[INDONESIA-L] JADE - Re: Kawin 'Cam

From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Jan 03 2000 - 07:23:00 EST


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jan 3 11:22:24 2000
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id LAA26719
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Mon, 3 Jan 2000 11:22:23 -0500 (EST)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id LAA03111
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Mon, 3 Jan 2000 11:22:23 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id JAA27096; Mon, 3 Jan 2000 09:18:08 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Mon, 3 Jan 2000 09:18:08 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id JAA27082; Mon, 3 Jan 2000 09:18:03 -0700 (MST)
Date: Mon, 3 Jan 2000 09:18:03 -0700 (MST)
Message-Id: <200001031618.JAA27082@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] JADE - Re: Kawin 'Campur'
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: jadewater@cyberdude.com
Date: Sun, 2 Jan 2000 09:48:50 -0500 (EST)
To: tionghoa-net@egroups.com
Cc: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Re: Kawin "Campur"

 ----Indra B. Utoyo" <ibu007@cbn.net.id, you wrote:
I.B.U:

> Melihat tulisan ini saya sih setuju pada bagian akhir. Seharusnya yang
kita ajukan kedepan adalah konsep bangsa Indonesia yang sudah terpikirkan
pada waktu BPUPKI dibentuk sebelum Indonesia merdeka. Pikiran yang muncul
pada waktu itu menurut saya sudah pas untuk ukuran Bangsa yang mau
dibangun. Jadi kita tidak melihat agama, suku (termasuk etnis) dan
warna-warna lain (kulit misalnya). Yang dimunculkan kedepan adalah
perasaan satunya bangsa yang akan dibangun. Memang kesemua ini memerlukan
pengorbanan, m isalnya seorang muslim (seperti saya) biarpun mayoritas
harus mengorbankan kemayoritasannya untuk membentuk bangsa. Seorang Jawa
sejak dulu telah mengorbankan kemayoritasannya dengan mengakui induk
bahasa Indonesia adalah Melayu bukan Jawa. Semua ini tela h dilakukan oleh
Founding Fathers kita dimulai dengan 1928 hingga pada Sidang BPUPKI itu.

> > Yang selalu menjadi pertanyaan saya (kebetulan saya aktif sebagai
pengurus FKKB, yang dipimpin oleh Ibu Rosita Noer, merupakan usaha lebih
jauh lagi dari Bakom PKB), mengapa pada saat-saat ini dimana penduduk
Indonesia sudah sedemikian maju pendidikanny a malah mundur dalam berpikir
kebangsaan. Kita telah sering sekali mendengar cerita mengenai negara
Amerika Serikat yang multi etnis. Kita juga telah sering membaca ataupun
mendiskusikan mengenai kelemahan yang terjadi sehingga timbul politik
etnis kembal i. Kita juga telah menyalahkan pemerintah, menyalahkan kaum
minoritas (d.h.i Cina) yang tidak tahu diri akan posisinya khususnya di
bidang ekonomi yang mendapatkan porsi lebih dan lain sebagainya.

J: Inilah pemikiran (banyak) kaum "pribumi" Indonesia yang sudah demikian
dikondisikan secara langsung maupun tidak langsung oleh Eyang Soeharto and
antek2nya.

Terus terang setiap kali mendengar, membaca kata2 “bodoh/ignorant” ini
kuping saya selalu merah dan emosi saya agak naik… (karena saya demi Tuhan
tidak pernah “mengenyam kenikmatan yang di-dengung2kan oleh sebagian surat
kabar Indonesia itu (eg. Republika , Sabili dll), dan dipercaya dari dulu,
oleh cukup banyak orang2 “pribumi”), yakni: “Cina yang tidak tahu diri
akan posisinya khususnya di bidang ekonomi yang mendapatkan porsi lebih
dan lain sebagainya .”

Lebih dari 5 juta (yang merupakan mayoritas orang Cina di Indonesia) TIDAK
PERNAH, saya katakan lagi TIDAK PERNAH mendapatkan apa yang disebut “PORSI
LEBIH” atau segala macam omong kosong seperti itu. Mereka adalah pegawai
swasta, atau bekerja sebagai ku li/mandor awalnya. Lalu menabung, meminjam
uang dari saudara2nya dan membangun atau menyewa toko untuk berdagang.

