[INDONESIA-VIEWS] MPGAM EROPA - Referendum Adalah Jalan Tengah yg Paling Baik

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sat Jun 10 2000 - 11:48:56 EDT


From: "SYAHBUDDIN ABDURRAUF" <abdurrauf.syahbuddin@swipnet.se>
To: apakabar@radix.net dll
Subject: Fw: Tidak ada perkara kemanusiaan di Aceh
Date: Sat, 10 Jun 2000 11:20:07 -0000

MB GERAKAN ACEH MERDEKA EROPA
P.O. Box: 2084, 145 02 Norsborg, Sweden
Fax: 00-46-8-53188460

Sekjen MB GAM Eropa berpendapat bahwa:

REFERENDUM ADALAH JALAN TENGAH YANG PALING BAIK

Setelah penandatanganan "Perjanjian Jenewa" untuk menghentikan kekerasan
di Aceh antara AGAM dan TNI dimana kedua pihak tersebut telah terikat
dengan kewajiban-kewajiban dan ketetapan-ketetapan tertentu untuk ditaati,
maka tinggal hanya satu pihak lagi - yaitu rakyat Aceh - yang masih bisa
menentukan masa depan Aceh dengan bebas dan demokratis. Oleh sebab itu,
kami mengajak kepada seluruh komponen bangsa Aceh, terutama sekali
mahasiswa, HUDA dan Taliban, supaya, dalam masa tiga bulan ini, segera
mengambi l langkah-langkah ke arah pelaksanaan Referendum. Langkah-langkah
kearah ini perlu diambil dengan segera sebelum pihak-pihak berkepentingan
lain lebih dahulu melangkahnya.

Perjanjian Jenewa dikhabarkan bertujuan untuk melancarkan bantuan
kemanusiaan dari luar negeri untuk pihak-pihak yang dirugikan akibat
konflik bersenjata di Aceh. Bangsa Aceh jangan sekali-kali terngiur dengan
propaganda politik ini, sebab di Aceh tidak a da krisis kemanusiaan. Aceh
itu bukan Somalia, bukan pula Sudan atau Ethiopia, dimana manusia dan
hewan-hewan mati bertebaran karena tidak ada air minum, tidak ada makanan,
tidak pernah turun hujan dan mungkin karena perang saudara antara
puak-puak kecil (klan). Manakala di Aceh tidak ada faktor-faktor krisis
kemanusiaan seperti itu! Masalah Aceh adalah murni masalah politik yang
harus diselesaikan dengan politik; dan kalaupun ada timbul krisis
kemanusiaan akibat politik kotor ini, maka harus diselesaikan dengan cara
politik juga - bukan dengan sebuah paket yang berisikan trilyun rupiah
yang datang dari luar negeri. Ini namanya obat penenang supaya rakyat Aceh
lupa akan haknya untuk menentukan nasib dan masa depannya.

Perjanjian Jenewa dikatakan tidak bernuansa politik, tapi didasarkan atas
pertimbangan kemanusiaan semata-mata. Tetapi, bangsa Aceh, percayalah
bahwa semua "perjanjian damai" didunia ini memang selalu didasarkan atas
kemanusiaan, sedangkan akibat daripada urusan kemanusian itu tidak dapat
dipisahkan dengan penyelesaian politik yang kekal. Justru karena itulah
diharapkan kepada seluruh bangsa Aceh supaya tidak terbuai dengan "gimmick
kemanusiaan" dan segera menetapkan pilihan yang terbaik untuk Aceh, yait
u: REFERENDUM. Bangsa Aceh tidak perlu takut lagi untuk menyatakan
kemuannya secara bebas dan demokratis, sebab seluruh dunia ada dipihak
saudara-saudara yang tidak memiliki senjata. Kalau kali ini TNI dan AGAM
akan melanggar komitmen mereka, maka seluruh dunia termasuk PBB akan
mengutuk mereka. Selamat tinggal kekerasan!

Perjanjian Jenewa dilaporkan sebagai langkah pertama untuk menyelesaikan
konflik Aceh secara damai. Untuk TNI memang itu merupakan langkah pertama
untuk mengadakan pendekatan dengan AGAM, tetapi untuk rakyat Aceh itu
merupakan langkah terakhir - sekarang atau tidak sama sekali. Perjanjian
Jenewa itu tidak lain daripada seutas rantai yang telah mengikat kaki TNI
dan AGAM supaya mereka tidak bisa bunuh-membunuh lagi, dan tugas kita
semua sekarang memelihara dan menjaga supaya mata rantai yang mengikat
kaki -kaki mereka itu tidak longgar-longgar lagi.

Kepada AGAM dan TNI, Anda berdua, dengan disaksikan oleh dunia, telah
berikrar tidak akan menggunakan senjata-senjata Anda selama tiga bulan
ini. Kesepakatan itu telah ditandatangni oleh wakil-wakil Anda di Jenewa,
Switzerland, pada tanggal 12 Mei 2000. Kami sangat mengharap supaya Anda
tetap menjunjung tinggi komitmen-komitmen yang telah sama-sama Anda
setujui itu. Harapan kedua, supaya Anda tidak lagi mengusik-ngusik rakyat
Aceh yang telah sekian lama menderita; jangan lagi memaksa kehendak Anda,
dalam bentuk apapun, keatas rakyat Aceh yang tidak bersenjata, dan biarkan
mereka menentukan masa depannya dengan cara yang mereka sukai. Kalau
memang rakyat Aceh telah ditakdirkan untuk menentukan masa depannya dengan
Referendum, naka kepada Anda-Anda diharapkan supaya pelaksanaan Referendum
itu berjalan dengan aman dan damai - tanpa pertumpahan darah! Darah rakyat
Aceh telah terlalu banyak ditumpahkan!

Kepada bangsa Aceh, Jangan saudara-saudara bermurung atau bersuka atau
tertidur nyenyak dalam do'a dan air mata karena adanya perjanjian Jenewa.
Kesemua itu tidak akan menyelesaikan masalah Aceh. Tetapi mari kita bangun
serentak, menyingsingkan lengan baju kita untuk bergera k dalam satu misi
dan tujuan, yakni REFERENDUM. Ketika kucing-kucing nakal telah
diperangkapkan oleh perjanjian Jenewa, mari kita tikus-tikus kecil ini
mengambil peranan sebelum kucing-kucing tadi terlepas dari perangkapnya.
Kami dari MB GAM Eropa yang se lama ini menyokong Referendum sebagai
alternatif penyesaian konflik Aceh, tapi sekarang, setelah Perjanjian
Jenewa, menganggap Referendum itu sebagai satu-satunya jalan untuk keluar
dari masalah ini.

Mari kita tukarkan satu kegagalan dengan satu kemenangan, dan biarkan
damai kita ini menjadi kemenangan, insya Allah!

Stockholm, 15 Mai 2000

M. Yusuf Daud
Sekjen MB GAM Eropa
Email: yusuf.daud@telia.com

----- End of forwarded message from SYAHBUDDIN ABDURRAUF -----

--- Lifetime _email_ subscription to all 5 (five) 'apakabar' lists now
available for a one-time donation of US$250 to support Indonesia
Publications' online projects. Email apakabar@radix.net to make all
arrangements. See http://www.indopubs.com for info on these lists. ---