[INDONESIA-VIEWS] BOY - Tommy "The Untouchable" Winata

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon May 01 2000 - 15:26:09 EDT


From: "boy s" <boyos2000@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: TOMMY "THE UNTOUCHABLE" WINATA
Date: Mon, 01 May 2000 17:21:53 JAVT

TOMMY "THE UNTOUCHABLE" WINATA

        ''Karenanya, saya minta agar kapal itu disita dan saya perintahkan
Jaksa Agung Marzuki Darusman agar menangkap Tommy Winata karena melanggar
hukum.'' Demikian ungkap Gus Dur dengan serius pada acara dialog supremasi
hukum yang diselenggarakan SCTV Senin 24/4/2000 lalu. Pasalnya, presiden
menerima laporan bahwa Tommy Winata mengoperasikan sebuah kapal laut yang
ditambatkan di pulau Ayer kepulauan seribu digunakan untuk berjudi.

        Reaksi menanggapi ungkapan Gus Dur ini langsung bermunculan.
Reaksi pertama tentu saja muncul dari Tommy Winata. Tommy langsung
memberikan klarifikasi ke Kejaksaan Agung bahwa dirinya sama sekali tidak
terlibat dalam perjudian di kapal pesiar di pulau Ayer. Berdasarkan
klarifikasi ini, esok harinya Jaksa Agung Marzuki Darusman langsung
memberikan laporan bahwa kapal itu memang bukan milik Tommy. Bahkan
Marzuki melanjutkan bahwa berdasarkan catatan yang diterima Kejagung,
kapal itu adalah milik Sugeng Pranata. Meksipun Jaksa Agung sudah
mengklarifikasikan, bahwa yang mencukongi judi di atas kapal terapung di
perairan Pulau Seribu, bukan Tommy Winata, namun pihak Mabes Polri melalui
Kadispenum Brigjen (Pol) Saleh Saaf tetap mengatakan Tommy sebagai pemilik
kapal Prince berbendera Canada yang dipakai berjudi tersebut.

Bagaimana reaksi Gus Dur? Anehnya, Gus Dur pun mau mengakui bahwa data
yang dia sampaikan soal Tommy itu salah. ''Kemarin, ada kekeliruan atas
laporan yang masuk kepada saya sehingga saya harus memerintahkan
pengejaran terhadap Tommy,'' demikian kilah Gus Dur kepada wartawan di
Istana Negara. Jadi? Ya, Tommy lolos.

        Sebenarnya sudah banyak orang yang menebak, saat masalah Tommy
Winata ini dimunculkan oleh Gus Dur, akan berakhir dengan kemenangan
Tommy. Apa pasal? Karena Tommy Winata bukan orang biasa. Siapa sebenarnya
Tommy Winata alias Oe Suat Hong ini?

Dia adalah pengusaha sukses asal Bandung dikenal kuat sejak era Soeharto
dulu. Tommy adalah bos Grup Artha Graha yang dikenal dekat dengan Ketua
Umum PKP Edi Sudrajat. Pertemanan mereka saat Edi menjadi KSAD dan
berlanjut hingga sekarang. Saat itu, Tommy mendapat kepercayaan penuh dari
Edi untuk mengoptimalkan Yayasan Kartika Eka Paksi. Itulah sebabnya Tommy
disebut-sebut menekuni bisnis yang banyak memiliki jaringan dengan
militer. Lihat saja Bank Arta Graha, sejumlah sahamnya juga dimiliki
beberapa jenderal purnawirawan. Salah satunya tentu saja Edi Sudrajat,
karibnya.