Anda katakan posisi di bidang ekonomi? Berapa sih penghasilan toko2
kelontong itu? Berapa sih penghasilan si Engko Acai yang kerja sebagai
pegawai toko Babah Liem? Penghasilan si Acun yang kerja di administrasi CV
Maju? Jauh , jauh di bawah penghasilan se orang Camat, bahkan Lurah. Saya
masih ingat sewaktu kecil ayah saya menabung dari bekerja sebagai
mandor/buruh dan membangun toko berdagang kelontong, kami hanya punya
motor butut untuk membeli barang2 di toko grosir. Sedangkan si Camat,
Lurah, Sekwilda d ll itu tinggal di daerah elit dan memiliki (beberapa)
mobil.

Malahan yang orang2 Cina Indonesia dapatkan adalah diskriminasi dalam
pekerjaan (tidak bisa / dibatasi masuk ABRI, jadi dosen/guru, pegawai
negeri dll). Jangan salahkan kalau orang2 Cina sangat “tough” dalam
hidupnya, pantang menyerah dan banyak yang suks es berdagang dengan darah
dan keringat sendiri, karena ‘THEY HAVE NO CHOICE’, mereka tidak punya
pilihan lain, mereka harus belajar serajin-rajinnya, bekerja sekuat2nya
dan berdagang se-cerdik2nya (kalau tidak akan “mati kelaparan”).

Rahasia sukses orang2 Cina di Indonesia adalah karena “TERTEKAN” oleh
lingkungan dan pemerintahnya. Sehingga mereka selalu menomorsatukan
pendidikan anak2nya, atau mengkondisikan anak2nya untuk berdagang. Mereka
rela tidak “menikmati materi yang sudah dic ari mati2an, misalnya jalan2
ke luar negeri, beli mobil dll)”, agar uang itu dapat digunakan untuk
membiayai anak2nya kuliah di Perguruan Tinggi Swasta yang SPP nya mencekik
leher itu, karena tidak bisa masuk ke PTN (sistem kuota yang diskriminatif
terhad ap orang2 Cina).

I.B.U: Yang muncul sekarang adalah pengorbanan yang sudah diberikan oleh
kaum mayoritas itu mau diminta kembali. Kaum muslim sebagian meminta hak
lebihnya, kaum pribumi juga seperti itu. Dan ini adalah akibat dari adanya
perasaan ketidak adilan yang muncul akib at cara kita menjalankan konsep
berbangsa, bermasyarakat dan bernegara selama ini.

J: Saya pikir, yang harus dihilangkan adalah sifat “iri, dengki dan hanya
mau menang cara cepat”. Masih ingat kan cerita semut dan belalang? Pada
waktu musim panas, si belalang selalu bernyanyi-nyanyi dan berpesta pora,
namun si semut2 bekerja keras mengumpu lkan makanan. Ketika tiba musim
dingin, si belalang kelaparan, sedangkan si semut memiliki banyak cadangan
makanan. Si belalang lalu datang ke semut dan mengatakan bahwa ‘TIDAK
ADIL” kenapa semut2 yang begitu kecil memiliki cadangan makanan yang
begitu ba nyak, sedangkan si belalang kedinginan dan hampir mati kelaparan
karena tidak punya cadangan makanan?

Kalau yang anda maksud adalah segelintir pengusaha yang berkolusi (dan
diuntungkan) dengan keluarga Cendana seperti Eddy Tanzil, Prayogo, sebut
mereka sebagai pengusaha kolusi, jangan langsung disebut “Cina-nya”,
karena masih banyak juga pengusaha kolusi yang bukan Cina seperti Aburizal
Bakri, Sinivasan, Tommy, Tutut, Bambang Tri, dll.

Sekali lagi mayoritas orang Cina di Indonesia adalah termarginalisasi
(sama halnya seperti mayoritas Islam/pribumi seperti NU, Muhammadiyah,
dll) pada masa rejim Cendana.

