[INDONESIA-L] A UMAR SAID - Biarkan Korban Peristiwa 1965 & Ex-Tapol Bersuara

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Mar 26 2000 - 12:51:26 EST


Renungan tentang HAM dan demokrasi di Indonesia
(Pamflet : Bahaya laten Orde Baru)

BIARKANLAH PARA KORBAN PERISTIWA 65
DAN PARA EX-TAPOL BERSUARA!

(Oleh: A. Umar Said *)

Mohon perhatian, bahwa tulisan yang kali ini masih juga mempersoalkan
masalah korban pembunuhan besar-besaran 65/66 dan nasib para ex-tapol, dalam
rangka permintaan ma_af Gus Dur akhir-akhir ini. Tulisan ini memang
dimaksudkan untuk _memprovokasi_ sebanyak mungkin orang. Mungkin sajalah,
karenanya, bahwa sebagai akibatnya, ada orang (atau orang-orang) yang
jengkel atau gondok, marah atau gregetan, prihatin atau sedih, gembira atau
lega. Namun, terlebih dulu harap diketahuilah hendaknya, sejak permulaan
membacanya, bahwa apa yang diutarakan dalam tulisan ini samasekali bukanlah
untuk menyebarkan kebencian atau mengobarkan perasaan permusuhan, dan bukan
pula untuk menyundut api dendam. Juga samasekali tidak untuk memperparah
kepedihan luka-luka yang selama puluhan tahun sudah mengendap dalam hati
banyak orang.

Justru sebaliknya. Setelah menyimak sendiri isinya maka akan nyatalah bahwa
apa yang diungkapkan berikut ini adalah justru ajakan untuk bersama-sama
mempertimbangkan dengan masak-masak, dan dengan nalar sehat, berbagai
persoalan yang berkaitan dengan pemupukan rasa kemanusiaan antara sesama
ummat dan rasa keadilan. Dan, agaknya, ajakan ini cocok dengan situasi
aktual di tanah air kita dewasa ini.

Sebab, sudah sama-sama kita dengar atau kita baca, bahwa pernyataan
permintaan ma_af Gus Dur itu telah mengundang macam-macam reaksi dari
berbagai kalangan atau golongan. Dan kita juga sudah sama-sama merasakan
bahwa di antara reaksi itu ada yang terdengar aneh atau mengejutkan. Bahkan
ada juga yang terasa mengerikan dan berbahaya bagi ummat manusia. Mungkin,
itu semua disebabkan oleh pandangan yang picik, oleh pemikiran yang cetek,
oleh hati nurani yang tidak bersih, atau oleh karena tingkat kultur yang
rendah belaka. Atau, oleh karena sebab-sebab lainnya, yang hanya diketahui
oleh Tuhan YME.

DAMPAK DAHSYAT POLA BERFIKIR ORDE BARU

Ada beberapa hal yang menarik tentang akibat pernyataan permintaan ma_af Gus
Dur ini. Dan, hal-hal yang menarik ini ada juga yang mengundang pertanyaan
pula. Antara lain, mengapa masih ada orang - apalagi orang itu adalah
tokoh-tokoh terkemuka - tidak yakin akan perlunya Gus Dur untuk minta ma_af
kepada para korban pembunuhan besar-besaran 65/66. Padahal skala pembantaian
manusia yang TIDAK BERSALAH itu adalah luar biasa besarnya : lebih dari satu
juta orang, dan dalam tempo yang amat singkat, dan dengan cara-cara yang
mendirikan bulu kuduk pula. Begitu hebatnya trauma yang disebabkan oleh
peristiwa ini sehingga puluhan juta sanak saudara para korban pembunuhan
65/66 dan keluarga para ex-tapol, selama 30 tahun menanggung penderitaan
atau beban batin. Dan trauma itu berlangsung sampai sekarang!

Sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya, perlu diulang-ulang kembali bahwa
peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 itu (dan juga masalah ex-tapol)
adalah masalah besar bangsa Indonesia, yang perlu mendapat penyelesaian.
Agaknya, jelaslah bahwa para penguasa Orde Baru memang selama 30 tahun telah
berusaha dengan segala daya-upaya (termasuk penggunaan intimidasi,
indoktrinasi, pemalsuan sejarah, dll) untuk menutup-nutupi masalah besar
ini. Sebab, justru peristiwa-peristiwa itulah yang merupakan titik lemah
rezim militer Orde Baru, baik di hadapan opini umum di dalamnegeri maupun di
luarnegeri. Para penguasa Orde Baru sadar bahwa peristiwa-peristiwa itu
merupakan aib atau dosa besar, yang sulit dipertanggungjawabkan. Oleh karena
itulah, mereka selalu berusaha untuk mencegah supaya kejahatan besar
terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) ini sampai diutik-utik.
Untuk itu, selama puluhan tahun telah diciptakan berbagai cara supaya
masyarakat selalu takut untuk membicarakan soal pembunuhan besar-besaran
65/66 dan masalah nasib para eks-tapol. Salah satu di antara berbagai cara
itu yalah dengan terus-menerus mencekoki pendapat umum dengan propaganda
anti-komunis. Ini telah dilakukan dengan keharusan diputarnya film
G3OS/PKI, dengan peringatan hari Kesaktian Pancasila, dengan kursus-kursus
atau penataran P4 , dan serentetan panjang ketentuan-ketentuan lainnya yang
merupakan sarana untuk indoktrinasi. Sebagai akibat dahsyatnya indoktrinasi
yang dibarengi dengan teror mental dalam berbagai bantuk, maka terciptalah
semacam _ketakutan nasional_ yang telah membelenggu fikiran banyak orang.

Karenanya, masyarakat luaspun (termasuk keluarga para korban pembunuhan
65/66 dan keluarga para ex-tapol) dalam jangka lama tidak berani
mempersoalkan secara bebas dan terang-terangan masalah-masalah mereka.
Paling tidak, ada 3 penjelasannya terhadap gejala yang semacam ini. Pertama,
sebagian terbesar keluarga para korban pembunuhan dan keluarga para ex-tapol
sudah demikian parahlah traumanya atau ketakutannya sebagai akibat hebatnya
kampanye anti-PKI dan slogan _bahaya laten PKI_ sehingga mereka banyak yang
_pasrah_ saja, dan dengan sabar dan dalam penderitaan, terpaksa hanya
menunggu datangnya perobahan. Kedua, banyak kalangan dan golongan di
berbagai bidang (pers, partai-partai, LSM dll) juga takut untuk
mempersoalkan masalah-masalah itu mengingat dahsyatnya repressi atau
intimidasi waktu itu. Ketiga, begitu hebatnya indoktrinasi yang dibarengi
intimidasi itu, yang dilakukan selama 30 tahun pula, sehingga sebagian
besar dari masyarakat percaya kepada versi sejarah (palsu) yang disajikan
oleh para penguasa Orde Baru beserta pendukung-pendukung setianya. Dan point
yang ketiga inilah yang merupakan akibat yang paling parah. Sebab, bolehlah
kiranya dikatakan bahwa versi sejarah resmi yang disajikan oleh penguasa
Orde Barulah yang mendominasi pandangan masyarakat selama lebih dari 30
tahun. Artinya, pola berfikir Orde Baru mempunyai pengaruh besar terhadap
cara berfikir masyarakat.

Begitu parahnya dampak dahsyat indoktrinasi Orde Baru (yang dibarengi dengan
intimidasi) ini, sehingga pernyataan minta ma'af Gus Dur merupakan sesuatu
yang mengagetkan banyak orang. Bahkan, juga telah ditanggapi dengan fikiran
yang sesat oleh berbagai tokoh masyarakat yang keblinger. Padahal,
sebenarnya, masalahnya sudahlah jelas untuk dimengerti oleh nalar yang
waras. Begitu keruhnya pandangan tokoh-tokoh tertentu, sehingga sikap Gus
Dur yang mulia itu telah dipersalahkan, dituding, atau dijadikan
bulan-bulanan.

BIARKAN KELUARGA PARA KORBAN BERSUARA

Mengingat pentingnya masalah permintaan ma_af Gus Dur bagi kehidupan bangsa,
baik bagi generasi kita yang sekarang maupun generasi yang akan datang, maka
perlulah kiranya bagi kita semua untuk ikut memikirkan langkah-langkah apa
saja yang bisa dilakukan, agar kebenaran dan keluhuran pesan politik dan
pesan moral Gus Dur ini bisa lebih dimengerti oleh sebanyak mungkin orang.
Ini bisa dilakukan di berbagai bidang, sebisanya, dan menurut situasi
masing-masing, melalui berbagai cara.

