga terjadi
revolusi lokal dilanjutkan Rezim Wayang Golek(ORBA) yang menancapkan
kuku-kukunya, dan pemerintahan 'transisi' Habibie yang menggigit-gigit
aspirasi-aspirasi suku-bangsa asli.

Petra: Pengalaman dinina-bobokkan selama ini, tidak dapat disalahkan 100%
pada era pasca Soeharto. Orde Reformasi sekarang ini pasti kalang kabut
mendapatkan permintaan "keadilan dan perimbangan" kekayaan daerah-pusat.

Jaffar: Daerah tidak bobok, tapi dibunuh oleh semangat biadab nasional RI.
Kalang kabut itu ada kalau yang anda bilang 'Orde Reformasi' itu masih
mikirin diri sendiri, dan nggak mau mengakui kesalahan negara terhadap
wilayah beserta penduduk aslinya. Bah kan 'Orde Reformasi' menutup
katup-katup dialog & pemberitaan tentang permasalahan ini. Istilahnya
pikiran & pemberitaan-pun disentralisasi ke orang pusat melulu. Dan
melakukan cara-cara politik yang licik untuk memusnahkan aspirasi.

Petra: Bukan hanya Riau saya kira.... Masih ada belasan dari 27 propinsi
yang memiliki keinginan yang sama. Intinya "pembagian jatah yang ADIL".
Otonomi, militer dan sipil, saya kira juga masalah prinsip "keadilan" yang
tak dapat dipisahkan satu sama lain .

Jaffar: Ya benar memang bukan hanya Riau yang ingin merdeka, jadi Riau
banyak kawannya .Kami tidak pernah ingin disebut dapat jatah, justru
'daerah'-lah yang dipaksa memberi makan ke-pusat dengan cara-cara biadab.
Tidak usah pakai-pakai istilah "Keadilan" , karena "Keadilan" yang selama
ini diciptakan menyakitkan kami & saudara kami, yang masih berasal dari
kampung-kampung kami, untuk diadu-domba diantara sesama penduduk kampung,
dimiskinkan, dibodohkan, dimelaratkan, dinistakan, diperkosa dan
lain-lain... , jangan pakai kata-kata 'Keadilan' sebelum keadilan itu
ada, dan batasnya dirinci. Kenapa suku-bangsa bekas jajahan Romawi tidak
menjadi satu negara saja? Kenapa Negara-negara miskin seperti Bangladesh
tidak menjajah bangsa lain yang kaya SDA saja..., ka rena daerahnya selalu
kena kondisi alam yang buruk.

Petra: Propinsi Riau, ingin merdeka. Aceh, Timor-timor dan Irian apalagi.
Begitu juga diikuti dengan KalBar/Dayak dan Maluku. Tanda-tanda apakah
ini??? Sebelum itu, teman-teman 'Putu dan Gede', juga ingin mewujudkan
Bali Merdeka, akibat efek di-lecehkanny a, figur dan agama mereka oleh
kalangan agama/kelompok tertentu.

Jaffar: Ini Efek dari akibat pembentukan negara RI yang tidak mempunyai
akar. Sumpah Pemuda bukanlah akar yang kuat, karena disaat itu ada
indikasi orang-orang Jawa Feodal bekerjasama dengan Belanda untuk
menganeksasi suatu kesamaan sistem(sentralisasi) t erhadap wilayah
Hindia-Belanda nya, apalagi orang Jawa memaklumat mitos sumpah Palapa
dalam kitab sejarah Indonesia, yang jelas-jelas bersifat Imperialistik,
terhadap suku-bangsa apapun didunia. Kalaupun ada azas kesamaan, itupun
didasarkan oleh mental or ang-orang yang lemah 'yang mengakui dirinya
sama-sama tertindas, sama-sama penderitaannya', yah kita yang
beragam-ragam ini tidak bisa dong disatukan dengan azas itu, yang membuat
kita bersatu adalah azas sama-sama Merdeka & Berdaulat berdasarkan hak
hist oris & hak geograpi, sebelum dijajah & disatu-paksakan oleh bangsa
Asing. Saya tantang anda untuk menguraikan perjalanan sejarah RI secara
kritis.

Petra: Mari berpikir jernih melihat komplekitas dan peliknya masalah
negara sekarang ini. Dalam suatu diskusi panel yang diikuti beberapa
mahasiswa di luar negri, dibicarakan isue ini. Ada kalangan yang ngotot
mengatakan ingin merdeka, hak atas kekayaan, dikeruknya alam habis-habisan
, pembunuhan biadab, dsb di negeri propinsi Aceh. Kemudian beberapa wanita
dari Jawa nyeletuk, kalau Aceh minta merdeka, kami yang Jawa ini minta
merdekanya ke mana???

