[INDONESIA-VIEWS] AQD - Perang Aceh (11/11)

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed Mar 15 2000 - 17:45:45 EST


Date: Wed, 15 Mar 2000 13:26:41 -0800 (PST)
From: Abdul Qadir Djaelani <aqd@masyumi.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: AQD - Perang Aceh 11/11

Perang Aceh 11/11

Pada tanggal 12 Februari 1904 pasukan Belanda telah tiba di daerah tujuan,
yaitu di daerah Gayo Laut, kira-kira 50 kilometer dari Takengon. Tetapi
begitu Belanda menginjakkan kakinya di desa dekat Ketol, di-sambut dengan
pertempuran sengit yang pertama, d i mana pasukan Belanda mengalami
korban, baik mati maupun luka-luka.

Dalam perjalanan menuju Takengon, pasukan Belanda tidak henti-hentinya
mendapat perlawanan, Sampai mereka berhasil membuat markasnya di desa
Kung, kira-kira 7 kilometer ari Takengon. Dari markas yang baru didirikan
ini, pasukan Belanda melakukan operasi m iliter di sekitar Gayo Laut.
Walau perlawanan pasukan rakyat Gayo cukup sengit, dan hampir setiap
daerah yang dilalui pasukan Belanda ter-jadi pertempuran, tetapi akhirnya
daerah Gayo Laut- pun jatuh ke tangan pasukan kolonial.

Setelah pasukan Belanda berhasil menguasai daerah Gayo Laut, operasi
militernya maju menuju Gayo Lues, dimana pada tanggal 9 Maret 1904,
pasukannya telah mencapai daerah Kla, yaitu daerah yang merupakan pintu
masuk Gayo Lues. Berbeda dengan pertempuran di Gayo Laut, di sini rakyat
memperkuat pertahanannya dengan benteng-benteng yang dibangun dari tanah
dicampur batu-batu. Di sekelilingnya dibuat pagar kayu berduri yang telah
dibuat runcing, dan dilapisi pula dengan tanaman hidup bambu berduri, yang
oleh o rang Gayo disebut 'uluh kaweh' yang berlapis-lapis. Kemudian
dipasang pula bambu runcing dan kayu runcing dalam bentuk ranjau-ranjau.

Di bagian dalam benteng dibuat lobang-lobang per-lindungan, lubang
pengintaian lubang penembak di bagian dinding-dinding benteng. Selain itu
dibuat pula lubang perlindungan untuk wanita dan anak-anak di dalam
benteng tersebut. Dengan cara ini, benteng per tahanan rakyat Gayo
berusaha menahan serangan pasukan Belanda yang jauh lebih kuat dan modern.

Benteng-benteng semacam ini tersebar di daerah Gayo Lues dan Alas, serta
tidak kurang dari sepuluh benteng yang besar dan kokoh yang dipertahankan
mati-matian oleh rakyat Gayo, dalam pertempurannya dengan pasukan Belanda.

Salah satu bukti tentang pertempuran benteng yang dahsyat, yaitu benteng
Gemuyang, setelah berhari-hari bertempur, akhirnya baru jatuh setelah
rakyat Gayo sebanyak 308 orang tewas : antaranya 168 orang laki--laki, 92
orang wanita dan 48 orang anak-anak. S edang-kan yang luka-luka sebanyak
47 orang: antaranya se-orang pria, 26 orang wanita dan 20 orang anak-anak.
-Hanya 12 orang yang tertangkap hidup-hidup, dimana 3 orang wanita dan 9
orang anak-anak. Sedangkan korban dari pihak pasukan Belanda hanya dua or
ang tewas dan 15 orang luka-luka berat.

