[INDONESIA-VIEWS] Maluku Report 61

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Jul 04 2000 - 16:09:15 EDT


From: "peter" <ever@indosat.net.id>
To: "apakabar" <apakabar@radix.net>, <info@dlm.org>, <ambon@egroups.com>,
        "FICA-Net Mailing List" <fica-net@fica.org>,
        <INFO@MALUKU-WORLDWIDE.COM>, <johnbarr@bigpond.com>,
        <madIA-info@egroups.com>, <maluku-net@cenderawasih.net>,
        "masariku" <masariku@egroups.com>,
        "PEMUDaOnLine" <pemudol@egroups.com>, <sttjakarta_alumni@egroups.com>,
        <tapak-amq@egroups.com>, <xsmansa@egroups.com>
Subject: Maluku Report 61: Perubahan Setting Pengamanan Pangdam dan Masalah Struktur Komando Penguasa Darurat Sipil Sebagai Latar-belakang Penghancuran Kampus Universitas Pattimura, Desa Poka & Rumah Tiga
Date: Tue, 4 Jul 2000 14:40:14 +0700

Maluku Report 61

Provided By Masariku Network 2000

Perubahan Setting Pengamanan Pangdam dan Masalah Struktur Komando Penguasa
Darurat Sipil Sebagai Latar-belakang Penghancuran Kampus Universitas
Pattimura, Desa Poka & Rumah Tiga

Senin, 4 Juli 2000, kompleks Kampus Universitas Pattimura (Unipatti) Ambon
yang berlokasi di wilayah desa Poka & Rumah Tiga, telah tinggal kenangan
dengan dibakarnya seluruh gedung perkuliahan sejumlah falkutas, kantor
Rektorat, Perpustakaan hingga bangun an Politehnik. Proses pembakaran
kampus oleh para perusuh muslim ini terjadi dalam dua hari yakni sejak
tanggal 3 - 4 Juli 2000 tanpa ada satupun aparat keamanan yang diutus
untuk mengamankan wilayah tersebut. Kampus Unipatti bukan satu-satunya,
areal yan g yang dibakar oleh perusuh selama dua hari tersebut, sejumlah
perumahan dosen unipatti, perumahan warga Kristen di dua desa tersebut
lengkap dengan sejumlah gedung gereja mereka tak luput dari terjangan api
perusuh.

Proses penyerangan dan pembumi-hangusan desa Poka dan Rumah tiga ( kurang
lebih 1Km dari kota Ambon) ternyata sengaja dibiarkan terjadi tanpa
kehadiran aparat keamanan yang bertugas di situ ataupun insiatif bantuan
pengamanan militer. Akibatnya massa peru suh dengan kemampuan senjata
organik yang memadai dengan leluasa menerjang dan membakar wilayah kedua
desa tersebut tanpa ada perlawanan warga Kristen. Rupa-rupanya di tangan
pangdam XVI/Pattimura yang baru, Kolonel (Inf) I Made Yassa, terjadi
perubahan strategi pengamanan Ambon yang sangat patut dipertanyakan, yakni
penarikan semua aparat keamanan dari pos-pos jaga yang tersebar di wilayah
Ambon, termasuk pos jaga di desa Poka.

Pada hari Minggu, 3 Juli 2000, sejumlah aparat keamanan yang bertugas
menjaga wilayah desa Poka diperintahkan untuk meninggalkan pos jaganya di
desa Poka yakni di sebuah rumah besar milik. Bpk. Memet Latokonsina.
Menyusul kepergian aparat, rumah pos jaga pun terbakar. Besar kecurigaan
bahwa rumah tersebut dibakar oleh pihak aparat sendiri. Pada saat para
aparat ini hendak meninggalkan wilayah pos jaganya di Poka, proses
penyerangan desa Poka pun dimulai. Ironisnya, ketika informasi ini
disampaikan ke mere ka, yang saat itu tengah berkumpul di demarga Poka
menanti jemputan lautnya, mereka menolak permintaan masyarakat akan
pengamanan dengan alasan tidak ada perintah komando untuk menjaga kembali
wilayah tersebut. Alhasil, para aparat itupun pergi meninggalk an bekas
daerah pengamanannya tanpa memperdulikan permintaan masyarakat dan
serangan perusuh yang sedang berlangsung.

