[INDONESIA-NEWS] Tabloid KONTRAS (Aceh) No. 104

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Sat Sep 30 2000 - 15:58:39 EDT


X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/image/200926kon.htm
                                      
               T A B L O I D B E R I T A M I N G G U A N
                                      
                               K O N T R A S
                                      
                          KOMUKATIF DAN TRANSPARAN
                                      
                              Kontak Redaksi
                                      
                                Edisi Lalu
   ______________________________________________________________________
                                      
              No. 104 Tahun II 27 September - 2 Oktober 2000
                                      
                       Edisi cetak terbit setiap Rabu
                                      
   [INLINE]
   
                                  Anekdot
                                      
   
   Seorang Menantu
   Setiap selesai shalat, Tgk Amir, yang anak tunggal, senantiasa berdoa
   dengan penuh harap. "Ya, Tuhan. Aku tak minta apa-apa untuk diriku
   sendiri, tapi tolonglah berikan kepada ayah dan ibuku seorang
   menantu!"
   
   Apa Campurannya?
   "Apa yang menjadi masalah saudara-saudara?" tanya seorang psikiater
   kepada pasiennya.
   "Tidak ada! Hanya istri saya bersikeras menyuruh saya datang kemari,
   karena saya senang sekali dengan kaus kaki katun!"
   "Saya sendiri juga senang dengan kaus kaki katun," sahut sang
   psikiater.
   "Oh, boleh jadi favorit kita sama. Tapi, boleh saya tahu katun dengan
   campuran apa yang Anda pakai? Cuka, kecap, atau justru saus tomat?"
   Rusdy RM
   Mahasiswa Fak. Pertanian Universitas Samudera
   Kampus Meurandeh, A Timur 24411
   
   Harus Menunggu
   "Kenapa kamu pulang terlambat, Nak?" tanya seorang janda pada anaknya
   yang baru pulang sekolah.
   "Tadi di tempat pemberhentian bus, ada orang kehilangan dompet, Bu!"
   "Lalu apa hubungannya, antara keterlambatanmu dengan orang itu?
   "Dompet tersebut saya injak, Bu! Jadi, saya harus menunggu dulu sampai
   pemiliknya pergi, baru saya bergerak," jelas anaknya.
   
   Salah Sangka
   Sambil memegang sebatang rokok, seorang pemuda menyetop becak di
   persimpangan jalan.
   "Mau ke mana, Bang?" tanya tukang becak.
   "Mau minta api. Bukankah Anda sedang merokok?"
   Nana Afriana Dewi
   Jl Remaja Komp. SKB Aceh Utara
   Lhokseumawe 23313
   
   Kasihan
   "Kasihan sekali gajah sebesar itu mati," ujar seorang anak kepada
   temannya.
   "Ah, tak pantas kau bilang begitu. Sebab, yang kasihan bukan gajahnya,
   melainkan penggali kuburnya!" jawab temannya kalem.
   
   Kalau Terdesak
   Dua orang yang sedang belajar main catur, diuji pelatihnya.
   Pelatih: Rudi, di mana kamu letakkan rajamu agar aman?
   Rudi : Saya letakkan di belakang.
   Pelatih: Dan kau Anwar, di mana kalau letakkan rajamu biar aman?
   Anwar : Saya akan meletakkannya dekat kuda.
   Pelatih: Lo, kenapa harus dekat kuda?
   Anwar : Apabila terdesak, sang raja dapat lari dan kabur naik kuda.
   Pelatih: ?!?
   Fitri Yuliani
   Jl Stasiun Cunda d/a Kantor Pos dan Giro Cunda
   Lhokseumawe, Aceh Utara
   
   Mercedes Benz
   Dua orang sahabat sedang duduk di sebuah taman sambil bercerita
   tentang teman mereka semasa di SMU dulu.
   Mamat: Kri, kamu tahu teman kita si Hasan yang dulu suka jualan koran.
   Akri : Ya, ingat. Memangnya kenapa?
   Mamat: Sekarang, pegangannya Mercedes Benz, Coy.
   Akri : Wah hebat dong, memangnya dia jadi direktur di perusahaan mana?
   Mamat: Bukan, dia bukan direktur, tapi jadi tukang cuci mobil.
   M Rian Tazli
   Kelas 1/3 SMUN 2 Peusangan
   Matang Glp Dua, Aceh Jeumpa 24261
   
   Manfaat Lari
   Dua orang veteran, Imran dan Amri, ketika bertemu di salah satu rumah
   saling cerita tentang pengalaman masing-masing.
   "Kamu tampak lebih awet, apa rahasianya?" tanya Imran.
   "O, aku rutin berolahraga lari pagi," terang Amri.
   "Lari itu memang sangat baik untuk kesehatan kita, terutama di pagi
   hari," Imran mengulas.
   "O, ya, lari itu memang sangat baik. Bukan saja untuk kesehatan kita,
   tetapi juga untuk keselamatan nyawa," ujar Amri menimpali.
   "Maksudmu," tanya Imran kurang mengerti.
   "Tidakkah kamu ingat dengan pengalaman kita sewaktu terkepung tentara
   musuh tempo hari? Kalau tidak lari, tentu aku sudah gugur," sahut
   Amri.
   
   Bernasib Sama
   "Ada apa kau menangis, Rina?" tanya sang ayah pada anaknya.
   "Diomeli ibu karena minta uang jajan," sahut anaknya.
   "Sudahlah, kalau begitu nasib kita hampir sama!" jawab ayahnya
   menghibur.
   "Kenapa? Apakah ayah dimarahi ibu juga karena minta uang jajan," tanya
   anaknya penasaran.
   "Bukan, ayah dimarahi karena tidak memberi uang belanja."
   Askari Sy
   Kompleks Nes I CV I Alue Ie Mirah, Kuta Binjei
   Julok, Aceh Timur 24457
   
   Merasa Dihina
   Seorang lelaki setelah menginap beberapa malam di hotel, marah- marah
   pada pemilik hotel tersebut. Rupanya ia merasa tarif menginap di hotel
   itu sudah terlalu mahal.
   Tapi, meskipun diomeli, si pemilik hotel cuma tersenyum sembari
   berkata, "Kalau mau murah sebaiknya tuan menginap di penjara. Di sana
   serba gratis, makan gratis, tidurnya juga gratis!"
   Risnawati Is
   Siswi SMK Negeri 2 Parawisata
   Jl Darussalam Desa Ulee Jalan
   Hagu Barat Laut, Lhokseumawe 24351
   
   [INLINE]
   
                                    Pusu
                                      
   
   Ie Krueng Kuala ceukoe hanaban
   Ie Krueng Seunagan jile that teuga
   Ureueng di Aceh geubri cobaan
   Musibah Tuhan teungoh tarasa
   
   Rakyat dum jipoh mate meutimphan
   Hana tatujan peuluru teuka
   Aceh ta harap beusigra aman
   Doa bak Tuhan beu sukses Jeda
   
   [INLINE]
   
                                Jen jen jok
                                      
   
   Aleh hai Luha, Ba hai Teungku
   Syaribanun mendengar sebuah kalimat manis di televisi. "Upaya untuk
   mencerdaskan kehidupan bangsa tidak pernah surut, baik melalui jalur
   pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah". Ada seorang
   pejabat yang mengucapkan kata itu untuk sebuah acara seremonial.
   Watita itu tak mengerti benar di mana acara itu berlangsung. Tapi
   kalimat tadi terus membekas di hatinya.
   
   Jen- jen jok datang tak lama setelah Syaribanun "merekam" kalimat
   tersebut. Di televisi masih berlangsung acara warta berita yang
   menampilkan berbagai kegiatan berikut ucapan-ucapannya. Dia teringat
   kepada karibnya Bapak Kepala yang juga sering melontarkan kata-kata
   itu bila memberi pengarahan kepada anak buahnya. Atau Jen- jen jok
   ingat betul bagaimana dengan safari warna abu-abu tua Bapak Kepala
   berdiri di depan para hadirin. Penuh wibawa seorang pemimpin.
   
   Atau di kesempatan lain ketika Bapak Kepala seolah memperoyeksikan
   diri sebagai Bapak Atasan dengan ungkapan-ungkapannya yang penuh
   wejangan. "Marilah kita meningkat rasa persatuan dan kesatuan melalui
   penerapan dan pelaksanaan Kadarkum dalam rangka menuju tinggal landas
   dan menyongsong sidang umum," kata Bapak Kepala ketika itu. Televisi
   lokal pun menyiarkan acara Kadarkum itu, karena Bapak Kepala mewakili
   atasannya, sekaligus membaca pidato tertulis.
   
   Kepada jen- jen jok Bapak Kepala kemudian mengakui kalau apa yang
   diucapkan itu sebenarnya tak dia mengerti dengan jelas. Dia cuma
   membaca, sedangkan yang tulis adalah orang lain. Dia tak bisa juga
   paham apa hubungannya antara Kadarkum dengan tinggal landas. Apa pula
   hubungan tinggal landas dengan sidang umum. "Pokoknya saya tinggal
   baca karena karena Bapak Atasan berhalangan hadir," katanya
   menjelaskan kepada Jen- jen jok. "Yang paling penting," kata Jen- jen
   jok menyarankan, "jangan sekali-sekali lupa mengirim salam Bapak
   Atasan, dengan menyebutkan sebenarnya beliau berkeinginan hadir, tapi
   berhubung....."
   
   Bapak Kepala tertawa mendengar ta'limat Jen- jen jok yang seolah- olah
   paling tahu tradisi birokrasi. Termasuk tradisi seorang pejabat
   pengganti alias pejabat pembaca kata sambutan yang selalu tidak lupa
   dengan kalimat sterotip "Sebenarnya beliau berkeinginan untuk hadi,
   tapi......". Perkara ada atau tidaknya Bapak Atasa kirim salam kepada
   hadirin, itu soal lain. Yang penting harus begitu. Kalau tidak dia
   akan kena tegur. Sebab, biasanya walau telah mengirim wakil resmi
   untuk membacakan sambutannya, Bapak Atasan juga tak lupa mengirim
   mata-mata untuk mengamati bagaimana tingkah laku orang yang
   mewakilinya: Apakah ada kreueh bhan keue ngon bhan likot?
   
   Kreueh bhan keue ngon bhan likot adalah sebuah kalimat sindiran yang
   muncul di masa kini sesuai dengan konteks kekinian. Sedangkan di masa
   lalu, berbagai ungkapan digunakan untuk menyindir seseorang sesuai
   dengan konteks masa itu. "Takheuen bangai ok teukoh, takheuen bodoh
   sikula pih na." Bila sesorang didapati keliru karena kebodohannya maka
   ungkapan yang artinya: Dibilang dungu rambut terpangkas, dibilang
   bodoh sekolah pun ada, menjadi sindirin tepat. Ungkapan itu tentu
   sesuai konteks zamannnya. Dulu, lelaki yang memangkas rambutnya cukup
   langka. Hanya orang-orang terpelajar dan telah maju saja yang
   berpangkas rambut. Selebihnya, ya dicukur.
   
   Demikian juga dengan soal sekolah. Amat jarang orang tua di kampung
   yang pernah mengenyam sekolah pada tingkat yang memadai. Apalagi yang
   sempat mendapat didikan di Mulo --sebuah sekolah menengah masa
   Belanda. Tapi meski tidak sekolah, jangan kira orang-orang tua itu
   buta huruf --atau bahasa sekarang disebut buta aksara. Rata-rata orang
   zaman bisa membaca dengan lancar dan sekaligus bisa berkomunikasi
   dengan orang luar dengan menggunakan bahasa Melayu. Pengajian kitab
   Jawo yaitu tulisan Arab bahasa Melayu telah memung- kinkan orang Aceh
   pandai membaca plus berbahasa Melayu alias bahasa Indonesia. Hanya
   yang tidak pernah mengaji saja yang tidak memiliki kemampauan
   tersebut.
   
   Seorang teman Jen- jen jok di masa kecil, Luha namanya. Pria ini sama
   sekali tidak bisa bahasa Melayu dan membaca kitab Jawo. Dia dulu
   tergolong yang malas mengaji. Untuk mengeja huruf-huruf Arab dalam
   kitab Mukaddam saja, Luha tak mampu. Telah tiga buah Muhaddam sempat
   lusuh, Luha belum juga bila membaca alif ba ta sa. Apalagi kalau
   disuruh membca rangkaikan ba ateueh bareh ba, ba di yup bareh bi, ba
   kiwieng bareh bu. Dia bisa menghafal kata-kata itu, tapi mana yang ba,
   dia tak tahu.
   
   Sebagai seorang teman, Jen-jen jok memperlakukan Luha dengan baik,
   berbeda dengan beberapa teman lain yang seolah mengucilkannya. Maka
   kepada Jen- jen jok pula Luha menyampaikan isi hatinya. Dia
   berpendapat, untuk apa mengaji tinggi-tinggi karena orang alim sudah
   ramai. Kenapa harus sekolah karena guru dan kerani telah penuh kantor.
   Tapi Luha tak bisa menjawab ketika Jen- jen jok mengajukan pertanyaan,
   kepada dia harus kawin karena suami telah banyak. Dia cuma
   terkekeh-kekeh sambil menyebut nama seorang anak perempuan yang dia
   gilai selama ini.
   
   Memang Luha adalah satu di antara lelaki yang tak mengerti bahasa
   Melayu dan tak bisa membaca kitab Jawo. Sekolah dan mengaji adalah dua
   hal yang tidak menarik baginya. Malah dia menganggap pergi mengaji ke
   rumah Teungku sebuah keterpaksaan karena disuruh orangtuanya. Jen- jen
   jok mencoba menyadari Luha, tetapi sahabatnya itu tetap pada
   prinsipnya. "Coba Luha baca ba ateueh bareh ba, ba di yup bareh bi, ba
   kiwieng bareh bu. Ba bi bu....," tuntunnya. Dengan cukup sigap Luha
   pun menjawab: Ba bi bu, soe nyang ba po nyan bi bu..."
   
   Pernah suatu malam dalam pengajian di rumah Teungku, Luha diajarkan
   mengenal alif --yang dalam lafal Aceh dieja dengan aleh. Sang Teungku
   memegang tangan anak lelaki itu sambil mengarahkan lidi di tangan
   --sebagai alat penunjuk huruf-- ke huruf alif. "Aleh hai Luha," kata
   Teungku meminta dia mengulangi kata-katanya. "Ba hai Teungku," jawab
   Luha. Dan merasa dipermainkan, Teungku berucap: "Kacok alee kuneuk poh
   Si Luha...." Lalu: "Kacok nuga kuneuek poh Teungku," jawab sang murid.
   Setelah itu Luha tak pernah lagi hadir di pengajian.
   
   Syaribanun mendengar cerita suaminya perilhal Luha. Dia teringat
   kalimat-kalimat seorang di televisi tadi. "Upaya untuk mencerdaskan
   kehidupan bangsa tidak pernah surut, baik melalui jalur pendidikan
   sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah." Juga kisah Bapak Kepala
   yang membaca pidato tertulis Bapak Atasan. Dia membayangkan seorang
   Luha. dengan rangkaian kalimat: Aleh hai Luha, ba hai Teungku.
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   
                       PERNYATAAN PERS BERSAMA RI-GAM
                                      
   Pada tanggal 24 September 2000 waktu Jenewa, Swiss, Republik Indonesia
   dan Gerakan Aceh Merdeka dalam pertemuan ketiga Forum Bersama di
   Swiss, mengonfirmasi ulang tentang dukungan mereka terhadap Jeda
   Kemanusiaan di Aceh dan bersetuju untuk memperpanjang Jeda Kemanusiaan
   hingga 15 Januari 2001.
   Dalam periode kedua Jeda Kemanusiaan ini, Pemerintah Republik
   Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka setuju untuk:
   1) memasuki pembicaraan awal demi mencapai solusi politik yang
   komprehensif dan jangka panjang untuk Aceh,
   2) melakukan apa saja yang diperlukan dalam meningkatkan efektivitas
   dari Jeda Kemanusiaan. Dalam hal ini, kedua belah pihak menyepakati
   untuk memperluas jaringan Tim Monitoring ke empat kabupaten yang
   paling rawan (Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Selatan, red), dan
   3) komit terhadap upaya pemulangan pengungsi yang aman dan cepat ke
   rumah mereka masing-masing, menghindari adanya eksodusan baru, serta
   menjaga keselamatan pekerja kemanusiaan.
   
                                 Tertanda,
                                      
                 Bakhtiar AbdullahMisi Tetap Pemerintah RI
                                      
                      (Gerakan Aceh Merdeka)di Jenewa
                                      
   
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   NAD Pengganti Merdeka?
   Jeda Kemanusiaan untuk Aceh akhirnya diperpanjang hingga 15 Januari
   2001. Tapi, untuk penyelesaian kasus Aceh secara substansial, RI
   paling banter memberi otonomi khusus bagi Aceh yang dikemas dalam
   label Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sudikah GAM menerima NAD sebagai
   pengganti merdeka?
   
