[INDONESIA-L] PANJI MASYARAKAT - Pe

From: apakabar@Radix.Net
Date: Sun Aug 15 1999 - 15:22:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Aug 15 18:20:28 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA27529
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Sun, 15 Aug 1999 18:20:27 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA16836
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Sun, 15 Aug 1999 18:20:27 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA20250; Sun, 15 Aug 1999 16:19:14 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Sun, 15 Aug 1999 16:19:14 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA20233; Sun, 15 Aug 1999 16:19:04 -0600 (MDT)
Date: Sun, 15 Aug 1999 16:19:04 -0600 (MDT)
Message-Id: <199908152219.QAA20233@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] PANJI MASYARAKAT - Perseteruan Orang Dekat Soeharto
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.panji.co.id/edisi118/panjut5.htm

   PANJI UTAMA / PANJI NO.18 TH. II 18 AGUSTUS 1999

Perseteruan Orang Dekat Soeharto
   
   Hubungan Masa Lalu: Hubungan persahabatan yang dijalin selama belasan
   tahun menjadi renggang ketika salah seorang dari mereka dicalonkan
   sebagai wakil presiden. Inilah kisah masa lalu mereka berdua.
   
   
   Sudah lama sebenarnya Leonardus Benjamin `Benny' Moerdani dan
   Sudharmono jadi kawan akrab. Pertama kali Benny kenal dengan
   Sudharmono sekitar tahun 1951 di Bandung. Saat itu ia menjadi siswa
   Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat. Sedangkan Sudharmono waktu
   itu adalah perwira pimpinan (battalion's adjutant). Hubungan itu kian
   dekat saat Benny pulang dari Seoul, Korea Selatan, tahun 1974.
   "Kedekatan itu berlangsung lantaran tugas kami banyak berhubungan,"
   kata Benny suatu ketika.
   
   Mungkin betul apa yang dikatakan Benny. Selepas menjabat konsul
   jenderal RI di Korea, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 2 Oktober
   1932, itu langsung dipercaya sebagai asintel Hankam/Kopkamtib.
   Sementara saat itu Sudharmono menjabat mensesneg. "Karena jabatan
   serta tugas itulah, maka hubungan saya dengan Pak Dhar, baik dalam
   kaitan kerja maupun secara pribadi, menjadi semakin erat," kata Benny
   Moerdani seperti ditulis dalam buku Kesan dan Kenangan dari Teman: 70
   Tahun H. Sudharmono, S.H. Puncak keeratan hubungan mereka terjadi saat
   Benny menjadi panglima ABRI dan Sudharmono jadi mensesneg selain ketua
   umum Golkar.
   
   Namun, namanya juga manusia, hubungan pertemanan yang dicoba dijalin
   secara mulus itu akhirnya bisa retak juga. Persoalannya pun sebetulnya
   terkesan tidak rasional. Hanya gara-gara kepentingan politik, Benny
   dengan Sudharmono harus beradu kepentingan.
   
   Entah apa yang menjadi dasar, di penghujung jabatannya sebagai ketua
   umum Golkar, beberapa orang pengurus DPP berkehendak mengegolkan
   Sudharmono jadi orang nomor dua di Republik ini. Ketika itu Sarwono
   dan Akbar Tandjunglah yang begitu bersemangat mengupayakan Sudharmono
   jadi calon wakil presiden periode 1988-1993. Tekad mereka makin kuat
   setelah mendapat sinyal dari Presiden Soeharto.
   
   Sebenarnya, pria kelahiran Gresik, 12 Maret 1927, itu kurang berkenan
   dengan pencalonan tersebut. Bukan apa-apa, Sudharmono merasa dirinya
   tidak layak untuk menjabat posisi itu. Dalam otobiografi Sudharmono,
   S.H.: Pengalaman dalam Masa Pengabdian, disebutkan Sudharmono bersikap
   keras kepada Sarwono dan Akbar Tandjung. Dua orang inilah yang bertemu
   dengan Sudharmono di Sekretariat Negara pada 25 Februari 1988 untuk
   membicarakan masalah pencalonan sebagai wapres. "Pada saat itu reaksi
   saya ialah sebaiknya Fraksi Karya Pembangunan mengadakan konsultasi
   dengan ketua Dewan Pembina. Kalau mungkin bersama-sama dengan Fraksi
   Utusan Daerah dan Fraksi ABRI," tulis Sudharmono.
   
