[INDONESIA-NEWS] Berita SERAMBI 8 Juni 2000

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Thu Jun 08 2000 - 17:41:57 EDT


X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/image/200608.htm

   Update: 04.30 Wib Kamis, 08 Juni 2000
   
   
   [INLINE] Diculik 9 Hari, Serda Yusuf Belum Ditemukan Serda M Yusuf
   (35), anggota Koramil Karang Baru, Aceh Timur, yang diculik kelompok
   bersenjata tak dikenal sembilan hari lalu, belum berhasil ditemukan,
   bahkan jejak korban juga tak dapat dilacak.
   
   [INLINE] Kejari Lhokseumawe Digranat Kantor Kejaksaan Negeri
   Lhokseumawe di Jalan Tgk Chik Ditiro Lancang Garam, Rabu (7/6) malam
   sekitar pukul 19.45 WIB, dilempar dengan granat oleh kelompok tak
   dikenal. Namun, granat rakitan berbentuk berwarna hijau itu urung
   meledak. Begitupun, akibat lemparan kaca pintu kantor institusi hukum
   itu hancur.
   
   [INLINE] Diancam, Sidang PN Dipindahkan ke LP Pengadilan Negeri
   Lhokseumawe, Rabu (7/6) kemarin, terpaksa menggelar persidangan di
   Lembaga Pemasyarakatan (LP) setempat menyusul ancaman pengacauan dari
   orang tak dikenal melalui telepon. Ancaman itu diterima PN beberapa
   saat menjelang persidangan kasus pencurian di Stadion Reklamasi Pusong
   akan digelar.
   
   [INLINE] Pelacuran Politik yang Memalukan
   
   [INLINE] Bantuan Brunai tak Mengalir ke Aceh Utara
   
   [INLINE] Dua Korban Penganiayaan Masuk RSU
   
   [INLINE] HMI Desak RI dan GAM agar Konsekuen
   
   [INLINE] Korban DOM Harus Didata Ulang
   
   [INLINE] WN Amerika Dituduh Sodomi
   
   [INLINE] Bandar Sabu-sabu Diringkus Bersama Teman Kumpul Kebo
   
   [INLINE] Perkampungan Islam Antarbangsa Dibangun di Aceh Tengah
   
   To Indek:
                    ___________________________________
   
   
   