   Sulit memang membayangkan apa yang terjadi kalau jeda kemanusiaan tak
   diperpanjang. Dengan jeda saja Aceh masih berdarah-darah, konon pula
   tanpa jeda. Bila jeda dicukupkan, serasa tak ada lagi yang membatasi
   pihak-pihak bersenjata untuk kembali saling gempur. Perang tanding
   terulang. Seperti biasa, rakyat sipil yang tak bersenjata lagi-lagi
   menjadi korban terbanyak.
   Sekadar gambaran, ketika nasib jeda tak menentu sejak 3 hingga 23
   September, yang tewas di Aceh tercatat 88 orang. Korban terbanyak,
   seperti biasanya, tetap warga sipil: 62 orang. Sedangkan aparat
   TNI/Polri yang tewas 19, di pihak AGAM 7 orang. Tindak
   penganiayaan/penyiksaan meningkat luar biasa, dengan jumlah korban 124
   orang (74 sipil, 50 TNI/Polri). Warga sipil yang diculik pun tak
   sedikit: 39 orang, 1 orang Polri. Kontak senjata juga menggila, 27
   kali.
   Kasus pembakaran jangan tanya lagi, 216 kasus. Forum Peduli HAM juga
   mendata 19 kasus perampasan dan 49 kasus pengrusakan, misalnya,
   terhadap kantor pemerintah, posko aparat, ruko, bahkan sebuah masjid
   dan kantor HMI di Aceh Timur. "Ini gejala yang tak normal, sebab
   semasa jeda kemanusiaan tahap I efektif, angka-angka destruktif itu
   tidak sedemikian parah," kata Bathlimus MHum, ketua Divisi
   Investigasi, Data, dan Dokumentasi FP-HAM.
   Angka kematian 88 orang dalam kurun 3-23 September itu, misalnya,
   lebih tinggi dari total korban tewas selama tiga bulan JoU yanya
   "hanya" 83 orang (periode 2 Juni - 2 Juli 19 orang, 3 Juli - 2 Agustus
   32 orang, dan 3 Agustus - 2 September juga 32 orang). Jadi, nyata
   benar, tanpa jeda kemanusiaan: kekerasan atas anak manusialah yang
   merajalela!
   Tanpa jeda, entah apa pula jadinya generasi Aceh masa depan. Akan
   banyak generasi yang hilang (lost generation) di Aceh. "Maka, demi
   rakyat Aceh yang kini mengharapkan hidup damai dan demi generasi Aceh
   masa depan, jeda kemanusiaan harus diperpanjang," begitu dinukilkan
   Dra Naimah Hasan MA dengan bercucur air mata, Jumat (15/9) lalu.
   Fragmen yang menyentuh nurani itu berlangsung di Hotel Kuala Tripa,
   Banda Aceh, ketika Ketua Komite Bersama Aksi Kemanusiaan (KBAK) wakil
   RI itu memaparkan isi hati dan harapannya terhadap jeda kemanusiaan.
   Naimah tampil bersama ketua/anggota komite dan tim monitoring jeda
   kemanusiaan. Mereka bersama-sama memberi penilaian terhadap evaluasi
   jeda tahap I seraya memberi masukan guna memboboti jeda tahap II dalam
   diskusi yang diprakarsai Forum Peduli HAM itu. Hasil dari pertemuan
   itu, karena dianggap penting oleh Henry Dunant Centre, ikut diboyong
   ke Joint Forum di Jenewa pada 21 September sebagai bahan kontribusi
   (Baca: Rekomendasi dari Aceh)
   Dari Aceh, yang ikut dalam perundingan itu adalah Naimah Hasan,
   Superintenden Ridhwan Karim (Ketua KBMK wakil RI), Tgk Amni bin Ahmad
   Marzuki (anggota KBMK wakil GAM), dan Sofyan Ibrahim Tiba SH (anggota
   KBAK wakil GAM). Bersama petinggi GAM di Jenewa dr Zaini Abdullah dan
   para perunding RI (permanent mission) di Jenewa mereka berdialog.
   Perunding itu berlangsung alot. Tapi, hasilnya lumayan menggembirakan
   seperti diharap Naimah Hasan (wakil RI) dan Tgk Amni (wakil GAM), yang
   sama-sama ingin jeda diperpanjang. Itu artinya, para pihak yang
   terikat JoU makin memperkuat komitmennya untuk mendukung jeda yang
   diupayakan dengan susah-payah pada 12 Mei silam (Lihat Pernyataan Pers
   Bersama RI-GAM).
   Sikap "cinta nilai-nilai kemanusiaan" itu ditunjukkan dengan komitmen
   bersama para perunding "melakukan apa saja yang diperlukan dalam
   meningkatkan efektivitas dari jeda kemanusiaan. Dalam hal ini, kedua
   belah pihak sepakat untuk memperluas jaringan tim monitoring ke empat
   kabupaten yang paling rawan. Kontras mendapat informasi dari pihak GAM
   bahwa kabupetan rawan yang mendapat tambahan anggota tim monitoring
   itu adalah Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Selatan. Ini
   sejalan dengan masukan dari kelompok strategis masyarakat dalam
   berbagai diskusi dan evaluasi JoU yang dilaksanakan di berbagai tempat
   di Aceh.
   Jeda tahap II ini dinilai lebih menukik ke akar persoalan, karena para
   pihak memperkuat komitmen terhadap upaya pemulangan pengungsi ke rumah
   mereka masing-masing, menghindari adanya eksodusan baru, serta menjaga
   keselamatan pekerja kemanusiaan. Poin keselamatan bagi pekerja
   kemanusiaan ini menjadi penting digarisbawahi, karena akibat rusuh di
   Atambua ada tiga pekerja kemanusiaan dari UNHCR terbunuh. Kejadian itu
   membuat AS bereaksi keras terhadap RI.
   Di Aceh pun, ada dua petugas PMI yang tewas serta sejumlah pegiat LSM
   yang pro pada pemberdayaan civil society dan penegakan HAM dihabisi.
   Diculik dan tewasnya Ketua IFA, Jafar Siddik Hamzah (35), di Medan,
   adalah bukti nyata dari kekhawatiran itu. Maka wajar, kalau
   kesemalatan pekerja kemanusiaan perlu lebih dijamin. Apalagi
   mengingat, mereka yang kini aktif di Komite Aksi Bantuan Kemanusiaan
   dan di tim monitoringnya, adalah pribadi-pribadi yang tergolong
   pekerja kemanusiaan. Sayangnya, tak ada proteksi yang memadai bagi
   mereka. Juga bagi aktivis LSM yang ikut membantu menyalurkan bantuan
   kemanusiaan. Pangkal masalahnya adalah, Indonesia belum meratifikasi
   Deklarasi Pembela HAM (Human Rights Defenders) yang semestinya menjadi
   perisai bagi pembela hak asasi manusia.
   Solusi politik
   Istimewanya lagi, jeda kemanusiaan tahap II ini mengakomodir langsung
   niat GAM dan RI untuk memulai pembicaraan awal demi mencapai solusi
   politik yang komprehensif dan jangka panjang untuk Aceh.
   Memasuki tahapan ini, berarti pihak GAM dan RI mulai memempuh jalan
   yang bukan mengandalkan aksi militer, melainkan negosiasi atau
   tawar-menawar. "Pilihan ini patut dihargai," kata Aguswandi, ketua
   Kontras Aceh.
   Tapi, sebagaimana konsep penyelesaian konflik, pilihan yang demikian
   hanya akan punya arti kalau negosiasi itu memenuhi beberapa prasyarat.
   Pertama, harus ada pengertian bahwa hasilnya akan berupa sebuah
   kompromi, dan tak akan ada kemenangan mutlak. Kedua, harus ada konsep
   yang merumuskan sejauhmana batas kompromi itu. Ketiga, harus ada
   strategi tawar-menawar.
   Aguswandi menawarkan prasyarat, pembicaraan itu harus dilakukan dengan
   serius dan keterlibatan gerakan sipil sangat menentukan dalam hal ini.
   Ia juga mengingatkan bahwa GAM merupakan salah satu komponen
   masyarakat yang berseteru dengan Jakarta.
   Karenanya, dalam menyelesaikan persoalan Aceh secara menyeluruh, maka
   perlu dilakukan dialog politik dengan melibatkan gerakan sipil yang
   memiliki kekuatan riil di Aceh seperti ulama, aktivis mahasiswa, LSM,
   dan berbagai kalangan lainnya. "Sebab, persoalan Aceh adalah persoalan
   antara pemerintah dengan rakyat di daerah ini. Kalau dialog hanya
   dilakukan GAM dengan RI, yang selesai itu kan cuma persoalan di antara
   mereka saja," kata mahasiswa FH Unsyiah ini berargumen.
   Seperti dikatan Gus Dur, Indonesia memang ingin berdialog. Cuma,
   apapun hasil dialog itu kelak, RI tak bisa kompromi dalam hal keutuhan
   wilayah. Adapun konsesi maksimal yang bisa diberikan RI kepada Aceh
   sepertinya hanyalah otonomi khusus yang dikemas dalam label Nanggroe
   Aceh Darussalam (NAD).
   Tapi, kalaupun nama Nanggroe Aceh Darussalam disetujui, yang harus
   diklarfikasi segera, kata Gus Dur, Sabtu lalu di Bandung, adalah
   pengertian nanggroe. Sebab, itu artinya adalah "negeri". Jika istilah
   nanggroe digunakan, maka tidak boleh ada kesan bahwa Aceh adalah
   sebuah negara sendiri yang berada di bawah Negara Kesatuan RI. "Aceh
   tidak boleh lepas dari RI, apapun risikonya," kata Gus Dur ketika
   berdialog dalam Pekan Refleksi Pergerakan Mahasiswa Aceh 2000 di
   Bandung.
   Kebijakan memberi status otonomi khusus kepada Aceh ini sepertinya
   tengah serius dirintis Gus Dur, meski ia belum mengkonsultasikannya
   kepada MPR/DPR. Upaya itu terlihat dari keseriusan Gus Dur meminta
   Mendagri merampungkan RUU NAD tersebut.
   Tapi, masalah kemudian timbul begitu Mendagri serius menelaah draf RUU
   NAD tersebut, ternyata di kantornya sudah masuk empat buah draf.
   Masing-masing diusulkan oleh pihak berbeda. Yang pertama dibuat Pansus
   DPRD, kemudian rancangan itu disempurnakan lagi oleh Pemda bersama
   pakar-pakar dari Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry. Draf lainnya dari Forum
   Bersama Anggota DPR-RI Asal Aceh (Farhan Hamid Cs). Satunya lagi draf
   yang dinamakan sebagai draf Daulah Islamiyah Aceh yang belum diketahui
   siapa pemrakarsanya. Kabarnya, Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta juga
   mengajukan draf.
   Karena membingungkan dan mengesankan Aceh tak kompak, Mendagri
   akhirnya mengembalikan keempat draf tersebut untuk dikompilasi menjadi
   hanya satu draf dari Aceh. Itulah sebabnya kini, DPRD Tk I Aceh sedang
   sibuk menangani ulang draf-draf tersebut. Lebih mengejutkan, ternyata
   di DPRD Aceh saat ini, bukan empat draf yang ada, melainkan lima.
   Salah satu yang terbaru diusul oleh perorangan, Said Zainal Abidin,
   warga Aceh di Jakarta.
   Drs H Azhari Basyar yang diserahi tugas sebagai Wakil Ketua Pansus RUU
   NAD mengaku, banyaknya draf itu mengesankan orang Aceh tidak kompak di
   mata pusat (Lihat boks hlm 6).
   Kini, menurutnya, DPRD Aceh tengah melakukan kaji ulang kembali untuk
   mematangkan draf RUU NAD dan kelak akan hanya ada satu draf (tunggal)
   dari Aceh. Itulah kelak yang akan diserahkan kepada pemerintah
   (Mendagri). Sejauh ini, draf-draf yang masuk itu ada yang
   penjabarannya terlalu luas (yakni milik Pemda, yang mengatur detail
   pemerintahan sampai ke tingkat gampong/sagoe) ada pula yang sangat
   sederhana.
   Bila "penyatuan" draf RUU NAD itu tuntas medio Oktober nanti, baru
   akan dibahas dalam Sidang Pleno DPRD. Bila oke di Aceh, baru dikirim
   ke Jakarta. Sesampai di Jakarta, seperti janji Gus Dur, pemerintah
   bertekad merampungkan RUU itu secepatnya.
   Jakarta rupanya mengartikan tuntutan daerah yang bergolak seperti Aceh
   sebagai upaya menuntut "pembagian kekuasaan" yang kini timpang. Maka,
   menurut tafsir Jakarta, dengan UU Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan
   Daerah serta UU Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keungan Pusat dan
   Daerah, ditambah kelak UU NAD, maka tuntaslah persoalan Aceh dengan
   Jakarta. Sebab, dengan ketiga UU itu, apalagi bila ditambah UU No
   44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, akan mengakhiri
   pemusatan kekuasaan oleh Jakarta.
   Kekuasaan pusat atas daerah pun dibatasi hanya dalam hal pertahanan
   eksternal, hubungan luar negeri, dan moneter. Selebihnya milik dan
   wewenang sah daerah. Daerah dianggap sebagai sebuah entitas yang
   otonom. Gubernur pun tak perlu lagi didrop, atau disetujui pusat,
   seperti yang lazim terjadi selama ini. Dalam konsep NAD yang radikal:
   Aceh pun hanya berkewajiban memberi 10% (maksimal 20%) kepada pusat
   dari semua penghasilan dan sumber-sumber pendapatannya.
   Beberapa pengamat ekonomi, termasuk politisi seperti Drs M Kaoy Syah
   MEd, menilai, Aceh akan booming uang bila keempat UU itu diterapkan di
   Aceh. "Dengan semua UU itu, Aceh bahkan mampu meraup keuntungan
   finansial untuk memandirikan dan menyejahterakan dirinya," kata Kaoy
   Sabtu lalu dalam diskusi yang digelar Forum Darussalam di Sultan Hotel
   Banda Aceh.
   Tapi, Aguswandi yang tampil sebagai pembanding dalam diskusi Menggagas
   Aceh Masa Depan itu, kurang sependapat dengan optimisme Kaoy. Kandidat
   gubernur Aceh itu, dinilai Agus, sangat bergantung pada kebaikan hati
   dan decision politic Pemerintah Pusat atas Aceh. "Padahal, sejarah di
   Aceh membuktikan, decision politic pusat itu tak pernah jalan di
   Aceh," tukasnya. Memang, banyak pihak mencatat, dusta dan dustalah
   yang kerap dilakoni pusat atas Aceh, sembari menguras dan menindas.
   GAM tolak NAD
   Kebiasaan Jakarta memperdaya Aceh ini pula yang membuat Abu Sofyan
   Daud, wakil Panglima AGAM Wilayah Pase, menolak dengan tegas konsep
   NAD. "NAD itu tidak sama dana tidak akan bisa menggantikan kemerdekaan
   yang kami tuntut dan perjuangkan," kata Abu Sofyan menjawab Kontras,
   Senin.
   Ia bahkan segendang sepenarian dengan Tgk Darwis Djeunieb dari kawasan
   Batee Iliek bahwa "Kalau elite Aceh tetap mengusulkan dan menerima
   otonomi khusus, mereka akan menjadi musuh seluruh jajaran GAM."
   Ironisnya, pada saat yang sama, Ketua DPRD Aceh Tgk Muhammad Yus sudah
   mengklaim bahwa NAD-lah kunci akhir masa depan Aceh. Ia tampaknya
   lebih gandrung Aceh tetap menjadi bagian RI, tapi dengan keleluasaan
   yang amat sangat (lihat boks hlm 7).
   Tapi masalahnya, GAM sudah bersikukuh, ingin menarik diri dari proyek
   bersama yang bernama Indonesia. Karena itu, GAM berharap, sudah
   seharunya ada kebebasan bagi iapa saja untuk menentukan, akan terus
   ikut dalam proyek bersama itu atau tidak. Jika sebagian rakyat Aceh
   bilang "tidak", seperti juga sebagian rakyat Papua dan Riau, mereka
   tidak bisa dikerasi untuk bilang "ya". Lebih khusus lagi untuk Aceh
   yang juga menopang gerakan kemerdekaannya dengan senjata, tidaklah
   mudah melucuti GAM. "Jangan berkhayal tentang itu. Sebab, itu sangat
   tidak mudah," kata Abu Sofyan Daud (lihat boks hlm 4)
   Memang, sepertinya perang terbuka akan segera menjelma bila GAM tak
   mau menerima otonomi khusus berbungkus NAD. Sebab, RI juga berkeras
   agar tak melepaskan Aceh --daerah modal republik. Tapi, apalah artinya
   jeda kemanusiaan dan pembicaraan politik yang substansial yang selama
   ini dirintis, kalau toh akhirnya para pihak angkat senjata lagi.
   Hendaknya, para pihak memang memahami benar arti kata negosiasi. Bahwa
   dalam sebuah kompromi tak akan ada kemenangan mutlak. Maka, mengapa
   tidak berkompromi tanpa harus keduanya kehilangan muka. Untuk itu,
   pihak ketiga, malah kalau dapat PBB, seperti diusulkan SIRA, ditunjuk
   sebagai penengahnya.
   Memang akan menyedihkan apabila Aceh meninggalkan Indonesia, mengingat
   jasa besar yang diberikannya kepada republik ini. Tapi, sebuah rencana
   yang baik akan bisa mengurangi, bahkan meniadakan, akibat buruk dari
   perceraian itu. Dan, tetap diingat, cerainya Aceh dengan RI, atau
   bahkan Indonesia pecah setelah itu, bukanlah berarti kiamat.
   Bukan mustahil, Indonesia yang akan datang --justru karena hilangnya
   wilayah yang kaya sumber daya alam-- akan lebih terpaksa menyiapkan
   sumber daya lainnya, terutama kualitas manusianya. Sebaliknya, sebuah
   Aceh yang merdeka belum tentu merupakan sebuah tempat yang benar-benar
   merdeka --terutama bila masih dirundung dendam kesumat etnis atau
   menampik hak yang minoritas dan berbeda seperti di Tim-Tim. Maka, bagi
   para perunding, juga warga sipil di Aceh, pikirkanlah yang terbaik
   bagi masa depan Aceh, termasuk kemungkinan yang terburuk. tim kontras
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Abu Sofyan Daud
   Wakil Panglima AGAM Wilayah Pase
   Jangan Berkhayal Melucuti Senjata AGAM
   
   Bagaimana Anda menyikapi perpanjangan jeda kemanusiaan?
   Begini, menyangkut diperpanjangnya jeda, kami yang di lapangan akan
   selalu mematuhi apapun keputusan pimpinan GAM. Kami patuh dan taat
   atas setiap keputusan Joint Forum di Jenewa. Tapi, bila pihak
   TNI/Polri tetap melanggar aturan jeda seperti halnya menyerang GAM,
   maka kami tetap mempertahankan diri. Sebab, AGAM punya hak membela
   diri. Dalam amatan kami, pelanggaran yang dilakukan TNI/Polri, antara
   lain, masuk ke desa-desa dengan berdalih operasi rutin. Padahal, di
   antara mereka ada yang membunuh rakyat dan menyerang markas AGAM.
   Menurut GAM, mengapa jeda kemanusiaan harus diperpanjang?
   Agar masyarakat menjadi aman dan memungkinkan penyaluran bantuan
   kemanusiaan terhadap korban. Kalau masih ada penyerangan terhadap
   masyarakat, penyaluran bantuan akan terkendala.
   Ada yang menuding, justru AGAM yang menghambat penyaluran bantuan
   kemanusiaan selama ini?
   Tak mungkin itu. Kan, ada wakil-wakil GAM yang duduk dalam Tim Jeda
   Kemanusiaan. Memang kami pernah mendengar tuduhan bahwa terhambatnya
   bantuan kemanusiaan karena intervensi pihak GAM. Padahal, isu itu
   samasekali tak betul. GAM malah sangat mendukung tersalurnya bantuan
   kemanusiaan kepada rakyat Aceh.
   Sabtu lalu Presiden Gus Dur menyatakan kalau perundingan Jenewa gagal
   dan GAM menolak otonomi khusus melalui NAD, maka RI akan melucuti
   senjata AGAM. Apa komentar Anda?
   Hari ini, yang kami tuntut cuma merdeka. Pemerintah RI tak berhak
   memberi sesuatu sesuka hatinya. Kalaupun dikatakan kemudian AGAM
   dilucuti, itu juga berarti satu upaya pelanggaran terhadap jeda
   kemanusiaan yang telah disepakati bersama.
   Apakah AGAM sudi dilucuti senjatanya?
   Bagi AGAM, senjata merupakan alat untuk membela diri dan menebus
   kemerdekaan. Tapi, kalau TNI/Polri ingin melucuti senjata yang kami
   miliki, AGAM akan melawan sebagai upaya mempertahankan diri.
   Kalau TNI/Polri tetap akan melucuti senjata AGAM bagaimana?
   Saya kira takkan mudah melakukan itu. TNI/Polri hendaknya jangan
   berkhayal melucuti senjata AGAM. Kalau itu dilakukan, kami kira akan
   terjadi perang besar di Aceh.
   Risikonya terhadap rakyat?
   Tentunya masyarakat akan jadi korban. Padahal, AGAM tak ingin rakyat
   terus-menerus menderita. Sebaliknya, AGAM akan melindungi bangsa Aceh.
   Bagaimana kalau dimusyawarahkan kemerdekaan bertahap?
   Bagi kami pasukan AGAM di lapangan, hanya ada satu tujuan perjuangan,
   yakni merdeka. Menyangkut dialog politik dengan pihak RI, itu terserah
   kepada pimpinan GAM di Swiss. Sementara bagi kami di lapangan, hanya
   bertugas menghentikan kekerasan agar tak jatuh korban di pihak rakyat.
   Kalau misalnya Wali Negara Aceh dalam perundingan sepakat menerima
   kemerdekaan secara bertahap, bagaimana sikap Anda di lapangan?
   Saya kira, Wali Negara Aceh Dr Teungku Hasan di Tiro tentu lebih tahu
   apa yang terbaik bagi Aceh. Kami saja yang di lapangan menginginkan
   merdeka, pimpinan kami tentu lebih tegas lagi daripada kami.
   Bagaimana sikap Anda tentang draf RUU Nanggroe Aceh Darussalam yang
   sedang disiapkan kembali oleh DPRD Aceh?
   Itu hanya urusan parlemen Indonesia yang ada di Aceh. Urusan kami
   hanya ingin memerdekakan Aceh.
   Penangkapan sejumlah orang Aceh yang dituduh melakukan pengeboman di
   Jakarta, apakah benar mereka ada hubungannya dengan AGAM?
   Itu tak ada kaitan samasekali dengan AGAM. Perjuangan AGAM hari ini
   dilakukan di Aceh. Yang terjadi di Jakarta mungkin dilakukan oleh
   rakyat Jawa yang melakukan perlawanan untuk kemerdekaan mereka. Apa
   yang terjadi di Jakarta, mungkin sama dengan yang terjadi di Maluku,
   Atambua, dan Papua. Tuduhan penangkapan orang di Jakarta berkaitan
   dengan perjuangan AGAM di Aceh, itu tak lebih dari upaya penghinaan
   terhadap GAM. Tuduhan itu hanya untuk menjelek-jelekkan citra GAM.
   Sebenarnya, medan perang untuk menggapai kemerdekaan terbuka di Aceh.
   Dan, AGAM tak mengirim satu pun personilnya ke daerah lain untuk
   membuat kekacauan. tim kontras
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Tgk H Imam Suja'
   Ketua Majelis Ulama Aceh
   Kemerdekaan Bertahap, Mungkin Lebih Bagus
   
