HIDUP: Bagai Kertas Layang-layang
dari majalah HIDUP: No. 20 Tahun LIV 14 Mei 2000
-----------------------------------------------------
Surat-suratnya seperti halaman sebuah surat kabar, melewati kegelapan
menuju terang ...
SOSOK Pramoedya Ananta Toer tidaklah asing buat masyarakat Indonesia.
Kepopuleran Pramoedya dalam berbagai karya tulis, khususnya novel, telah
mengantarkannya ke puncak popularitas sastra kelas dunia. Sejumlah gelar
disandangnya, kebanyakan dari luar negeri. Sebuah ironi bagi bangsanya
sendiri. Sederet karya telah ia ciptakan dan diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa.
Mengisahkan Pramoedya - keluarga dan pengalaman hidup mereka yang
dibelenggu kesemena-menaan penguasa -. sejenak kita melihat apa yang
ditulis Czeslaw Nblosz, penulis Polandia. Milosz mendeskripsikan manusia
dan bangsa Polandia dalam buku nya The Captive Mind (Yang Terpasung).
Czeslaw mengingatkan kita, hilangnya kebebasan manusia berarti manusia
sendiri telah jatuh. Maka menurutnya, betapa nyeri nya proses
penyesuaian diri para intelektual
dan seniman terhadap konsepsi kekuasaan totaliter di negara-negara Eropa
Timur, yang jatuh ke dalam orbit kekuasaan Uni Soviet setelah Perang
Dunia. Padahal negara-negara Eropa Timur itu dulunya adalah
bangsa-bangsa yang bebas, dan nasionalisme mereka sendiri yang kuat dan
teguh seperti Polandia,, Hongaria, Cekoslowakia, dsb.
Menengok ke belakang, pada tahun 1965 sampai tahun 1998, 34 tahun masa
jaya kediktatoran rezim Orde Baru,.kita seolah dibuat tak berkutik,
seakan begitu pasrah dan menyerahkan diri pada suatu kekuasaan
totaliter. Saat itu, di Indonesia terjadi pergulatan konsep-konsep
totaliter dalam berbagai bentuk yang sangat represif. Bukankah
masyarakat yang demokratis yang kita cita-citakan bersama adalah jauh
lebih manusiawi, dan memiliki peluang untuk memperbaiki tata cara
masyarakat yang lebih bermartabat, berkemanusiaan?
Pramoedya, sosok yang sama, beberapa pekan terakhir ini menjadi topik
perhatian media massa. Sebagai seorang korban G30S/PKI, Pram menolak
keras permintaan maaf Presiden Ous Dur atas malapetaka nasional itu.
Menarik garis sejarah ke belakang, figur Pram justru semakin mudah
dipahami, termasuk memaharm mengapa ia justru menolak permintaart maaf
itu. Gus Dur mengusulkan pencabutan Tap XXV/MPRS/1966 tentang larangan
ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Tap ini seakan mengunci
seluruh proses sejarah kegelapan. Maka bisa dimaklumi kalau ekses
keterkatupan itu menimbulkan semacam trauma demikian mendalam. Seakan
memblokade semua hak yang mesti diperoleh dan dinikmati semua warga
masyarakat bangsa Indonesia tanpa kecuali. Korban peristiwa itu seolah
tak layak lagi hidup di Indonesia. Tap yang seolah melegitimasi stigma
traumatis itu.
Sejarah, kata Pramoedya Ananta Toer, adalah urutan logis. Logika sejarah
ia yakini masih menjanjikan bahwa masa depan Indonesia bisa dibangun
sekadar sebagai jembatan atau rumah modern. Sejarah adalah pengalaman,
pengalaman terhadap sebuah aliran waktu lampau, kini dan nanti. Pram,
menganut ideologi waktu dalam tiga dimensi: kemarin, hari ini adalah
esok. Itulah Harapan dan optimismenya: "Ada sebuah tanah indah (happy
land) di suatu tempat... sebuah simbol universal masa depan .... .. kata
Pram.
Bagi Pramoedya, Pulau Buru adalah bagian dari sejarah itu. Selama empat
belas tahun, ia terpaksa menjadi salah satu penghuni kamp tapol G30S/PKI
korban kekejaman rezim otoriter Orde Baru. Sebagai sebuah postulat
sejarah, Pulau Buru bagi Pram analog dengan tersumbatnya ingatan.
Beberapa bulan pertama ketika menghuni kamp Buru, ia kesulitan menghafal
nama anak-anaknya: 3 orang anak dari istri pertama dan 7 orang anak dari
istri k,eduanya Maemunah, putri Betawi.
Di Pulau Buru itu pula pemahaman Pram terhadap logika sejarah seolah
paradoks serba terbalik. Aliran waktu baginya seolah bukan merupakan
tali temali, mata rantai kemarin, kini, dan esok Ialu menguap d udara.
Bagi Pram, waktu bukanlah sebuah konstruksi tentang sejarah kehidupan
umat manusia. Tapi itu tidak berarti Pram skeptis. Masa depan baginya
tetap terbentang luas di hadapannya, meski harus berbenturan langsung
dengan keadaan macam ini.
Ia amat optimis terhadap masa depan. Sangat menyenangkan untuk
membayangkan dirinya hidup. Pram hidup di hari-hari yang majemuk dalam
perhitungan multi-majemuk. Pram, seperti umumnya generasi Indonesia
modem sebelumnya, masih percaya sejarah mulai dalam 'waktu pra-logika'
Ialu bergerak, 'sepanjang sejarah menuju masa perbudakan, masa feodal,
masa kolonia dan sekarang ini, "masaku sendiri."