   Diculik 9 Hari, Serda Yusuf Belum Ditemukan
   
   *M Daud Tewas Ditembak
   
   Serambi-Banda Aceh
   Serda M Yusuf (35), anggota Koramil Karang Baru, Aceh Timur, yang
   diculik kelompok bersenjata tak dikenal sembilan hari lalu, belum
   berhasil ditemukan, bahkan jejak korban juga tak dapat dilacak.
   M Yusuf diculik saat mengantar undangan kenduri sunat rasul (khitan)
   anaknya ke Alur Nonang, Telaga Muku, Kecamatan Bendahara, Senin (29/5)
   lalu. Kini, kenduri sunat rasul itu batal, dan istri serta ketiga
   anaknya menunggu kabar M Yusuf dengan hati gelisah.
   Dandim 0104 Aceh Timur melalui Danramil Karang Baru, Kapten Inf Urip
   Arifin, menjawab Serambi, Selasa (6/6), mengatakan pihaknya terus
   berupaya melakukan pencarian jejak M Yusuf. Termasuk mengerahkan
   pasukan dari Kodim. "Famili M Yusuf yang bisa masuk-masuk kampung juga
   pernah diajak ikut mencari, tapi belum berhasil," ujar Urip.
   Diceritakan, pada hari kejadian, M Yusuf sibuk mengantar undangan
   sunat rasul ke Kuala Simpang dan sekitarnya. Rencananya, kenduri akan
   diadakan Sabtu (3/6). Ia juga mengundang rekan-rekannya di Koramil
   Karang Baru, tak terkecuali Danramil Urip Arifin. "Dia (M Yusuf -Red)
   bilang, saya harus datang. Berkali-kali dia meyakinkan saya. Karena
   itu kenduri sunat rasul anak laki satu-satunya," kenang Urip.
   Kepada rekan-rekannya di Koramil, M Yusuf melontarkan rencananya
   hendak mengantar undangan untuk beberapa saudaranya di Telaga Muku,
   kecamatan Bendahara. Waktu itu, anggota-anggota Koramil tersebut
   sempat mengingatkan, supaya ia tidak ke sana. Karena kawasan Telaga
   Muku itu dianggap rawan.
   Namun, M Yusuf ngotot ingin pergi. Ia tidak takut karena merasa tidak
   berbuat salah. "Saya nggak takut. Di sana itu saudara-saudara saya
   semua," ujar laki-laki asal Pidie, yang beristrikan perempuan Aceh
   yang tinggal di Opak. Saudara-saudara istrinya banyak yang tinggal di
   Karang Baru, Bendahara, dan sekitarnya. Selain itu, alasannya, ia
   merasa tidak enak menitip-nitip undangan pada orang lain.
   Sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB, M Yusuf berangkat mengendarai
   sepeda motor ditemani A Rahman (65), juga warga Opak. Menurut
   keterangan A Rahman, dalam perjalanan ke Telaga Muku, sekitar tiga
   kilometer dari Koramil Bendahara, Sungai Yu, mereka berpapasan dengan
   seseorang bersepeda motor. M Yusuf yang mengenakan baju biasa (tidak
   pakai seragam, dan tidak bersenjata) sempat mengangkat tangan serta
   menyapa dalam bahasa Aceh.
   Tak lama kemudian, tiba-tiba mereka dibuntuti oleh dua sepeda motor
   yang dikendarai empat orang. Tiba di kawasan yang agak sepi, jauh dari
   pemukiman penduduk, kawanan itu menyuruh M Yusuf berhenti. Ia
   menghentikan sepeda motornya. Ternyata di tempat itu telah menunggu
   dua orang lainnya yang diduga anggota kelompok tersebut. Salah seorang
   membuka jaket, seolah memperlihatkan senjata laras panjangnya.
   Melihat gelagat mencurigakan, M Yusuf sempat mencoba lari masuk ke