   Ketua Majelis Ulama Aceh, Tgk H Imam Suja', yang baru-baru ini sukses
   menjadi mediator pembebasan Sayed Ikram, putra Sayed Hoesainy
   (Kapolres Aceh Besar), tanpa disertai syarat apapun dari pihak GAM,
   menyatakan optimis hasil perundingan RI-GAM di Jenewa akan memberikan
   kedamaian bagi rakyat Aceh. Itu pun kalau kedua pihak berpegang pada
   firman Allah SWT.
   Imam Suja' yang juga Ketua PW Muhammadiyah Aceh dalam bincang- bincang
   dengan Kontras, Sabtu (23/9) mengutip Alquran Surah Alhujarat ayat 9
   dan 10. Inti ayat itu adalah perintah yang sangat tegas dari Allah SWT
   untuk mendamaikan dua golongan orang mukmin yang bertikai.
   "Yang fardhu kifayah saja, kalau tak ada sebagian yang melaksanakannya
   maka akan berdosalah seisi kampung. Apalagi perintah mendamaikan itu
   merupakan fardhu 'ain, tentu wajib dilaksanakan oleh seluruh umat
   Islam," katanya. Berikut cuplikan wawancara dengan Imam yang juga
   Wakil Ketua DPW PAN Aceh ini:
   
   Apa harapan ulama Aceh dalam penyelesaian konflik ini?
   Pada dasarnya masyarakat Aceh sangat mendambakan kedamaian. Sekarang
   masyarakat seakan sudah putus asa untuk mendapatkan kedamaian. Namun
   demikian, tokoh-tokoh masyarakat, seperti ulama, masih berharap
   banyak, setidak-tidaknya perdamaian segera terwujud.
   Bagaimana mewujudkan perdamaian itu?
   Pertemuan di Jenewa kita harapkan ada penyelesaian secara damai. Tidak
   merugikan kedua belah pihak. Kita harapkan kedua pihak jangan terlalu
   kaku. Kalau terlalu kaku, tidak akan ada titik temu. Dengan demikian,
   tidak bakal ada kedamaian. Kita berharap, perundingan di Jenewa kali
   ini merupakan kesempatan terakhir yang berguna bagi kedamaian.
   Anda yakin akan muncul perdamaian yang permanen?
   Kedamaian itu bisa dicapai dengan tidak ada lagi kekecewaan-
   kekecewaan masyarakat. Selama ini, kepada masyarakat Aceh sering
   diperlihatkan fatamorgana-fatamorgana. Dikatakan di depan sana ada
   air. Tapi, ketika sampai di lokasi, ternyata airnya tak ada. Yang ada
   hanya kekecewaan-kekecewaan.
   Bagaimana ajaran Islam tentang perdamaian?
   Dalam Alquran, Surat Alhujurat ayat 9 dan ayat 10, sangat jelas
   bagaimana perintah Allah SWT untuk perdamaian.
   Ayat 9: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang,
   maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan
   itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah
   golongan yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada
   perintah Allah. Jika golongan itu sudah kembali (kepada perintah
   Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku
   adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
   Ayat 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka
   damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya
   kamu mendapat rahmat."
   Perintah itu merupakan fardhu 'ain. Yang fardhu kifayah saja, kalau
   tidak ada sebagian orang yang melaksanakannya, maka berdosalah seluruh
   isi kampung. Apalagi ini fardhu 'ain. Saya kira, pertikaian sesama
   orang Islam seharusnya kitalah yang menyelesaikannya. Tapi sudahlah,
   sekarang HDC telah menjadi pendamai. Kita berharap tampilnya HDC akan
   ada nilai-nilai plusnya. Membunuh satu manusia, sama halnya dengan
   membunuh semua manusia. Begitu juga sebaliknya, menyelamatkan satu
   nyawa manusia, sama dengan menyelamatkan semua manusia.
   Mungkinkah nilai-nilai keislaman dimasukkan ke dalam ketentuan jeda
   kemanusiaan?
   Saya kira itu harus dikedepankan. Sebuah pertikaian tidak ada jalan
   penyelesaiannya kecuali dengan cara damai. Kalau semua pihak
   mempertahankan keyakinannya dan merasa dia yang paling benar, saya
   kira, tidak akan menyelesaikan masalah. Kita lihatlah kepentingan
   untuk orang banyak, kita lihat untuk program-program ke depan.
   Bagaimana ke depan dengan anak-anak dan keturunan kita.
   Pihak GAM mensyaratkan perundingan damai dimediatori juri (arbitrase)
   dari lembaga internasional yang kredibel dan mampu memberikan sanksi
   kepada pihak yang melanggarnya. Sementara pihak RI sepertinya
   keberatan dengan syarat itu. Bagaimana menengahinya?
   Alasan pihak GAM itu ada benarnya. Selama ini memang Pemerintah
   Indonesia tak lagi dipercaya oleh sebagian masyarakat Aceh. Pemerintah
   seharusnya mulai membangun kembali kepercayaan masyarakat Aceh. Dalam
   hal perdamaian ini saya setuju adanya negara luar yang memiliki
   kredibilitas untuk menjadi saksi perundingan damai antara Aceh dengan
   RI. Kalau ada pihak yang melanggar janji, bukan hanya diberikan sanksi
   moral. Akan tetapi, harus ada sanksi yang konkret, misalnya oleh PBB.
   Pokoknya, kita berharap kedamaian segera muncul, walaupun tidak
   sekaligus, bertahap pun jadi. Yang penting, tak ada lagi
   pembunuhan-pembunuhan.
   Konon, GAM tetap menuntut merdeka, sementara RI tetap pada otonomi
   khusus dengan konsep NAD. Bagaimana mempertemukan kedua ekstrim itu?
   Masalah substansial itu perlu dimusyawarahkan. Apa batas minimal dari
   keinginan GAM. Kalau batasnya hanya satu kata, yakni merdeka, tentu
   pihak Indonesia belum bisa terima. Jadi, bertahaplah. Memang tujuannya
   ke sana: merdeka. Tapi, kalau terus secara drastis untuk merdeka,
   pihak Indonesia juga merasa ada harga diri yang harus dipertahankan
   dan tak mungkin dipenuhi.
   Pokoknya bagaimana caranya agar kedua belah pihak tidak ada yang rugi
   dan tak merasa kehilangan harga dirilah. Inilah yang perlu
   dimusyawarahkan. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau
   saling berlaku kasar, akan terjadi benturan-benturan. Rahmat Allah
   hanya akan diterima oleh pihak yang berlaku lemah-lembut.
   Kalau saling bersikap dan berlaku keras, dampaknya adalah penderitaan
   bagi rakyat. Masyarakat telah sangat trauma. Tiap malam ada ledakan
   bom. Mereka tidak bebas lagi berpergian. Sendi-sendi ekonomi mulai
   runtuh. Untuk apa ada bantuan gula satu dua kilo, kalau masyarakat
   tidak bisa mencari rezeki? Sesungguhnya masyarakat mengidamkan
   kedamaian, agar bisa mencari rezeki secara leluasa.
   Ada saran agar kepada Aceh diberikan kewenangan mengurus diri sendiri
   seperti bangsa Moro di Filipina, namun itu bukan diberikan oleh
   Indonesia, tapi oleh perundingan yang dimediatori pihak internasional
   yang kredibel. Mungkinkah itu dilakukan?
   Kalau memang Pemerintah Indonesia mau ikhlas, dalam artian tidak main
   politik lagi, tidak melakukan tipu daya lagi, tidak lagi melakukan
   kezaliman-kezaliman, ya berikanlah kebebasan kepada Aceh ini, walaupun
   tidak secara langsung lepas dari Indonesia. Tapi, kita tidak tahu
   apakah GAM mau menerima saran seperti itu.
   Ada yang menyarankan perjanjian damai RI dan GAM dilakukan di depan
   Ka'bah agar lebih terjamin tak diingkari. Bagaimana menurut Anda?
   Saya belum pernah mendengar itu. Tapi, ide itu saya kira sangat bagus.
   Kalau kita sudah berjanji, kan itu menjadi utang. Kita bersumpah dan
   berdoa di hadapan multazam. Itu bagus sekali. Tapi, yang lebih penting
   bagaimana nilai-nilai sumpah itu bisa dipegang oleh pihak yang
   bersumpah.
   Seperti Anda singgung tadi, terkesan Pemerintah RI tak bisa dipercayai
   oleh GAM dan sebagian rakyat Aceh. Apa yang seharusnya dilakukan
   pemerintah?
   Ya, yang pertama sekali pemerintah harus membangun kredibilitas.
   Perkataan dengan perbuatan harus sama. Harus sama lahiriah dengan
   batiniah. Selama ini, begitu banyak janji Pemerintah Pusat ke Aceh,
   sampai sekarang kan belum ada realisasinya. Maunya tak usah janji-
   janji lagi. Kalau memang berniat baik, diam-diam bangun terus Aceh.
   Begitu juga uang pembangunan dijaga jangan sampai ada yang bocor lagi.
   Kalau pemerintah memang memiliki niat baik, ikhlas, silakan memulai
   hidup baru, membangun kredibilitas, dan merealisir janji- janji.
   Pembunuhan terhadap Prof Safwan Idris apakah akan memperlemah
   perjuangan ulama menyelesaikan konflik Aceh?
   Peristiwa itu harus menjadi cemeti bagi ulama. Ulama harus membangun
   semangat. Dalam pertemuan ulama, kemarin, saya bertanya pada
   teman-teman. Maukah kita cabut perasaan takut dalam hati kita
   masing-masing? Semua Abu-Abu terdiam sejenak. Lalu, teman-teman
   menjawab, 'mau'. Kalau mau, Bismillah. Kita harus bangkit. Kalau kita
   mau bersatu-padu, insya Allah, semua kezaliman ini mampu kita lawan.
   Tapi, kalau ketakutan masih terus membelenggu, saya kira ulama ini
   tidak ada nilainya lagi. Ini harus kita jadikan cemeti. Langkah awal
   untuk kita menuju titik kulminasi kita dalam rangka menyatakan jihad
   menurut versi ulama.
   Bisa Anda ceritakan pengalaman sebagai mediator penglepasan Sayed
   Ikram, putra Sayed Hoesainy, Kapolres Aceh Besar?
   Itu sebenarnya misi lembaga Majelis Ulama. Pimpinan dan teman-teman di
   Majelis Ulama meminta saya menjadi perantara. Karena ini masalah
   kemanusiaan, maka saya ucapkan Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah. Lalu
   saya coba membangun link dengan pihak saudara kita itu. Dalam tempo 24
   jam sudah ada titik terang. Anak Kapolres itu akan diserahkan kepada
   Majelis Ulama, lalu Majelis Ulama menyerahkan kepada orangtuanya.
   Selama ini Sayed Ikram merasa kurang mendapat pembinaan dan kasih
   sayang dari orangtuanya. Sehingga, ketika ia berada bersama GAM, ia
   merasakan telah mendapatkan perhatian. ram
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Drs Tgk Muhammad Yus
   Ketua DPRD Aceh
   NAD, Kunci Akhir Masa Depan Aceh
   
   Ketua DPRD Aceh Drs Tgk Muhammad Yus menyatakan, saat ini lembaga yang
   dipimpinnya sedang mempersiapkan draf RUU Nanggroe Aceh Darussalam
   (NAD). NAD itu sendiri diklaimnya sebagai kunci akhir masa depan Aceh.
   RUU tentang Negeri Aceh Darussalam itu, menurut Abu Yus, merupakan
   klimaks dari upaya kita mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh
   setelah sebelumnya berhasil diterbitkan UU No 44 Tahun 1999 tentang
   Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. "NAD ini kunci akhir masa depan
   Aceh," kata Muhammad Yus ketika menyampaikan pidatonya pada penutupan
   Persidangan ke-3 Tahun 2000 DPRD Aceh, Senin (25/9).
   Dalam sidang yang dihadiri Wagub H Bustari Mansur, unsur Muspida,
   Kakanwil dan Kepala Dinas itu, Ketua DPRD Aceh lebih jauh menyebutkan,
   penyiapan draf RUU NAD sedang dalam tahap penyempurnaan digarap oleh
   Komisi X DPRD Aceh bersama rekan-rekan anggota DPR RI asal Aceh serta
   Tim Ahli DPRD Aceh.
   Menurutnya, RUU tentang Negeri Aceh Darussalam itu merupakan tuntutan
   dari Ketetapan MPR No IV/MPR/1999 tentang GBHN Tahun 1999/2004 yang
   meminta presiden untuk menetapkan Daerah Istimewa Aceh sebagai Daerah
   Otonomi Khusus yang diatur dengan undang- undang.
   Dikatakannya, melalui penetapan daerah ini sebagai Daerah Otonomi
   Khusus, kepada Aceh diberikan kewenangan menyelenggarakan seluruh
   bidang pemerintah, kecuali hubungan politik luar negeri, pertahanan
   eksternal, dan moneter.
   Peluang emas yang diberikan Pemerintah Pusat tersebut, kata Ketua DPRD
   Aceh, perlu disambut dengan rasa syukur kepada Allah dan kita upayakan
   dalam waktu dekat undang-undang tentang Negeri Aceh Darussalam itu
   dapat disahkan. "Sehingga cita-cita kita mengangkat Aceh sebagai
   bangsa yang bermartabat dan eksis dalam kehidupan berbangsa dalam
   bingkai negara Kesatuan RI dapat terwujud," katanya.
   Gubernur Aceh diwakili Wagub Bustari Mansur dalam sambutannya
   menyebutkan, pihak legislatf menaruh harapan agar kontrol dan
   pengawasan terhadap pelaksanaan tugas-tugas eksekutif, intensitasnya
   dapat terus ditingkatkan. Sehingga, katanya, obsesi kita semua dalam
   membangun masyarakat yang demokratis dan pemerintah yang berpihak
   kepada kepentingan rakyat dapat diwujudkan. "Inilah saatnya kita
   bersama-sama menata masa depan Aceh yang lebih bermartabat dan
   berkeadilan dengan berupaya mencari solusi-solusi yang dapat segera
   mengakhiri konflik di daerah. Dengan demikian, mekanisme
   penyelenggaraan pemerintah, pembangunan, dan kegiatan kemasyarakatan
   dapat berjalan dengan baik," urainya. hil
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Drs H Azhari Basyar
   Wakil Ketua Pansus RUU NAD
   Di Mata Pusat, Orang Aceh tidak Kompak
   
