[INDONESIA-L] A. UMAR SAID - Suharto Terlibat G30S

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun May 14 2000 - 15:30:52 EDT


Buku Pleidoi (pidato pembelaan) Kolonel A. Latief :
S U H A R T O T E R L I B A T G _ 3 0 S

(Oleh : A. Umar Said)

Barangkali, dari berbagai buku-buku penting yang akhir-akhir ini diterbitkan
di Indonesia, buku dengan judul _Pleidoi Kol. A. Latief : Soeharto terlibat
G30S_ adalah salah satu di antaranya yang patut -- bahkan, sangat perlu
!!! -- mendapat perhatian kita semua. Sebab, terbitnya buku ini bukan saja
merupakan sumbangan bagi kita semua untuk bisa lebih mengenal berbagai hal
tentang peristiwa besar yang terjadi dalam tahun 1965 itu, melainkan juga
tentang peran yang dipegang oleh Suharto di dalamnya, tentang komplotan
untuk menggulingkan Presiden Sukarno, tentang pelanggaran besar-besaran Hak
Asasi Manusia, tentang lahirnya rezim militer Orde Baru, yang selama ini
masih belum sepenuhnya terungkap secara jelas.

Di samping itu, buku ini juga merupakan bantuan bagi kita semua untuk
mendapatkan bahan-bahan atau informasi yang berbeda dari versi resmi yang
selama lebih dari tiga dasawarsa telah disajikan (atau lebih tepat :
disodorkan? dipaksakan?) oleh para penguasa Orde Baru, dan juga segi-seginya
yang sengaja disembunyikan oleh mereka. Karena peristiwa G3OS merupakan
peristiwa besar, maka segala usaha dari FIHAK MANAPUN untuk mencari
kebenaran tentang peristiwa itu sendiri, serta sebab-sebab dan
latarbelakangnya _ dan juga akibat-akibat selanjutnya _ adalah sangat
berguna bagi sejarah bangsa kita.

Diterbitkannya buku ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk berani
mengadakan berbagai langkah, secara bersama-sama, untuk memeriksa kembali
segala persoalan yang berkaitan dengan G30S, demi keadilan, demi kebenaran,
demi kejujuran. Sebab, Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto telah
menjadikan peristiwa ini sebagai dalih untuk melegitimasi berdirinya
diktatur militer (berselubung), yang selama lebih dari 32 tahun telah
merusak sendi-sendi Republik Indonesia. Atas dasar peristiwa G30S itulah
telah dibangun rezim militer, yang telah membikin berbagai dosa kepada
rakyat, antara lain : membungkam kehidupan demokrasi selama puluhan tahun,
membunuh jutaan manusia tak bersalah, menyengsarakan puluhan juta orang
keluarga para korban pembunuhan 65/66 dan ex-tapol, memporak-porandakan
nilai-nilai moral, menyebarkan budaya korupsi, menyuburkan perpecahan antara
berbagai komponen bangsa, dan seribu satu kerusakan dan kebobrokan lainnya,
yang akibatnya kita saksikan secara nyata sampai sekarang ini.

SEJARAH YANG SEBENARNYA

Sebenarnya, di berbagai kalangan, baik di Indonesia maupun di luarnegeri,
pleidoi Kol. A. Latief sudah pernah beredar dalam berbagai bentuk. Sekitar
tahun 1979-1980, satu bundel tebal pleidoi ini pernah diselundupkan ke Eropa
lewat seorang. Melalui jaluran yang tidak perlu disebutkan dalam tulisan
ini, pleidoi yang ketikannya jelek dan kabur (karena sudah difotokopi
berkali-kali), telah ditik kembali di satu kota di Eropa dengan mesin-tik
listrik sehingga lay-outnya menjadi lebih bagus dan enak dibaca. Setelah
dicetak dengan offset beberapa ratus eksemplar, bundel pleidoi ini beredar
di berbagai negeri Eropa, dengan judul _Sejarah yang sebenarnya_. Kemudian,
dari berbagai sumber didapat kabar, bahwa sekitar tahun 1980 itu juga,
bundel pleidoi ini juga sudah sampai di tangan berbagai pakar luarnegeri.
Jadi, sejak tahun 1980, pleidoi ini sudah dikenal oleh berbagai kalangan di
luarnegeri _ walaupun terbatas sekali _ baik orang-orang Indonesia maupun
asing, dan telah dipakai sebagai bahan analisa tentang soal-soal yang
berkaitan dengan peristiwa G30S dan berdirinya rezim militer Orde Baru.