   arah hutan belukar. Dikejar oleh beberapa orang, korban terjatuh.
   Kemudian ia dipukuli kawanan bersenjata tersebut. M Yusuf tak mampu
   melawan mereka dengan tangan kosong. "Bek neupoh lon. Lon ureung hino
   syit," kata M Yusuf (seperti dikutip A Rahman), ketika meminta agar
   korban jangan dipukuli. Menurut A Rahman, pembicaraan kelompok itu
   dengan korban berlangsung dalam bahasa Aceh.
   Korban diikat tangannya, lalu dinaikkan ke atas sepeda motor,
   selanjutnya dibawa ke arah Telaga Muku. Setelah kawanan itu pergi, A
   Rahman yang ditinggal sendirian, langsung pulang dan menceritakan
   kejadian tersebut ke Koramil Karang Baru. Sayangnya, tak satu pun
   anggota kelompok penculik tersebut yang dikenalnya.
   Ditembak
   Sementara itu, seorang petani miskin penduduk Desa Blang Crok
   Kecamatan Nisam Aceh Utara, Muhammad Daud (48), Selasa (6/6) tewas
   setelah sebutir peluru aparat bersarang di bagian kepalanya. Korban
   tewas di RS Kesrem Lhokseumawe. Sebelumnya korban sudah mendapat
   perawatan medis beberapa jam, namun karena luka serius dan pendarahan
   hebat akhirnya korban meninggal.
   Keterangan diperoleh Serambi dari keluarganya mengatakan, aparat
   keamanan yang ditugaskan di posko Cot Sabong, Nisam, Senin (5/6)
   sekitar pukul 10.30 WIB, melakukan operasi penyisiran ke Simpang Cot
   Murong Nisam, sekaligus menurunkan bendera GAM serta melepaskan
   rentetan tembakan.
   Menurut Tgk Jamalul (54) yang mengaku masih famili dekat dengan
   korban, Muhammad Daud sehari-hari bekerja sebagai petani. Untuk
   menutupi kebutuhan dan meringankan biaya rumah tangga, korban mencari
   ikan di alur dan payau dengan cara menggunakan icu alat kontak ikan
   dalam air.
   Ketika aparat melewati kawasan Simpang Cot Murong, melihat korban
   sedang berdiri dengan baterai alat kontak ikan di tangan. Karena
   merasa takut lantas korban mencoba hindar. Aparat curiga, sehingga
   melepaskan tembakan yang mengakibatkan korban jatuh tersungkur setelah
   sebutir peluru menembus bagian kepalanya. "Korban bukan anggota GAM,"
   ujar Nur Hasanah (32) yang masih keluarga korban.
   Setelah ditembak, ayah tujuh anak itu diangkut dengan truk aparat ke
   RS TNI-AD di Lhokseumawe, namun karena pendarahan hebat Selasa
   meninggal. Jenazah korban dikembalikan kepada keluarganya Selasa untuk
   dikebumikan, ungkap beberapa warga setempat.
   Biro Penerangan GAM Wilayah Pase, Abu Sabar, melalui telepon ke
   redaksi Serambi tadi malam, mengecam tindakan aparat keamanan. Karena,
   disaat-saat GAM mematuhi jeda kemanusiaan yang ditandatangani 12 Mai
   dan berlaku Jumat 2 Juni lalu telah dinodai aparat. "Sejak jeda
   kemanusiaan ditandatangani 12 Mei lalu, aparat TNI terbanyak melakukan
   pelanggaran. Dari 31 nyawa melayang, sebanyak 25 di antaranya warga
   sipil, enam lainnya polisi dan TNI- AD termasuk diantaranya kontak
   senjata antara pasukan Brimob dengan Polisi Militer bulan Mei lalu,"
   katanya.(tim)
   