Jangan salahkan si semut kalau dia memiliki kelebihan makanan, karena dia
telah mati2an mengumpulkannya. Saya perhatikan di daerah kelahiran saya di
Sumatera. Ada banyak transmigran asal Jawa yang cukup sukses setelah
berdagang, setelah 3-4 bulan mereka a kan pakai semua tabungannya untuk
membeli “barang2 konsumtif” dan “pulang Jawa”. Setelah itu mereka kembali
lagi dengan “tangan kosong” dan berdagang dengan skala semula (tidak ada
“ekspansi usaha” dll). Beberapa mempergunakan tabungannya bukan untuk eksp
ansi usaha, namun mengambil istri kedua dst.

Jadi jangan salahkan jika si Cina lagi2 usahanya berkembang. Karena orang
Cina tidak punya “kampung halaman” untuk pulang (kecuali orang Cina Bangka
yang pulang ke pulau Bangka , orang Cina Pontianak yang pulang ke
Pontianak/Singkawang, dll).

Saya sendiri pun setelah ditolak lamaran beasiswa Supersemar karena etnik
Cina, padahal benar2 tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah, lalu
berdagang di kaki lima dengan modal tabungan beberapa puluh ribu rupiah.
Kemudian saya melamar beasiswa ke negar a2 “barat” dan diterima (karena
mereka tidak pernah memandang etnis dalam memberikan beasiswa).

Lalu orang berpikiran lagi “wah si Cina2 itu emang kaya, bisa kuliahin
anaknya di luar negeri!”. Keliru, bung, itu karena di dalam negeri mereka
disisihkan/ ditolak sehingga mereka harus berjuang ke luar negeri!
Contohnya saja Arief Budiman yang disisihka n di dalam negeri namun sukses
di luar negeri!

I.B.U: Memang betul misalnya usaha-usaha masuk agama Islam atau kawin
dengan pribumi dapat membantu mempercepat istilah "pembauran" (yang saya
tidak setuju dengan istilah ini). > Namun yang terpenting sebetulnya
perasaan kebangsaan tadi. Sehingga tidak lagi ada keengganan utk menikah
dengan suku lain kalau kita telah mengakui sebagai satu bangsa. Salah satu
yang menjadi perhatian saya adalah sedikitnya kaum wanita Tionghoa yang
mau kawin dengan pribumi.

Persoalan ini juga membuat batas antara etnis menjadi lebih tebal,
begitupun misalnya bagi kaum Tionghoa lebih memilih Kristen atau Katholik
sebagai agamanya bukan Islam (padahal Islam dikenal sangat universal).

J: Saya sering tanya kepada wanita2 Tionghoa kenapa mereka tidak mau
menikah dengan pria “pribumi” Islam, karena mereka (salah satu alasannya)
TAKUT DIMADU! Saya tidak mengada-ada, teman yang lain bercerita dia
menikah dengan si “pribumi” itu lalu saudara2nya “si pribumi” datang dan
“meminta uang, pekerjaan, jatah dll”. Sehingga pusinglah dia. Itulah
kenyataan sehari-hari yang dihadapi, bukan slogan2 “pembaur an” yang omong
kosong.

Mungkin ada beberapa gadis Tionghoa di milis ini yang mau menambahkan
(atau merasa bukan ini alasannya)?

Kalau saya pribadi sih yang masih bujangan tidak mementingkan suku, agama
dll. Namun misalnya saya suka/ prefer dengan gadis yang berkulit kuning
langsat, sehingga “target market” saya terarah ke gadis2 Cina, Menado,
Sunda, Palembang, Lampung, Solo dsb. J angan salahkan misalnya saya tidak
mau menikah dengan gadis Jawa Islam, karena mungkin fisiknya,
pendidikannya, sifatnya tidak sesuai, bukan karena Jawa-nya atau
Islam-nya.

Seperti anda mungkin tidak mau jika menikahi seorang gadis (maaf) Afrika
atau Aborigin, itu hanyalah masalah preferensi bukan diskriminasi.