Sepanjang yang kita ketahui selama ini, di Indonesia sendiri pleidoi Kol. A.
Latief ini tidak dikenal secara luas dalam masyarakat, kecuali di
kalangan-kalangan tertentu (sejarawan, aktivis Hak Asasi Manusia, sejumlah
LSM, oposan Orde Baru dll). Sebab-sebabnya sudah jelaslah kiranya. Di bawah
kekuasaan Orde Baru, memiliki fotokopi pleidoi Kol. A. Latief, adalah risiko
besar, yang bisa membahayakan keselamatan seseorang. Sebab, isinya penuh
dengan hal-hal yang tidak menguntungkan Soeharto dan para jenderal pendukung
setianya, atau, singkatnya, para penguasa rezim Orde Baru.

Hanya sekarang inilah, ketika Soeharto bersama rezimnya sudah ambruk berkat
perjuangan para mahasiswa dengan dukungan massa luas, maka buku pleidoi ini
bisa diterbitkan dan beredar dalam masyarakat. Yaitu, lebih dari 20 tahun
kemudian setelah pleidoi itu diucapkan. Suatu peristiwa yang jarang terjadi
dalam sejarah dunia modern.

BAGIAN DARI KHASANAH SEJARAH KITA

Munculnya buku pleidoi Kol. A. Latief, yang diterbitkan oleh ISAI dan
redaksinya dipersiapkan oleh ISAI-Hasta Mitra, adalah langkah penting dalam
usaha bersama kita untuk menegakkan kebenaran dan menemukan keadilan seputar
peristiwa G30S beserta buntut-buntutnya yang menyusul kemudian. Patutlah
kiranya dikatakan bahwa buku ini merupakan salah satu bagian yang sangat
berharga dalam khasanah sejarah modern Indonesia. Mengapa demikian ? Hal-hal
yang berikut di bawah ini mungkin bisa kita jadikan renungan bersama :

- Peristiwa G30S adalah peristiwa terbesar - dan terparah - dalam sejarah
Republik Indonesia, dibandingkan dengan serentetan peristiwa-peristiwa
politik-militer yang pernah dialami oleh bangsa kita, umpamanya : DI-TII,
peristiwa Madiun, pemberontakan Andi Aziz, pemberontakan Kahar Muzakkar,
RMS, Angkatan Perang Ratu Adil, PRRI-Permesta dll

- Korban jiwa sebanyak lebih dari satu juta (atau : dua juta? Tiga juta?
Pen.) manusia tidak bersalah, merupakan tragedi nasional yang harus
didjadikan pelajaran bagi generasi-generasi selanjutnya di kemudian hari.
Demikian juga penderitaan puluhan juta orang keluarga para korban pembunuhan
besar-besaran 1965/1966, dan keluarga para eks-tapol.

- Pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto selama lebih dari 30
tahun telah lahir sebagai kelanjutan peristiwa G30S. Oleh karena itu,
berbicara tentang Orde Baru, tidak bisa tidak harus ingat kepada cikal
bakalnya, yaitu G30S beserta akibat-akibatnya.

Mengingat itu semua, maka jelaslah bahwa terbitnya buku pleidoi Kol. A.
Latief _Soeharto terlibat G30S_ merupakan peristiwa yang amat penting,
ketika kita dewasa ini sedang berusaha bersama-sama melepaskan bangsa dan
negara kita dari belenggu Orde Baru, dan ketika kita sedang berjuang untuk
menghilangkan segala borok-borok yang telah membikin kerusakan-kerusakan
begitu dahsyat dalam tubuh bangsa.