Jaringannya dengan TNI AD itu sudah dimulai sejak 1974. Awalnya, jebolan
SMPN VI Jakarta itu mengikuti salah satu pengusaha, Herry Kusnady, di
Kalimantan. Kebetulan, Herry punya usaha memasok barang-barang keperluan
ke kodam-kodam. Di sinilah Tommy mulai berkenalan dengan perwira-perwira
Angkatan Darat. Hasilnya, Tommy juga dipercaya untuk memasok barang-barang
kebutuhan kodam. Selain itu, dia dipercaya membangun barak-barak asrama
militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Karena proyek-proyek yang
ditangani Tommy sukses, akhirnya banyak perwira TNI yang tertarik
kepadanya.

Tommy memang dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Pada usia 40
tahun, dia sudah masuk jajaran pengusaha papan atas. Soalnya, sekitar 60
perusahaan berhasil dia genggam. Itulah yang menyebabkan Tommy Winata pada
1995 tercatat sebagai pembayar pajak perorangan terbesar.

        Perjalanan bisnis Tommy Winata dari dulu hingga sekarang penuh
dengan noda lumpur dan tetesan darah. Bagaimana tidak, dia selalu
menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingannya. Banyak sesama
pengusaha yang berbenturan dengannya selalu kalah di pengadilan. Tommy
selalu mengandalkan bekingnya dari kalangan militer untuk menakut-nakuti
lawan atau pesaing bisnisnya. Itulah sebabnya banyak pengusaha yang
memilih menghindar jika harus berhadapan dengan pengusaha yang satu ini.
Banyak sudah yang menjadi korban keganasan permainan bisnisnya.

        Contoh kasus, kelompok Gunung Agung pernah mencicipi kebuasan
Tommy Winata. Tommy mencaplok Bank Artha Prima secara tidak sah dari
tangan PT Gunung Agung dan menjebloskan sejumlah pengurusnya ke penjara.
Semua itu menurut versi Gunung Agung, dilakukan Tommy yang berkolusi
dengan Bendahara Yayasan Dharmais, Hedijanto. Kronologi pencaplokan itu
sebagaimana versi Gunung Agung, diawali pada Juli 1995 ketika Gunung Agung
(GA) menjual Bank Artha Prima (BAP) kepada PT Jagata Primabumi (JP) milik
Hedijanto. Transaksi itu tidak dilakukan secara tunai tetapi JP sepakat
membayar hutang GA kepada pihak ketiga maupun kepada BAP senilai Rp 512
miliar. Rupanya, Hedijanto ternyata tak membayar hutang GA sebagaimana
yang telah disepakati. Bahkan, Hedijanto pun tak mampu menyuntikan dana
segar ke BAP. Anehnya, Hedijanto tidak menyerahkan kembali BAP ke GA
selaku pemilik lama, tapi justru menyerahkan ke Bank Indonesia (BI) pada
15 Oktober 1996. Kemudian pada awal 1997, Direktur Bidang Perbankan BI,
Hendrobudijanto memilih Tommy Winata sebagai investor baru BAP. Sementara
proses berlangsung, 7 mantan pengurus BAP diciduk dan dicebloskan ke
tahanan polisi. Tuduhannya telah membobol BAP senilai Rp 1,2 triliun.
Selama di tahanan itulah, para pengurus BAP itu dipaksa meneken sejumlah
dokumen dan akte notaris, yang isinya sangat menyudutkan GA. Salah satu
akte tersebut menegaskan bahwa hutang-hutang GA, yang pada 1995 disepakati
akan dilunasi JP sebagai harga juga BAP, kembali menjadi beban GA sendiri.
Dan pada 27 Agustus 1997, 35.000 lembar saham BAP secara resmi diambil
alih oleh tiga perusahaan milik Tommy Winata dengan harga yang mencolok
rendah, yakni Rp 1 per lembar saham. Dengan demikian, aset BAP senilai Rp
500 miliar dibeli Tommy Winata hanya dengan Rp 35 ribu saja. Dan hebatnya
lagi, setelah BAP dikuasai Tommy, BI mengucurkan BLBI senilai Rp 1,2
triliun. Adnan Buyung Nasution yang menjadi pengacara BAP mengatakan bahwa
Tommy itu boleh dikatakan "kebal hukum" karena kedekatannya dengan
Soeharto. Begitu juga dengan Hedijanto yang merupakan kroni dekatnya
Soeharto. Bahkan Buyung menambahkan bahwa kasus ini adalah contoh hukum di
Indonesia yang bisa digunakan untuk menghancurkan lawan bisnis. Kelanjutan
kasus sudah bisa ditebak, Tommy masih mulus dan belum diapa-apakan sampai
sekarang.

