[INDONESIA-L] I RAKHMAT - Yohanes 1

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Nov 05 1999 - 06:25:00 EST


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Nov 5 10:23:52 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id KAA16723
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Fri, 5 Nov 1999 10:23:52 -0500 (EST)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id KAA11055
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 5 Nov 1999 10:23:51 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id IAA26214; Fri, 5 Nov 1999 08:23:42 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Fri, 5 Nov 1999 08:23:42 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id IAA26169; Fri, 5 Nov 1999 08:23:30 -0700 (MST)
Date: Fri, 5 Nov 1999 08:23:30 -0700 (MST)
Message-Id: <199911051523.IAA26169@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] I RAKHMAT - Yohanes 14:6 dan Sejumlah Persoalannya
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "I. Rakhmat" <i.rakhmat@thu-k.nl>
To: <apakabar@saltmine.radix.net>
Subject: Yohanes 14:6 dan Sejumlah Persoalannya
Date: Fri, 5 Nov 1999 15:54:41 +0100

                                                 YOHANES 14:6
                                  DAN SEJUMLAH PERSOALANNYA

                                               oleh Ioanes Rakhmat

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku"
(Yoh. 14:6)

I. PERSOALAN FAKTUAL
       Ucapan Yesus dalam Injil Yohanes 14:6 ini, bersama dengan perintah
yang diklaim agung untuk "menjadikan sekalian bangsa murid Yesus" (Matius
28:19), telah berabad-abad lamanya dipakai orang-orang Kristen sedunia
sebagai dasar untuk menempatkan Yesus unggul di atas semua tokoh suci
pendiri agama-agama dunia lainnya dan dengan demikian untuk juga menolak
dan meniadakan agama-agama lain sebagai wahana dan sarana keselamatan
manusia. Pada satu segi, di samping faktor-faktor lainnya, klaim
superiorisme kekristenan ini ("Kamilah nomor satu!") telah menimbulkan
semangat dan gerakan pekabaran Injil (evangelisasi dan evangelisme) sedunia
yang menggebu-gebu untuk mentobatkan orang-orang bukan-Kristen masuk
Kristen (konversionisme).
       Memang semangat ini membuat "elan vital", daya hidup, gereja-gereja
Kristen begitu besar di sepanjang zaman, dan tidak sedikit juga kebaikan
yang didatangkan mereka untuk dunia. Tetapi, pada pihak lain, semangat dan
gerakan proselitisme ("Mari pindah ke agama kami!") yang bersumber pada
kesetiaan harfiah pada teks Yohanes 14:6 ini telah menimbulkan banyak
ketidakbaikan, masalah dan bencana bagi gereja-gereja sendiri dan dunia di
luar mereka ketika terjadi pertemuan Kristen dan bukan Kristen. Bersamaan
dengan gerakan pekabaran Injil sedunia dibawa juga oleh gerakan ini
"kebudayaan asing" (kebudayaan Barat) yang dipaksakan sebagai pengganti
kebudayaan-kebudayaan asli setempat di tanah sasaran pekabaran Injil.
Sebagai contoh: Hormat pada kekudusan dan kekeramatan alam dan pohon-pohon
besar berusia ribuan tahun di tanah tempat hidup penduduk asli yang
menghayati agama-agama asli mereka telah ditenggelamkan dan dihancurkan
oleh eksploitasi dan penghancuran hutan besar-besaran atas nama "Allah
Kristen" yang anti-ilah-ilah. "Allah" ini dibawa dan diberitakan para
pekabar Injil tempo doeloe. Masih banyak contoh lain yang bisa diangkat
tentang benturan kebudayaan ini.
Tetapi yang penting dicatat saat ini adalah bahwa benturan kebudayaan ini
sering berlanjut juga menjadi benturan politik dan kekerasan yang meminta
korban nyawa manusia, ketika penduduk setempat sasaran pekabaran Injil
menunjukkan resistensi atau perlawanan mereka terhadap penjajahan
kebudayaan yang memakai jubah keagamaan Kristen ini.
        Penyifatan (atribusi) bahwa agama Kristen adalah "agama Barat"
sudah tidak bisa dihindarkan lagi di kawasan-kawasan mayoritas bukan
Kristen yang sudah lama mengalami penjajahan Barat dan pemaksaan agama
Kristen atas mereka. Dus, mudah dipahami mengapa di negara-negara yang
sebagian besar penduduknya sangat membenci "Barat" karena pengalaman pahit
penjajahan Barat (kolonialisme maupun neo-kolonialisme Barat) juga membenci
agama Kristen dan orang-orang Kristen. Kebencian terpendam dan warisan ini
hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk muncul dan meledak
sambung-menyambung sebagai kerusuhan dan bencana sosial berdarah yang tidak
bisa dilepaskan dari alasan-alasan keagamaan meskipun pemicunya semula bisa
bukan faktor keagamaan, tetapi misalnya faktor sosial ekonomi dan politik.
       Apa yang terjadi dalam hubungan antarumat beragama pada dasawarsa
terakhir di tanah air Indonesia adalah suatu contoh sangat pahit dan
memilukan kita semua atas masalah di atas. Betapa lebih sangat memilukan
lagi ketika di tengah huru hara keagamaan dan "perang Kristen-Islam" di
tanah air yang menuntut banyak korban dari dua belah pihak, masih kuat
disuarakan oleh sejumlah kalangan Kristen tertentu di Indonesia sendiri
bahwa tidak apa-apa korban-korban berjatuhan asal demi Yesus dan pekabaran
Injil. Tandas mereka, Indonesia hanya bisa dimenangkan untuk Kristus kalau
orang-orang Kristen Indonesia mau mati syahid. Di tanah Belanda, hal
semacam inilah yang juga ditegaskan oleh beberapa orang pendeta asli
Belanda yang fasih berbahasa Indonesia, ketika mereka berbincang-bincang
dengan penulis seputar keadaan Indonesia belakangan ini. Menjawab mereka,
penulis menyatakan hal berikut ini: "Kalian hanya sebagai penonton dari
jauh, jadi bisa berkata demikian! Yang kalian dan banyak kalangan lain
sebarkan bukan lagi Injil sebagai 'kabar baik', tetapi sebagai kabar laknat
dan bencana! Yang kalian kedepankan bukan lagi Yesus dari Nazareth yang
memberitakan dan mewujudkan kasih dan rakmat pemeliharaan Allah atas
seluruh ciptaan-Nya, melainkan Yesus sebagai jurukampanye ideologi kolonial
dan gerakan penjajahan keagamaan Kristen kalian!"
       Nah, yang baru dikemukakan di atas hanya sebagian persoalan
sosial-politik faktual saja sehubungan dengan kesetiaan membuta dan harfiah
pada Yohanes 14:6. Itu cukuplah. Sekarang kita masuk ke persoalan teks
Injil itu sendiri dan kaitannya dengan lingkungan keagamaan yang lebih
luas.

