[INDONESIA-L] TNI Watch!---MAYJEN SLAMET SUPRIADI CALON KOMANDAN KODIKLAT

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Mar 26 2000 - 12:19:32 EST


MAYJEN SLAMET SUPRIADI CALON KOMANDAN KODIKLAT

        JAKARTA, (TNI Watch! 25/3/2000). Media cetak akhir-akhir ini sedang
gencar memberitakan tentang rencana dimutasikannya tiga Pangdam di Jawa,
masing-masing adalah Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Slamet Supriadi,
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo, dan Pangdam V/Brawijaya
Mayjen TNI Sudi Silalahi. Berarti yang "lolos" hanya Pangdam Jaya Mayjen TNI
Ryamizard Ryacudu.

        Digesernya ketiga Pangdam tersebut, kabarnya masih terkait dengan
rasa kesal Presiden Abdurrahman Wahid, sehubungan adanya Pangdam di Jawa
yang berusaha mreteli kekuasaannya. Sebenarnya tidak ada Pangdam di Jawa
(maupun di luar Jawa), yang bermaksud kurang baik kepada Bapak Presiden.
Entah Gus Dur mendapat "bisikan" dari mana, tiba-tiba saja memiliki
kekhawatiran yang "aneh" terhadap TNI. Presiden kita memang orang hebat,
namun bukan berarti tidak bisa berbuat salah. Berbuat kesalahan adalah
sesuatu yang manusiawi. Mungkin kali ini Presiden kita sedang "salah" dalam
menyikapi TNI-AD.

        Soal pergeseran Pangdam di Jawa, ada benarnya juga, cuma tidak
sebanyak itu. Pergeseran sepertinya hanya terjadi pada Pangdam III/Siliwangi
dan Pangdam IV/Diponegoro. Mutasi mereka itu pun lebih karena persoalan
administratif, artinya memang sudah waktunya untuk diganti. Bukan karena
alasan politis, seperti mengakomodasi rasa kesal Bapak Presiden. Terlebih
sinyalemen Gus Dur tersebut juga tidak akurat, jadi bagaimana mengakomodasinya?

        Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Slamet Supriadi bahkan akan
dipromosikan pada posisi "Bintang Tiga" (Letnan Jenderal), yaitu sebagai
Komandan Komando Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) Angkatan Darat
di Bandung. Mayjen TNI Slamet akan menggantikan Letjen TNI Sumardi, yang
akan diproyeksikan sebagai Komandan Sesko TNI. Letjen TNI Sumardi disiapkan,
seandainya Letjen TNI Djaja Suparman ngambek dan tidak bersedia menempati
pos barunya sebagai Komandan Sesko TNI, seperti yang pernah terjadi pada
Letjen TNI Prabowo Subianto. Sedang pos yang baru bagi Mayjen TNI Bibit
Waluyo, masih belum ada kepastian.

        Jabatan Komandan Kodiklat memang sudah waktunya untuk diganti,
karena Letjen TNI Sumardi berada di pos itu, sudah sekitar dua tahun. Waktu
yang cukup lama, untuk sebuah posisi militer. Sebagaimana diketahui, pos ini
sebelumnya "disiapkan" untuk mantan Kasum TNI Letjen TNI Suadi Marassabessy.
Namun, Letjen TNI Suadi Marassabessy tampaknya sudah putus asa atas karirnya
di tentara, hingga ia menolak pos barunya tersebut. Waktu itu Letjen Suadi
beralasan, ia tidak mau menggeser seniornya (Letjen Sumardi, Akmil 1970)
yang masih menjabat Komandan Kodiklat. Alasan Letjen Suadi sungguh tidak
logis, karena mutasi di militer adalah hal biasa, tanpa melihat senior atau
junior, asalkan mampu dan dipercaya atasan. Karena mutasi di kalangan
militer Indonesia, sejak dulu tidak terpaku pada pola "urut kacang".

        Promosi bagi Mayjen Slamet Supriadi sebagai Komandan Kodiklat
merupakan keputusan yang tepat. Karena Mayjen TNI Slamet Supriadi adalah
perwira yang hebat dan pengalaman penugasannya beragam. Juga di bidang
pendidikan, Mayjen Slamet selalu berprestasi. Slamet Supriadi adalah lulusan
terbaik Akmil tahun 1970, jadi Slamet adalah penerima penghargaan Adhi
Makayasa, perlambang lulusan terbaik taruna Akmil. Prestasi serupa, diulangi
lagi ketika Slamet Supriadi mengikuti Sesko TNI (dahulu Sesko ABRI) dan
Kursus Reguler Lemhanas Tahun Ajaran 1996-1997.

        Di masa lalu karir Slamet Supriadi memang sempat "macet", selepas
menjadi ajudan Pangkopkamtib Laksamana Soedomo. Sebagaimana kita tahu
Soedomo adalah petinggi TNI yang kualitasnya kurang bagus (tegasnya bodoh).
Perwira yang pernah bekerja pada pada Soedomo, yang terkena getahnya, karena
dianggap kualitasnya sama dengan mantan boss-nya. Padahal Slamet Supriadi
bukan tipe perwira yang disangkakan orang pada Soedomo. Jadi karir Slamet
"macet", semata-mata karena ia bernasib naas, karena ditempatkan sebagai
ajudan Soedomo. Bukan karena kemampuan dan kualitas yang kurang.

        Karirnya mulai cerah kembali, ketika ia ditarik oleh Jenderal Benny
Moerdani ke BAIS. Pernyataan ini jangan dibaca: dengan begitu Pak Slamet
orangnya Pak Benny dong. Bukan begitu, Slamet Supriadi adalah perwira
profesional, yang loyal pada siapapun yang menjadi atasannya.

        Pak Slamet memang perwira yang piawai di bidang intelijen. Setelah
di BAIS, ia mulai ditugaskan di bidang teritorial, dengan menjadi Komandan
Kodim Jakarta Timur. Setelah itu ditarik ke Markas Kodam Jaya, sebagai Wakil
Asintel Kasdam Jaya, hingga menjadi Asintel Kasdam Jaya. Slamet Supriadi
menjadi Asintel, menggantikan teman sekelasnya di Akmil, yaitu Kol Inf Zacky
Anwar Makarim. Dalam hal kemampuan di bidang intelijen, antara Slamet
Supriadi dan Zacky Anwar, boleh dibilang setara.

        Setelah bertugas di Kodam Jaya, Slamet Supriadi ditarik ke Markas
Kodam IV/Diponegoro, sebagai Assospol Kasdam IV/Diponegoro. Kemudian
dipromosikan sebagai Komandan Korem 074/Warastratama di Solo. Selepas
menjadi Danrem di Solo itulah, Kol Inf Slamet Supriadi memperoleh promosi
sebagai jenderal, ketika diangkat sebagai Kapuspen ABRI menggantikan Mayjen
TNI Amir Syariffudin, pada 4 Maret 1997. Sejak itu sebutan resminya menjadi
Brigjen TNI Slamet Supriadi. Tiga tahun kemudian (jadi hari-hari sekarang
ini), karir jenderal asal Purwokerto itu masih berkibar. ***

---
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH OLD POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com>
---