[INDONESIA-L] TNI Watch!---DON'T CR

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Sep 09 1999 - 09:48:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Sep 9 12:43:13 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id MAA17716
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 9 Sep 1999 12:43:12 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id MAA04456
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 9 Sep 1999 12:43:12 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA14296; Thu, 9 Sep 1999 10:41:17 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 9 Sep 1999 10:41:17 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id KAA14277; Thu, 9 Sep 1999 10:41:11 -0600 (MDT)
Date: Thu, 9 Sep 1999 10:41:11 -0600 (MDT)
Message-Id: <199909091641.KAA14277@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] TNI Watch!---DON'T CRY FOR ME VETERAN SEROJA
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

DON'T CRY FOR ME VETERAN SEROJA

        JAKARTA, (TNI Watch! 9/9/99). Ketika hasil jajak pendapat
diumumkan, dan ternyata rakyat Timtim lebih memilih merdeka, secara
serempak warga Komplek Seroja, Bekasi Utara, mengibarkan bendera setengah
tiang. Pengibaran bendera setengah tiang itu, sebagai ungkapan kesedihan
mereka, atas pilihan mayoritas rakyat Timtim.

        Sesuai dengan namanya, penghuni Komplek Seroja adalah veteran
"Operasi Seroja", atau para warakawuri (janda) prajurit yang tewas saat
"Operasi Seroja", nama sandi saat menyerbu Timtim di penghujung awal 1976
menyusul "Oprerasi Komodo". Biasanya yang ditempatkan di komplek ini,
adalah veteran yang menderita cacat tubuh, akibat operasi tempur di
Timtim, seperti hilang kaki, tangan, mata, atau anggota tubuh lainnya.
Pada umumnya mereka keberatan dengan kebijakan yang ditempuh Presiden
Habibie, yang memberi opsi kemerdekaan pada rakyat Timtim. Terlebih ketika
hasilnya ternyata seperti itu (Merdeka), hati mereka serasa
tercabik-cabik. Dan harga diri mereka pun seakan runtuh.

        Pangkal kesedihan mereka adalah, sia-sialah "perjuangan" dan
"pengorbanan" dalam merebut Timtim dulu, bila akhirnya Timtim merdeka,
lepas dari RI. Kepedihan mereka masih ditambah, ketika mendengar rencana
Pemerintah untuk membebaskan Kay Ralana Xanana Gusmao, tokoh perlawanan
rakyat Timtim, yang juga Presiden CNRT (pembebasan Xanana telah
dilaksanakan siang ini, Selasa, 7 September 1999).

        Para veteran "Operasi Seroja" secara jelas menyalahkan Pemerintah
Habibie. Sikap menyalahkan Habibie, bisa jadi merupakan tindakan "salah
alamat". Kalau para veteran itu, ingin mencari-cari, siapa pihak yang
paling bertanggung jawab atas kemelut Timtim selama ini, dan kalau mau
dipersempit lagi, siapa yang paling bertanggung jawab atas "Operasi
Seroja", yang membuat mereka cacat seumur hidup. Jawabannya bukanlah
Habibie.

        Habibie memang tetap bersalah, karena ia merupakan bagian dari
rejim Orde Baru yang otoriter. Namun dalam kasus penyelesaian masalah
Timtim, Habibie bertindak benar, dan Habibie berhak memperoleh kredit atas
opsi yang ia keluarkan. Terlepas langkahnya itu merupakan trik Habibie
untuk menggapai simpati publik.

        Lalu kepada siapa para veteran itu harus minta tanggung jawab?
Karena mereka dulu adalah prajurit yang harus selalu taat pada perintah
atasan, maka mintalah tanggung jawab pada komandan yang dulu memerintahkan
pelaksanaan "Operasi Seroja". Arsitek utama "Operasi Seroja" adalah Benny
Moerdani, sedang Komandan Pelaksana di lapangan adalah Kol Inf Dading
Kalbuadi. Operasi Benny dan Dading tersebut, jelas atas persetujuan
Soeharto, Presiden kala itu. Maka tiga nama itulah (bisa ditambah alm Ali
Moertopo), sebagai pihak yang paling layak dimintai pertanggungjawaban
oleh para veteran "Operasi Seroja" tersebut.

        Dikaitkan dengan kehidupan prajurit, pengalaman dalam operasi di
Timtim memang sebuah ironi. Di satu pihak ada sejumlah besar prajurit yang
menderita, bahkan cacat seumur hidup, dan bagi prajurit yang gugur, harus
meninggalkan istri dan anak-anak yang masih kecil untuk selama-lamanya.
Sementara di pihak lain, ada sejumlah kecil perwira yang karirnya terang
benderang setelah operasi di Timtim. Seluruh pejabat teras TNI (terutama
unsur AD), memanfaatkan operasi di Timtim untuk menunjang karirnya.
Seperti Kaster Letjen TNI SB Yudhoyono (pernah menjadi Danyon 744/Satya
Yuda Bakti, Dili), WAKSAD Letjen TNI Jhony Lumintang (Danrem 164/Wira
Darma), Asop KSAD Mayjen TNI Kiki Sjahnakri (Danrem 164/Wira Darma), dan
lain-lain.

        Pada saat melaksanakan operasi di Timtim, juga ada perbedaan
prosedur antara perwira dan prajurit, yang membuat "nasibnya" juga
berbeda. Para perwira itu jarang yang terluka, apalagi tewas, saat
operasi di Timtim. Sedang prajurit yang tewas selama 25 tahun operasi di
Timtim, menurut salah seorang pelakunya Marsdya Purn Suakadirul, berkisar
sepuluh hingga sebelas ribu orang. Para perwira itu (komandan kompi ke
atas) jika sedang operasi, selalu dikelilingi anak buahnya. "Kalau ada
perwira yang sampai tewas saat operasi di Timtim, berarti nasibnya sedang
naas," ujar Dandim Dili Letkol Inf Sujarwo, saat masih menjabat Danyon
303/Kostrad, yang berbasis di Garut (Jabar).

        Kalau kita sitir ucapan Letkol Sujarwo di atas, jika perwira tewas
di Timtim adalah karena nasib buruk, sementara kalau prajurit yang tewas,
adalah kewajaran. Begitulah nasib seorang prajurit, selalu masuk "urutan
pertama" untuk dikorbankan.

        Bila kini veteran "Operasi Seroja" menangis, karena Timtim
merdeka, tangisan mereka adalah tangisan yang absurd. Mungkin mereka lupa
konsekuensi sebagai prajurit, sebagai bawahan, yang hanya dijadikan
sasaran untuk diperintah-perintah. Beban moral menginvansi Timtim dulu,
bukan di pundak bapak-bapak veteran "Operasi Seroja", tapi ada pada
pimpinan-pimpinan bapak dulu yang sewenang-wenang, maka janganlah menangis
bapak-bapak pejuang "Operasi Seroja"___.***

_______________

TNI Wacht! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku
TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranyanya, pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia
yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya.
Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi
bersama-sama.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

----- End of forwarded message from SiaR News Service -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----