II. PERSOALAN DOKTRINAL

1) Yohanes 14:6 tidak sejalan dengan berita Alkitab tentang
Allah yang maharahmani dan mahahadir
 
Kalau kita perhatikan dengan teliti seluruh berita Alkitab, kita dapatkan
berita bahwa Allah pencipta langit dan bumi itu mahahadir dan
maharahmani-rahimi. Ia hadir dan berkarya dalam kerahiman-Nya bukan hanya
di kalangan umat Israel kuno dan gereja Kristen perdana, tetapi juga di
kalangan bangsa-bangsa lain dan di luar gereja. Ia bekerja bukan hanya di
dalam kesadaran nurani orang-orang Kristen, tetapi juga di dalam kesadaran
nurani orang-orang bukan Kristen. Ia bekerja bukan hanya dalam
perkara-perkara religius, tetapi juga dalam perkara-perkara duniawi!
      Jadi, kehadiran Allah yang rahmani dan rahimi yang menyelamatkan itu
tidak bisa dibatasi hanya di dalam diri Yesus dan gereja saja. Betul, kita
mengaku bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah! Tetapi kita juga harus
mengakui bahwa di dalam diri Yesus dari Nazareth, penjelmaan Allah
berlangsung dalam pembatasan dan keterbatasan, yakni dalam diri seorang
Yahudi laki-laki dari Nazareth yang hidup dalam budaya Yahudi di tanah
Israel abad pertama yang dijajah Roma pada masa pemerintahan Pontius
Pilatus!
   