Pertempuran di benteng Rikit Gaib antara pasukan penyerbu dengan pasukan
rakyat Gayo lebih berimbang, sehingga korban yang jatuh di kedua belah
pihak cukup banyak. Di pihak rakyat Gayo telah meninggal dunia sebanyak
148 orang: antaranya 143 orang pria, 41 orang wanita dan anak-anak, hanya
seorang laki-laki dan dua orang wanita yang tertangkap hidup-hidup oleh
Belanda. Korban di pihak pasukan Belanda: 7 orang mati, diantaranya 2
orang perwira dan 42 orang luka--luka berat, diantaranya 15 orang perwira.

Pertempuran dari benteng ke benteng yang tersebar di daerah-daerat Gayo
tidak kurang dari sepuluh buah banyaknya, dengan korban ribuan rakyat Gayo
yang mati terbunuh. Hanya dengan cara itu pasukan Belanda dapat
menaklukkan Gayo, sehingga pada tanggal 2 Ju ni 1904, Van Daalen berhasil
mengumpulkan penghulu--penghulu Gayo sebanyak dua belas orang untuk
me-maksa mereka takluk kepada penguasa kolonial Belanda.

Setelah daerah Gayo berhasil ditundukkan, maka pada tanggal 13 Juni 1904
pasukan Belanda melanjutkan serangan ke daerah Alas, dengan sasaran
utamanya desa Batu Mbulen dimana tinggal seorang ulama besar ber-nama
Teungku Haji Telege Makar dengan pondok pesa ntrennya. Mendengar
kedatangan pasukan Belanda mau menyerbu kaum muslimin, dengan pimpinan
para ulama mereka mengosongkan desa tersebut dan semua-nya berkumpul di
benteng Kute Reh yang telah disiap-kan jauh sebelum pasukan musuh datang.

Pertempuran dahsyat dan bermandikan darah ber-langsung berhari-hari antara
pasukan musuh dengan pasukan kaum muslimin di benteng Kute Reh tersebut.
Benteng Kute Reh jatuh ke tangan pasukan Belanda, setelah 561 orang
pasukan yang mempertahankan benteng itu tewas, diantaranya 313 orang pria,
189 orang wanita, dan 59 orang anak-anak. Yang luka-luka sebanyak 51
orang, antaranya 25 orang wanita dan 31 orang anak-anak, yang tertangkap
hidup-hidup dua orang wanita dan 61 orang anak-anak. Sedangkan di pihak
musuh hanya dua orang mati dan 17 orang luka-luka berat.

Pada tanggal 20 Juni 1904 pasukan Belanda dibawah pimpinan Van Daalen
sendiri melanjutkan penyerbuannya ke benteng Likat. Pertempuran sengit
bermandikan darah berlangsung dahsyat dan ngeri. Sebab pasukan Belanda
main bantai tanpa pandang bulu, sehingga 43 2 orang mati terbunuh,
diantaranya 220 pria, 124 wanita, dan 88 orang anak-anak. Yang luka-luka
berat dan ringan sebanyak 51 orang, diantara-nya 2 orang pria, 17 orang
wanita dan 32 orang anak--anak, yang tertangkap hidup-hidup hanya
anak-anak sebanyak 7 orang. Dipihak pasukan musuh yang mati hanya seorang
dan 18 orang tentara luka-luka, termasuk Letnan Kolonel Van Daalen dan
Kapten Watrin.

Daerah Alas dapat dikuasai pasukan Belanda setelah jatuhnya benteng Lengat
Baru pada tanggal 24 Juli 1904, dengan korban yang sangat besar di pihak
rakyat Alas, di mana 654 orang tewas, diantaranya 338 orang pria dan 186
wanita serta anak-anak 130 orang. Sedang-kan yang luka-luka seorang pria,
16 orang wanita dan 32 orang anak anak. Di pihak musuh hanya 4 orang mati
dan 28 orang luka-luka.