Jaffar: Apakah pikiran anda sudah jernih ? Kompleksitas hanya bisa
diselesaikan dengan mencabut akar utama permasalahannya. Aceh berasal dari
Kalangan nGotot? justru sejak dahulu Aceh selalu mengutamakan menggunakan
jalan diplomasi untuk mengutarakan perm asalahannya, saya tidak mengerti
ini, Aceh sejak dahulu menyumbang besar untuk RI, tetapi kemudian RI
mengkhianati Aceh, jadi pantas saja RI itu tidak akan pernah menjadi
negara maju, kalau para Pejuangnya dikhianati & dizalimi secara biadab.
Istilahnya R I itu hanya pohon tanpa akar, karena RI sendirilah yang
mencabut akarnya. Orang Jawa minta ke siapa? Orang Aceh minta ke siapa? ya
berjuang dengan minta bantuan PBB dong jangan minta-minta seperti
pengemis. Kaum Feodalis yang berasal dari Jawa & sekutunya lah yang selalu
haus kekuasaan yang merusak Indonesial ini. Dan sistem yang dibangun-pun
bukan sistem yang baik tetapi sistem sentralistis dalam segala hal
(IPOLEKSOSBUDHANKAM) dengan korban darah. Kenapa yang Jawa bingung(atau
pura-pura bingung) minta ke siapa? Berarti dia mengakui dia adalah Rajanya
dari Indonesia ini tapi saya pikir Raja ini selalu merasa dirinya terjajah
oleh sifat kerakusan hatinya.

Petra: Singkat kata, isu sentral Otonomi dan Keadilan kekayaan sedang
digarap dan diujicobakan. Bukankah itu hal yang ingin kita bicarakan.
Bukan isue ingin memisahkan sendiri. Timor Leste berada diluar gugusan dan
wawasan nusantara, sehingga mereka secar a historis berhak untuk
menggugatnya. Tapi yang lain-lain ini mau kemana ??? Tidak etis jika ingin
mendesak dan menjebak pemerintah sekarang ini yang nota bene tidak
kredibel dengan mengatakan "Propinsi kami ingin merdeka". Adik kecil
biasanya merengek de ngan tidak mau makan kalau tidak diri jatah coklat
yang banyak".

