[INDONESIA-L] MUNG - Mencintai Uang Haram

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Fri Jul 07 2000 - 10:14:16 EDT


From: "Mung Murbandono" <mung.murbandono@rnw.nl>
To: <apakabar@radix.net>
Subject: mencintai uang haram
Date: Fri, 7 Jul 2000 10:54:08 +0200

MENCINTAI UANG HARAM
Oleh L Murbandono Hs

DI samping uang receh dan uang kertas, di bumi manusia, apalagi di
Indonesia, juga terdapat uang jenis lain. Ialah uang haram. Ia, antara lain
berupa uang rakyat yang amblas dijarah kerakusan. Dan di Indonesia, uang
haram ini tak pernah jelas berapa jumlahnya. Dulu Kwik Kian Gie pernah
menyatakan hutang macet para saudagar gadungan, sekitar 600 triliun
rupiah. Meski dibantah, Kwik justru makin ngotot menegaskan, 600 triliun
itu minimal. Kalau ditelusuri tuntas, jumlahnya bisa lebih dari itu.

Kontroversi sejenis itu di Tanah Air kita deretnya panjang sekali. Uang
rakyat yang lenyap tak tentu rimbanya itu bisa ditemui di banyak gedung
resmi negara atau kantor swasta. Jumlahnya bervariasi. Ada yang 600 triliun
rupiah, ratusan miliar, dan ada yang ratusan juta rupiah. Kalau yang
ratusan ribu rupiah, makin rumit ditelusuri.

Catatan kecil ini cuma mau menghitung uang rakyat yang amblas, yang
kelasnya "sedang-sedang" saja. Dalam skandal BLBI misalnya, kontroversi
uang rakyat yang dijarah berkisar antara Rp 80 triliun sampai sekitar Rp
145 triliun. Katakan saja, "cuma" Rp 120 triliun. (Jumlah ini supaya orang
terus ingat Time pernah menuduh Soeharto punya harta sekitar 120 triliun
tapi dibantah bahwa beliau tak punya uang sesenpun. Tak punya sesen pun
itu, agaknya perlu dibuat kredo nasional, sehingga ada orang yang begitu
hebat "berjanji" menembak Soeharto pada kepalanya jika ternyata Soeharto
punya harta.)

Sebab belum pernah melihat uang sebanyak itu, saya penasaran, sampai
terbawa-bawa dalam mimpi. Singkatnya, saya jadi jatuh cinta pada uang haram
tersebut. Dalam mimpi jadi jelas, jebulnya 120 triliun rupiah itu: wah!

Hal "wah" tersebut tampak dalam sepuluh butir berikut.

Pertama, jika Rp 120 triliun itu dihutangkan merata kepada tiap warga RI
yang sekitar 210 juta jiwa, tiap jiwa dapat hutang sekitar Rp 570.000 atau
sekitar Rp 2,3 juta untuk tiap keluarga terdiri atas bapak, ibu dan dua
anak. Untuk wong cilik, Rp 2,3 juta itu amat berarti, bisa digunakan untuk
modal bakulan atau wiraswasta kecil-kecilan. Dus, mengurangi pengangguran!
 Jika mereka sudah bekerja dan tidak faham "bisnis", bisa dimasukkan ke
bank. Dengan rente misalnya 10 persen tiap tahun, mereka dengan
ongkang-ongkang sudah dapat penghasilan ekstra sekitar Rp 20.000 tiap
bulan.

Kedua, jika seorang tukang/buruh (apa saja) hidupnya dikasihi dewa
keberuntungan hingga tiap hari bisa dapat rejeki rata-rata Rp 25.000
(sekitar 9 juta tiap tahun), maka 120 triliun itu baru bisa dia kumpulkan
selama lebih 13 juta tahun. Mengingat jutaan tahun untuk usia manusia itu
sukar dicerna akal sehat, harus dikatakan secara lain. Yaitu, 120 triliun
rupiah itu sama dengan penghasilan sekitar 130 ribu tukang atau buruh
selama 100 tahun, dengan syarat, kebutuhan hidup mereka selama seabad
ditanggung tetangga.

Ketiga, jika Departemen Pendidikan sudah bagus hingga tiap guru SD bergaji
sejuta rupiah tiap bulan (plus tunjangan ini-itu jadi sekitar Rp 20 juta
setahun), maka 120 triliun rupiah itu sama dengan gaji sejuta guru SD
selama 6 tahun.

Keempat, sebuah buku apa saja yang berguna bagi pendidikan anak usia 6-18
tahun, katakan saja agak ngawur, seharga Rp 30 ribu. Dengan 120 triliun
itu kita bisa beli 4 miliar buku (membuat sekian ratus penerbitan girang).
Jika tiap anak didik butuh sekitar 50 macam buku, dengan demikian sekitar
800 juta anak usia 6-18 tahun sudah terjamin kebutuhan bukunya, dengan 120
triliun rupiah.

Kelima, rakyat biasa sudah amat bahagia dengan rumah senilai Rp 100 juta.
Dengan Rp 120 triliun, bisa dibeli sekitar 1,2 juta rumah. Mengingat gaya
hidup rakyat jelata yang mampu menampung 5-10 jiwa tiap rumah, dengan
demikian Rp 120 triliun itu akan membuat sekitar 6 sampai 12 juta khalayak
biasa Indonesia sudah bisa menempati rumah yang lumayan dan layak.