Sebagaimana telah terjadi di daerah-daerah lainnya di Aceh, jika
pertempuran terbuka telah tidak mungkin dilakukan, karena kekuatan yang
tak seimbang dengan pasukan musuh, maka 'perang gerilya' merupakan
satu-satunya jawaban untuk melumpuhkan pasukan Bela nda. Di Gayo dan Alas
pun berlaku hal yang sama. Apalagi daerah Gayo dan Alas adalah daerah
ber-gunung-gunung dan berhutan lebat, sehingga 'perang gerilya' yang
dilakukan rakyat Gayo dan Alas sangat menguntungkan. Dan sebaliknya
pasukan Belanda tidak pern ah bisa tinggal tenteram di daerah-daerah yang
didudukinya, karena mendapat serangan gerilya.

Walaupun perang kontra gerilya dengan pasukan marsose yang dianggap berani
dan kejam, sebagaimana digariskan oleh Van Heutsz, dinilai berhasil dengan
gemilang, tetapi tidak berarti pasukan gerilya muslimin Aceh dianggap
pengecut dan senantiasa kalah. Bahk an terkadang pasukan gerilya muslimin
Aceh jauh lebih berani dan lebih lincah dari pasukan marsose yang paling
dibanggakan. Hal ini terbukti dari pengalaman salah seorang komandan
marsose yang paling terkenal, Kapten M.J.J.B.H. Campion, yang pada tahun
19 04 di daerah Meulaboh di pantai barat, dengan kekuatan se-tengah divisi
melakukan penyerbuan terhadap pasukan gerilya Teuku Keumangan dan
kakaknya, Teuku Johan.

Pada bulan Maret 1904 sebuah kolonne yang terdiri dari enam brigade
marsose, yaitu kira-kira 160 orang tentara, masuk ke dalam jebakan pasukan
gerilya muslimin yang berkekuatan sebanyak 300 orang gerilyawan. Dengan
gerak cepat dan ketangkasan yang luar bi asa, pasukan gerilyawan muslimin
Aceh ini menyerang dengan kelewang dan rencong terhadap pasukan marsose
yang terjebak itu. Seluruh pasukan Belanda sebanyak 160 orang tentara mati
terbunuh, ter-masuk Kapten Campion yang mati karena luka-luka berat.

Pasukan gerilyawan muslimin Aceh masih terus efektif melakukan
serangan-serangan terhadap pasukan Belanda di daerah-daerah seperti Lhong,
dimana pada tahun 1925 dan tahun 1926 dan kemudian pada tahun 1953 telah
berkembang menjadi 'perang terbuka'. Untuk m engatasi kekuatan gerilyawan
muslimin Aceh ini, pemerintah kolonial Belanda mengumpulkan kembali
bekas-bekas pasukan marsose dari seluruh Hindia Belanda. Operasi-operasi
pasukan marsose di sungai atau di darat seringkali terjebak oleh pasukan
gerilya-wan muslimin, sehingga dapat dihancurkan secara total. Bahkan
bivak-bivak rahasia pasukan marsose sering diserang dan dibakar oleh
pasukan gerilyawan.

Idola gerilyawan muslimin Aceh terlukiskan dalam person tokoh ulama Aceh
Teungku di Tiro Syeikh Saman. Ia mempunyai lima orang pntera, yang tertua
bernama Muhammad Amin, yang gugur pada pertempuran dengan pasukan Belanda
pada tahun 1896. Empat orang puter a lainnya dan dua orang cucu semuanya
gugur sebagai syuhada pada pertempuran antara tahun 1904 dan 1911.

Pada bulan Desember 1909, Letnan B.J. Schmidt mendapat perintah untuk
menyerang pasukan gerilyawan muslimin Tiro di daerah Tangse. Menurut
taksiran, kekuatan pasukan gerilyawan muslimin Tiro ini berjumlah 250
orang. Dengan menggunakan dua brigade pasukan marsose, Schmidt secara
sistimatis me-nyerang dan menangkap pasukan gerilyawan muslimin Tiro, di
mana pada tahun 1909 dan 1911 dapat dikatakan hampir seluruhnya
tertangkap.

