[INDONESIA-L] Rasionalisasi atas Ko

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu May 06 1999 - 14:53:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu May 6 17:49:43 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA09293
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 6 May 1999 17:49:42 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA28659
        for <apakabar@radix.net>; Thu, 6 May 1999 17:49:43 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA06908; Thu, 6 May 1999 15:49:13 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 6 May 1999 15:49:13 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA06891; Thu, 6 May 1999 15:49:09 -0600 (MDT)
Date: Thu, 6 May 1999 15:49:09 -0600 (MDT)
Message-Id: <199905062149.PAA06891@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Rasionalisasi atas Konsep Denasionalisasi
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: petra.tarigan@perstorp.com
Subject: Rasionalisasi atas konsep denasionalisasi
To: dd174@softHome.net, apakabar@saltmine.radix.net dll
Date: Thu, 06 May 1999 09:33:11 GMT

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Kepada rekan semua dan bung Djaffar Djamari yang heroik khususnya.

Bung Djaffar,
Seperti permintaan anda sebelumnya saya siap dan tergerak untuk
bersilaturahmi dan berdialog dengan anda. Apa susahnya?

Sesuai dengan tema yang saya pilih saya ingin pilihan makna di atas
bersumber pada nilai dan konsep bahasan kita. Secara harafiah makna
Denasionalisasi bertolak belakang dengan makna Nasionalisasi. Tentu saja
dua kutub (bi-polar) proses yang bertolak belakang. Anonim dengan
Birokratisasi dan debirokratisasi, dsb. Pilihan saya pada kata harafiah
Rasionalisasi jelas dari logika dan akal sehat RATSIO yang dimiliki manusia
berwatak, berotak dan berhati nurani. Tidak ada makna doktrin yang
dikandungnya, segala sesuatu dikembalikan kepada penalaran dan intuisi
hakekat manusia. Disatu sisi Nasionalisasi pun Denasionalisasi dapat
bermakna proses doktrinasi konsep. Kembali lagi bahwa Rasionalisasi hanya
dapat dijalankan dan dimengerti oleh ciptaan yang sempurna yakni manusia,
sementara denasionalisasi, dst dapat dikerjakan oleh manusia dan juga
animal. Mudah-mudahan hal di atas dapat anda terima sebagai awal bagian
dari dialog ini.

Kawan Djaffar, mari masuk ke substansi pembicaraan
Bertitik tolak pada keinginan pembentukan suatu negara merdeka, dapat
dipahami dengan beberapa alasan kunci, sbb:

(*) Latar belakang kesewenangan dan penindasan penguasa (pemerintah atau
kerajaan) pada rakyatnya.

(**) Latar belakang historis atau warisan yang diselewengkan, sehingga
kembali ingin digugat untuk dikembalikan kepada posisi sebenarnya.

(***) Proses alami dari perubahan alam dan budaya, sehingga keterikatan
maupun ketergantungan dengan sekitarnya menjadi gap yang sangat besar.
Simbiose dan siklus pertalian dengan sekitarnya, menjadi sesuatu yang tidak
menguntungkan/merugikan, membahayakan dalam arti seluas-luasnya, dsb.

Disamping alasan kunci di atas, mungkin masih ada alasan lain yang perlu
kita pahami sebagai efek bola salju akan keinginan lepas, terpisah dan
merdeka dari negeri ini. Mari berfikir menggunakan akal sehat dan pikiran
RASIONAL anda. Dampak DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dan Timor Leste
berakibat buruk pada rakyat setempat sebagai bagian perlawanan thd militer
dan penguasa. Tak dapat dielakkan lagi dendam dan kebencian yang mendalam
pada militer yang terimbas, sehingga mereka satu kata ingin lepas dari
bangsa Indonesia.

Pengalaman pahit selama bertahun-tahun menyebabkan mereka alergi kepada
kata-kata Indonesia. Sampai ada yang menulis di milis ini Indonesia dengan
umpatan IndoneSial (maaf). Pengalaman ini membuat mereka melawan, berontak
dan menganggap Bangsa Indonesia identik dengan penjajah. Ini yang tidak
disadari penguasa dan tidak dimengerti oleh penguasa (baca pemerintah).

Kawan Djaffar yang berikrar berjuang untuk rakyat Riau,
Secara historis dan bukti sejarah tanah Riau masih banyak mungkin (?) yang
belum terungkap selama ini. Kiranya anda dapat memaparkan sejarah Riau yang
masih disembunyikan, sehingga kami sebagai bagian rakyat negeri inidapat
memahaminya. Kesan ini mudah-mudahan dapat meyakinkan dan merobah
pendirian saya seratus delapan puluh derajat, berpaling pada cita-cita Riau
Merdeka.

Pernyataan anda sebelumnya:
"Ya benar memang bukan hanya Riau yang ingin merdeka, jadi Riau banyak
kawannya." Benarkah demikian?

Bila Riau belajar pada pengalaman Aceh atau Timor Leste. Semangat yang
hidup dan bergelora intinya anti penjajah. "Penjajah harus dihapuskan di
muka bumi ini", itu pandangan yang jelas dari rakyat Aceh dan Timor Leste.
Tapi apa sedemikian berontaknya mereka bersatu mengusir "penjajah bangsa
Indonesia" dari bumi mereka??? Masih dapat diperdebatkan. Mari bermain-main
dengan data yang terbaru. Tidak usah lari ke Timor, menurut data harian
Waspada (04/05/99), di Aceh, sampai saat ini pemilih yang telah mendaftar
dari seluruh kabupaten di atas SATU juta lebih. Dari distribusi yang tidak
normal, angka Aceh utara dan Pidie rata-rata masih dibawah 12%, sementara
kabupaten lain umumnya di atas 50%, sampai ada beberapa kabupaten seperti
Aceh Singkil (86,35%), Aceh Besar (80,28%), Aceh Selatan (71,57%).
Prosentasi data di atas masih terus akan bertambah dari 2,3 juta penduduk
yang mempunyai hak pilih. Terlihat sekarang bahwa dari kasus Aceh ini,
prosentase yang ikut pemilu atau yang masih ingin di bawah status RI masih
bervariasi (tidak solid). Sebagian menetapkan pilihannya tidak ikut pemilu
atau ikut Aceh Merdeka (??) (terutama Aceh Utara dan Pidie), sebagian di
bawah payung RI (Aceh Besar, Aceh Singkil, Aceh Selatan, dsb).
Mungkin data ini bisa saja dikatakan masih terlalu pagi dan absurd.