      
   Kejari Lhokseumawe Digranat
   
   *Rentetan Senjata di Teritit
   
   Serambi-Lhokseumawe
   Kantor Kejaksaan Negeri Lhokseumawe di Jalan Tgk Chik Ditiro Lancang
   Garam, Rabu (7/6) malam sekitar pukul 19.45 WIB, dilempar dengan
   granat oleh kelompok tak dikenal. Namun, granat rakitan berbentuk
   berwarna hijau itu urung meledak. Begitupun, akibat lemparan kaca
   pintu kantor institusi hukum itu hancur.
   Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Syafei Aksal yang ditemui di TKP
   tadi malam menduga keras, upaya penggranatan itu berkait dengan
   ancaman tutup kantor oleh pihak GAM. "Sejak hari Senin (5/6), pihak
   kantor tersebut mendapat ancaman serius dari GAM. Selain lewat telepon
   bertubi-tubi, juga melalui faksimil. Baik telepon maupun faks
   sama-sama melarang kantor itu beraktivitas," ungkap Syafei.
   Pada saat kejadian, satu-satunya pegawai yang berada di kantor adalah
   Kasi Intel Kejari, Masril N SH. Saat itu ia sedang menonton televisi.
   Begitu mendengar kaca pecah dan melihat granat bergulir di lantai, ia
   secara reflek meloncat ke ruang belakang kantor.
   Aparat keamanan sempat memintai keterangan sejumlah pemuda Lancang
   Garam yang kala kejadian sedang nongkrong di sebuah warung kopi yang
   bertaut jarak sekitar 10 meter dari Kantor Kejaksaan. Namun, tidak ada
   satupun di antara mereka yang ditahan.
   Kejadian pelemparan granat itu awalnya tidak diketahui banyak
   masyarakat sekitar karena tidak terdengar suara ledakan. Namun, ketika
   aparat keamanan tiba di TKP, masyarakat mendadak heboh dan mengalir ke
   kantor yang luput dari upaya penghancuran tersebut.
   Kantor Kejaksaan Lhokseumawe yang menjadi sasaran pelemparan granat
   itu berada di kawasan pemukiman penduduk Desa Lancang Garam. Namun,
   tidak jauh dari kantor itu juga bermarkas instalasi komunikasi PT
   Telkom. Juga Kampus Unima. Tidak jauh dari sana juga ada bangunan
   SMP-5, MTsN, dan kantor Dinas Pertanian Aceh Utara.
   Tembak dan bakar
   Dari Aceh Tengah, Rabu kemarin, dilaporkan, tembakan beruntun pecah di
   lintasan jalan Teritit-Pondok kawasan Totorlah, Kecamatan Bukit. Di
   tempat itu juga ditemukan kerangka sepeda motor RX King yang
   diperkirakan baru saja dibakar.
   Kejadian sekitar pukul 14.45 WIB itu sangat mengejutkan warga sekitar.
   Bahkan sebagian besar pertokoan di pasar Simpang Teritit tutup setelah
   nyalak senjata terdengar secara beruntun dari kawasan yang hanya
   berjarak 1 km tersebut.
   Serambi yang turun ke lokasi hanya mendapatkan bangkai sepeda motor RX
   King, namun tidak ada lagi plat polisi, sehingga sepeda motor tersebut
   tidak bisa diidentifikasi. Beberapa warga di kawasan itu mengaku
   mereka tidak melihat proses pembakaran, kecuali tembakan yang puluhan
   kali. "Kami sangat takut dan langsung tutup pintu. Kemudian datang
   anggota TNI menanyakan kenapa mereka tidak memberitahukan ada orang
   yang menghadang," ujar beberapa warga yang saat itu menjawab bahwa
   tidak mengetahuinya.
   Mengenai sepeda motor yang dibakar, beberapa warga memperkirakan milik
   Reno, warga Kecamatan Bandar. Anak muda itu beberapa waktu sebelum
   kejadian melintas di kawasan jalan SP Teritit menuju Pondok Baru.
   Namun hal itu belum dapat dipastikan, karena warga tidak melihat yang
   bersangkutan.
   Kapolres Aceh Tengah, Letkol (pol) Drs Misik Natari yang dikonfirmasi
   Rabu sore, mengaku tidak tahu tentang kejadian tersebut. Pihaknya
   sudah menurunkan tim untuk mengusut siapa pelaku. "Anggota saya lagi
   ngecek ke lapangan, dan itu tidak terlibat anggota polisi," jelas
   Misik Natari.(tim)
   
      
   Diancam, Sidang PN Dipindahkan ke LP
   
   Serambi-Lhokseumawe
   Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Rabu (7/6) kemarin, terpaksa menggelar
   persidangan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) setempat menyusul ancaman
   pengacauan dari orang tak dikenal melalui telepon. Ancaman itu
   diterima PN beberapa saat menjelang persidangan kasus pencurian di
   Stadion Reklamasi Pusong akan digelar.
   Menurut sumber Serambi, penelepon itu mengancam bila PN Lhokseumawe
   tetap menyidangkan perkara tersebut maka akan dikirim dua orang khusus
   untuk mengganggu jalannya persidangan. Karena ancaman itu dianggap
   serius, PN mengambil kebijaksanaan memindahkan ruang sidang ke LP
   Lhokseumawe.
   Kasus pencurian di Stadion Reklamasi Pusong yang disidangkan di LP
   Lhokseumawe itu melibatkan empat pelaku. Persidangan para terdakwa di
   LP, dilukiskan, berlangsung mulus walaupun agak terlambat dari jadwal
   yang direncanakan. Prosesi peradilan itu, menurut informasi,
   berlangsung di ruang administrasi LP. Persidangan hanya berlangsung
   sekitar setengah jam.
   Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Syafei Aksal yang konfirmasi, tadi
   malam, mengaku belum mendapat informasi pemindahan tempat sidang
   pidana pencurian tersebut. Namun, disebutkan, pihaknya sudah mendapat
   pengaduan ancaman tutup kantor dari pihak yang tidak menginginkan Aceh
   aman.
   Bendera GAM
   Sementara itu, sekitar pukul 16.00 WIB kemarin, aparat kepolisian
   "menghalau" empat pria bersenjata api laras panjang yang bersama
   sejumlah warga yang mengibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di
   kawasan Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara.
   Namun, menurut Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Syafei Aksal yang
   didampingi Perwira Penghubung Penerangan, Kapten Pol Drs AM Kamal,
   penertiban yang dilakukan aparat tidak sampai menimbulkan kontak
   senjata. "Begitu kita datang, mereka sudah pergi," ungkap kapolres.
   Dari kawasan tersebut aparat berhasil menyita sekitar 10 lembar
   bendera GAM. (tim)
   