Dalam situasi ruwet seperti yang kita hadapi bersama dewasa ini, patutlah
kiranya kita menyambut munculnya buku penting ini dengan mendengar himbauan
atau pesan moral yang terkandung dalam isi buku ini, yaitu : menegakkan
kebenaran dan menjunjung tinggi rasa keadilan. Sebab, seperti yang sama-sama
kita rasakan selama ini, masalah G30S berikut peristiwa-peristiwa serius
yang menyusulnya, masih terus -- sampai sekarang! -- menjadi faktor-faktor
yang menimbulkan pertentangan dan rasa permusuhan di antara berbagai
kalangan atau komponen bangsa. Faktor-faktor perpecahan dan permusuhan (yang
sengaja dipupuk oleh rezim Orde Baru!) itulah yang harus bersama-sama kita
hilangkan, guna tercapainya rekonsiliasi nasional yang kita butuhkan dewasa
ini.

SEJARAH VERSI ORDE BARU PERLU DIREVISI !

Dari segi-segi yang tersebut di atas, kiranya kita bisa melihat pentingnya
pleidoi Kol. A. Latief yang telah diucapkannya dalam tahun 1978 (artinya,
sudah 22 tahun yang lalu). Sebab, dalam pleidoinya itu, ia telah
mengemukakan berbagai hal penting yang berkaitan dengan : peran Soeharto,
watak rezim militer Orde Baru, pelanggaran Hak Asasi Manusia, penggulingan
kedudukan Presiden Sukarno, peran PKI, peran para jenderal Angkatan Darat
waktu itu.

Tetapi, patutlah disadari bersama bahwa pleidoi itu tidak bisa memberikan
penjelasan yang lengkap dan tepat mengenai semua soal yang berkaitan dengan
G30S. Kol. A. Latief telah menyusun pleidoi itu dalam keadaan terkungkung
dalam sel selama belasan tahun, dengan kesehatan yang amat buruk akibat
dahsyatnya siksaan fisik dan moral, tanpa hubungan dengan luar (kecuali
pembela-pembelanya), dan tidak mempunyai fasilitas yang leluasa untuk
mendapatkan bahan-bahan atau dokumentasi secukupnya yang dibutuhkan. Namun,
apa yang sudah dikemukakannya dalam pleidoi itu merupakan karya yang
luarbiasa. Apa yang dikemukakannya itu bisa merupakan titik permulaan untuk
usaha kita bersama dalam meninjau kembali atau meneliti kembali, tentang
kebenaran versi resmi Orde Baru tentang peristiwa G30S. Karena, apa yang
telah dipasarkan kepada masyarakat, atau yang diajarkan dalam
sekolah-sekolah selama lebih dari tiga puluh tahun, adalah sejarah yang
sudah dikebiri, sejarah yang sudah divermak, sejarah yang bopeng-bopeng.

Sejarah versi Orde Baru tentang G30S perlu diteliti lagi, dan dikoreksi
sesuai dengan kebenaran yang bisa ditemukan dengan penelitian yang serius,
jujur, objektif dan independen sama sekali dari pertimbangn politik dan
kepentingan ideologi yang manapun. Yang jelas, yalah bahwa sudah cukup
banyak bukti dan fakta tentang sejarah Orde Baru yang perlu direvisi atau
dikoreksi, karena sudah tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi
sesungguhnya. Revisi atau koreksi sejarah Orde Baru -- termasuk masalah
sejarah G30S -- mutlak untuk dilakukan dengan segera. Karena, kalau tidak
dikoreksi, maka bisa TETAP TERUS menjadi racun atau penyakit ganas, yang
merongrong kesehatan tubuh bangsa kita, terutama generasi muda kita
sekarang, dan generasi yang akan datang.

TNI-AD PERLU BERANI MENGKOREKSI DIRI

Sebagai perwira TNI-AD, Kol. A. Latief telah banyak mengemukakan dalam
pleidoinya berbagai soal yang berkaitan dengan masalah-masalah militer.
Banyak kesalahan atau praktek-praktek yang buruk Angkatan Darat telah
dibeberkannya, di samping ditonjolkannya peran positif dan tradisi baik
Angkatan Darat selama revolusi dan ketika menghadapi pergolakan-pergolakan
yang merongrong keselamatan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, mengingat pernyataan permintaan maaf TNI-AD (yang diucapkan
oleh KSAD Tyasno Sudarto) atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya kepada
rakyat, maka patutlah kiranya dianjurkan kepada pimpinan TNI-AD untuk
menyerukan kepada anggota-anggota militer (terutama AD), untuk mempelajari
isi buku pleidoi Kol. A. Latief. Sebab, pleidoi yang bersejarah ini, penuh
dengan pelajaran - juga peringatan! - tentang kesalahan dan dosa yang
telah dilakukan oleh pimpinan AD (khususnya Soeharto dkk) terhadap panglima
tertinggi/presiden, terhadap MPRS, terhadap DPR, terhadap demokrasi,
terhadap Hak Asasi Manusia. Singkatnya, terhadap rakyat.