2) Yohanes 14:6 menyuarakan bukan satu-satunya konsep
keagamaan tentang Allah

Sejalan dengan peningkatan pengenalan manusia terhadap agama-agama dunia,
maka sudah saatnya orang-orang Kristen mengakui bahwa konsep yang diajukan
Yohanes 14:6, bahkan oleh seluruh isi Alkitab, tentang Allah sebagai "Bapa"
adalah konsep yang lahir dari agama monoteistik yang mempercayai Allah
sebagai hakikat yang personal (atau yang "antropomorfis", yakni digambarkan
atau diberi wujud dengan mengambil analogi dari dunia manusia sebagai
makhluk berpribadi, memiliki personalitas). Ini bukanlah satu-satunya
konsep dalam dunia agama-agama. Di samping monoteisme dan personalisme atau
antropomorfisme Allah, dunia juga memiliki agama-agama non-teisme yang
menolak personalisasi atau antropomorfisasi Hakikat Tertinggi. Agama-agama
non-teistik ini menolak atau menegasi setiap usaha untuk
mengkonseptualisasikan Hakikat Tertinggi dalam ungkapan-ungkapan insani
personal. Agama-agama ini, dus, dikenal sebagai agama-agama "apofatik",
yakni agama-agama yang hanya merumuskan Hakikat Tertinggi itu dalam
ungkapan-ungkapan negatif "bukan ini, bukan itu, ...." Jadi, kalau Yesus
dalam Yoh. 14:6 menyatakan satu-satunya jalan kepada "Bapa" adalah
diri-Nya, maka konsep tentang Allah sebagai tujuan hidup manusia yang
diajukan ini adalah konsep dari salah satu agama saja; dan konsep ini tidak
bermakna banyak bagi umat penganut agama-agama non-teistik yang menolak
menyebut Hakikat Tertinggi sebagai "Bapa" yang personal. Begitu juga,
konsep tentang "keselamatan" dalam tradisi Yahudi-Kristen kontras dengan
konsep tentang hal yang sama dalam tradisi agama-agama apofatik. Jadi,
meskipun
gereja Kristen bisa menggebu-gebu menyanjung Yoh. 14:6, namun amanat yang
disampaikan di dalamnya bisa tidak berarti apa-apa bagi kalangan yang di
luar mereka.

3) Yohanes 14:6 berbenturan dengan banyak Yesus
yang diakui bermacam aliran gereja