   Bagaimana pembahasan draf NAD yang telah dikembalikan pusat?
   Kita coba melakukan ratifikasi kembali terhadap RUU Nangroe Aceh
   Darussalam (NAD), dengan mempertimbangkan kembali materi yang terdapat
   pada empat buah RUU yang telah kita minta kembali itu.
   Draft apa saja yang ada?
   Dulu ada beberapa RUU yang telah kita buat. Yang pertama sekali dibuat
   Pansus DPRD, kemudian rancangan itu disempurnakan lagi oleh Pemda
   bersama pakar-pakar dari Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry setelah mendapat
   masukan dari Bapak Yusril Ihza Mahendra. Draf yang lainnya adalah dari
   teman-teman anggota DPR-RI yaitu Bapak Farhan Hamid Cs yang juga telah
   menyerahkan drafnya kepada pemerintah. Yang keempat adalah draf yang
   dinamakan sebagai draf Daulah Islamiyah Aceh yang belum diketahui
   siapa pemrakarsanya. Bahkan, ada satu lagi draf yang masuk dari Bapak
   Zainal Abidin.
   Dari kelima draf itu, apa perbedaannya yang substansial?
   Ada beberapa perbedaan, meskipun substansinya adalah menyahuti UU No
   44 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh yang dimanifestasikan
   dalam penjabarannya di UU tentang Otonomi Khusus (NAD). Ada draf yang
   penjabarannya terlalu luas, ada pula yang sangat sederhana.
   Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meninjau kembali draf
   tersebut?
   Kita mengharapkan pertengahan Oktober selesai. Perlu diketahui, draf
   tahap ketiga dalam pembahasan saat ini akan dibawa dalam Sidang Pleno
   DPRD. Kira-kira tanggal 9 hingga 14 Oktober.
   Kelihatannya Aceh kurang kompak sehingga muncul lima draf?
   Itu memang kesannya. Orang pusat melihat orang Aceh itu tidak kompak.
   Karena masa draft itu datangnya berbeda-beda sehingga membingungkan
   orang pusat. Memang ini jelas sebuah kekurangan dan ketidaksempurnaan
   kita yang mengajukan draf yang bermacam-macam, sehingga orang pusat
   jadi susah memilih mana yang terbaik. Apalagi semuanya menganggap
   produknyalah yang terbaik.
   Usaha-usaha lainnya?
   Kita nanti akan mengusahakan agar beberapa item yang menjadi krusial
   dalam pandangan pusat itu akan kita perlunak kembali. Sehingga, ini
   bisa diterima. Tetapi, hal-hal yang prinsipil seperti perimbangan
   keuangan yang bersumber dari sumber daya Aceh tetap kita pertahankan
   80 : 20.
   Dalam mengkaji kembali draf itu, apa DPRD mengundang para pembuat draf
   lain?
   Kita undang. Bahkan ada yang sudah datang. Kemudian setelah kami
   perbincangkan ini sampai tanggal 2 Oktober, kami akan melakukan kajian
   dengan pakar-pakar, ulama-ulama, yang kita anggap bisa memberikan
   masukan kepada RUU ini.
   Rintangan dan hambatan yang mungkin ada dari pihak yang bertikai?
   Belum ada. Saya pikir, mereka juga akan melihat upaya kita untuk
   menyelesaikan masalah Aceh melalui per-UU-an yang baku. Kan selama ini
   siapapun bukan hanya pihak GAM, pihak kita pun tidak melihat adanya
   keistimewaan yang digambarkan dalam keistimewaan ini. Semuanya itu
   cuma lips service. Dengan ini kita harapkan ada semacam perubahan yang
   berarti bagi Aceh. na
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   
   Kunci Pamungkas dari Wakil Rakyat
   Untuk mengakhiri konflik Aceh secara politis, DPRD Aceh yakin NAD- lah
   solusi terbaik.
   Luar biasa keberanian Ketua DPRD Aceh Drs Tgk Muhammad Yus. Di tengah
   penolakan GAM yang punya senjata dan pasukan terlatih terhadap konsep
   Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dia mengklaim bahwa NAD-lah kunci
   akhir masa depan Aceh.
   Jelas, statemen itu tak diucapkannya di depan pasukan GAM yang gigih
   menuntut kemerdekan atas Aceh sejak 1976. Abu Yus --begitu sapaan
   akrabnya-- mengemukakan kalimat tegas itu dalam pidatonya pada
   penutupan Persidangan ke-3 Tahun 2000 DPRD Aceh, Senin (25/9). Yang
   mendengar pidato politiknya itu bukan sembarang orang. Ada Wagub Aceh
   H Bustari Mansur di sana. Ada unsur Muspida, Kakanwil, dan Kepala
   Dinas. Tentu saja ikut hadir anggota DPRD Aceh yang pekan-pekan ini,
   di samping disibukkan dengan proses suksesi gubernur, juga sedang
   mengkaji ulang draf RUU NAD.
   Lo, dikaji ulang? Bukankah sudah hampir setahun lalu draf RUU NAD dari
   Aceh dikabarkan sudah disampaikan ke pusat. Malah, staf Ahli Menteri
   Negara Otonomi Daerah Dr Andi Malarangeng pernah mengatakan, tak ada
   soal dengan RUU NAD. Hampir semuanya bisa diterima pusat, kecuali ada
   beberapa istilah yang perlu klarifikasi, di antaranya istilah
   nanggroe. Tapi nyatanya, kok sekarang perjalanan RUU NAD itu
   sepertinya set back. Malah kabarnya Mendagri mengembalikan draf-draf
   yang ternyata tidak satu versi itu ke Aceh.
   "Fakta itu benar," kata Drs H Azhari Basyar, wakil ketua Pansus RUU
   NAD di DPRD Aceh menjawab Kontras, Sabtu pekan lalu.
   Rupanya, karena draf RUU NAD yang diajukan dari Aceh ternyata banyak
   versi, itulah yang menyebabkan draf itu dikembalikan. Untuk yang satu
   ini, boleh jadi orang Aceh sangat kreatif dan produktif, sehingga
   mampu melahirkan banyak konsep. Ada yang menamainya RUU Nanggroe Aceh
   Darussalam, ada yang menjulukinya Negeri Aceh Darussalam, malah Daulah
   Islamiyah Aceh.
   Kalau namanya saja beda, isinya apa lagi, termasuk jumlah pasalnya.
   Begitu pula cakupannya. Azhari Basyar hanya menyebut simpel perbedaan
   di antara draf-draf yang ternyata kini ada lima versi di DPRD Aceh.
   "Ada draf yang penjabarannya terlalu luas, ada pula yang sangat
   sederhana," katanya singkat.
   Tapi, di tengah perbedaan ini, ada persamaan substansinya di dalamnya,
   yakni menyahuti UU No 44 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh
   yang dimanifestasikan penjabarannya di UU tentang Otonomi Khusus
   (NAD). Lebih konkret lagi, semangat NAD itu adalah mempertegas status
   Aceh sebagai entitas yang otonom. Dengan demikian, Aceh membatasi
   wewenang pusat hanya di bidang pertahanan eksternal, moneter, dan
   politik luar negeri.
   Gagasan yang membatasi wewenang pusat ini, tegak sebangun dengan ide
   federalisme seperti yang dipraktikkan di Amerika, Australia, dan
   Malaysia. Itulah sebabnya, Faisal Basri, Sekjen PAN menyebut, otonomi
   khusus itu sebetulnya persetujuan malu-malu atas konsep federasi yang
   diwacanakan partainya.
   Terlepas bahwa federalisme belum tepat atau bahkan tidak akan pernah
   diterapkan di Indonesia, karena negara kesatuan sudah telanjur
   dimitoskan sebagai bentuk final, tapi sebetulnya federasi lebih
   memberikan ruang yang cukup bagi negara bagian untuk berpartisipasi
   dalam pemerintahan. Selain, tentunya, terjaminnya pembagian hasil
   kekayaan daerah-pusat dengan adil.
   Bila keterjaminan ini ada, maka sebagian akar persoalan yang membuat
   hubungan Aceh --juga daerah-daerah kaya lainnya-- dengan Jakarta patah
   arang, bisa dieleminir. Sebab, bukankah gerakan rakyat yang
   diartikulasikan oleh GAM selama ini pada dasarnya timbul sebagai
   penolakan atas sentralisasi, ketidakadilan, ketamakan, penindasan,
   serta segala macam yang dipaksakan oleh Jakarta bagi Aceh.
   Jadi, keberadaan GAM sebenarnya melekat serta terkait erat dengan
   bagaimana Jakarta memperlakukan Aceh selama ini, sampai kesadaran itu
   muncul pada 4 Desember 1976: Aceh minta pisah dari RI. GAM berprinsip,
   karena sebuah bangsa adalah sebuah komunitas yang digags, sebuah
   kebersamaan yang dibayangkan, maka sah saja bila satu bagian dari
   sebuah bangsa berpikir ulang tentang keberadaannya dalam komunitas
   itu. Apalagi, Aceh bukan saja merasa sudah dikuras dan ditindas, tapi
   bahkan dijadikan kucing kurap yang kemudian disepak dari rumah yang
   ikut dia bangun.
   Cuma, sekuat ide GAM untuk memisahkan diri, sekuat itu pula sikap
   orang yang bersetuju agar negara kesatuan dipertahankan, lebih- lebih
   mereka yang khawatir Indonesia bubar atau mereka yang alergi terhadap
   ide federasi. Tapi, kompromi atas dua titik ekstrim itu harus
   dilakukan, mengingat makin maraknya tuntutan "merdeka" oleh beberapa
   daerah. Aceh bersama Papua malah paling lantang meneriakkan
   keinginannya itu.
   Di mata Pemerintah Pusat, otonomi daerah --melalui UU Nomor 22/1999
   tentang Pemerintah Daerah serta UU Nomor 25/1999 tentang Perimbangan
   Keuangan Pusat dan Daerah-- adalah hasil kompromi itu. Jakarta,
   tampaknya, manerjemahkan tuntutan daerah yang bergolak minta merdeka
   itu sebagai upaya menuntuk "pembagian kekuasaan dan rezeki" yang kini
   timpang.
   Tapi, Aceh yang sudah lama dikuras, tak begitu tertarik dengan ide
   otonomi itu. Apalagi mengingat, UU Nomor 22/1999 masih menyimpan
   banyak ganjalan untuk daerah. Upaya membatasi kekuasaan pusat pun
   agaknya belum sepenuhnya bisa dilakukan. Dalam pasal 7 UU tersebut,
   kesan tamak pusat masih terlihat nyata. Pusat ingin tetap mengatur
   langsung bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan,
   moneter dan fiskal, serta agama, dan "kewenangan pusat lainnya."
   Kewenangan "lainnya" ini dinilai banyak pihak bisa diartikan sebagai
   "banyak kewenangan lain", yang mungkin saja dicantumkan untuk
   memaksakan kehendak Jakarta atas daerah.
   Sikap keras Aceh di parlemen akhirnya membuahkan sesuatu yang lebih.
   Seperti dikisahkan M Kaoy Syah, DPR-RI yang lalu berjuang maksimal
   agar Aceh mendapat otonomi khusus, lebih dari sekadar otonomi yang
   rata-rata didapat tiap daerah sebagai tuntutan reformasi.
   Aceh memang lain sendiri, baik karena sumbangsihnya untuk pendirian
   dan mempertahankan bangsa ini, maupun karena dia sudah sangat banyak
   dieksploitasi. Namun, memberi banyak tak berarti Aceh banyak menerima.
   Aceh justru mendapati dirinya dalam ironi yang tak terperikan: tak
   lebih dari sekadar sapi perahan.
   Itulah sebabnya, wakil-wakil Aceh di MPR ketika tahun 1999 meminta
   perlakuan yang lebih istimewa bagi Aceh. Keitimewaan itu pada mulanya
   mempertegas penyelenggaraan tiga keistimewaan di bidang agama,
   pendidikan, dan adat-istiadat. Kemudian, ide untuk meningkatkan peran
   ulama dalam kebijakan daerah akhirnya diakomodir. Dan itulah yang
   menjadi muatan penting dari UU No 44 Tahun 1999 tentang
   Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. "Ini kemenangan Aceh yang luar
   biasa, di tengah alerginya banyak orang di pusat mendengar otonomi
   daerah dan pemberlakuan syariat Islam," kata Kaoy Syah yang ikut
   membidani lahirnya UU tersebut.
   Tapi, Aceh yang sedang didera euforia merdeka, terlebih karena tak
   tegaknya hukum atas pelanggaran HAM semasa dan pasca-DOM, meminta
   lebih kepada pusat. Apalagi, ada isyarat, Aceh boleh minta apa saja
   asal jangan merdeka. Akhirnya, lewat perjuangan gigih para legislator
   asal Aceh di parlemen, MPR akhirnya melahirkan ketetapan Nomor IV/1999
   tentang GHBN. Di sana ditegaskan bahwa MPR meminta Presiden untuk
   menetapkan Daerah Istimewa Aceh sebagai Daerah Otonomi Khusus yang
   diatur dengan undang-undang. UU Rtersebutlah yang kemudian dijuluki
   oleh para peranangnya sebagai NAD atau bahkan Aceh Daulah Islamiyah.
   Jadi, tak salah apa yang dikatakan Abu Yus bahwa RUU tentang NAD ini
   merupakan tuntutan dari Ketetapan MPR No IV/MPR/1999 tentang GBHN
   Tahun 1999/2004. Di matanya, RUU NAD itu merupakan klimaks dari upaya
   kita mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh setelah sebelumnya
   berhasil diterbitkan UU No 44/1999.
   Menurutnya, melalui penetapan daerah ini sebagai Daerah Otonomi
   Khusus, kepada Aceh diberikan kewenangan menyelenggarakan seluruh
   bidang pemerintah, kecuali hubungan politik luar negeri, pertahanan
   eksternal, dan moneter.
   Peluang emas yang diberikan Pemerintah Pusat tersebut, Abu Yus, perlu
   disambut dengan rasa syukur kepada Allah dan kita upayakan dalam waktu
   dekat undang-undang tentang Negeri Aceh Darussalam itu dapat disahkan.
   "Sehingga cita-cita kita mengangkat Aceh sebagai etnis yang
   bermartabat dan eksis dalam kehidupan berbangsa dalam bingkai negara
   Kesatuan RI dapat terwujud," katanya.
   Dengan pertimbangan kuat tentunya bila Abu Yus sampai pada kesimpulan:
   NAD-lah kata kunci masa depan Aceh.
   Bahwa GAM berpendapat lain, itu hak GAM. Bukankah di alam demokrasi
   ini, berbeda pendapat itu bukan hal yang tabu? Juga bukan hal yang
   tabu untuk berpikir ulang tentang keberadaan satu kaum dalam komunitas
   bangsa.
   Cuma, kalau memang hanya ada satu kata "merdeka" yang dimiliki GAM,
   idealnya memang perpisahan itu dilakukan dengan sebuah suasana yang
   tidak saling mengintimidasi, tidak saling memerangi. Suasana yang
   damai itulah yang disebut Benedict Anderson, ahli Indonesia kelahiran
   Amerika, sebagai golden shake hand. Sebuah perpisahan yang tak harus
   berlumur darah.
   Ia menilai, sebuah bangsa adalah produk dari kebetulan sejarah. Ketika
   sekumpulan orang yang merasa memiliki kesamaan dalam proses sejarah
   berkumpuk, terbentuklah negara. Dengan begitu, sah saja sebetulnya
   bila satu bagian dari bangsa itu berpikir ulang tentang keberadaannya
   dalam komunitas itu, seperti belakangan ini dilakukan GAM.
   Proyek bernama Indonesia itu adalah proyek sukarela yang bertujuan
   mulia. Di sana-sisi memang ada persuasi dan represi untuk menjaga
   proyek bersama itu, tapi pada umumnya corak dasarnya adalah ada
   keikutsertaan yang tanpa dipaksa di sana. Karena itu, sudah seharusnya
   ada kebebasan bagi siapa saja untuk menentukan, apakah akan terus ikut
   dalam proyek bersama itu atau tidak.
   Jika ada anggota "proyek" merasa sesak dengan format yang ada, tak
   lagi merasa tenteram dengan Indonesia, misalnya, bolehlah semua
   anggota duduk bersama lagi membicarakannya, tanpa intimidasi dan
   todongan senjata.
   Mengikuti jalan pikiran Ben Anderson ini, GAM pun tak semestinya
   "memusuhi" anggota parlemen Aceh yang baru bisa berjuang sebatas
   otonomi khusus, karena toh keduanya sama-sama berupaya memartabatkan
   rakyat Aceh dengan caranya masing-masing. Cuma jalur, strategi, serta
   lapangan bermain yang membuat beda perjuangan orang-orang parlemen
   dengan GAM. Tujuan akhirnya sama: membuat rakyat Aceh lebih
   bermartabat, berdaulat, dan merdeka lahir batin.
   Dalam keadaan seperti itu, Kepala Biro Humas Setwilda Aceh T Pribadi
   menjawab Kontras hanya berharap, UU NAD hendaknya mampu mengakomodir
   aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat Aceh. Tentunya sebelum
   kemerdekaan penuh dicapai. ika/hil
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Suka-Duka Tim Jeda Kemanusiaan
   Tidaklah mudah menjadi anggota komite atau tim monitoring dalam
   mendukung suksesnya jeda kemanusiaan di Aceh. Ada yang tak sempat
   bertemu istri atau suami dalam seminggu, ada pula yang jam
   istirahatnya berkurang luar biasa. Jadwal tidur pun sering terganggu,
   karena ada tugas kemanusiaan yang tiba-tiba menuntut kehadiran anggota
   tim monitoring ke lokasi terjadinya peristiwa kontak senjata atau
   pengungsian.
   Begitupun, suka-duka itu sudah dijalani dengan "sukses" selama tiga
   bulan lebih oleh anggota komite dan tim monitoring jeda kemanusiaan.
   Menarik untuk diungkap suka-duka mereka bertugas, terutama bagi mereka
   yang memandang sinis tugas-tugas mulia dan penuh risiko yang selama
   ini dijalankan para anggota komite/tim monitoring itu. Layak pula
   dijadikan pedoman bagi mereka yang ingin bergabung dalam tim
   monitoring, mengingat jeda tahap II memperluas jumlah personilnya di
   empat area konflik (Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Selatan).
   Simak tuturan mereka:
   
   Ridhwan Karim, Ketua KBMK wakil RI
   Tekanan batin? Kol Ridhwan Karim dengan jujur mengaku tidak merasakan
   itu. Maklum, pria ini lebih memfokuskan diri untuk membuat jeda
   kemanusiaan di Aceh benar-benar jeda. "Kita hanya melaksanakan tugas
   untuk jeda," ungkap Ridhwan saat dihubungi Kontras, Senin pekan lalu.
   Yang diharapkan Ridwan untuk jeda kedua ini adalah kedua pihak
   benar-benar punya itikad baik. Karena, menurut Ridhwan, di masa jeda
   tahap I masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran. "Itu menandakan
   belum ada itikad baik."
   Seandainya semua komit terhadap jeda, pelanggaran semacam ini tidak
   mungkin terjadi.
   Solusinya supaya ke depan lebih baik yaitu dengan merevisi aturan
   dasar kembali dan mensosialisasikan ke tataran bawah. Selain itu,
   dibutuhkan kebersamaan dan tidak saling mencurigai. "Itu yang paling
   penting," imbuhnya lagi.
   Yang sering disesali oleh Ridhwan adalah seringnya anggota tim
   terjebak dalam persepsi yang berbeda. "Inilah alasan mengapa aturan
   dasar itu harus direvisi ulang, dan saat ini sedang kita kerjakan,"
   ujarnya.
   Selain itu, Ridhwan juga sering dipusingkan suara-suara bahwa jeda
   akan menyelesaikan kasus Aceh. "Ini cuma jeda, tugas kami adalah
   supaya jeda bisa berlangsung baik dan penyaluran bantuan juga sukses.
   Kalau soal penyelesaian politik Aceh, itu bukan tugas kami. Itu tugas
   petinggi-petinggi RI-GAM," katanya.
   
   Naimah Hasan, Ketua KBAK wakil RI
   Mengenai tekanan, Naimah mengaku yang terberat adalah beban moral.
   "Rakyat berharap banyak pada jeda ini, sementara kami di sini belum
   bisa berbuat apa-apa," ujar Naimah.
   Naimah mengibaratkan tim jeda adalah harimau tanpa taring, alias tidak
   segarang yang diperlihatkan. Kata-kata Naimah itu berhubungan dengan
   bantuan luar negeri untuk jeda yang tak kunjung tiba.
   Selain itu bantuan yang disalurkan juga jarang koordinasi dulu dengan
   tim jeda. "Mereka baru lapor kalau ada masalah, misalnya, bantuan
   tidak diterima oleh pengungsi, atau ada halangan. Bila sukses kami
   diacuhkan," keluh Naimah menyesalkan.
   Yang jelas, menurutnya, tim KBAK cukup kompak. Mereka menjalankan
   fungsi mereka mulai dari membuat need assignment, program kemudian
   menjual program ke donor. Donor bisa saja menyalurkan bantuan lewat
   LSM. Masalahnya sekarang, ya itu tadi kurangnya koordinasi. Sehingga,
   KBAK tidak tahu apa-apa saja yang disalurkan dan lewat apa.
   
   Syarifah Rahmatillah, Anggota Tim Monitoring KBAK
   Sebagai anggota tim monitoring, Ipah --begitu Syarifah sering
   dipanggil-- mengaku sering pusing dengan pertanyaan yang itu-itu saja
   dari calon donor atau pihak pemberi bantuan. "Bukan saya tidak mau
   menjelaskan. Tetapi lama-lama bosan menjawab hal yang sama. Biarpun
   pada orang yang berbeda," keluh Ipah.
   Maklumlah, pekerjaan Tim Monitoring Bantuan Kemanusiaan memang seputar
   bantuan dari donor. Dan calon donor memang mesti tahu dulu mana daerah
   yang harus dibantu, keadaan di daerah tersebut, dan lain-lain. Hal
   itulah yang konon harus dijelaskan berulang- ulang.
   Meski begitu, Ipah mengaku tidak ada hal yang membuatnya stres, capek,
   atau bahkan tertekan. "Namanya juga kerja untuk kemanusiaan," kata
   Ipah yang juga menjadi Direktur Eksekutif MISPI ini tertawa. Ia
   mengaku, sering harus berpisah berhari-hari dengan suami dan dua anak
   kecilnya karena harus bertolak ke medan tugas meninggalkan Banda Aceh.
   Yang juga disesalkan Ipah, banyaknya isu berkembang bahwa bantuan luar
   negeri berputar di seputar Kuala Tripa. "Bagaimana di Kuala Tripa,
   bantuannya saja belum ada," katanya setengah prihatin.
   
   Maimul Fidar, Anggota Tim Monitoring KBAK
   Pada dasarnya Maimul Fidar yang ditunjuk sebagai Tim Monitoring KBAK
   ini tidak merasa terbebani dengan tugas barunya itu. Konon dia memang
   sudah terbiasa dengan hal-hal yang berbau kemanusiaan sejak
   berkecimpung di LSM Yadesa maupun CDI, dan Koaliasi NGO HAM. Yang
   namanya teror sejak dulu dihadapi pria berkumis ini.
   Lagi pula tugasnya saat ini boleh dikata belum sepenuhnya terlaksana
   karena bantuan luar negeri yang seyogyanya tiba malah belum ada.
   Sehingga, kerja Maimul sebagai anggota monitoring belum maksimal. Biar
   begitu, Maimul mengaku pihaknya sangat kompak dan selalu mengadakan
   pertemuan.
   Yang menarik dia bisa ke luar malam selama masa jeda. "Dulu, saya
   sering dibentak aparat, sekarang saya bisa bilang kalau saya anggota
   jeda sehingga mereka -- (TNI/Polri dan GAM) tidak bisa main
   bentak-bentak," kata Maimul mengenang. "Andai semua orang Aceh menjadi
   tim jeda," ujarnya berandai-andai.
   Yusni Saby, Anggota Tim Monitoring KBMK
   Tak ada yang menginginkan Aceh kacau-balau. Hasrat setiap masyarakat
   adalah daerah ini segera aman dan terhindar dari malapetaka.
   Sebagai salah seorang anggota Tim Monitoring Modalitas Keamanan, Dr
   Yusni Saby sangat berharap agar Aceh segera tentram kembali.
   Menurut staf pengajar Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry ini, hingga
   medio September lalu, dia dan rekan-rekan lainnya sudah beberapa kali
   turun ke lapangan plus mengelilingi Aceh. Memang, ini diakuinya
   sebagai sesuatu yang sangat berat, terlebih lagi mengingat selama ini
   Yusni hanya seorang akademisi. Berbagai aspirasi rakyat di berbagai
   daerah telah diselaminya. Dan, menurutnya, rakyat Aceh saat ini cuma
   berharap Aceh kembali tenang, sehingga aktivitas kemasyarakat bisa
   tumbuh seperti sediakala.
   Secara jujur, Yusni Saby mengakui banyak suka duka selama menjadi Tim
   Monitoring Modalitas Keamanan. Bayangkan saja, betapa bergidiknya bulu
   romanya saat anggota tim berada di tengah desingan peluru di sejumlah
   daerah pusaran konflik. "Kita cuma berserah diri pada Allah. Kan, yang
   kita lakukan semata-mata demi kebaikan rakyat Aceh. Insya Allah,
   dengan niat tulus itulah kami semua melakukan tugas berat yang
   dibebankan ini," aku Dr Yusni yang juga dai ini.
   Mereka juga kerap mendatangi korban kekerasan. Menyaksikan musibah
   tersebut, Yusni mengaku amat prihatin dan meneteskan airmata. Karena
   itulah, di hari-hari mendatang dia berharap kondisi Aceh dapat semakin
   kondusif dan menguntungkan seluruh rakyat. "Semoga semua pihak dapat
   menjaga dan memelihara yang disepakati dalam jeda," ungkapnya.
   
