[INDONESIA-VIEWS] SAHABAT - Deplu, Tidak Semuanya

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Dec 11 2000 - 18:11:35 EST


Date: Mon, 11 Dec 2000 14:55:43 -0800 (PST)
From:[sahabat sari] <shohabat@yahoo.com>
Subject: deplu, tidak semuanya.
To: apakabar@saltmine.radix.net

Walaupun sudah cukup lama saya mengikuti
tulisan-tulisan di ruang ini, tapi saya termasuk
pendatang baru untuk ikut-ikut ngudar gagasan pada
forum ini.
Banyak tulisan yang berupa kritik untuk para petinggi
yang sangat menarik, walaupn ada juga yang susah
dimengerti maunya. Tapi ini suatu pertanda baik , saya
kira.
Saya setuju sekali dengan isi kritik2 tentang Bung
Amien Rais dan kondisi kalut negara kita yang
bertubi2. hanya yang jadi masalah apa tokoh seperti
Pak Amien sendiri juga baca apakabar .

Salah satu Departemen pemerintahan yang jadi sorotan
adalah Deplu, khususnya beberapa Perwakilan RI di
luar negeri.
Pengalaman saya karena nasib baik dapat berkunjung ke
perwakilan Eropa daratan dan ke negeri Pak Clinton
beberapa tahun yang lalu, hal2 di perwakilan RI tidak
semuanya aneh, walau memang ada issue-issue dan hal2
yang kelihatan mata tentang sikap "kurang terpuji dan
kualitas beberapa diplomatnya yang lumayan rendah,
termasuk keppri-nya.".
Rasanya tidak adil kalau hanya ngobok-obok Deplu saja,
karena hampir semua instansi pemerintah dan bumn tidak
ada yang benar. Bahkan koruptor2 kelas kakap beserta
praktek KKN nya ada disitu.Apa Dep Keuangan ,
Bappenas, Dep PU dan Dep 2 lainnya dan per-bank-an
pernah di"teliti"?

Namun demikian mungkin karena Deplu se-olah2 merupakan
Dep yang exclusive, dan sementara anggota masyarakat
selama ini menganggap Deplu itu Dep yang serba hebat,
dengan orang2 yang hebat, dan bersih, maka tidak aneh
kalau kemudian mendapat sorotan khusus.
Saya kebetulan punya Saudara jadi diplomat di Deplu
dan juga punya beberapa kawan, diantaranya ada bekas
Duta Besar. Beberapa hari sebelum puasa sewaktu saya
kebagian Konsuler ngantar kawan, ketemu kawan lama
Deplu dan kemudian janji untuk ketemu ngobrol2 lagi.
Dua kali kami ngobrol2, sebelum puasa dan pada bulan
puasa sambil ngabuburit, saya sampai pada kesimpulan
sebagai berikut:

1.Para pegawai Deplu, termasuk para diplomatnya
sebenarnya adalah juga pegawai negeri, sama seperti
pegawai negeri Dep yang lain, termasuk dalam mutunya
dan perilakunya.Karena di Dep lain juga banyak yang
bergelar DR ataupun Master lulusan luar negeri.
2. Salah satu kelemahan Deplu adalah dibidang
management.menurut kawan saya yang eks Dubes, memang
pendidikan di Deplu kurang memperhatikan bidang itu.
Disamping ketidak tahuannya tentang manegemnt , juga
beberapa pejabat yang kemudian diangkat menjadi Kapri
/Kepala Perwakilan ( Dubes/Konjen/Konsul) mengalami
mobilita vertical yang tidak didukung oleh kesiapan
mental. Sebelum jadi Kapri, mereka banyak yang bukan
apa2, bahkan tidak punya anak buah yang jelas. Begitu
jadi Kapri, langsung jadi Raja Kecil, dimana2
dihormati datang pergi dijemput mobil mewah dengan
sopir ( yang biasanya tidak pernah dialami sebelumnya
), masyarakat dan para staf setiap ketemu
membungkuk-bungkuk sambil menyebut PakBu Dubes, Pak Bu
Konsul dan Pak Pung Oil, dan Pak apa lagi. membuat
orang jadi lupa daratan. Ditambah segala keperluan
dipenuhi oleh Bag Keuangan ( TU ) dengan berlebihan.
Akibatnya bisa jadi gila hormat dan lama2 bisa jadi
gila beneran.
Jadi apa yang di tulis Pak Anon dkk tentang perilaku
dan keadaan di KBRI London, Paris, Kuala Lumpur,
Berlin dan terakhir Houston, boleh jadi karena hal
itu.
Menurut kawan diplomat muda yang ikut ngobrol, yang
baru pulang penempatan kedua kali, ada Kapri yang
sebenarnya sering jadi bahan ejekan dan tertawaan staf
maupun masyarakat karena ketololannya dan ke-gila
hormatannya.
Dari pandangan saya, sebenarnya mereka itu patut
dikasihani, karena mereka merupakan produk system dan
pola kepemimpinan Deplu masa lalu.
Namun perlu saya tekankan bahwa Kapri yang seperti
diatas sebenarnya tidak banyak. Yang lain2 kinerjanya
bagus2 dan tidak terlalu terpengaruh oleh kelihaian
para maling dari TU, yang sering memanfaatkan
kelemahan Kapri untuk mengeruk keuntungan sendiri.
Kalu dilihat para pejabat eselon satu Deplu sekarang,
mereka relatif masih muda, dibanding dengan pejabat
yang sama dimasa sebelumnya, dan mereka sebenarnya
adalah benar-benar diplomat , berdedikasi tinggi dan "
bersih " dari kotoran TU.