        Kasus lain yang menimpa lawan-lawan bisnis Tommy diantaranya
Effendi Ongko, 62 tahun, pemilik Surabaya Indah (Go Skate) dan mantan
komisaris utama Bank Majapahit. Ia mengaku diculik dan disiksa oleh oknum
ABRI. Kisahnya berawal dari kasus Bank Umum Majapahit (BUMJ). Pimpinan
cabang BUMJ Surabaya, Lody Djunaidi yang juga menantu Effendi bersama
koleganya Lilis Dian Anggraini, mengeluarkan warkat fiktif BUMJ. Warkat
sebesar Rp 25,5 miliar, dan masing-masing diserahkan kepada Tommy Winata
(komisaris Bank Artha Graha) Rp 16,2 miliar, dan Suryo Pranoto (BCA) Rp 9
miliar. Katanya, warkat itu untuk jaminan meminjam uang kepada Bank Artha
Graha dan Bank BCA. Ternyata kedua bank tersebut tahu, bahwa jaminan
deposito tersebut palsu. Mereka merasa dirugikan. Mereka tahunya resiko
ini yang menanggung saya. Padahal Effendi sudah tak berada di BUMJ karena
BUMJ telah kolaps. Dan asetnya telah dijual kepada Forum 37 Plus. Akhirnya
Effendi datang ke Bank Artha Graha, untuk menjelaskan masalah tersebut.
Malam hari saat Effendi masih di bank tersebut, tiba-tiba dia dijemput dua
preman yang berperawakan tegap. Lantas Effendi dibawa ke Jalan Kramat V
Jakarta Pusat, dan ditahan Dan Intel Kodam Jaya hingga 26 Desember 1990.
Selama di tahanan Effendi mengaku diperlakukan tak sewajarnya seperti
disetrum dan dipaksa telanjang dan berdiri di atas satu kaki. Setelah
beberapa waktu ditahan, akhirnya Effendi dikeluarkan dan dipaksa untuk
menandatangani jual beli saham Gedung Pertokoan Wijaya Jalan Bubutan, yang
asetnya Rp 55 miliar, sebagai kompensasi mengganti deposito palsu itu.
Selain itu Effendi Ongko juga dipaksa mengaku telah menerima uang sebesar
Rp 35,7 miliar, sebagai kompensasi mengganti deposito palsu itu. Padahal,
sungguh hingga sekarang uang itu tak pernah saya terima. Saya baru tahu,
kalau pengalihan kepemilikan Pertokoan Wijaya tidak diatasnamakan Bank
Artha Graha dan BCA, tapi atas nama Tommy dan Suryo pribadi.