Jaffar: Oh ya ya, otonomi isu sentralistis lagi sentralistis lagi, kenapa
sejak dahulu dilaksanakan sejak kita 'merdeka', kenapa sejak dahulu
Indonesia ini memakai sistem sentralisasi seperti Imperium Romawi. Benar
sekali tidak boleh sendiri-sendiri tetap i Issue memisahkan diri
beramai-ramai, istilahnya bubarkan Indonesia (DENASIONALISASI
INDONESIA-mengutip ide Siswa Rizali). Jangan kita paksakan bersatu dalam
media tempat kita dapat saling membantai. Justru karena baca sejarahlah
kami harus Merdeka Berda ulat, Bangsa Aceh & Melayu punya sejarah yang
panjang tahu. Kalau begitu saya bertanya sudahkah anda baca sejarah negeri
suku-bangsa lain?. Baik atau Buruk, Suka atau Tidak Suka coba anda baca
terlebih dahulu, dan saya siap bertukar pikiran dengan Anda. S istem
Otonomi & Keadilan mungkin saja berhasil jika hasil kekayaan SDA daerah
selama ini 54 tahun ini diaudit, dan kejahatan negara terhadap 'daerah'
dari segala macam pemaksaan IPOLEKSOSBUD HANKAM dengan cara biadab dihukum
yang setimpal. Yang anda maksu dkan tentang Keadilan Kekayaan,saya tidak
mengerti, kenapa anda tidak minta saja ke negera lain untuk membagi
kekayaannya ke negeri Anda, contohnya minta saja hasil bumi di Amerika
sebanyak 1% untuk bangsa Batak. Singapore saja harus membeli air dari Mala
ysia, kok pikir-pikir bagi kekayaan. Kekayaan itu dipertukarkan, bukan
untuk dirampok. Kalau Tapanuli takut miskin, ya bikin dong produk unggul
dari daerahnya kemudian dipertukarkan dengan minyak di Aceh/Riau diantara
Riau & Aceh nanti ada persaingan harg a, kan orang batak bisa memilih mana
yang akan dibeli. Kok kelihatannya Anda Cemburu Buta. Sehingga tidak mau
berusaha, pantas saja kita kalah bersaing dengan kaum pendatang Cina,
karena prinsip hidupnya sudah salah. Kalau mau bekerja di Negeri Aceh
Merde ka ya jadi dong proffesional sejati, akan orang Aceh bayar dengan
mahal. Kalau mau beranak-pinak dan tinggal di negeri Aceh ya cintailah
daerah tersebut dengan mengorbankan diri Anda melepaskan budaya yang
bertentangan dengan budaya daerah di Aceh dan sal ing meng disekolahkan di
Aceh sehingga anak-cucu Anda dapat menjadi bangsa Aceh, kok susah-susah
amat. Kami, sebagian dari orang Aceh malahan, ingin menutup sementara
industri-industri besar seperti (ARUN,PIM,KKA,PPH,PTP), sebelum banyak
orang Aceh menjadi pakar- pakar Ekologi Lingkungan & Sientis, dan
merumuskan kembali hukum-ekonomi Islam, yang sudah ada sejak dahulu.
Buktinya tanpa dikasih duit hasil sisa rampasan saja kami bisa hidup &
berpikir jernih kok, kami selalu meneriakkan aspirasi & menjaga hubungan
so sial diantara sesama. Karena sentralisasi Informasi saja yang dilakukan
sejak dahulu aspirasi daerah tak terdengar. Menjebak pemerintahan tidak
kredibel? apa maksudnya, saya tidak mengerti ini. Justru kamilah yang
tidak mau terjebak lagi dalam sistim buru k yang pada saat pemerintahan
'kribel' dihasilkan oleh pemilu nanti masih memakai sistim proporsional &
partai sentral. Mendesak dengan apa dahulu?, kalau mendesak dengan fakta
realita, pertanyaan kritis dan alasan-alasan didasarkan ilmu & sejarah ya
kan tidak apa-apa, kami tidak punya kekuatan militer bersenjata &
intellijen untuk bumi-hangus kok, seperti Pejabat & Kroninya diback-up TNI
yang senang melakukan kebiadaban di wilayah historis & geografi kami.
Merengeklah nanti anda-anda orang yang selalu di rinya merasa miskin,
sehingga melakukan tindakan tak etis terhadap wilayah Adat(Hukum yang anda
anggap Tradisional) lain.

Petra: Sekali lagi, tidaklah etis orang Sumatera bilang "menggertak
pemerintah" dengan isue: Riau Merdeka, Aceh Merdeka, Sumut Merdeka, Bali
Merdeka, dengan maksud mendapatkan hak otonomi yang "lebih besar" daripada
propinsi yang lainnya. Jatah kue dimint a sebesar mungkin adalah
perimbangan porsi yang paling logis.

Jaffar: Tidak etis kalau hanya untuk 'menggertak', tapi kalau untuk
kebaikan, serta diperjuangkan, dan mengumandangkannya ke seluruh dunia
untuk masa depan kami bangsa-bangsa yang dijajah Hindia-Belanda &
dilanjutkan Indonesial sangatlah etis. Sumut Merde ka? Sumut itu tidak
ada, yang ada Batak Merdeka, Melayu Deli Merdeka, Melayu Siak
Merdeka(Riau), Aceh Merdeka beserta wilayah-wilayah archipelago lain di
Sumatra dan daerah lainnya di Indonesia sebelum tatanannya dirubah Hindia
Belanda & Indonesial.

Petra: Apabila propinsi Riau benar-benar ingin merdeka, apakah alasan yang
paling mendasar yang bisa anda sebutkan sehingga ibu pertiwi ini harus
dikotak-kotakkan, dibagi-bagi sepenggal-sepenggal menurut keiinginan anda.
Apa jadinya wilayah bahari Indones ia yang dikenal dengan archipelagonya
dari Sabang sampai Mauroke.

Jaffar: Alasannya, Indonesia itu baru berumur 54 tahun, dan dalam 54 tahun
itu kehidupan ADAT IPOLEKSOSBUD HANKAM 'daerah' dikebiri, dianggap tak
berarti dan dinistakan. Sedangkan sejarah suku-bangsa asli sudah ribuan
tahun lamanya dan hal itu lebih memba nggakan kami. Bagaimana jadinya
wilayah bahari kalau Indonesia bubar ya lihat saja peraturan-peraturan
PBB, kan ada zona bebas dimana kita bisa mancing bersama-sama. Alasan satu
lagi ibu pertiwi telah menjadi istri kaum kapitalis materialistis
'modern', s etelah ibu pertiwi menceraikan bapak pertiwinya yang hidupnya
sangat bijaksana & sederhana. Menempuh Merauke dari Sabang bisa melewati
banyak jalan.