   Rupanya, pencalonan itu secara tidak langsung diketahui oleh Pak
   Harto. Cuma, waktu itu Soeharto tidak secara tegas menunjuk hidung.
   Waktu itu Soeharto cuma mengisyaratkan syarat-syarat untuk calon wakil
   presiden. Pertama, dia haruslah seorang yang teguh pendiriannya atas
   Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menunjukkan kapabilitasnya, memiliki
   prestasi dan integritas yang tinggi. Ketiga, dapat diterima oleh
   masyarakat. Keempat, mendapat dukungan sebagian besar anggota fraksi.
   Menurut Sarwono dan Akbar waktu itu, keempat syarat tersebut ada pada
   diri Sudharmono. Kloplah sudah.
   
   Tiga hari kemudian digelarlah rapat tiga fraksi, yaitu FKP, FUD dan
   FABRI, di Mabes ABRI. Benny Moerdani selaku Pangkopkamtib bertindak
   sebagai tuan rumah. Saat itu hadir juga pangab baru, Try Sutrisno.
   Selain itu, pimpinan tiap-tiap fraksi tentu saja hadir. Demikian juga
   Ketua Umum Golkar dan Pimpinan Korpri Soepardjo Roestam. Trifraksi
   ketika itu sudah berkonsultasi kepada Soeharto ihwal calon yang akan
   dipilih sebagai pendampingnya.
   
   Dalam rapat tersebut terjadi situasi yang agak "aneh". Saat itu,
   Cosmas Batubara, salah seorang anggota FKP, menanyakan kepada pimpinan
   rapat, siapa calon tiga jalur untuk wakil presiden mendatang. Ini
   dijawab Benny. Menurut Benny, FABRI sampai waktu itu belum mengambil
   keputusan. Alasannya, dia baru saja kembali dari luar negeri dan belum
   sempat berkonsultasi dengan Pak Harto.
   
   Jawaban ini terang saja menimbulkan tanda tanya. Padahal ketiga fraksi
   ketika berkonsultasi dengan Pak Harto telah menyatakan kesamaan
   pandangannya untuk mencalonkan Pak Dhar. Timbul pertanyaan, ada apa
   dengan Benny?
   
   Dalam hubungan dengan pencalonan Sudharmono oleh ABRI, Sudharmono
   mendengar kabar kurang sedap. "Keputusan ABRI untuk mencalonkan saya
   itu diambil setelah diadakan rapat maraton di kantor Pak Benny di
   Tebet (kantor intel)," tulis Sudharmono dalam buku Pengalaman dalam
   Masa Pengabdian. Dalam rapat itu, lanjutnya, Benny awalnya keberatan
   jika ABRI mencalonkan Sudharmono sebagai wakil presiden. Alasan yang
   dia kemukakan sendiri tidak jelas. Baru setelah terjadi perdebatan
   yang hangat antara peserta rapat--terdiri atas jenderal-jenderal
   pimpinan ABRI, termasuk Benny, Try Sutrisno, Sugiharto (kepala staf
   sosial politik ABRI), Harsudiono Hartas (asisten kassospol)--akhirnya
   diambil keputusan untuk mendukung Sudharmono. Rupanya, yang menentukan
   keputusan itu tidak lain karena Soeharto memang menjagokan Sudharmono.
   Karena itu, dengan berat hati Benny terpaksa harus loyal atas
   "keputusan" Soeharto tersebut.
   
   Benny sendiri tampaknya kurang respek terhadap pencalonan Sudharmono.
   Soalnya bukan apa-apa. Awalnya, nama Benny memang disebut-sebut
   sebagai salah seorang kandidat wakil presiden. Tetapi soal ini ditolak
   oleh Benny. "Bagus kalau demikian,...kalau saya masih menjadi ketua
   Partai ABRI. Tetapi sejak dua jam yang lalu, ketua partai sudah bukan
   di tangan saya lagi, melainkan Try..." tulis Benny dalam biografi
   Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.
   
   Rupanya, Benny mengusulkan nama Try Sutrisno sebagai wapres. Try
   sendiri belum genap dua jam sebelumnya menerima tanggung jawab sebagai
   panglima ABRI. Tampaknya dia malah belum sempat menyadari sepenuhnya
   terhadap isyarat yang diberikan Benny itu. Benny sudah berupaya agar
   nama Try digelindingkan sebagai kandidat dari ABRI.
   