        Bukan hanya Effendi Ongko yang pernah menjadi korban Tommy Winata.
Masih ingat Hartono? Pengusaha yang menyediakan wanita-wanita penghibur
kelas atas ini juga pernah mencicipi kelicikan Tommy Winata. Mau tahu
ceritanya? Hartono Setyawan nama lengkapnya. Dia memang terkenal dengan
keberhasilannya dalam bisnis esek-esek. Konon "ayam-ayamnya" yang berharga
1 sampai 3 juta ini khusus untuk golongan high class. Hartono kemudian
berambisi melebarkan sayap bisnisnya sampai ke Bali. Lalu dengan proyek
ambisiusnya dibangunlah kompleks hiburan dengan nama Planet Bali. Pada
awalnya ia tidak bekerja sama dengan Bank Artha Graha, tetapi dengan Bank
Tamara. Hartono utang Bank Tamara Rp 6 miliar untuk mendirikan Planet
Bali. Jaminan utang Rp 6 miliar itu adalah empat sertifikat tanah dan
tempat bisnis Hartono di Surabaya, Semarang, Batam, dan Jakarta. Hartono
punya hotel bintang tiga, Puri Garden, di Semarang. Karena kreditnya
macet, utang Hartono yang Rp 6 miliar itu diambil alih Bank Artha Graha.
Setelah utangnya berada di Artha Graha, Hartono sempat menyumbang Rp 500
juta untuk Yayasan Artha Graha. Hartono mulai curiga, sejak Planet Bali
jalan banyak gangguan menghadang. Tommy berusaha mencegah Planet Bali
dibuka. Tapi, kemudian ternyata berhasil grand opening, 8 Agustus (1997)
yang dipimpin langsung Pak Bupati Badung (I Gusti Bagus Alit Putra).
Sebelum tiba acara grand opening, Hartono mencurigai akan ada sabotase. Ia
pun minta bantuan aparat untuk memerintahkan anak buahnya mengawasi dua
genset. Ternyata genset-nya tetap jebol dua kali. Kemudian, telepon juga
jebol (macet) delapan kali kata Hartono. Hartono menduga, Tommy berambisi
mengambil alih Planet Bali. Tetapi, Hartono berusaha bertahan karena
Planet Bali dianggap sebagai karya yang diimpikannya dan semua miliknya
dicurahkan di sana. Tapi, Tommy bisa memegang pejabat siapa saja di Bali.
Ketika akhirnya Planet Bali terpuruk atas penutupan Pemda Badung dan
polisi, Hartono berusaha meminta bantuan Artha Graha untuk membereskan
tagihan pemasoknya. Bukannya dibantu, malah halaman Planet Bali diberi
rantai. Lalu Tommy malah minta semua kunci Planet Bali, tapi tidak saya
beri. Setelah Hartono menolak, Artha Graha malah mengklaim seluruh yang
ada di Planet Bali dalam pengawasannya karena dianggap bagian dari jaminan
kredit. Tentu saja pemasok barang-barang isi Planet Bali yang belum
terbayar jadi kaget. Pemasok berusaha datang ke Artha Graha (Denpasar)
minta penjelasan. Artha Graha malah mengundang polisi.

        Tommy Winata memang bergelimang uang dari hasil bisnis kotornya.
Harian Kompas 7/2/2000 pernah melaporkan bahwa Tommy Winata, telah
memberikan sumbangan secara ilegal senilai 200.000 dollar AS bagi kampanye
Presiden AS Bill Clinton. Tokoh penghimpun dana kampanye Charlie Trie,
kepada Biro Penyelidik Federal (FBI) AS, mengaku, sebagian dari donasi
ilegal yang diberikannya kepada Partai Demokrat (partai dari mana Clinton
berasal), adalah berasal dari pengusaha ini. Tommy disebutkan berusaha
bertemu secara pribadi dengan Clinton. Dalam pernyataan Trie yang
dituangkan dalam laporan ringkas FBI sepanjang 47 halaman, disebutkan,
Tommy mengirim uang tersebut dalam bentuk travelers check kepada Trie,
pada waktu yang sama dengan saat ia (Tommy) mengajukan permohonan untuk
bertemu dengan Clinton secara pribadi.

