[INDONESIA-L] GAMMA - Besan Soehart

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Jul 28 1999 - 09:33:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jul 28 12:28:19 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id MAA22622
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 28 Jul 1999 12:28:18 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id MAA17972
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Wed, 28 Jul 1999 12:28:17 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA28231; Wed, 28 Jul 1999 10:28:10 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Wed, 28 Jul 1999 10:28:10 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA28210; Wed, 28 Jul 1999 10:28:04 -0600 (MDT)
Date: Wed, 28 Jul 1999 10:28:04 -0600 (MDT)
Message-Id: <199907281628.KAA28210@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] GAMMA - Besan Soeharto Bersikap
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "Majalah GAMMA" <gamma@gamma.co.id>
To: <apakabar@saltmine.radix.net>
Subject: GAMMA: Besan Soeharto Bersikap
Date: Wed, 28 Jul 1999 11:33:25 +0700

http://www.gamma.co.id
http://www.gammamagazine.com

Soeharto Gawat Soemitro Bersikap

Soemitro Djojohadikusumo enggan menjenguk besannya, mantan Presiden
Soeharto, yang sedang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit Pusat
Pertamina. Prabowo Subianto, sang menantu, pun urung pulang ke Tanah Air.
Ada apa?

JATUH sakitnya mantan Presiden Haji Mohammad Soeharto, 78 tahun, sungguh
mengagetkan dan menimbulkan sejumlah spekulasi. Berbagai pertanyaan
menggelayut. Ratusan wartawan dan fotografer menyerbu Rumah Sakit
Pertamina, di Jakarta Selatan, mencari kepastian apa yang terjadi, Selasa
pekan lalu.

Sementara, sejumlah tokoh mulai mengalir, membesuk. Yang pertama datang
mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah bersama istri. Kepada wartawan,
Nyonya Umar Wirahadikusumah menyebut kondisi kesehatan Soeharto baik-baik
saja. Menyusul mantan Menteri Sek retaris Negara Moerdiono. Lalu mantan
Menhankam/Pangab L.B. Moerdani yang datang bersama empat orang
pengawalnya. Tidak satu pun kata keluar dari mulut tokoh "angker" ini.
Bahkan, Benny sempat menghalau dengan tongkat sejumlah pewarta foto yang
hendak men gambil gambarnya.

Hingga Sabtu pekan lalu, atau hari keempat, masyarakat masih
bertanya-tanya tentang kondisi riil mantan orang paling berkuasa di
Indonesia selama 32 tahun itu. Juan Felix Tampubolon, pengacara Soeharto
yang belakangan menjadi juru bicara keluarga Cendana, kepada Gamma
menyatakan, "Saya katakan sejujurnya, Bapak memang terkena stroke ringan.
Dan kondisinya sudah mulai membaik. Bapak sudah bisa turun dari tempat
tidurnya, berdiri, dan berjalan. Dia juga sudah bisa duduk dan
ngobrol-ngobrol sebentar dengan s aya," tutur Felix. Soeharto, lanjutnya,
bahkan sempat melakukan salat Ashar, meskipun masih berbaring di tempat
tidur.

Sumber Gamma di Rumah Sakit Pertamina menyebut, Soeharto memang terkena
stroke. "Tapi, bukan pecahnya pembuluh darah. Cuma penyumbatan," ujar
sumber, yang ikut merawat Soeharto itu. Ada pun yang terkena penyumbatan
itu adalah nervous 5,7 dan 9. Urat syara f yang mengalami sumbatan ini
terkait dengan bagian muka, dan berpengaruh pada kegiatan berbicara dan
menelan. "Karena itu, Pak Harto makan dan minum pakai selang," lanjutnya.
Akibat penyumbatan ini, Pak Harto bukan hanya cadel, tapi memang tidak
mampu bi cara. "Untuk recovery, butuh waktu lama. Dan kalaupun sembuh, tak
akan 100 persen. Ibarat selang plastik yang sempat tersumbat, tidak bisa
mulus lagi," tambah sumber tersebut.

Musibah stroke ringan ternyata membawa berkah. Kehadiran tokoh-tokoh
seperti L.B. Moerdani, Moerdiono, Sudharmono, dan sejumlah mantan
orang-orang dekat Soeharto lainnya menunjukkan kepada Soeharto dan
keluarga bahwa masih banyak tokoh yang bersimpati kep adanya. Tak hanya
itu, simpati juga muncul dari penyerang Soeharto par-exelence, Amien Rais.