Tulisan Bung Jaffar:
Mau dicoba menguji aspirasi, ya undang saja PBB untuk mengadakan
Referendum di Riau, Timtim, Aceh dll , kalau di Riau diadakan untuk
masyarakat asli Riau & campurannya, bukan kaum pendatang 1-3 generasi....

Menilik ungkapan data di atas poin apa yang dapat dipakai ?? Melompat ke
Pekan Baru atau Riau, kelihatannya propinsi ini masih terlalu cetek untuk
melepaskan diri dari payung RI. Konsep dan persiapannya pun masih meragukan
dan bersifat TRIAL and ERROR. Referendum Riau pun mau diujicobakan.
Konsepnya dulu bgm? Ungkapan Bapak Hanafi Harun yang orang Riau Tulen (Bung
Djaffar tulenkah?) melaui surat terbukanya kepada Prof Dr. Tabrani Rab
membuktikan konsep dan tokoh dibelakang itu masih terlalu prematur untuk
diaju-bandingkan. Mungkin masih sekadar bahan kajian atau pun study
comparation. Tolong diketuk pintu hati yang paling dalam. Apakah ada suara
hati yang murni berbicara, atau telah diracuni vested-interest.

Tulisan anda sebelumnya:
Ini Efek dari akibat pembentukan negara RI yang tidak mempunyai akar. Yah
kita yang beragam-ragam ini tidak bisa dong disatukan dengan azas itu,
yang membuat kita bersatu adalah azas sama-sama Merdeka & Berdaulat
berdasarkan hak historis & hak geograpi, sebelum dijajah & disatu-paksakan
oleh bangsa Asing.

Keinginan memajukan, memakmurkan, meningkatkan, dsb masih perlu
dipertanyakan kemurniannya. Keutuhan negara kesatuan RI secara de-jure dan
de-facto pasti akan dipertahankan oleh pemerintah ini. Konsep itu klise
buat anda dan mungkin klise buat saya. Tapi keinginan anda dan kelompok
kecil pendukung anda untuk lepas dan merdeka juga sudah memikirkan nasib
"rakyat kecil" yang awam dan lugu itu. Daya pikir mereka sangat sederhana
tentu saja tidak secerdas pikiran anda. Ada gejolak atau huru-hara, anda
dengan tenang dapat meminta suaka ke luar negeri, tetapi mereka rakyat
kecil yang mempunyai hak merdeka hanya pasrah kepada nasib. Walau rakyat
kecil itu "bodoh" dan anda jenius, secara hak dan hukum sama posisinya.
Pejuang dan pahlawan negeri ini, membuktikan mereka berani mati dan siap
berkorban untuk rakyatnya. Kalau mau jadi pahlawan ikuti jejak mereka,
tanpa embel-embel. Titik.

Tulisan bung Jaffar:
Tidak etis kalau hanya untuk 'menggertak', tapi kalau untuk kebaikan,
serta diperjuangkan, dan mengumandangkannya ke seluruh dunia untuk masa
depan kami bangsa-bangsa yang dijajah Hindia-Belanda & dilanjutkan
Indonesial sangatlah etis. Sumut Merdeka? Sumut itu tidak ada, yang ada
Batak Merdeka, Melayu Deli Merdeka, Melayu Siak Merdeka(Riau), Aceh
Merdeka beserta wilayah-wilayah archipelago lain di Sumatra.

Tidak panjang tulisan saya kali ini. Pendek kata, besarkan hati dan
keinginan anda dengan semangat yang murni. Sebelum terjun, siapkan konsep
anda yang matang. Jangan mati suri, layu sebelum berkembang. Gantungkan
cita-cita anda setinggi langit. Setinggi apapun, apabila tidak dilihat dan
dimengerti orang, untuk apa? Terutama tujukan bagi kemakmuran rakyat kecil
di Riau. Istilah anda mencari-cari Sumut tidak ada yang ada Batak Merdeka
terlalu mengada-ada dan karena nyali anda yang kecil itu, sehingga perlu
cari kawan lain untuk jadi tumbal. Wah payah.

Belajar pantun Melayu Riau dari Pak Hanafi,

tanah Riau tanah yang subur
handai tauladan dilupakan jangan
kalau ada salah kata dan ucap
tolong maafin saya pohonkan

saya pun pilih, mengorbankan waktu dan pikiran saya untuk anda.

************************************************************************
Wasalam

Petra "Nakamura Taro"

petra.tarigan@perstorp.com

ps: kawan DD, jangan takut dengan saya.
Tuduhan bahwa saya bermain atau menyamar/mengatasnamakan nama Zul (riau99)
sungguh ketakutan anda yang berlebihan. Jika perlu saya bisa forward surat
bung Zul tsb pada anda. Atau mungkin kebiasaan anda suka bermain
ganda-gandaan. Ada-ada saja tuduhanmu, kalau anda teliti, hotmailnya itu
berasal dari Australia. Negative thinking.

----- End of forwarded message from petra.tarigan@perstorp.com -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----