[INDONESIA-L] AHMAD SUDIRMAN - PANC

From: apakabar@Radix.Net
Date: Sun Aug 08 1999 - 13:09:00 EDT


----- Forwarded message from indopubs@iname.com -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Aug 8 12:33:47 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id MAA01930
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Sun, 8 Aug 1999 12:33:47 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id MAA12738
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Sun, 8 Aug 1999 12:33:48 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA19311; Sun, 8 Aug 1999 10:30:59 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Sun, 8 Aug 1999 10:30:59 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA19294; Sun, 8 Aug 1999 10:30:57 -0600 (MDT)
Date: Sun, 8 Aug 1999 10:30:57 -0600 (MDT)
Message-Id: <199908081630.KAA19294@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: indopubs@iname.com
Subject: [INDONESIA-L] AHMAD SUDIRMAN - PANCASILA adalah Karet
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Sat, 07 Aug 1999 21:37:37 +0200
From: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
To: apakabar <apakabar@saltmine.radix.net>
Subject: PANCASILA ADALAH KARET.

Stockholm, 7 Agustus 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PANCASILA ADALAH KARET.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.

Jawaban terakhir untuk saudara A. Simanjuntak (Indonesia).

Kembali saudara A. Simanjuntak mengirimkan tanggapannya terhadap tulisan
"Pecah belah muslim melalui Megawati" yang dipublisir pada tanggal 4
Agustus 1999. Dimana sebagian isi tanggapannya saya lampirkan dibawah
ini.

Saudara A. Simanjuntak menulis "...Namun saya ingin tahu, menurut Pak
Ahmad, apakah nilai-nilai Pancasila itu bertentangan dengan hukum Islam
? Bukankah nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan
keadilan sosial, termasuk nilai-nilai universal yang baik ?

Saya sebagai orang Kristen, saya tidak melihat sesuatu yang buruk atau
menyimpang dalam nilai-nilai Pancasila itu. Misalnya (lepas dari Orde
Baru yang tidak menjalankan Pancasila sebagaimana mestinya) kalau saya
implementasikan Pancasila sbb:

Sila Ketuhanan YME : Percaya dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama
dan kepercayaannya masing-masing. Bebas menjalankan ibadah/kepercayaan
masing-masing. Saling menghormati, menghargai, dan tolong-menolong antar
sesama pemeluk agama, dsb. Tidak memaksakan suatu agama terhadap orang
lain.

Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab: Mengakui persamaan hak dan
derajat. Memperlakukan sesama manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai manusia.

Sila Persatuan Indonesia: Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di
atas kepentingan golongan/kelompok (dalam konteks berbangsa dan
bernegara). Bangga sebagai bangsa Indonesia, dst.

Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat ....dst. Mengutamakan
musyawarah untuk mufakat. Menghargai pendapat orang lain, dst.

Sila Keadilan sosial: Adanya keseimbangan hak dan kewajiban. Pembangunan
dilakukan secara merata, dsb.

Apakah implementasi seperti ini tidak baik ? Apabila semua agama di
Indonesia mengajarkan memang kebaikan berarti implementasi di atas sama
sekali tidak bertentangan dengan ajaran masing-masing agama itu. Dengan
kata lain, agama tidak perlu merasa berdosa untuk melaksanakannya.

Justru, menurut saya, agama sangat diharapkan untuk menemukan berbagai
nilai-nilai yang baik untuk disumbangkan terhadap Pancasila untuk
dipakai bersama oleh seluruh Indonesia. Misalnya, bagaimana konsep
penghormatan terhadap wanita menurut agama Islam, Kristen, Hindu, Budha,
dan kepercayaan. Nilai-nilai masing-masing agama itu dipertemukan, dan
apabila saling sesuai (melalui suatu proses) maka jadilah ia sebagai
nilai bersama, yang bisa memperkaya implementasi dari Pancasila.
Demikian Pak Ahmad tanggapan saya" ( A. Simanjuntak, 5 Agustus 1999).

Baiklah saudara A. Simanjuntak.

Setelah membaca tanggapan saudara Simanjuntak diatas, ternyata apa yang
telah ada dalam pikiran saya terbukti. Apa itu buktinya?. Buktinya
adalah pancasila sama seperti karet, bisa dijadikan, dibentuk, dirubah,
ditafsirkan menurut sekehendak hati.