Disebut berkah, menurut pengamat politik Fachry Ali, karena sakitnya
Soeharto juga membuat publik memperoleh kesadaran baru. "Peristiwa ini
tampaknya mampu membuat orang memilah-milah antara apa kesalahan yang
dilakukan Soeharto dan jasa-jasanya. Kalau pa da proses reformasi awal
orang secara bergelora melihat hanya kesalahan Soeharto, kini mereka mulai
sadar bahwa Soeharto ternyata memiliki sisi lain," katanya.

Kehadiran para tokoh politik itu, ditambah membanjirnya ratusan karangan
bunga (yang dalam waktu singkat habis dijarah orang), di mata Fachry,
menunjukkan betapa kuat kehadiran pengaruh politik Soeharto, meski dalam
keadaan sakit. Pentas itu ternyata dima nfaatkan banyak tokoh. Amien Rais,
Gus Dur, dan Kwik Kian Gie, di barisan yang menamakan diri proreformasi,
atau Sudharmono, L.B. Moerdani, Moerdiono, dan Tunky Ariwibowo, menurut
Fachry, secara sadar memanfaatkan panggung politik ini.

Sedangkan pengamat politik Daniel Sparingga melihat kunjungan Gus Dur,
Amien Rais, dan Kwik Kian Gie membuka wacana baru dalam melihat posisi
politik Soeharto. "Kunjungan mereka menunjukkan bahwa Soeharto bagi mereka
is not forgotten but forgiven," ujar Daniel.

Lebih jauh, panggung politik yang muncul dari sakitnya Soeharto ini,
menurut Daniel, malah memungkinkan terjadinya sebuah proses rekonsiliasi.
Sebab, katanya, di tengah masyarakat sekarang ini setidaknya ada tiga
perspektif dalam melihat persoalan Soehart o. Pertama, kasus Soeharto
never forgotten and never forgiven. Kedua, never forgotten, but forgiven.
Ketiga, forgotten, never forgiven. Keempat, forgotten and forgiven.

Kecenderungan kekuasaan ke depan, menurut Daniel, adalah pilihan kedua.
"Kesalahan Soeharto memang tak akan dilupakan. Tapi, mereka cenderung akan
memaafkan Presiden kedua Indonesia ini," sambungnya. Di sinilah, lanjut
Daniel, konteks politik kunjungan Am ien Rais, Kwik Kian Gie, dan sejumlah
tokoh lain ke Rumah Sakit Pertamina, tempat Soeharto dirawat. "Kunjungan
itu harus dipahami sebagai kunjungan kemanusiaan dan politis. Itu
menunjukkan adanya hasrat untuk tidak melupakan masa lalu, tapi ada niat
untuk memaafkan," lanjut dosen FISIP Universitas Airlangga tersebut.

Namun, pandangan optimistis Daniel tampaknya bertepuk sebelah tangan.
Paling tidak untuk sementara. Betapa tidak, kehadiran Amien Rais yang
tidak diizinkan melihat langsung Soeharto, atau rencana kunjungan Presiden
B.J. Habibie yang hingga kini tertunda-t unda, terpaksa memunculkan
spekulasi lain. Faktor penghambat itu disinyalir adalah sikap anak-anak
Soeharto.

Dari berbagai kunjungan tokoh-tokoh politik hampir selama sepekan Soeharto
dirawat, Dewi Fortuna melihat jelas faktor anak-anak Soeharto ini. "Ada
seleksi ketat dari anak-anak Pak Harto," tutur Dewi kepada Taufik Rinaldi
dari Gamma. Anak-anak Soeharto itu , menurut juru bicara Kepresidenan ini,
tampaknya tidak mau mengambil risiko. "Karena itu, yang dikasih masuk
hanya orang biasa yang tidak akan memunculkan gejolak emosi dan dianggap
cukup dekat dengan Pak Harto serta dianggap tidak bermasalah," kata Dewi .

Apakah ini soal dendam? "Mungkin saja," jawab Dewi Fortuna, enteng. Sikap
itu, menurut Dewi, memang kecenderungan yang wajar. "Pak Habibie kan harus
mempertanggungjawabkan Tap MPR soal pemberantasan praktik-praktik korupsi,
kolusi, dan nepotisme itu. Dan tidak hanya KKN-nya Soeharto saja, tetapi
juga terkait dengan anak-anak dan kroninya. Ya terang saja kalau
anak-anaknya marah," lanjut Dewi.

Analisis Dewi soal dendam ini tampaknya beralasan. Apalagi, Profesor
Soemitro Djojohadikoesoemo, besan Pak Harto, pun ternyata enggan
menjenguk. "Saya tak merencanakan untuk berkunjung ke sana," cetus Pak Cum
--panggilan akrab Soemitro Djojohadikoesoemo-- kepada sejumlah wartawan.

