[INDONESIA-L] DeP-->Populi #017 MM

From: apakabar@Radix.Net
Date: Sun May 30 1999 - 14:50:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun May 30 17:47:23 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA16962
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Sun, 30 May 1999 17:47:23 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA16676
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Sun, 30 May 1999 17:47:23 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA25852; Sun, 30 May 1999 15:47:12 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Sun, 30 May 1999 15:47:12 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA25812; Sun, 30 May 1999 15:47:03 -0600 (MDT)
Date: Sun, 30 May 1999 15:47:03 -0600 (MDT)
Message-Id: <199905302147.PAA25812@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] DeP-->Populi #017 MM : Sri Wedari Menelanjangi Konspirasi PDI Perjuangan
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

[Populi #017 MM] serial Megawati Sebagai Musuh Bersama
SRI WEDARI MENELANJANGI KONSPIRASI PDI PERJUANGAN

Hua ... ha ... ha ...

Tiba-tiba saja saya tergelak-gelak sampai teman sekantor saya memandang
curiga bahwa saya kemasukan setan ketika membaca posting analisis politik
kiwari yang bertitel "Sri Wedari - Menguak Tabir Konspirasi Politik GOLKAR
dan PDI Perjuangan" <http://www.indopubs.com/archives/0940.html> tanggal 28
Mei 1999 lalu. Tawa saya bukan sekedar tawa geli tapi juga dibarengi
kekaguman atas orisinalitas analisis salah seorang manusia (saya sebut
manusia bukan iblis, karena iblis kalah cerdas menelorkan ide sehebat Sri
Wedari <wedari@usa.net>) yang dahulu pernah menjadi murid pemuja Soeharto.

PDI Perjuangan sudah berpengalaman dihantam dengan berbagai issue yang
mendiskreditkannya dengan taktik machiavelis yang menghalalkan segala cara.
Yang terakhir adalah upaya mengadu-domba dengan umat Islam (salah satunya
adalah dengan selebaran produksi Partai Doger Rombengan alias Penilep Duit
Rakyat serta PPP). Banyak yang menyangka bahwa issue tersebut adalah
kulminasi dari skenario yang sudah disiapkan secara sistematis sejak Tuan
A.M. Saefuddin melakukan _kick-off_ yang buntutnya melahirkan gugatan
masyarakat Bali. Ternyata perkiraan itu meleset.

Sungguh menakjubkan Sri Wedari dengan analisis politiknya yang dia klaim
tidak mampu tercium oleh CIA sekalipun. Kita patut bangga bahwa ada seorang
warga negara Indonesia yang mampu mengungguli kejelian dinas intelijen
kelas dunia dari negara Paman Sam sana. Tidak seorang pun menyangka bahwa
PDI Perjuangan sudah berkolusi dengan Golkar. Luar biasa ! Barangkali
analisis politik Sri Wedari akan lebih mantap jika disertai sedikit bukti
pendukung yang nyata di lapangan, seperti sikap satgas PDI Perjuangan yang
terang-terangan melindungi gedung DPP Golkar agar tidak dirusak massa.

Sri Wedari mensinyalir adanya kesepakatan win-win solution antara PDI
Perjuangan dengan Golkar untuk membagi daerah massa yaitu : kota untuk PDI
Perjuangan (penokohan Megawati) dan desa untuk Golkar (penokohan Golkar)
yang menghasilkan kemenangan Golkar secara mutlak dalam Pemilu 1997 dan
kemenangan mutlak Megawati dalam meraih simpati massa real di perkotaan.

Kemudian, Sri Wedari menyatakan adanya deal politik yang membeberkan bahwa
"Golkar menyerahkan sebagian suaranya di pedesaan untuk PDIP, di lain pihak
Golkar meminta PDI agar menyerahkan simpati massanya di perkotaan. Skenario
ini Saya lihat mulai berhasil, PDIP memperburuk citranya sendiri di
perkotaan, Golkar dilempari, diserang, dan dianiaya secara tidak simpatik.
Hasilnya anda lihat sendiri, sebagian masyarakat kota mulai bersimpati pada
Golkar akibat perbuatan sewenang-wenang massa PDIP."