3. banyak staf diplomat muda yang bagus . Tapi selama
ini yang dianggap bagus antara lain yang menguasai
bahasa asing, khususnya Inggris secara aktif.Tapi
tentang mental dan moral belum tentu. Itu kata Bpk
bekas Dubes tadi. Ada yang sok pinter, dan bahkan
sering ngambil porsi bidang lain, biar dianggap paling
pinter. Misalnya kabid ekon ngambil porsi bidang
politik atau penerangan. Atau ada kabid Penerangan
yang sering ngambil porsi bidang ekonomi atau politik.
Hal inilah yang antara lain sering menimbulkan bentrok
intern di perwakilan, kalau Kapri tidak bijaksana.

4. Hampir ditiap perwakilan ada saja pejabat cucunguk
yang hobinya ngejilat pantat Kapri,biasanya kalau
sudah ngerumpi dengan Kapri kata-kata yang keluar
adalah menjatuhkan nama kawan seiring serta
menonjolkan diri. Repotnya banyak Kapri yang mudah
percaya. Hal ini juga yang sering menimbulkan suasana
di perwakilan tidak harmonis.

Ketidak kompakan Kapri dan Wakilnya ( DCM ?) di Kuala
Lumpur memang patut disesalkan. katanya setiap
perwakilan dimana Kapri dan wakilnya sama2 dari Deplu
hampir pasti terjadi bentrok
DCM Kuala Lumpur katanya juga bikin orang kaget,
karena orang dengan mutu kaya gitu koq diangkat juga
jadi DCM. Ya salah sendiri.

5. Pejabat TU/keuangan , dimana-dimana, apakah di
perwakilan atau di dalam negeri, sama. Hampir semua
maling. Jadi benar sekali tulisan Pak Anon tentang
peranan TU di KBRI London. kalau ada pejabat /
diplomat Deplu yang kaya, hampir pasti dari TU.
Bahkan yang baru penempatan sekali- pun. kalau
diplomat bukan TU biasanya setelah penempatan ketiga
baru bisa punya rumah sendiri. Bahkan bekas Duta
Besar sekalipun, tidak sekaya pejabat TU. Kalau mereka
merasa dicurigai, dikatakan kekayaannya dari warisan
atau istrinya pandai bisnis. Walah, wong dulu waktu
berangkat ke Jakarta orang tuanya ngasih bekal dari
jual sawah atau kerbau gitu lho.
Tapi ya itu tadi, cukup banyak juga yang baik dan
bersih. jadi tetap tidak semuanya.

Seperti tuduhan di KJRI Houston, kata kawan saya, KJRI
Houston itu perwakilan yang tidak besar, personalnya
tidak banyak. Jadi kalau TU dan Konsulernya nggak
bener yang tentu kelihatan.
Tidak aneh kalau TU ngasih pekerjaan pada kontraktor
atau pemborong orang Indonesia, karena kan kwitansinya
bisa diatur. TST lah. Yang kaya gini kan lagu lama dan
bukan rahasia lagi.Dan itu terjadi di hampir semua
perwakilan dimana ada pekerja/pemborong dari Indonesia
yang bisa diajak kerjasama.
Nyatutnya tidak besar memang, dibanding yang di
buldoser sama orang-orang di Bank Bali ,Bulog atau
Pertamina, misalnya.
Saya juga tanyakan tentang nama Karso Popon yang
disebut langsung oleh Pak Anon (?). Jawab kawan2, dari
namanya saja kan kelihatan kalau kampungan. Jadi ya
itu tadi , setelah jadi kapri kaget lalu tambah bego,
tapi karena biasanya nggaruk uang ya pikirannya duit
itu. Saya bilang , yang salah ya yang nempatin dia
kesana.Apa di Deplu tidak ada orang lagi?.

Saran kawan-kawan adalah :
1. System pendidikan di Deplu dibenahi.
2. penunjukan sesorang untuk menjabat jabatan yang
cukup penting jangan didasarkan pada senioritas, tapi
pada kemampuan kerja, khususnya dibidang ybs.
3. Pejabat Deplu jangana meremehkan pengetahauan
tentang management.
4. system penilaian ( DP3 ) tidak hanya dari atas
kebawah, tapi juga dari bawah menilai keatas,
khususnya di Perwakilan. Jadi para Kapri tidak seenak
udelnya sendiri.
Dan masih banyak lagi. Tapi saya yakin Pak Sekjen yang
baru yang masih muda dan para pejabat eselon satu
menyadari hal ini.
Saya sudah ngantuk, mau makan saur dulu.
Salam buat kawan-kawan yang dengan rajin suka ngluarin
uneg-uneg tentang Deplu. Dep lain menunggu.

----- End of forwarded message from [sahabat sari] -----

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---