I.B.U:
 Tetapi mengapa seperti ini?. Apakah ini warisan kolonial dulu atau karena
hal lain. Faktor-faktor ini juga menjadikan lebih tebalnya batas di
antara etnis tadi. Keturunan Arab misalnya juga melakukan hal yang sama
(dimana lebih banyak kaum pria Arabnya yang menikah dengan wanita
pribumi), namun satu hal yang sangat membantu mereka adalah mereka
beragama Islam. >

J: Memang benar jika orang2 ‘minoritas’ masuk agama yang dianut mayoritas
di negeri itu akan mempermudah proses asimilasi (contohnya Thailand,
Philippines). Namun sekali lagi mereka melalui “proses yang alamiah” dalam
artian hampir tidak ada paksaan dari lin gkungan/negaranya, karena ajaran
agama2 non-Islam (i.e, Kristen/katholik dan Buddha) tidaklah (maaf)
se-“kaku” Islam seperti misalnya : tidak boleh makan daging haram (babi
dll), poligami, sembahyang lima waktu, dll yang dirasakan oleh mereka
“kurang prak tis”, dan tidak sesuai dengan budaya mereka. Saya mengerti
bahwa agama itu adalah masalah iman yang tidak bisa dihubungkan dengan
“keduniawian”, namun inilah pragmatisnya pemikiran orang2 itu.

I.B.U: > Saya bersama teman-teman di FKKB sering sekali mendiskusikan hal
ini, dan kesimpulannya memang yang harus kita bangun adalah perasaan
kebangsaan tadi. > Demikian saja sekelumit pikiran pendek, mungkin kita
bisa diskusi lagi. >

J: Perasaan kebangsaan itu bisa dibangkitkan walaupun tanpa asimilasi
total! Sudah banyak negara2 di dunia ini yang cukup berhasil
mempraktekkannya. Contohnya Singapura tidak pernah memaksakan orang2
“minoritas” Melayu (yg umumnya Islam) untuk berpindah agam a ke
Kristen/Kong Hu Cu / Buddha, malahan mereka dibantu dengan beasiswa (e.g.
yayasan Mendaki), mesjid2 dilestarikan dll. Namun orang2 Melayu di
Singapura bisa merasakan keadilan itu, karena mereka bisa (dan sudah)
menjadi Kolonel, Mentri, Dosen, dsb, se panjang memiliki kemampuan.

Orang Melayu Singapura (yang minoritas di sana) jika ditanya berasal dari
mana, dengan bangga mereka akan jawab “I am Singaporean”, bukan
Singaporean Malay atau sejenisnya, demikian pula orang2 India dan Cina di
sana dengan bangga menyebut dirinya “orang Singapura / Singaporean”.

Demikian pula di Amerika, orang2 Asia (Cina, Jepang, dll) tidak pernah
dipaksakan untuk menikahi orang2 Kaukasian (bule), namun mereka diterima
sebagai orang Amerika ("Hey, I am American, man!", katanya). Kebudayaan
asal mereka juga dilestarikan (e.g. Chi na Town, dll)

Hal ini tidaklah aneh dan bisa terjadi selama pola hukum dan kehidupan
bernegara/bermasyarakat adalah meritokrasi, adil dan bijaksana (ditopang
oleh hukum yang kuat/tegas).

Jadi kesimpulannya asimilasi total yang dipaksakan pemerintah tidak akan
berhasil, hanyalah “integrasi” / hidup bersama dengan harmony dan
menjunjung kebangsaan yang akan berhasil (“Ubi Bene Ibi Patria” as Romans
say).

Walaupun dengan kuatnya pengaruh globalisasi dan hapusnya perang dingin,
semakin terbuka kesempatan kepada semua orang di dunia untuk ber-migrasi
ke negara yang bisa mengakomodasi aspirasinya, sehingga paham nasionalisme
akan semakin memudar (lihat saja n egara2 Eropa yang mulai bergabung
menjadi Uni Eropa.

Salam dari si Cina ‘tidak kaya’ (harta benda), yang tidak pernah mengenyam
“kenikmatan madu/racun ORBA” , dkk….