   
   Soal Dana Hibah Brunei
   Pelacuran Politik yang Memalukan
   *IPNU: Jangan Syakwasangka
   
   Serambi-Banda Aceh
   Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menilai terbongkarnya kasus
   dana Hibah Sultan Brunei Hasanul Bolqiah merupakan pelacuran politik
   yang memalukan bagi Aceh. Namun, Ikatan Putra NU (IPNU) mengimbau
   masyarakat untuk berpikir jernih dan tidak syakwasangka, karena belum
   tentu dana hibah itu disalahgunakan.
   Pernyataan itu disampaikan kedua lembaga tersebut dalam keterangan
   pers tertulis yang dikirimkan ke Serambi, Rabu (7/6). Seperti yang
   diberitakan sebelumnya, Afdal Yasin, yang mengelola dana tersebut
   mengaku telah menyalurkan hibah Sultan Brunei tersebut sebesar Rp 3
   milyar kepada sejumlah LSM, buffer aksi, dan lembaga-lembaga lainnya.
   Namun, penyaluran ini menjadi silang-sengketa dikalangan publik karena
   penyalurannya sangat gampang (hanya dengan mengajukan proposal), dan
   pengontrolannya pun sangat longgar sehingga dikhawatirkan tidak sampai
   ke sasaran.
   Dana hibah Sultan Brunei secara pribadi (sebesar Rp 2 juta dolar AS)
   itu diserahkan beberapa bulan lalu kepada Presiden Abdurrahman Wahid.
   Dana itu dimaksudkan sebagai bantuan kemanusiaan rakyat Aceh.
   Belakangan diketahui, pengelolaan dana hibah itu adalah Yayasan
   Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) pimpinan Afdal Yasin.
   Dalam keterangan tertulis yang ditandatangani M Nazar (ketua
   presidium) dan Ridwan M (Komisi Litbang), SIRA menyatakan
   terbongkarnya kasus dana hibah Sultan Brunei kepada rakyat Aceh sangat
   merugikan opini Aceh. Apalagi, sejumlah dana tersebut sempat diterima
   beberapa lembaga yang misinya beragam. Mulai dari kemanusiaan sampai
   kepada pemberdayaan. Tapi tidak disalurkan secara maksimal kepada yang
   membutuhkan.
   "Menurut pantauan SIRA di lapangan, kemungkinan hanya Pemraka dan
   Wakampas yang menggunakan dana itu untuk misi kemanusiaan ke arah yang
   lebih tepat. Sedangkan lembaga lainnya, belum bisa diketahui secara
   jelas," katanya.
   SIRA berpendapat, apapun alasannya, apabila dana tersebut hanya
   dimanfaatkan untuk kelompok dan pribadi tertentu, hal ini merupakan
   pelacuran politik yang akan memalukan bangsa Aceh. Hal itu juga akan
   menghambat proses penyelesaian kasus Aceh secara komprehensif.
   Dengan kejadian itu, SIRA mengharapkan agar semua lembaga agar lebih
   berhati-hati. Karena persoalan ini bisa berpengaruh pada politik.
   Selain itu, ketidakjelasan penggunaan dana tersebut bukan tidak
   mungkin akan memicu kemarahan bangsa Aceh terhadap lembaga-lembaga
   yang menyalahgunakan penyaluran dana itu. "Selama ini, SIRA hanya
   memantau ada beberapa orang Aceh yang kerjanya bolak-balik istana
   Presiden. Tapi SIRA belum mengetahui secara jelas misi dan informasi
   apa yang diberikan kepada Gus Dur. Tetapi yang perlu diketahui oleh
   semua pihak, bahwa persoalan tersebut akan berpengaruh besar terhadap
   penyelesaian kasus Aceh secara keseluruhan. Karena itu, kepada
   lembaga-lembaga yang sempat menerima bantuan dana tersebut sebaiknya
   segera mengklarifikasikannya kepada publik. Tujuannya agar tidak
   menambah konflik baru," tegas SIRA.
   Jangan vonis
   Pada kesempatan berbeda, pengurus PC Ikatan Putra Nahdlatul Ulama
   (IPNU) Banda Aceh meminta kepada seluruh komponen masyarakat Aceh agar