Petra: Apakah anda dan teman-teman merasa mewakili suku melayu Riau
mengatakan ingin merdeka, sementara banyak (baca dominan) kemajuan
propinsi ini akibat imbasan semangat kerja pendatang (perantau) yang sudah
memiliki jabatan-jabatan penting di pemerinta han maupun swasta. Jika
pendapat ini dipatahkan, coba berikan ulasan logis yang dapat saya dan
kami terima sebagai bagian penduduk yang namanya Indonesia.

Jaffar: Mau dicoba menguji aspirasi, ya undang saja PBB untuk mengadakan
Referendum di Riau, Timtim, Aceh dll , kalau di Riau diadakan untuk
masyarakat asli Riau & campurannya, bukan kaum pendatang 1-3 generasi.
Semangat Kerja itu yang saya pertanyakan di dasarkan apa dahulu?. Penduduk
asli yang sudah mempunyai adat biasanya dengan sendirinya sangat
berhati-hati untuk mengeksploitasi SDA-nya, karena disitulah mereka &
anak-cucu mereka lahir. Jadi masa depan anak-cucu mereka ada di tanah
mereka tersebut yan g harus dijaga kelestariannya. Kalaupun di
eksploitasi, tentunya mereka akan memikirkan transformasi benda(bahan
baku) ke alat-tukar(uang, securitas, dll) sebagai modal yang terpelihara
untuk masa depan anak-cucu & komunitas mereka. Kaum Pendatang dengan
sendirinya maju didaerah lain, bahkan bisa menjadi penguasa, jika
kedaulatan daerah terhadap penguasaan SDA & SDM dicabut oleh pusat, atau
istilah muluknya disentralkan. Satu lagi, yang saya pertanyakan apakah
kaum pendatang itu ingin meleburkan diri menj adi orang Riau dengan
berkorban menyingkirkan kebudayaan asli dari daerah asalnya, atau
setidaknya mensintesakannya menjadi budaya baru misalnya suku Batak
pendatang menjadi orang Batau (misal saja) atau malahan sebenarnya ingin
membentuk basis penjajahan informal(kolonisasi)? Satu lagi kaum pendatang
ini bisa saja mengganti semua kebudayaan Asli di Riau dengan
ke-Dominanan-nya karena dapat jatah pengembangan SDM, pendidikan,
informasi, pekerjaan, fasilitas dari 'pusat'. Its A Cruel World and you
made it Happen. Coba sebelumnya tuan Tarigan membaca teori-teori
Machiavelli, sebelum menilai apa sebenarnya terjadi di daerah-daerah yang
kaya SDA dan luas tanahnya. Dan memahami bagaimana dijalankannya kekuasaan
model adu domba itu sebenarnya.

Petra: Bung Anak Riau mohon maaf bila ada kata atau ucapan saya yang tak
berkenan, sengaja saya panggil demikian, supaya anda teringat dengan
nilai-nilai patriotik dan heroik para pahlawan dan orang tua kita.

Jaffar: Bung Petra seperti Bung Harmoko(Hari-hari Omong-Kosong). Masalah
Heroik- ilmu, sejarah, kebenaran & zaman yang menilai, kini informasi, ham
& pendidikan sudah sedikit maju di Indonesia, karena negeri biadab
Indonesia ini kalah tekanan habis oleh i nternasional, sehingga kini kita
bisa saling menilai dengan terbuka.

Petra: Coba kita renungkan bersama keinginan ini, apakah kita biarkan
bangsa ini terus dijajah dengan gaya Rezim Orba selama 32 tahun :
pembodohan politik, penjajahan moral, intrik-intrik politik, perang
fundamentalis agama, dsb. Lebih baik kita siapkan bangsa yang cinta
negeri dan fanatik negara kesatuan Indonesia (bukan agama, kelompok suku,
kelompok primordial lainnya.) Contohlah bangsa Jepang yang setia menjadi
bushido dan indah seperti bunga sakura atas fanatisme negerinya. A tas
dasar apakah mereka dapat mengalahkan ke-digdayaan si Adi kuasa Amerika.