   T Kamaruzzaman, Ketua KBAK wakil GAM
   Mantan Ketua Pemuda Pancasila Aceh Timur ini mengakui tim jeda tahap
   pertama ini bergerak kurang lincah. Ia berharap, di jeda tahap
   berikutnya, tim dari KBAK bisa bergerak lebih fleksibel lagi.
   Diakuinya, banyak masalah yang hingga kini masih perlu diperbaiki.
   Lelaki yang akrab dipanggil Pon Man ini menginginkan kondisi secara
   berangsur-angsur segera membaik. Dengan begitu, rakyat Aceh akan
   kembali tenang dalam kehidupannya. Sebab, tuturnya lagi, selama ini
   rakyat Aceh sangat menderita akibat konflik. Untuk itu, rakyat amat
   mendambakan kedamaian segera muncul.
   
   Sofyan Ibrahim Tiba, Anggota KBAK wakil GAM
   Menurut Sofyan Ibrahim Tiba, masih banyaknya ketidaksamaan persepsi
   antara tim RI dengan GAM, menjadikan jeda tahap pertama tidak begitu
   berhasil. Pak Sofyan --sapaan akrabnya-- amat merisaukan kalau keadaan
   ini tetap berlanjut pada jeda tahap berikutnya.
   Di mata PR III FH Unmuha Aceh ini, kedua pihak mestinya mengambil
   falsafah mobil jalan. "Mobil di jalan kan banyak sekali, bahkan sering
   macet. Tapi, kenapa tak ketabrak satu sama lainnya. Jawabannya
   lantaran masing-masing pihak saling mematuhi aturan," paparnya.
   Begitu pula dengan tim (KBAK), tempat dirinya bertugas, yang
   menurutnya ibarat harimau tak bergigi. Namun, sebagai orang Aceh
   Sofyan tetap ingin mengabdi. Kalaupun ada ancaman, menurutnya, tak
   lagi menakutkan.
   
   Ridwan Husen, Anggota KBAK wakil RI
   Selama ditunjuk sebagai salah seorang anggota Komite Bersama Aksi
   Kemanusiaan, Ridwan Husen yang juga Wakil Ketua Bappeda Aceh mengaku
   sangat repot mengatur waktu. Pasalnya, ia juga mesti setiap saat
   menyelesaikan tugas-tugas rutinnya di Bappeda Aceh. Ketika dihubungi
   per telepon, Senin siang, pria berpenampilan low profile ini tetap
   ingin menyelesaikan tugas-tugas yang diembankan kepadanya. "Kita
   berharap, jeda tahap kedua ini semakin berguna untuk menciptakan
   kedamaian di Aceh," ujarnya.
   Mengingat kesibukannya sehari-hari tergolong amat padat, Ridwan Husen
   mengakui selama jeda tahap pertama dia hanya berkonsentrasi di Hotel
   Kuala Tripa -Kantor Jeda Kemanusiaan-- Namun, katanya, dia dan
   rekan-rekan lainnya tetap dengan serius menangani tugas-tugas yang
   dipercayakan oleh rakyat Aceh.
   Menurutnya, pembangunan Aceh ke depan akan lebih baik, bila keamanan
   kembali normal. "Karenanya, kita berharap jeda kemanusiaan yang
   diperpanjang ini betul-betul membawa hasil," paparnya.
   
   Abdul Gani Nurdin, Anggota Tim Monitoring KBAK
   Sosok pejuang kemanusiaan seumpama Abdul Gani Nurdin tak pernah merasa
   jenuh berjuang demi rakyat di daerah ini. Staf pengajar Fakultas
   Pertanian Unsyiah yang kini juga tercatat sebagai salah seorang
   anggota Tim Monitoring Aksi Kemanusiaan ini mengaku aktivitas yang ia
   jalani bersama rekan-rekan lain sangat berat dan mengandung risiko
   yang luar biasa. Bahkan, katanya, selama berada di lapangan mereka
   kerap berhadapan dengan para pengungsi dan korban kekerasan.
   Salah satu pengalaman yang berkesan di mata Gani adalah ketika berada
   di lokasi pengungsian di Trumon, Aceh Selatan. Tak lama setelah tim
   jeda tiba, terjadi kekisruhan yang membawa korban jiwa di kalangan
   masyarakat pengungsi. Beberapa saat selanjutnya, anggota tim jeda
   'dihidangi' mayat berlumuran darah dan diletakkan di atas sebuah meja.
   Betapa terkejutnya semua yang hadir di situ, termasuk Abdul Gani
   Nurdin.
   Mengingat masih adanya kelemahan jeda tahap pertama, Gani Nurdin
   berharap dapat diperbaiki pada pusingan jeda tahap dua. Sebab,
   katanya, jeda akan sangat berguna untuk mengurangi aksi kekerasan.
   "Sedih sekali nasib rakyat kalau kekerasan tak segera dihentikan,"
   tandasnya. tim kontras
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Runtuhnya Tesis Alwi
   Menlu Alwi Shihab menggertak bahwa RI tak akan memperpanjang jeda
   kemanusiaan bila GAM macam-macam. Tapi, nyatanya jeda tetap
   diperpanjang meski GAM terlibat kontak senjata.
   Setelah diambangkan sejak 2 September, barulah pada 24 September ada
   keputusan penting menyangkut nasib rakyat sipil di Aceh. Pada tanggal
   itu dicapai kesepakatan oleh Joint Forum yang bersidang dua hari di
   Jenewa bahwa Jeda Kemanusiaan untuk Aceh diperpanjang hingga 15
   Januari 2001 (Baca: Pernyataan Pers Bersama RI-GAM)
   Tidak dengan mudah perundingan itu sampai pada hasil yang demikian.
   Alot luar biasa! Apalagi, Menlu Alwi Shihab telanjur menakut-nakuti
   GAM dan rakyat Aceh. Jeda kemanusiaan, katanya 1 September lalu, tidak
   akan diperpanjang, bila GAM tak mampu menghentikan pelanggaran HAM,
   terutama terhadap instansi pemerintah dan masyarakat Aceh.
   Tapi, di bawah pressure dan gertakan ala Alwi itu, jeda kemanusiaan
   akhirnya tetap diperpanjang. Makin terbukti bahwa Alwi selama ini
   ternyata hanya sekadar menggertak sambal. Atau dalam bahasa Panglima
   Perang AGAM, Tgk Abdullah Syafiie, "Itu hanyalah dalih Alwi yang tak
   logis dan berupaya menyudutkan pihak lain." Alwi, dalam penilaian
   Syafiie, sengaja berupaya mengambinghitamkan GAM untuk menutup-nutupi
   kesalahan besar yang sudah diperbuat aparat keamanan RI semasa jeda.
   Kalau dicerdasi dari hasil perundingan di Jenewa itu, sepertinya GAM
   memang makin berlaku santun untuk menyetiai isi dan semangat JoU,
   berikut prosedur tetap yang dibuat wakil RI dan GAM dalam komite
   modalitas keamanan. GAM sangat diuntungkan dengan jeda kemanusiaan
   tahap II ini, karena dengan perpanjangan itu berarti apa yang selama
   ini ditudingkan Alwi terhadap GAM (melanggar HAM, menekan instansi
   pemerintah, meneror keuchik, dan memeras camat hingga bupati) tak
   cukup terbukti. Paling tidak, praktik-praktik seperti itu tak lagi
   dilakoni oknum-oknum GAM sejak 2 September silam hingga perundingan
   tahap III berlangsung di Jenewa mulai 23 September. Sebab, kalau tidak
   demikian, mustahil --seperti dipersyaratkan Menlu Alwi Shihab-- jeda
   bisa diperpanjang.
   Perpanjangan jeda ini telah meruntuhkan tesis Alwi tentang GAM yang
   selama ini ditudingnya banyak melanggar HAM dan melakukan teror
   pemerasan kepada para pejabat. "Sebab, kalau GAM masih berlaku
   demikian, tak bakalan jeda kemanusiaan diperpanjang," kata Wakil
   Panglima GAM Wilayah Aceh, Abu Sofyan Daud menjawab Kontras Senin.
   Sikap baik yang diperlihatkan GAM di masa penilaian yang krusial
   selama 20 hari itu, tentunya ikut menjadi faktor pendorong mengapa
   jeda yang "digantung RI dengan persyaratan macam-macam" sejak 2
   September lalu, akhirnya dilanjutkan. Perpanjangan jeda ini pun, jauh
   dari prediksi banyak pihak yang semula memperkirakan --seperti
   diisyaratkan Presiden Gus Dur-- hanya untuk tiga bulan ke depan. Tapi
   nyatanya, jeda itu diperpanjang untuk tiga setengah bulan dihitung
   dari 2 September 2000.
   Entah bagaimana penilaiannya, yang jelas GAM lolos dari masa penilaian
   sepihak itu. Padahal, GAM pun terlibat dalam sedikitnya 27 kali kontak
   senjata dalam kurun 3 - 23 September 2000, sebagaimana data pers.
   Dalam kontak senjata itu 7 awak GAM tewas. Sedangkan yang korban di
   pihak TNI/Polri 19 orang.
   Boleh jadi dalam penilaian Joint Forum bukan kesalahan-kesalahan GAM
   dan aparat keamanan RI-lah yang menjadi penghalang melanjutkan jeda,
   melainkan realitas riil bahwa masyarakat sipil di Aceh memang sangat
   mengharapkan jeda diperpanjang. Apalagi, banyak bantuan yang selama
   ini mulai terkumpul, belum tersalurkan.
   Lagi pula, hanya dalam suasana jedalah, dialog menuju penyelesaian
   politik bisa diupayakan. Sebab, kalau jeda tak ada, bagaimana mungkin
   menjalin komunikasi dan dialog dalam kesetaraan?
   Dengan perpanjangan yang demikian, masyarakat Aceh patut bersyukur
   karena dalam masa jeda itu ada dua momentum keagamaan yang memerlukan
   kekhidmatan untuk menunaikan dan merayakannya. Yakni ibadah puasa
   Ramadhan yang jatuh sekitar 28 November, dilanjutkan Hari Raya Idul
   Fitri pada 27 dan 28 Desember 2000.
   Bayangkan suasana Ramadhan bila situasi tak aman. Orang-orang muslim
   akan takut ke masjid atau meunasah, karena harus pulang agak malam
   setelah menunaikan shalat isya, tarawih, dan witir. Kumandang wahyu
   Ilahi lewat tadarus pun bisa senyap. Begitu pula ibadah menjelang
   dinihari hingga subuh, semuanya akan terusik bila situasi tak aman.
   Orang-orang merasa khawatir ke luar rumah untuk berjamaah, takut
   terkena peluru nyasar, granat, bom, atau bahkan diperlakukan kasar
   dalam sweeping. Soalnya, "Sekarang saja, tiap individu rakyat Aceh
   seolah-olah sudah berada di ambang kematian," kata Ketua Majelis Ulama
   Aceh, Tgk Imm Syuja' (Lihat boks hlm 5).
   Hari Raya Idul Fitri pun akan kehilangan gairah, bila situasi tak
   menentu. Akan banyak anak tak berani kembali ke kampung halaman untuk
   sowan ke orangtua. Khawatir, sesampai di desanya dia dipersulit atau
   diciduk dengan berbagai tuduhan, entah karena aktivis mahasiswa,
   pegiat LSM, atau simpatisan GAM. Mobilitas warga untuk silaturahmi pun
   menjadi tak lagi leluasa, bila orang-orang enggan bepergian malam hari
   dalam suasana lebaran karena situasi keamanan tak mendukung. Lebih
   runyam lagi, bila puasa dan lebaran ditunaikan dalam keadaan warga
   ramai mengungsi.
   Tapi, untunglah mereka yang ikut berunding di Jenewa memikirkan hal
   ini. Sehingga, jeda kemanusiaan diperpanjang hingga awal tahun depan.
   Dengan begitu, ada sedikit keterjaminan keamanan bagi warga yang ingin
   melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk sepanjang Ramadhan --bulan
   terbaik dari seluruh bulan. Idul Fitri di Aceh pun lebih ternaungi
   oleh semangat jeda kemanusiaan yang hakikatnya untuk meredakan
   ketegangan dan mengurangi korban kekerasan, plus menyalurkan bantuan
   bagi yang berhak.
   Cuma, ada satu ganjalan. HUT ke-24 Gerakan Aceh Merdeka pada 4
   Desember mendatang peringatannya juga dalam masa jeda kemanusiaan.
   Kalaulah GAM sepakat tidak memperingati HUT-nya itu "semeriah" tahun
   kemarin, apalagi mengingat Desember tahun ini dalam suasana puasa,
   mungkin tak ada yang perlu dikhawatirkan benar. Tapi, bila ada seruan
   dari petinggi GAM untuk mengibarkan bendera Aceh Merdeka dan upacara
   HUT itu dilaksanakan di setiap sagoe, kita jadi khawatir suasana jeda
   jadi tak tenteram. Sebab, itu akan memancing aparat RI bereaksi.
   Minimal, seperti tahun lalu, aparat akan menurunkan bendera-bendera
   GAM, dan kalau kebetulan bersiribok dengan pihak GAM, maka kontak
   senjata tak terelakkan. Akibatnya, cederalah jeda kemanusiaan.
   Terusiklah ketenteraman rakyat yang memang sudah sangat sering
   terusik.
   Patroli rutin
   Ke depan pun, peluang terusiknya ketentraman itu masih tetap ada,
   mengingat jajaran Polda Aceh tetap bertekad melakukan patroli rutin ke
   desa-desa sebagai bagian menciptakan ketertiban dan keamanan. Dalam
   terma JoU, inilah yang disebut dengan menjalankan fungsi normal
   polisional.
   Kapolda Aceh Brigjen Doddy Sumatyawan kepada AFP mengaku bahwa jajaran
   Polri bersama TNI yang di-BKO-kan di daerah ini mendukung sepenuhnya
   keputusan pemerintah untuk memperpanjang jeda kemanusiaan di Aceh
   dengan pihak GAM. "Tapi, patroli rutin ke desa- desa tetap kami
   lakukan," ujarnya.
   Sebaliknya, Wakil Panglima AGAM wilayah Pasee Abu Sofyan Daud
   menegaskan bahwa AGAM tetap akan melancarkan serangan ke arah aparat
   TNI/Polri yang melakukan patroli ke desa-desa. "Jika mereka masih
   melakukan patroli guna mencari anggota GAM, kami akan menyerang,"
   katanya. Tampaknya, inilah sumber konflik latent yang mungkin akan
   tetap terbawa dalam jeda jilid II. tim kontras
   
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Rekomendasi untuk Jeda Tahap II
   1) Perlunya pembicaraan subtansial di tingkat para pemimpin pihak
   bertikai,
   2) Perlunya basis religius yang cinta damai dan antikekerasan
   melandasi semangat JoU,
   3) Perlu ada koordinasi antara komite dengan tim monitoring sehingga
   tidak terjadi miscommunication
   4) Ratifikasi peraturan dasar yang lebih spesifik sehingga mudah
   diimplementasikan ke lapangan,
   5) Perlu pemantapan sosialisasi protap dan isi JoU ke lapangan,
   6) Perlu ada wasit yang mengawasi kedua belah pihak,
   7) Perlu ada sanksi yang tegas, bukan hanya sanksi moral,
   8) Perlu perluasan dan perpanjangtanganan komite dan tim monitoring di
   daerah, terutama di area konflik.
   
   Jeda II, Menuju Kesempurnaan?
   Tiga bulan jeda menorehkan kesan tersendiri bagi rakyat Aceh. Biarpun
   dalam tiga bulan yang namanya bom dan suara senjata pihak bertikai
   tetap terdengar, rakyat masih berharap banyak pada jeda. Mungkin
   dikarenakan mereka berpikir, kalau tidak jeda keadaan pasti akan lebih
   parah.
   Keinginan ini terungkap dalam suatu diskusi setengah hari yang
   diadakan Forum Peduli HAM beberapa minggu yang lalu. Diskusi dengan
   bertemakan "Evaluasi JoU I dan Urgensi JoU II" ini dihadiri 74 orang
   dari berbagai elemen. Mulai dari akademisi, mahasiswa, pegiat LSM, dan
   ulama. Para anggota komite baik dari RI maupun GAM yang hadir memberi
   informasi yang up to date. Dan tanggapan pun bermunculan dari para
   peserta yang rata-rata memang "kritis".
   Baik Tgk Amni bin Ahmad Marzuki dari KBMK wakil GAM maupun Ridhwan
   Karim dari KBMK wakil RI sepakat kalau jeda tahap pertama kurang
   terlaksana dengan baik. Tak maksimal. "Biarpun begitu, perlu
   dipertahankan," kata Amni serius, "karena jeda itu diperlukan oleh
   orang Aceh. Di manapun di dunia ini butuh kedamaian, dan kami pihak
   GAM dengan adanya jeda ini ingin berbuat dan menciptakan kedamaian."
   Kiranya tekad Amni sejalan dengan Ridhwan Karim yang meski sama- sama
   lahir di Aceh, tapi secara ideologis berbeda haluan. Hanya saja, pria
   berkumis tebal ini lebih cenderung menekankan bahwa harus ada sanksi
   yang jelas. "Kalau bisa harus ada pengawas yang netral," kata Ridhwan
   Karim yang pernah jadi Komandan PPRM di Aceh.
   Selain perlu ada pengawas, Ridhwan Karim juga menyoroti lemahnya kerja
   tim monitoring dan terbatasnya wewenang KBMK. "KBMK tidak punya
   kewenangan merelai pasukan yang berantam di lapangan," papar pria
   kelahiran Blangkejeren ini bermimik prihatin.
   Dr Yusni Saby sebagai tim monitoring KBMK juga memaparkan kalau
   pekerjaan tim monitoring bukan pekerjaan mudah, selain mereka mesti
   netral turunnya mereka ke lapangan juga harus berdasarkan rekomendasi
   tidak serta merta.
   Lain di KBMK, lain pula masalah di KBAK. Untuk masalah bantuan
   kemanusiaan, Dra Naimah Hasan MA selaku ketua KBAK wakil RI masih
   belum bisa menjawab kalau faktor keamanan menghambat distribusi.
   "Bantuan yang diberikan UNDP baru pada tingkat mobilitas komite,
   misalnya mobil untuk ke daerah. Sedangkan bantuan ke masyarakat
   belum," tutur Naimah.
   Teuku Kamaruzzaman dari KBAK wakil GAM juga menambahkan bahwa secara
   riil bantuan yang diharapkan dalam program yang dibuat di komite
   memang belum tersalurkan.
   Kendala dan pengungsi
   Yang segera tertangkap dari para narasumber yang hadir adalah
   kurangnya koordinasi di antara mereka dan tim monitoring. Dalam KBAK,
   misalnya, memberi keterangan yang nyaris tumpang-tindih dengan tim
   monitoring KBAK. Kalau Naimah masih ragu mengenai masalah keamanan
   menjadi faktor penghambat bantuan, Maimul Fidar sebagai tim monitoring
   justru yakin sekali masalah keamanan menjadi faktor penting tidak
   adanya bantuan. "Negara luar itu ragu memberi bantuan bila keamanan
   tidak jelas," ujar Maimul kepada Kontras yang hadir menyaksikan
   diskusi itu.
   Bagaimana tidak, sang negara donor boleh jadi cemas bantuannya malah
   tidak tersalurkan gara-gara faktor tadi. "Saya yakin sekali," ujar
   Maimul bos Koalisi NGO HAM ini lebih lanjut.
   Sebangun dengan Maimul, Syarifah Rahmatillah dari tim monitoring KBAK
   juga mengeluh soal bantuan yang belum ada. Kalaupun ada biasanya
   langsung disalurkan sendiri tanpa lewat panitia jeda. "Kalau mendapat
   masalah, baru deh menghubungi panitia jeda," ujar wanita ini.
   Kurang koordinasi ini juga diungkapkan oleh Drs Fauzi Ali Amin MKes
   dari Unicef. "Para anggota komite dan tim monitoring tidak saling
   koordinasi. Ke depan hal-hal seperti ini tak boleh terjadi lagi," ujar
   Fauzi (Baca: Rekomendasi untuk Jeda Tahap II)
   Selain kurangnya koordinasi, waktu yang dibutuhkan ternyata harus
   panjang. Tiga bulan tidak cukup untuk mengkonkretkan semua program
   yang telah disusun. Jadi, alangkah sayangnya bila jeda tidak
   diperpanjang sementara program sudah dibuat. Dan lebih tidak masuk
   akal bila tiga bulan ini hanya diisi dengan acara saling kenal-
   mengenal sementara actions-nya nol sama sekali dan rakyat Aceh makin
   apoh apah (kalang-kabut campur panik) dengan keadaan yang kian tak
   menentu.
   Menyikapi banyaknya pengungsi di Aceh saat jeda, sempat menimbulkan
   banyak pertanyaan peserta. Kok makin jeda yang mengungsi juga makin
   banyak. Alhasil muncul pemikiran "ekstrim" jangan-jangan ini sengaja
   dipolitisir agar bisa mendapat bantuan.
   Pemikiran sekonyong-konyong itu dengan tegas dibantah oleh
   Kamaruzzaman. "Tidak mungkin mereka rela meninggalkan kampung
   halamannya, capek-capek mengungsi hanya untuk mendapatkan seliter
   beras, sebungkus mi, dan semangkok kacang hijau," papar Pon Man --
   begitu dia kerap dipanggil-- membantah. "Mereka mengungsi karena
   merasa keamanan mereka tidak terjamin di kampung," kata Peutuha Syik
   Persatuan Rakyat Aceh ini.
   Sehingga, menurut Pon Man, semua orang Aceh harus dibantu. "Korban
   kekerasan mungkin hanya satu atau dua orang, tetapi dampak konflik itu
   dialami oleh seluruh rakyat," katanya panjang lebar.
   Bunga jeda
   Apapun kekurangannya, kiranya jeda adalah gebrakan luar biasa untuk
   Aceh. Para pihak bertikai sudah sudi duduk satu meja, merupakan hal
   termaju yang pernah didapat dalam penyelesaian konflik Aceh. Tingkat
   kuantitas kekerasan juga mulai mereda, biarpun tidak banyak juga suatu
   prestasi yang boleh dibanggakan.
   Boleh kita umpamakan tiga bulan jeda pertama adalah tahap penjajakan.
   Dan semua orang --terlepas orang yang duduk di komite-- berharap jeda
   ke depan haruslah lebih baik dari yang kemarin. Implementasi peraturan
   dasar jeda juga diharapkan bisa dilakukan di lapangan. Di antara semua
   harapan terbersit keinginan yang bisa menjadi bunga jeda yang paling
   indah, yaitu jeda kedua ini membicarakan masalah subtansial Aceh!
   Pembicaraan soal ini adalah harapan yang bukan tanpa dasar. Apalah
   arti jeda, kalau nanti setelah jeda kembali bertarung. Apalagi Mentri
   Pertahanan RI Mahfudh MD sudah membuat pertanyataan bahwa tidak ada
   lagi jeda ketiga, keempat atau seterusnya. Jeda babak kedua inilah
   yang terakhir.
   Yang membayang dipikiran rakyat sipil saat ini adalah akan terjadi
   perang dasyat setelah jeda nantinya.
   "Perpanjangan jeda ini diisyaratkan akan membicarakan masalah
   subtansial," kata Ridhwan Karim. Sudah tentu ini akan menghibur hati
   rakyat yang lebih sering ketakutan.
   Selain akan membicarakan masalah subtansial, mungkin jeda akan lebih
   baik bila ada nuansa religius, sebagaimana yang diharapkan oleh
   peserta diskusi.
   "Kalau muatan nilai-nilai keislaman yang gandrung pada kedamaian dan
   antikekerasan diterapkan dalam jeda, pasti akan tambah efektif," kata
   Abu Madinah, salah satu peserta diskusi. Dengan hati terbuka pihak
   bertikai setuju. "Kita kan sama-sama Islam," balas Ridhwan Karim
   terbahak.
   Apapun yang direncanakan, rakyat pasti berharap banyak. Dan kita ingin
   hal ini bukan hanya diimplementasikan di diskusi saja, melainkan juga
   di lapangan. Bukankah itu hal yang wajar? na
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Suksesi Gubernur Aceh
   Disumpah atau Didumpah Serapah
   