   jangan memvonis yayasan pengelola dana hibah dari sultan Brunei.
   Menurut IPNU, belum tentu Yayasan Ahlussunah Waljamaah (Aswaja)
   menyalahgunakan kepercayaan dalam penyaluran dana hibah dimaksud.
   Sepengetahuan IPNU, sebut siaran pers yang ditandatangani Zulfan
   Effendi (ketua) dan Safiran Nizar (sekretaris), Yayasan Aswaja telah
   banyak menyalurkan dana hibah itu kepada komponen mahasiswa yang turun
   langsung ke desa-desa. Mereka menyalurkannya melalui
   pengabdian-pengabdian kepada masyarakat.
   Untuk itu, komponen mahasiswa jangan langsung membantah tidak pernah
   menerima bantuan dari Afdal Yasin ketika persoalan ini mencuat.
   Karena, banyak pihak-pihak yang menuding dana itu tidak disalurkan
   sesuai harapan masyarakat.
   Di samping itu, IPNU mengharapkan kepada semua pihak jangan menuduh
   apa yang telah dilakukan Yayasan Aswaja merupakan perbuatan salah.
   Karena, persoalannya harus disesuaikan dulu dengan fakta yang ada di
   lapangan. Lagi pula, banyak pihak yang bermain dalam penyelesaian
   masalah Aceh untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
   Bahkan IPNU menilai, cara penyaluran lebih baik dikelola oleh
   yayasan/LSM dari pada Pemda. Karena, masyarakat sudah kurang percaya
   kepada pemerintah daerah yang banyak melakukan penyelewengan.
   Pernah terima
   Pengurus demisioner Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran (Sema FK)
   Unsyiah periode 1999-2000 mengaku pernah menerima dana dari Afdal
   Yasin. Bantuan dimaksud, sebut siaran pers yang ditandatangani ketua
   dan sekretaris umumnya, Nasrul Musadir Alsa dan Des Dwiputra Effendy,
   dipergunakan untuk berbagai kegiatan. Di antaranya kegiatan bakti
   sosial FK di kamp pengungsi Cot Ijue, sumbangan untuk pembangunan
   masjid saat melakukan pengabdian di Pulo Aceh, upaya
   pengobatan/operasi Rizki Aria, bantuan biaya untuk pengobatan pasien
   penderita tumor sub mandibula dari Cot Ijue, bantuan keberangkatan
   mahasiswa FK mengikuti kegiatan di luar daerah, serta beberapa
   kegiatan kemahasiswaan yang berlangsung di kampus FK Unsyiah.
   Di samping itu, Sema FK Unsyiah juga pernah melakukan koordinasi
   dengan BEMA IAIN Ar-raniry untuk membantu biaya pengobatan Angkasah
   (Mahasiswa IAIN penderita luka bakar). Untuk itu, pengurus SEMA FK
   Unsyiah mengimbau semua pihak agar tidak menjadikan persoalan ini
   sebagai konsumsi politik dan kepentingan golongan/kelompok tertentu.
   "Sema FK Unsyiah mengenal Afdal Yasin sebagai orang yang punya
   komitmen untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Lagi pula, dalam
   menyalurkan bantuan, ia tidak pernah menghubungkan dengan latar
   belakang apapun. Apalagi latar belakang politik," kata pernyataan itu.
   Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Aceh Besar, Bachtari Arahas yang
   menelpon Serambi, Rabu (7/6) sore, meminta agar pihak pengelola dana
   segera mengklarifikasi bantuan yang diserahkan untuk Pulau Aceh.
   Karena, pihak legislatif perlu melakukan pengontrolan apakah dana itu
   benar-benar sampai ke tujuan.
   Jika tidak sampai ke tujuan, kata Bachtari, sangat kita sayangkan.
   Berarti pula, kesempatan ini tidak diberikan untuk rakyat yang
   menderita. Pengawasan itu juga dimaksudkan agar dana itu jangan sampai
   dipergunakan untuk pribadi orang yang menerima bantuan dari Sultan
   Brunei melalui Yayasan Aswaja.(yed)
   
