[INDONESIA-L] PEMERHATI BANGSA - Polri, Teroris Bom, Koridor Islam dan Kita

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Fri Dec 29 2000 - 15:41:50 EST


Date: Fri, 29 Dec 2000
To: apakabar@radix.net
From: Pemerhati Bangsa
Subject: POLRI, teroris bom, koridor Islam dan kita

Semakin ruwet saja kalau kita menyimak perjalanan bangsa ini. Rasa2nya
sudah putus asa melihat sikap dan perilaku orang2 yang sedemikian barbar
dan tidak berperikemanusiaan, dan kita2 lagi2 tidak merasa aneh, orang2
kristen ini kembali 'dikorbankan' tanpa pemerintah dan aparat keamanan bisa
berbuat apa2. Alasannya klise dan itu2 juga: Sudah berhasil
mengidentifikasi, sudah mendapat gambaran dalang, OTB dsb tetapi ujung2nya
dapat ditebak, blowing in the wind....
Saya tidak dapat mengerti, kenapa menjalankan tanggung jawab keamanan di
negeri ini sedemikian susahnya. Kita bisa lihat dari kasus Ambon,
pemerintah tidak dapat berbuat apa2 thd Laskar Jahad itu. Kita lihat kasus
FPI dan Hizbullah, lagi2 kita lihat Polri dan Polda Metro Jaya seperti
kehilangan akal, lebih parah lagi sudah kehilangan wibawanya sbg Penegak
hukum dan keadilan (TO SERVE and PROTECT). Polda Jateng tidak dapat berbuat
apa2 thd Laskar Pembela Islam (Solo) yang memporak porandakan kota Solo dgn
alasan memberantas 'kemaksiatan', massa rakyat yang sudah sadar dan bangkit
melawan kekuatan jahat ini bahkan diposisikan sbg PREMAN yang melawan
pemberantas 'kebathilan'. Saya pikir hebat juga orang2 ini dalam melakukan
propaganda yang demikian jor2an dalam nama agama menanamkan kesan tertentu
di rakyat banyak sehingga apapun yang mereka lakukan semuanya 'terlindungi'
hukum dalam nama agama (mirip2 kekebalan hukum atau Immunity dalam kasus
attache/diplomats), kalau mereka ditempatkan di bidang Sales/Marketing,
saya rasa Laskar2 ini bisa merupakan winning team yang luar biasa. Sayang,
mereka hanya dapat menyumbangkan kemungkaran dalam 'Amar ma'ruf' mereka
selama ini. Mungkin ini pendapat yang sangat subjektif, tapi sudah cukup
banyak pendapat2 yang sudah terluncur dari tokoh2 Islam sendiri yang peduli
pada nasib bangsa ini.
Sedemikian lemahnya aparat kita, sehingga sdr Usman di Maine, USA sana
dapat berasumsi, tindakan pemboman sangat mungkin dilakukan oleh aparat
intelejen kita utk men-sweep out gerakan2 FPI atau Laskar Jahad itu. Dgn
kata lain, aparat kita HARUS menggunakan kekerasan menghilangkan nyawa dan
tindakan yang lebih binatang dari binatang HANYA utk mendiskreditkan FPI
dan Laskar Jahad2 itu? Dari mana bung Usman berkesimpulan bom2 itu sudah
disetting utk hasil yang minimal dan tidak makan korban banyak? Apakah 1
nyawa saja dipandang minimal? Bagaimana dgn 5 nyawa? Bagaimana dgn ancaman
koma permanen? Bagaimana dgn ancaman cacat seumur hidup? Minimal? Bull shit!
Terlepas dari usaha bung Usman utk melakukan pembelaan utk anasir2 Islam
Fundamentalis atau ekstrim atau apalah yang dicurigai berada di semua
tindakan kekerasan ini, saya rasa tidak perlulah berkomentar demikian.
Tidak ada yang menuduh umat Islam berada di belakang pemboman ini, jadi
anda juga tidak usahlah melakukan pembelaan. Kok mirip FPI sih anda ini?
Gus Dur kan sudah pernah bilang, Tuhan tidak perlu dibela, yang artinya
Islam tidak usah dibela. Yang penting adalah apakah kita2 ini dapat atau
tidak menjalankan amal ibadah agama itu sendiri yang berguna dan membawa
berkat bagi orang lain. Bukan dengan berkoar2 menjalankan syariat Islam
atau memasukkan Syariat Islam di UUD 45, bukan dgn berkoar2 membela muslim
yang teraniaya di Maluku (siapa sih yang teraniaya?), bukan dgn mengirimkan
Laskar Jahad ke Maluku, bukan dgn berkoar2 di speaker masjid mengatakan
orang lain kafir dan akan binasa, bukan dgn mengancam eksistensi orang lain
yang lain agama dan suku. Saya rasa itu yang menjadi PR bagi umat Islam,
utk dicoba dilaksanakan, sebelum umat agama lain percaya dan yakin bahwa
Islam yang didengung2kan itu benar pengasih dan penyayang sesama.
Satu 'penyakit' (maaf saya istilahkan demikian) ajaran Islam adalah sering
memberlakukan syarat yang didahulukan ucapan2 sejuk. Jadi kelihatan sejuk
awal mulanya, tetapi kemudian ada ujung2nya -- asal.... Terakhir saya
mendengar sendiri khotbah seorang Uztad waktu acara buka puasa bersama di
kantor kami. Beliau mengatakan, Islam itu mengasihi sesama, Islam itu sejuk