Luar biasa ! Sungguh jeli Sri Wedari menangkap permainan politik kelas
tinggi ini.

Satu hal yang saya kagumi dari barisan pengeroyok Megawati dan PDI
Perjuangan ini adalah stamina mereka yang luar biasa. Selalu fit dan
intens. Sementara para penggembala banteng sudah agak kendor belakangan
ini. (Salam buat ASA, Banteng Surapati, Mahesa Gendenk, BasukiR, dan para
simpatisan Banteng Kekar. Ayo, rapatkan barisan !). Dahulu, ada gerombolan
siberat "the gang of four from IPTN" yang sekonyong-konyong lenyap tanpa
sisa setelah nama asli mereka dipublikasikan. Kemudian, tanpa diduga-duga,
muncul nama baru bernama Handoyo atau Hartoyo yang produktif membombardir
forum <apakabar@> dengan serangan-serangan senada. Tetapi ide yang mereka
angkat hanyalah stok lama dengan kemasan baru yang kalah jauh dibanding
orisinalitas gadis desa bernama Sri Wedari yang sekonyong-konyong menjelma
menjadi pengamat politik handal melampaui kejantanan Eep Saefullah Fatah
yang hanya berani mengatakan bahwa PDI Perjuangan dan PKB tidak reformis
karena tidak mau mengamandemen UUD '45 dan menolak dwifungsi ABRI.

Menyimak kiprah mereka di forum <apakabar@> ini, tampaknya ada patron
seragam yang berusaha menempatkan PDI Perjuangan sebagai musuh bersama,
musuh rakyat. Mula-mula mereka menggarap Megawati dari berbagai sisi
individunya yang diharapkan bisa menyurutkan citra pribadi Megawati.
Kemudian melontarkan ketidakpantasan wanita menjadi presiden. Lalu
menghasut umat Islam dengan isu bahwa para pendukung PDI Perjuangan yang
non-Muslim akan menindas Islam. Tetapi dari 2 putaran kampanye PDI
Perjuangan di Jakarta yang fenomenal dan monumental itu, kelihatannya
usaha-usaha mereka belum membuahkan hasil kalau tidak bisa dibilang gagal
total.

Semakin dekatnya saat pencoblosan 7 Juni 1999 membuat mereka menjadi
semakin kalap. Apalagi rakyat semakin berani mengungkapkan rasa cintanya
pada Golkar dengan menghadiahi upeti batu-batu sebesar kepalan tangan
langsung dengan lemparan bersemangat. (Jadi ingat jumroh, ha ... ha ...
ha). Maka diperlukan siasat baru. Dan si gadis lugu Sri Wedari pun muncul
dengan analisis cemerlangnya. Kepalang tanggung, pikirnya, daripada Golkar
hancur sendirian, lebih baik hancur sama-sama. Inilah aji-aji bumi hangus
"tiji tibeh" (mati siji, mati kabeh) yang diwarisi dari sang mahaguru.
Intinya adalah mengalihkan simpati rakyat dengan menarik-narik PDI
Perjuangan ke samping Golkar supaya sama-sama dihujat rakyat dan sama-sama
hancur. Entah ajian apa lagi yang akan dilancarkan oleh murid cemerlang
sang mahaguru ini kalau ternyata masih gagal juga.

Untuk sementara ini, ide orisinal Sri Wedari haruslah dihargai, karena
ternyata ada seorang wakil pihak manusia yang bisa membuktikan bahwa
kecerdasannya melebihi kelicikan iblis. Maka pantaslah jika Sri Wedari
dinobatkan sebagai Maharani Kerajaan Iblis yang sudah dia taklukkan, bukan
sekedar Lonte Kuning dari Neraka Jahannam.

HIDUP SRI WEDARI ! HIDUP MANUSIA ! MAMPUSLAH IBLIS !

(Pelan-pelan saya berbisik ... "HIDUP PDI PERJUANGAN !".
Tidak berani keras-keras, nanti kedengaran iblis ...)

Hua ... ha ... ha ...

Deo et Patria (Demi Tuhan dan Tanah Air)
Violence no more.

----- End of forwarded message from Deo et Patria -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----