   Namun apa lacur? Benny tetap saja Benny. Kehendak untuk berkuasa
   tampaknya masih ada. Gagal dalam proses pencalonan di tingkat fraksi,
   dia mencoba bermain dalam proses pemilihan di tingkat Sidang Umum MPR.
   Saat pemilihan wapres berlangsung, muncul kejanggalan yang tidak
   terduga. Semula, Sudharmono sudah bulat mendapatkan dukungan
   trifraksi, tapi secara tak diduga Ketua PPP Jaelani Naro bagai jagoan
   mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Kemudian, muncullah Ibrahim
   Saleh dari FABRI yang tiba-tiba melakukan interupsi. Dia mengucapkan
   pidato yang tidak jelas. Intinya, tidak setuju calon wakil presiden
   yang sudah diproses. Naro baru mundur pada detik-detik akhir
   pemilihan, setelah dilobi oleh Awaloedin Djamin. Namun belakangan,
   menurut pengakuan bekas seorang pimpinan FPP, pencalonan Naro memang
   mendapat dukungan dari Benny. Begitu pula kasus Ibrahim Saleh adalah
   bagian dari skenario untuk memprotes pencalonan Sudharmono.
   
   Benny berkilah. "Apa pun yang diucapkan anggota FABRI yang maju ke
   depan tadi itu tidak mencerminkan pendapat resmi fraksi... jelas
   dilakukan oleh perorangan," katanya. Bantahan ini untuk menepis
   anggapan bahwa peristiwa itu merupakan skenario yang diatur Fraksi
   ABRI karena mereka sejak awal tidak setuju Sudharmono sebagai wapres.
   
   
   Konflik Politik. Benarkah itu awal konflik Benny-Sudharmono? Bukan.
   Perseteruan Benny dengan Sudharmono sudah lama terjadi. Saat
   Sudharmono memangku jabatan ketua umum Golkar (1983-1988), memang
   santer isu bahwa ABRI tidak setuju dengan program kaderisasi,
   kemandirian Golkar, dan juga tidak menyetujui Golkar akan memperoleh
   suara yang terlalu besar dalam pemilu. "Tetapi mengenai hal itu saya
   tidak pernah mendengar dari Benny, baik dalam pertemuan maupun di luar
   pertemuan," kata Sudharmono dalam otobiografinya, Pengalaman dalam
   Masa Pengabdian.
   
   Hal senada juga dikemukakan Harsudiono Hartas. Menurut dia,
   perseteruan Benny dengan Sudharmono itu berawal dari penggunaan
   tentara oleh Golkar. "Perseteruannya cuma begitu. Dulu saya pernah
   mbalelo kan? Karena apa, jangan mendikte dong, karena ini kan
   demokrasi. Tapi itu kan perseteruan sementara," katanya. Menurut
   Hartas, Benny bersikap seperti itu agar Golkar jangan menguasai ABRI.
   "ABRI itu kan milik rakyat. Mengapa ABRI berjuang untuk mendapat kursi
   di DPR. Itu hakikatnya untuk mempertahankan semangat proklamasi,"
   katanya.
   
   Pernyataan ini dibantah oleh Sarwono. Justru sebaliknya, kata Sarwono,
   saat itu ABRI berusaha mengobok-obok Golkar. Caranya? "Hampir semua
   ketua DPD I dan II itu orang-orang militer. Dewan Pembina dan militer
   tidak mau Golkar itu berkembang. Kalau berkembang bisa membahayakan
   posisi presiden," kata Sarwono Kusumaatmadja.
   
   Sudharmono sendiri mengakui, antara dia dan Benny pernah terjadi
   sedikit beda pendapat mengenai soal operasional. Itu terjadi ketika
   Golkar menyetujui diadakannya kiprah pemuda dengan menyelenggarakan
   kirab AMPI dari Surabaya ke Jakarta, menjelang masa kampanye Pemilu
   1987. Meskipun semua persiapan--termasuk perizinan--sudah diperoleh,
   dalam pelaksanaannya ada beberapa pejabat militer daerah yang tidak
   menyetujui kegiatan AMPI dengan berbagai alasan. "Namun, setelah saya
   mengadakan pembicaraan langsung dengan Pak Benny dan menjelaskan
   persoalannya, akhirnya dapat dicapai saling pengertian, dan kirab AMPI
   dapat dilaksanakan sesuai rencana," katanya.
   
   Sudharmono sebetulnya tahu jika dirinya dihadapkan secara kontradiktif
   dengan Benny. Perbedaan itu, seperti dituduhkan beberapa pihak,
   malahan menjurus ke rivalitas. "Saya sendiri tidak pernah percaya atas
   isu-isu demikian," kata Sudharmono. Alasannya, karena selama dia
   bergaul dengan Benny, dia tidak pernah melihat yang seperti itu.
   "Kalau ada orang yang mencoba memanas-manasi saya mengenai Pak Benny,
   saya selalu mengatakan hal itu sebagai usaha adu domba."
   
   Persoalannya, siapakah yang mampu mengadu mereka? Banyak yang percaya:
   Soeharto.
   
   
   Dudi Rahman dan Budiyono

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----