   Untuk mencegah praktik "main duit" dalam suksesi Gubernur Aceh harus
   lewat sumpah. Tapi cerdas uide tersebut, atau soal sumpah itu perlu
   "ditradisikan" dalam Naggroe Aceh ke depan?
   
   Rabu pekan lalu, suasana di restoran Hotel Sultan Banda Aceh agak
   gemuruh, terutama oleh tepuk tangan yang mewarnai acara Debat Calon
   Gubernur. Tepuk tangan itu muncul ketika para kandidat menyampaikan
   statemennya, atau ketika peserta mengajukan pertanyaaan, bahkan
   usulan--yang adianggap aneh tapi cerdas. "Untuk menghindari terjadinya
   politik uang, sebaiknya calon yang akan dipilih dan anggota DPRD Aceh
   yang akan memilih jarus disumpah," bunyi usulan terdas itu dari salah
   seorang peserta.
   
   Lalu usulan tersebut menjadi wacana dalam forum. Berbagai usulan
   tambahan melengkapi "syarat-syarat" penyumpahan itu. Misalnya, harus
   dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman dengan dihadiri sejumlah
   anggota masyarakat sebagai saksi. Sumpah itu penting, seperti
   dikemukakan para peserta, karena sekarang ini beradar isu dan bahkan
   "bukti" bahwa ada bakal calon gubernur yang menggunakan duit agar dia
   dipilih oleh anggota Dewan. Bahasa kasarnya, dalam masa penjanringan,
   penyaringan, atau masa pemilihan yang dijadwalkan akan berlangsung
   Desember mendatang akan ada sogok menyogok antara calon dengan anggota
   Dewan.
   
   Isu itu berkembang tidak hanya dalam suksesi di Aceh. Di beberapa
   daerah malah telah terbukti adanya permainan money politic alias
   politik uang. Seperti diberitakan media massa, dalam sejumlah kegiatan
   pemilihan bupati dan walikota, soal main duit ini sangat kentara.
   Akibat praktik tercela itu timbullah reaksi dari masyarakat terhadap
   hasil kerja Dewan. Sebagian ada yang harus dilakukan pemilihan ulang,
   dan sebagian berbuntut pada pemecatan anggota Dewan yang disinyalir
   menerima duit dari calon. "Untuk suksesi kali ini pemilihan hatus
   jujur dan tidak boleh main duit. Oleh karenanya harus disumpah
   terlebih dahulu," tutur peserta di Hotel Sultan.
   
   Tiga dari empat bakal calon yang hadir di forum tersebut --Ramli
   Ridwan, Abdullah Puteh, Kaoy Syah, dan Teuku Syauki Markam--
   menyatakan bersedia untuk disumpah. "Sebenarnya masalah ini tidak
   diatur dalam tata tertib pemilihan gubernur (oleh DPRD). Tetapi, kalau
   rakyat menghendaki, ya silakan saja," ujar Kaoy Syah, calon yang lebih
   dari satu periode pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Aceh ini. Begitu
   juga Ramli Ridwan, yang kini sebagai Pejabat Gubernur Aceh. Malah
   menurut mantan Bupati Aceh Utara itu, adanya isu politik uang membuat
   gelisah para calon, termasuk dirinya, sehingga ada saatnya berpikir
   untuk apa dia maju menjadi calon. Kecuali tidak mau terlibat dengan
   urusan yang begituan, dia juga mengaku tidak punya uang untuk sogok
   menyogok. "Kalau perlu pemilihan dilakukan secara terbuka, agar orang
   tahu siapa memilih siapa," kata Ramli.
   
   Abdullah Puteh, yang hadir untuk menyampaikan visinya bersama calon
   lain, tak sempat menjawab pertanyaan dan saran peserta. Mantan Kepala
   Dinas PU Aceh Timur dan mantan Ketua Umum DPP KNPI itu mendadak
   kembali ke Jakarta sebelum acara usai. "Saya dipanggil DPP Golkar,"
   katanya kepada Kontras. Tetapi pada prinsipnya Puteh juga akan
   mengikuti ketentuan yang berlaku atau diberlakukan. Sedangkan Syauki
   Markam melihat soal sumpah itu tidak ada masalah baginya. "Silakan
   saja. Saya siap," katanya. Cuma Syauki mengingatkan, sebenarnya
   seorang pejabat dengan sendirinya akan disumpah saat dilantik.
   
   Jika para kandidat telah menyatakan mau disumpah agar tidak main duit
   dalam pemilihan kelak, bagaimana dengan 54 anggota DPRD Aceh yang
   bakal memilih mereka? Soalnya sering beredar rumor setiap kali suksesi
   para anggota Dewan --di mana pun-- akan menikmati panen. Meski tak ada
   ketentuan --dan tidak pernah dijanjikan-- sejak masa Orde Baru pun
   soal duit ini telah pernah ikut serta dalam arus suksesi. Misalnya,
   ada istialah yang disebut uang jasa atau uang lelah, yang diberikan
   kepada anggota Dewan seusai pemilihan. Padahal waktu itu persaingan
   tidak ketat karena biasanya telah disediakan seorang "calon jadi" dan
   dua orang "pendamping".
   
   Jika benar-benar tidak boleh ambil duit --sesudah disumpah-- takut
   dimakan sumpah, itu artinya rumor bahwa "suksesi adalah panen raya"
   tidak berlaku lagi di DPRD Aceh. "Saya kira ide itu cukup bagus.
   Secara pribadi saya mendukungnya. Hanya saja, kalau sumpah itu
   dilaksanakan di Masjid Raya, apakah sudah tepat?" kata Zaini Sulaiman,
   anggota Dewan dari Fraksi PPP seperti dikutip Serambi. Cuma, mantan
   Wakil Ketua DPRD Aceh Besar itu mempertanyakan soal tempat
   penyumpahan. Dia lebih setuju dilaksanakan di gedung DPRD, tak perlu
   di masjid sebagaimana diusulkan perserta Dialog Kandidat tadi.
   
   Kecuali Zaini dari PPP, dari kalangan Golkar pun ada yang setuju soal
   sumpah ini. Paling tidak kesetujuan itu datang dari Sekretaris Fraksi
   Partai Golkar H Jauharuddin Harmay. "Bagi saya, jangankan di Masjid
   Raya, di depan Ka'bah pun saya bersedia," tutur anggota yang mewakili
   Aceh Tenggara itu. Tapi pernyataan dua anggota ini --yang beberapa
   anggota lainnya-- agaknya berseberangan dengan apa yang dikemukakan
   pimpinanya. Drs Muhammad Yus, Ketua DPRD Aceh --yang juga sefraksi
   dengan Zaini Sulaiman-- kepada Kontras menyebutkan persoalan sumpah
   ini sebagai sesuatu yang agak berlebihan. Sebab, menurutnya sumpah
   seperti diusulkan oleh forum Debat Kandidat itu tidak sesuai dengan
   mekanisme yang telah ditetapkan dan berlaku secara umum dalam
   pemilihan kepala daerah. (Baca: Kita Tetap Mengacu pada Mekanisme).
   
   Sebenarnya substansi dari ide penyumpahan itu tak lain dari refleksi
   ketidakpercayaan publik terhadap kejujuran moral yang telah menjadi
   perilaku masyarakat terutama dalam kancah politik. Harapan publik agar
   wakil-wakil dan pemimpin mereka bisa memegang amanah, seolah
   terjerumus oleh godaan-godaan. Misalnya terjadinya kasus korupsi di
   mana-mana, padahal dalam sumpah jabatan terlah tercantum apa yang
   harus dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan oleh seseorang. Tapi
   itu tadi, banyak orang yang tergoda oleh uang ketika dia punya
   wewenang untuk memutuskan sesuatu, termasuk dalam menentukan pilihan.
   
   Karena sumpah jabatan formal tidak bisa menjadi benteng dari
   praktik-praktek tidak terpuji, lalu yang dicarilah alternatif yang
   lebih mengikat, misalnya sumpah secara agama. Dan itu dilakukan tidak
   di gedung biasa, tapi di tempat suci seperti masjid. Dengan andalan
   masjid sebagai simbol spritual agamis, hendaknya orang- orang yang
   disumpah --dalam hal suksesi adalah gubernur dan para anggota DPRD--
   tidak akan mudah melanggar sumpah. Para calon tak akan memberi duit
   dan anggota Dewan tak akan menerima duit.
   
   Pengamat hukum tata negara dari Unsyiah, Dr Moersyidin Moeklas melihat
   bahwa usulan penyumpahan anggota Dewan dan kandidat gubernur
   boleh-boleh saja. Tapi harus diketahui persoalan sumpah sumpah itu
   hanya diperlukan ketika ada hal-hal yang bertentangan atau merugikan
   dirinya sendiri. Sedangkan pemilihan kepala daerah adalah masalah
   negara yang telah ada ketentuannya. Lagi pula secara hukum semua
   anggota Dewan telah disumpah saat dilantik. Sumpah itu mengikat untuk
   masa selamanya bagi anggota Dewan, termasak tidak boleh menerima duit
   dari para calon yang akan mereka pilih. (Baca: Persoalannya Terlampau
   Berlebihan).
   
   Seorang pengamat lain --yang tak mau disebut namanya (katanya: saya
   belum berhak disebut pengamat)-- melihat ide penyumpahan secara agama
   itu sungguh suatu pemikiran cemerlang, walaupun konsekuensinya berat.
   Misalnya, sumpah itu harus mengikuti aturan- auran yang baku menurut
   ajaran Islam, termasuk syarat bagi yang akan menyumpahnya. Kalau
   sekarang yang mangambil sumpah pejabat adalah pejabat di aatasnya
   serta disaksikan seorang ulama (formal) yang ditunjuk, sumpah di
   masjid itu harus jelas formatnya. "Barangkali, ke depan, jika Aceh
   benar-benar melaksanakan ajaran Islam dalam semua sisi kehidupannya,
   soal penyumpahan pejabat perlu dipikirkan bagaimana mekanismenya,"
   usulnya.
   
   Seandainya UU NAD (Undang Undang Nanggroe Aceh Darussalam) akan
   diluluskan sebagai acuan pembentukan daerah otonmi khusus untuk Aceh,
   maka ketentuan-ketentu menyangkut prosesi penympahan dan pelantikan
   pejabatnya juga harus diatur. Pengamat tadi menyebutkan, jika dalam
   konsep UU NAD gubernur atau kepala nanggroe akan dipilih langsung oleh
   rakyat, bukan oleh DPRD, maka prosesi penyumpahan pun harus dilakukan
   di depan rakyat, misalnya di masjid agar lebih khidmad dan mengikat
   secara moral, sebagaimana diusulkan dalam forum Debat Kandidat
   Gubernur. "Jadi ide penyumpahan di masjid itu sangat cerdas. Cuma
   bukan dilakukan sekarang yang pemilihannya menggunakan mekanisme yang
   telah baku. Ke depan (dalam UU NAD, red) hal tersebut perlu
   dicantumkan dalam peraturaturan pelaksanaannya," tegasnya.
   
   Pakar yang baru menyelesaikan sudi S2 di sebuah perguruan tinggi di
   Pulau Jawa itu menyatakan bisa memahami mengapa masyarakat tidak lagi
   percaya terhadap "komitmen formal" semisal sumpah jabatan. Banyaknya
   arus protes terhadap keputusan politik yang diambil oleh para elit
   menunjukkan adanya gejala tersebut. Seorang pejabat yang bulan ini
   dilantik dengan menyandang berbagai harapan, bulan depan sudah
   dihujat, bahkan dicaci maki lantaran gagal memenuhi harapan- harapan
   publik. "Rumor yang menyebutkan hari ini dilantik besok dilantak,
   sekarang sedang musim-musimnya. Bisa saja anggota DPRD yang memilih
   seseorang untuk gubernur, besoknya dia akan menghantam sang
   pilihannya. Maka seharusnya yang dipilih itu benar-benar yang punya
   komitmen moral," katanya lagi.
   
   Arus reformasi dan eforia demokrasi memang membuat orang leluasa untuk
   menuntut hak-haknya, termasuk publik. Salah satunya ialah tuntutan
   menyangkut sumpah calon gubernur dan anggota DPRD agar tak main duit.
   Dengan adanya sumpah yang bernuansa Islami itu, seseorang diharapkan
   tidak akan melanggar janji sehingga harus menerima hujatan. Atau
   dengan kata lain, lebih baik disumpah daripada disumpah serapah oleh
   rakyat di kemudian hari. sk/hil/ian
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   
   Bukan Cuma Soal Politik Uang
   Berbagai gugagat dilontarkan dalam suksesi termasuk menggugat DPRD
   yang tidak legitimed. Tapi adakah sumpah itu hanya soal money politic?
   Pada awalnya, maksud Forum Debat kandidat yang dilaksanakan GP Ansor
   Aceh di Hotel Sultan itu untuk melihat bagaimana visi masing- masing
   calon terhadap masa depan Aceh sekarang ini. Makanya semua calon
   diminta untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya masing- masing.
   Tetapi kemudian, di sesi tanya jawab, perihal sumpah menyumpah menjadi
   mengemuka. Lalu forum itu pun seolah ingin mencari format bagaimana
   mekanisme penyumpahan tersebut dilaksanakan.
   
   Di tengah konflik Aceh yang berkepanjangan serta dilapisi rasa pesimis
   rakyat, adakah satu di antara para calon memiliki resep untuk
   menyelesaikannya? Demikian juga yang ingin dicapai dalam diskusi yang
   diadakan Forum Darussalam "Menggagas Aceh Masa Depan" tiga hari
   kemudian --Sabtu lalu (23/9)-- juga di Hotel Sultan. Beberapa forum
   lain atau bahkan dalam perbincangan lepas di tengah-tengah masyarakat,
   yang terkesan bahwa masyarakat oke-oke saja rencana DPRD memilih calon
   gubernur untuk menggantikan Pejabat Gubernur Ramli Ridwan. Tetapi
   apakah ada calon yang bisa melihat secara cerdas bagaimana upaya
   menghentikan berbagai kekerasan di Aceh. Tapi itulah tadi, para
   kandidat seolah masih gamang terhadap soal ini, sehingga lebih
   menutup-nutupi dengan gagasan besar tentang pembangunan, tanpa ada
   substansi jelas terhadap "persoalan" Aceh.
   
   Di forum Debat Kandidat misalnya, para bakal calon yang duduk
   berbanjar di depan peserta lebih banyak mengemukakan program- program
   pembangunan dibandingkan bagaimana dia menyelesaikan kasus Aceh untuk
   mencegah lebih banyak jatuhnya korban. Seolah para kandidat tak punya
   resep jelas perihal yang satu ini. Apalagi munculnya para peserta yang
   "membelokkan" persoalan, dari "resep" menyelesaikan Aceh menjadi
   "resep" menghindari politik uang dengan cara anggota Dewan dan calon
   bersedia disumpah. Alhasil, hingga kini seolah hingar bingarnya
   rencana pemilihan gubernur yang semakin seru, menjadi pelengkap dari
   hingar bingarnya kekerasan di Aceh, tanpa ada seuntai benang merah
   terkait dengan solusi.
   
   Demikian juga yang mengemuka di diskusi Forum Darussalam. Sejumlah
   peserta menilai, para calon gubernur tak punya agenda yang jelas
   terhadap persoalan-persoalan demokrasi dan hak asasi manusia di Aceh.
   Padahal, soal inilah yang seharusnya jadi prioritas bagi siapa pun
   yang memimpin Aceh ke depan. Sejumlah peserta menuduh bahwa para bakal
   calon tak memiliki sensitivitas. Banyak orang ingin jadi gubernur
   hanya karena mengejar privelege dan gengsi. Dengan sikap itu mustahil
   Aceh bisa membangun. Artinya apa pun yang dibuat sekarang, Aceh akan
   tetap suram dan terpuruk lebih dalam, terutama menyangkut masa depan
   sosial dan ekonomi.
   
   Aguswandi, seorang aktivis, melihat sensitivitas para calon sangat
   penting, misalnya kepekaannya terhadap persoalan demokrasi dan HAM
   yang kini runyam di Aceh. Apalagi para calon yang sekarang
   disebut-sebut namanya itu tak terlibat langsung dalam persoalan-
   persoalan kerakyatan. Memantau Aceh pun dilakukan mereka dari seberang
   -- Jakarta misalnya. "Mereka baru sibuk jika ada suksesi, atau ada
   tawaran menteri dari pusat untuk orang Aceh," papar seorang aktivis
   lainnya. Tapi T Syauki Markam --salah seorang kandidat-- mengakui
   meskipun memantau Aceh dari jauh, namun itu dilakukannya secara
   intens. "Saya melihat Aceh dari banyak arah, dari Eropa, Jakarta, dan
   Aceh sendiri," jelas Syauki yang lama tinggal di Eropa saat
   menyelesaikan studinya.
   
