[INDONESIA-L] SWA02: Hidup Memang H

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Jun 17 1999 - 16:00:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Jun 17 18:51:27 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA20349
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 17 Jun 1999 18:51:27 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA01547
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 17 Jun 1999 18:51:27 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA16100; Thu, 17 Jun 1999 16:50:04 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 17 Jun 1999 16:50:04 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA16067; Thu, 17 Jun 1999 16:49:53 -0600 (MDT)
Date: Thu, 17 Jun 1999 16:49:53 -0600 (MDT)
Message-Id: <199906172249.QAA16067@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SWA02: Hidup Memang Harus Kaya Makna
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Hidup Memang Harus Kaya Makna

Makin banyak eksekutif mendalami mistik dan spiritualitas. Mereka berusaha
hidup selaras alam. Inikah era pencerahan?

Hal-hal baru -- bisa jadi, disebut hal-hal aneh -- akan semakin sering
Anda jumpai hari-hari ini, dan barangkali sampai beberapa tahun ke depan.
Tak perlu heran, misalnya, jika bertemu eksekutif yang fasih bicara
hal-hal spiritual seperti hakikat hidup ro hani, hukum alam, meditasi,
hakikat agama-agama manusia, mistisisme Timur, bahkan kehidupan sesudah
mati. Topik-topik yang biasanya menjadi porsi para rohaniwan.

Tampaknya, ketika segala hal bisa dijelaskan dengan otak, sampai pada
titik tertentu, manusia mengalami kejenuhan. Ekstremnya, rasionalitas
menjadikan jiwa manusia kering kerontang. Abstrak? Tidak juga. Bayangkan,
seandainya segala kebutuhan fisik dan ras a ingin tahu kita terpenuhi atau
terjawab, lantas apa lagi yang kita cari dalam hidup ini? Fenomena inilah
yang secara luas dialami manusia-manusia Barat (dan kini mulai merambah ke
negeri kita), ketika segala persoalan hidup sepertinya bisa diselesaikan
lewat kemajuan sains dan teknologi. Padahal, pada saat bersamaan, manusia
justru makin terbelenggu kemajuan itu.

Psikolog sosial Erich Fromm, yang pendapatnya selalu diamini para New
Ager, dengan bagus melukiskan keterasingan manusia modern dalam bukunya
The Anatomy of Human Destructiveness. Dikatakannya, kemajuan-kemajuan
pesat yang dialami masyarakat industri tel ah menempatkan manusia tak
lebih dari fungsi dan posisi. Di mana-mana -- di tempat kerja maupun dalam
pergaulan sosial -- orang tak pernah bisa lepas dari fungsi dan posisi
tadi. Anda bekerja di mana? Sebagai apa? Berapa gaji Anda? Cuti panjang
ini Anda m au berlibur ke mana?

Pertanyaan-pertanyaan standar tersebut jelas sulit menyatukan kemanusiaan
kedua belah pihak. Sebab, yang ditekankan di sana bukan persamaan, tapi
perbedaan masing-masing pihak: saya di sini, kamu di sana. Atau, yang
sesungguhnya terjadi bukannya proses ko munikasi, tapi justru pemisahan
secara tajam posisi masing-masing ego. Yang menyedihkan, hampir semua
manusia modern sepertinya tak mampu hidup tanpa egonya. Sebaliknya, mereka
justru mengejar dan mengejar terus keegoannya, sehingga semakin terasing
ia da ri pergaulan yang manusiawi.

Cara berkomunikasi fungsional dan sikap yang habis-habisan mengejar
superioritas ego, banyak tampak dalam kehidupan sehari-hari para
eksekutif. Dalam banyak hal, posisi dan fungsinya memang mengharuskan
mereka berperilaku dan bersikap demikian. Dengan kej elasan posisi dan
fungsi itu pula, aneka pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan
efektif, karena jelas struktur tugas dan tanggung jawabnya. Juga,
kewajiban dan haknya. Sulit dibayangkan, jika eksekutif harus bicara
hal-hal yang tidak praktis -- misa lnya soal hakikat hidup -- untuk
menyelesaikan pekerjaan kantor yang hampir semuanya sebetulnya sangat
praktis. Bisnis dan manajemen modern, yang sangat pesat berkembang di
Barat, memang sangat menekankan kepraktisan dan rasionalitas.