      
   Pengakuan LSM:
   Bantuan Brunai tak Mengalir ke Aceh Utara
   
   Serambi-Lhokseumawe
   Sejumlah pengurus LSM di Aceh Utara, menyebutkan tidak pernah
   mengajukan proposal dan menyalurkan bantuan yang bersumber dari Sultan
   Brunai Darussalam. Mereka mengakui, ada sejumlah LSM yang menerima
   bantuan dari luar negeri, namun bukan dari Sultan Brunai.
   Keterangan tersebut diungkapkan sejumlah pengurus LSM, Rabu (7/6)
   berkaitan dengan dana hibah dari Sultan Brunai Darussalam untuk
   pemberdayaan masyarakat Aceh. Keberadaan bantuan itu sampai sekarang
   masih simpang siur, karena tidak jelas siapa saja yang menerimanya.
   Mereka yang ditemui secara terpisah antara lain, Pelaksana PKBI, T
   Nadirsyah, M Basri dari Birata, Cut Mutia dari LBH Apik, dan Murdhani
   pengurus Forkla serta pengurus LSM Limid. Sementara beberapa pengurus
   LSM lainnya, termasuk Mappra tidak berada di tempat.
   Disebutkan T Nadirsyah, PKBI merupakan salah satu LSM yang tertua di
   Lhokseumawe. Kiprah yang diemban pihaknya adalah merehabilitasi kaum
   pengungsi, baik ketika berada di kamp pengungsian maupun ketika mereka
   pulang.
   "Kami tidak pernah meminta dan menerima bantuan dari Sultan Brunai
   atau melalui pihak yang terkait dengan negara itu. Sumber dana yang
   kami peroleh dari Jepang melalui Kedubes di Jakarta sekitar Rp 20 juta
   dan sudah disalurkan," ungkap Nadirsyah.
   Program yang diusung adalah rehabilitasi rumah pengungsi, pemberdayaan
   ekonomi pertanian di Pidie dan Bireuen. Terakhir menyantuni kaum
   pengungsi di Cot Rawatu, ketika mereka masih berada di Masjid Meunasah
   Jurong, Sawang, jelasnya.
   Sementara itu, Basri A Thaleb menyebutkan, LSM Birata digerakkan untuk
   bidang kemanusiaan khususnya memberdayakan korban DOM dan pasca DOM,
   termasuk kaum pengungsi, tidak pernah mengajukan proposal untuk
   mendapatkan bantuan Sultan Brunai. Sedangkan sumber dana yang dikelola
   mereka adalah dari donatur dalam negeri dan tidak mengikat.
   Hal yang sama diungkapkan pengurus Forkla, Limid dan LBH Apik. Pada
   intinya mereka menerima bantuan dari donatur dalam negeri dan luar
   negeri. Tetapi tidak mengikat, dan bukan dari negara Brunai.
   "Kalau ada proposal dan permohonan ke Brunai, pasti kami ketahui.
   Karena setiap bantuan yang masuk berdasarkan proposal. Biasanya tidak
   seluruh program disetujui," ujar pengurus Forkla.
   Kalau memang ada LSM di Aceh Utara yang menerima bantuan itu,
   hendaknya melaporkan atau menjelaskan secara transparan. Karena jumlah
   LSM yang terdaftar di dinas terkait mencapai 40 lembaga. "Tapi hanya
   sebagian kecil yang terdaftar di Forum LSM," sebut Basri.
   Pengurus Birata menyebutkan, LSM yang sudah mendaftar di Forum LSM
   Aceh antara lain LPLHa, P3S, Peurata, dan Sahara. LSM Birata, Limid,
   Madika dan Forkla. "Forkla dan Porjadom masih disebut KSM atau
   organisasi rakyat dan belum dapat disebutkan sebagai LSM," ujar
   Murdhani.
   Salah seorang pejabat terkait di Setdakab Aceh Utara menyebutkan, LSM
   yang bergerak di Aceh Utara mencapai puluhan. Menyangkut kegiatan
   memang bukan suatu kewajiban untuk melaporkan, tapi sebaiknya
   melakukan koordinasi, sehingga diketahui apa yang sedang diberdayakan
   dan sumber dana dari mana mereka peroleh. (u)
   