Lebih dari itu! Dalam rangka reformasi, transformasi, reposisi Angkatan
Darat, sesuai dengan tuntutan perkembangan situasi nasional (dan
iinternasional!) maka sudah waktunyalah bahwa TNI-AD membentuk komisi khusus
untuk mempelajari, mengumpulkan, dan kemudian menyimpulkan tentang
kesalahan-kesalahan TNI-AD selama ini, termasuk kesalahan-kesalahan dalam
menghadapi peristiwa G30 beserta buntut-buntutnya yang menyusul. Kita sudah
sama-sama melihat bahwa Orde Baru telah melakukan banyak kesalahan-kesalahan
berat dan monumental di berbagai bidang, sehingga keadaan negara kita
menjadi demikian kacau seperti sekarang ini. Dan, karena tulang-punggung,
bahkan konseptor atau pembangun Orde Baru adalah Angkatan Darat, maka
kesalahan dan dosa-dosa Orde Baru adalah pada intinya, atau pada hakekatnya,
kesalahan TNI-AD.

Apakah dengan membentuk komisi khusus semacam itu, TNI-AD akan makin
terpuruk namanya atau makin buruk citranya? Ataukah langkah semacam itu
perbuatan yang hina? Ataukah juga memalukan diri ? Justru sebaliknya. Kalau
TNI-AD mengambil langkah-langkah serupa itu, pastilah akan mendapat
penghormatan - dan juga kehormatan - dari pendapat umum, baik dari
dalamnegeri maupun luarnegeri. Memeriksa kesalahan, dan kemudian
mengakuinya, dan selanjutnya mengkoreksinya adalah justru satu-satunya
jalan untuk memperbaiki citra TNI-AD dan untuk bisa meletakkannya pada
tempat terhormat dalam hati Rakyat.

BUKALAH ARSIP MILITER DEMI PENELITIAN

Dalam rangka usaha untuk merevisi versi resmi sejarah Orde Baru, nyatalah
bahwa diperlukan adanya kemauan-baik dari berbagai fihak, dan terutama
sekali dari pimpinan TNI. Sebab, patutlah diperkirakan bahwa berbagai
instansi militer, baik di Pusat maupun di daerah masih menyimpan berbagai
dokumen penting yang berkaitan dengan peristiwa G30S maupun yang dengan
peristiwa-peristiwa kelanjutannya. Kalau TNI-AD memang betul-betul secara
tulus dan jujur ingin memperbaiki kesalahan-kesalahannya, dan mau memberikan
sumbangan kepada usaha untuk mencari kebenaran, maka perlulah adanya
langkah-langkah (secara politik maupun administratif) supaya arsip militer
(atau arsip sejarah militer) bisa dibuka secara leluasa demi pekerjaan
penelitian. Pekerjaan penelitian ini sangat penting untuk melengkapi,
memeriksa kembali, bahkan mengkoreksi isi pleidoi Kol. A. Latief.

Mungkin ada di antara kita yang berpendapat bahwa gagasan yang semacam itu
adalah utopis belaka kiranya. Apalagi kalau mengingat bahwa masih terlalu
banyak mantan perwira tinggi (dan menengah) - atau yang masih aktif --,
yang mungkin akan keberatan adanya langkah semacam itu. Berbagai dalih bisa
saja mereka kemukakan untuk menentang dibukanya arsip militer yang berkaitan
dengan peristiwa G30S, umpamanya : dalih rahasia negara, dalih keamanan
negara, dalih tidak adanya UU yang mengaturnya, dalih rahasia jabatan, atau
segala macam dalih lainnya, baik yang masuk akal maupun yang tidak.