Kejenuhan manusia terhadap hal-hal yang serba rasional itulah yang
membangkitkan gelombang baru, kemudian populer disebut New Age atau Zaman
Baru. Menurut DR. Jalaludin Rakhmat -- yang akrab disapa Kang Jalal --
lahirnya pemikiran-pemikiran New Age sebena rnya lebih menjelaskan tentang
ketertarikan orang-orang Barat pada hal-hal irasional. Mereka mulai
menyadari, sebagai bangsa, mereka sedemikian materialistis, rasional dan
mekanistis, sehingga tak lebih dari robot-robot tanpa makna. Hidup mereka
diatur ol eh jam. "Kehidupan seperti itu jelas membosankan," Kang Jalal
menandaskan. Untuk mengobati penderitaan akibat guncangan batin, mereka
mulai berpaling ke Timur, dan mencari jawabannya pada filsafat atau
mistisisme Timur maupun ajaran Islam. Jadi, yang dibe rikan Timur atau
Islam kepada Barat adalah roh atau spirit.

Nah, kenapa gejala serupa muncul pula di kalangan eksekutif dan kelas
menengah-atas negara-negara Timur seperti Indonesia? Kang Jalal mengamati,
belakangan makin banyak orang di kota-kota besar negeri ini yang
berpendidikan tinggi dan berpenghasilan besar , mulai mengalami
penderitaan dan goncangan batin seperti yang dialami masyarakat Barat,
sehingga mereka pun tertarik mendalami hal-hal yang berbau spiritual,
metafisik dan sufistik. Karena, sistem dan perabadan Barat merasuk dalam
kehidupan sehari-hari m ereka, melalui pendidikan maupun sistem manajemen
yang dikembangkan di sini. "Orang-orang yang mengikuti kuliah di Tazkiyah
adalah mereka yang kelasnya eksekutif ke atas. Begitu juga, mereka yang
kuliah tasawuf di Paramadina berasal dari kelas menengah-at as, karena
bayarannya mahal," ungkapnya.

Budhy Munawar-Rachman, Manajer Program Studi Islam Yayasan Paramadina,
mengakui, belakangan makin banyak kalangan eksekutif dan menengah-atas
yang mengikuti kuliah tasawuf di Paramadina. Menurut dia, bagaimanapun,
gejala ini merupakan perkembangan yang po sitif. Dengan mengikuti program
ini, mereka cenderung lebih arif memandang hidup. Paling tidak, mengubah
cara pandang mereka terhadap manusia atau sesamanya. Manusia tidak
dipandang sebagai makhluk satu dimensi (misalnya sebagai bagian dari mesin
produksi ), tetapi lebih meneropong aspek multidimensionalnya (bukan
fisiknya saja, tapi juga jiwa dan rohnya).

New Age selalu menekankan diri (self) sebagai pusat. Diungkapkan R.B.
Sentanu, Direktur Mind Management Center, kuncinya adalah menguasai dan
mengendalikan seluruh aktivitas pikiran sendiri. New Age, tambahnya,
adalah gejala peningkatan kesadaran global y ang tengah terjadi di seluruh
dunia saat ini. Peningkatan kesadaran ini melebur batasan-batasan antara
Barat-Timur, modern-tradisional, scientific-spiritual, fisika-metafisika.
"Pemahaman akhirnya semua adalah satu. Suatu pemahaman yang mendamaikan
hati d an pikiran," katanya.

Pemikiran dan gaya hidup New Age merasuk hampir di segala bidang
kehidupan, yang melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru. Mulai dari tuntutan
pemenuhan kebutuhan spiritual, hingga atribut-atribut yang menyertainya.
Untuk memenuhi kebutuhan spiritual, misalnya , mereka tidak puas lagi
dengan doktrin dan ritual agama yang dinilainya terlalu kaku dan
membelenggu. Diungkapkan Budhy, dalam visi New Age, manusia modern
sekarang tidak mengetahui lagi bagaimana harus berhubungan dengan Tuhan,
dengan sesama manusia dan
 dengan alam semesta secara tepat. Agama-agama yang terorganisasi pun
tidak lagi dihargai, karena dianggap terlalu otoriter terhadap manusia
kongkret. "Di sinilah kalangan New Age menyetujui pandangan Erich Fromm
bahwa manusia modern memerlukan agama yang
 lebih humanistik, lebih manusiawi," ungkap Budhy.