Kalau Yoh. 14:6 mengklaim "satu-satunya Jalan" adalah "Yesus", maka timbul
persoalan serius: Yesus yang mana? Banyaknya aliran gereja Kristen, dari
yang ekstrim kiri sampai yang ekstrim kanan, dari yang fanatik konservatif
sampai yang "open minded" dan liberal, dari yang sibuknya hanya mengurusi
dan membentengi doktrin sampai yang hanya harus menggumuli kenyataan pahit
hidup miskin yang dialami banyak rakyat negeri, menunjukkan banyak dan
bermacam-macamnya pemahaman dan pengenalan terhadap Yesus, sejalan dengan
bermacam-macamnya kebudayaan dan situasi sosial ekonomi dan politik di
dalam mana mereka masing-masing hidup, bertahan dan tumbuh. Yesus dalam
pandangan gereja Pentakosta kharismatik gemar mengusir setan-setan; Yesus
eksorsis kharismatik ini berbeda dari Yesus dalam pengakuan iman gereja
Kristen puritan Calvinis, misalnya, yang hanya sibuk mengurusi dan menjaga
doktrin yang ortodoks. Yesus bagi kalangan "Kristen Zaman Baru" tampil
sebagai Yesus mistik yang suka tafakur merenungi hakikat dan tujuan
keberadaan manusia; Yesus mistik ini berlainan wajah dengan Yesus sebagai
sang Profesor dogmatik dari kalangan Kristen Lutheran ortodoks, misalnya.
Lalu, Yesus dalam penghayatan orang-orang Kristen kaya raya anggota aliran
"Successful Bethany Family" atau aliran "Full Gospel Bussinessmen
Fellowship" berbeda tajam dari Yesus yang dihayati kalangan marjinal dan
terbuang dalam masyarakat kapitalis. Bagi kalangan yang sukses dalam
penumpukan harta kekayaan dari dunia ekonomi kapitalis, Yesus adalah sang
Penyelamat dan Broker pemberi berkat dalam bisnis, sedangkan bagi yang
miskin dan hina dina Yesus adalah Saudara yang setia ikut menderita,
menanggung sakit penyakit dan disingkirkan kalangan kaya raya. Lagi, Yesus
yang dipahami dan dicintai kalangan praktisi dialog antaragama akan sangat
berbeda dari Yesus yang dihayati dengan menggebu-gebu oleh kalangan
fundamentalis Kristen yang anti-dialog dan anti-pluralisme.
        Ketika bermacam aliran gereja ini bersaing menomorsatukan diri dan
memperebutkan anggota sampai berkelahi satu sama lain, maka mau tidak mau
Yesus yang banyak itu juga ikut bersaing dan saling berkelahi. Maka,
akibatnya, dunia di luar gereja pada satu segi bingung mau mendukung Yesus
yang mana, dan pada segi lainnya senang juga bisa menyaksikan "pertandingan
sepak bola" atau "adu tinju" di mana Yesus yang satu ikut bermain dengan
suasana panas dan temperamental melawan Yesus yang lainnya lagi.
       Yesus manakah yang sepatutnya diikuti dengan setia? Kalau kita
percaya bahwa adalah tanggungjawab kita bersama sebagai umat manusia untuk
menjadikan bumi yang satu ini sebagai tempat kehidupan yang adil dan
menopang bagi semua orang tanpa pandang bulu, maka jelas yang harus diikuti
dengan setia adalah Yesus yang berwajah humanis, yang menjunjung kasih
persaudaraan antar semua insan di dunia ini dan mendatangkan kasih dan
kerahmanian Allah untuk seluruh ciptaan.
          
4) Mengapa hanya di dalam Injil Yohanes ?