   Jika di Forum Debat yang diadakan Ansor peserta banyak membicarakan
   soal sumpah calon dan anggota Dewan, di dalam diskusi Forum Darussalam
   peserta menilai pemilihan gubernur yang akan datang tidak memiliki
   kekuatan hukum yang kuat. Mereka menyebutnya tidak legitimed.
   Pasalnya, anggota DPRD yang akan memilih gubernur saja tidak memiliki
   legitimasi, karena tidak semua rakyat Aceh yang berhak memilih dalam
   Pemilu lalu ikut memberikan suara.
   
   Suara yang menggugat keberadaan Dewan itu datang dari seorang
   mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah. Tapi pakar hukum tata negara dari
   fakultas yang samam, Dr Moersidin Moeklas, memberi pandangan lain,
   dengan mengatakan bahwa jumlah pemilih yang ikut Pemilu tidak
   mempengaruhi legitimasi keterwakilan dalam lembaga legislatif. Dia
   menyebutkan, AS yang terkenal sebagai kampium demokrasi di dunia,
   jumlah yang ikut memberikan suara di Pemilu -- sepanjang sejarahnya--
   tidak pernah lebih dari 60 persen.
   
   Orang bisa berdebat dan mengusulkan berbagai hal di tengah eforia
   demokrasi, atau malah tak mengakui keberadaan sebuah lembaga. Namun
   seperti diingatkan oleh Ketua DPRD Aceh, Drs Muhammas Yus, apa pun
   kejadiannya suksesi gubernur jalan terus. DPRD sebagai lembaga yang
   memiliki hak untuk memproses para bakal calon dan memilih gubernur
   akan memegang teguh aturan dan mekanisme yang ada. Jumat (22/9)
   kabarnya Dewan mulai merumuskan kriteria dan syarat calon yang telah
   dijaring. Ada syarat khus di dalamnya, yaitu bagaimana komitmen
   seseorang calon terhadap masa depan Aceh: pelaksanaan syariat Islam
   dan memulihkan kondisi keamanan.
   Barangkali kalau benar-benar diuji, berapa orangkah dari puluhan calon
   yang berani menawarkan "solusi keamanan" bagi Aceh? Atau mereka cuma
   berjanji sebelum terpilih, tapi setelah itu akan enggan atau tak
   sanggup melaksanakannya. Makanya ada yang mengusulkan: jika calon itu
   disumpah di masjid, bukan sekadar tak main duit, tapi juga mau
   bersumpah untuk mencari jalan terbaik bagi masa depan Aceh. Nah!
   sk/hil/ian.
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Drs Muhammad Yus
   Ketua DPRD Aceh
   Kita Tetap Mengacu pada Mekanisme
   
   Bagaimana dengan usulan sebagian masyarakat agar anggota dewan
   disumpah kembali sebelum mimilih gubernur nantinya?
   Itu semua (pemilihan gubernur) ada mekanismenya. Jadi saya kira tidak
   boleh di luar mekanisme dan ketentuan yang ada. Ada tata tertib. Kalau
   memang dalam tata tertib harus disumpah, ya harus kita lakukan. Jadi,
   kita bukan ikut keinginan massa, tapi mekanisme.
   
   Apa karena cara itu melanggar konstitusi?
   Bukan konstitusi, tapi mekanisme. Kita berusaha sesuai mekanisme yang
   ada. Kalau memang harus dilakukan sumpah dan sebagainya, ditinjau
   kembali mekanisme itu. Kalau mekanisme ada, tapi kita ndak pakai, jadi
   bagaimana? Acuannya ke mana?
   
   Jadi usulan itu tak positif?
   Soal positif tidaknya tergantung memandangnya. Kalau misalnya saya
   baca di koran itu harus di depan masjid raya dan sebagainya.
   Sebenarnya persoalan sumpah itu di mana saja sama. Ada yang
   mengusulkan di makam Syiah Kuala dan sebagainya. Cara sumpah pun ada
   mekanismenya. Kita mengacu kepada syariat, bagaimana Rasulullah itu
   mengatur mekanisme penyumpahan. Dengan Al Quran bagaimana, lafalnya
   bagaimana.
   
   Menurut Anda mekanisme yang telah ada telah cukup?
   Ya, sudah. Hubungan kita dengan Allah, bukan hubungan dengan manusia.
   Sumpah itu bukan dengan manusia, tapi dengan Allah. Dalam kamar pun
   Allah melihat, bisikan kita juga tahu. Bukan main-main dengan sumpah
   itu.
   
   Menurut Anda, kenapa masyarakat punya usulan demikian?
   Pikiran orang macam-macam kan. Boleh jadi. Tapi kita tetap mengacu
   pada mekanismenya. sk\hil
   
   [INLINE]
   
                                   Laput
                                      
   
   Dr Moersidin Moeklas SH MH
   Pakar Hukum Tatanegara Unsyiah
   Persoalannya Terlampu Berlebihan
   Tanggapan Anda terhadap ide para calonn gubernur dan anggota DPRD
   disumpah sebelum pemilihan agar tidak terlibat politik uang?
   
   Bahwa kaulaulah keistimewaan Aceh dilihat dari sisi simbol, itu saya
   sangat kurang setuju. Sebab, kita sudah sejak awal terkenal dengan
   Serambi Mekkah. Terkenal dengan masyarakatnya yang taat beribadah.
   Dengan demikian, sebenarnya kita yang mengakui sebagai umat Islam,
   maka barangkali sumpah itu hanya diperlukan ketika ada hal-hal yang
   bertentangan atau merugikan dirinya sendiri. Tapi dalam hal ini,
   sumpah itu adalah perbuatan yang mencoba untuk mengikat moral dari
   calon gubernur dan anggota DPRD untuk tak bermain money politic.
   
   Anda memandang perlu sumpah itu?
   Jabatan gubernur adalah jabatan politis. Begitu pun wakil-wakil rakyat
   di DPRD adalah jabatan politis. Ketika seorang anggota DPRD terpilih
   --sebelum duduk-- ia sudah disumpah. Sumpah itu berlaku selamanya bagi
   anggota DPRD, begitu pula seorang calon gubernur. Apabila terpilih, ia
   baru disumpah dalam menjalankan tugasnya. Tapi kalau kemudian belum
   menjadi gubernur sudah disumpah, ini hal yang sangat berlebihan.
   
   Mengapa?
   Karena anggota DPRD maupun bakal calon gubernur itu sudah bersumpah
   dalam dirinya sendiri yang dikerjakan lima kali sehari. Belum lagi
   beberapa kali dibacakan ayat-ayat yang menyebutkan ada perintah Tuhan
   di sana.
   
   Jadi tak perlu lagi?
   Kalau kita merasa diri kita sebagai Muslim, maka sumpah seperti itu
   tak diperlukan. Apalagi di dalam masjid raya. Masjid raya itu tempat
   penyerahan secara total diri kita kepada Allah dan bukan untuk urusan
   dunia. Ini saya kira persoalannya terlampau berlebihan. Saya sih
   setuju saja. Selain itu, apakah ada jaminan misalkan akad nikah di
   masjid raya itu tak akan terjadi perceraian. Atau ada jaminan para
   anggota dewan tak terlibat money politic.
   
   Mungkin untuk memberikan tekanan moral?
   Apakah anggota DPRD sekarang dan calon gubernur itu diragukan
   moralnya. Apakah sudah sampai sejauh itu kita curiga sesama Muslim.
   Kalau ada saran seperti itu bukan tak baik, tapi seolah-olah kita
   telah melecehkan ajaran Islam. Seolah-olah selama ini kita
   melaksanakan ajaran Islam secara pura-pura. Jadi, seolah-olah tak ada
   orang Muslim di Aceh ini yang menjalankan ibadahnya dengan baik.
   
   Kalaupun dilakukan, ada tidak pengaruhnya?
   Ada atau tidak adanya sumpah itu tak ada pengaruh buat calon gubernur
   dan anggota dewan.
   
   Anda mungkin punya solusi lain?
   Agar tak terjadi money politic, maka LSM dan komponen masyarakat
   lainnya harus menggunakan mata dan telinganya. Sampai sejauh mana
   mereka itu perfect dalam proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur.
   Bukan melalui sumpah. Apalagi ini masalah politik.
   
   Menurut Anda, apakah sumpah seperti diusulkan itu melanggar tata
   tertib?
   Aturan mengenai sumpah jabatan itu sudah ada, dalam UU No 22 (UU nomor
   22/1999 tentang otonomi daerah, red) maupun yang lain. Tetapi, kalau
   memang nanti setelah terpilih mereka mau disumpah di masjid raya, ya
   lebih baik. Bukan sekarang. Barangkali itu suatu kebiasaan lain yang
   kita terapkan, menyangkut keistimewaan Aceh. Ini kan belum apa-apa
   sudah disumpah. sk
   
   [INLINE]
   
                                 Wawancara
                                      
   
   Rukaiyah Ibrahim Nain
   Tokoh Wanita Aceh
   Lobi Wanita akan Lebih Menyentuh
   
   PENGANTAR - Murah senyum, serius, dan amat peduli pada pemberdayaan
   perempuan merupakan ciri khas yang melekat pada diri Rukaiyah Ibrahim
   Nain (50), salah seorang tokoh wanita yang kini duduk di DPRD Tk I
   Aceh.
   Di lembaga legislatif itu, jumlah wanitanya cuma empat orang. Meski
   minoritas, Rukaiyah tak merasa sungkan. Bahkan, Rukaiyah dan rekan-
   rekannya bertekad memperjuangkan aspirasi kaumnya dengan mencari
   setiap kesempatan yang ada. "Namun, saya tak setuju bikin partai
   perempuan," jelas Rukaiyah, setengah bergurau.
   Dalam hal pembelaan terhadap nasib rakyat, ibu dua putri ini tergolong
   gigih. Anggota Pleno Forum Peduli HAM ini mengakui sempat melakukan
   investigasi pelanggaran HAM ke sejumlah daerah sebelum DOM dicabut. Ia
   sudah terbiasa mendengar langsung keluh-kesah para korban DOM, tak
   terkecuali wanita-wanita yang diperkosa atau yang mengalami pelecehan
   seksual.
   Bahkan, enam hari setelah terjadinya penembakan Tgk Bantaqiah Cs, 19
   Juli 1999, mantan Ketua Fatayat NU dua periode ini juga ikut bersama
   sejumlah kalangan pers ke Beutong Ateuh, Aceh Barat, yang menurutnya
   cukup berkesan. "Saya tak mampu membendung rasa sedih," katanya
   mengenang tragedi yang menimpa Bantaqiah Cs.
   Untuk keluarga para korban tindak kekerasan, Rukaiyah meminta agar
   pemerintah ikut peduli meringankan beban yang menindih mereka.
   "Sebaiknya pemerintah memberi pancing agar masa depan masyarakat yang
   menderita itu lebih baik," ujar Bendahara DPW PPP dan PMI Aceh ini.
   Tapi, "spesialis bendahara" ini mengaku tak turun saat Pansus di
   Pidie, dua bulan lalu. Ketidakhadirannya pada Pansus yang didanai
   dengan uang rakyat itu sempat dikecam beberapa kalangan. "Saat itu
   saya banyak disorot oleh pers karena tak turun ke Pansus Pidie.
   Sayang, mereka tak pernah mencari tahu sebab saya tak turun," keluh
   istri Tuanku Idris ini, seraya menambahkan bahwa anaknya saat itu
   sakit keras.
   Menyangkut keluarga, wanita kelahiran Lhamlom, Aceh Besar, ini
   berpendapat bahwa ketahanan rumah tangga sangat dibutuhkan untuk
   melanggengkan sebuah mahligai perkawinan. Karena itu, katanya, sangat
   wajar jika setiap istri berupaya memberi pelayanan terbaik agar sang
   suami betah di rumah. Mengenai penghapusan PP Nomor 10 tentang
   Larangan Poligami, Rukaiyah tak keberatan. "Tapi, ini bukan berarti
   saya menyuruh suami kawin lagi," kata adik kandung Nurdahri ini
   menegaskan. Kakaknya itu kini menjadi anggota DPR RI asal Aceh dari
   PPP. "Saya memang separtai dengan kakak, tapi bukan berarti
   nepotisme," ujarnya mengklarifikasi bahwa dia tak mengekor kakaknya.
   Wanita yang punya dua cucu ini juga salut atas keuletan dan keteguhan
   wanita Aceh sejak dulu hingga kini. Menurut wanita berlesung pipi ini,
   untuk masa mendatang kaum wanita harus terus berusaha meningkatkan
   kualitas dan pemberdayaan diri dan keluarganya.
   Kepada Hilmi Hasballah dan Said Kamaruzzaman dari Kontras, Kamis lalu,
   di ruang kerjanya di Komisi F DPRD Aceh, wanita yang sangat mengagumi
   kiprah ayahnya, Tgk Ibrahim Nain ini mengutarakan berbagai hal,
   terutama menyangkut upaya-upaya pemberdayaan perempuan di masa kini
   dan masa mendatang. Berikut cuplikan wawancara dengannya:
   