Di antara berbagai langkah itu adalah membantu terciptanya suasana dan juga
sarana, sehingga para keluarga korban pembunuhan besar-besaran 65/66 dan
para ex-tapol (beserta sanak-saudara) bisa dengan leluasa, bebas, dan juga
terus-terang mengeluarkan suara mereka tentang berbagai persoalan yang
mereka hadapi, baik di masa-masa yang lalu, maupun di masa sekarang. Dengan
demikian, bangsa kita akan mendapat informasi atau bahan-bahan yang langsung
dan otentik dari mereka. Bahan-bahan ini sangat penting bagi kita semua,
untuk bersama-sama mengerti, dengan jernih pula, berbagai persoalan yang
mereka hadapi.

Soalnya begini : selama puluhan tahun suara mereka telah dibungkam oleh
rezim militer Orde Baru, banyak di antara mereka yang dikucilkan dalam
masyarakat atau diperlakukan secara tidak manusiawi. Oleh karena akibat
politik Orde Barulah, persoalan mereka tidak dikenal secara baik atau
diketahui secara tepat oleh banyak orang. Apa yang diketahui oleh masyarakat
tentang mereka adalah hanya sebagian atau sepotong-sepotong saja, bahkan
acapkali keliru atau penuh distorsi. Pengetahuan yang tidak cukup, atau yang
keliru, tentang masalah peristiwa 65/66 inilah yang memungkinkan masih
merajalelanya, sampai sekarang, fikiran atau tindakan (termasuk
ucapan-ucapan) yang bertentangan dengan hak asasi manusia dan tidak
mencerminkan peradaban (kasarnya: biadab)..

Dengan membantu para korban pembunuhan besar-besaran 65/66 dan para ex-tapol
untuk bisa bersuara secara bebas tentang keadaan dan persoalan mereka yang
sebenarnya, maka kita bisa memberikan sumbangan kepada usaha bersama untuk
membetulkan kesalahan-kesalahan besar rezim militer Orde Baru.

SUARA MEREKA KITA BUTUHKAN

Terciptanya sarana dan suasana sehingga para keluarga korban pembunuhan
besar-besaran tahun 65/66 (dan para ex-tapol beserta sanak-saudara) dapat
leluasa bersuara adalah tugas besar nasional kita, yang berkaitan dengan
penyelesaian masalah-masalah aktual di masa kini, dan juga untuk meletakkan
dasar-dasar pembangunan kehidupan bangsa di masa datang. Hanya dengan
mengenal secara baik keseriusan masalah para korban pembunuhan besar-besaran
65/66 (dan masalah para ex-tapol) kita bisa mengerti tentang derajat
keparahan kesalahan Orde Baru. Dan hanya dengan menyadari betapa besar
kesalahan-kesalahan Orde Baru itulah kita semua dapat melihat, dengan
pandangan yang jernih, jalan yang harus ditempuh selanjutnya.

Kalau kita renungkan dengan tenang dan dalam-dalam, maka akan nyatalah
kiranya bahwa masalah korban pembunuhan besar-besaran 65/66 (dan masalah
para ex-tapol) merupakan guru besar bangsa kita di bidang pendidikan
politik, pendidikan moral atau akhlak, pendidikan hak asasi manusia.
Perlulah kiranya kita sama-sama yakini bahwa pendidikan moral, pendidikan
hak asasi manusia adalah salah satu di antara banyak kunci penting untuk
memperbaiki kerusakan-kerusakan parah yang telah dilakukan oleh Orde Baru.
Kerusakan-kerusakan itulah yang kita warisi, sekarang ini, di berbagai
bidang, antara lain : rusaknya norma-norma kejujuran dan keadilan,
penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan, pengejaran gebyar dan harta tanpa
mengindahkan moral, berkembangnya pelanggaran toleransi antar-agama dan
antar suku, dan se-abreg-abreg penyakit parah lainnya.