Penjabaran agama yang lebih manusiawi itu kemudian ditempuh para eksekutif
dengan beragam cara. Seperti dituturkan Kang Jalal, belakangan ada
kecenderungan tertentu di kalangan eksekutif, memilih tempat yang cocok
untuk mengasah spiritualitas mereka. Yang
 berlatar belakang Islam, biasanya mengambil tasawuf. Jika inspirasinya
berasal dari Buddha, mereka memilih Zen atau Tao. Adapun yang inspirasinya
berasal dari Hindu, mereka memilih yoga atau meditasi. "Yang jelas, semua
itu mengambil inspirasi dari Timur ," katanya. "Ciri-ciri semua kelompok
ini adalah sama, yaitu keinginan memperoleh kepuasan rohani sebagai
tambahan kepuasan jasmani. Bukan pengganti kepuasan jasmani," lanjut Kang
Jalal.

Manifestasinya bisa berbagai gerakan atau latihan rohani. Walaupun ada
yang dilakukan melalui latihan fisik, tapi tujuannya mengendalikan
kehidupan rohani. Yakni, bagaimana roh mengendalikan fisik kita. Ia
mencontohkan, puasa adalah latihan rohani tapi me nggunakan fisik. Di sini
tubuh dilatih tunduk pada keinginan roh. Jika roh sudah terlatih, tubuh
bisa dikuasai, sehingga hidup manusia tidak lagi tergantung pada tubuh
atau materi.

Itu sebabnya, pelatihan atau kursus menajamkan kepekaan spiritualitas
makin digemari dan dibanjiri peminat. Pelatihan meditasi yang dibuka Anand
Krisna, misalnya, tak pernah sepi peminat. Anand memang satu dari
segelintir spiritualis yang berhasil meroboh kan tembok pemisah
antaragama, sehingga pelatihan meditasinya diikuti pemeluk agama apa saja.
Siapa pesertanya? "Mulai tukang kebun yang kerjaannya bawa pikulan tanaman
di jalan, sampai profesional, pengacara, dokter ahli," jawab Anand
diplomatis.

Namun, terus terang diakuinya, sebagian besar pengikutnya kelompok
masyarakat yang di tengah-tengah. Artinya, mereka yang tidak terlalu kaya
dan tidak terlalu miskin. Menurut dia, kelompok ini yang paling layak
untuk sesuatu yang indah. Mereka tidak terla lu tersita waktunya untuk
kehidupan sehari-hari, karena mereka berpenghasilan cukup. Mereka tidak
terlalu memikirkan uang, karena uangnya tidak terlalu banyak. Mereka juga
tidak terlalu tersita waktunya hanya untuk memikirkan kebutuhan perut.
"Orang-orang
 seperti inilah yang punya kemampuan berubah. Adapun orang yang terlalu
kaya, biasanya lupa pada kebenaran," papar Anand.

Anand menawarkan beberapa paket meditasi. Ada yang satu setengah hari, ada
pula yang 6 kali pertemuan. Berapa banyak yang mendapatkan pencerahan dan
menemukan jalan keluar? "Saya nggak tahu, tapi kelihatannya mereka lebih
senang. Ada pengusaha yang datang
 ke tempat saya beberapa waktu lalu dikawal tiga orang, sekarang mereka
pulang dengan membawa mobil sendiri. Saya ikut senang," tutur Anand. "Saya
juga melakukan travelling, mengunjungi pembaca buku saya, dan sekitar 90%
cara meditasi dalam buku saya, bis a mereka lakukan sendiri," lanjutnya.

Memang, selain berlatih meditasi, Anand juga menulis buku spiritual yang
semuanya -- menurut pihak Gramedia sebagai penerbitnya -- laku keras di
pasar. Dalam dua tahun terakhir, Anand menulis 20 lebih judul buku, dan
semuanya laku. Dengan melihat judul-ju dulnya saja, kita segera tahu,
Anand ingin membidik pembaca dari semua segmen agama. Misalnya: 99 Nama
Allah bagi Orang Modern, Bhagavad Gita bagi Orang Modern, Hidup Sehat dan
Seimbang Cara Sufi, Zen bagi Orang Modern, Tao The Ching bagi Orang
Modern, Te tap Waras di Zaman Edan, dan sebagainya.