Menariknya, Pak Cum tidak berhenti di situ. Seakan memberi alasan
keengganannya, Pak Cum melanjutkan, "Saya sudah menyatakan sikap. Saya
sudah lama tak berhubungan dengan Soeharto." Sampai di situ, Pak Cum
enggan melanjutkan wawancara. Sikapnya itu sudah lama diketahui
masyarakat.

Dikisahkan, misalnya, bahwa dua hari setelah jatuhnya Soeharto, Pak Cum
mencoba menghubungi Soeharto untuk minta bertemu. "Lewat ajudan saya
mengatakan ingin bertemu," kata Pak Cum. Biasanya, setelah pesan itu
disampaikan kepada ajudan, dua hari kemudian Pak Cum akan mendapat
jawaban. "Satu minggu kemudian saya baru mendapat jawaban, "Bapak masih
sibuk." Dua minggu kemudian, saya telepon lagi. Tetap tidak ada tanggapan.
Sejak itu, saya tak pernah mau ketemu lagi," tutur Pak Cum.

Apa yang terjadi? Apa yang membuat hubungan Pak Cum terputus dengan
Soeharto? Pak Cum ternyata melihat hal yang sama dengan Dewi Fortuna:
faktor anak-anak Soeharto. Sebenarnya, tentang berbagai hujatan yang
menimpa Soeharto selama ini, Pak Cum mengaku sed ih. "Tidak hanya sebagai
besan, tapi sebagai manusia tentu saya sedih," tuturnya. Hanya, kesalahan
besar Soeharto selama tiga puluh tahun berkuasa, di mata Pak Cum, adalah
kepercayaannya yang berlebihan kepada anak-anaknya, juga kepada para
kroninya.

Selama sepuluh tahun pertama berkuasa, Soeharto di mata Pak Cum sebenarnya
pemimpin yang baik, bahkan hebat. Kenapa selama sepuluh tahun pertama kita
bisa berhasil membangun? "Karena, kita bisa percaya dan mengandalkan dia
sepenuhnya. Ketika itu, dia bena r-benar pegang janji dan kata-katanya.
Dan kalau ada kritik dari luar negeri, atau setiap terjadi kesalahan yang
dilakukan para menteri, Pak Harto selalu mengambil tanggung jawab.
Hebatnya di situ," tutur Soemitro suatu kali kepada tabloid Detak.

Perkembangan selanjutnya, terutama setelah meninggalnya Ibu Tien,
kekuasaan Soeharto semakin tidak terkontrol. "Pengaruh anak-anak, dan
terlalu lamanya Soeharto berkuasa, merupakan penyakit yang diderita
Soeharto selama sepuluh tahun terakhir," lanjut Pak Cum.

Soal kekayaan, di mata Pak Cum, Soeharto sebenarnya tidak terlalu rakus.
"Haus kekuasaan mungkin," jelasnya. Bagi Soeharto, katanya, kekayaan
adalah alat untuk mengonsentrasikan kekuasaan itu. "Dia bikin berbagai
yayasan yang bertugas menghimpun dana. Set elah dana itu terkumpul, dia
memanfaatkannya untuk menghimpun kekuatan dengan mempengaruhi orang lain.
He needs money to buy power. Di sini, pengaruh anak-anaknya besar sekali,"
jelas Soemitro

Ternyata, ada penjelasan psikoligis tentang sikap Soeharto kepada
anak-anaknya. "Itu tidak lepas dari masa kecil dia. Atau, ada semacam
beban kejiwaan masa lalu," Pak Cum terus memberikan penilaian. Cerita soal
ini diperolehnya ketika Pak Cum melamar Titi ek (Siti Hediyati) untuk
anaknya, Prabowo Subianto. Waktu itu, kepada Pak Cum dan keluarga,
Soeharto berkisah mengenai dirinya yang sejak berusia 10 tahun berpisah
dari kedua orangtuanya.

"Jadi, sejak lahir saya sebenarnya nggak kenal ibu kandung saya. Jadi,
saya besar di desa. Saya jadi rebutan pada saat saya umur 10 tahun, antara
keluarga yang mengasuh saya dan bapak kandung saya. Kemudian, saya
dikompromikan ditaruh di Wonogiri, di kelu arga mantri, bapaknya
Sudwikatmono. Makanya, Sudwikatmono lebih dari saudara kandung," begitu
cerita Soeharto di depan keluarga Pak Cum. "Karena tidak mau anak-anaknya
bernasib seperti masa kecilnya yang gelap, dia tebus itu dengan memberikan
segalanya ke pada anak-anaknya."