Kalau kita teliti membaca Injil-injil, maka kita pasti bertanya dalam hati,
Mengapa hanya di dalam Injil Yohanes Yesus tampil berbicara seperti dalam
Yohanes 14:6, sedangkan di dalam Injil-injil lainnya (Markus, Matius dan
Lukas) tidak ditemukan klaim bahwa Yesus itu satu-satunya jalan? Ini
pertanyaan yang sangat baik. Perlu juga diingatkan bahwa Kisah Para Rasul
4:12 juga berisikan berita sejalan, namun tidak diucapkan oleh Yesus. Nah,
yang perlu kita perhatikan sekarang adalah Yohanes 14:6, dan adalah tugas
kita untuk memahaminya dengan benar dan bertanggungjawab.
      Pertama, kita perlu terus ingat bahwa Perjanjian Baru (PB)
memberitakan banyak kristologi (= pemahaman atau doktrin tentang Yesus)
sejalan dengan berbeda-bedanya konteks sosial masing-masing penulisnya dan
gereja-gereja mereka masing-masing. Doktrin masing-masing penulis Injil
disampaikan oleh Yesus sebagaimana ditampilkan dalam Injil-injil itu. Jadi,
bisa terjadi bahwa dalam teks Yesus tampil berbicara, namun yang sebenarnya
berbicara adalah si penulis teks atau si pengarang kitab Injil yang sedang
menyampaikan ajarannya.
      Sekali lagi, ada beragam doktrin tentang Yesus. Tidak boleh yang
satu dimutlakkan dengan mengabaikan yang lainnya. Kenyataan keragaman
kristologi dalam PB ini membantu gereja-gereja masa kini untuk merumuskan
sendiri kristologi mereka masing-masing yang bisa menjawab panggilan zaman
dan membantu membangun beragam komunitas kemanusiaan sedunia yang saling
menopang dan memberi hidup.
      Kedua, kembali kepada pertanyaan di atas, Mengapa Injil Yohanes
menampilkan Yesus yang demikian, yang mengklaim diri sebagai satu-satunya
jalan? Jawabnya kita dapatkan kalau kita mengetahui apa yang telah terjadi
pada penulis Injil ini dan komunitasnya (sebut saja komunitas Yohanes).
Ilmu tafsir yang dibantu oleh ilmu-ilmu sosial (sosiologi dan antropologi
kultural) telah berhasil menyingkapkan tahap-tahap sejarah yang dialami
komunitas ini, sampai akhirnya klaim seperti Yohanes 14:6 dimunculkan
mereka. Berikut ini gambaran yang sangat disederhanakan.
      * Tahap pertama
Komunitas Yahudi-Kristen Yohanes masih hidup bersama dan beribadah bersama
di sinagoge-sinagoge dengan orang-orang Yahudi bukan Kristen. Ini
berlangsung tahun 40-an abad pertama. Mereka tentu memberitakan Yesus
kepada orang-orang Yahudi. Berita mereka adalah bahwa Yesus itu sang
Messias (Kristus), dan sebagai buktinya mereka memberitakan mujizat-mujizat
yang Yesus perbuat. Tujuannya: supaya dengan melihat dan mendengar
mujizat-mujizat itu mereka mau masuk Kristen. Berita ini menimbulkan pro
dan kontra di kalangan Yahudi.
      * Tahap kedua
Untuk lebih meningkatkan dampak berita mereka, dan menarik semakin banyak
pengikut baru, maka kemudian mereka memberitakan lebih jauh: bahwa agama
yang dibawa Yesus telah menggantikan agama Yahudi dan semua ritualnya, dan
bahwa Yesus itu lebih tinggi statusnya dibandingkan dengan tokoh-tokoh suci
agama Yahudi, seperti Musa dan Abraham. Berita ini memukul perasaan
orang-orang Yahudi yang tetap mempertahankan kesetiaan pada agama Yahudi
dan bapak leluhur mereka. Maka dimulailah usaha-usaha pihak Yahudi untuk
memangkas gerakan proselitis komunitas Yohanes. Salah satu jalannya adalah
dengan memberlakukan suatu kontrol dan pengawasan doktrinal dalam
ibadah-ibadah di sinagoge Yahudi terhadap anggota-anggota sinagoge sendiri
untuk mencegah perpindahan agama. Kontrol ini dijalan berdasarkan suatu
fatwa resmi yang memerintahkan pengucilan dan pendepakan orang Yahudi dari
sinagoge apabila kedapatan mereka telah terpengaruh ajaran komunitas
Yohanes. Bersamaan dengan itu, para pengikut komunitas Yohanes juga didera
dan tidak sedikit yang dibunuh. Timbullah perlawanan dan kebencian di
kalangan mereka terhadap sinagoge dan orang Yahudi. Suasana perlawanan dan
kebencian ini sangat kuat mengisi Injil Yohanes. Bersamaan dengan ini,
dirumuskan ajaran untuk menjelaskan keadaan penolakan ini sekaligus untuk
menguatkan orang-orang Kristen-Yahudi anggota komunitas Yohanes.
       * Tahap Ketiga (tahun 80-90-an)
Tahap ini tahap penolakan, penderitaan, dan aniaya yang dialami kelompok
minoritas Yohanes. Dari kondisi semacam ini lahirlah ajaran bahwa Yesus
itu bukan dari dunia ini, tetapi sebenarnya Allah yang datang ke dalam
dunia, karena itu Ia ditolak oleh orang-orang milik dunia ini dan akhirnya
dibunuh. Karena Yesus bukan dari dunia ini, melainkan "dari atas", dari
sorga, sedangkan orang-orang yang menolak-Nya berasal dari dunia ini, maka
tidak bisa tidak terciptalah jurang pemisah antara pihak Yesus dan
pengikut-Nya dan pihak dunia yang menolak-Nya dan mendera para
pengikut-Nya. Juga HANYA melalui Yesus saja orang baru bisa sampai ke
kawasan keselamatan, "sorga", darimana Ia telah datang (antara lain berita
Yohanes 14:6). Dalam ilmu tafsir, kristologi semacam ini disebut kristologi
"dari atas". Kristologi ini jelas dirumuskan sebagai respon religius
politis terhadap keadaan sosial pengucilan dan penolakan yang sedang
dialami komunitasYohanes. Dengan doktrin ini, mereka mau menjelaskan dan
membenarkan keadaan diri mereka: sudah sepatutnya Yesus dan diri mereka
ditolak sebab memang Ia dan mereka bukan dari dunia ini. Pada tahap ini
Yesus digambarkan hanya kelihatannya saja sebagai manusia, bukan
sungguh-sungguh manusia (ajaran "doketisme", dari kata Yunani "dokein",
artinya "kelihatannya"), tetapi sebenarnya Ia Allah yang asing dari dunia
ini. Tetapi tidak semua anggota komunitas Yohanes menyetujui ajaran
doketisme ini, dan juga sebagian dari mereka berkeberatan terhadap nada
kebencian, kemarahan, dendam, dan ketertutupan komunitas ini.
       * Tahap Keempat (akhir abad 1 - awal abad 2)
 Sebagai respon terhadap doketisme, ketertutupan dan nada kebencian itu,
maka ditekankanlah ajaran bahwa Yesus itu "sungguh-sungguh manusia" (antara
lain Yoh. 1:14, "Firman itu menjadi daging"; dan surat-surat 1,2 Yohanes),
dan berita-berita tentang cinta kasih universal Allah diintrodusir ke dalam
bagian-bagian Injil.

