[INDONESIA-DOCS] BUKU - Gerakan Rakyat Kelaparan

From: indonesia-docs@indopubs.com
Date: Tue Mar 14 2000 - 18:24:40 EST


X-URL: http://portal.detik.com/buku/buku_baru/200002/20000207-022100.html

   Radikalisasi Petani
   Gerayak, Radikalisme Petani yang Koyak
   [INLINE] Judul : Gerakan Rakyat kelaparan: Gagalnya Politik
   Radikalisasi Petani
   Pengarang : Fadjar Pratikto
   Pengantar : Dr. Soegijanto Padmo
   Penerbit : Penerbit Media Pressindo
   Tempat : Yogyakarta
   Waktu Terbit : Januari 2000
   Tebal : 224 halaman
   
   Satu lagi buku tentang gerakan Partai Komunis Indonesia diterbitakan.
   Kali ini tentang Gerayak di daerah Gunung Kidul Yogyakarta.
   Sepanjang sejarah Indonesia, terutama pasca peristiwa Gerakan 30
   September 1965, nama Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu berlabel
   miring. Pokoknya haram, bahkan membicarakannya pun dicurigai lalu bisa
   dituduh antek. Karena itu, selama rezim Orde Baru berkuasa nyaris tak
   ada orang yang berani kasak kusuk sekalipun mengenai PKI.
   Kini, ketika zaman berubah, semua ideologi tampaknya dihargai,
   termasuk barangkali komunis; yang penting berujung pada dukungan
   terhadap demokrasi. Dan, Gerayak --kependekan dari Gerakan Rakyat
   Kelaparan-- sebagai kenyataan sejarah, menjadi pula relevan
   dibincangkan. Sebab, gerakan ini kemudian melakukan 'gerakan politik'
   yang di'organisir' PKI, terutama melalui organisasi onderbouw-nya,
   Barisan Tani Indonesia (BTI), memenuhi tuntutan perut mereka yang
   kering kerontang.
   Di sebuah kabupaten bernama Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta,
   Gerayak ini pernah berlangsung. Salah satu yang terabadikan dalam
   Kedaulatan Rakyat (1/2/1964), bahwa mereka adalah orang-orang yang
   secara gerombolan melakukan operasi ke rumah-rumah orang berada lalu
   -- dengan tanpa kekerasan-- minta bahan makanan apa saja yang ada dan
   dibawa semua.
   Atau, menunjuk pada istilah yang dipakai oleh aparat keamanan Gunung
   Kidul untuk menyebut sebuah aksi yang dilakukan oleh rakyat yang
   kelaparan, serta dipelopori oleh tokoh-tokoh masyarakat dan guru, guna
   mencari dan mendapatkan bahan makanan dari orang kaya, baik di
   daerahnya sendiri maupun di luar daerah (Sartono Kartodirdjo: 1992).
   Gerayak sebagai fenomena politik lokal, adalah salah satu varian dari
   apa yang biasa disebut radikalisme petani; sebuah ikon tersendiri
   dalam penulisan sejarah pedesaan. Yaitu, gerakan petani yang bersifat
   radikal, sebagai respon terhadap sistem yang berlaku sekaligus sebagai
   reaksi atas jaring subsistensi yang menjerat leher para petani.
   Keterlibatan kaum komunis dalam gerakan-gerakan petani yang bersifat
   radikal di Indonesia sejak 1920-an, menempatkan kaum petani sebagai
   basis massa yang diharapkan memberi kontribusi dalam bentuk pemberian
   suara dalam pemilihan umum maupun dukungan-dukungan fungsional kepada
   setiap kebijakan partai. Sementara, bencana kelaparan menjadi momentum
   yang tepat bagi PKI dan BTI, untuk memberi dukungan petani guna
   mendesak kaum kaya pedesaan berpartisipasi membagikan sedikit
   kekayaannya kepada para petani yang lapar.
   Meski, proses radikalisasi petani menjadi taktik sepihak; dengan
   tujuan implementasi land reform dan perjuangan kelas; dan menjadikan
   tuan tanah sebagai sasaran; petani merasakan keuntungan mengenyangkan
   perutnya yang lapar. Keuntungan ini karena pada periode ini
   (1960-1964) dimana terjadi pergeseran taktik dari periode sebelumnya
   (1957-1960), yang menggunakan perjuangan parlementer; memberi ruang
   lebih luas bagi aktivis partai PKI di daerah untuk menyesuaikan agenda
   perjuangan partai dengan situasi yang khas lokal.
   Namun, mengapa politik radikalisasi petani di Gunung Kidul itu gagal?
   Penulis buku ini, yang diangkat dari skripsi sarjananya di Fakultas
   Sastra Jurusan Sejarah UGM (1995), menjelaskan alasannya.
   Pertama, karena faktor taktis organisasi, Gerayak kontraproduktif
   karena rancu dengan Grayak --fenomena dengan modus serupa di daerah
   yang sama, yang bermotif murni kriminal. Kedua, masih kuatnya hubungan
   patron-klien antara petani miskin dan tuan tanah (yang menjadi sasaran