Pak Cum mengaku sudah dua kali mengingatkan Soeharto soal ini. "Mungkin
saya satu-satunya orang yang mengingatkan soal anak-anak," katanya
menjelaskan sikapnya. "Tapi, saya sempat dengar Benny Moerdani juga pernah
menyinggung itu, tapi dimarahi. Itu saya dengar dari Soedharmono," sambung
Pak Cum.

Peristiwanya sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Sebagai Ketua Umum Ikatan
Koperasi Pegawai Negeri (IKPN), Pak Cum menemui Soeharto di Cendana. Dalam
kesempatan itu, Pak Cum mengingatkan Soeharto bahwa kelakuan anak-anaknya
sudah menjadi isu politik. "Wak tu itu, saya tidak mengkritik. Hanya
menyampaikan fakta." Menurut Pak Cum, Soeharto ternyata tidak bereaksi.
Diam. Ketika Pak Cum pamit, di pintu, Soeharto sempat bilang, "Iya Pak
Mitro. Saya menyadari anak-anak saya terkena isu politik."

Peringatan Pak Cum tujuh tahun lalu itu kini terbukti. Soal anak itu
pulalah yang kemudian memutuskan hubungan keluarga Pak Cum dengan keluarga
Soeharto. Tentang keberadaan Prabowo di tengah keluarga Cendana, Pak Cum
bertutur, "Hubungan Bowo dengan anak-a nak Pak Harto tidak baik, selalu
bentrok, meski tidak sampai tersiar ke luar. Dengan Tommy bentrok soal
cengkeh, dengan Mamiek bentrok soal helikopter. Anak-anak ini kemudian
mempengaruhi bapaknya, sehingga Pak Harto akhirnya lebih percaya Sjafrie
(Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, mantan Panglima Daerah Militer Jakarta Raya
dan mantan pengawal Soeharto, Red.) daripada Bowo. Yang paling akhir, Bowo
dikhianati mertuanya sendiri."

Menjelang Soeharto lengser, atau di saat-saat krisis kekuasaan setahun
lalu, hubungan keluarga Soeharto dengan Prabowo dan keluarga dikabarkan
semakin merenggang. "Dari sumber kedua, saya dengar, pada hari-hari sulit
itu, seluruh keluarga Soeharto memang memusuhi Prabowo, karena dia
dianggap menyulitkan mereka. Ketika itu, Prabowo banyak disorot karena
kasus penculikan. Di mata mereka, Prabowo dianggap memiliki sumbangan bagi
semakin terpuruknya rezim Soeharto," tutur Dewi Fortuna Anwar.

Menurut Dewi, hubungan buruk antara Prabowo dan keluarga Cendana,
sebagaimana dituturkan Pak Cum, memang sudah berlangsung lama. "Saya
sering dengar Prabowo sudah lama terasing di antara keluarga Cendana itu,"
kata Dewi. "Kita tahu, keluarga Pak Mitro itu keluarga intelektual. Mereka
ini orang lama yang tidak perlu membuktikan diri lagi tentang siapa
mereka."

Pengacara Juan Felix Tampubolon membantah hampir semua tuduhan-tuduhan
itu. Pak Harto, katanya, bukan pendendam, dan anak-anaknya pun begitu
pula. Bahwa tidak semua tamu bisa masuk, itu lantaran Pak Harto sedang
menjalani tes medis. "Jadi, bukannya keluar ga Cendana
menghalang-halangi," lanjutnya. "Nggak ada pilih-pilih bulu begitu.
Hubungan Soearto dan Pak Mitro pun wajar saja. Bahwa Prabowo Subianto
belum membesuk, itu karena memang berada di luar negeri, seperti halnya
Nyonya Bambang Trihatmodjo yang ju ga masih berada di mancanegara."

Tapi, paling tidak, agaknya menarik pesan Amien Rais pada ajudan Soeharto
tatkala membesuk ke Rumah Sakit Pertamina. Seperti dikatakannya kepada
Julie Indahrini dari Gamma, "Saya mendoakan kesembuhan dan yang paling
baik bagi Pak Soeharto," kata Amien Rai s. Sebuah kata-kata yang justru
meluncur dari bekas "musuhnya". Dan tentunya akan lebih baik lagi yang
dikatakan besan dan menantunya.

Muchlis Ainurrafik, A. Latief Siregar, Ruba'I Kadir, Rika Condessy, Yuyuk Andriati Iskak

http://www.gamma.co.id
http://www.gammamagazine.com

----- End of forwarded message from Majalah GAMMA -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----