"Masa" Pulau Buru mempunyai kualitas tertentu bagi Pram. Berbeda dengan
rekan rekan sesama tapol, Pram justru sangat produktif.. Banyak karya
yang dihasilkan dalam pengasingannya itu. Hari harinya selama di kamp
Buru penuh dengan rutinitas menulis. Semua karyanya ia tulis dalam
suasana serba sulit.
Rasa keterasingan, jauh dari kekerabatan dan kekeluargaan, kasih sayang
antara anak orangtua terkadang menjarakkan perasaan hati Pram dengan
keluarganya di Jakarta
Ketujuh anaknya yang ia tinggal masih kecil-kecil ketika ia ditangkap
tentara, 13 Oktober 1965. Sungguh suatu jarak batin yang membelenggu
nuraninya. Maemunah (61) istri kedua yang ia nikahi tahun 1955, tepat
sepuluh tahun ketika ia ditangkap, harus tabah menentang arus stigma
masyarakat yang sudah terlanjur mendiskreditkan mereka sebagai orang
PKI. Orang yang tidak layak hidup di bumi Indonesia ini.
"Sebagai istri, saya harus tegar menghadapi tekanan batin, ocehan, dan
cemoohan masyarakat. Pahit memang pengalaman itu. Tapi, perasaan itu
harus bisa saya simpan sendiri. Tidak saya tunjukkan kepada anak anak,"
ungkap Maemunah.
Meski Pulau Buru adalah sebuah kamp di mana semuanya terbatas, Pram
justru menganggapnya bukan masalah. Aktivitasnya menulis terus saja
berjalan. Menulis apa saja. Menulis novel dan surat untuk keluarganya di
Jakarta. Suatu ketika, pada tahun ketujuh dalam pembuangannya di Pulau
Buru, Pram menulis surat kepada anak-anaknya: "... dengan akal sehatku,
aku memahami situasi, aku dalam keadaan terbatas." Terali yang
memenjarakannya merupakan alam. Pengalaman ini merupakan penjara alam
dalam suatu cekungan yang dikitari tembok hutan belukar, perbukitan yang
sambung menyambung sebelah utara, barat, selatan, dan di lautan di
sebelah timur.
Surat kasih sayang
Bagaimanapun juga Pramoedya tetap Pramoedya Ananta Toer. Seorang ayah
yang mempunyai kasih sayang bagi sang istri dan anak-anaknya. Jarak
bukanlah batas. Dan batas bukanlah jarak yang memisahkan batin..
Sebagai ayah, Pram berusaha untuk tetap memberi kehangatan kepada
anak-anaknya. la sadar betul, tidaklah mudah untuk bisa menggantikan
kehadirannya. Oleh karena itu, sejauh dapat ia tetap berusaha untuk
menjadi seorang ayah yang baik. 'Memberi nasihat, membimbing, dan
menuntun untuk di kemudian hari menjadi orang baik dan berguna. "Engkau
belum mempunyai teman pria, bukan? Engkau masih.terlalu muda untuk pergi
sendirian. Untuk hal seperti itu, engkau harus lebih dulu meminta izin
ayah atau ibu. Jangan sembunyi-sembunyi. Engkau harus selalu jujur pada
orangtuamu. Cium untukmu!" kata Pram mengutip surat yang pernah ia kirim
untuk putrinya selama pembuangannya di Pulau Buru.
Dialog batin, komunikasi 'kasih sayang' jarak jauh hanya bisa
dideskripsikan melalui surat-menyurat, meski harus ekstra hati-hati
menghindari sensor para tentara. Disadarinya pula, tidak semua surat
mendapat balasan. Pram berkisah, suatu ketika putrinya menulis surat
kepadanya: 'Teman-teman mengatakan bahwa ibu tetap kelihatan muda. Tapi
mengapa engkau begitu berubah? Engkau menjadi jauh lebih dewasa. Aku
tidak bisa mempercayai betapa cepat semuanya ini.
Bagaimana bisa engkau menjadi begitu dewasa?" Kegundahan hati, kerisauan
nalar adalah hantu pikiran para tapol. Sejumlah pengalaman telah menjadi
bagian dari sejarah hidupnya, sejarah hidup anak-anak yang ia cintai.
Belasan tahun mereka seolah mendekam dalam sebuah kurungan stigma
negatif masyarakat. Toh kedewasaan, kesabaran, dan kebesaran hati telah
mendidik mereka menatap masa depan lebit baik.
Bagi Pram, senja hidupnya ia rasakan bagai melayang tanpa jelas
garis-garis batas wujudnya seperti lintah darat sedang menempuh jarak.
Dan rangsang hidup kembali dan kembali berbunyi seperti piringan hitam
His Master's Voice: Tiga puluh tahun lagi Pram, tiga puluh tahun lagi.
Pram memang berada di pengasingan di masa komunikasi tanpa kabel, tanpa
internet, tanpa e-mail, tanpa komputer, namun tembok tidak menjadi
penghalang. Meskipun diberi duri tidak lagi dibutuhkan untuk menjaga
sebuah negara, atau seorang manusia untuk menyatu. Surat-suratnya
seperti halaman sebuah surat kabar: melewati kegelapapan menuju terang,
bak kertas layang-layang maka terbanglah mereka ke alam bebas, sebuah
tanah indah di suatu tempat...
Bona Beding,
dari berbagai sumber
----------------------------------------------------------
sent by : RMSS
----- End of forwarded message from Raden Mas Soerjadi Soemodiwirio -----
--- Place your advertisement here and reach approximately 200,000 readers. Up to five lines of ascii text. US$200 for one week. Ad will appear in all postings on INDONESIA-NEWS, INDONESIA-VIEWS, and INDONESIA-L. Advance payment by credit card required. Email payment info and ad text to apakabar@radix.net. ---