   Gerayak) sehingga tujuan mempertentangkan kedua 'kelas' itu pun
   menjadi problematis bagi pihak-pihak yang berkaitan.
   Ketika aksi-aksi Gerayak berlangsung, saat itu juga sering terjadi
   penggedoran-penggedoran (grayak) terhadap rumah orang-orang kaya oleh
   segerombolan orang yang tidak jelas asal usulnya dan tendensi
   politiknya. Sehingga, membuat tumpang tindih antara aksi Gerayak
   dengan Grayak, dimana keduanya hampir sama pola gerakannya.
   Perbedaannya, aspek politis lebih melekat pada Gerayak dengan
   cara-caranya yang relatif halus, sedangkan aspek kriminal lebih
   melekat pada Grayak karena tindakan-tindakan kekerasan yang sering
   dilakukannya dalam setiap aksinya.
   Kekaburan itu jelas merugikan PKI dan BTI yang selama itu menggunakan
   Gerayak sebagai alat dan strategi lokalnya untuk mengatasai masalah
   pangan anggotanya, serta melatih militansi anggotanya dalam
   kerja-kerja politiknya. Sebab, tindakan Grayak itu telah mencoreng
   mukanya dan membuat kesan yang buruk terhadap aktivitas Gerayak.
   Selain itu, tindakan kekuasaan politik spontan dan kurang terorganisir
   membuat gerakannya tidak bisa meluas. Sehingga, gerakan ini mudah
   diatasi oleh pihak keamanan, termasuk penindakan serta penangkapan
   para penggerak Gerayak sebagaimana terhadap pelaku Grayak.
   Setelah adanya penangkapan terhadap para tokoh Gerayak, PKI dan BTI
   langsung membubarkan komite aksi ini karena dinilai sudah tidak
   menguntungkan lagi secara politis. Disamping itu, ada alasan taktis
   dari partai supaya keterlibatannya dalam komite Gerayak tidak
   diketahui lebih jauh oleh lawan-lawan politiknya. Karena itulah
   hubungan Gerayak dengan PKI tidaklah nampak jelas. Sehingga, Gerayak
   sebagai strategi politik PKI dan BTI di tingkat lokal Gunung Kidul
   secara umum tidaklah berhasil memperkuat ketegangan kelas di daerah
   pedesaan, serta tidak mampu menjadi gerakan politik yang terpadu bagi
   kaum tani.
   Padahal, kalau melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat desa
   sangatlah kondusif, dimana kehidupan para petani sudah melewati ambang
   batas subsistensi, dan sudah masuk dalam kategori ''kerawanan
   struktural''. Namun karena kondisi itu tidak mampu digunakan oleh PKI
   dan BTI dalam memobilisir para petani secara terarah, dan membuat
   tuntutan-tuntutan yang realistis bagi mereka, maka aksi protes yang
   dilakukan lewat Gerayak tidaklah bisa memicu radikalisasi massa petani
   secara lebih besar.
   Ketidakmampuan PKI dan BTI dalam memicu radikalisasi massa petani
   secara luas, dimungkinkan juga kalau kita paralelkan dengan penjelasan
   ekonomi politik tentang gerakan petani bahwa protes-protes merupakan
   tindakan kolektif dan tergantung kepada kemampuan kelompok untuk
   mengorganisir dan membuat tuntutan-tuntutan. Di sini PKI dan BTI tidak
   mampu memenuhi tuntutan obyektif berupa aksi kolektif secara baik dan
   koordinatif, hingga gerayak mengalami kegagalan.
   Kegagalan Gerayak juga disebabkan oleh faktor struktural antara petani
   miskin yang kelapan dengan petani kaya yang seringkali memberikan
   makan kepada mereka, hingga mereka susah dimobilisasi dalam suatu
   gerakan yang frontal menyerang tuan-tuannya. Disamping itu, secara
   kultural masih kuat tertanam nilai-nilai pedesaan, membuat para petani
   menjadi sungkan bertindak 'radikal'.
   Pada akhirnya, buku ini, sebagai referensi sejarah pedesaan, terutama
   menyangkut gerakan politik petani, layak dibaca oleh siapa saja yang
   berminat pada sejarah lokal. Juga, mengenai konflik politik yang
   mewarnainya; mengapa di Gunung Kidul rivalitas PKI-PNI terjadi.
   Padahal, di kebanyakan tempat lain hubungan mereka cukup baik.
   Meski begitu, secara teknis penulisan buku ini masih berbau skripsi.
   Selain, ada kesan pemaksaan penerapan teori oleh penulisnya terhadap
   studi yang dikajinya. Misalnya, Fadjar Pratikto menyebut ruralisasi
   politik dilakukan PKI sejak 1950-an, sementara Rex Mortimer (1975)
   menyebutnya tahun 1959.
   Shodiqin Nursa, peminat buku tinggal di Jakarta
   

---
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH OLD POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com>
---