Hingga malam hari, para perusuh terus mengadakan penyusupan dan
penyerangan ke wilayah Poka. Keesokan harinya, 4 Juli 2000, serangan
mereka dilanjutkan. Ketika diketahui adanya upaya masa membakar kampus
Unipatti, warga masyarakat untuk kesekian kalinya m eminta bantuan aparat
pada Pangdam namun permintaan itu ditolak pangdam dengan dalil bahwa di
sekitar kampus di situ ada masyarakat, satpam maupun Resimen Mahasiswa
yang bisa menjaga Kampus. Hingga musnahnya kampus Unipatti dan kedua desa
ini, tak satupun aparat keamanan yang diterjunkan. Ironisnya lagi, ketika
terjadi serangan perusuh, sejumlah speedboat penyusup diketahui
menerjunkan sejumlah aparat keamanan di kawasan pantai poka-rumah tiga
yang diyakini masyarakat setempat sebagai oknum aparat penduku ng operasi
perusuh. Bahkan pergerakan speedboat itu menuju pantai, diikuti tembakan
dari aparat di dalam speedboat itu ke arah warga Kristen di pantai. .

Penarikan pasukan pos jaga di kawasan poka sepenuhnya merupakan perintah
Pangdam. Setting baru Pangdam ialah menarik semua aparat keamanan yang
bertugas di berbagai pos jaga di Ambon untuk kemudian dikumpulkan pada
sebuah pos besar. Perubahan setting peng amanan ini sangatlah tidak
dimengerti karena justru perubahan inilah yang melatar-belakangi jatuhnya
kampus Unipatti dan 2 desa. Lalu bagaimana dengan penguasa situasi darurat
sipil ? Ternyata antara Pangdam dan Gubernur sebagai penguasa darurat
sipil tel ah terjadi keretakan dan diskoordinasi komando pengamanan.
Permintaan pasukan pengamanan dari gubenur kepada Pangdam ternyata tidak
dipatuhi Pangdam. Penolakan ini menandai ketiadaan otoritas penguasa
darurat sipil atas militer. Latar belakang penolakan P angdam ini
didasarkan pada struktur komando baru yang di atur oleh panglima TNI
Laksamana Widodo. Rupanya dalam struktur baru komando pengamanan situasi
darurat yang diberikan Panglima TNI kepada pangdam Maluku yang baru,
kedudukan Gubenur tidaklah di ata s Pangdam. Pangdam tetap sebagai
pemegang komando pengamanan dan Gubenurlah yang meminta bantuan pengamanan
dari Pangdam. Inilah sumber masalah yang menyebabkan gubenur kehilangan
otoritasnya sebagai penguasa darurat sipil atas militer. Tak heran, akibat
ulah Pangdam ini, Gubenur telah mengeluarkan surat teguran kepada Pangdam
Pattimura.

Tindakan Pangdam yang menarik pasukannya dari pos-pos jaga merupakan
sebuah celah besar bagi para perusuh yang masih memiliki senjata organik
hasil jarahan gudang senjata Brimob untuk beraksi kembali. Paling tidak
Desa Poka-Rumah tiga dan kampus Unipatti merupakan korban pertamanya.
Akibatnya, daerah itu kini sepenuhnya dibawah penguasaan perusuh muslim
yang kabarnya telah bersiaga kembali dengan sejumlah besar massanya,
lengkap dengan persenjataan organik untuk melanjutkan kembali aksi
penyerangan dan pe nguasaan wilayah ke desa Kristen Galala maupun
desa-desa sekitarnya.

Sebuah analisa terbatas menyimpulkan bahwa tindakan pangdam menarik
pasukan di pos-pos jaga merupakan sebuah design elite pusat yang
membiarkan masyarakat sipil bertarung tanpa adanya pengamanan aparat.
Dengan begitu banyak senjata jarahan di tangan perus uh bisa dipastikan
bahwa kawasan pemukiman warga Kristen akan mudah dibakar dan dikuasai
perusuh. Itu berarti dalam hitungan jam ke depan, apabila tidak ada
koreksi komando militer atas setting pengamaman pangdam, dan tidak ada
upaya antisipasi dari guben ur sebagai penguasa darurat sipil, maka proses
genocide dan pengusiran warga Kristen Ambon dari negerinya sendiri akan
semakin nyata.

Provided By Masariku Network 2000

----- End of forwarded message from peter -----

--- NEW OFFER: Lifetime _email_ subscription to any 1 (one) of the 5
(five) 'apakabar' lists now available for a one-time donation of US$50 to
support Indonesia Publications' online projects. Email apakabar@radix.net
to make all arrangements. See http://www.indopubs.com for info on these
lists. ---