Keenam, dalam desentralisasi pengelolaan pembangunan daerah, pernah
tersedia dana pembangunan desa/kelurahan (DPD/K) sejumlah Rp 10 juta. Jika
120 triliun rupiah itu dialokasikan ke DPD/K, maka sekitar 12 juta
desa/kelurahan akan mendapat jatah. Padahal, berapa jumlah desa atau
kelurahan di Indonesia? Sejuta saja tidak ada.

Ketujuh, mengingat manusia tidak bisa hidup hanya dari surga tapi juga
butuh nasi atau sembako, maka jika harga beras itu sudah jadi gila mencapai
Rp 4000 misalnya, dengan 120 triliun itu bisa dibelikan beras sekitar 30
miliar kilo. Jika tiap orang dari bayi sampai lansia rata-rata menghabiskan
_ kilo sehari, maka beras itu sudah cukup untuk makan seluruh rakyat
Indonesia selama 30 miliar dibagi 207 juta dibagi hari, alias sekitar 8
bulan.

Delapan, butir di atas mengandaikan semua orang Indonesia tidak mampu
membeli beras. Ini memang tidak betul. Yang tak mampu beli beras itu cuma
yang betul-betul miskin. Maka, jatuhnya justru akan lebih bagus. Sebab,
dengan 120 triliun rupiah itu, sekitar 25 juta kaum yang tak mampu beli
beras akan terjamin makan kenyang selama sekitar 6 tahun.

Sembilan, era informasi meniscayakan komputer. Komputer bermutu yang safe
bagi rakyat, katakan saja, agak ngawur biar pas, sekitar Rp 20 juta. Maka
dengan 120 triliun, kita bisa membeli 5 juta komputer. Sebab kita suka
gotong royong dan tiap komputer bisa dipakai sekitar 5-10 orang, dengan
demikian 30-60 juta rakyat Indonesia bisa kiprah ke dunia komputer sehingga
tidak terlalu ketinggalan sepur dalam dunia era informasi multimedia.
***
DARI 9 butir di atas, tampak 120 triliun rupiah itu amat banyak dan bisa
bersifat produktif. Tapi apakah ada manusia yang ikhlas jika hartanya
dibuat bancakan? Kemungkinan besar, tidak ada. Kecenderungan umum ialah
mempertahankan harta kita dengan segala cara. Maka dengan prinsip jer
basuki mawa bea, mungkin kita akan relalah jika terpaksa mengeluarkan dana
barang sekitar 10 persen dari 120 triliun, alias 12 triliun.

Dari 12 triliun itu, bisa dilahirkan 1001 kenyataan yang mengerikan.
Mengingat hal mengerikan itu tidak bagus dalam konteks edukasi, maka kita
batasi dua butir kenyataan saja, ialah menyangkut hardware dan software.

Pertama, menyangkut hardware. Misalnya dibelikan senjata di bursa senjata
sekitar Kosovo. Jika kita suka bedil, akan dapat sekitar 12 juta pucuk.
Suka pestol, akan dapat sekitar 3 sampai 6 juta, tergantung jenisnya. Untuk
beli granat atau ranjau, maka akan diperoleh sekitar 70 sampai 80 juta
butir. Kalau 12 triliun itu untuk beli parang, tentunya akan memenuhi
ratusan ribu gudang.

Kedua, menyangkut software, 12 triliun rupiah itu bisa untuk membayar para
profesional yang tarifnya bervariasi. Saat ini mungkin sekitar 1-10 miliar
untuk kelas berat, sekian ratus juta untuk kelas tengah, puluhan juta untuk
kelas bulu, sekian juta untuk kelas mandor, dan ratusan ribu sampai satu
juta untuk kelas teri. Nah dengan 12 triliun rupiah, kita bisa jadi "apa
saja" yang mengomando puluhan profesional kelas berat, ratusan profesional
kelas menengah, ribuan kelas bulu, puluhan dan bahkan ratusan ribu
profesional kelas teri.

Alhasil, dengan membuang 12 triliun, mungkin 108 triliun diselamatkan.
Tapi itu semua cuma khayal dan mimpi saya, gara-gara jatuh cinta kepada 120
triliun rupiah tersebut. Apakah ia sesuai kenyataan, saya tidak tahu.
***

Diambil dari:
Buku Apa Adanya

L Murbandono Hs
MENCINTAI ORANG JELEK
Dan Lain-Lain

Kumpulan Tulisan Gamblang
Mungkin Membuat OtakTerang

100 Halaman A5
 Hitam Putih

Dicetak Hanya Bagi Pemesan
Harga 15 gulden + Ongkos Kirim

Isi antara lain:
  Mencintai Orang Jelek
  Mencintai Orang Rakus
  Mencintai Uang Haram
  Mencintai Pelacur
  Menonton Diktator
  Menonton Penjilat
  Menonton Negara Bingung
  Menonton Kabinet Jorok
  Menonton DPR/MPR Cabul
  Menonton Maling Terhormat
  Menonton "Agama"
  Menonton KKN
  Menonton Soeharto
  Anarki Salah Kaprah
  Semua Diktator Jadi "Gila"
  Ketololan Soal Millenium III
  Rekonsiliasi Katolik
  Komunis dan Katolik
  Politik Cabul
 

Pesanan Kepada:
"Cinta Orang Jelek"
Calvijnhof 3
1216 KW Hilversum
Email: mung.murbandono976@rnw.nl

----- End of forwarded message from Mung Murbandono -----

---
Email all postings in plain text (ascii) to apakabar@radix.net
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH YEAR 2000 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
SEARCH 1990-1999 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net/search-all.html>
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---