dan tidak suka kekerasan bla bla bla ....asal, nah ini dia, asal jangan
melanggar dulu kaidah yang ditentukan Islam, asal jangan menyerang atau
memprovokasi dulu, asal dalam koridor Islam, asal...... Yang artinya (maaf,
ini murni terjemahan saya pribadi yang sangat subjektif), masa bodo elu
orang ngerti atau tidak ajaran Islam, kalau Islam bilang sudah melanggar,
kalau Islam bilang itu sudah melanggar batas, kalau Islam bilang sudah
cukup kesabaran kita dsb..., jangan nyesel,marah atau salahkan kita kalau
Islam itu juga bisa menyerang, membakar, menganiaya, menggunduli, merusak
bahkan...membunuh --ini dibenarkan Islam karena termaktub dalam kaidahnya.
Bunyi terjemahan saya akan seperti itu. Menurut saya, itulah yang menjadi
atau merupakan pangkal masalah kita atau keributan antar agama selama ini
yang tidak kunjung selesai. Islam 'dibenarkan' sekelompok orang kecil
(sedikit) utk melakukan kekerasan. Padahal, Islam pasti mengajarkan anti
kekerasan, anti membenci, anti merugikan orang lain, lalu apa
KORIDOR-KORIDOR itu?
Kalau saya kutip ucapan Yesus Kristus yang terkenal itu yang mengajarkan:
"Jika ada yang menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu." Mungkin
coba saya balik dan ditambahkan, ...kecuali atau asal.. kalau ditampar 2
kali, balaslah dia sepuluh kali. Mungkin seperti itu. Itulah kasih yang
bersyarat, kasih yang ujung2nya minta imbalan, kasih yang tidak tulus-- ADA
ASALNYA. Sedangkan ajaran kristen tidak demikian, tidak ada syaratnya,
tidak ada asalnya, tidak menuntut pengembalian. Coba perhatikan komentar2
tokoh2 kristen/katolik yang diwawancarai di media massa, TIDAK ADA yang
menghujat siapa2, tidak ada yang menyalahkan siapa2 atau mengatakan
barangkali seperti ini: "Ya, tidak apa2, sudah biasa orang kristen
dijadikan korban, asal.... jangan terjadi lagi ya. Kalau terjadi lagi,
jangan salahkan orang kristen menggalang Laskar Kristen atau Pasukan apalah
memerangi umat beragama lain, habis koridor kristen sudah terlanggar, dan
jangan salahkan kami bla bla bla ....(ini yang kita sering dengar dari
komentar tokoh2 Islam Fundamentalis macam the evil GOGON, Jafar Umar Thalib
Ketua Dewan Pembina Laskar Jahad yang baru2 ini menarik ucapan dari anak
buah dan mengecam anak buahnya yang sok menghujat pembom malam natal --
coba, orang yang menghujat pemboman natal yang keji itu saja disalahkan,
apalagi yang dapat diharapkan dari orang2 atau binatang2 seperti ini?
Kesalahan umat nasrani cuma satu yaitu dalam misi pengembanan GOSPELING,
atau perintah Yesus utk menjadikan semua bangsa muridNYA. Misi yang tulus
tanpa embel2 KRISTENISASI ini memang ditanggapi dgn sudut pandang salah
oleh saudara2 kita yang muslim. Prinsip saudara2 muslim kita yaitu jangan
ganggu agamaku (Bagimu agamamu, bagiku agamaku) memang sangat kental nuansa
permusuhan (hostility) antara golongan beragama. Umat nasrani yang aktif
bermisi bagi Tuhannya itu ibarat memberi tahu orang lain bahwa ada sekoci
penyelamat di dalam kapal yang sedang karam. Suatu pertanyaan teologis:
Salahkah sang kristen walau dia hanya memberi tahu saja ada sekoci, dan dia
tidak sedang melakukan paksaan? Ini yang saudara muslim tidak mengerti. Dan
sayapun tidak mengerti. Kenapa tidak tolak saja dengan halus jika ada
saudara nasrani yang mengenalkan Jesus kepadanya. Kenapa ajakan ini harus
disikapi dengan sikap permusuhan bahkan harus dihukum dengan menyerang
gereja, membakar dan membunuh pendetanya? Menganiaya dan membakar sekolah
teologia yang mengajarkan kasih kepada siswa2nya? Kalau saya jika diajak
teman muslim utk ke masjid misalnya, jika saya cukup baik dengannya,
mungkin saya akan mau ke masjid sekali waktu dan bersiap utk menolak
tawarnnya ke dua kalinya, tanpa ada embel2 saya diprovokasi, dipaksa dsb.
Saya tidak akan membalas ajakan yang simpatik itu dgn mengacungkan pedang,
membakar, mem... Agama itu sangat asasi! Agama itu sangat universal!
Seharusnya Undang2 negeri ini menjamin kebebasan warga negaranya melakukan
kegiatan misi keagamaan, baik itu kristen thd muslim ataupun sebaliknya.
Bukan dgn mengkotak-kotakkan umat, seperti baru2 ini yang diusahakan Fraksi
P3, PBB, PK dsb itu yang mencoba menggolkan juklak tatib keberagamaan di
DPR yang syukur digagalkan itu. Kalau itu gol, wah, akan lebih banyak lagi
gereja dibakar dan pendeta dibunuh di negeri 'ramah tamah' ini.