Dari pengamatan terhadap berbagai kesalahan parah dan penyakit berat Orde
Baru dapatlah agaknya disimpulkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia adalah
sumber utamanya. Dan dapat disimpulkan pula bahwa pembunuhan besar-besaran
65/66 (dan masalah ex-tapol) adalah manifestasi terpusat pelanggaran hak
asasi manusia ini. Oleh karena itu, sekali lagi, atau kembali lagi, untuk
mengerti watak atau jati-diri Orde Baru haruslah kita mengerti tentang
keseriusan persoalan peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 beserta
akibat-akibatnya. Dan, untuk lebih mengerti dan untuk mengenal secara baik
persoalan besar ini, maka diperlukan sebanyak mungkin bahan dan informasi,
sehingga kita dapat melihatnya dari berbagai segi. Untuk sampai ke tujuan
itu, maka perlulah para korban kita berikan kesempatan seluas-luasnya dan
sebebas-bebasnya untuk bersuara, melalui berbagai cara dan sarana.

 JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN EMAS INI

Di samping hal-hal yang sudah disebutkan di atas, ada aspek-aspek penting
lainnya mengapa kita perlu mendorong para korban pembunuhan besar-besaran
65/66 (dan para ex-tapol beserta sanak saudara mereka) untuk bersuara secara
bebas. Sumbangan mereka itu sangat berguna untuk melengkapi atau memperkaya
bahan-bahan bagi Masyarakat Sejarawan Indonesia, atau Komisi Rekonsiliasi
dan Kebenaran, atau Komisi HAM lainnya, atau lembaga-lembaga pemerintah dan
non-pemerintah lainnya yang membidangi masalah ini.

Tetapi, yang tidak kalah penting adalah yang berikut : dengan diketahuinya
secara baik dan secara benar oleh bangsa kita persoalan pembunuhan
besar-besaran 65/66 beserta akibat-akibatnya (serta persoalan ex-tapol),
maka dasar-dasar untuk rekonsiliasi nasional bisa diletakkan dengan lebih
kokoh. Kalau seluruh bangsa kita mempunyai gambaran yang benar tentang
berbagai persoalan yang berkaitan dengan pembunuhan besar-besaran 65/66,
maka keluhuran pernyataan minta ma_af Gus Dur akan lebih bisa dimengerti
oleh banyak orang. Dengan begitu, maka kita harapkan bahwa tidak akan ada
lagi (setidak-tidaknya, makin berkurang) suara-suara aneh yang menentang
permintaan ma_af itu. Untuk itulah perlunya sebanyak mungkin suara para
korban pembunuhan dan para ex-tapol kita dengar.

Ada segi lainnya yang patut kita renungkan bersama. Peristiwa pembunuhan
besar-besaran 65/66 adalah tragedi nasional yang bisa merupakan gudang yang
kaya bagi pelajaran bangsa. Gudang inilah yang selama ini ditutup
rapat-rapat oleh rezim militer Orde Baru. Dan, sekarang ini, kewajiban
bersama kitalah untuk rame-rame membuka gudang ini selebar-lebarnya, untuk
memilih barang-barang baik yang bisa kita temukan bersama-sama di dalamnya.
Umpamanya, peringatan bahwa kekejaman yang serupa terhadap sesama MANUSIA
janganlah sampai terulang lagi di kemudian hari. Atau peringatan lainnya,
bahwa berbagai pelanggaran hak asasi manusia secara besar-besaran seperti
yang dilakukan selama 30 tahun oleh Orde Baru adalah sesuatu yang merusak
jiwa atau moral bangsa.

Isi gudang lainnya yang juga amat penting adalah cerita atau pengalaman para
korban pembunuhan besar-besaran dan para ex-tapol. Pengalaman mereka, yang
negatif maupun positif, selama lebih dari 30 tahun, adalah memori kolektif
bangsa yang berharga sekali. Karenanya, akan baiklah kalau sebanyak mungkin
buku atau tulisan tentang pengalaman mereka itu bisa diterbitkan. Itu semua
merupakan khasanah bangsa. Pertemuan, diskusi, ceramah, seminar, interview
dan tulisan mereka dalam berbagai media - atau segala bentuk kegiatan
lainnya, dengan tujuan untuk mengenal lebih baik persoalan mereka - perlu
dikembangkan. Berbagai kegiatan serupa itu adalah bagian penting dari usaha
pendidikan hak asasi manusia, dan juga merupakan sumbangan untuk mendukung
langkah-langkah positif politik Gus Dur menuju terciptanya rekonsiliasi
nasional secara sungguh-sungguh.