        Bukan itu saja, ambisi Tommy untuk menjadi orang nomor satu di
jagad bisnis Indonesia terus dilakukan. Langkah Tommy selanjutnya adalah
dengan mengambil alih mobil Timor. Jawa Pos menurunkan laporan, ternyata
sisa stok mobil Timor sejumlah 14.177 unit yang kini mangkrak di lokasi
pabrik Cikampek, Jabar, sudah dibeli oleh PT Sumber Auto Graha (SAG) salah
satu anak perusahaan Artha Graha. Dengan pembelian itu, kini sisa mobil
Timor tersebut bukan lagi milik Tommy Soeharto. Alasan SAG memborong semua
Timor ini, tak lain, masih terbukanya pasar bagi Timor di masyarakat.
Harganya, dalam kondisi bisnis otomotif yang lesu sekarang, bisa menjadi
pilihan utama karena terjangkau. Ambisi Tommy Winata untuk menguasai
bisnis otomotif ini adalah dengan dengan mendirikan PT KIA Motor Indonesia
(KMI) bekerja sama dengan KIA Motor Corp. Jelas, Tommy Winata ingin
melanjutkan ambisi Tommy Soeharto untuk membangun mobil nasional.
Didudukkan sebagai komisaris utama di PT KMI adalah Jendral AM
Hendropriyono. Ini menjadi salah satu bukti kedekatan Tommy dengan
militer.

Tommy Winata disinyalir juga terlibat dalam kasus 27 Juli. Menurut laporan
tim investigasi TEMPO, penyerangan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro
sebelumnya dikonsentrasikan di Gedung Artha Graha milik Tommy. Bersama
dengan Yorries Raweyai dan Alex Widya Siregar, mereka menggerakkan massa
di pagi buta menuju jalan Diponegoro. Berkali-kali massa PDIP
berdemonstrasi maupun Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menuntut agar
Tommy Winata ikut diseret ke pengadilan dalam kasus 27 Juli ini, namun
sampai saat ini Tommy masih aman-aman saja.

        George Junus Aditjondro dalam papernya yang berjudul "Gajah lawan
Gajah Berlaga Orang Maluku Mati di Tengah-Tengah", mengungkapkan bahwa
konflik di Maluku dipicu dan terus diberi amunisi sejumlah provokator yang
diduga dibiayai keluarga dan sejumlah kroni Soeharto. Menurut George
Junus, kroni Soeharto yang turut mendanai konflik Maluku ini adalah Eka
Cipta Widjaja, Prajogo Pangestu dan satunya lagi adalah Tommy Winata.
Tommy memiliki bisnis besar di Maluku. Ia adalah seorang pemegang saham
perusahaan perikanan PT Ting Sheen Bandasejahtera bernilai investasi AS$
200 juta, yang direncanakan dapat menangkap 2,5 juta ton ikan setahun.
Armada kapal ikan yang berpangkalan di Desa Ngadi, Tual, ini berkongsi
dengan Bambang Trihatmodjo dan sebuah perusahaan Taiwan. Keyakinan George
Junus akan keterlibatan Tommy adalah, mengingat kerusuhan di seluruh
Maluku diawali 15 s/d 17 Januari 1999 di Dobo (Kec. PP. Aru), dan pada 31
Maret 1999 kembali ke Tenggara, yakni di kota Tual (Kei Kecil) dan pada
tanggal 6 April 1999 telah melebar ke Kei Besar.

        Panjang memang perjalanan bisnis Tommy Winata. Sikut sana sikut
sini untuk mematikan lawan bisnisnya. Menjilat penguasa untuk
melanggengkan kerajaan bisnisnya. Namun anehnya sampai saat ini Tommy
masih dapat berleha-leha di kantornya di kawasan niaga Sudirman. Entah
kenapa Tommy tidak pernah tersentuh oleh aparat. Padahal dia salah satu
debitor kakap yang mengemplang dana BLBI sebesar 1,2 triliun. Banyak juga
yang tahu bahwa bisnis Tommy yang paling terkenal adalah perjudian dan
obat-obatan terlarang. Menurut Anton Medan, seperti dikutip tabloid Detak
edisi 92, Mei 2000, Tommy-lah yang sebenarnya menjadi tokoh kunci cukong
judi Kelompok Sembilan, yang anggotanya antara lain Arie Sigit, Yorries
Raweyai dan Edi "Porkas" Winata. Kerajaan bisnis haram kelompok ini
membentang dari lokasi judi liar di pertokoan Merlin, Jalan Ketapang,
Jalan Kartini hingga lokasi perjudian di beberapa kapal pesiar. Tempat
perjudian paling besar di Jalan Kunir konon omsetnya mencapai ratusan
milyar rupiah dalam satu hari. Namun aneh, hingga kini Tommy tak pernah
disebut sebagai sang cukong. Tommy tetap untouchable. Jawaban sederhana
yang muncul dari keanehan ini adalah Tommy pasti dibekingi orang kuat.
Siapa orang kuat itu?