Siang ini, dalam acara Liputan 6 siang SCTV, Kadispen Polri Bp Saleh Saaf
dengan pongahnya memntah Polri kecolongan (mengomentari telpon masuk ke
redaksi yang menuding Polri lambat dalam tindakannya padahal kejadian di
Bandung terungkap beberapa jam menjelang kebaktian malam Natal).
Saya bukannya meremehkan apa yang telah dilakukan Polisi (saya tetap hormat
karena mereka sudah ada yang gugur sewaktu tugas menjinakkan bom di malam
naas itu), tapi wong jangan demikian pongahnya berargumentasi Polri tidak
kecolongan. Suatu kesalahan atau korban adalah bukti nyata kelalaian Polri.
Apapun atau seberapa capekpun Polri sudah melakukan tugasnya.
Inilah falsafah yang orang kita sini susah utk terima. Orang Jepang akan
berkomentar itu adalah IIWAKE. Atau artinya, alasan atau pembelaan yang
enak buat sepihak saja (si pelontar alasan). Enak buat Polri, lantas
bagaimana perasaan korban atau famili korban yang kristen/katolik dan non
kristen itu?
Kalau saya jadi Kadispen apalagi Kapolri atau Kapolda, saya akan meminta
maaf dalam arti yang sesungguh2nya, sedalam2nya, sebesar2nya, seberapa
capekpun atau maksimalnya usaha Polri. Akuilah kesalahan itu. Akuilah
kecolongan itu. Itu tidak ada apa2nya dibandingkan perasaan korban dan
familinya. Seberapa banyaknya bom yang Polri jinakkan (Bapak Saleh Saaf ini
dgn pongahnya mengatakan, "Lho, ini dari 39m bom sudah berhasil dijinakkan
17, sudah mendekati 40 hingga 50% kan keberhasilan ini?") bukan suatu
prestasi. Dia lupa menambahkan ada beberapa bom yang memang secara AJAIB
tidak meledak. Suatu komentar orang bodoh, orang yang ibaratnya seperti
berada dibawah tempurung kelapa. Kalau di negeri Jepang, Taiwan atau Korea
sana, entah sudah berapa Jenderal Polisi yang mundur karena kasus pemboman
natal ini.
Yah, memang susah mengharapkan negeri ini dapat bangkit dalam tempo
sependek2nya, kalau orang2 seperti Kadispen ini (yang juga menegaskan dia
hanya beridul fitri, tidak bernatalan kepada pesalam yang mengucapkan
selamat natal dan Idul fitri secara berbarengan) masih banyak bercokol
apalagi yang bertanggung jawab kepada keamanan negeri ini. Bagaimana negeri
ini mau aman?
Makin jauh rasanya harapan negeri ini akan aman, kasus Ambon akan tuntas
(sekarang malah mulai propaganda Maluku Merdeka di media massa), kasus FPI
atau Laskar Jahad akan diselesaikan lewat hukum, kasus2 SARA lainnya.
Kita lihat, apalagi nantinya yang akan terjadi kepada umat kristen, baik di
Ambon, Poso, Makasar maupun berbagai tempat di Indonesia.
Tuhan, kembali kami doakan dan serahkan nasib bangsa ini sebelum kami
memasukki th 2001.

Salam sejahtera buat rekan2 semua,

PEMERHATI BANGSA

---
Email all postings in plain text (ascii) to apakabar@radix.net
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH YEAR 2000 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
SEARCH 1990-1999 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net/search-all.html>
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---