Jaffar: Saya tegaskan dijajah sejak awal Keraton Jawa bekerja-sama dengan
VOC Belanda, dilanjutkan dengan pemekaran kekuasaannya menjadi Hindia
Belanda dan dimanfaatkan model kekuasaannya oleh Indonesial. Tidak, kami
tidak ingin terjajah selamanya oleh si stim Indonesia. Jepang Cinta &
Setia? Mungkin atas dasar zaman para Tenno yang bengis & jahat sehingga
timbul budaya lebih baik melakukan Seppuku(bunuh diri) daripada dibunuh
pasukan ninja penguasa yang akan sangat kejam menyiksa penduduk yang
seenaknya d ianggap tidak setia, dan nafsu fanatismenya digunakan untuk
menjajah suku-bangsa Asia lain, seperi juga fanatisme Fuhrer yang merasa
bangsa Jerman manusia paling unggul. Amerika kalah? Bull-shit, Amerika
tidak kalah, tetapi ia butuh image dimata dunia unt uk persaingan dalam
bidang ekonomi untuk menaati traktat lama Jepang-Amerika. Bagi Amerika
Jepang di-bom nuklir saja sudah cukup, selanjutnya diajak jadi mitranya di
Asia. Kekuatan Expansi Militer Jepang sekarang= 0, tahu karena seluruhnya
diawasin Amerik a. Siapa bilang orang Jepang fanatisme negerinya, justru
generasi Jepang sekarang banyak yang jadi anti-hero. Jepang yang hebat
adalah jepang yang sudah sadar setelah kena Nuke, karena mereka tahu
daerah mereka kecil, dan cara lama mereka dengan cara mero mpak negeri
lain tidak bisa dilakukan lagi oleh sebab itu mereka belajar dan merubah
sifatnya menjadi efisien & futuris, karena itulah mereka bisa jadi
kompetitor unggul negeri-negeri barat. Dan bangsa Jepang sangat sedikit
ragam etnik & bangsa partikelir nya. Jadi contoh anda tidak pada
tempatnya. Kalau mau ambil contoh lihat sejarah Yugo atau Amerika, dan
bandingkan kelemahan & kekurangannya, serta lihat sebab sejarah zaman
kegelapan di Eropa, runtuhnya imperium turky, pembentukan 'Sekutu' dll.
Yang saya inginkan saudara Petra siap berdialog.

Saya akan setuju dengan anda, saudara Petra, untuk mewujudkan Fanatisme
NKRI, jika hal-hal sbb sudah dilakukan:

1. sistim marga-marga orang Batak, Padang dll dihilangkan, nama-nama
berbau Jawa, Bali, Aceh, Melayu dst dihilangkan, nama-nama berbau Islam &
Kristen dihilangkan, gelar-gelar kerajaan & etnik dihilangkan. Ganti saja
nama-nama kita dengan kode-kode regist er seperti INDONESIA-000000001,
INDONESIA-12013103.

2. Agama ditiadakan, karena tuhan kita adalah Burung Garuda Pancasila.
Yang pasti akan turun ke bumi saat ingin makan korban. Kitab kita UUD 45,
yang dinyanyikan setiap hari senin s/d minggu, 17 menit, 8 kali bersama,
45 kali sendiri dalam sehari.

3. Budaya-budaya kesenian seperti wayang golek, tari seudati, tari
serampang 12, nyanyian-nyayian Butet & Melayu dihilangkan. Ganti dengan
budaya Indonesia, Budaya nabi kita INDONESIA-00000000001.

4. Pakaian-pakaian diganti dengan seragam merah putih tanpa aksesoris,
untuk segala acara & kegiatan di rumah di sekolah dll.

5. Menu makanan kita diseragamkan dengan nasi tiwul 2 kali sehari. tanpa
lauk babi, sapi, kambing dsb, diganti tempe saja. serta sayur enceng
gondok.

6. Bayi-bayi yang baru lahir diurus negara dan ditukarkan antar daerah.

7. Dilarang menciptakan & melantunkan lagu-lagu berbau cinta dll kecuali
bertema cinta nasional Indonesia.

8. Jiwa-Raga orang banyak dikuasai oleh negara.

9. Mitos mitos & ramalan tanpa kaidah Rasional dihilangkan seperti
NOTONEGORO dsb.

10. Hukum tembak ditempat bagi yang melenceng dari peraturan-peraturan
diatas.

Sebagai Tambahan:

        Kami tidak pernah membenci orang Jawa, malahan sebagian orang
Acheh ada yang campuran dari Jawa (kaum pendatang pada zaman Darussalam)
juga, tapi campuran-campuran ini telah menjadi orang Acheh(secara budaya),
yang kami tidak suka adalah "Indonesia-Jawa" , bukan rakyat Jawa asli &
kebudayaannya di P.Jawa, ataupun yang jadi bagian terendah struktur
kekuasaan adu-domba para pemimpinnya (para transmigrant yang membentuk
basis penjajahan informal) mengerti!. Bahkan orang-Batak yang
kebudayaannya sangat berbed a dengan orang Aceh tidak pernah kami jajah
sejak dahulu, begitu juga dengan bangsa Melayu sahabat Aceh sejak dahulu,
tidak pernah saling menjajah, tapi saling membantu. Bangsa Melayu minta
bantuan ke bangsa Aceh pada saat dizalimi Portugis ya kita bantu dengan
mengorbankan 60.000 pahlawan untuk berjuang bersama dengan bangsa Melayu
yang menghancurkan total aneksasi penjajahan Portugis yang seenaknya masuk
ke wilayah kita dengan cara militer (Merampok & Memerkosa Penduduk Melayu)
sehingga terjadilah pemb ebasan penjajahan oleh Portugis di wilayah
Indonesia sekarang. Jawa modernlah (hasil didikan Belanda) yang jadi musuh
utama kami yang dengan sengaja merubah namanya menjadi bangsa Indonesia
dan melakukan kebiadaban & kezaliman. Yang dimaksud "Indonesia-Ja wa"
adalah core kekuasaan dari RI, sebagai core IPOLEKSOSBUD-HANKAM Indonesia,
diluar-luarnya ada "Indonesia-Indonesia" lainnya termasuk
"Indonesia-Acheh", "Indonesia-Batak" dll sebagai musuh lokal & tambahan
kami, tapi musuh lokal & tambahan ini biasanya hanya bertindak sebagai
agen, dia tidak bisa menentukan apapun, dia biasanya dipinjami
tanda-tangannya untuk melegalkan suatu tindakan "Indonesia-Jawa" terhadap
wilayah lain. Semoga penjelasan ini setidak bisa membuka pikiran anda,
sedikit demi sedikit. Orang-orang lemah ini bukan musuh utama kami, musuh
utama kami adalah "Indonesia-Jawa". Ma'af kalau saya bilang Tuan Tarigan,
agak kurang dalam memahami politik, atau anda sebenarnya orang pintar yang
jahat tapi pura-pura goblok, saya tidak tahu. Kalau ka mi anda
mengintimidasi orang Jawa & Etnik lain, maupun Mas-Mas Aceh seperti
Ibrahim Hasan, itu hanya untuk meluruskan otak-otak mereka yang banyak
berdiam diri ketika kami dibantai, supaya mereka menanyakan pada pimpinan
mereka alasan kenapa orang Aceh ingin cab ut dari Republik Biadab
Indonesial. Alasannya Aceh sudah merdeka sejak dahulu menjadi bangsa
berdaulat Aceh, dan sudah mempunyai sistem hukum tercatat dan terlaksana,
yang dibangun selama 13 abad, dan bergabung dengan berjuang dengan
suku-bangsa lain yang dijajah oleh 'Hindia Belanda'. Begitu juga dengan
orang Melayu. Dan bangsa Aceh menolak dijajah oleh kaum penjajah berwarna
kulit apapun. Kita tidak bodoh, kita orang Aceh & daerah lain punya cara
yang khas untuk mendidik kembali orang-orang licik, yaitu akar sejarah &
kebijaksanaan untuk mendobrak pintu rapuh pikiran mereka. Takut didobrak?
yah paling mereka hanya bersembunyi, dan mencoba menutup mulut kami dengan
senjata.

Mohon tanggapan diatas dipikirkan saudara Tarigan dengan kepala
dingin...mohon ma'af juga kalau Ada kata yang anda rasakan kasar.. Semoga
dialog ini bermanfaat bagi kita semua.

Dan bukankah kita dapat menjadi negeri yang bersahabat & berdaulat kalau
kita telah menghilangkan para kaum penzalim dibumi kita masing-masing
pikirkanlah rekan-rekan. Adu-domba itu ada kalau ada medianya, nah
medianya itu adalah Indonesia. Seperti juga m edia adu-domba ciptaan
Belanda yaitu Hindia-Belanda.

Semoga kita bisa berteman & berdialog, selama-lamanya walaupun dalam
'Indonesia ataupun tidak'.

DJaffar DJamari
di Batavia (Negeri milik orang Betawi yang tertindas)

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----