        Tidak tanggung-tanggung, dulu, waktu Soeharto masih berkuasa,
jelas Tommy ada di balik punggung mantan orang nomor satu selama 32 tahun
ini. Bisnisnya banyak melibatkan kalangan militer saat itu dan juga tentu
saja dengan anak-anak Soeharto. Kedekatan Tommy dengan Yorries Raweyai
ditengarai sebagai modal bagi Tommy untuk menggunakan tenaga tukang pukul
dalam menghabisi atau menakut-nakuti lawan bisnisnya. Di era Habibie,
Tommy Winata bersama Sofjan Wanandi memang sempat dikenai cekal, namun
hingga saat ini, kasus-kasusnya belum juga diusut apalagi diadili.

Itulah sebabnya saat Presiden Gus Dur memerintahkan Jaksa Agung untuk
menangkap Tommy Winata berkaitan dengan kapal yang dipakai untuk berjudi,
banyak orang yang menebak, Tommy akan lolos lagi. Ternyata benar. Hanya
sehari setelah perintah Gus Dur, Marzuki Darusman langsung memberikan
pernyataan bahwa Tommy bukan pemilik kapal itu. Anehnya, Gus Dur yang
biasanya keras kepala dan selalu mempertahankan pendapatnya, juga
ikut-ikutan meralat dan bahkan mau menyatakan bahwa ia salah mendapat
informasi.

Gubernur DKI Sutiyoso juga mengaku tidak kaget ada praktek perjudian baik
di kapal yang berlabuh di lepas pantai Jakarta maupun di Pulau Ayer di
Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Persoalannya, pemda tidak kuasa
menertibkan perjudian itu karena adanya beking kelas kakap. "Siapa yang
berani sama bekingnya itu. Jangan pura-pura tanya siapa beking itu karena
banyak yang sudah tahu," kata Sutiyoso menanggapi kasus perjudian di
kawasan kepulauan seribu.

Dalam kasus perjudian ini bukan ini saja Tommy lolos dari cengkeraman
aparat. Belum lama saat kompleks perjudian di Hotel Prameswari, Cianjur,
Jawa Barat milik Tommy digrebek polisi, Saditserse Polda Jabar Letkol
Tatang Somantri sempat sesumbar akan menagkap Tommy Winata. Tatang
langsung menuding Tommy yang ada dibalik bisnis haram tersebut. Saat
digrebek, petugas berhasil menangkap 31 tersangka yang di antaranya
terdapat Hendra Winata. Polda Jabar memang membawa 31 orang ini ke
pengadilan namun anehnya nama Tommy tetap tidak disebut-sebut lagi.
Majalah Panji Masyarakat edisi Mei 2000 menyebut Tommy telah melakukan
sowan kepada seorang pejabat di Polda Jabar.