      
   Patroli Aparat Kian Meresahkan
   Dua Korban Penganiayaan Masuk RSU
   
   Serambi-Langsa
   Dua warga Desa Seunebok Rambong, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur,
   masing-masing Zainuddin Sulaiman (49) dan M Isa (38), yang dianiaya
   aparat TNI Sat Rajawali III, Selasa kemarin, hingga Rabu (7/6), masih
   diopname di RSU Langsa. Keduanya mengalami luka-luka lembab, sakit
   dada, dan traumatis yang parah.
   Hari itu juga Ketua FP HAM Aceh Timur, Mohd Yusuf Puteh, langsung
   menyurati Dandim 0104 dan Kapolres Aceh Timur, meminta agar aparat
   menghentikan tindak kekerasan dan sadis terhadap masyarakat tidak
   berdosa.
   Dalam surat bernomor 047/FPHAM/VI/2000, Nek Suh mengingatkan Dandim
   dan Kapolres tentang Jeda Kemanusiaan untuk Aceh yang telah
   ditanda-tangani. Karenya, ia sangat menyesalkan tragedi yang dialami
   Zainuddin dan M Isa tersebut. Surat yang tembusannya dikirim kepada
   Bupati Aceh Timur, ketua DPRD, dan Pers, itu juga dilampirkan
   pengakuan tertulis kedua korban.
   Kepada Serambi, M Yusuf Puteh alias Nek Suh mengaku heran, setelah
   Jeda Kemanusiaan dimulai, aparat TNI --terutama pasukan Sat Rajawali
   III yang bermarkas di Desa Bandar Baru, kecamatan Julok bergabung
   dengan aparat satuan yang sama di kecamatan Nurussalam, Aceh Timur--
   justru kian aktif beroperasi ke desa-desa, yang diwarnai penganiayaan
   dan penculikan warga tak bersalah.
   Padahal AGAM di kawasan Aceh Timur, terutama wilayah Peureulak,
   menurutnya, sudah bersedia "menggantungkan senjata" selama Jeda
   Kemanusiaan berlaku. "Mengapa TNI masih membandel?" tanya Nek Suh.
   Dandim Aceh Timur Letkol Inf Deni K Irawan yang berulang kali
   dihubungi Serambi, menurut ajudannya, sedang keluar.
   Buru Senjata
   Dalam pengakuan tertulis yang ditanda-tangani kedua korban, Zainuddin
   menceritakan pada hari Selasa, 6 Juni 2000, sekitar pukul 4.00 Wib,
   ketika ia dan keluarga masih tidur, di rumahnya datang serombongan
   aparat (18 orang). Mereka mengetuk pintu. Karena lama tak dibuka,
   pintu didobrak oleh aparat.
   Anggota TNI dari Sat Rajawali yang telah tiga hari beroperasi di
   daerah itu, langsun

--- Lifetime _email_ subscription to all 5 (five) 'apakabar' lists now
available for a one-time donation of US$250 to support Indonesia
Publications' online projects. Email apakabar@radix.net to make all
arrangements. See http://www.indopubs.com for info on these lists. ---