Coba baca penafsiran pancasila diatas, dimana saudara Simanjuntak yang
penganut Kristen itu telah menafsirkan sila-sila yang ada dalam
pancasila menurut pikirannya sendiri. Begitu juga Soekarno, Soeharto,
Habibie dan Megawati serta siapa saja orang Indonesia menafsirkan
sila-sila yang ada dalam pancasila menurut jalan pikirannya sendiri. Apa
yang dirasa bagus dan cocok untuk menafsirkan setiap sila yang ada dalam
pancasila, dibuatlah penafsirannya atau seperti yang dikatakan
Simanjuntak "disumbangkan terhadap Pancasila untuk dipakai bersama oleh
seluruh (bangsa) Indonesia".

Nah, karena pancasila bisa dijadikan, dibentuk, dirubah, ditafsirkan
menurut sekehendak hati, maka pancasila bukanlah suatu yang harus
dipertahankan tanpa tawar menawar sebagaimana kata Ketua PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri dalam pidato politiknya tanggal 29 Juli 1999 yang
lalu.

Pancasila, menurut saya adalah bisa dirubah, ditukar dan dibuang. Karena
memang pancasila tidak sakti, tidak sakral dan tidak keramat.
Dilaksanakan atau tidak dilaksanakan, sama saja, tidak ada sangsi yang
kuat, baik sangsi dunia atau sangsi akherat. Pancasila adalah seperti
yang ditafsirkan oleh saudara A. Simanjuntak diatas, yaitu isinya hanya
hasil pemikiran Simanjuntak. Atau kalau mau lebih banyak yang
menafsirkan yaitu hasil pemikiran Panitia Sembilan (Soekarno, Hatta,
Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim,
Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin) dan BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan) yang diketuai oleh Dr Rajiman Widiodiningrat yang
dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang Jenderal
Angkatan Darat Jepang pada tahun 1945. Walaupun sila pertama hasil
pemikiran Panitia Sembilan ini yang menyatakan: "Ketuhanan dengan
menjalankan Syar'at Islam bagi para pemeluknya" telah dirubah (atas usul
sekelompok orang Kristen yang berasal dari Sulawesi Utara, tanah
kelahiran A.A. Maramis) melalui Muhammad Hatta yang memimpin rapat PPKI
(Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) itu, setelah berkonsultasi
dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo (keduanya bukan
anggota panitia sembilan), menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta yang
menjadi keberatan dimaksud. Sebagai gantinya, atas usul Ki Bagus
Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua gerakan pembaharu Islam
Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan baru dalam sila Ketuhanan
itu, sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan di cantumkan dalam
preambule (pembukaan) UUD'45 sampai sekarang dan tidak ada seorangpun
yang berani merubahnya.

Nah sekarang, bagi siapa yang ingin melihat dan membaca hasil pandangan
dan pemikiran lain tentang pancasila bisa dilihat dalam tulisan-tulisan,

[980807] Islam tidak bisa menerima Pancasila.
[980814] Islam menolak sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang ada dalam
Pancasila.
[980815] Apakah benar Pancasila sebagai falsafah negara yang dilahirkan
oleh BPUPK yang dibentuk oleh AD Jepang adalah digali dari Islam dan
diterima oleh seluruh kaum Muslimin?.
[981007] Sekali lagi tidak benar Pancasila dan UUD'45 sebagai perjanjian
damai masyarakat Indonesia.
[990403] Pandangan Undang Undang Madinah terhadap Bab XI pasal 29 UUD'45

[990422] Justru karena UUD'45 aneh dan tidak sakral itulah mengapa
Undang Undang Madinah menjadi pilihan ideal dalam Daulah Islam
Rasulullah bagi kaum Muslim dan non Muslim di seluruh wilayah Indonesia.

[990524] Apakah negara Islam bisa tegak di Indonesia meskipun
berdasarkan pancasila?.

Dimana tulisan-tulisan tersebut diatas dapat dilihat dan dibaca di
http://www.dataphone.se/~ahmad/daftar.htm

Inilah jawaban terakhir dari saya untuk saudara A. Simanjuntak.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se

----- End of forwarded message from Ahmad Sudirman -----

----- End of forwarded message from indopubs@iname.com -----