Di samping buku spiritual, buku lain yang berbau New Age pun belakangan
makin diminati kalangan eksekutif. Pihak Gramedia, misalnya, menyebutkan
judul-judul buku penyembuhan alternatif yang kini laku di pasar seperti
Penyembuhan dengan Warna karya Helen G raham, Penyembuhan dengan Kristal
karya Jacquie Burge, Penyembuhan dengan Meditasi karya Dariel Hall, dan
sederet judul buku lainnya.

Bidang yang secara kasat mata terimbas gelombang New Age adalah arsitektur
dan desain interior. Belakangan, makin banyak eksekutif yang menyukai
arsitektur rumah yang dekat dengan alam dan lebih manusiawi, misalnya
dengan aksen batu-batu kali dan kayu. Me reka juga terlibat secara aktif
dalam desain dan proses pembangunan rumah. Demikian pula soal desain
interior, mereka tak menyukai lagi perabotan buatan mesin yang kendati
terkesan mewah dan mahal, cenderung seragam. Mereka lebih memilih perabot
bernuansa
 alami, misalnya meja-kursi dari kayu yang dibiarkan polos tanpa pelitur.
Perabotan pun, mereka tak malas merancang sendiri dan memesan langsung ke
pembuatnya.

Hiburan, musik misalnya, kini juga tidak dinikmati sebagai hiburan belaka.
Segi spiritualnya berusaha dicari dan dinikmati. Berkembanglah, kemudian,
musik-musik alternatif yang beruasaha menyuarakan kemnbali nada-nada indah
dari alam, seperti desiran angi n, kicau burung, debur ombak atau gesekan
pohon-pohon bambu. Di bidang seni tari, ada tarian rohani, seperti Tari
Rumi yang diselenggarakan Anand.

Gelombang New Age juga tampak dari berkembangnya pola hidup sehat dengan
mengatur pola makan yang selaras dengan hukum alam. Gaya hidup ini,
misalnya, bisa dilihat dari makin banyaknya eksekutif yang kini
vegetarian. Diungkapkan Ray Sahetapy, sutradara da n pemilik rumah
produksi, dengan menjadi vegetarian, banyak dampak positif bagi hidupnya.
"Di antaranya, konsentrasi kerja semakin tajam, perasaan saya lebih halus,
tidak terburu-buru. Saya menjadi lebih sering mengalah," tuturnya.

Pola hidup sehat selaras alam yang dianut keluarga Andang Gunawan, bos
Headline Communication, diakui membuat para anggota keluarganya lebih peka
terhadap getaran perasaan dan hidup sesamanya. Diceritakan Andang, pola
hidup sehat alami yang dianut keluarg anya bermula ketika sang suami,
pengusaha Maxi Gunawan, menderita penyakit liver akibat pola hidup yang
tidak keruan -- sekitar empat tahun silam. "Biasalah, gaya hidup kita
zaman dulu. Pulang dari disko jam empat pagi, masih makan lagi, bagaimana
enggak sakit, pola makannya enggak teratur," ungkapnya. Secara tak
sengaja, Andang yang mengaku belum 100% menganut New Age, menemukan buku
tentang pola makan yang sehat, kemudian diterapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.

Sekarang, Andang maupun suaminya betul-betul hidup sehat. Tidak merokok,
tidak minum minuman keras. Ke disko, paling setahun sekali malam Tahun
Baru. Andang merasa makin enjoy dengan kehidupan keluarganya sekarang.
"Istirahat cukup, tidur cepat, kerja leb ih enak, lebih seru, lebih
semangat... akhirnya kita merasa enggak butuh kehidupan seperti yang dulu
lagi," ungkapnya. Waktu untuk keluarga pun lebih banyak. Hari Minggu bisa
jalan-jalan dengan anak-anak, misalnya.

Kalau makin banyak lagi eksekutif kita yang menganut pola hidup yang kaya
makna seperti diceritakan di atas, ini pertanda mereka tengah menyongsong
era pencerahan.(o)

Harmanto Edy Djatmiko

Reportase: Maulana Yudiman dan Yuyun Manopol.

----- End of forwarded message from SWA Sembada -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----