Joe

> ----- Original Message -----
> From: wong chin na
> To: tionghoa-net@egroups.com
> Sent: Saturday, January 01, 2000 1:39 PM
> Subject: [tionghoa-net] Pemikiran Politik Minoritas Tionghoa 8/8
>
>
>
>
> Umumnya negara (state) di Asia Tenggara bisa dibagi atas dua jenis : Negara
> Pribumi (Indigenous State) dan Negara Immigran (Immigrant State). Indonesia
> sebagai Negara Pribumi lain daripada Negara Immigran. Konsep bangsa dalam
> kedua negara inipun berbeda Yang pertama lebih berdasarkan ethno-nation
> (bangsa berdasarkan ras atau etnik), sedangkan yang kedua pada social-nation
> (bangsa yang berdasarkan multi-ras atau multi-etnik). Sebenarnya konsep
> bangsa Indonesia juga bukan berdasarkan "ethno-nation", karena Indonesia
> terdiri dari pelbagai suku-bangsa. Namun dalam masalah Tionghoa, konsep
> bangsa itu lebih dekat dengan "ethno-nation" karena yang dititik beratkan
> adalah kepribumiannya.
>
> Dalam arti ini, konsep bangsa Indonesia lebih berdasarkan pada "ras" atau
> etnik. Orang Tionghoa harus terlebur kedalam tubuh pribumi Indonesia, yaitu
> menjadi pribumi, (atau salah satu suku pribumi) barulah orang itu menjadi
> "bangsa" Indonesia yang lengkap. Seseorang yang masih memiliki unsur-unsur
> "asing" (baca: Tionghoa), biarpun unsur-unsur itu sangat sedikit, masih
> dianggap sebagai orang asing. Jadi, orang Tionghoa yang peranakan dan sudah
> menjadi warganegara Indonesia (WNI) masih belum menjadi bangsa Indonesia
> yang lengkap. Konsep warganegara dibedakan dengan konsep bangsa, demikian
> pula
> hak-hak mereka. Slogan Bhinneka Tunggal Eka hanya berlaku untuk Indonesia
> pribumi, tetapi tidak pada orang Tionghoa.
>
> Sebetulnya konsep Bangsa Indonesia lahir sebelum Perang Dunia Kedua. Sejak
> bangkitnya pergerakan nasional Indonesia, konsep bangsa Indonesia
> didominasikan oleh konsep yang berbau ras. Konsep Bangsa Indonesia yang
> berdasarkan konsep budaya-politik yang mulai timbul sebelum Perang Dunia
> Kedua, yang dicetuskan oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr Raden Sutomo dan Mr
> Amir Sjarifuddin, merupakan pendapat minoritas dikalangan pribumi.
>
> Sesudah Indonesia Merdeka, konsep Bangsa yang lebih moderen ini pun dianut
> oleh segelintir tokoh politik Indonesia. Drs Mohammad Hatta, misalnya,
> memberi batasan bangsa Indonesia dalam arti politik: seorang demokrat sejati
> yang berwarganegara Indonesia tanpa melihat keturunannya. Namun rupanya
> konsep Hatta ini tidak banyak penganutnya. Soekarno juga pernah
> mengembangkan konsep bangsa Indonesia yang moderen. Pada tahun 1963 ketika
> ia memberikan pidato dalam kongres Baperki, ia menekankan bahwa Bangsa
> lndonesia terdiri dari pelbagai suku, yaitu suku Jawa, suku Batak, suku
> Minang...dan suku peranakan Tionghoa!
>
> Biarpun kemudian Baperki mengambil oper konsep suku peranakan Tionghoa,
> sebetulnya gagasan ini ide Sukarno. Sepanjang penelitian saya, Baperki
> tadinya hanya bicara tentang suku Tionghoa, atau dalam terjemahan bahasa
> Cinanya "Huazu". Huazu itu adalah etnik Tionghoa, tidak ada konotasi
> kebudayaan tetapi keturunan. Tetapi peranakan Tionghoa mempunyai indikasi
> kebudayaan lokal dan Tionghoa yang terbanyak di pulau Jawa termasuk golongan
> peranakan. Jikalau konsep ini bisa diterima, maka orang Tionghoa sudah
> menjadi sebagian dari Bangsa Indonesia. Sebetulnya lima tokoh peranakan
> Tionghoa telah ikut
> serta dalam penyiapan kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Soekarno dan Hatta
> 53 tahun yang lalu!
>
> Selesai.

----------------------------------------------------------------
Get your free email from AltaVista at http://altavista.iname.com

----- End of forwarded message from jadewater@cyberdude.com -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----