Dewasa ini adalah moment yang baik bagi kita semua untuk menangani pekerjaan
penting ini secara lebih serius atau lebih besar-besaran dari pada yang
sudah-sudah. Sebab, banyak di antara para korban 65/66 yang sekarang sudah
menginjak ujung hidup, dan bahkan banyak yang sudah meninggal. Anak-anak
mereka juga sudah menginjak masa tua. Nara sumber yang berhak atau pantas
untuk digali pengalaman mereka dari tangan pertama sudah makin berkurang.
Oleh karena itu, demi kepentingan sejarah, kita tidak boleh lewatkan
kesempatan emas sekarang ini.

SUARA MEREKA TIDAK AKAN MERUPAKAN BAHAYA

Agaknya, patutlah diterka-terka, bahwa ada saja orang yang takut bahwa
dengan dibukanya kesempatan bagi para korban pembunuhan besar-besaran 65/66
untuk bersuara tentang masalah mereka, maka akan bangkitlah bahaya rasa
permusuhan horizontal antara berbagai kelompok bangsa. Kepada orang semacam
ini, kiranya bisa dijelaskan bahwa, sebenarnya, rasa permusuhan ini sudah
ada selama ini, tegasnya sudah sejak 30 tahun lebih. Ini kelihatan jelas
dari kenyataan bahwa sejumlah besar sesama ummat manusia, atau sesama
warganegara Republik Indonesia, telah begitu lama didiskriminasi, bahkan
diperlakukan secara tidak manusiawi, oleh sebagian masyarakat lainnya.

Kepada orang semacam ini perlulah dijelaskan, bahwa justru karena adanya
rasa permusuhan inilah, maka perlu bagi para korban pembunuhan 65/66 (dan
para ex-tapol) untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang mereka hadapi
selama ini, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa permusuhan itu. Perlu
jelas bagi semua fihak bahwa indoktrinasi salah Orde Barulah yang
menyebabkan terjadinya, bahkan dipupuknya, rasa permusuhan itu. Indoktrinasi
ini telah membikin berbagai golongan dalam masyarakat menjadi ikut-ikutan
membuta-tuli terhadap berbagai macam pelanggaran hak asasi manusia, yang
begitu besar skalanya dan dilakukan dalam tempo begitu lama pula.

Kiranya, bisa diduga pula bahwa tentu ada juga orang yang mengatakan bahwa
suara-suara para korban pembunuhan besar-besaran dan ex-tapol akan
membahayakan negara dan persatuan bangsa, menimbulkan keonaran, mengobarkan
kontradiksi, dan tetek-bengek lainnya. Menghadapi tuduhan semacam itu,
seyogyanyalah kita cermati dengan teliti (kita _litsus_, sinisnya)
bagaimanakah sikap orang semacam itu selama Orde Baru dan bagaimana pula
terhadap politik Gus Dur sekarang. Sebab, besar kemungkinan, bahwa bahaya
bagi negara dan persatuan bangsa justru datang dari fihaknya atau
golongannya!

Adalah logis bagi orang yang bernalar sehat, bahwa para korban pembunuhan
besar-besaran 65/66 dan para ex-tapol pada pokoknya adalah pendukung
politik Gus Dur. Sebab, mereka ini sudah puluhan tahun menderita oleh
perlakuan yang tidak manusiawi selama Orde Baru, yang berbentuk berbagai
pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Sedangkan, politik Gus Dur
adalah persatuan nasional, adalah rekonsiliasi, dan adalah hak asasi
manusia. Jadi, jelaslah kiranya, bahwa berkumandangnya suara para korban
pembunuhan besar-besaran 65/66 dan para ex-tapol tidaklah mungkin
membahayakan negara dan bangsa, yang sekarang dipimpin oleh Gus Dur. Justru
sebaliknya!

Mengingat itu semua, maka dapatlah kiranya disimpulkan bahwa suara para
korban pembunuhan besar-besaran 65/66 dan para ex-tapol adalah positif untuk
menegakkan demokrasi, untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia, untuk
menegakkan hukum dan perasaan keadilan, untuk memberantas sisa-sisa pola
berfikir Orde Baru.

- - - -
-
*) Sampai September 1965, menjabat sebagai Pemimpin Rdaksi suratkabar
Ekonomi Nasional (Jakarta), anggota pengurus PWI-Pusat, anggota Sekretariat
Persatuan Wartawan Asia-Afrika (di Jakarta dan kemudian di Peking). Sekarang
tinggal di Paris.
Alamat E-mail : kontak@club-internet.fr

----- End of forwarded message from PERSO -----

---
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH OLD POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com>
---