Keberhasilan pasukan Belanda dalam menumpas pasukan gerilyawan muslimin
Tiro ini karena pengkhianatan orang-orang Aceh sendiri, yaitu para kaum
bangsawan yang menjadi kolaborator Belanda. Tetapi tidak seorang pun dari
pimpinan gerilya-wan muslimin Tiro in i yang menyerah hidup-hidup.
Akhirnya keturunan Syeikh Saman, tokoh gerilyawan muslimin Tiro, tinggal
seorang lagi, seorang pemuda remaja yang terus bergerilya menyerang
pasukan Belanda kafir.

Letnan Schmidt meminta bantuan tokoh--tokoh Aceh untuk bisa membujuk tokoh
pemuda-remaja gerilyawan muslimin Tiro ini supaya menyerah dengan jaminan
oleh Gubernur Jenderal tidak akan dijatuhi hukuman. Hasilnya, tidak
mungkin menyerah. Hidup mulia atau mat i syahid itulah semboyan gerilyawan
muslimin Tiro.

Pada bulan Desember 1911, perwira Marsose dengan pasukannya bernama Nussy
menyerang tempat per-sembunyian gerilyawan muslimin Tiro yang terakhir,
yang tinggal tiga orang saja lagi. Dalam serangan ini, dua orang dari tiga
gerilyawan muslimin Tiro ini tewas menjadi syuhada, dan ternyata yang
seorang itu ber-nama Cit Ma'az (Ma'at), adalah keturunan terakhir dari
Syeikh Saman, tokoh utama perang Aceh. Dengan wafatnya Cit Ma'az, yang
baru berusia lima belas tahun, maka berarti tiga generasi Teuku di Tiro di
ab adikan di dalam Perang Aceh.

Perang gerilya yang berkepanjangan tidak hanya dilakukan oleh gerilyawan
muslimin Tiro, tetapi juga dilakukan oleh pasukan gerilyawan Teuku di Mata
Ie, Teungku di Barat dan Pang Naggru di daerah-daerah sekitar Lhok Seumawe
dan Lhok Sukon. Daerah medan-nya yang berubah-ubah dari gunung-gunung
sampai ke laut, sangat memungkinkan pasukan gerilyawan muslimin ini dapat
melakukgn gerakan yang sulit untuk diketahui dan dikejar oleh pasukan
Belanda.

Pasukan gerilyawan dibawah pimpinan Pang Nanggru , masih aktif sampai
tahun 1910, pasukan gerilyawan Teungku di Barat aktif sampai tahun 1912.
Sedangkan pasukan gerilyawan Teungku di Mata Ie masih terus aktif sampai
tahun 1913, dan wafat pada tahun 1917 k arena luka-luka kena peluru.

Perang Aceh tidaklah berakhir pada tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914
terentang benang merah sampai tahun 1942, alur perlawanan di bawah tanah.
Perang gerilya, yang pada tahun 1925, tahun 1926, sampai tahun 1933
berkembang menjadi perlawanan terbuka la gi.

Dengan demikian perang Aceh berlangsung mulai sejak tahun 1873, terus
sambung-menyambung sampai tahun 1942, dimana Belanda angkat kaki untuk
selama-lama-nya, adalah perang terlama di dalam sejarah perang kolonial
Belanda di Indonesia. Perang Aceh yang me- landa hampir setiap daerah
Aceh, dari mulai pantai sampai ke puncak- puncak gunung, dengan
pertempuran tanpa henti dan lelah, adalah bentuk perang yang spesifik bagi
Aceh.

Keberanian, pengorbanan dan daya tahan yang mengagumkan bagi setiap orang
yang mempelajari sejarah Perang Aceh, adalah berkat keyakinan yang kokoh
terhadap ajaran Islam, yang telah dimiliki sejak kelahiran Kesultanan Aceh
pada tahun 1507.

[Abdul Qadir Djaelani]

----- End of forwarded message from Abdul Qadir Djaelani -----

---
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH OLD POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com>
---