BUKU YANG HARUS DIBACA

Buku pleidoi Kol. A. Latief mengungkap satu hal yang luarbiasa pentingnya,
yaitu bahwa Soeharto terlibat dalam G30S, dan bahwa pimpinan Angkatan
Daratlah yang melakukan kudeta terhadap Presiden Sukarno, yang waktu itu
masih secara sah menjabat sebagai kepala negara (untuk lengkapnya, mohon
baca sendiri, yang tercantum di berbagai halaman buku ini). Asumsi semacam
ini sudah lama beredar dalam masyarakat, bahkan juga di luarnegeri. Jadi,
bukan soal baru. Tetapi, dengan membaca buku pleidoi Kol. A. Latief, maka
kita akan mendapat persepsi yang lebih mendalam dan lebih jelas tentang
persoalan ini.

Apakah Soeharto betul-betul terlibat dalam G30S? Justru masalah yang
mahapenting inilah yang harus diteliti secara serius lebih lanjut. Sebab,
Soeharto sudah mengetahui tentang akan adanya aksi terhadap sejumlah
jenderal-jenderal, tetapi mengapa tidak melaporkan atau tidak bertindak?
Maka patutlah kiranya kita duga bahwa memang ada hal-hal yang masih belum
terungkap selama ini. Pengkhianatan? Sikap licik? Perhitungan yang
berdasarkan kepentingan pribadi? Banyaklah kiranya pertanyaan-pertanyaan
lainnya yang bisa diajukan.

Namun, terlepas apakah Soeharto terlibat dalam G30S atau tidak, tetapi sudah
jelaslah bahwa, bersama-sama dengan pimpinan Angkatan Darat lainnya waktu
itu, ia telah mengobrak-abrik pemerintahan yang sah, dan kemudian melakukan
sederetan panjang pelanggaran-pelanggaran (dan kejahatan!!!) terhadap
kehidupan demokratis, terhadap hak asasi manusia, terhadap rakyat (soal ini
tidak perlu direntang-panjangkan lagi, karena sudah cukup jelas berdasarkan
pengalaman kita selama ini).

Bukan itu saja. Pleidoi yang diucapkan 1978 itu telah membongkar bahwa
Soeharto dkk sudah melakukan insubordinasi (pembangkangan) terhadap panglima
tertinggi, dan menyalahgunakan SP 11 Maret, yang akibatnya begitu luas
selama pemerintahan Orde Baru. Jadi, kesalahannya amat besar, dan dosanya
juga berat sekali.

Dengan sorotan dari segi-segi itu semualah maka munculnya buku pleidoi
Kol. A. Latief ini perlu kita sambut dengan positif. Buku ini bisa
memperkaya bahan studi dan bahan refleksi kita bersama untuk merenungkan dan
memeriksa kembali masalah-masalah seputar G30S, yang selama tigawarsa
menjadi landasan bagi TNI-AD untuk melakukan kerusakan-kerusakan besar
terhadap Republik kita, dan yang dengan Orde Barunya telah membikin negara
dan bangsa seperti yang kita saksikan dewasa ini.

Dengan semangat untuk bersama-sama menegakkan kebenaran dan mencari keadilan
demi rekonsiliasi nasional, perlulah kiranya semua kekuatan pro-reformasi,
pro-demokrasi dan pro-HAM -bahkan juga kalangan militer - dianjurkan untuk
membaca buku pleidoi yang bersejarah ini. Sebab, dengan membaca buku ini,
kita mendapat tambahan bahan untuk lebih yakin lagi bahwa Orde Baru, yang
pernah disanjung-sanjung itu, memang sejak semula dibangun atas dasar-dasar
yang batil dan haram.

Akhirulkalam, penulis menyampaikan : selamat membaca pleidoi yang bersejarah
ini!

Paris, 14 Mei Th 2000
Alamat E-mail : kontak@club-internet.fr
(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja)

--- Please do some searching in our amazing new database containing all
postings (about 100,000) for the _years 1990 through 1999_. You can reach
it by going to http://basisdata.esosoft.net/search-all.html right from
here. Better yet, since there are now 5 'apakabar' lists and 3 'apakabar'
databases on this site, try _always_ to begin your daily viewing with our
current homepage, http://www.indopubs.com . You can reach everything on
the site in one click from there. You will also be seeing some new site
features there in the not too distant future. All this is brought to you
by the great (and friendly) programmers here on Esosoft. Say thank you by
paying them a visit on their homepage http://www.esosoft.net If you find
any of their services interesting, email sales@esosoft.net

---