III. KESIMPULAN
Jika Yohanes 14:6 dipahami dengan mencopotnya dari konteks pergumulan
sejarah sosial penulis dan gerejanya pada abad 1, maka ucapan Yesus di situ
akan membentuk aliran kekristenan sepanjang zaman yang terus mengklaim diri
paling benar dan paling unggul, dengan segala akibat sosial politisnya yang
bisa memakan banyak korban. Ini telah terbukti dalam sejarah gereja. Tetapi
jika dipahami dalam konteks sejarah pergumulan komunitas Yohanes
sebagaimana dibeberkan ringkas di atas, kita bisa mengerti mengapa sampai
nas itu muncul dan ditulis. Nas itu ditulis untuk melawan kalangan yang
menyengsarakan komunitas Yohanes, sekaligus untuk menguatkan
anggota-anggotanya. Pada masa kini, ketika kekristenan telah menjadi salah
satu agama besar dunia, jika nas itu diterapkan harfiah dengan semua akibat
sosial politisnya atas umat-umat bukan Kristen, maka kekristenan telah
mengulangi langkah serupa yang diambil sinagoge Yahudi ketika mereka
mendepak dan menggencet komunitas minoritasYohanes. Padahal, pada
hakikatnya gereja Kristen di mana pun ia berada dipanggil bukan untuk
mendepak dan menggencet kalangan lain, tetapi untuk membangun kehidupan
bersama yang saling menopang demi kebaikan semua orang. Bagi kekristenan
yang berstatus sebagai kelompok minoritas di bagian-bagian dunia ini, apa
yang telah berlangsung dalam sejarah komunitas Yohanes dan
tanggapan-tanggapan yang mereka berikan, seharusnya memberi pelajaran
penting mengenai bagaimana seharusnya menempatkan diri sebagai gereja di
lingkungan pergaulan sosial yang lebih luas. Hidup beragama tentu saja
selalu disertai penghayatan akan keyakinan terdalam kepercayaan
masing-masing. Di sini kata kuncinya adalah "masing-masing" -- artinya
gereja Kristen juga mesti menghargai kalangan bukan Kristen yang juga
memiliki keyakinan terdalam mereka yang perlu mereka hayati dengan
sungguh-sungguh juga. Hidup bergereja jadinya bukan hanya untuk
memberitakan Injil secara sepihak dalam pergaulan internasional dan
antargolongan, tetapi juga untuk menghargai hak-hak asasi manusia yang
berlainan agama untuk memeluk agama mereka masing-masing tanpa
pendiskreditan dari pihak gereja Kristen.
 

Kampen, 2 November 1999
 
Ioanes Rakhmat
e-mail: <i.rakhmat@thu-k.nl>
New Testament Department
Theologische Universiteit te Kampen (ThUK)
Koornmarkt 1, 8260 GA Kampen
Nederland

----- End of forwarded message from I. Rakhmat -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----