   Kini, di DPRD Aceh cuma ada empat orang perempuan. Apakah mampu
   mengakomodir aspirasi perempuan di daerah ini?
   Masalah aspirasi, kita tetap berusaha mengakomodir berbagai
   kepentingan yang ada. Kawan-kawan di Komisi E berusaha memberdayakan
   wanita. Cuma, tentang pendanaan bidang kewanitaan hasilnya belum
   seperti yang diharapkan. Yang sudah jalan adalah menyangkut
   peningkatan peranan wanita melalui organisasi wanita, misalnya di
   BKOW. Dalam hal ini mereka bekerjasama dengan Biro Pemberdayaan
   Perempuan Setwilda.
   Sedangkan di Komisi F (Komisi Keistimewaan Aceh), saya melihat di mana
   ada relung-relung yang bisa masuk untuk meningkatkan pemberdayaan
   wanita, umpamanya dalam syariat Islam. Jadi, sejauhmana bisa
   dilakukan, akan dilakukan. Terlebih setelah ada masukan dari beberapa
   LSM. Masukan dari sana kita bawa ke DPRD.
   Bagaimana dengan persoalan kemasyarakatan lainnya?
   Saya pikir, pelaksanaan syariat Islam itu kaffah (sempurna) dan
   diikuti oleh pria dan wanita. Jadi, pelaksanaannya sama dan tak beda.
   Jadi, wajib kita sahuti. Begitu pula dengan adat budaya, kalau ada
   yang menyimpang dengan agama, kita minta ditinggalkan. Umpamanya,
   budaya sambot linto baro, mengapa mesti perempuan yang menyambutnya?
   Padahal, lebih manis kan kalau laki-laki yang menyambutnya? Sebab,
   sang linto (mempelai, red) itu laki-laki.
   Menurut Anda, apakah kini masih ada sikap diskriminatif terhadap
   perempuan di Aceh?
   Sebenarnya begini, kita sendiri yang merasakan, apakah ada dikriminasi
   atau tidak. Barangkali, ada orang yang belum mendapat porsi, sehingga
   menganggap ada diskriminasi. Tapi, saya kira, tergantung wanita itu
   sendiri. Kita harus melawan. Saya mengharapkan setiap wanita mampu
   mengaktifkan diri. Saya rasa kalau kita cukup argumen, tak ada yang
   menolak. Jadi, kekurangan perempuan di DPRD, barangkali kami ini
   dianggap orang lemah. Tapi, cobalah kita berjuang terus. Seperti kami
   di PPP. Sebetulnya, sosok wanita yang aktif banyak. Tapi,
   kadang-kadang Pemilu dengan sistem distrik menghambat mereka. Ditambah
   lagi dengan tuntutan plus profesionalisme. Jadinya kita tinggal terus.
   Apakah Anda melihat sistem sekarang kurang mengakomodir kepentingan
   wanita?
   Ya, malah kami pernah menawarkan kawan-kawan, kalau porsi perempuan
   kurang, kita ramai-ramai ajak boikot Pemilu. Jumlah wanita di Aceh kan
   sekitar 53%. Kalau wanita yang boikot, mungkin akan ada perubahan.
   Tapi, sekali lagi, ini kami katakan sambil berseloroh.
   Termasuk di kalangan DPRD masih ada sikap diskriminatif?
   Kami yang empat orang ini selalu berusaha mewarnai. Malah, mereka
   (laki-laki) kalau kami tak datang, langsung tanya ke mana kami?
   Kayaknya, mereka butuh juga sentuhan dan kehadiran wanita.
   Bagaimana dengan pencabutan PP No 10, yang membolehkan kembali bagi
   PNS berpoligami?
   Ini kajian menarik. Katanya, PP itu hadiah Ibu Tien Soeharto untuk
   wanita Indonesia. Walaupun saya istri PNS, tapi pernah dalam suatu
   penataran P4, saya protes dan tolak UU tersebut. Saya bilang,
   seharusnya wanita Indonesia itu tak egois. Mengapa kita tak berpegang
   pada Alquran dan hadits. Saya sangat setuju dengan poligami, tapi saya
   sangat tak setuju kalau suami saya berpoligami.
   Mengapa Anda tak setuju?
   Begini. Dalam kehidupan ini, kita jangan cuma bisa berpolitik di
   partai politik semata, tapi juga di rumah tangga. Bagaimana membuat
   sang suami betah pulang? Lalu, bagaimana pula perbandingan pria-
   wanita. Kini, wanita jauh lebih banyak. Jadi, nantinya anak perempuan
   kita bisa saja tak kebagian suami. Ha... ha... ha... Saya kira begitu.
   Dan saya pribadi sangat setuju PP No 10 dicabut. Ke depan, kita
   masing-masing berupaya memberi perhatian agar si suami betah dan tak
   suka 'jajan' di luar. Tapi, kalau ini juga terjadi atau kita ragu
   suami akan kawin lagi, kita harus kembali ke rukun iman, yakni percaya
   kepada qadha dan qadar.
   Jadi, pada dasarnya saya setuju dengan pencabutan PP No 10, dan ini
   bukan berarti saya menyuruh suami untuk kawin lagi. Sebab, saya juga
   kecewa kalau harus dipersandingkan dan akhirnya menjadi saingan dengan
   wanita lain.
   Konon katanya poligami itu bisa mencegah suami berbuat serong?
   Makanya, sedari dini setiap manusia harus dibekali dengan ilmu agama.
   Mengapa agama harus mendampingi kehidupan? Akhirnya, kita kan butuh
   agama! Bahwa agama mengatur segalanya. Misalnya ada pemuda terlibat
   shabu-shabu dan narkotika, ketika dia merasakan penderitaan,
   kadang-kadang dia sadar, ini merupakan penyakit yang paling dilaknat
   Tuhan di dunia. Makanya, ketika dia insaf dan sadar, dia akan berusaha
   mengobati diri sendiri. Dia yakin obat yang sebenarnya ada pada
   kesadaran diri. Betapapun ikhtiar orang lain, kalau hati tak sadar,
   penyakit itu takkan sembuh juga.
   Setahu Anda bagaimana konsep Perda tentang wanita?
   Kita tetap merujuk ke Alquran dan hadits. Begitu pula dalam muamalah.
   Kalau kita pikir, syariat Islam itu luas. Jadi, kalau syariat Islam
   dimasukkan ke dalam Perda, sebenarnya, seperti memasukkan gajah ke
   dalam botol. Yang mungkin adalah mengakomodir unsur-unsur syariat
   Islam. Perda ini kecil. Syariat Islamlah yang sangat besar. Begitupun,
   setelah dilakukan sosialisasi, kita butuh juga masukan-masukan,
   terutama dari masyarakat Aceh.
   Apa kendalanya?
   Saya kira, kalau kita sepaham, sepakat, dan mampu berjalan dalam satu
   pematang sambil mengatur barisan, sepertinya tak ada yang terasa
   susah. Apalagi pendidikannya terus diterapkan, seperti menginginkan
   Aceh sebagai sebuah tatanan yang islami. Di situ jam belajar rakyat
   ditentukan dari jam sekian ke jam sekian. Jadi, tergantung pada
   kebersamaan dan kesiapan kita menerimanya.
   Jadi, semua komponen harus siap?
   Saya lihat kesiapan itu perlu. Adik-adik dari berbagai komponen yang
   datang bertamu ke DPRD, mereka semua menginginkan itu. Terlebih dari
   KAMMI yang menolak peredaran majalah dan CD porno. Agar aspirasi itu
   terealisasi, caranya mudah saja. Nanti di Dati II, dibuat dan diatur
   izin usaha penjualan koran atau sebuah tabloid. Tak ada yang boleh
   menjual segala sesuatu yang berbau pornografi. Dan kalau melanggar,
   izin usahanya dicabut. Jadi, di daerah juga ada Perda yang melarang
   tindakan-tindakan berbau maksiat.
   Tapi dalam realitasnya, wanita sendiri ada juga yang melanggar?
   Saya sangat prihatin terhadap hal ini. Makanya, di hari-hari mendatang
   perlu usaha perbaikan di setiap lini kehidupan. Secara intensif kita
   perlu melakukan jilbabisasi wanita Aceh. Saya pun kadang-kadang belum
   pas sekali dalam berpakaian sesuai peraturan agama. Kita sama-sama
   mengoreksi dirilah! Begitu juga sesama rekan perempuan di DPRD. Kami
   saling mengoreksi ke arah yang lebih sempurna. Mungkin, nanti ada
   organisasi wanita yang memprakarsai penampilan busana muslim. Mana
   yang pas dan mana yang kurang pas. Bukan berarti kalau sudah tutup
   kepala selesai masalah, padahal jins ketat tetap dipakai. Begitu juga
   dengan baju ngepas. Makanya, kalau kita punya anak dan cucu, sejak
   kecil kita tanamkan nilai- nilai keislaman. Sehingga, mereka semua
   punya landasan yang kokoh dan tak gampang diterpa badai modernisasi.
   Saya pun ikut membenah diri, bukan cuma menasihati orang lain.
   Konflik Aceh yang tak kunjung reda menambah jumlah janda. Apa yang
   seharusnya dilakukan Pemda menghadapi fenomena ini?
   Pertama kali kita harus memberikan kekuatan jiwa kepada mereka semua.
   Saya yang bergabung dengan FP-HAM sudah turun ke berbagai daerah di
   Aceh ketika investigasi korban pelanggaran HAM sebelum DOM dicabut.
   Saya amati bahwa banyak janda yang hidupnya amat menyedihkan. Saya
   ingin mereka dapat diberdayakan. Hal ini juga pernah saya utarakan
   kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawangsa.
   Wanita-wanita itu hanya mau pancing, bukan ikannya.
   Maksudnya?
   Contoh saja di Matang Pineung. Warga di sana punya lahan-lahan
   telantar. Mereka mau bekerja keras jika diberi bibit. Mereka tak larut
   dengan dukanya, karena tak bisa berbuat apapun. Saya bahagia sekali.
   Meskipun kebanyakan di antaranya sudah menjanda, ketegaran dan
   keuletannya sangat luar biasa. Itulah barangkali salah satu kelebihan
   perempuan Aceh. Karena imanya tebal, mereka sangat kuat menghadapi
   segala problema kehidupan. Meskipun kesedihan yang ada juga terlihat.
   Saya kira, kalau di daerah lain, banyak yang trauma. Sehingga, adanya
   panti rehabilitasi seperti di Yogyakarta. Alhamdulillah, wanita Aceh
   tegar menghadapi berbagai cobaan ini. Agama juga mengajarkan,
   perempuan yang tinggal di rumah sembari menjadi ibu dan istri yang
   baik bagi keluarganya, juga mendapatkan pahala setara orang berjuang.
   Para janda sepertinya siap menjadi perisai dan pelindung bagi
   anak-anaknya.
   Di Beutong Ateuh misalnya, hari keenam pascapenembakan Tgk Bantaqiah
   dan murid-muridnya, bisa dibayangkan bagaimana jeritan wanita dan
   anak-anak setempat ketika saya dan 27 insan pers hadir ke tempat itu.
   Saya sendiri sampai menjerit histeris saking tak mampu menahan haru.
   Saya berharap kehidupan mereka di hari-hari mendatang menjadi lebih
   baik. Mereka tak cuma butuh diberi makan dan disantuni. Namun, mereka
   ingin diberi pendidikan dan keahlian khusus. Jadi, rakyat di sana tak
   butuh bantuan yang sifatnya sementara. Yang dibutuhkan adalah bekal
   yang bisa bertahan sampai waktu lama. Karenanya, pemerintah dan kita
   semua harus serius berpikir untuk pemberdayaan wanita seperti itu.
   Bisa diceritakan bagaimana konkretnya perjuangan Anda di DPRD?
   Kami ikut melahirkan dan memberi sumbang saran untuk lahirnya Perda
   Syariat Islam. Kami juga intens berjuang agar pemberdayaan wanita
   dapat ditingkatkan. Kita juga menginginkan di masa mendatang
   bargaining position perempuan bisa lebih meningkat.
   Mengapa dalam suksesi gubernur ini kandidat wanita sangat minim?
   Di BKOW, 60 organisasi kewanitaan mengadakan rapat pleno. Jumlah yang
   ikut rapat itu tak sedikit. Mereka ingin mencalonkan tokoh wanita
   seperti Naimah Hasan, Raihan Ali Muhammad, dan lain- lain.
   Kami melihat, partai kami juga punya calon. Kami dari PPP di DPRD ada
   14 orang. Saya pribadi bakal memilih calon yang akomodatif untuk
   kepentingan perempuan.
   Kita bicara suksesi sedikit. Apakah Cagub ada yang sudah mendekati
   Anda dengan segala macam iming-imingnya?
   Saya juga heran, mengapa hingga hari ini tak satu pun kandidat dan tim
   suksesnya yang mendekati saya. Ha... ha... ha. Saya bersumpah, memang
   belum ada. Tapi, kalau kandidat yang menawarkan agar dimasukkan
   namanya ke fraksi, itu ada beberapa orang. Mungkin, mereka menganggap
   lobi wanita akan lebih menyentuh. Tapi, karena kami ada garis partai,
   dan anggaran dasar yang harus membesarkan partai, maka saya tidak akan
   membelot. Saya jawab secara baik dan tak kasar. Saya bilang bagaimana
   ya, partai kami menghendaki ini. Saya salah seorang kader partai yang
   berkewajiban membesarkan partai, ya, lewat fraksi saya. Mereka pun
   dengan santun bisa menerima penolakan saya.
   Ada yang berpendapat sebaiknya anggota dewan disumpah lagi saat
   pemilihan gubernur dilakukan. Tanggapan Anda?
   Ide ini saya nilai tidak salah. Sebab, masyarakat sepertinya merasa
   ragu terhadap integritas DPRD. Kita pahami kekhawatiran seperti itu.
   Barangkali masalah ini pernah mencuat pada masa Orde Baru. Rakyat
   ragu, jangan-jangan anggota DPRD takkan memilih gubernur yang
   sesungguhnya. Mereka hanya menginginkan hal sementara untuk
   kepentingan pribadi.
   Jadi Anda setuju dilakukan sumpah?
   Kalau rakyat menghendaki, saya sangat setuju. Ini saya ungkapkan bukan
   cuma di mulut saja. Dengan demikian, anggota DPRD akan melihat
   gubernur bukan dengan nilai uang, tapi dengan nilai kualitas.
   Apa cara demikian tak melanggar konstitusi?
   Masyarakat meminta DPRD untuk mengakomodir salah satu syarat yang
   diinginkan itu. Tapi, dengan syarat dari masyarakat yang seperti itu,
   orang-orang di DPRD juga merasa makin disorot, dari masalah yang satu
   ke masalah yang lain. Memang, saya sadari, selama ini DPRD sudah
   menjadi makanan empuk bagi masyarakat dan kalangan pers.
   Anda mungkin punya solusi untuk meningkatkan kembali citra DPRD?
   Kalau memang salah, anggota DPRD sendiri harus memperbaikinya. Tapi,
   kalau memang merasa tak bersalah, ya cuek saja. Ketika pers
   memberitakan berita olahraga, kayaknya beda dengan berita politik.
   Seperti saya tak turun ke Pansus di Pidie beberapa waktu lalu, oleh
   pers saya disebutkan tak turun. Tapi, tak disebutkan mengapa saya tak
   ikut Pansus dimaksud. Jadi, kalau berita olahraga, turunnya tim
   Persiraja tanpa Dahlan Jalil, disebutkan karena Dahlan cedera atau
   kendala lainnya. Tapi, kalau Rukaiyah tak turun, tak disebut bahwa
   Rukaiyah harus menghadapi anaknya yang sedang sakit keras. Teman-
   teman di DPRD minta saya mengklarifikasinya. Saya ndak mau. Saya cuma
   bilang, antara berita politik dan berita olahraga memang berbeda.
   
   [INLINE]
   
   Yusbi Yusuf Aceh Harus Bisa Go Public
   Bukan rahasia bahwa kini musik Aceh belum menasional. Tapi, bukan
   berarti usaha ke arah itu tidak dirintis. Adalah Yusbi Yusuf (26),
   pengarang sekaligus musisi asal Tanah Rencong bersama rekan
   seprofesinya berjuang agar musik Aceh laku di pasaran nasional, bahkan
   kalau mungkin ke mancanegara. "Kita punya peluang ke arah itu. Lihat
   saja musik asal Sumut, Sumbar, dan Sunda. Asalkan ada usaha, Aceh
   pasti bisa juga go public, dong!" katanya mantap.
   Menurut musisi yang baru saja sukses dengan album ke-9 yang berjudul
   Sidang Jenewa ini, untuk mencapai maksud tersebut kualitas dan warna
   musik Aceh harus terus ditingkatkan. Sebagai musisi, Yusbi menyadari
   pekerjaan ini tak segampang membalik telapak tangan. Begitupun, pria
   yang baru menikah setahun lalu dengan Cut Yusmiati ini tak mau
   menyerah. "Asal kita mau, pasti bisa," tegasnya lagi.
   Di mata penyanyi yang mengawali suksesnya lewat tembang Adipura (1994)
   ini, selama sepuluh tahun terakhir animo masyarakat untuk mengoleksi
   dan menikmati tembang-tembang terbaik hasil karya putra daerah makin
   menggembirakan.
   Mantan penyiar ini pun menilai, memang kini sejumlah tembang
   bermunculan. Cuma, yang perlu diingat, hendaknya produk hiburan yang
   dihasilkan itu betul-betul punya kualitas dan diminati masyarakat.
   Selain itu, katanya, musik Aceh seyogianya punya jatidiri yang khas
   dan semampu mungkin tak menjiplak karya orang lain. "Lebih baik
   menghasilkan tembang kreasi sendiri," ungkap penyanyi yang mengaku
   lebih banyak melakukan improvisasi sendiri dalam mencipta lagu.
   Di samping itu, pria ganteng ini juga menyatakan warna musik Aceh
   mestilah sesuai dengan syariat Islam dan warna keseharian masyarakat
   Serambi Mekkah yang agamis. Dengan begitu, ungkapnya, para penyanyi
   dan pencipta lagu memperoleh manfaat ganda: berdakwah sambil menghibur
   masyarakat.
   Yusbi mengungkapkan, sebagai musisi selain sanjungan dia juga sering
   mendapat kritik dari penikmat musik di daerah ini. Hal itu dinilainya
   sebagai wujud respon dan kepedulian yang ditunjukkan masyarakat agar
   mutu musik Aceh lebih baik di masa-masa mendatang. Sebab, tambahnya,
   apapun yang ditunjukkan masyarakat merupakan sesuatu yang positif.
   Sebagai seniman, ya tentunya saja harus berjiwa besar dan rela
   dikritisi.
   Di balik semangatnya yang menggebu-gebu meningkatkan mutu lagu-lagu
   Aceh, ia juga merasakan kendala yang serius. Yakni, belum adanya
   studio rekaman yang representatif di Aceh. Sehingga, para pemusik
   harus berlelah-lelah ke luar daerah, terutama Medan dan Jakarta.
   "Andai ada yang berminat menanam investasi membangun studio rekaman,
   saya kira musik Aceh semakin bergairah," katanya.
   Dia juga menyatakan amat bangga dengan hadirnya CD (compact disc)
   musik Aceh. Langkah tersebut akan menambah motivasi para pemusik untuk
   meningkatkan mutu dan kuantitas produk yang dihasilkan. Soal materi?
   "Yang penting kualitas harus baik. Jika karya itu bagus, saya yakin,
   masyarakat pasti akan mencarinya," tandas Yusbi. Jadi, bisa menghemat
   cost promosi dan pemasaran, kan? hil
   
   [INLINE]
   
   Basri Hasanuddin Belum Terlalu Memadai
   Apa kerja Prof Dr Basri Hasanuddin MA begitu tak lagi dipercaya jadi
   menteri? Menganggur! Oh, tidak. Mantan Menko Kesra di kabinet pertama
   Gus Dur tetap ini punya seabrek kegiatan setelah tak lagi masuk dalam
   kabinet hasil reshuffle Presiden Abdurrahman Wahid.
   Seperti diakuinya, Pak Basri --begitu sapaan akrabnya-- masih tercatat
   sebagai Asisten Ketua Umum ICMI Pusat, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi
   Indonesia Cabang Sulsel, juga anggota Tim Ahli Konsorsium Ekonomi.
   Dan, yang tak kalah sibuknya adalah mengabdi pada almamaternya,
   Universitas Hasanuddin, Ujungpandang. Karenanya, seperti diakuinya ke
   Kontras, mantan Rektor Unhas ini tidak kecewa meski tak lagi dipercaya
   Gus Dur menjadi menteri. "Saya tak kecewa, sebagai akademisi masih
   banyak pekerjaan lain yang harus saya tekuni, khususnya mengajar di
   almamater saya, Unhas," papar lelaki kelahiran Majene, Sulawesi
   Selatan, 6 November 1939, ini.
   Dalam kunjungan ke Aceh pun belum lama ini acara Pak Basri amat padat.
   Dia hanya sempat merespon Kontras dengan jawaban-jawaban singkat,
   karena ia harus menghadiri sebuah acara yang telah terjadwal.
   Begitupun, Guru Besar Tetap pada Fakultas Ekonomi Unhas ini mau
   berbincang seputar penyaluran bantuan kemanusiaan ke Aceh. Selama
   menjabat Menko Kesra, katanya, bantuan kemanusiaan untuk Aceh terus
   digalang. Khusus bantuan luar negeri, kantor Menko Kesra mengikutkan
   UNDP (United Nation Development Program) untuk penggalangan dana.
   Ketika diberitahu Kontras bahwa realisasi bantuan kemanusian tahap
   pertama untuk Aceh amat rendah, Basri mengakuinya. "Memang belum
   terlalu memadai," akunya.
   Doctor of Philosophy (PhD) dalam ilmu ekonomi dari School of
   Economics, Quazon City, Filipina ini membantah pula sinyalemen bahwa
   RI menolak bantuan negara donor jika tak disalurkan lewat Pemerintah
   RI. "Saya tak melihat seperti itu, saya banyak melihat keinginan dari
   negara-negara donor membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
   Memang, ada keinginan dari negara donor untuk menyalurkan bantuan
   lewat LSM-LSM, tetapi pemerintah pada waktu itu berketetapan: meski
   dana-dana itu nanti disalurkan melalui LSM-LSM, koordinasi tetap lewat
   pemerintah. Artinya, harus dilaporkan berapa banyaknya, untuk apa saja
   dan sebagainya," ulas Basri.
   Menurut suami Hj Rusdiana ini, perlunya koordinasi dengan pemerintah
   semata-mata untuk menjamin agar bantuan tersebut bisa dinikmati
   masyarakat yang membutuhkan. Tak soal dari manapun datangnya.
   Dalam perbincangan yang singkat itu, Basri sempat pula menitipkan
   pesan khusus buat masyarakat Aceh di masa jeda tahap II ini. "Jeda
   kemanusiaan ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan
   masyarakat. Jauhilah pertentangan, perseteruan, dan pertikaian. Semoga
   kita bisa hidup dalam suasana damai," harap mantan anggota MPR RI ini.
   Damai? Kata itu sudah terasa asing di Aceh, Pak Basri! sk/hil
   
   [INLINE]
   
   Karlina Leksono Cuma Kamuflase
   Pemerintah Pusat boleh pusing memikirkan cara jitu menyelesaikan kasus
   kejahatan terhadap kemanusiaan di Aceh, namun Karlina Leksono dari
   Suara Ibu Peduli (SIP) Jakarta tidak demikian. Wanita cantik ini punya
   "jurus" khusus menyelesaikan kejahatan kemanusiaan. "Ada empat pola
   penyelesaian kejahatan kemanusiaan," kata Karlina saat memenuhi
   undangan koalisi NGO HAM di Hotel Cakradonya Banda Aceh, Sabtu lalu.
   Yang pertama, menurut wanita berkulit putih ini, adalah "never forgive
   and forget," artinya jangan pernah memaafkan dan melupakan si pelaku.
   Dengan begitu, si pelaku harus diadili dan dihukum! Pola ini pernah
   dilakukan terhadap penjahat NAZI Jerman. Sedangkan cara kedua adalah
   "never forget but forgive" yaitu tidak melupakan, tetapi memaafkan.
   Artinya, adili dan ampuni. Cara ini konon dipraktikkan oleh Afrika
   Selatan yang terkenal dengan politik rasialisnya.
   Cara ketiga adalah "to forget but never to forgive" yaitu melupakan,
   tapi tidak memaafkan. Artinya, tidak ada pengadilan, tetapi selamanya
   dikutuk atau menjadi bara dendam. Cara ini dilakukan oleh masyarakat
   Eropa dalam menangani inquisition yang dilakukan terhadap penganut
   ajaran protestan di Eropa pada abad pertengahan.
   Cara terakhir adalah "to forget and to forgive", yaitu memaafkan dan
   melupakan. Artinya, tidak ada pengadilan dan dilupakan begitu saja.
   Cara yang paling mulia ini --karena hampir tak mungkin ditiru--
   terjadi di Spanyol terhadap rezim Franco tahun 1975.
   Karlina sengaja mengajukan alternatif-alternatif yang demikian, karena
   dia melihat kasus Aceh hingga kini samasekali tak ada titik terangnya.
   Memang diakui Karlina, ada kasus yang disidangkan, yaitu kasus Teungku
   Bantaqiah. "Tetapi, pengadilan koneksitas itu tidak cocok untuk
   pelanggaran HAM. Dan anehnya, pemerintah tetap memaksakan itu," kata
   Karlina.
   Selain tidak cocok, masih menurut Karlina, pengadilan kasus Bantaqiah
   juga tidak menimbulkan nilai keadilan.
   Meski mengajukan empat alternatif, Karlina lebih dulu meminta
   pertimbangan apakah salah satu dari empat cara itu cocok dan bisa
   diterapkan untuk Aceh. "Penjahat NAZI bisa diadili, karena kebetulan
   Jerman kalah perang. Tetapi, untuk kasus Aceh, banyak penguasa lama
   yang yang masih memegang peranan penting," kata Karlina tanpa menyebut
   siapa peguasa itu.
   Wanita cerdas itu sempat membuat para peserta lokakarya terkagum-
   kagum dengan tesisnya tersebut. Sengaja diundang jauh-jauh khusus
   untuk menjadi narasumber lokakarya bertema "Menyikapi Suara Korban
   dalam Upaya Pelanggaran HAM di Aceh", dia sukses melakoninya. Hampir
   setiap kalimatnya disambut tepuk tangan meriah dari peserta lokakarya
   yang semuanya adalah korban kekerasan di Aceh.
   Bagaimana kesannya menjadi narasumber di Aceh?
   "Ini undangan yang berat," ujarnya menjawab Kontras seraya tersenyum
   lembut. Bagaimana tidak, berbicara soal kemanusiaan di tengah
   pelanggaran HAM berat di Aceh, jelas membuat Karlina berpikir
   demikian.
   Karlina yang aktif menyiapkan konsumsi dalam banyak demonstrasi
   mahasiswa di Jakarta juga berpendapat bahwa pencabutan DOM di Aceh
   hanyalah sebuah kamuflase.
   "Pelanggaran HAM di Aceh harus diselesaikan, bukan karena ditekan oleh
   pihak internasional, tetapi karena ini tanggung jawab mereka," kata
   Karlina kembali.
   Tetapi pemerintah sepertinya cuek aja tuh, Bu! na
   
   [INLINE]

----- End of forwarded message from John A MacDougall -----