Inilah buah yang dipetik Tommy dari hasil kedekatannya dengan militer. Ia
selalu lolos dari kasus-kasus hitamnya. Sampai perintah presiden pun ia
mampu berkelit. Ada apa ini? Ada beberapa analisis kenapa Gus Dur justru
merelakan dirinya mendapat malu dihadapan masyarakat dengan mengatakan
bahwa ia salah mendapat informasi mengenai kepemilikan kapal judi. 1. Gus
Dur tidak berani melawan militer, karena saat ini ia begitu mengharapkan
beking militer untuk mempertahankan kekuasaan dari goyangan sana sini.
Rupanya Gus Dur juga belajar dari Tommy Winata, bahwa kalau mau langgeng,
rengkuh militer. Ini dipakai betul oleh Gus Dur, apalagi perjalanan Gus
Dur ke depan akan penuh dengan demo dan demo. Inilah sebabnya ketika
militer terutama Angkatan Darat meminta Gus Dur untuk tidak menangkap
Tommy, Gus Dur pun manggut-manggut. Ya, Tommy memang dekat dengan Edy
Sudrajat dan akrab dengan KSAD Tyasno Sudarto. 2. Ingat, gaya Tommy dalam
menangani kasus-kasusnya adalah dengan menyuap pihak yang berwenang. Nah,
saat Gus Dur memerintahkan Marzuki untuk menangkap Tommy, ada kabar Tommy
segera mengirimkan sejumlah uang ke Marzuki Darusman sehingga ia yang
pertama kali mengungkapkan bahwa Tommy tidak terlibat. Gus Dur pun tidak
tertutup kemungkinan mendapat puluhan milyar rupiah dari Tommy Winata. Gus
Dur memang sedang butuh uang dalam jumlah besar, kalau tidak, kenapa ia
mengangkat Rozi Munir menjadi mentri paling basah yaitu Menteri PBUMN.
Untuk apa? Jelas untuk membesarkan PKB. 3. Inilah yang paling runyam,
Tabloid Detak edisi 92, Mei 2000 melaporkan, salah seorang kerabat Gus Dur
sendiri terlibat dalam perjudian tersebut. Bahkan kalangan dekat Gus Dur
sedang berkarib-karib dengan Tommy Winata. Tentu saja untuk minta jatah
dari Tommy. Nah, inilah hebatnya Gus Dur, lanjut laporan Detak, perintah
Gus Dur untuk menangkap Tommy Winata adalah cara Gus Dur untuk menampilkan
kesan bahwa Gus Dur tidak punya kedekatan apa pun dengan Tommy Winata.
Alhasil, Gus Dur pun dengan leluasa bisa memenuhi pundi-pundinya dari
hasil perahan mesin uang Tommy Winata tanpa ada gunjingan dari masyarakat.
Aman khan Gus? 4. Tommy Winata punya kedekatan khusus dengan Amerika.
Ingat, ia turut membiayai kampanye Bill Clinton sebesar US$200.000 dan
mengirimkan orang-orangnya untuk membantu tim sukses Clinton. Nah, siapa
yang berani melawan Amerika? Gus Dur sekalipun ciut nyalinya jika harus
berhadapan dengan negara paman Sam ini. Ingat kasus PLN? Ya, Gus Dur
menuruti apa kata Amerika sehingga Dirut PLN Adi Satria mundur. Dalam
kasus perjudian ini, disinyalir Amerika pun turut menjewer Gus Dur kalau
Tommy Winata sampai diapa-apakan apalagi sampai lecet. Gus Dur jelas
takut.

Nah, dari beberapa analisis di atas, jelas pilihan Gus Dur adalah
mengamankan Tommy Winata. Walaupun Kadispenum Mabes Polri, Brigjen Pol
Saleh Saaf tetap bersikeras bahwa pemilik kapal judi itu adalah Tommy
Winata. Jadi harapan masyarakat untuk melihat penegakan hukum di bawah
pemerintahan Gus Dur sia-sia belaka. Gus Dur tetap mengabaikan hukum. Jadi
Gus Dur juga bukan reformis.

----- End of forwarded message from boy s -----

---
Lifetime _email_ subscription to all 5 (five) lists now available for a
one-time donation of US$250 to support Indonesia Publications' online
projects. Email apakabar@radix.net to make all arrangements.

INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives> INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives> INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives> INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives> INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>

SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html> SEARCH OLD POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>

RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com> ---